22/04/2019

episode mengejar hak pilih dan diskon Ikea

Hello Monday!
It's the first day of work after somewhat a long weekend.
Rabu lalu baru digelar pemilu, sementara Jumatnya libur nasional Kenaikan Isa Al-Masih. That makes Kamis hari kejepit.
Buat gue, Kamis jadi hari libur nggak resmi karena gue "work" from home. 
Daycare Sam diliburin, otomatis gue kudu full-time megang Sam. Waktu buat kerja diisi dengan video conference setengah hari, sisanya boro-boro sempat nyentuh laptop. 

Di hari pemilu, kita udah bersiap mencoblos sejak pagi.  
Tepatnya jam 8 kita udah bersiap-siap jalan menuju TPS dekat rumah. Udah gagah berani rapi jali, eh ada PLOT TWIST: gue gak bisa menemukan e-KTP gue! 
Udah lemes banget rasanya bowww, ngebayangin kehilangan kesempatan nyoblos karena kelalaian nan sepele. 


Sembari berkeringat dingin ngubek-ngubek tas, lemari, sampai mobil, terngiang-ngiang protes dari si bocah, 



"Mama gimana sihhhh, gimana kalo gak bisa nyobloss?!?! Aduh sayang bangetttt!" 
-_______-

Ini bocah emang semacam politically-melek gara-gara gegap-gempita pilpres dan pileg. Gimana nggak, setiap 5 meter dia melihat poster caleg tersuguh (halo, Masinton!). 
Setiap pagi di perjalanan, hal pertama yang ditanya biasanya soal berita politik. 
Kenapa si A dukung nomor ini. Kenapa si B jadi kubu nomer itu. Kenapa partai ini begini, kenapa politisi ini begitu. 
Ntap soul deh gue (eneknya) tiap hari harus bahas politik. 

Anywayss, kembali ke soal e-KTP yang belum ketemu. Stres banget gue dibuatnya, kebayang kalau harus gagal nyoblos, gue akan sibuk mengutuki kebodohan diri hingga 5 tahun ke depan!

Setelah semua tempat dibongkar, akhirnya gue mengibarkan bendera putih. e-KTP nggak ketemu.
Sempat putus asa sampai ngerasa nggak perlu hadir ke TPS sekalian. Tapi Adit si forever-optimis tetep ngajak bergegas ke TPS. Toh kita punya undangan nyoblos. Dia juga nyiapin kartu keluarga in case ditanya kenapa nggak bawa e-KTP. 
Sesampainya di TPS, kita hanya perlu ngantri sebentar. Begitu tiba di depan panitia pemilu, ternyata yang perlu ditunjukkan hanya undangan nyoblos.
Alhamdulillah!
Mamak bisa nyoblosss hueeyyyy... 
Bukan cuma gue yang lega, si bocah juga tersenyum puas xD 

Urusan mencoblos nggak butuh waktu lama. Jam 8:45, kita udah bisa segera melesat ke destinasi berikutnya. 
Apakah itu? 
Ikea aja boww. Gara-gara terbujuk iklan di Instagram kalau ada karpet yang diskonnya lumayan sampai 60%, kita pun berniat ke Ikea sepagi mungkin. sampai di situ masih jam 9:20an, dan ternyata diinfokan karyawan Ikea kalau di hari pemilu ini Ikea baru buka jam 11. Hoalahhh. Akhirnya kita pun melipir ke sekitar Alam Sutera untuk nyari sarapan.
Pertama kita ke Living World. Ternyata mall baru akan buka jam 11 siang juga. Ke Mcdonalds tapi rame banget. Akhirnya ke Flavor Bliss, dan ternyata resto yang buka cuma sedikit dan semuanya penuh nuh. 
Akhirnya kita baru bisa dapat tempat duduk di Starbucks setelah antri. Jam 10:30 kita bertolak ke arah Ikea lagi.
Ndilalah apa yang kita temui di sana? Parkiran udah ramaaaiii keisi mobil, dan... Ikeanya udah buka!!
Waaah, kok ngaco gini info dari karyawannya sendiri?!?! 
Emosi jiwa. 

Selanjutnya bisa ditebak, karpet incaran sudah habis diborong. tau gak siapa yang borong? Jastipersssss, huhuhu.
Mereka ngeborong itu karpet dan beberapa items yang sedang didiskon sampai menggunung di trolley masing-masing.
Sebel banget sih. Padahal Ikea udah ngebatasin per orang hanya boleh beli item yang sama maksimal 2 buah. Tapi ya tetep bisa diakalin kan, mereka tinggal bagi-bagi jatah ke personel tim jastipernya. 
Fail banget deh intinya kunjungan kita hari itu. 
Ketika mau bertolak balik, kita lihat ada pengumuman resmi dipasang di dinding Ikea, yang menyatakan bahwa di hari pemilu ikea akan buka jam 11. 
Tapi kenapa mereka sendiri yang melanggar peraturan tersebut, ya?
Sooo disappointing. 
Yasutralah. Kita menghibur diri dengan sedikit nyhombong halu, mungkin kita emang gak cocok beli karpet diskonan. Hahahha. 

Seperti gue bilang tadi, hari Jumat kebetulan tanggal merah.
Kita pun mengisinya dengan nimbrung staycation Geng Palem di sesehotel tengah kota. 
Lumayan banget, dong. Bisa ajak anak-anak ngariung, cipak-cipuk main air, dan GRATIS. Hahaha. Thanks, Geng Palem!
Karena jujur aja, isu yang kita hadapi setiap long weekend masih yang itu-itu aja:
  • Gimana supaya nggak overbudget terlalu besar. Kita sekarang coba ngakalin dengan mengurangi eating out dan lebih banyak cooking in (istilah apa ini). Mungkin iya gue segitu menuanya, haha, tapi sekarang gue jadi bisa menikmatinya: Ngajarin Bumy berkreasi di dapur meski cuma bikin yang gampil-gampil. 
  • Gimana supaya si anak besar tetap dapat "wahana" kegiatan yang menyenangkan buat dia. Syukurlah kali ini dia diajak nginap di hotel sama Geng Palem.  
The next day, gue dengan rajinnya menghadiri workshop yang direkomendasikan seorang teman, bertajuk "Mother Culture." I have so many things about this workshop alone. Insya Allah nantilah ya on the next post. 

