(menyambung tulisan gue tempo hari, husband finally blurted the quite-anticipated request: "gimana kalo kamu resign aja?" and this is *that* whole other post to 'answer' it.)
*WARNING: it's a long ramble, hehe.*
sejak gue kecil, nyokap gue kerap mengulang kata-kata yang sama: "perempuan harus bekerja." bekerja di sini tentunya sebagai pegawai kantoran.
nyokap gue, seorang perempuan berdarah minang yang merantau ke jakarta (dan gue curiga she swore she would never come back there), hidup dengan indoktrinasi yang sama dari nenek dan nyokapnya (buyut dan nenek gue). nyokap gue datang dari keluarga broken home. in other words, dalam hidupnya, dia gak mengenal sosok ayah yang bisa dijadikan sandaran. dan kalo gak salah sih nenek gue juga mengalami hal serupa. buyut dan nenek gue berdikari menghidupi keluarganya. so that's what happened. nenek gue banting-tulang jadi pedagang di kampung sana untuk bisa membiayai nyokap gue sekolah perawat. setelah menikah, nyokap gue gak pernah sekalipun berpikir untuk jadi ibu rumah tangga. dia berpikir itulah "diri"nya, yaitu seorang perempuan bekerja. dan dia menganggap begitulah seharusnya anak-anak perempuannya kelak, jadi perempuan bekerja seperti dirinya, yang gak pernah sekalipun minta dihidupi sama suami.
kini, setelah gue coba analisa, bokap nyokap gue (kalo meminjam penjelasan mbak Alissa Wahid) "lahir dari generasi zaman revolusi, di mana saat itu anak dididik dengan keras sebagai syarat survival hidup yang masih agriculture-based." "bekal" inilah yang terbawa saat mendidik gue, generasi yang lahir tahun 80an, "meskipun resources untuk hidupnya bukan lagi dari kebun, tapi dari membeli. nah, untuk membeli ini butuh pemasukan, dan pemasukan didapatkan dari pendidikan" yang memberikan skill untuk bekerja.
mereka juga termasuk generasi Baby Boomers (1946 – 1964). "generasi ini mempunyai karakter sebagai seorang pahlawan, berorientasi pada kenyamanan dan merespon terhadap petunjuk pencapaian."
seumur hidupnya, bokap nyokap bekerja sebagai pegawai negeri dan BUMN. they crave for stability. they believe in stability, and the assurance it gives. nggak pernah kaya-raya, nggak pernah liburan mewah, nggak pernah tertarik jadi wirausahawan, dan hampir seluruh tabungan mereka digunakan untuk menyekolahkan gue (dan adik-adik) sampai ke jenjang S1.
nyokap gue, seorang perempuan berdarah minang yang merantau ke jakarta (dan gue curiga she swore she would never come back there), hidup dengan indoktrinasi yang sama dari nenek dan nyokapnya (buyut dan nenek gue). nyokap gue datang dari keluarga broken home. in other words, dalam hidupnya, dia gak mengenal sosok ayah yang bisa dijadikan sandaran. dan kalo gak salah sih nenek gue juga mengalami hal serupa. buyut dan nenek gue berdikari menghidupi keluarganya. so that's what happened. nenek gue banting-tulang jadi pedagang di kampung sana untuk bisa membiayai nyokap gue sekolah perawat. setelah menikah, nyokap gue gak pernah sekalipun berpikir untuk jadi ibu rumah tangga. dia berpikir itulah "diri"nya, yaitu seorang perempuan bekerja. dan dia menganggap begitulah seharusnya anak-anak perempuannya kelak, jadi perempuan bekerja seperti dirinya, yang gak pernah sekalipun minta dihidupi sama suami.
kini, setelah gue coba analisa, bokap nyokap gue (kalo meminjam penjelasan mbak Alissa Wahid) "lahir dari generasi zaman revolusi, di mana saat itu anak dididik dengan keras sebagai syarat survival hidup yang masih agriculture-based." "bekal" inilah yang terbawa saat mendidik gue, generasi yang lahir tahun 80an, "meskipun resources untuk hidupnya bukan lagi dari kebun, tapi dari membeli. nah, untuk membeli ini butuh pemasukan, dan pemasukan didapatkan dari pendidikan" yang memberikan skill untuk bekerja.
mereka juga termasuk generasi Baby Boomers (1946 – 1964). "generasi ini mempunyai karakter sebagai seorang pahlawan, berorientasi pada kenyamanan dan merespon terhadap petunjuk pencapaian."
seumur hidupnya, bokap nyokap bekerja sebagai pegawai negeri dan BUMN. they crave for stability. they believe in stability, and the assurance it gives. nggak pernah kaya-raya, nggak pernah liburan mewah, nggak pernah tertarik jadi wirausahawan, dan hampir seluruh tabungan mereka digunakan untuk menyekolahkan gue (dan adik-adik) sampai ke jenjang S1.
