gue udah pernah bilang sebelumnya, kalau serial ini membuat gue tergila-gila. gue bener-bener dibuat takjub dan terinspirasi setiap kali nonton, ya karena jalan ceritanya, karakter-karakternya, dan terutama, sama insight tentang gimana para perempuan ini bertahan hidup di penjara.
perempuan-perempuan yang ditampilkan di sini, meski emang bertitel "inmates" alias pesakitan, tapi they're basically "regular" women. kebanyakan dari mereka nyemplung ke penjara karena latar belakang ekonomi, meskipun later on I know kalo bukan itu doang faktor yang bikin seseorang terperosok ke penjara. contohnya sang tokoh utama, si Piper, yang anak orang kaya dan berpendidikan tinggi. begitupun Nicky yang gue sebut sekilas di sini. mereka nggak kekurangan duit, tapi tetep bisa kecebur melakukan kejahatan, and thus, end up in prison.
bicara soal terinspirasi, keseluruhan tiga season ngasih gue banyak banget insight, salah satunya ya soal parenting. yang unik, diceritain ada ibu dan anak yang dipenjara bareng, yaitu Daya dan ibunya, Aleida... technically sih ibunya duluan yang dipenjara, dan ketika tau anaknya dipenjara, hal pertama yang Aleida lakukan saat ketemu Daya adalah... nampar. haha, tapi tindakan itu bisa dimengerti banget! ya kalau diliat pakai kacamata emak-emak, siapa coba yang mau anaknya ngikutin jejak langkah yang salah? meskipun diri kita sendiri yang dicontoh.. *atut*
anyways, beberapa kali gue menemukan diri gue mewek sembari nonton OITNB. episod yang berkesan banget tuh yang tentang Hari Ibu. jadi, penjara yang jadi background serial ini adalah Lichfield, penjara dengan tingkat keamanan rendah, di mana mereka yang dipenjara juga bukan pelaku kejahatan 'berat.' terharu deh ngeliat gimana 'perjuangan' anak-anak yang ibunya dipenjara hanya untuk bisa menghabiskan satu hari bersama sang ibu dalam kondisi seru dan ceria, meski masih tetap di dalam penjara.
diceritain juga betapa pusing ibu yang dipenjara saat menemui kenyataan anaknya getting out of hand. gimana coba caranya 'mengontrol' dan menjaga hidup anak-anaknya dari pengaruh buruk, sementara mereka sendiri lagi dipenjara?
| kiri: Daya, kanan: Aleida, Daya's mom |
but then there's a twist!
ibunya, Aleida, ternyata ngebohongin pihak pengadopsi supaya anaknya Daya/cucunya bisa tetap bersama ibunya... emang sih, dengan segala risiko kemiskinan, kejahatan, dan sejenisnya. tapi itu semua semacam "nggak ada apa-apanya" dibandingkan terpisah dari ibu sendiri....
this is what she (Aleida) said exactly,
Aleida: "I know that feeling you got when you had her in your arms. And if that went away forever, you'd be all kinds of f*cked up."
Daya: "You make her sound like she's drugs."
Aleida: "The worst kind. She's gonna make you feel better than you ever thought you could, then drain all your money and ruin your life.
You're always gonna need her. And even when you hate her, you're gonna love her."
that's it. I soooooo can relate with what she's describing.
that's exactly what having a child is like...
dan karena pada episod tersebut juga diceritain flashback Aleida waktu masih muda dan ngurus Daya yang masih kecil, mau nggak mau gue jadi teringat my own mamak. the one I always have fights with (yep, even until today). digambarin gimana pelan-pelan Daya mulai 'jauh' dari ibunya sendiri, emotionally. and I think that's also what happened between me and my mamak.
dari awal gue dan dia nggak bisa berteman. iya, nggak bisa aja. karena beda generasi, kali. atau beda "style." atau bisa juga karena karakter kita terlalu sama. hahaha entahlah! yang jelas, pas adegan demi adegan flashback Aleida diputarkan, gue jadi kayak ngeliat apa yang nyokap gue alami dan rasakan saat ngebesarin gue yang beranjak ABG...
boy, it was damn hard to watch! x( mewek berember-ember gue nontonnya...
semacam disadarkan kalo selama "itu" ternyata nyokap selalu sayang sama gue. in her own way.
because even when she hates me, she still loves me damn much.
hiks.
dan sekarangpun, setelah gue sendiri jadi ibu, itulah yang gue rasakan. my kid is like my drug. candu.
semua prioritas berubah, jungkir-balik bahkan, begitu dia hadir. I'm no longer that important.
bagian yang akan gue tulis berikutnya mungkin melenceng jauh banget dari topik Orange is the New Black. adalah sekelumit isi tausiyah yang tempo hari gue dengar di kantor, yang ngasih tau kalo ternyata, Allah menciptakan "miniatur"nya di dunia, dalam wujud seorang IBU.
kalau ditilik dari asal katanya (kebetulan yang ngomong ahli fiqih S2 or S3 dari Kairo, so I think she knows what she's talking about),
ibu dalam bahasa Arab juga disebut dengan istilah murabbi, yaitu miniaturnya "Rabb."
