1. ok, so we do need a maid. in this case, it's pembantu yang menginap. but for this, we'll try our luck after lebaran holiday, mencoba nitip sama saudara atau kenalan yang mudik. siapa tau kami bisa beruntung seperti dahulu saat 'mendapatkan' si yuli-ART nan lempeng klemar klemer tapi rajin dan tahan banting (walau akhirnya doi nyerah juga karena di-overeksploitasi tenaganya di rumah nyokap... hadehh).
sementara pada masa sebelum lebaran dan tentunya saat ramadhan nanti, we think we better...
2. langganan katering untuk makanan rumah.
nggak enak ati juga tiap hari numpang makan di rumah nyokap. nuff said.
3. jadi klien QM... huhuy.
we have high hopes for this... wajarlah yaa mengingat fee-nya juga nggak kecil untuk ukuran kondisi finansial kami. setahun belakangan gue emang udah mencoba buat rencana keuangan sederhana, meliputi dana pendidikan, pensiun, darurat. tapi gue masih puyeng menentukan produk asuransi yang tepat. kadang gue bisa mengalokasikan waktu untuk survey secara intensif, tapi lantas mentok di faktor harga, atau review yang kurang oke dari orang-orang/internet. akhirnya pencarianpun dimulai dari nol lagi... dan begituu terus. to be honest, dana kami terbatas banget bow untuk beli asuransi dalam karung (apa pula), dan kans untuk 'salah pilih' sepertinya cukup besar mengingat pengetahuan yang minim seputar produk asuransi. karena faktor-faktor itu, gue jadi merasa fee yang ditetapkan QM reasonable banget karena mereka punya product knowledge dan recommendation that could save us from all the hassle.
selain itu, belakangan ini gue jadi kurang bersemangat investasi di reksadana... malah jadi melirik emas sebagai instrumen investasi karena 'berwujud'. sibuk browsing sana sini, denger ini itu, malah jadi pusing sendiri. yasudahlah gue serahkan sahaja pada yang ahli kalau begitu.
ohya satu lagi alasan yang cukup kuat adalah supaya cashflow bulanan kita jadi lebih tertata. sekarang ini cashflow bulanan cuma 'indah' di bagian budgeting aja... begitu masuk ke realisasi, hhhh masih suka membengkak di pos-pos tertentu. sementara itu cashflow tahunan juga masih kurang tertib penggunaannya (baca: sering kalah sama godaan hantu konsumerisme, wekekek). kita ingin duit yang sudah di-earn dengan susah payah (plus ningggalin anak 12-13 jam sehari untuk gue!) bisa optimal pemanfaatannya. hidup di jakarta bikin gampang sutrisss (i know many people out there are with me on this), pelariannya jadi ke belanja-belanji gak jelas deh untuk menambal 'lubang' di hati :( eh agak melantur ya eike.
4. nggak jadi pindah rumah. akhirnya kita sadar, eling seeling-elingnya setelah berembuk di malam-malam nan panjang, huahaha. rumah kita sekarang bisa dibilang kurang 'nyaman' karena adanya kekurangan a sampai z... tapi it's the best we can afford for now. fokus kita sekarang ada di empat basic financial goals tadi, semoga urusan rumah-whether pindah ke lokasi baru atau renovasi-bisa dilaksanakan setelah ada perbaikan kondisi finansial (promosi! bigger salary! amin :D).
5. realistis mengenai budget pendidikan Bumy, masukin angkanya nggak muluk-muluk, kita pakai acuan menyekolahkan Bumy di tempat yang we can really afford. saat ikut talkshow QM di plaza BII tempo hari, Fitri, the speaker which is also a planner (yahiyalah), said somethin like "jangan digeber nyekolahin anak di playgroup, TK, dan SD international, ehh ujung-ujungnya pas kuliah S1 mampunya jadi cuma di ciamis (with all due respect to any ciamis universities-red)."