![]() |
| pic from postsecret.com |
gue sendiri mulai bekerja di usia 21 tahun. gue sidang skripsi bulan februari, maretnya udah mulai bekerja di citi. gue gak pernah berpikir mau jadi apa. lowongan di tempat itu datang ke pangkuan gue begitu saja (dari kenalan nyokap), dan gue gak punya rencana apa-apa untuk mengisi waktu setelah kuliah selesai. to be an employee sort of the only natural thing to do at that time.
tiga bulan bekerja dan gue udah bisa berpendapat: this is not for me. kerja di perusahaan multinasional emang rasanya keren and all. dan meskipun gaji gue kecil, itu bukan masalah besar buat gue. gue yakin paling lama 2 tahun gue bisa jadi pegawai permanen di situ, karena english proficiency gue, dan konduite kerja gue juga oke. tapi gue merasa waktu kerja yang dibutuhkan terlalu panjang. berada di dalam kantor, di belakang meja, dari jam 9 sampai 7 malam setiap harinya terasa kurang sreg buat gue. meskipun saat itu punya pacar aja enggak, gue udah berpikir "gimana kalo nanti gue punya anak? kapan gue bisa ketemu dan ngurus doi?"
ketika seorang teman iseng nanya gue mau nyari kerjaan yang kayak apa, hampir tanpa berpikir gue jawab "di bumn gitu, tlkm kali, ngikutin bokap gue. kayaknya santai deh. gue bisa pulang jam 5 trus ngurusin anak."
setahun bekerja di citi, gue keluar demi mendapat status pekerja permanen di perusahaan swasta. not a good reason yah. but what did a 22-yo kid knew? gue cuma mikir status cepet-cepet berubah jadi permanen, dan gaji naik 2 kali lipat. gue gak mikirin konduite, networking, dan experience yang udah gue bangun di citi. industri yang gue masukipun sama sekali berbeda. dari banking ke it solutions. gue bekerja di situ 2,5 tahun, cukup lama juga mengingat betapa menderitanya gue selama di situ, hahaha. gue sakit flu berat hampir tiap bulan. badan gue juga seringkali gatel-gatel, kayak orang alergi. terlebih, suatu hari, gue 'ribut' sama senior di tim gue, laki-laki, 10-15 years older than me. gue sama sekali belom pernah ngerasain yang namanya konflik langsung di tempat kerja, and it shook me. gue 'ngadu' like a little girl ke bokap nyokap gue dan bilang pengen resign aja.
saat gue utarakan niat gue itu, nyokap gue bilang, "tapi kamu kan belum dapat kerjaan lagi. masa mau nganggur?" kayaknya tabu banget buat nyokap gue hal itu, jadi pengangguran.
sementara bokap gue bilang, "papa nyekolahin anak sampai S1 bukan supaya kamu jadi pegawai kok. kamu perempuan, kalau kamu gak kerja gak apa-apa buat papa. kalo pendidikan S1 kamu itu bukan digunakan untuk bekerja, kamu bisa gunakan buat mendidik anak kamu nanti. itu udah cukup. papa mama mendidik kamu dengan kemampuan level SMA. kamu bisa lebih baik dari mama papa."
itu pertama kali gue tau pandangan bokap gue tentang perempuan dan statusnya. bener-bener bertentangan dari nyokap gue. and he had kept it silent for all those 23 years.
tapi sepertinya layaknya semua keputusan dalam hidup gue diambil, nyokap gue memainkan peranan yang sangat besar (blame it on the strong maternal culture we embrace?). gue gak jadi resign dari pekerjaan itu, gue baru berhenti ketika diterima di tlkm. and now, here i am, menjalani masa kerja yang hampir genap 5 tahun. this is my longest period of employment. gue gak bisa bilang perjalanan di kantor ini smooth, terlebih sejak punya anak. berrrrrkali-kali gue move back and forth antara mau resign dan enggak. yang selalu terjadi sih retorika semata, hehe. karena
1. we still need the money.