Begitulah. 
Sekarang sudah kembali Senin. Sam si bayi yang udah bisa menggeleng-geleng kalau ditanya pendapatnya sudah kembali dititipin di daycare. sementara Bumy seharian ikut gue ngantor karena sekolahnya libur bur burrr. 



10/04/2019

like everything else that happens in life, there's lesson learned

the hardest part of this startup experience I've been having this past two years?

first, it's that I'm alone most of the time. 
ada enaknya, sih. I have the time for myself, atur sendiri mau ngapain. nggak ada yang texting nanyain posisi udah di mana saat lagi zen moment sarapan di sareeng - seperti yang kerap terjadi dahulu. 
trus karena nggak ada orang lain, well, gue nggak perlu ngobrol basa-basi.

it's fine. except for the fact that I *do* like berbasa-basi. 
sungguh, gue tipe orang yang datang ke kantor untuk ngobrol, berteman, makan siang bareng. to make connection with other people. 
begitulah paguyuban geng tante dan dedek-dedek brondong binaan terbentuk pada awalnya. 

during my years in the previous work unit, I didn't come to the office to actually work and build a career. 
I was trying to find a meaning in my work, but failed to find it. so I steered my way to build relationships instead. and I found friends.   

di unit kerja sekarang, yang berbentuk startup (internal kantor), alhamdulillah I found what had been lacking: the meaning, the why, the golden circle. 
the friend(ship) part? well, tim startup gue ini dibangun bersama orang yang gue sebut teman, sih. 
tapi karena faktor lokasi kerja, gue kerap ngantor sendiri saja. 
kadang rindu punya teman diskusi, saling melempar ide dan opini. 
rindu berbasa-basi. mengocehkan hal-hal di luar pekerjaan; keluarga, masalah, gosip, film favorit, you know.. the things that make us human.  

even though this way I get to learn to enjoy my own company. 
sebagai tipe manusia yang mendapatkan energi dari berbagi dan berinteraksi dengan orang lain (yang membuat nyaman), kondisi sehari-hari sendiri ini bisa dibilang sempat melumpuhkan. 
felt like I was gasping for air. lebay, yah hahaha. tapi begitulah yang gue rasakan.  

seiring waktu, kondisi ini memaksa gue menghadapi hal yang gue takuti: sendiri, tanpa teman berbagi. gue jadi terpaksa belajar.. buat menata hati dan memanfaatkan "ruang sendiri" ini. 
I start by listening to podcasts, bergabung kelas webinar, and through diving into the depth of my own thoughts. 
hingga akhirnya terbentuklah ide untuk buat akun @agilehome, board trello untuk diri sendiri, dan pakai aplikasi Calendar untuk menata waktu. I also try making conversations with myself again. 
hingga akhirnya sekarang gue mulai menanti-nanti ruang sendiri ini. sudah terbayang akan melakukan apa saja, sendirian, dan itu cukup menyenangkan. 

oh, where were we? 
hardest part of being in this startup... 
secondly, I miss having a corner. 
tempat di mana gue bisa bersandar, meletakkan semua barang bawaan dengan aman. 
and I mean that literally. haha. 
suatu tempat yang tetap sehingga gue tak perlu kerap berpindah-pindah dan membawa serta segala yang gue butuhkan. 

but at least I learn to 
a) know my needs ahead, 
b) pack lightly, 
c) getting used to bring heavy loads. 
I bring my work tools, minuman, dan snack ke manapun pergi. 
and that kind of reminds me of this portable equity concept. 
yang gue bawa ke mana-mana bukan cuma yang terlihat, tapi juga yang nggak kasat mata. 
my knowledge, my capabilities, my ideas, my reputation, my networks. 
semua hal itu nggak terikat pada titel atau perusahaan manapun. I can bring it anywhere I go. 

is there a third on this?
guess there is. 
it's that I have to be assertive. in voicing my opinion, to get my desired results, and also to save me from unwanted consequences. 
dan hal ini tidak mudah buat gue, yang sampai detik ini pun masih sangat tidak enakan. 
ugh. 

sepertinya gue perlu membaca (ulang) 7 habits for highly effective people. 
random I know, haha. tapi ini yang jadi jawaban adit waktu gue tanya kok dia bisa lempeng minta apa yang dia mau - tanpa menafikan fakta bahwa dia menggenggam kartu sakti triple majority: fakta bahwa dia laki-laki jawa beragama islam di indonesia yang mirip white men privilige di barat sana. jawaban dia tidak gue duga sama sekali, yaitu dia baca buku 7 habits. 
anggaplah gue butuh personality makeover. 
berguna bukan cuma buat idup di startup 'kan. 


04/04/2019

fana merah jambu

I thought I would start blogging again.
tapi setelah dipikir lagi, lebih nyaman berbicara, berpikir, beropini sendiri dulu.

dari semalam gue sudah tergerak ingin ngeblog lagi. well, gue selalu memperlakukan blog bak diary yang terpublikasi, jadi ya isinya seputar kehidupan sendiri aja. belum ada hal-hal yang berharga buat masyarakat untuk dishare. hehe. 
it feels so different, menulis untuk diri sendiri dan menulis untuk dibaca orang lain (selalu ada harapan untuk itu). 

