beberapa hari yang lalu, saat sedang dalam perjalanan, suatu hal membuat gue teringat pada seorang teman waktu sma dulu. sebut aja M. gue lupa pemicunya apa, tapi ingatan tentang si teman ini bikin gue jadi mikir, "if i could go back in time, what would i change?"
hubungan gue sama M tidak berjalan, atau lebih tepatnya berakhir, dengan mulus. dia tau-tau menghilang dari idup gue. kalo sekarang mau dicari sih pasti ketemu, lewat facebook, hehe. tapi, sesuatu yang bikin dia menghilang itu yang bikin nge-add di facebook gak akan segampang nge-add orang-orang lain.
penyebabnya sepele aja sih kalo dipikir-pikir sekarang. eh, dulupun bisa dinilai sepele sebenernya. suatu hari, saking excitednya abis jalan sama M ke X, gue cerita ke temen-temen kampus gue. padahal M juga ada on the spot loh. trus, dengan lantang dan kurang-mikir-panjangnya gue mencetuskan ide yang menurut gue saat itu brilian (haha!), "eh kita jalan juga yuk ke X, sama M juga nih!"
hubungan gue sama M tidak berjalan, atau lebih tepatnya berakhir, dengan mulus. dia tau-tau menghilang dari idup gue. kalo sekarang mau dicari sih pasti ketemu, lewat facebook, hehe. tapi, sesuatu yang bikin dia menghilang itu yang bikin nge-add di facebook gak akan segampang nge-add orang-orang lain.
penyebabnya sepele aja sih kalo dipikir-pikir sekarang. eh, dulupun bisa dinilai sepele sebenernya. suatu hari, saking excitednya abis jalan sama M ke X, gue cerita ke temen-temen kampus gue. padahal M juga ada on the spot loh. trus, dengan lantang dan kurang-mikir-panjangnya gue mencetuskan ide yang menurut gue saat itu brilian (haha!), "eh kita jalan juga yuk ke X, sama M juga nih!"
well,
kebetulan saat itu di antara kita semua, cuma M yang bawa mobil pribadi
dan nyetir sendiri. gue sih nggak mikir ke situ. tapii, ternyata M
langsung berpraduga dalam hati kalo gue berniat manfaatin dia dengan
nyuruh dia nganterin gue dan temen-temen kampus gue ke X.
it's all in her head. that's my defense. dan itu 'kan baru wacana!
pokoknya tau-tau M ngilang. gue baru tau the real reason ketika gue tanyain ke mutual friend gue dan M. dulu sih, saat denger penyebabnya, gue jadi merasa bete balik. hahah. gue sebel karena merasa di-misunderstood. dan kenapa dia nggak asertif banget. apa susahnya bilang apa adanya ke gue? 'kan kita temen. (but that's what i thought. gue kegeeran aja nampaknya. mungkin dia menganggap kita gak sedeket itu untuk gue bisa mencetuskan ide jalan bareng dan gak sedeket itu supaya dia bisa tell me what she wanted.)
udah 10 tahun berlalu, kok masih kepikiran aja, jeng?
iya nih, gue juga heran. selama ini, emang sih kalo keinget hal itu, rasanya masih ngeganjel. antara gondok, dan sedih juga. karena i really liked that girl. i thought we could be friends.
kemarin, saat tiba-tiba keinget saat sedang di perjalanan, gue mencoba menelaah lagi kejadian itu. gue coba bayangin berada di posisi M: dengan karakternya yang nggak asertif.
mungkin ketika M denger gue ngomong begitu, dalam hati dia kaget, dan ngedumel. "gile ajee gue mau disuruh nganter dia dan temen-temennya! emang gue supir?!" tapi... dia nggak enak langsung mengutarakan saat itu juga. jadi dia pilih diem. trus when she's on her own, dia mikir-mikir lagi. dan berujung pada keputusan kalo dia nggak cocok temenan sama gue, karena tingkah-laku gue yang suka seenak udel menempatkan dia pada posisi nggak enak.
setelah mikir gitu, hati gue jadi agak plong. iya juga yah, emang gak ada pilihan lain. gue sama dia emang nggak cocok temenan.
