- masuk kerja cuma satu hari, jumat doang! hahaha.
- bisa begitu karena gue ambil cutii - yaiyalah xD we spent it on a mini vacation to the little red dot <3
- pas weekend, sabtunya kita ke sekolah Bhumy untuk liat doi beraksi di ajang science fair. abis itu langsung tafakuran, trus cuss ke Mrican untuk balikin mobil dan quality time sama oma opa hehe... hari minggunya, oma opa nganterin kita ke Ciganjur, makan soto mie bareng-bareng di rumah, trus sorenya grocery shopping. subhanallah komplit.
![]() |
| gambar dari sini |
sekolah #1 ya sekolahnya Bhumy sekarang.
pro-nya:
- metode dan kurikulum montessori; sesuai banget sama perkembangan (otak) anak, mendukung multiple intelligences, active learning, melatih kemandirian, dst dsb yang rasanya udah sering gue bahas di blog. oh ya, karena nantinya anak-anak di sini tetap harus ikut UN, maka akan ada semacam pengayaan untuk persiapan UN mulai kelas 5.
- learning with Islamic values; iya, sekolah ini bukan sekolah Islam, jadi nggak menuntut anak hafal Al-Qur'an sekian juz, hafal hadits dsb. tapi selain mengajarkan tentang sejarah, konsep tauhid, fiqih, syariah, dst, juga menekankan pada penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari dan juga bermasyarakat.
- guru-gurunya "oke" dalam artian kualifikasi pendidikannya bagus, paham agama, modest, santun, dan komunikatif.
- ekskulnya kok ya seru-seru, ada pramuka (intra curricular), mandarin, sama memanah!
tapiiii:
- uang pangkal untuk SD angkatan Bhumy naik 20% dari biaya tahun laluuuu T______T
- jauh dari rumah dan dari segi transportasi rada ribet, apalagi pas nggak ada supir kayak sekarang uhuhuhuhu.
- lahan sekolahnya terbatas. bangunan emang masih baru dan fasilitasnya cukup memadai. tapi ya gitu, nggak ada yang namanya lapangan basket (apalagi lapangan bola), kolam renang juga seadanya alih-alih olympic size haha.
- usia sekolahnya relatif baru, murid masih sedikit, lulusan bahkan belum ada. dengan demikian, sekolah ini belum dapat akreditasi, dan untuk UN sementara menumpang dulu di sekolah lain.
![]() |
| dari science fair kemarin |
untuk uang pangkal, yaahh meskipun mencekik, tapi bisalah diusahain.. insya Allah. jarak nih dilema terbesarnya. agak ketar-ketir membayangkan harus hire supir baru lagi dari awal, dan menghadapi potensi drama.. hhh.
sementara untuk keterbatasan lahan, kalau kita udah memilih menyekolahkan Bhumy di situ, ya pastinya harus tutup matalah soal itu.
sementara sekolah #2,
pro-nya:
- cuma 1 km dari rumah! dan ada jemputannya! OMAGAAHH, faktor ini doang aja udah menggiurkan banget!
- uang pangkal untuk SD bisa 'dicicil' per tahun!
- sudah eksis selama 20 tahun... berarti lebih berpengalaman, bukaan. akreditasinya juga A, rata-rata nilai UN-nya tinggi. (but do I really care about that-numbers and grades and all that is 'visible' to the eyes?)
- kurikulumnya IPC. well, ini bisa jadi faktor pemberat maupun pengurang kecondongan hati, sih, tergantung dari cara pandang dan visi-misi ortu. IPC ini semacam jalan tengah antara kurikulum IB yang 'praktek' banget dengan kurikulum nasional yang teoritis/akademis banget. maafkan yah kalau pemahaman dan pemaparan gue ini banyak ngaconya, soalnya berdasarkan riset abal-abal via internet dan ingatan sekadarnya.
terus karena kurnas sudah di-blend in dengan penerapan kurikulum IPC, jadi anak sepertinya bakal lebih terbiasa dengan kurnas alih-alih baru mulai dibiasakan dengan kurnas pada 2 tahun terakhir level primary aja.
dari hasil survey kemarin, contoh yang paling nyata adalah sekolah ini hampir nggak ada field trip (adanya outing, yang mana ya untuk refreshing aja setelah tahun ajaran selesai). sementara di sekolah #1 ada field trip paling nggak 1 kali setiap term (3 bulan) untuk menunjang proses belajar. bahkan bisa lebih, untuk memfasilitasi ketertarikan dan curiosity anak.
trus soal PR, di montessori, nggak ada PR samsek. tapi untuk kurikulum IPC ini ada worksheet untuk dikerjakan anak setiap harinya. am I against PR? nggak, kok. gue justru berpikir pengulangan itu perlu. tapi, ini semacam menjadi 'pertanda' kalau faktor akademis menjadi 'warna' utama dalam pendidikan di sini kelak.
- sekolahnya luaaaas. yah, bisa dimengerti. lokasi sekolah #2 ini terbilang pinggiran jakarta, sementara sekolah #1 ada di tengah kota. jadi, sekolah #2 ini fasilitasnya mumpuni; ada lapangan bola 2 bijik(!), lapangan basket, dll. makanya, pilihan ekskul untuk siswa juga jauh lebih beragam.
lalu cons-nya:
- pendidikan agama cuma 2 jam per minggu. emang, setiap harinya anak-anak beragama Islam akan diajak sholat dzuhur berjamaah. trus ada ekskul Iqra juga. tapi.. porsinya jelas berbeda jauh dengan sekolah #1.
