Pada artikel tentang tradisi keluarga, dibahas betapa dahsyat manfaat yang bisa didapatkan dari menjalani sebuah ritual secara rutin. Ritual yang dilakukan tidak harus selalu besar-besaran, yang kecil dan sederhana pun cukup. Contohnya dengan makan malam bersama. Beberapa tahun belakangan ini, ritual makan malam bersama mendapat banyak sorotan. Di Amerika Serikat, selebriti dan figur publik berlomba-lomba menyuarakan pentingnya melakukan ritual family dinner. Bahkan presiden Obama turut menghimbau rakyatnya untuk membiasakan makan malam bersama keluarga.
| Gambar dari sini |
Nah, sebenarnya esensi dari makan malam bersama itu sendiri memang bukan makannya, tapi... ya justru ngumpulnya!
Makan malam bersama adalah kesempatan untuk bonding; seluruh anggota keluarga duduk bareng setelah menjalani hari yang panjang, untuk mempererat kembali rasa kebersamaan.
Makan malam bersama juga kesempatan untuk mengenal sejarah keluarga, lho. Riset menunjukkan bahwa anak-anak yang makan malam bersama keluarganya cenderung tidak minum-minum, merokok, menggunakan obat-obatan, hamil di luar nikah, bunuh diri, atau mengalami gangguan makan setelah dewasa.
Di mana hubungannya?
Dengan mengetahui di mana kakek-nenek lahir, bagaimana papa-mama saling mengenal, siapa anggota keluarga yang pernah sakit atau mengalami kemalangan, dan lain sebagainya, anak akan mengetahui sejarah hidupnya. Riset menyimpulkan bahwa anak yang lebih mengenal sejarah keluarganya akan bisa menghadapi kesulitan hidup dengan lebih baik. Anak akan menjadi lebih resilien, yang artinya bisa mengurangi efek dari stres.
Hasil lain dari riset menyatakan bahwa anak-anak itu akan punya kosakata lebih banyak, sikap lebih baik, gaya makan lebih sehat, dan harga diri lebih tinggi.
Bahkan menurut survey paling komprehensif yang dilakukan University of Michigan, waktu makan jauh lebih berpengaruh dibandingkan waktu yang dihabiskan di sekolah, belajar, menghadiri kegiatan keagamaan, atau berolahraga. Dari situ, Mommies sadar nggak, kalau semua hal-hal yang membuat kita parno sebagai orangtua, bisa dihindari HANYA dengan duduk bareng untuk makan?
Memang sih, kalau melihat kondisi kehidupan di kota besar yang serba sibuk - belum lagi godaan distraksi gadget! - makan malam bersama setiap hari agak sulit diwujudkan. Tapi, seperti sudah dipaparkan tadi, yang penting ya ngumpulnya. Mommies bisa mengganti jadwal menjadi sarapan bersama, atau makan malam beberapa kali saja dalam seminggu. Atau mungkin saat weekend saja. Yang penting, seluruh kelurga bisa duduk bareng untuk saling bicara.
Pertanyaan berikutnya, apa yang mesti dibicarakan ketika duduk bareng?
Kebayang dong, kalau kita bertanya dengan gaya interogatif, anak malah akan malas menjawab dan pembicaraan berjalan satu arah saja. Ritual keluarga yang baik seharusnya menyenangkan dan berkesan. Dari buku "The Secrets of Happy Families" karangan Bruce Feiler, saya mendapatkan beberapa ide untuk mengisi waktu makan bersama keluarga.
Senin: Word of the Day.
Ini bisa menjadi kesempatan Mommies untuk mengajarkan satu kata baru setiap makan bersama. Jenis permainannya bisa bermacam-macam, antara lain
- Mommies melempar kata-kata seperti “kuda,” “bukit” atau “hijau,” lalu ajak yang lain menyebut sebanyak mungkin kata-kata yang berhubungan. Tujuannya apa lagi kalau bukan merangsang kreativitas.
- Perkenalkan prefix (dis-, un-, il-) atau suffix (-able, -ness) dalam bahasa Inggris, atau imbuhan dalam bahasa Indonesia, lalu minta yang lain membuat kata-kata baru.
- Bawa koran, majalah, atau katalog, dan suruh yang lain mencari kata yang mereka tidak tahu artinya.
Selasa: Malam Otobiografi.
Untuk melatih anak menggambarkan kejadian yang telah lalu, minta anak mengingat kembali pengalaman yang berkesan bagi mereka. Mommies bisa memancing dengan pertanyaan yang elaboratif. Ingat 5W 1H 'kan?
Rabu: Pain Points.
Pain point berarti masalah yang perlu dipecahkan. Mommies bisa sharing kesulitan dalam mengatur menu keluarga, atau minta anak bercerita tentang tugasnya bekerja sama dengan teman yang nyebelin. Tujuannya tentu untuk membedah masalah dan mencari solusi, sehingga problem-solving skill anak dapat terasah.
Kamis: Permainan Kata.
- Thesaurus: minta yang lain menyebut kata lain yang maknanya sama.
- Minta yang lain menyebut kata yang dimulai dengan huruf yang sama untuk membentuk satu kalimat.
- Fill in the blanks. Mommies memulai dengan menyebut "Ketika aku main di taman, aku merasa..." atau "Aku ingin sekali bisa...."
- Cari perbedaan, misalnya dari kota A versus kota B. Bedanya capung dengan lalat, daan lain-lain.
Jumat: Baik dan Buruk.
Menjelang akhir pekan, ajak anak me-review minggu yang sudah berjalan dengan menyebutkan satu hal baik dan satu hal buruk. Memang sih, kalau anak sedang nggak konek, bisa saja dia jadi malas bercerita. Nggak perlu dipaksa, kok Mommies.
Gimana, apa Mommies jadi nggak sabar menanti makan bersama keluarga seperti saya? Don't forget to put your gadgets on silent mode, ya!
No comments:
Post a Comment