05/11/2013

the treasure market

last week was fun. and new. 
hari sabtu, sehubungan dengan makin dekatnya ultah bumy, kita menunaikan to-do untuk ke mayestik. tujuannya sih mau nyari kain flanel doang, sama pita-pita. tapi adit tiba-tiba muncul hasrat homemaking-nya, punya ide nyari bahan untuk ganti jok kursi makan. 
kita sampai mayestik jam 9:30an, langsung menuju ke bakmi boy, karena belom sarapan. ternyata belom buka. tapi udah ada beberapa orang dengan setia menunggu di luar, karena bukanya jam 10. kita gabung deh sama para penunggu bukanya bakmi boy itu.

semangkok untuk sendiri... bujug.

anteng menanti di luar kedai boy. banyak jajanan sih.

setelah makan, kita keliling-keliling toko bahan. sempat masuk juga ke gedung yang baru. tapi liat-liat doang (mau beliin bumy sajadah angry birds tapi gak ada #tackyparentsaretacky).
dari situ, kita ke toko maju. buttons and ribbons galoreee. selalu suki ke situ. meskipun berdempetan sangat. 

pas mau difoto, langsung pasang muke letih gini 

dari toko maju, kita memutuskan ke parkiran soalnya bumy (dan adit) mau ikutan lomba hot wheels gitudeh di ratplaz. eeh ternyata nemu tukang piring lucu-lucu. bikin kalap! 


kelar belanja piring, kita sempatin belanja dulu di abang-abang, hkahakhka. bistu meluncur deh ke ratplaz. 
why i said the weekend was new? karena baru kali ini deh rasanya ngajak si koala ke pasar mayestik. seneng juga karena doi gak rewel. dah kenyang makan bakmi seporsi kali ye(!).  

sorenya, sementara adit ngurusin ganti jok sofa, gue ngegunting-guntingin kain flanel buat bikin eye patch. 





jadi deh!

keesokan harinya, sejak pagi hari kita giat bekerja bakti xD berhubung udah resmi gak punya embak lagih, jadi ya gue manfaatin adit deh buat kerjain yang berat-berat (berat bukan berarti perlu tenaga banyak, tapi lebih ke berat ngegerakin badan, zzz). 

sorenya ke karawaci deeh, tak lain tak bukan buat naro setrikaan, heheheh.

padahal kita udah rencanain mau ke hidden park di taman honda tebet kayak Nisha. tapi kita nongkrong di mrican sampe malem (numpang maksi + dinner supaya expense weekendnya sesuai budget hihi).