Rabb disebut juga Al Khalik (pencipta), Ar Razziq (pemberi rizki), dan Al Malik (pengatur), sesuai dengan sifat-sifatNya.
dan semua sifat ini ada di diri seorang ibu... ibu 'menciptakan' anak ke dunia (atas kehendak Allah), ibu memberikan rizki kehidupan pada anak-anaknya, dan juga udah 'bawaan' seorang ibu untuk jadi tukang ngatur... in this case mulai dari mengatur lewat didikan pada anak-anaknya, sampai mengatur hal-hal kecil perikehidupan.
fakta ini lalu dikaitkan dengan perintah dan ketentuan Allah. kalau Allah nyuruh atau melarang kita melakukan sesuatu, jangan tanya "kenapa?" justru kita perlu bertanya "apa hikmahnya buat gue?"
karena cinta Dia pada kita tuh bener-bener unconditional - hanya bisa dianalogikan dengan cinta ibu pada anaknya.. Apa yang seorang ibu lakukan pasti demi kebaikan anaknya...
jadi mungkin karena itulah ridho Allah = ridho orangtua, dan juga kenapa surga sampai disebut ada di telapak kaki ibu.
that's exactly what having a child is like...
dan karena pada episod tersebut juga diceritain flashback Aleida waktu masih muda dan ngurus Daya yang masih kecil, mau nggak mau gue jadi teringat my own mamak. the one I always have fights with (yep, even until today). digambarin gimana pelan-pelan Daya mulai 'jauh' dari ibunya sendiri, emotionally. and I think that's also what happened between me and my mamak.
dari awal gue dan dia nggak bisa berteman. iya, nggak bisa aja. karena beda generasi, kali. atau beda "style." atau bisa juga karena karakter kita terlalu sama. hahaha entahlah! yang jelas, pas adegan demi adegan flashback Aleida diputarkan, gue jadi kayak ngeliat apa yang nyokap gue alami dan rasakan saat ngebesarin gue yang beranjak ABG...
boy, it was damn hard to watch! x( mewek berember-ember gue nontonnya...
semacam disadarkan kalo selama "itu" ternyata nyokap selalu sayang sama gue. in her own way.
because even when she hates me, she still loves me damn much.
hiks.
dan sekarangpun, setelah gue sendiri jadi ibu, itulah yang gue rasakan. my kid is like my drug. candu.
semua prioritas berubah, jungkir-balik bahkan, begitu dia hadir. I'm no longer that important.
bagian yang akan gue tulis berikutnya mungkin melenceng jauh banget dari topik Orange is the New Black. adalah sekelumit isi tausiyah yang tempo hari gue dengar di kantor, yang ngasih tau kalo ternyata, Allah menciptakan "miniatur"nya di dunia, dalam wujud seorang IBU.
kalau ditilik dari asal katanya (kebetulan yang ngomong ahli fiqih S2 or S3 dari Kairo, so I think she knows what she's talking about),
ibu dalam bahasa Arab juga disebut dengan istilah murabbi, yaitu miniaturnya "Rabb."
Rabb disebut juga Al Khalik (pencipta), Ar Razziq (pemberi rizki), dan Al Malik (pengatur), sesuai dengan sifat-sifatNya.
dan semua sifat ini ada di diri seorang ibu... ibu 'menciptakan' anak ke dunia (atas kehendak Allah), ibu memberikan rizki kehidupan pada anak-anaknya, dan juga udah 'bawaan' seorang ibu untuk jadi tukang ngatur... in this case mulai dari mengatur lewat didikan pada anak-anaknya, sampai mengatur hal-hal kecil perikehidupan.
fakta ini lalu dikaitkan dengan perintah dan ketentuan Allah. kalau Allah nyuruh atau melarang kita melakukan sesuatu, jangan tanya "kenapa?" justru kita perlu bertanya "apa hikmahnya buat gue?"
karena cinta Dia pada kita tuh bener-bener unconditional - hanya bisa dianalogikan dengan cinta ibu pada anaknya.. Apa yang seorang ibu lakukan pasti demi kebaikan anaknya...
jadi mungkin karena itulah ridho Allah = ridho orangtua, dan juga kenapa surga sampai disebut ada di telapak kaki ibu.
oh mother... sekarang ini, gue merasa bersyukur banget seandainya performansi gue sebagai seorang ibu bisa seujung kukuuuuu aja dibanding nyokap gue. sebanyak apapun kekurangan beliau selama membesarkan gue sampai sekarang,tetep nggak akan bisa gue tandingi.
"I have to keep reminding myself that I am their mother. Sometimes we are sitting at home and I feel like we are waiting for our mom to come home.- Ruby Wax"
No comments:
Post a Comment