bulan baru, cashflow baru.
kali ini, gue punya target baru juga untuk dibidik dalam casfhlow. yaitu budget weekend.
semenjak kita pindah rumah, kita jadi punya jadwal khusus untuk sowan dan nginep di karawaci setiap dua minggu sekali. dari segi waktu sih kayanya gak ada masalah. tapi ternyata, rutinitas ini memberikan dampak ke pengeluaran.
gue dan adit udah sejak lama punya pos pengeluaran yang kita kasih nama "budget weekend."
jadi, pos ini isinya budget yang diperlukan kita untuk bersenang-senang/kelayapan selama weekend. pos ini kita pisahin dari pos "makan keluarga" karena pengeluaran saat weekend itu unik. kenapa unik? karena tujuan utamanya buat bersenang-senang dan jalan-jalan, jadi pengeluarannya pasti lebih besar dari makan keluarga di hari biasa. dari segi frekuensi, porsi eating outnya lebih besar. udah gitu, kegiatan yang dilakukan juga lebih 'niat' dari kegiatan selama hari kerja, misalnya tiba-tiba ke bogor seperti yang kita lakukan weekend lalu, atau ngajak bumy main ke playground, dan sebagainya.
karena nggak mau urusan weekend menyabotase urusan makan keluarga, makanya pos pengeluaran ini kita pisahin. hal ini bukan barang baru buat gue dan adit. dulu pas masih pacaran, gue dan adit punya rekening cinta (ohohoek!) yang tujuannya membiayai kegiatan pacaran kita, hahaha. jadi dulu tuh, setelah kita pikir-pikir, "pacaran tuh mihil juga ye?" akhirnya kita sepakati untuk nyetor sejumlah uang tiap abis gajian ke satu rekening. nanti biaya pacarannya ya dicukup-cukupi dari situ.
kembali ke saat ini, menyediakan budget khusus untuk pacaran (kali ini sama anak) tetap kita lakuin. waktu masih tinggal deket nyokap, kita menentukan budget weekend sejumlah X per minggu. jumlah itu masih cukup, karena well, kita sering numpang makan di rumah nyokap (ya hari kerja, ya weekend, numpang makan jalan terus) :)))
tapi sekarang, budget itu membengkak karena kita jadi lebih sering eating out.
breakdown aktivitas kita saat weekend sekarang seperti ini:
- jumat malam - jalan ke karawaci.
- sabtu - sarapan dan/atau lunch biasanya jajan atau di mall.
- minggu - sebelum lunch udah berangkat pulang ke ciganjur, jadi lunch-nya makan di luar, dinner-nya beli karena seringnya udah males masak begitu sampai rumah.
berapa kali eating out tuh? bisa 4 kali 'kan. belum lagi budget nge-mall-nya, kayak buat nonton, atau pijat bersih sehat, atau apa kek gitu.
begitu kita itung dengan cermat, ternyata tiap kali ke karawaci, kita bisa menghabiskan 2 kali lipat budget weekend mingguan. kalo ke karawaci-nya dua kali dalam sebulan, bisa ditebak kalo budget weekend bulanan kita ya tentunya bengkak 0,5 kali lipat.
jadi, setelah beberapa bulan mengalami tekor di pos weekend, di family meeting kemarin, gue dan adit secara khusus ngebahas soal ini buat nyari solusinya.
pertama-tama, tentunya kita merinci kegiatan kita saat weekend di karawaci maupun di ciganjur dan menuliskan pengeluaran yang kita buat.
kedua, nyari cara gimana biar pengeluaran kita cocok sama budget weekend.
akhirnya kita sampai pada kesimpulan kalo kita harus mengurangi frekuensi ke karawaci. DAN mengurangi frekuensi ngemall.
gue agak mendapat inspirasi juga dari sharing seorang ibu di grup wassap sekolah. dia nih salah satu role model gue juga, karena punya anak 3, tapi menolak pakai jasa pembantu. bukan karena gak mampu yang jelas (suaminya kerja di oil company, rumahnya juga terlihat dari sekolah), tapi karena udah males direpotin sama drama pembantu. tapi kali ini, bukan urusan pembantu yang jadi fokus gue.
nah, si ibu ini cerita sambil lalu kalo weekend kemarin dia yang
"biasa nih kalo hari libur, kita serumah kerja bakti. ya nyabutin rumput, nyuci mobil, beberes. lumayanlah biar hemat, anak-anak udah seneng banget diajak cuci mobil sama papanya, jadi gak usah mahal-mahal ke timezone."