and to my defense and solace, toh selama ini idup gue juga baik-baik aja tanpa berteman dengan dia :))
trus, kebetulan weekend kemarin gue mudik ke karawaci. tiba-tiba saat sedang tidur-tiduran (bumy dimonopoli nyokap), gue terpikir untuk mengobrak-abrik gudang 'arsip' gue di kamar atas-yang udah kosong-melompong selama bertahun-tahun. gue terserang mood untuk bernostalgia. pengen baca diary lama, surat-surat dari dan untuk temen-temen, dsb.
jadi gue naik, menyibak tumpukan debu dan buku-buku tua. lalu gue temuin deh kotak-kotak sepatu berisi arsip itu. gue bawa turun dan buka satu persatu.
and yes, there were my diaries. dari jaman SD. and then countless letters. gue emang suka banget kirim-kiriman surat sama sohib-sohib gue jaman sekolah dulu, hahaha. trus kartu-kartu ucapan lebaran dan ulang tahun. gue jadi cengar-cengir sendiri, tiba-tiba jadi merasa kaya! kaya karena kenangan :')
![]() |
| :') nenek adalah salah satu sahabat korespondensi gue dulu. and i was so impressed by this card! |
anyways, karena nggak mungkin arsip itu semua gue bacain satu-satu, jadi gue scheming aja. liat-liat kartu ulang tahun model jadoel. baca curhatan temen-temen di surat-surat yang ditulis di kertas robekan buku. baca sepintas lalu reportase harian gue di tahun 2000. bikin hati jadi adeeem. mungkin karena beberapa hal ini.
- semua remaja pasti (pernah) norak. hahahha. cara penulisan, pilihan kata, sampai topik yang dicurhatin. gue berusahaaa sebisa mungkin nggak mengernyit dan merinding geli ketika menemukan (banyak) hal yang 'aneh-aneh', tapi suseh ye! mungkin 10 tahun lagi baru bisa membaca itu semua dengan senyum bijaksana tanpa teriak-teriak, "najis!" :)))
- and, oh God, what a simple world we used to live in. mikirin ulangan, cowok, temen yang ngeselin, jalan-jalan ke mol. tapi dulu, itu semua seolah hal-hal yang superpenting, dan sebagian besar tenaga tercurah buat itu semua. tapi yaa, buat apaan lagi emang? jangan disamain sama remaja-remaja masakini yang hebat-kreatif-dan-produktif yaa, hehe.
- semua remaja pasti (pernah) norak. hahahha. cara penulisan, pilihan kata, sampai topik yang dicurhatin. gue berusahaaa sebisa mungkin nggak mengernyit dan merinding geli ketika menemukan (banyak) hal yang 'aneh-aneh', tapi suseh ye! mungkin 10 tahun lagi baru bisa membaca itu semua dengan senyum bijaksana tanpa teriak-teriak, "najis!" :)))
- and, oh God, what a simple world we used to live in. mikirin ulangan, cowok, temen yang ngeselin, jalan-jalan ke mol. tapi dulu, itu semua seolah hal-hal yang superpenting, dan sebagian besar tenaga tercurah buat itu semua. tapi yaa, buat apaan lagi emang? jangan disamain sama remaja-remaja masakini yang hebat-kreatif-dan-produktif yaa, hehe.
but it's funny to see NOW how uncomplicated and lucky we were. masa-masa itu adalah kesempatan untuk do things we wanna do (mendalami hal yang kita suka), make as many friends as we could (it gets harder as we get older, eh? or maybe it's just me), and have as many fun as we could (meski harus tetap responsible).
semoga kalimat di atas nggak bikin gue terdengar mabuk dalam nostalgia dan menyesali kehidupan saat ini yah. (kenapa juga harus dijelasin? gue bayangin weiche my super-resek best-friend baca soalnya!)
but it's nice knowing we had the opportunity.
and it (kegiatan bernostalgia) is also consoling in a way, because it brings us to the "balcony" position. atau posisi penonton. it kinda helps us realizing the reasons of some things we did and choices we made. and how afterwards, albeit given the chance, we wouldn't want to change a thing!