04/11/2013

the (grand)mamas and the (grand)papas

Menjelang akhir pekan, saya teringat untuk mengecek kalender. Tujuannya hanya untuk memastikan apakah minggu ini giliran kami menginap di rumah ibu saya, atau “rumah oma” begitu anak saya menyebutnya. Semenjak kami pindah ke tempat tinggal baru, yang jaraknya sekitar 30 km dari rumah oma, dibuat kesepakatan tidak tertulis bahwa kami harus menginap di rumah oma setiap dua minggu sekali. Lebih tepatnya sih, kami membawa Bumy menginap di sana.
Ibu telah membantu saya mengasuh Bumy sejak hari pertama saya membawa Bumy pulang dari rumah sakit. Ketika kami memutuskan pindah rumah, ibu ikut bahagia, tapi juga patah hati. Sebulan pertama sepertinya masa yang paling berat buat beliau. Ibu menelpon Bumy setiap malam sambil menangis. Kami rikuh, tapi juga memaklumi bahwa hal tersebut memang bagian dari proses yang harus dilalui.
Ketika saya melihat ke sekeliling, saya menemukan banyak sekali kenalan maupun teman yang menjalani peran sebagai ibu bekerja, sangat terbantu oleh bantuan para nenek dan kakek yang ikut mengasuh dan membesarkan anak-anak mereka. Selain karena sistem kekeluargaan di Indonesia di mana para orangtua masih tinggal di rumah yang sama atau dekat dengan para kakek-nenek, juga karena kakek-nenek dianggap dapat menjadi pengasuh yang lebih terpercaya dibandingkan menitipkan anak dengan orang yang bukan keluarga.
Tidak hanya itu, menurut sebuah laporan mengenai demografi penduduk, pada tahun 2050, populasi usia 65 tahun ke atas di banyak negara Asia akan jauh lebih tinggi dari sekarang. Bandingkan dengan kondisi para orangtua dari dua generasi sebelumnya, saat bahkan begitu lazim seorang anak tidak memiliki kedua orangtua biologis. Baik akibat kondisi dunia di mana terjadi peperangan, maupun akibat kualitas hidup yang menyebabkan angka harapan hidup (life expectancy) pendek. Dengan demikian, keluarga inti yang terdiri dari multi-generasi kini menjadi populer dan menjadi bagian dari gaya pengasuhan anak terkini.
Menurut penelitian oleh ahli di bidang antropologi evolusi, Sarah Blaffer Hrdy, para kakek dan nenek dapat dipandang sebagai alasan utama manusia dapat hidup sebagai keluarga. Mengapa demikian? Karena kakek-nenek menjadi alloparents atau pengasuh yang bukan orangtua biologis dari anak – selain tante, babysitter, atau anak yang lebih tua dalam keluarga. Namun, dalam sejarah manusia, para kakek-nenek, atau nenek secara khusus adalah alloparents utama sebuah keluarga.
Para peneliti menyebut pengasuhan bersama generasi kakek-nenek sebagai “The Grandmother Effect,” yaitu pengaruh besar dan positif dari para nenek yang membesarkan sendiri atau membantu membesarkan anak-anak dari anak mereka. Entah karena ada kematian dalam keluarga, pemisahan keluarga oleh jarak, maupun alasan finansial dan sosial lain, para nenek telah memainkan peran yang sangat penting dalam mengasuh cucu-cucunya.
Sejarah mencatat sejumlah nama orang-orang hebat yang dibesarkan oleh para nenek. Di antaranya presiden Barack Obama, Maya Angelou, Oprah Winfrey, Bill Clinton, Jack Nicholson, dan Eric Clapton. (*)
Apa yang dilakukan para nenek sehingga dapat memberikan pengaruh yang besar dan positif dalam pengasuhan?
Riset mencatat, para kakek-nenek mengajarkan anak-anak social skills, seperti bagaimana cara bekerja sama, bagaimana berbelas-kasih, dan bagaimana untuk bertenggang-rasa. Saat dilakukan riset terhadap ratusan remaja di Amerika Serikat, ditemukan bahwa jika para nenek terlibat dalam pengasuhan anak, anak-anak itu dapat berhubungan lebih baik dengan komunitas sosial, lebih terlibat dalam kegiatan di sekolah, serta lebih menunjukkan perhatian terhadap sesama. Anak-anak yang dibesarkan oleh para nenek juga memiliki tingkat stres yang lebih rendah dan dapat lebih mudah beradaptasi.
Sementara bagi keluarga kontemporer, dukungan pengasuhan oleh para nenek memberikan kondisi di mana orangtua memegang peranan utama untuk mendisiplikan tingkah-laku yang negatif, dan para kakek-nenek mendorong tingkah-laku yang positif. Selain itu, ditemukan juga bahwa semakin tinggi keterlibatan para kakek-nenek dalam pengasuhan anak, akan semakin tinggi pula keterlibatan para ayah.
Untuk para kakek-nenek, keterlibatan dalam pengasuhan cucu juga memberikan energi jiwa tersendiri. Meskipun demikian, keterbatasan kondisi fisik patut menjadi poin yang perlu dipertimbangkan. Karenanya, disarankan untuk membatasi waktu pengasuhan oleh kakek-nenek dengan tidak menjadikan mereka satu-satunya pengasuh utama bagi anak.
Kondisi pengasuhan bersama kakek-nenek memang memberikan segudang manfaat. Namun seperti kita ketahui, memiliki banyak tantangan juga. Aturan yang kita terapkan seringkali berbeda dengan para kakek-nenek. Belum lagi kecendrungan para nenek untuk mengikuti keinginan cucu-cucunya. Guna mengatasi konflik yang akan atau malah sudah muncul, ada baiknya kita membangun relasi pengasuhan bersama yang “enak” dengan para kakek-nenek.
Menurut artikel di babyzone.com, relasi pengasuhan yang nyaman itu sangat mungkin untuk dicapai, dengan menerapkan langkah-langkah berikut.
1. A—Agree on the arrangement.
Sepakati hal-hal teknis seputar pengasuhan anak. Lebih mendetil lebih baik. Mulai dari waktu anak bersama kakek-nenek, metode pemberian asi, tidur siang, hingga perlukah “membayar” jasa pengasuhan mereka. Seiring dengan bertambahnya usia anak, hal-hal teknis ini akan meluas ke ranah pendisiplinan. Pastikan kita dan kakek-nenek sejalan dalam hal metode pendisiplinan (jika ini rasanya sulit dicapai, paling tidak, kita dan kakek-nenek sejalan untuk berkompromi dalam perbedaan ;) ).
2. B—Set boundaries.
Batasan yang perlu ditetapkan di sini adalah batasan emosional. Ada kalanya orangtua kita, atau para kakek-nenek, berkomentar mengenai hal-hal yang terjadi di dalam rumah kita, atau mengenai cara pengasuhan kita. Kesepakatan untuk menerapkan batasan privasi memang mungkin dilakukan, meskipun dari segi tradisi ketimuran, hal ini mungkin akan terasa kurang pas bagi sebagian dari kita.
Jika kita merasa kurang nyaman memaparkan batasan terhadap orangtua kita sendiri, atau bahkan kurang nyaman dengan komentar-komentar yang mereka berikan, sebaiknya kita mempertimbangkan untuk mengurangi frekuensi pengasuhan anak oleh kakek-nenek. Ajak anak menginap di rumah kakek-nenek seminggu sekali misalnya, atau sepakati waktu kunjungan tertentu. Dengan demikian, kita dapat menjalani pola asuh yang ingin kita berikan kepada anak, sambil tetap memupuk kedekatan anak dengan kakek-neneknya.
3. C—Communicate.
Membuat pola komunikasi yang baik dan rutin dengan kakek-nenek. Fokuskan pembahasan pada pengasuhan anak, dan berikan kesempatan pada kakek-nenek untuk menuangkan isi hati mereka. Ini penting dilakukan agar relasi pengasuhan dengan kakek-nenek terhindari dari drama keluarga. Supaya tidak terkesan resmi atau tegang, kita bisa menjadwalkan family night out bersama kakek-nenek.
Pada waktu yang tepat, jelaskan nilai-nilai yang ingin kita tanamkan kepada anak, juga cara mencapainya. Dengan ini kita dapat memberikan pengertian kepada kakek-nenek mengenai pola asuh yang ingin kita terapkan.
Last but not least, tunjukkan apresiasi atas bantuan yang mereka berikan. Bisa berupa oleh-oleh sederhana saat kita menitipkan anak untuk pacaran dengan suami (ibu saya selalu berbinar-binar matanya kalau saya bawakan sate padang, meskipun sudah jam 10 malam!), meminta masukan kakek-nenek mengenai pemilihan sekolah atau kursus anak, atau ‘sekedar’ ucapan terima kasih.
“Grandparents, like heroes, are as necessary to a child’s growth as vitamins.” – Joyce Aliston.