the money buat apa sih? kalo mau berhenti demi ngurusin anak bukannya kedua hal itu sangat berbeda? gak semua bisa diukur pake duit kan, terlebih kebersamaan dengan anak? iyak benerrr banget. resiko kalo mau resign tentunya kita harus "live with less", karena jadi single income. tapi gue bener-bener ngitung dari segi kesiapan dana-dana yang 'wajib', dan berniat memenuhi beberapa target dahulu. salah satu target itu adalah rumah. gue berpikir, gue gak 'boleh' resign selama gue belom bisa beli rumah yang ada di jaksel. kenapa di jaksel? karena jaksel lokasi idaman gue dan adit, daannn jaksel jauh dari karawaci. kalo gue beli rumah di tangerang juga, nyokap gue akan bilang, "lah kamu kan bisa titip anak sama mama, kenapa harus kerja?" jadi ya gitu, kita berdua sama-sama kerja dulu untuk beli rumah 'idaman' mumpung bumy bisa dititipin ke nyokap. pretty much win-win, huh?
2. i need the right reason.
gue gak mau banting setir jadi irt just because i fail at my job. itu akan bikin perpindahan status jadi irt bukan karena pilihan, melainkan sebagai pelarian.
what makes me want to quit this job?
tiga bulan bekerja dan gue udah bisa berpendapat: this is not for me. kerja di perusahaan multinasional emang rasanya keren and all. dan meskipun gaji gue kecil, itu bukan masalah besar buat gue. gue yakin paling lama 2 tahun gue bisa jadi pegawai permanen di situ, karena english proficiency gue, dan konduite kerja gue juga oke. tapi gue merasa waktu kerja yang dibutuhkan terlalu panjang. berada di dalam kantor, di belakang meja, dari jam 9 sampai 7 malam setiap harinya terasa kurang sreg buat gue. meskipun saat itu punya pacar aja enggak, gue udah berpikir "gimana kalo nanti gue punya anak? kapan gue bisa ketemu dan ngurus doi?"
ketika seorang teman iseng nanya gue mau nyari kerjaan yang kayak apa, hampir tanpa berpikir gue jawab "di bumn gitu, tlkm kali, ngikutin bokap gue. kayaknya santai deh. gue bisa pulang jam 5 trus ngurusin anak."
setahun bekerja di citi, gue keluar demi mendapat status pekerja permanen di perusahaan swasta. not a good reason yah. but what did a 22-yo kid knew? gue cuma mikir status cepet-cepet berubah jadi permanen, dan gaji naik 2 kali lipat. gue gak mikirin konduite, networking, dan experience yang udah gue bangun di citi. industri yang gue masukipun sama sekali berbeda. dari banking ke it solutions. gue bekerja di situ 2,5 tahun, cukup lama juga mengingat betapa menderitanya gue selama di situ, hahaha. gue sakit flu berat hampir tiap bulan. badan gue juga seringkali gatel-gatel, kayak orang alergi. terlebih, suatu hari, gue 'ribut' sama senior di tim gue, laki-laki, 10-15 years older than me. gue sama sekali belom pernah ngerasain yang namanya konflik langsung di tempat kerja, and it shook me. gue 'ngadu' like a little girl ke bokap nyokap gue dan bilang pengen resign aja.
saat gue utarakan niat gue itu, nyokap gue bilang, "tapi kamu kan belum dapat kerjaan lagi. masa mau nganggur?" kayaknya tabu banget buat nyokap gue hal itu, jadi pengangguran.
sementara bokap gue bilang, "papa nyekolahin anak sampai S1 bukan supaya kamu jadi pegawai kok. kamu perempuan, kalau kamu gak kerja gak apa-apa buat papa. kalo pendidikan S1 kamu itu bukan digunakan untuk bekerja, kamu bisa gunakan buat mendidik anak kamu nanti. itu udah cukup. papa mama mendidik kamu dengan kemampuan level SMA. kamu bisa lebih baik dari mama papa."
itu pertama kali gue tau pandangan bokap gue tentang perempuan dan statusnya. bener-bener bertentangan dari nyokap gue. and he had kept it silent for all those 23 years.
tapi sepertinya layaknya semua keputusan dalam hidup gue diambil, nyokap gue memainkan peranan yang sangat besar (blame it on the strong maternal culture we embrace?). gue gak jadi resign dari pekerjaan itu, gue baru berhenti ketika diterima di tlkm. and now, here i am, menjalani masa kerja yang hampir genap 5 tahun. this is my longest period of employment. gue gak bisa bilang perjalanan di kantor ini smooth, terlebih sejak punya anak. berrrrrkali-kali gue move back and forth antara mau resign dan enggak. yang selalu terjadi sih retorika semata, hehe. karena
1. we still need the money.