saat ini gue mau nulis hal-hal yang I'm feeling excited about saja. setelah sebelum-sebelumnya resah dan mengeluh.
  • Sam oh Sam
sekarang bayi ini akan berusia 16 bulan in just a few days. and he makes me more and more in love everyday. 
ternyata begini ya rasanya sama anak kedua.. lovvvveee melulu. 
bedanya sam sama bumy banyak, terlepas dari mukanya yang 89% copy-paste. satu hal yang jelas banget sih dari segi perkembangan fisik. motorik kasarnya cepet banget berkembang. dia bisa jalan di usia 10 bulan (kalau gue nggak salah inget yak), jauh lebih cepet dibanding bumy yang baru berani jalan di 14 bulan. gue menebak faktor nurture berperan besar dalam hal ini. 
dengan sehari-hari berada di daycare, sam punya banyak contoh hidup untuk ditiru, yaitu anak-anak yang lebih besar dan lebih jago kemampuan fisiknya. selain itu, di daycare nggak ada yang sedikit-sedikit parno melarang berlebihan (like me or my mom). 
tidak berapa lama setelah bisa jalan, tau-tau dia udah nyoba manjat tangga di rumah sambil merangkak sendiri. lalu sekarang dia udah bisa naik tangga dengan gaya tangan pegangan ke handle tangga. main bolanya juga jago bener (I got no comparison for this, cuma takjub aja liat dia bisa ngejar-ngejar bola heboh). bahkan sekarang dia udah bisa dong jalan sambil bergaya pura-pura nendang bola. yaampun BAYI. 

waktu kita lagi main di rumah debi, anak-anak cowok besar 'kan pada main sepeda. mungkin drive terbesarnya sam 'ni rasa nggak mau ketinggalan hype. FOMO gitu. jadi dia belagak bisa riding the bike juga, sok-sokan ngegowes padahal belum lancar dan harus didorong juga supaya bisa maju *gudlak pinggang bapaknya.  

ada hal yang menurut gue kocak banget. saat weekend kemarin, gue ngajak bumy bikin telor dadar di rumah. bumy lalu berdiri di atas dingklik untuk belajar cara memutar kenop kompor, sebelum memasak si telor dadar. 
gak lama, saat semua sibuk dengan urusannya masing-masing, gue bingung nyariin sam. yes di rumah yang seuprit itu. tau gak gue temukan dia di mana? lagi berdiri di atas dingklik yang sama which is di depan KOMPOR, sambil berlagak muter kenop kompor juga!!!1!11
antara worry dan terkejut ku melihatnya! astagaaa bayi ini cepet banget nirunya. 

ada juga momen meniru kurang positif lain, yaitu gara-gara gue suka ajak sam nungguin bumy ekskul taekwondo, dia jadi suka belagak nendang, dong, meski sambil becanda -__-  

di satu sisi, daycare sangat ngebantu untuk stimulasi sih. tanpa gue perlu repot bereksperimen, sam tau-tau udah minta makan pake tangan sendiri (menjumput) dan kemarin minta pake sendok sendiri. 
semoga nanti pas toilet training aku pun terbantu!

masih soal perbedaan, yang cukup njomplang adalah kemampuan sam ngomong, yang justru lebih lambat berkembang dibanding bumy. kosakata sam belum banyak nambah, babbling ngoceh gak jelas sih sering, tapi belum mau ngelengkapin suku kata gitu lho. misalnya kita bilang "sa..?" dia gak mau jawab "tuu." bapaknya masih dipanggil mama. kalau mau apa-apa bilangnya "mamammamamma." mamak tau sih kamu tjinta banget padaku, sam, tapi MBOK YA. 

perbedaan lainnya yang mencolok adalah bumy suka banget (diajak) kelayapan, sementara sam nggak. 
ughh cukup menjadi ujian menahan nafsu kelayapan buat gue. sam bisa cranky kalau belum terpenuhi jatah bertemu kasurnya maksimal di jam 7-an malam. dia juga suka banget gegoleran main di kasur kalau siang hari libur. dikit-dikit nenen, dikit-dikit molor sambil pelukan. walhasil setahun belakangan ini gue udah hampir nggak pernah kelayapan impromptu di malam hari. nggak kayak dulu yang tau-tau bisa nyangkut nongkrong di mana. hmm pernah sih ada anomali sekali, yaitu saat kita dadakan main ke Ikea di suatu jumat malam. dan ini berhubungan sama poin berikutnya yang membuatku excited akhir-akhir ini...

  • mulai dikit-dikit bebenah rumah lagi
bukan beberes maksudnya, kalau itu sih udah fardhu 'ain. tapi mulai bebenah rapihin interior rumah. 
yang pertama kepikiran untuk dirapihkan adalah study room yang duluuuu saat awal merenov rumah sudah dirancang, tapi belum terwujud juga. 
jadi pada suatu jumat malam, dengan agak impusif kita mampir ke Ikea. harapannya bisa dapat inspirasi model ruangan. 

so this study room makeover became my little project these last few weeks. 
gue pun mulai donlot-donlot app buat desain rumah. yang bolak-balik diakses tuh Pinterest, Ikea Store sama Room Planner. bahagia ey bikin-bikinnya. 


the vision on Room Planner
the realization, don't have much to complain though <3
insya Allah kalo ada rezeki maunya sih ngeberesin ruangan lain di rumah. 
pengen ngecat rumah, ganti sofa, benerin halaman belakang, ngisi kamar anak, plus beberapa furniture yang udah lama masuk ke wishlist. pelan-pelan layaaa, little little we can. 

  • soal si anak sulung
baru kerasa lho... kalau gue udah sangat sangat "menjauh" secara jiwa dari dia.
yes I'm admitting it. 
teringat dulu bu alzena menegur gue untuk be present saat bersama anak... i can recite it by heart, tapi hal tsb belum jadi respons alami gue. hiks. semakin gue menyadari kalau gue adalah multitasker yang cukup buruk. it's hard enough to concentrate to a baby, let alone that plus an almost-teenager. 
dan semua keriweuhan urusan membesarkan bayi ini, membuat gue gak bisa melihat bumy dengan lebih 'jelas.' 
all I see is his mistakes, his tingkah-polah yang nyebelin dan usil. 
and all I do is responding it with anger. 
gosh....
tapi Allah Maha Menunjukkan jalan keluar... alhamdulillah lewat satu demi satu kejadian yang tersaji, gue dipertemukan dengan orang-orang yang bisa membantu. orang seperti Nup, salah satunya. gosh, I have so much to tell about her. I learn so much from her! salah satunya gimana mengenal dan melihat anak the way they are. menurut Nup, mengenali apa masalahnya aja udah bisa menjadi pembuka jalan. I realize I need to do better parenting. 
penerang jalan lainnya berupa kelas pendidikan dari Rumah Inspirasi. again, I have so much to tell about these inspiring classes. 
tapi menimbun ilmu tiada artinya kalau nggak dipraktekin, ya 'kan. 