Referensi:
- “The Secrets of Happy Families” oleh Bruce Feiler.
- “Grandmother Daycare: How to Make It Work” oleh Jeannie Brown.http://www.babyzone.com/mom/relationships/grandparents-childcare_69709?page=4

31/10/2013

the weekend scenarios

bulan baru, cashflow baru. 
kali ini, gue punya target baru juga untuk dibidik dalam casfhlow. yaitu budget weekend. 

semenjak kita pindah rumah, kita jadi punya jadwal khusus untuk sowan dan nginep di karawaci setiap dua minggu sekali. dari segi waktu sih kayanya gak ada masalah. tapi ternyata, rutinitas ini memberikan dampak ke pengeluaran. 

gue dan adit udah sejak lama punya pos pengeluaran yang kita kasih nama "budget weekend." 
jadi, pos ini isinya budget yang diperlukan kita untuk bersenang-senang/kelayapan selama weekend. pos ini kita pisahin dari pos "makan keluarga" karena pengeluaran saat weekend itu unik. kenapa unik? karena tujuan utamanya buat bersenang-senang dan jalan-jalan, jadi pengeluarannya pasti lebih besar dari makan keluarga di hari biasa. dari segi frekuensi, porsi eating outnya lebih besar. udah gitu, kegiatan yang dilakukan juga lebih 'niat' dari kegiatan selama hari kerja, misalnya tiba-tiba ke bogor seperti yang kita lakukan weekend lalu, atau ngajak bumy main ke playground, dan sebagainya. 

karena nggak mau urusan weekend menyabotase urusan makan keluarga, makanya pos pengeluaran ini kita pisahin. hal ini bukan barang baru buat gue dan adit. dulu pas masih pacaran, gue dan adit punya rekening cinta (ohohoek!) yang tujuannya membiayai kegiatan pacaran kita, hahaha. jadi dulu tuh, setelah kita pikir-pikir, "pacaran tuh mihil juga ye?" akhirnya kita sepakati untuk nyetor sejumlah uang tiap abis gajian ke satu rekening. nanti biaya pacarannya ya dicukup-cukupi dari situ. 
kembali ke saat ini, menyediakan budget khusus untuk pacaran (kali ini sama anak) tetap kita lakuin. waktu masih tinggal deket nyokap, kita menentukan budget weekend sejumlah X per minggu. jumlah itu masih cukup, karena well, kita sering numpang makan di rumah nyokap (ya hari kerja, ya weekend, numpang makan jalan terus) :))) 
tapi sekarang, budget itu membengkak karena kita jadi lebih sering eating out. 