- gue jadi BARU sadar betapa dulu gue dikelilingi banyak temen yang super baik dan super peduli sama gue. nemenin gue ke mana-mana (selama sma gak punya pacar soalnya). ngeladenin ocehan-ocehan absurd gue. melakukan hal-hal bodoh bersama, hehehe.
alhamdulillah ya Allah, betapa gue udah diberikan begitu banyak happy days and nice memories dari jaman sekolah dulu :')
tapi, di sisi lain, gue juga jadi sadar... kalo gue dulu deket banget sama mereka. dan betapa mereka dulu bagian penting banget dalam hidup gue. mereka bikin gue bahagia, merasa bermakna, dan secara nggak langsung ngasih gue pelajaran untuk IDUP.
tapi, kenapa sekarang mereka hampir nggak eksis sama sekali dalam kehidupan gue ya? gue sebut "hampir" karena, well, mereka masih 'berhubungan' sama gue sih... via facebook :|
kesadaran ini bikin gue jadi ngomel ke diri sendiri, kenapa gue 'membuang' semua relasi itu begitu aja, bukannya menjaganya dengan baik?
tapi, relationship goes both ways, right?
emang arus hidup yang ngebawa kami ke tempat yang berbeda-beda. perubahan tak terelakkan. some of us have also changed into different people. ada yang tadinya cocok jadi nggak.
padahal, gue nggak percaya kalo hubungan itu bisa kadaluarsa. harusnya hubungan itu evolving, resilient, adaptif. tapi, mungkin 'hukum' itu, dan effort 'sebesar' itu hanya worth it untuk hubungan tertentu aja... macam a very good friendship yang has been through the tests of time, dan (in?) marriage.
yeah, mungkin gue emang tipe orang yang clinging into the past... tapi, kalo motifnya untuk memelihara relationship, itu nggak buruk 'kan?
jadi, gue mencoba bertekad, kalo gue akan mengerahkan effort untuk lebih tidak-enggan menghadiri acara bersama kawan-kawan lama. dan juga mencari celah untuk silaturahmi sebaik mungkin. kalo ada kesempatan ngumpul, ya dilakuin.
kembali ke pertanyaan di atas, "if i could go back in time, what would i change?"
well, kalau untuk urusan sama M, gue pengen bisa ngubah perasaan gue sendiri. supaya gak demen-demen banget sama dia. :P
trus, seandainya bisa, gue berharap bisa maintain relationship sama temen-temen lama setelah nikah. bukannya kehidupan gue sekarang sama sekali kehilangan temen lama. tapi, ada beberapa temen yang tadinya deket banget, jadi nggak pernah tukar kabar sama sekali.
jadi, apa ya moral of the story-nya? there better be something... i know there's hikmah hidden somewhere from my act of unraveling those shoeboxes, and from this warm feeling in my heart.
mungkin... people don't change? we just wear different outfits, have better hair, have more cash in our accounts, go to more foreign cities, married with somebody, have kids, know more people, talk more complicated language.
but deep down inside, we're still the same person. we feel comfortable and connected with the same kind of people. issues from the past that haven't been resolved are still there, lurking in the corner of our mind, waiting for when certain thing to trigger them and unlock the gate where our mind hides them.
maybe it's true, the saying i once read, "if you want to find yourself, stay where you are." because we are what we are.
masa sma mungkin udah 15 tahun jauhnya(!). tapi diri kita tak pernah begitu jauh berlari dari diri kita yang dulu.
hhh....
semoga kalimat di atas nggak bikin gue terdengar mabuk dalam nostalgia dan menyesali kehidupan saat ini yah. (kenapa juga harus dijelasin? gue bayangin weiche my super-resek best-friend baca soalnya!)
but it's nice knowing we had the opportunity.
and it (kegiatan bernostalgia) is also consoling in a way, because it brings us to the "balcony" position. atau posisi penonton. it kinda helps us realizing the reasons of some things we did and choices we made. and how afterwards, albeit given the chance, we wouldn't want to change a thing!