  • MRT
Jakarta akhirnya punya MRT!!!
ya Allah gak pernah terbayang akhirnya gue melihat dengan mata kepala gue sendiri infrastruktur tsb terwujud!
gue masih bisa mengingat jelas suatu momen di tahun 2005 saat gue masih bolak-balik mencari nafkah di sudirman and I felt so disgusted, and desperate about the city. I love the city so much it sickened me to see mereka yg diamanahi untuk mengurus kota ini gak terasa dampak kerjanya. trotoar yang buruk. halte yang kotor dan rusak. kemacetan di jam kerja yang membuat putus asa. 




sekarang semua isu itu masih ada, tapi I can feel better knowing ada pak Jokowi yang BEKERJA untuk gue, keluarga gue dan uang pajak yg sudah disetorkan. haha ini maksudnya bukan buat kampanye terselubung (is it?) tapi semata-mata apa yang gue rasakan. 
I was holding back tears saking terharunya saat pertama kali menjejakkan kaki di MRT station di Jakarta. segitunya indeed! 
yes I got emotional... orang indonesia totally deserve itttt, sejak bertahun-tahun lalu bahkan. sadarkah betapa beruntungnya kita ada pemimpin yang segitu getolnya pengen membangun bangsa ini... Kiti told me, bahwa salah satu orang yang dinaungi Allah SWT di hari akhir adalah pemimpin yang adil. I truly hope that Jokowi will be one of them. 

  • hmm what else? oh, our weekends with Palem family and my spontaneous lunch dates with Kiti
sejak abah Venda mulai kuliah s2, otomatis di hari sabtu si bunda Debi dan Abhi nganggur aja di rumah. kita yang hobi kelayapan ini pun kerap kali menculik mereka. minggu lalu kita sarapan sop buntut mak emun jauh-jauh ke Bogor. dari situ lantas nemenin abhi kontrol dokter di KMC, lalu mengganjal perut lagi ke Siku (Dharmawangsa). makan, makan, makaan. malamnya geng Palem nginap di Ciganjur. seneng aja ngumpul ngariung gini. semoga rencana liburan bareng bisa terwujud, nih... 


gosh I look so much like her ELDER sister
sop buntutnya bikin bunda merem-melek
our meetup sessions should be called detoxing. honestly.
well, setelah menulis berpanjang-lebar, sepertinya tulisan ini akan gue muat di blog. 
can't tell exactly why. mungkin hati ini kembali mengenali blog sebagai rumah menyampah yang cukup nyaman.   

and it's glad to be back. ihiy. 

28/09/2018

bali after a decade

yes, I believe it was a decade ago, my visit to Bali.

Adit ke sana dalam rangka acara kantor sih udah seringkali. sementara gue nggak pernah berkeinginan untuk menginjak Bali lagi. entah kenapa.
sampai sekitar dua bulan lalu. seperti biasa, diawali dengan kegragasan, ide jalan-jalan ke Bali kok terdengar seru. yaudah langsung cari-cari tiket, buka-buka situs hotel, dan tau-tau udah kebooking aja haha.

where we stayed: Hard Rock Hotel, Kuta.
duration: 4 days.
transportation: rental (Avanza), nyupir sendiri.

first of all, alhamdulillah we could catch the flight on time.
ahaha.
pesawat berangkat jam 8an. dan alhamdulillah Sam sangaaattt kooperatif di pesawat. (of course mamak tetap deg-degan mengingat pengalaman pertama kalinya bawa Sam naik pesawat kemarin).
tapi entah kebetulan entah nggak, seperti saat mau ke Singapur, sehari sebelumnya dia demam LAGI.
biasa, batuk pilek. tapi lumayan bikin mamak pening.
cuma pagi itu dia mau makan lumayan banyak, di pesawat pun tertidur lelap. 


sumringah banget begitu sampai di bandara. "ma fotoin Bumy ma"

kita mendarat di Bali jam 11 WITA. mobil sewaan sudah menunggu di bandara.
kita langsung menuju ke Uluwatu, ke GWK Cultural Park lebih tepatnya.
yeah it's a mainstream tourist destination. tapi memang "tema" liburan kali ini mau ngasih Bumy his first Bali experience. plus mamak sudah kekurangan tenaga (baca: tua) untuk sok ambisyes dan berepot-repot mengambil risiko. 
kita sampai di lokasi sekitar jam 12. yesss, sedang panas-panasnya.

but we love it there.
- tempatnya bersih
- ada atraksi tari-tarian nusantara yang bisa dinikmati. ada schedule tiap jamnya. Bumy suka banget nonton ini. "kita harus nonton sampai selesai!"
- ada Starbucks dan resto-resto lain yang bisa disinggahi untuk ngadem dan makan.
- ada opsi lain biar si bocah nggak ribut bilang bosen, yaitu main Segway.


dari sini, karena sudah di kawasan Uluwatu, kita pun melanjutkan wisata ke arah pantai Melasti demi melihat keindahan tebing-tebing, untuk kemudian menikmati sore di Sundays Beach Club.
nyari si sunday ini agak susah yaa - bisa jadi karena kita bluun meski sudah pakai Gmaps, atau karena pintu masuk ke sini ternyata dari tempat bernama The Ungasan Cliftop Resort - jadi seharusnya tempat ini yang kita tuju di Gmaps.