breakdown aktivitas kita saat weekend sekarang seperti ini:

  • jumat malam - jalan ke karawaci.  
  • sabtu - sarapan dan/atau lunch biasanya jajan atau di mall.
  • minggu - sebelum lunch udah berangkat pulang ke ciganjur, jadi lunch-nya makan di luar, dinner-nya beli karena seringnya udah males masak begitu sampai rumah. 


berapa kali eating out tuh? bisa 4 kali 'kan. belum lagi budget nge-mall-nya, kayak buat nonton, atau pijat bersih sehat, atau apa kek gitu. 
begitu kita itung dengan cermat, ternyata tiap kali ke karawaci, kita bisa menghabiskan 2 kali lipat budget weekend mingguan. kalo ke karawaci-nya dua kali dalam sebulan, bisa ditebak kalo budget weekend bulanan kita ya tentunya bengkak 0,5 kali lipat. 

jadi, setelah beberapa bulan mengalami tekor di pos weekend, di family meeting kemarin, gue dan adit secara khusus ngebahas soal ini buat nyari solusinya.

pertama-tama, tentunya kita merinci kegiatan kita saat weekend di karawaci maupun di ciganjur dan menuliskan pengeluaran yang kita buat. 
kedua, nyari cara gimana biar pengeluaran kita cocok sama budget weekend. 

akhirnya kita sampai pada kesimpulan kalo kita harus mengurangi frekuensi ke karawaci. DAN mengurangi frekuensi ngemall. 

gue agak mendapat inspirasi juga dari sharing seorang ibu di grup wassap sekolah. dia nih salah satu role model gue juga, karena punya anak 3, tapi menolak pakai jasa pembantu. bukan karena gak mampu yang jelas (suaminya kerja di oil company, rumahnya juga terlihat dari sekolah), tapi karena udah males direpotin sama drama pembantu. tapi kali ini, bukan urusan pembantu yang jadi fokus gue. 
nah, si ibu ini cerita sambil lalu kalo weekend kemarin dia yang 
"biasa nih kalo hari libur, kita serumah kerja bakti. ya nyabutin rumput, nyuci mobil, beberes. lumayanlah biar hemat, anak-anak udah seneng banget diajak cuci mobil sama papanya, jadi gak usah mahal-mahal ke timezone."

saat baca itu, gue yang "dang…." 
ini gue kemukakan sambil meeting sama adit kemarin. jadi menerbitkan pertanyaan juga sih ke diri sendiri, "apa selama ini kita sok kaya yaaaaa" dilanjutkan dengan ekspresi mental seperti ini >___<
kebetulan pagi ini baru nonton acara @yourmoneymetro di mana ligwina hananto jadi narasumbernya. topik pagi ini soal "price-sensitive." 
dia ajak para pasangan untuk mencoba jadi sensitif sama gaya hidupnya. dia ngasih saran, "selama ini kita selalu makan di A yang harganya xxx, gimana kalo kita coba di B? makanan sama tapi harganya bisa xxx-100ribu, misalnya." atau "apa iya perlu kopi seharga xxx tiap hari? padahal kalo di daerah sana, harga segitu tuh bisa buat makan 3 kali." 
dari sini, suami-istri mencoba ngembangin attitude price-sensitive terhadap pengeluaran dan lifestyle-nya. lha ligwina aja bisa bilang ke suaminya "apa selama ini kita sok kaya yaaa?" tentunya it's only natural dong kalo gue melakukan hal yang sama setelah mendengar cerita sambil-lalu si ibu yang weekend-nya diisi kerja bakti itu?? 
yaeyaalah.

jadi, gue dan adit mencoba bikin skenario untuk weekend. gimana? dengan ngasih tema untuk tiap-tiap weekend dalam sebulan. sejauh ini, kita come up dengan 4 tema sesuai jumlah minggu dalam sebulan.

week 1 
tema: mrican. (maksudnya rumah oma di karawaci).
skenario pengeluaran: 
  • eating out sebanyak 3 kali (bisa berarti sarapannya beli, lunch di mall, dan ngebungkus dari RM padang untuk dinner).
  • budget kegiatan selama di karawaci (nonton, nyalon, pijat, dsb) sejumlah x.
  • budget oleh-oleh (karena biasanya bumy kita titipin ke nyokap, hihihi) sejumlah x.


week 2
tema: staycation.
kegiatan: beberes rumah, olahraga bareng, crafting DIY, kemping di halaman rumah, baking, nonton DVD, board games, pinter-pinternya kita milih aktivitas, deh.
skenario pengeluaran:
  • eating in 3 kali (baca: masak).
  • eating out 3 kali.