pastinyaaa gue sebagai orangtua punya gambaran ideal mau menyekolahkan anak di tempat yang paling bagus menurut gue, dan jujur gue rasa tuntutan itu berkaitan juga dengan status gue sebagai ibu yang away from her child most of the time, it becomes somekind of compensation. tapi begitu mendengar kata-kata dari Fitri itu, mata (hati) gue jadi terbuka lebaaar. Fitri menceritakan pengalaman dia sendiri saat hunting PG dan TK, dia dan suaminya nemu sekolah yang ideal banget, tapi uang pangkal dan bulanannya gede banget buat mereka. Fitri menolak gagasan nyekolahin di PG tersebut dengan alasan "kita aja orang dewasa kalo udah biasa naik taksi trus tiba-tiba naik bis lagi kan suka males ya bo," maksudnya kalau ternyata anaknya udah nyaman sekolah di PG tersebut trus nantinya terpaksa pindah karena orangtuanya nggak afford biaya sekolah di situ, kan kasian. sementara suaminya berpendapat "kita trial aja dulu di situ 3 bulan." akhirnya jadilah anak mereka trial dulu di PG ideal tersebut. begitu masa trial berakhir dan anaknya harus bersekolah di PG yang 'humble,' anaknya protes "aku maunya di sekolah yang ituuu, yang ada flying foxnya, ininya itunyaaa." huhu gimanaa gitu ya dengernya sebagai orangtua :|
jadi, setelah gue dan adit menilai secara objektif kemampuan kita dalam hal dana pendidikan, selain berpijak pada pemikiran "tiap anak ada rejekinya," kita juga mencoba REALISTIS kalau faktor sekolah anak bukan cuma ada di uang pangkal dan bulanan semata. tapi juga di faktor kualitas pendidikan dan gaya hidup si anak di sekolah itu nantinya.
jadi untuk sekarang, kita aiming sekolah Bumy-in terms of dana pendidikan-di sekolah negri sahaja, tempat sekolah gue dan adik-adik gue yang nggak kacrut ah perasaan, haha. of course we still want to aim for "the best," tapi seperti yang tadi gue bilang, in terms of dana pendidikan, karena goals kita bukan cuma sebatas nyekolahin anak (not that its value is undermined), untuk saat ini, we have to be reallistic :D *nyengir*
dan yah, sebenarnya kesadaran ini diperlukan terutama oleh gue. adit selama ini udah berusaha membuka mata eike dengan cara yang sangat khas orang jawa, hahaha, haluuuusss dan implisit. i've been forcing US too hard in this financial thingy... maunya 'nyaman' tapi kok dengan cara yang nggak bikin nyaman, salah kan. jadi kalau bisa disimpulkan, kali ini gue mencoba menerapkan sarannya Suze Orman, yaitu "to live within our means" bukannya beyond, baik dalam hal spending maupun investing.
oh well!
jadi kapan kita belanja bersama :D
ReplyDeleteno i'm not reading your comment!
ReplyDeletehaha are u sure,,,,, *evil*
ReplyDeletengakak gue pas baca ini hahahaha
ReplyDeletewell thanks for sharing, bener banget yah soal financial ini bisa bikin ruwet kalo emang kitanya bikin ruwet (realitas dan harapan engga imbang) ;p
bangetsss ma! langkah pertama urusan finansial ini sepertinya harus jujur sama diri sendiri dulu :|
ReplyDeleteJakarta great sale.. Midnight sale.. Mothercare n ELC sale up to 70%.. *permisi numpang lewat saja
ReplyDeletezzzz... racooon... ampooon...
ReplyDeletefaktor harga sekolah ini juga akhirnya menurunkan standar ideal gue. ada PG dekkeeett pisan ama kantor gue (kyk jalan kaki dari cimone ke beringin :p). sumkinda int'l preschool tp gak terlalu terkenal.. udah ngincer dr jauh2 hari.. gue pikir, krn gak terlalu terkenal gue pede nyamperin sekolahnya nanya harga, gak taunya mahal bin bikin pingsan. gue baru sadar kalo dia gak terkenal karena mahal kali ya.. hehe..
ReplyDeletenah, 200 meter setelahnya kok gue nemu semacam PG islam terpadu gitu, mahal di daftar (2 jt), tapi enteng bulanannya (200rb). dijelasin kurikulum dsb, kepincuttt deh. tp tetep blm bisa ambil keputusan, soalnya mikir lokasi de es beh.
klo udah milih sekolah, ceritain lagi ya buuu.. pertimbangannya apa, kelebihannya apa, terus gimana hasil trialnya.. :D
oh well, sampai sekarang gue belum punya rencana untuk trial bahkan, bun. harus semedi dulu nampaknya, menentukan target lokasi sekolah yang tepat *always lebay to da max*
ReplyDelete