- gue jadi BARU sadar betapa dulu gue dikelilingi banyak temen yang super baik dan super peduli sama gue. nemenin gue ke mana-mana (selama sma gak punya pacar soalnya). ngeladenin ocehan-ocehan absurd gue. melakukan hal-hal bodoh bersama, hehehe.
alhamdulillah ya Allah, betapa gue udah diberikan begitu banyak happy days and nice memories dari jaman sekolah dulu :')
tapi, di sisi lain, gue juga jadi sadar... kalo gue dulu deket banget sama mereka. dan betapa mereka dulu bagian penting banget dalam hidup gue. mereka bikin gue bahagia, merasa bermakna, dan secara nggak langsung ngasih gue pelajaran untuk IDUP.
tapi, kenapa sekarang mereka hampir nggak eksis sama sekali dalam kehidupan gue ya? gue sebut "hampir" karena, well, mereka masih 'berhubungan' sama gue sih... via facebook :|
kesadaran ini bikin gue jadi ngomel ke diri sendiri, kenapa gue 'membuang' semua relasi itu begitu aja, bukannya menjaganya dengan baik?
tapi, relationship goes both ways, right?
emang arus hidup yang ngebawa kami ke tempat yang berbeda-beda. perubahan tak terelakkan. some of us have also changed into different people. ada yang tadinya cocok jadi nggak.
padahal, gue nggak percaya kalo hubungan itu bisa kadaluarsa. harusnya hubungan itu evolving, resilient, adaptif. tapi, mungkin 'hukum' itu, dan effort 'sebesar' itu hanya worth it untuk hubungan tertentu aja... macam a very good friendship yang has been through the tests of time, dan (in?) marriage.
yeah, mungkin gue emang tipe orang yang clinging into the past... tapi, kalo motifnya untuk memelihara relationship, itu nggak buruk 'kan?
jadi, gue mencoba bertekad, kalo gue akan mengerahkan effort untuk lebih tidak-enggan menghadiri acara bersama kawan-kawan lama. dan juga mencari celah untuk silaturahmi sebaik mungkin. kalo ada kesempatan ngumpul, ya dilakuin.
kembali ke pertanyaan di atas, "if i could go back in time, what would i change?"
well, kalau untuk urusan sama M, gue pengen bisa ngubah perasaan gue sendiri. supaya gak demen-demen banget sama dia. :P
trus, seandainya bisa, gue berharap bisa maintain relationship sama temen-temen lama setelah nikah. bukannya kehidupan gue sekarang sama sekali kehilangan temen lama. tapi, ada beberapa temen yang tadinya deket banget, jadi nggak pernah tukar kabar sama sekali.
jadi, apa ya moral of the story-nya? there better be something... i know there's hikmah hidden somewhere from my act of unraveling those shoeboxes, and from this warm feeling in my heart.
mungkin... people don't change? we just wear different outfits, have better hair, have more cash in our accounts, go to more foreign cities, married with somebody, have kids, know more people, talk more complicated language.
but deep down inside, we're still the same person. we feel comfortable and connected with the same kind of people. issues from the past that haven't been resolved are still there, lurking in the corner of our mind, waiting for when certain thing to trigger them and unlock the gate where our mind hides them.
maybe it's true, the saying i once read, "if you want to find yourself, stay where you are." because we are what we are.
masa sma mungkin udah 15 tahun jauhnya(!). tapi diri kita tak pernah begitu jauh berlari dari diri kita yang dulu.
hhh....
ps: jadi ingin membuat bagian 2 tulisan ini. dulu, weiche pernah bilang, "we should make a special chapter titled 'pria-pria dalam hidupku'."
tidakkah kita semua punya chapter itu? :)))
tidakkah kita semua punya chapter itu? :)))


Gara-gara post lo atu lagi gw baca ini. Kenapa gw baru baca ya?
ReplyDeleteGw juga suka cling to the past makanya gw punya banyak blog, ris :D untuk gw baca-baca lagi suatu hari.
Gw jadi ingat temen-temen gw yang pada jaman bahala gw rasa adalah BFF, nongkrong bareng, eh malam nyambung nelfon-nelfonan sampai pagi tapi sekarang....sadly, we kinda move in different ways. Mungkin bukan karena berubah sih, tapi gak ada situasi yang bisa kita relate much.
Does that make sense?
But yes, i agree, masa muda kita emang sebenernya simple ya.....dibanding sekarang gitu loh, tapi dulu kenapa suka ribet aja ya :P gwnya.
yes, it makes sense what you say. each of us is pulled into different directions, maybe. jadinya kurang nyambung pas ngumpul lagi (sigh). that's just how life works, huh.
Delete