week 3
tema: enjoy jakarta.
kegiatan: bisa ke tempat-tempat baru (museum, pasar tanaman hias, galeri, green kampongs, dsb), nyobain public transportation, atau ke events tertentu. 
skenario pengeluaran:
  • budget kegiatan enjoy jak sejumlah x.
  • eating out 3 kali.


week 4
tema: playground (+rumah mertua).
skenario pengeluaran:
  • eating out 3 kali.
  • budget ke playground sejumlah x.
  • budget oleh-oleh untuk ke rokum mertoku sejumlah x.


ketika gue bilang ke adit, "ada minggu khusus ngemall dong!" dia cuma bilang, "kalo ngemall mah gak usah diagendain, kali. kalo bisa malah selama weekend gak ke mall."  
-____-
yatapi gue jadi inget sih, sama cerita ex-rekan kerja di tlkm. dia ibu-ibu usia 30an akhir. dia punya anak 3 orang, usianya 5-10 tahun. dia bilang baru menyadari (setelah selama ini, indeed) kalo budget ngemall pas weekend tuh "gede juga yaaa. bisa 500 ribu setiap pergi ke mall. anakku pada demen main ke timezone, belum lagi makan (junk food-red), dan belanja-belanjanya."

saat ligwina mengakhiri sesi @yourmoneymetro tadi, dia bilang, "bukan cuma anak-anak yang perlu belajar sensitif tentang duit. orang dewasa juga perlu. karena mahal-murah itu relatif. jadi untuk membesarkan anak-anak yang price-sensitive, kitanya perlu jadi orang yang price-sensitive dulu." 


ya deh, kalo judulnya kebaikan untuk anak, gue ikutan. hihi. tapi ya emang bener juga, kalo melulu berkegiatan di mall, jangankan anak-anak, gue juga jadi berhasrat untuk liat ini-itu, sentuh ini-itu, dan ujungnya, beli ini-itu. jadi, marilaahh… kita coba skema budgeting, sekaligus kebiasaan baik baru ini hehe.

jadi, nak, kamu lebih suka gini



(eh ini bukan di mall, tapi tamani cinere. but he does look cozy, huh?)

atau giniii? (mengerjap-erjap manja)







30/10/2013

trees in october


we had nice long walks last weekend. 

kemarin itu jatah kita untuk ke karawaci. kita ke sana jumat malam. ternyata tepat juga keputusan itu. gue dan bumy berangkat dari rumah jam 3 sore, dan karena hujan badai yang baru selesai, kita kena macetttt di cipete selama 1 jam! begitu gue akhirnya sampe di flyover antasari, ternyata yang arah dari blok M hampir gak bergerak di atas flyover. alhamdulillah jalur kita sih lancar, meskipun motor dibolehin naik. kebayang kalo adit yang kudu pulang ke rumah, hih mau sampe jam berapa dia? 
jakarta oh jakarta. 

hari sabtunya, gue dan adit melala berduaan. tujuannya kali ini agak berbeda. bukannya ngemol atau ke bersih sehat, tapi ke asemka. kita berangkat jam 8 pagi dari rumah nyokap, untuk naik shuttle bus lippo karawaci yang langsung ke mangga dua. quite a comfy ride. gak perlu macet-macetan dan capek nyetir. 
kita sampe di asemka gak sampai sejam kemudian. dan ternyata, meskipun harus jalan kaki dari halte busway kota sampai ke asemka, nyaman juga berbelanja di situ. toko blessing yang terkenal itu ternyata ada di satu lantai tersendiri. tempatnya ber-ac dan ala supermarket di mana kita bisa berseliweran sendiri tanpa dikuntit embak tokonya. lift juga ada, jadi gak usah pegel manjat tangga. 

setelah satu jam di situ, kita memutuskan balik dengan naik transjakarta. meskipun sabtu tapi ternyata bisnya lumayan penuh. kita turun di halte ratu plaza, lantas memutuskan untuk makan siang di tempat yang adem dan nyaman, haha. jadi kita kencan deh di PS. most of our visit was spent at kinokuniya. it's soo vast and has various collections. so adit and i just sat nicely on one of the corners there, and read whichever interesting books we could get.

puas di PS, kita liat jadwal shuttle bus untuk pulang ke karawaci, dan ternyata ada dari FX jam 2:30. jadi kita jalan lagi deh. as i wrote, we had looong, albeit nice, walks. hehehe. udah lama enggak begini.
emang sih siang bolong, tapi ternyata banyak pohon rindang dari PS ke FX. kita kayak mereka ulang adegan dari before midnight (ngarep!) haha. 
begitu sampai di FX, ternyata lagi ada sale banting harga Periplus di lobby bawah. wah hampir kalap gue. ada buku Jeffrey Eugenides didiskon dari 180 jadi 45 ribu sahaja. 
10 menit kemudian, ternyata bis lippo udah dateng. cusss deh ke karawaci. 

