14/10/2015

school-hunting season

di sinilah gue, duduk manis sendirian sambil ngetak-ngetik di ipad. this could be enjoyable, this could be a luxury. tapi nggak demikian yang gue rasakan. kenyataannya adalah gue lagi nungguin Adit kuliah sepulang kerja. sementara Bumy menanti gue di rumah cuma sama si embak. he has said many times that he misses me. but... let's just deal with it.

sekarang ini, gue kembali berjibaku dengan urusan memilih SD buat buat Bumy.



yak, sedang terjadi dilema milah-milih sekolah pada diri beta, all over again. 'kan gue cerita di blogpost ini, kalo gue udah memutuskan Bumy dimasukin SD tahun depan ajah (insya Allah), tapi melihat kondisi hidup sekarang - di mana gue tiba-tiba kerja full-time lagi - gue jadi mempertimbangkan lagi untuk masukin dese ke SD bulan Januari ini.
anaknya sih kemaren bilang, "Bumy gak mau buru-buru masuk SD, ah. abis pulangnya jam 3." nah lo, udah paham dia. tapi mau dimasukin bulan januari atau juli, yang pasti 'kan gue harus nyari sekolahnya dulu. mana nih yang paling tepat?? sd loh ini.. esdeee *zoom in zoom out* bayar uang pangkalnya buat 6 tahun sekaligus buuuu!

awalnya gue udah mantep mau nyekolahin bumy sd di sekolah yang enih. karena berasa udah cocok dari segi metode, biaya, sampe gaya hidup. tapi namanya juga emak-emak, ada yang 'ngomporin' dikit soal sekolah x, y, atau z, seketika membara hasrat keponya.

tapi kembali ke soal kriteria, seharusnya emang kita sendiri yang menentukan, rite? bukannya asupan/rekomendasi/kabar angin dari pihak-pihak luar. mungkin bagi si A, sekolah dengan kurikulum nasional cocok, sementara buat si B, sekolah alam lebih efektif.

soal kurikulum buat gue penting banget, nih. dari browsing sana-sini, gue menemukan kalau kurikulum yang terasa cocok baik dengan harapan gue buat Bumy, maupun dengan kepribadian dan gaya belajar Bumy, adalah kurikulum IB.
IB menekankan pada kemampuan analitis, jadi anak akan banyak diminta membuat laporan, essay dan riset. diskusi dan creative thinking selalu diasah karena nggak ada textbook wajib. trus minat non-akademis anak (kayak musik, seni, dan olahraga) dikembangkan dan diarahkan; karena 'kan nggak semua anak 'berbakat' untuk sukses secara akademik.
cuma kekurangannya juga ada, karena punya standar khusus, makanya sekolah IB biayanya mahal. selain itu, sekalinya 'nyemplung' ke IB, ya harus lanjut, karena akan sulit pindah ke kurikulum lain yang terstruktur lebih ketat.
sementara sekolah Bumy sekarang ini, diklaim menerapkan kurikulum montessori. nah, selama ini gue cuma kenal sama kurikulum nasional, nasional plus, internasional (IB, cambridge, IPC).

jadi gue rasa, sekarang ini waktu yang tepat buat memantapkan/merevisi kriteria sekolah. so far, kriteria gue untuk SD Bumy kelak sbb:

- menyediakan pendidikan yang holistik, yang meng-cover pendidikan hati, akal, dan fisik.
untuk hati, ya meliputi budi pekerti, perkembangan secara emosional, dan juga pemahaman agama.
trus untuk akal, pendidikan yang diberikan sesuai dengan perkembangan otak. ini bukan berarti mengharamkan calistung sama sekali, ya. tapi anak dibikin tertarik untuk bisa baca-tulis-hitung dengan bikin anak tertarik, serta bisa menanamkan pemahaman konsep calistung yang kuat.
kebeneran montessori ini titik berat konsep pendidikannya di pengembangan emosional anak. kaya gue ceritain di entry inilah, jadi selama usia kritikal (0-12 tahun), montessori fokus di pendidikan untuk hati, bukannya akademik.
mengutip ucapan seorang mamah di grup WA, "kalo perkembangan emosional anak baik, cukup mengenal diri sendiri, tau bersikap, maka mau ke SMP dengan kurikulum apapun gak masalah." noted!


- biayanya kita afford... baik uang pangkal dan biaya bulanannya, bisa kita bayar tanpa harus ngutang hehe. udah gitu gaya hidupnya juga nggak nggilani; jujur gue gentar menghadapi sekolah yang setiap ngadain event harus nyewa tempat di luar sekolah, suka ngadain studi banding ke luar negri, intinya banyak biaya tambahannya, gitu. belum lagi hidden cost untuk pergaulan... yang meskipun itu semua seharusnya nggak mengikis ke-DBAS-an asal kita bisa pake kacamata kuda, tapi yaa gue maunya anak terbiasa bergaya hidup sesuai kemampuan emak-bapaknyalah.

- gimana dengan Location Location Location? haha kode pos sekolah kayanya udah nggak terlalu berpengaruh buat kita - secara udah setahun ini nyekolahin Bumy ke kawasan macet yang jaraknya 9 km dari rumah. tapi yang jadi pertimbangan adalah kondisi lingkungan sekolahnya, maunya sih yang bersih, terawat, dan terjaga.

- hal-hal lain yang penting-nggakpenting juga jadi pertimbangan, sih, semacam
  • classroom setting - maunya yang nggak duduk berjejer ke arah papan tulis. karena ini menggambarkan metode pengajaran yang dipake; bisa keliatan dong kalo menghadap satu arah kaya gue di SD negri dulu, metodenya akan berupa guru monolog di depan. gue maunya anak diajak banyak diskusi (bukan banyak dikasih hafalan dan PR), disuruh bikin essay dan conduct research alih-alih menyalin doang.
  • rasio guru dibanding anak - nggak terlalu sedikit tapi juga nggak kebanyakan. 1:30 justru kondisi 'ideal' kalo dari mbaca buku Malcolm Gladwell.
  • fasilitas - nggak harus lengkap bin mumpuni sampai ada lapangan hoki dan ice skating segala, yang penting bersih dan terurus.
  • kompetensi pengajar - menilik pengalaman yang tlah lalu, level edukasi guru ternyata ngaruh banget sama kualitas pendidikan yang dideliver.
  • komunikasi antara sekolah dengan ortu - kalo bisa sih ada PTA, dan kepseknya juga komunikatif (tidak arogan adalah syarat utama!).
  • penerapan disiplin secara konkret - disiplinnya tentang apa: baju, absen, attitude? pembentukan perilakunya lewat apa?

hihihi penting-nggakpenting tapi segitu detil yah ceu penjabarannya xD

okelah, semoga kita bisa menjatuhkan pilihan dengan mudah yaa - maksudnya karena udah yakin banget, gitu, hehe. how 'bout you mommas out there? udah mulai school hunting jugakah?
first-world school problem :D

No comments:

Post a Comment