did we love it there?
- pantai dan fasilitas yang disedikan cocok buat aktiviti-aktiviti bocah seumur Bumy. 
- nice view. meskipun don't expect to catch the sunset karena ketutupan tebing karang.
- tangganya banyaaak bangettt... kita harus meniti ratusan tangga turun ke pantai. mending siapin selengkap mungkin barang dari mobil, jangan sampai ada yang tertinggal. cukup merepotkan buat bolak balik ke lokasi mobil diparkir.
- stafnya cukup friendly dan helpful. ketika gue minta tolong agar makanan Sam dipanasin, mereka sigap membantu, dan kita juga dicariin tempat duduk yang oke buat keluarga.
- in my opinion, makanan Indonesianya jauh lebih enak dibanding western dish (yang terasa keasinan buat gue).
- price-wise? $$$$$ banget buat kita hahahah. adults 400 rb/person, child 300 rb/person.

kita nongkrong cukup lama di situ (iyalah sayang udah bayar mihil xD) dan baru beranjak saat maghrib.

saat perjalanan balik, kita singgah sejenak di Gaya Gelato yang dilewati di jalan Uluwatu untuk menikmati aiskrim nan lezato. pilihan rasanya unik-unik. 
akhirnya kita baru check in di hotel jam 8 malam. udah lelah bangeeeet rasanya. dan sempat ngerasa
salah itineraty, haha. mungkin lain kali ada baiknya kita check in dulu di hotel dibandingkan langsung jalan-jalan. kali ini terasa lebih capek, euy. 

hari kedua.
we had our first breakfast at the hotel. dari segi rasa terbilang oke. tapi restonya memang rame, dan kebanyakan tamunya families with children. 

sepagian itu kita menjelajah kawasan hotel. ternyata di Hard Rock ada beberapa jenis kolam renang. ada sand island pool, ada chill out pool, lalu pool di mana ada perosotan untuk anak-anak. 

karena Bumy excited banget pengen mencicipi berenang, jadi pagi itu kita habiskan di hotel saja. baru saat mendekati jam makan siang, kita berangkat untuk kelayapan.
first stop adalah tempat makan nostalgia gue dan Adit: Be Pasih. 
10 tahun lalu, supir kantor Adit ngajak kita ke sini, dan kita terkenang-kenang banget sama rasa enaknya.
hidangan utama di sini (sesuai namanya in bahasa Bali) adalah ikan laut. rasanya khas, dan sambelnya lezat. minumannya juga seger-seger. 

mungkin karena kecapean main air, sesampainya di Be Pasih, Bumy teler dan malah bobok di mobil. 
gue juga cuma bisa mengelus dada karena hari itu Sam ngelepeh-lepeh disuapin makan untuk sesudahnya, mengunci mulut rapat-rapat. 

dari Be Pasih, kita sempat kebingungan mau ke mana. terpikir ke Ubud, tapi kok rasnaya udah kesiangan. 
mau main agak jauh ke Bedugul, tapi kok gentar, khawatir si bayi bosen di jalan. 
akhirnya kita melipir ke... pantai Petitenget. yang nggak jauh dan ada airnya sehingga menarik untuk bocah-bocah setidaknya. 
haha soooo not ambisyesss.
di Petitenget

Bumy tentunya seneng, karena buat dia yang penting bisa main air lagi. 
awalnya kita ingin nongkrong-nongkrong kekinian di seseresto kawasan Seminyak.. sebutlah Sea Vu Playlah, Sisterfieldslah, apalah apalah. 
tapi yang terjadi, kita lewatin aja resto-resto itu sambil melihat-lihat sekitar. the whole area felt crowded. dan entahlah, vibe-nya terasa terlalu "muda" buat kita yang nenteng-nenteng bayi. akhirnya dari pantai, kita pun mengarah balik ke hotel. Bumy yang emang udah kepengen main air LAGI di kolam renang hotel, seketika bersorak gembira. 
jadilah sore itu aktivitas kita hanya leyeh-leyeh di pantai artifisialnya Hard Rock. 
hotel ini emang bener-bener kid-friendly, sih. dalam sehari ada beberapa kali schedule acara buat anak-anak, biasanya di sand island pool. sore itu ada acara lomba dan kuis buat anak-anak yang lagi pada main di pool. lumayan well-organised dan seru. 
ini di chill out pool. ada jacuzzinya juga haha

menjelang sunset, kita jalan kaki ke pantai Kuta. pakai trik pesen teh botol 15 ribu per botol supaya bisa duduk di kursi plastik berpayung haha. di situ, Bumy dan Adit kembali main air, sementara gue planga plongo megangin Sam yang bobok. 
nurisss

di hari ketiga, kita sudah siap untuk berangkat lebih pagi dari hotel. 
we grabbed a quick breakfast, jam 9an kita cuss ke arah Ubud. 

our first stop is Pasar Ubud untuk beli oleh-oleh. 

singkat aja, kesan gue adalah harganya mahal-mahal banget. apa karena lagi rame turis mancanegara? nggak tau juga, tapi gue kerap terkaget-kaget saat nanya harga dan dijawab oleh penjualnya. harga yang disebut bisa sih ditawar, tapi gue malu sendiri karena jadi harus agak "tega" nawarnya. the initial price given didn't make any sense. 
kita dapat kain bali seharga 25 ribu (harga awal 100 ribuan). celana bahan ikat-ikat 80 ribu. tas bulat anyaman ala Raisa 120 ribu (harga awal 300 ribuan). daster. dan beberapa printilan lain. 
di tengah pasar ada penjual gelato. seems like a good choice karena hawanya kan emang gerah. tapi harganya wow, macam beli aiskrim di gerai mall. 
dari situ, kita makan siang di Bebek Tepi Sawah. we had a lovely feast there. suasananya enak. Sam pun bikin hati mamak tenang karena mau makan sampai habis. 