saat baca itu, gue yang "dang…."
ini gue kemukakan sambil meeting sama adit kemarin. jadi menerbitkan pertanyaan juga sih ke diri sendiri, "apa selama ini kita sok kaya yaaaaa" dilanjutkan dengan ekspresi mental seperti ini >___<
kebetulan pagi ini baru nonton acara @yourmoneymetro di mana ligwina hananto jadi narasumbernya. topik pagi ini soal "price-sensitive."
dia ajak para pasangan untuk mencoba jadi sensitif sama gaya hidupnya. dia ngasih saran, "selama ini kita selalu makan di A yang harganya xxx, gimana kalo kita coba di B? makanan sama tapi harganya bisa xxx-100ribu, misalnya." atau "apa iya perlu kopi seharga xxx tiap hari? padahal kalo di daerah sana, harga segitu tuh bisa buat makan 3 kali."
dari sini, suami-istri mencoba ngembangin attitude price-sensitive terhadap pengeluaran dan lifestyle-nya. lha ligwina aja bisa bilang ke suaminya "apa selama ini kita sok kaya yaaa?" tentunya it's only natural dong kalo gue melakukan hal yang sama setelah mendengar cerita sambil-lalu si ibu yang weekend-nya diisi kerja bakti itu??
yaeyaalah.
jadi, gue dan adit mencoba bikin skenario untuk weekend. gimana? dengan ngasih tema untuk tiap-tiap weekend dalam sebulan. sejauh ini, kita come up dengan 4 tema sesuai jumlah minggu dalam sebulan.
week 1
tema: mrican. (maksudnya rumah oma di karawaci).
skenario pengeluaran:
- eating out sebanyak 3 kali (bisa berarti sarapannya beli, lunch di mall, dan ngebungkus dari RM padang untuk dinner).
- budget kegiatan selama di karawaci (nonton, nyalon, pijat, dsb) sejumlah x.
- budget oleh-oleh (karena biasanya bumy kita titipin ke nyokap, hihihi) sejumlah x.
week 2
tema: staycation.
kegiatan: beberes rumah, olahraga bareng, crafting DIY, kemping di halaman rumah, baking, nonton DVD, board games, pinter-pinternya kita milih aktivitas, deh.
skenario pengeluaran:
- eating in 3 kali (baca: masak).
- eating out 3 kali.
week 3
tema: enjoy jakarta.
kegiatan: bisa ke tempat-tempat baru (museum, pasar tanaman hias, galeri, green kampongs, dsb), nyobain public transportation, atau ke events tertentu.
skenario pengeluaran:
- budget kegiatan enjoy jak sejumlah x.
- eating out 3 kali.
week 4
tema: playground (+rumah mertua).
skenario pengeluaran:
- eating out 3 kali.
- budget ke playground sejumlah x.
- budget oleh-oleh untuk ke rokum mertoku sejumlah x.
ketika gue bilang ke adit, "ada minggu khusus ngemall dong!" dia cuma bilang, "kalo ngemall mah gak usah diagendain, kali. kalo bisa malah selama weekend gak ke mall."
-____-
yatapi gue jadi inget sih, sama cerita ex-rekan kerja di tlkm. dia ibu-ibu usia 30an akhir. dia punya anak 3 orang, usianya 5-10 tahun. dia bilang baru menyadari (setelah selama ini, indeed) kalo budget ngemall pas weekend tuh "gede juga yaaa. bisa 500 ribu setiap pergi ke mall. anakku pada demen main ke timezone, belum lagi makan (junk food-red), dan belanja-belanjanya."
saat ligwina mengakhiri sesi @yourmoneymetro tadi, dia bilang, "bukan cuma anak-anak yang perlu belajar sensitif tentang duit. orang dewasa juga perlu. karena mahal-murah itu relatif. jadi untuk membesarkan anak-anak yang price-sensitive, kitanya perlu jadi orang yang price-sensitive dulu."
ya deh, kalo judulnya kebaikan untuk anak, gue ikutan. hihi. tapi ya emang bener juga, kalo melulu berkegiatan di mall, jangankan anak-anak, gue juga jadi berhasrat untuk liat ini-itu, sentuh ini-itu, dan ujungnya, beli ini-itu. jadi, marilaahh… kita coba skema budgeting, sekaligus kebiasaan baik baru ini hehe.
jadi, nak, kamu lebih suka gini
![]() |
| (eh ini bukan di mall, tapi tamani cinere. but he does look cozy, huh?) |
atau giniii? (mengerjap-erjap manja)





No comments:
Post a Comment