the next day, we had to leave karawaci a bit early in the morning. soalnya ada fogging -__-
masih jam 8 pagi, bumy juga belum mandi. kita cuma berkemas dan gue nyempatin buat membungkus beberapa wadah tupperware yang diisi nasi goreng buatan nyokap, haha. 
begitu masuk tol dalam kota, ternyata exit tol yang mau kita lewati ditutup. ternyata ada jakarta marathon!
dari tol, kita bisa nonton marathon itu, karena jalanan ditutup untuk dijadiin lintasan. bangga juga deh liatnya, seneng di jakarta ada event olahraga skala besar (meskipun traffic di sekitarnya jadi macet siiih). berhubung exit demi exit tol yang kita mau lewati kalo gak ditutup ya padat banget trafficnya, akhirnya kita memutuskan melanjutkan perjalanan sampai ke... bogor. i just love it when we're being impulsive :))

syukurlah ada nasi goreng yang dikemas, jadi di perjalanan gak ada yang rewel. kita sampai di bogor sekitar jam 9, dan memutuskan untuk markir mobil di mcd. ternyata di sekitar kebun raya gak ada parkiran mobil ya? mungkin ada tapi kok kita ditawarin parkir di pinggiran jalan terus. adit menilai di mcd lebih aman karena gak di pinggir jalan. dah gitu biayanya juga sama, 15 ribu. 

begitu masuk kebun raya, kita langsung cengengesan. soalnya itu pertama kali kita bertiga datang ke situ. tempatnya luas banget yaa. bisa sepedaan pula. tujuan utama kita sebenernya taman anggrek. tapi pas sampai di cafe dedaunan aja udah jam 12. kasian bumy. tadinya sih doi masih bersemangat lari-lari, tapi cuaca makin panas, jadi mulai minta gendong deh, dia. 
akhirnnya kita memutuskan nongkrong di dedaunan untuk ngaso dan makan, trus balik. 
seneng banget liat area terbuka yang luassss dan rindang begitu. mungkin central park di new york segede gitu juga ya? hihi.








oya di kebun raya ternyata banyak ada acara komunitas. kemarin kita liat ada anak-anak pramuka pada nyari jejak. trus ada acara seminar dengan poster gede "i love my family" :D daan ada satu komunitas yang gue gak tau namanya apa, tapi mereka ngadain 'lomba' banyak-banyakan ngumpulin sampah! keren banget. 
and of course, we also had another episode of long walks there. kita keluar dari kebun raya di gate yang agak jauh dari tempat kita parkir mobil, jadi kita ngangkot untuk ke mcd. badan leek bersimbah keringat.
afterwards we drop into a quiet little place we call our home in ciganjur <3 

22/10/2013

the orchid and embak-less saga


it was on a sunday morning.

we went to jalan brawijaya to spot some nice plants and pots. turned out that we found these lovely sights.






afterwards we headed to taman anggrek ragunan to find a vast complex of plant and flower stalls. 









and then the weekend continued. 








they were munching the bantet muffins


from the plant haul




despite some shitty facts that si embak tiba-tiba harus cuti besar for some illness, my disastrous time-management, my failure to produce any writing up to this moment (sigh), and this...




...well, here i am (pulling my hair out).

13/10/2013

two to tango

alhamdulillah it's a long weekend.
i guess "the myth" is true (the quotation marks because i think i'm the only person who regards it as a myth). that once you're a SAHM, you'll have a bigger need for your spouse's presence. 
...or maybe it's just me (.__.)

gue emang girang banget kalo udah jumat. hati jadi lebih ringan, dada membuncah dengan rencana-rencana. terbayang bisa ngapa-ngapain nggak cuma berdua bumy (baca: disupirin), mau sarapan/maksi/makanmalem ada yang bikinin, intinya eksploitasi kehadiran suami, deh. 

malam minggu ini, gue dan adit lagi berduaan di rumah ganjur karena bumy nginep di rumah oma. awalnya sih mau bertingkah a la lajang yang masih pacaran (nonton, nongkrong di coffeeshop yang ruang smoking dan non-nya gak terpisah secara tegas, jalan kaki menyusuri pasar lama). tapi, semangat berpacaran padam semenjak hujan deras tadi sore. yang awalnya mau mampir ke mall, berubah enggan. sampai di rumah, nyetel walking dead, dengerin hujan makin deras, kita seketika jadi couch potatos. ganti baju bukannya jadi setelan pergi, malah ke kaos oblong dan celana hawaii. perut laper yang tadinya berencana diganjel sama ramen/sushi/apapunlahyangseksiseksi, ternyata cukup hepi diisi sama telor dadar keju. let's face it: we *are* a boring couple. 