- school fee bulanannya lebih mahal hampir 40% dari sekolah #1. hmm... diitung-itung, bisa tergantikan sama uang bensin dan gaji supir, sih. tapi, ini berkaitan dengan poin selanjutnya, yaitu...
- waktu kita visit ke situ saat jam pulang sekolah, kita lihat deretan mobil yang akan menjemput. hmm.. kok ada jaguar aja? haha.. alphard dan sekelasnya juga bererot, semacam mobil 'standar' di situ xD jadi agak gentar juga, membayangkan gimana kalo anak kita jadi semacam Sanchai di antara para anak konglomerat, kekekek...
- ini mungkin preferensi pribadi semata, tapi kegiatan pramuka baru ada di level middle school. berkat melihat sang teman hidup yang "boy scout" banget sanubari dan adab perilakunya (hahaha), gue jadi sadar kalau kepanduan itu ilmu yang penting dan berguna banget untuk diajarkan ke anak.
untuk menambahkan ketegangan, kita sudah harus memutuskan Bhumy mau bersekolah di mana per Desember ini. sementara sampe sekarang gue dan Adit masih bingung sejadi-jadinya.
hati kita sih sepakat, condong ke sekolah #1. tapi perjuangannya nampak akan lebih berat... terutama terkait faktor jarak dan transportasi.
gue sempat curhat sedikit sama dokter Yuniar seputar memilih sekolah ini, eh jawaban beliau tak dinyana sekonyong-konyong menghujam hatik: "itu jihad kita sebagai orangtua, Ris." glek...
gue jadi berpikir, ajang Bhumy masuk SD kelak ini akan jadi milestone juga buat kita sekeluarga. gue inginnya tetap bisa memberikan waktu, perhatian, dan pendampingan yang berkualitas buat Bhumy, sambil tetap bekerja. gue emang berdoa (Adit juga - getok kalo nggak), semoga jalan kita dimudahkan dan dimuluskan kalau memang sekolah #1 yang terbaik untuk Bhumy.
karena kalau di-crosscheck sama "kriteria" memilih sekolah yang gue tulis tempo hari, begini hasilnya:
- kurikulum IB -> gue menganggap kurikulum montessori banyak kemiripan dengan IB. di montessori, anak-anak bisa memberikan input tentang bagaimana mereka mau diajar, dan mereka bisa mengontrol cara belajar mereka dibandingkan anak-anak di sekolah berkonsep "tradisional." montessori juga 'lahan' yang tepat untuk menggarap anak sesuai kecerdasan majemuknya, karena gaya belajar alami dan preferensi anak dihargai dan didukung. kemampuan analitis anak juga didukung lewat gaya belajar yang nggak fokus ke textbook semata. btw info ini gue dapat selain lewat browsing, juga lewat hasil diskusi sama Kepsek sekolah Bumy sekarang.
kurikulum IPC sendiri juga mendukung active learning dan juga konsep kecerdasan majemuk dalam prakteknya. gue kutip dari situs ini, dijelaskan sbb "Kurikulum IPC ini sebenernya seperti kurikulum IB yang disempurnakan. Jadi disini tidak hanya sekedar framework, tapi sudah jelas topik-topik dan panduan apa yang akan dipelajari. Kurikulum ini menekankan field study dan penerapan aplikasi teori."
lalu dalam hal "teknis,"
- fasilitas - yakin nih, gue nggak mupeng dengan sekolah yang fasilitasnya "lengkap bin mumpuni sampai ada lapangan hoki dan ice skating segala?" fufufufu...
- pergaulan - sebelumnya, hal ini nggak gue jadiin pertimbangan banget. tapi, gimana kalo abis liburan nanti temen-temen sekelas Bumy pada seru bilang abis liburan ke Mount Titlis atau Raja Ampat, sementara Bumy... ngider-ngider BSD-Karawaci aja? x))))
- lokasi - kemarin gue tulis dengan sombongnya kalau jarak bukan masyalah buat kita.. eeh abis itu langsung diuji dong, dengan supir resign dadakan! baru deh, terasa... kasian banget Bumy harus menempuh jarak segitu jauh naik motor. berjibaku sama macet pula.
wishlist terbesar kita (yang mungkin agak nggak tau diri sekaligus rada gila) adalah bisa tinggal deket sekolah #1. gue membayangkan Bhumy nggak perlu commuting jauh-jauh membelah macet setiap paginya, serta gue dan Adit bisa balik dari kantor dan ketemu Bhumy dengan lebih cepat karena nggak perlu berjibaku dengan kemacetan jam pulang kerja.
berlebihan-kah?
yah... it's up for you to judge.
tapi kita juga sadar banget kalau bisa tinggal di landed house di tengah Ciganjur begini merupakan sebuah privilege yang tak ternilai buat kita. Bhumy bisa lelarian sama Naya tiap sore, jauh dari polusi dan keriweuhan tengah kota.
BRB istikhoroh dulu, deh... :)))


Kalau sudah ada jawabannya kabari eike ya. Urusan sekolah neverending galau..gak di sana, gak di sini huhu
ReplyDeletekecondongan hati gue - dan juga Adit - kayanya berubah-ubah terus setiap harinya, Nis! xD hari ini condong ke #1, eh besoknya jadi ke #2... begituu aja terus bolak-balik.
Deletekalo menimbang faktor kepraktisan sih seharusnya emang memilih #2 yaa, tapi mungkin emang udah bawaan kita (gue?) ribet dan sok idealis hahaha, jadi malah nggak yakin mau milih #2. intinya, wish me luck yah!