hari masih siang jadi kita memutuskan untuk bereksplorasi di sekitar Ubud. our next stop was air terjun Tegenungan. menemukan tempat ini nggak susah, tapiii ternyata untuk sampai ke depan waterfall, kita harus menuruni sekian banyak tangga yang cukup curam. 
turunnya sih nggak masyalah, tapi gue udah kebayang naiknya. 
semacam trauma sama tangga-tangga di Sundays Beach Club kemarin, gue dan Adit merasa cukup menikmati keindahan waterfall dari kejauhan saja. haha.
di bebek tepi sawah siang itu. oh!

mamak cukup jadi tukang foto



from Ubud, we headed to Sanur beach. tujuannya mau makan LAGI, kali ini di Makbeng. 
pantai sanur sih nggak bisa buat main-main syantik ya, apalagi pas kita sampai masih jam 3 sore dan teriiik banget mataharinya. tapi makanannya was soooo worth it!

selesai makan, kita menuju ke pusat oleh-oleh Kresna. di sini lengkap kap koleksi oleh-olehnya. dan ketika kita lihat harga-harga di sana, wowww jauh berbeda dari yang disebut di pasar Ubud. di sini lebih murah dan of course, kita nggak perlu nawar.

belum begitu lama di Kresna, Bumy udah rewel aja minta buru-buru balik supaya bisa main di kolam renang hotel lagi. kita tiba di Kuta sekitar jam 5 sore, dan nggak pakai mampir ke kamar lagi tapi langsung nongkrong di pinggir kolam renang. karena jarak dari kolam renang ke kamar cukup jauh. 

menjelang sunset, lagi-lagi kita jalan ke Kuta. waktu itu anginnya cukup kencang dan dingin, katanya efek musim dingin di Australia, sih.  

hari keempat, which was our last day in Bali. 
rasanya gimanaaa gitu.. kok inginnnya memperpanjang liburan xD
tapiii hari ini suhu badan Sam tiba-tiba meninggi. haiyaah. 

sepanjang pagi dan siang, kita nyemplung dan main-main aja di kolam renang hotel. 
makan siang di Yoshinoya. 
Sam menolak makan sampai sendok harus dipaksa masuk ke mulutnya. 
selama siang sampai sore, kita kelayapan di Beachwalk Mall. santai bangettt suasananya. hati pun jadi makin terasa berat untuk balik ke Jakarta, haha. Bumy bolak-balik ngomong minta "mau di Bali aja."
ih maunya juga gitu sikkk. tapi mamak bapak harus kembali banting tulang di Jakarta. 

well, hari itu pesawat kita berangkat sekitar jam 7. alhamdulillah Sam anteng walaupun masih demam. aahhh liburan kali ini terasa terlalu singkat. 
bottomline: we definitely would like to repeat our visit to Bali! 

dilukis di Beachwalk Mall :D
suatu saat di Kuta Bali kekekekk
seneng banget "ketemu" David Bowie!

yang bikin susah move on... the sky <3
susah moveon #2

21/09/2018

comptine d'un autre été

about a month ago, I noticed there was a viral theme on twitter. it was about "by the age of 35, I should've / would've / could've..."
some tweets are normal-sounding, like
"I would have travelled the world" or
"I would made twice the savings I'm making now"
"I would have been married to my best friend" 
yadda yadda.

meanwhile some others are so easy for me to love. which means, they're so sarcastic and cheeky they make me sneer and snort with laughter.

like these ones:
"by age 35, you should have lost most of your real life friends to misunderstandings, changing priorities, distance and unknown reasons and found a few hundred online strangers to laugh with." - @ruckcohlchez
"by age 35 you should have at least two thirds of your hard drive space taken up by recursively nested copies of the hard drives from all your previous computers." - @akerfoot
"by age 35 you should hate the last three albums by your favorite band" - @fowierism
"by age 35 you should wonder where your life went wrong at least 5 times an hour" - @Home_Halfway
or something as "dark" as
"by age 35 you should have completely lost your will to live" - @vivalacrap (to which I chuckle, bitterly).

I put a love to that kind of tweets because they feel so familiar. 

people my age, from all around the globe, are sharing the mutual feeling of disorientation and bleak perception to how our lives would or have turned out.
I don't mean to sound ungrateful. yes my life has been a blessing, I got my family, a job, a house, and things I must've been (un)consciously dreamed or needed. but there's a certain something to growing older. 

some things are lost, of course. youth, elasticity of the skin, spontaneity, recklessness, and even best friends... 

but as the nature of the world, it is balanced with some things that are gained. 
things like:
(as cliche as it always sounds) wisdom. 
maturity (or a slight of).
brain that responses faster than the mouth. (crossing my fingers for that)

well. this gal's about to turn 35 this december *insya Allah*  

I can't help not to ikut-ikutan envisioning what I think I would like to be by the age of 35.
you can call it a prayer, I guess. 
here they are:

by the age of 35, you'd realize that certain things inside you, they won't transform into something else. 
bad habits. poor judgments. weaknesses. 
laziness, ignorance towards one's health, one's lack of attention to details. moody-ness. 
they intensify. 
it becomes much harder to "change." 
so you'd just learn to live in harmony with them. maybe try to tame them, since it's never too late anyway. 

by the age of 35, it's when you start to reap what you sow. little by little. it can be scary, or it can be gratifying. 


by the age of 35, you'd finally learn to pick your battle. maybe it's because your heart softens, or maybe your emotional maturity improves. you just realize that some stuff are not worth to argue about. people believe what the want to believe.  


by the age of 35, you'd finally realize that you don't need much, in terms of friends, stuff, or an elaborate plan "to be fulfilled." 

as @theminimalists put it,
"I don't need much to pursue my passion. a cup of coffee, a place to write, and my thoughts tumbling onto the page will do just fine.
I don't need much to cultivate meaningful relationships. a friendly companion, a full-belly sunset, and a good conversation sound just right to me.
I don't need much to grow. daily action, small incremental changes, and a commitment to constantly improve my life will keep me growing. 
I don't need much to live a meaningful life."
you'd start with what you have and start anyway. 

by the age of 35, you'd finally (kind of) understand about acceptance.. how certain things are indeed *for* you, while some others aren't. 