anyway, adit and i had a little 'picnic' to ancol last week untuk mengikuti Festival Gerakan Indonesia Mengajar (disingkat FGIM). gue pertama kali dengar pengumuman acara ini via twit dari MD. trus langsung tertarik, karena program-programnya pak Anies emang "fenomenal", dan berdampak nyata. apa daya, mau ikut jadi Pengajar Muda udah ketuaan, mau ikut berbagi cerita tentangprofesi, tapi udah gak punya profesi yang profesional xD 
syukurlah diadakan wadah buat kami yang gak bisa ikutan 2 program itu. 

acaranya seru, deh. disediakan beberapa jenis "wahana" untuk kerjabakti kita. mulai dari mengemas buku-buku cerita dan pelajaran untuk dikirim ke sekolah-sekolah di pelosok (Kotak Cakrawala), bikin puzzle berisi pengetahuan dan kata-kata penyemangat (Kartupedia), bikin alat bantu anak-anak SD untuk belajar sains (Kemas-Kemas Sains), sampai bikin lagu dan "teater" cerita rakyar untuk direkam. format acaranya juga dikemas berupa game, seperti berlomba menjadi yang tercepat antar kelompok relawan. 
kita juga terkesan dengan cara panitia mempublikasi acara ini (dengan gaya bahasa yang menyemangati, timingnya tepat, pakai 'teaser' pengalaman tokoh-tokoh inspiratif), dan betapa profesional serta rapi acara ini diselenggarakan. 

begitu datang dan kelar registrasi, kita para volunteer yang baru dateng, dikumpulin di ruang presentasi untuk dikasih briefing. pesannya singkat aja: why we needed to do this, lantas meminta kita bersemangat, lakukan yang terbaik dan nikmati prosesnya. tapi kok bikin gue berkaca-kaca (saraf haru-ku memang lemah)... 
selama kerjabakti, kita ketemu sosok-sosok yang inspiratif. emang sih mayoritas yang ikut mahasiswa, tapi banyak juga yang bukan. ada sekelompok volunteer dari rumah singgah untuk anak-anak terlantar di bogor (they went there by public transports), ada para bapak dan ibu yang membawa anak-anak mereka (seorang ibu bekerja sambil mencangklongkan bayinya di dada!), ada yang tua, ada yang bule, literally all walks of life were there to contribute. terasa banget kegiatan ini memberikan efek berupa bola salju. kegiatan yang kita lakukan mungkin sepele. menggunting-gunting, nulis, ngangkut buku. tapi karena dilakukan secara massal, hasilnya jadi besar. so i guess the moral of the activity is, if you want to make a difference, it doesn't have to be massive. it can start from simple stuff. 
in the end, thank you, para penggagas dan panitia FGIM! 

look at those hands everywhere. the message is clear: let's give hands, do something!

ps: kerjabakti aside, ancol beach is interesting... ternyata. gue dan adit sempat nongkrong di pizza hut (dengan koneksi wifi yang waswiswus. akhirnya iOs7 kedonlot juga!) dan pinggir pantai macam orang (tidak) muda pacaran. pantainya bersih, bisa nyewa sepeda keliling pantai, ada restoran-restoran kece pinggir pantai juga (if you want to splurge). dan ternyata sekarang juga ada mall di sana! 


02/10/2013

passion pit

- kemarin pertama kalinya gue mengikuti parents' meeting untuk kelas les musik bumy di ymh. pertemuan kemarin ternyata inisiatif guru kelasnya bumy sendiri, kak rita, karena kelas-kelas lain malah jadwalnya minggu itu libur. berguna banget ternyata masukannya. selain dijelasin soal cakupan pengajaran program music wonderland (untuk usia 3-4 tahun yang bumy ikuti ini), juga dibahas apa aja kegunaannya terhadap perkembangan motorik dan kecerdasan anak. 
kak rita juga ngasih feedback soal hasil observasinya terhadap performance anak selama mengikuti program ini. eh, ternyata bukan cuma anaknya yang di-observe, tapi juga ortunya, hehe. hasil observasi si kakak buat bumy, katanya sih bumy udah bisa mengikuti kelas dengan baik, apresiasinya juga oke. doi udah bisa konsentrasi, "serius" mengikuti pelajaran, dan udah bisa 'menangkap' rhythm dengan baik. 
doi juga ngasih apreasiasi buat beta (ehem!), dia bilang, "makasih ya mama, udah bisa nganterin bumy les tiap minggu." kayaknya doi sengaja menekankan pentingnya keikutsertaan orangtua (karena ada yang dianter nanny-nya terus tiap les), karena program ini bukan sekedar untuk mengasah kemampuan bermusik anak, tapi juga jadi kesempatan bonding time antara anak dan orangtua. 
kalo gue bisa nemenin anak les tiap minggu mungkin gak istimewa ya, namanya juga IRT. yang lebih bikin salut adalah para mama temen sekelas bumy yang bisa menyempatkan diri ikut kelas padahal bekerja. 

