toh udah sekitar 3 bulan sejak gue terakhir ngapdet blog dan ngobrol sama diri sendiri (dan khalayak tidak kasat mata yg bermurah hati buka blog ini).
tapi hari ini, kok rasanya keterlaluan aja kalau sampai nggak menuliskan betapa banyak dan 'padat' yg sudah dilimpahkan ke 'pangkuan' gue... yak, meskipun hari ini baru berjalan beberapa jam aja.
gue memulai hari ini tanpa rencana bermakna... seperti biasa.
yang berbeda cuma, I tried on a different foundation. and a different shade of liquid lipstick. I also noticed that my heart felt a bit 'lighter' after like, a week of feeling gloomy and intense.
pas lagi jalan dari widya chandra, gue menimbang-nimbang apakah gue sebaiknya sarapan sendirian di kantin sam-sung atau langsung ke indikape aja. I chose the latter and then deeply regretted it.
seketika gue merasa hari ini bakalan jadi menyebalkan buat gue. mana abis itu gue menemukan kantor nggak diisi siapapun kecuali satu orang aneh yang bikin gue nggak nyaman. entah kenapa juga dia milih duduk tepat di depan gue! we, both he and I, then sat in this silent, empty room. that asshole didn't even bother to turn the tv on.
akhirnya gue putuskan buat buka-buka modul Toastmaster International aja. kebetulan baru sampe dua hari lalu..
jadi gini, sekarang gue udah resmi jadi member Toastmasters (TM). TM ini bukan semacam sekte, melainkan organisasi yang ada di seluruh dunia, dan kebetulan di Tlkm Gatsu ada club-nya. in short kegiatannya ngajak kita 'belajar' public speaking dengan baik.
anyways, pas gue udah baca-baca bukunya, jadi tau kalo ternyata misi TM bukan cuma mau menjadikan member-nya bisa berkomunikasi dengan efektif, tapi juga gimana biar berkembang leadership skills-nya, makanya ada modul Competent Leader juga.
gue liat modul ini berisi 10 projects yg perlu "dilengkapi" sebelum kita bisa dianggap sebagai Competent Leader. derajat kesulitan project-project itu berjenjang, contohnya project pertama itu 'cuma' Listening, alias belajar mendengar (yang bukan cuma pake kuping, tapi juga mata dan hati) yang mana ternyata kompetensi dasar leadership.
kalau udah 'lulus' di project ini, selanjutnya ada project Critical Thinking, Time Management, sampai Mentoring.
setelah gue bolak-balik modul leadership ini, ada beberapa hal yang bikin gue termangu.. salah satunya poin-poin self-assessment di project Time Management ini:
guilty as charged, boro-boro gue bisa mendelegasikan tugas dengan baik, lha susunan prioritas aja belum jelas.
atau poin-poin self-assessment di project Giving Feedback ini:
kenapa? karena rasa-rasanya gue belum bisa ngelakuin "(to) talk with a team member about his performance when I am calm" - anggaplah objek team member itu diganti jadi anak dan suami sendiri karena gue nggak punya anak buah.
itu baru poin pertama loh, gimana dengan yang lain? coba aja telaah satu demi satu.
- I offer feedback only on the team member's actions, not on her personality or qualitites.
- I offer specific suggestions for improvement.
tapi tapi tapi, semua fakta yang terbeberkan ini tujuannya bukan semata-mata untuk menelanjangi diri sendiri, sih.
kehadiran modul ini sekonyong-konyong bikin gue teringat sama kata-kata
"When the student is ready, the teacher will appear."Dalam idup nggak ada yg kebetulan, 'kan?
poin-poin itu kok rasanya (bakal) berguna banget buat gue. nggak jauh-jauh mikir untuk jadi leader atau apalah (terlebih di kantor ini), justru gue berpikir hal-hal itu bisa untuk diterapin dalam ngurus anak.
gue sendiri berpikir kalau leadership itu tergolong skill karena kemampuan itu macem otot, kalo dilatih terus akan jadi "sterek," tapi kalo nggak ya bakal tetep "klemer-klemer."
oh well. semoga deh lewat TM ini gue bisa jadi "leader" yang lebih baik, at least buat diri sendiri.