*****

in a quite unrelated way, the other day Path (the app) announced that they will close down operation by October 2018.

I barely checked the app, let alone post anything on it. taking it for granted, I assume some people still enjoy using it and think it would still be around in the long run. 
but apparently not. it'll vanish just like Multiply did. 
what makes it hard for me is that memories of Weich (until now) is safely stored there. his updates, his words, and ultimately, his presence. I used to re-download Path just to check Weich's page whenever I feel like it. 
but it will be gone. and once again, I have to say goodbye to him... 

so as soon as I heard the news, I immediately re-downloaded it again, then scrolled down his page, this time I tried capturing some posts which I found "memorable" (everything is, though). 


I was engulfed with waves of emotions....
- it still feels as if he never left. 
- all those plannings.. how he had asked his friends to spend summer holiday on december 2016. how he had wanted to do road trips across australia. and how he had hoped to having been settled by that time of year. how could my heart not break?

and then a new realization hit me.
as I saw his posts from around 2014 and 2015, I realized how he had transformed from the kind of person I was most familiar with, which is a 15-year-old teenager, into a mature, highly-functioning, and wise adult. I could feel that from our interactions. but only at this time I noticed his gradual changes, and it's from his mundane posts, like when he cooked, or when he made 3D renderings of his home, or his trips to Ikea. 

I remember how he used to say, "lo sudah berjalan terlalu jauh, Kome, dan gue tertinggal di belakang."
just because I got married too early (ha). yeah at 24.
I graduated first among our friends. 
I got a job while he was still at college. 
I became a mother. and so on. 
but did he know I rushed to graduate from binus because I hated it there? 
did he know I rushed to get married because I wanted to get out of my parents' house as soon as I could?
did he know I settled that job at citi even though it was ridiculously low paying, because I had no clue what was even good for me? 
I saw things handed to me and I seized them the fastest I could. without even giving it much thoughts, without even knowing what meaning, or learning, or a thorough reasoning behind it all. I was too damn reckless. 

as I was stumbling into those roles that were handed to me (wife, mother, worker, clueless person), he strode silently, but resolutely. 
he made a choice to be a more domestic person. 
he spoke more gently. he became calmer, more understanding and less judgy (nyinyir di socmed sih teteuup). he thought more critically, he questioned consequential things. 
he became a prominent employee and gained expertise. 
he figured out whether he wanted to get a scholarship for master's degree or not. and where. 
he came out to his mom. 
he found new best friends. 
he found love. 

he was LIVING, and LEARNING. and then becoming. 

and then it occurred to me, that he was doing it in reverse from what I have been doing. for me, the becoming came first... and so I was living mindlessly because I couldn't figure out the meaning behind those blessings.


*****

if there's one thing I truly want him to know right now, it's that

"sometimes you're ahead. sometimes you're behind. 
the race is long and, in the end, it's only with yourself." 

(Mary Schmich) 

therefore, I hope by the age of 35, I'd learn everything happens at its own time, moves at its own pace. there's no need to rush.



*) blog title from Yann Tiersen's song.

15/08/2018

singapore trip with the baby

olala.. it's truly been a while. 
yesss gue SEGITU sibuknya handle 
1) kerjaan, 
2) bayi mungil, 
3) anak pra-abege 
(dll menyusul)
sampai nggak sempat ngeblog (atau ngoceh ngalor-ngidul membayangkan ada yang peduli).

ah emang sedari dulu gue bukan ibu yang rajin mendokumentasikan ina-inu anaknya. 
waktu bumy kecil dulu masih mending... bisalah rutin ngeblog sebulan sekali. pas sam sekarang, tangan rasanya nggak cukup "cuma" sepasang. dihimpit hectic aja rasanya.
begitu udah ada waktu luang yang memungkinkan hands-free, gue memilih molor. minimal leyeh-leyeh untuk menghela napas - sambil nonton netflix. 
but here we are! 

seminggu lalu, kita memberanikan diri plesir bawa bocah-bocah. 
dengan kondisi sam belum genap 8 bulan, plus gue dan adit belum berpengalaman bawa bayi naik pesawat, it's a bit risky, I know. 
menurut gue, plesiran kali ini sejatinya hanya mindahin lokasi ngangon anak. gue tau bakalan capek dan repot. tapiii a change of scenery wouldn't hurt lah. semacam sedikit bonus buat mamak yang sehari-harinya dikeroyok kerepotan belaka. harapannya di singapur meskipun repot, tapi paling nggak mamak hepi bisa menghirup hawa non-berpolusi dan berkesempatan blanja-blenjong. 

but first! izinkan gue memaparkan hal-ihwal yang mesti dihadapi menjelang keberangkatan... 


bayinya atitt huhu
- sehari sebelum bertolak ke singapur, sam demam 37,5 - 38,3 derajat celcius. sepertinya sih karena batuk pilek. 
gue bawalah dia ke dokter spesialis anak di KMC. karena dokter2 yang biasa ditemui lagi pada gak praktek, maka kemarin itu pertama kalinya gue konsul sama Dokter Made. ternyata beliau helpful banget. meriksanya bener-bener teliti dan menyeluruh. dijelasin kalo Sam kena common cold (aja alhamdulillah), nggak ada infeksi telinga, nafasnya juga grok-grok karena dahak yang terjebak di tenggorokan bukan di paru-paru. dokternya ngasih harapan kalau ini infeksi virus aja maka dalam 2-3 hari ke depan demamnya bakal reda. sungguh jelas, dan puas mamak jadinya. 

- on the other hand, gue belum sempat menyusun itinerary blasssss. adit nagih melulu yang cuma gue respon dengan dengusan. 