hal lain yang juga dijelasin pas parents' meeting adalah tujuan jangka panjang mengikutkan anak dalam program ini. yaitu supaya nantinya anak bisa membuat komposisi musik, dengan alat musik pilihannya. soal memilih alat musik ternyata baru bisa dilakukan ketika anak usianya 6 tahun, setidaknya menurut aturan di ymh. karena disesuaikan dengan kesiapan mental anak mengikuti lesson secara menyeluruh, dan kesiapan organ-organ tubuhnya juga. 
kak rita bilang, "program ini masih lanjut terus loh, ma. sesudah music wonderland, ada junior music course selama 2 tahun. mama masih ikut di dalam kelas." wehehe, gue sih hayuk aja. emang kepengen bisa main electone or piano juga kalo bisa mah :))

menunggu le husband to come and get bumy karena meetingnya for parents only


- mencoba playground baru di daerah deket rumah, di beji tepatnya, daerah tanah baru. namanya ciluqba playground. kita datang ke situ hari minggu siang, jam 9an. tempatnya lumayan juga, ternyata. area bermain panjat-panjatannya cukup besar. area basah-basahannya kecil sih, tapi bumy bisa bebas bermain. mungkin karena dia mainnya pas jam 10 siang -___- jadi ya dia doang yang men-tanned-kan badan. 
HTM-nya ekonomis, 20 ribu buat weekend, dan 10 ribu buat weekdays. tapi lumayanlah bisa jadi alternatif kalo mau ajak anak plesir (selain ke taman, hehe). 




- met some of my old pals. mampir ke rumah nuri buat ngambil skincare pesanan (dapet diskon pula, makasih ya buund :D), tapi sayang gak bisa lama. trus ketemuan sama elis juga. yang agak ngagetin, dia sama nyokapnya. jadilah kita nongkrong bareng emak-emak senior :)) tapi hal itu juga ngingetin gue, kalo di antara sekian nyokapnya temen-temen gue, nyokapnya elis emang yang paling enak diajak ngobrol, haha. doi nyambung aja gitu sama ocehan, keluhan, dan gaya bergosip kita. doi cuma senyum-senyum sambil sesekali kasih komentar yang gak gengges. pantesan aja si elis sering banget nongkrong sama nyokapnya :') semogaaa gue juga bisa gitu sama bumy entar (tapi 'kan anaklo cowok? ya biar deeh). 

- ikutan workshop in a box lagee. senangnya bikin-bikin :D 



- menambahkan ini ke area bekerja-sambil-bermain gue :D



- kepikiran untuk bikin perayaan ultah bumy tahun ini. sebelumnya juga dirayain meski dengan tiup lilin di atas kue bersama kru mricans sih. tapi maunya tahun ini bumy punya tamu-tamunya sendiri, hehe, yaitu anak-anak kompleks. acaranya gak mau lebay, gak pake dessert table yang jelas :)) 
tapi gue emang sempat kepikiran mau pakai jasa EO. buat ngedekor, bikinin goody bags, dan ngurusin makanan. tapi pas survey... ternyata lumejen ya boo fee-nya. 
sejauh ini sih, belum ada yang dimantapkan kecuali tema (hint: lihat gambar, kekeke). soal lokasi masih pikir-pikir antara dua pilihan. printilan yang lain juga belum mulai dicari (belum saatnya panik 'kan? ...'kan?). tapi roman-romannya gue akan ngerepotin bunda Nisha nih, karena doi sekarang sering jadi narsum setiap gue nanya-nanya soal printilan ultah. heuheu, mohon bantuannya, ya, kakak senior!

photo from spoonful.com


- akhirnya punya juga "klien" untuk dibikinin financial plan... xD ayo ayo, ada yang tertarik gue bikinin? 

entah kenapa kalo bikin update gabrukan gini yang diinget yang bagus-bagus aja... mungkin karena kalo galau langsung bikin postingan tersendiri yah, macam ini. hehe.

spent the afternoon at one of our favorite places: rimba baca