![]() |
| benefit alias keuntungan yang bisa didapat dari mentoring dari sudut pandang organisasi. berguna banget, 'kan? sayangnya banyak organisasi atau perusahaan yang silap melakukannya *ehem* |
![]() |
| ini poin-poin checklist di project Mentoring. gimana, selama ini udah pernah merasa dimentor kah? |
kelar mbolak-balik modul, gue kembali liatin laptop. buka-buka portal kantor, browsing tempat-tempat buat dikunjungin di singapur, dan sejenisnya. abis itu gue jalan ke toilet... eh ada ibu-ibu kantor yang baru balik umroh. jujur aja, insting awal gue adalah pengen menghindari beliau.
nggak tau kenapa.
padahal ibu ini tergolong "revolusioner" dan "asik" dibanding orang-orang lain seumurannya di sini. dari obrolan-obrolan sekilas kita di toilet (selalu papasan di sini soalnya haha), terkuak kalo ibu ini pernah jadi atlet lari marathon kantor, aktivis serikat karyawan, dst.
tapi emang udah digariskan gue kudu papasan dan berbasa-basi sama beliau, kayaknya, karena that's exactly what happened afterwards.
obrolannya sih standar aja, seputar gimana pas umroh kemaren. tapi ada satu yang agak mencolek nurani gue... dia bilang apa yang 'didapat' masing-masing orang dari kunjungan ke sana tuh beda-beda. tergantung niatnya. ada yang puas dengan bisa check in dan foto-foto, ada juga yang udah mampir untuk ketiga, kelima, kesekian kalinya. dan ada juga yang bisa meraup banyak hikmah seperti beliau.. beliau cerita betapa terharunya dia pas bisa menyentuh Ka'bah. kata-katanya bikin air mata gue menggenang,
"gimana sih, mbak, orang biasanya saya cuma bisa memandangi Ka'bah lewat sajadah saat sholat, sekarang bisa saya lihat langsung, sentuh bahkan."hiks...
dia juga ngajak gue buat buru-buru ke sana, "mumpung masih muda, masih kuat. pergi deh mbak, sekeluarga. rejekinya pasti ada kalau udah ada niatnya." menusuk banget deh bok rasanya, apalagi didenger tepat sesudah gue browsing tempat halan-halan di singapur xD
entah gimana tau-tau obrolannya lantas beralih ke soal ngajak suami ke jalan yang benar, hahaha. menurut beliau, kadang harus kita yang jadi penggerak. "siapa sih yang nggak berharap dapet suami yang alim bak ustadz pas baru nikah dulu?" tapi hati manusia itu berubah-ubah. meskipun suaminya harus jadi imam, tapi kita tetep nggak boleh nyerah berusaha mengarahkan...
ada celetukan beliau yang juga membekas banget, "makanya saya nasehatin anak saya supaya rajin belajar, bukannya bermaksud materialistis sih, mbak. tapi biar dia bisa leluasa buat beribadah. kalau ngejar dunia sih nggak akan ada abisnya, mendingan uang dipakai buat ngejar akhirat."
yaampun terhura gue dengernya!
kita pun menyudahi obrolan. "gih mbak, kerja lagi," katanya sambil senyum-senyum manis. gue hanya bisa menjawab dengan, "makasih banyak ya bu, buat oleh-oleh umrohnya. berharga banget loh oleh-oleh kayak begini, hihihi."
setulus hati ey gue mengucapkannya. hikmah seindah ini jauh lebih bikin seneng dibandingkan oleh-oleh kurma, pacar, atau sajadah <3
abis itu, tiba-tiba rasanya hari ini jadi "cerah." meskipun dalam kondisi sebenarnya sore sampai malam malahan hujan deras banget, tapi it just made the day even better.
I even saw a rainbow on my way home.





No comments:
Post a Comment