- sementara karena sam udah mamam, maka gue siapkan ransum berupa 4 set meal mamma kanin untuk dibawa ke sana (which is also his favorite). karena selama lagi demam ini dia males makan, gue berharap dengan ransum MK paling nggak dia bisa makan yang dia doyan. gue siapin dengan rapi jali di dalam cooler bag dan gue masukin ke freezer malamnya. 

- and then sekitar jam 11 malam, kita menemukan kalau obat batuk yang perlu diminumin ke sam tumpah. kebayang refotnya kudu nyari obat di sing, kita tilpunlah apotek KMC untuk janjian ambil obatnya jam 4 pagi keesokan hari.

- eh iya, flight kita tuh jam 5:20 pagi. 

- jam 3:30 pagi, taksi bluebird yang mau nganterin sudah tiba. kita grasak grusuk masukin barang ke taksi. 
pak supirnya komen, "ini perginya dadakan ya bu?" ehe.

- jam 4 pagi kita sampai di KMC, tebus obat 5 menit cus masuk tol jorr. 

- jam 4:10... gue berteriak di dalam taksi, "ya Allah ransum si sam ketinggalan!!" mao pingsaaaaannnn.
akibat dimasukin ke kulkas, cooler bag berisi ransum si sam nggak keangkut. 
adit segera nilpun supir gue yang alhamdulillah ngangkat telpon. gue segera nelpon ART (pulang pergi) yang alhamdulillah juga ngangkat telpon buat kasihin kunci rumah. setres nda kira-kira hahahha. supir gue pun segera melesaaaat ngebut nyusulin itu ransum ke bandara. 

- sampai di bandara jam 4:50, adit melenggang ke konter check-in, dikasih tau embaknya "oh sistemnya udah closed, pak." 
KETINGGALAN PESAWAT AJAH KAK. 

x)))))))))

saking lemesnya, gue sampe nggak bisa ngomel. padahal that's my automatic response in this kind of mess. hahaha. langsung gue telpon mamak buat minta maaf, minta ampun, minta ridho. uh... the power of restu orangtua tuh emang ya.. masya Allah. 

alhamdulillah, kita bisa dapat seat di flight berikutnya sekitar satu jam sesudahnya. 
and the flight with our infant? well, he screamed and cried almost the entire flight. 
aslilahhh, gue dari yang awalnya malu dan nggak enak sama penumpang lain sampe BODO AMAT gue nggak tau mau ngapain lagi huhuhu. kita udah siapin ear muffs tapi boro-boro deh nggak bisa dipakein karena anaknya meliuk-liuk saat ngamuk. 
kalau direview sekarang, kemungkinan karena kita terbang di jam sam lagi ngantuk-ngantuknya tapi doi nggak bisa tidur di tempat dan suasana yang nggak familiar buat dia. plus doi juga lagi nggak enak badan. 

selama di sing, kita cuma ke 
- sentosa karena bumy ngidam main luge. alhamdulillah kesampean dan si bocah menganggap that's the highlight of the trip, the rest of the days were just "membosankan!"
- ngider-ngider mooool
- national gallery 
- dinner at chijmes, which became the highlight for adit and me haha. udah lamaa banget berniat makan di sini, padahal beberapa kali nginap dekat-dekat situ tapi nggak terwujud untuk mampir. we ate at prive at night; makanannya enak-enaaak dan suasananya juga sangat okss. 
- haji lane, arab street, dan sekitarnya. 

sangat sangat tidak ambisius. dan membosankan sih emang hahaha. 
but I was too overwhelmed with kerempongan. 
sam nggak mau ditaro di stroller jadi ya dia digendong melulu. 
gue nggak berani pack lightly saat keliling-keliling, jadi tenaga lumayan kesedot buat angkut beban. 
tapi dari sini gue (dan adit) jadi belajar soal beberapa hal yang berguna, yang nggak berguna, dan what to note for our next trip(s). 

- stroller pockit pinjaman dari ibu peri Ika Loekita comes really handy karena ringan dan easy to assemble. semoga ke depannya sam udah mau ditaro di stroller. 

- sayota electric lunch box ini jugaaa... pinjaman dari bun-Ka dan sangat sangat membantu. bubur bisa dibikin langsung di situ, untuk manasin makanan juga oke karena fungsinya mengukus, jadi panasnya awet (nggak kayak kalo dipanasin pakai microwave). ukurannya juga kecil dan nggak makan tempat. 

- buat mandiin sam kita pakai bak mandi tiup gitu. ini enak juga untuk dipakai. permukaannya empuk, dan nggak licin. 

- packing suggestions that we did and found to be useful: bawa buku rumah sakit anak. bagi-bagi baju anak dalam sealed plastic bag harian (1 day 1 bag). oh dan aplikasi Pack yang enak dijadiin checklist (--> screenshot on the right)

- what we need (to improve):  PLAN AN ITINERARY. siapin gendongan yang bahannya nggak gerah. siapin perlak yang ringan buat dibawa-bawa. obat-obatan jangan cuma 1 botol jadi ada cadangan kalau tumpah. siapin wadah untuk snack kering yang gampang dirogoh tapi nggak gampang tumpah. siapin sippy cup because we didn't bring any in sing dan gue jadi harus kasih fresh ASI kalau si bocah haus hahaha. 

sejauh ini sih itu aja yang kepikiran...
mungkin untuk akomodasi keinginan si anak gede untuk berpetualang, baiknya sih kita bagi dua tim. adit sama bumy untuk kelayapan, gue ngendon ngadem sama bayi. 
yaay we made it (foto bertiga. difotoin ibu-ibu yang lewat haha)

night at chijmes

our stay at oasia. ini di lantai 12, enak buat leyeh-leyeh.

city tour bertiga saja (bumy not pictured), mamak felt successful bisa gondol dan suapin bayi "sendirian"
  
si kakak yang direpotin bawa-bawa ransum adeknya.. 



of course this is by request. "wooy gantian fotoin mamakk" kalo nggak mah boro-boro bisa berpose