the money buat apa sih? kalo mau berhenti demi ngurusin anak bukannya kedua hal itu sangat berbeda? gak semua bisa diukur pake duit kan, terlebih kebersamaan dengan anak? iyak benerrr banget. resiko kalo mau resign tentunya kita harus "live with less", karena jadi single income. tapi gue bener-bener ngitung dari segi kesiapan dana-dana yang 'wajib', dan berniat memenuhi beberapa target dahulu. salah satu target itu adalah rumah. gue berpikir, gue gak 'boleh' resign selama gue belom bisa beli rumah yang ada di jaksel. kenapa di jaksel? karena jaksel lokasi idaman gue dan adit, daannn jaksel jauh dari karawaci. kalo gue beli rumah di tangerang juga, nyokap gue akan bilang, "lah kamu kan bisa titip anak sama mama, kenapa harus kerja?" jadi ya gitu, kita berdua sama-sama kerja dulu untuk beli rumah 'idaman' mumpung bumy bisa dititipin ke nyokap. pretty much win-win, huh?
2. i need the right reason.
gue gak mau banting setir jadi irt just because i fail at my job. itu akan bikin perpindahan status jadi irt bukan karena pilihan, melainkan sebagai pelarian.
what makes me want to quit this job?
A. i want to be there for my kid. gue mau mendampingi dia dari bangun tidur sampe tidur lagi selama gue bisa. gue mau memberikan asupan nutrisi yang baik buat dia, mendidik dia, nganter-jemput dia sekolah dan les, mengawasi dia dari segala hal negatif, and all that you can mention about nurturing and raising a kid.
B. waktu. di bayangan naif gue dulu, kerja di bumn bisa balik jam 5 tiap hari. ada sih yang kayak begitu di perusahaan ini, di unit-unit tertentu yang loadnya minim (banget). tapi kebetulan posisi gue ada di divisi retail dan operasional. terlebih adanya macet yang merampas waktu gue lebih banyak dari 'seharusnya'. ini berakibat gue gak bisa mencapai keinginan di poin A akibat porsi waktu yang sangat minim, atau kalo bisa jujur ya dengan sisa waktu. gue cuma punya satu jam sama bumy setiap hari kerja. dan weekend. oh how i thank God for weekends but they pass too soon.C. most of the time i do hate my job. mungkin karena nature perusahaan yang gak dinamis dalam ragam permasalahan dan pendekatan solusi yang digunakan, gue jadi ngerasa gak tertantang. gue suka programming, tapi kebutuhan analytical di unit gue cenderung begitu-gitu aja, gak butuh banyak kreativitas. manusia kan butuh terus berkembang, how can i explore myself by doing exactly the same things over and over again, right?
so why should i spend more time doing the job that bores me and numbs me padahal ada hal lain yang sangat ingin gue lakukan? hal lain itu ya ngurusin anak.
setelah menunggu dan menunggu, alhamdulillah sepertinya tahun depan gue bisa resign kalo gue mau.
but am i ready? gue yang gak pernah 'napas' untuk mencicipi gimana rasanya "jobless" ini. gue yang selalu loncat dari satu kewajiban to the next: sekolah 12 tahun, kuliah 3,5 tahun, dan langsung jadi pegawai setelah itu.
gue sempat curhat ke beberapa teman perihal ini. my closest friends' response was "are you crazy? bisa mati bosen lo di rumah!" that is the exact response i got from adit just a few months earlier. you know what changed him? dia nemenin gue ke seminar orangtua gitu, kebetulan temanya tentang "menghindarkan anak dari kekerasan seksual." di luar perkiraan gue, isinya gak cuma melulu menakut-nakuti kita orangtua, tapi perspektif baru dalam pengasuhan anak juga. udah sering denger kan kredo "it takes a village to raise a child"? to build that village, it needs your own hands first, to carry and put the very first brick, and build the foundation. si orangtua dulu yang harus 'bergerak.' karena yang kita mau wariskan adalah nilai-nilai kita, bukan nilai-nilai orang lain. terlebih di penghujung seminar, si pembicara berkata, "apa banget sih yang dikejar? dunia dan seisinya gak ada artinya kalo anak kita udah terlanjur 'rusak.'"
apparently, that sentence hit adit harder than it did to me :))
![]() |
| pic from google search |
untuk membekali diri, sekarang ini objek yang sering gue browse adalah seputar transisi dari working mom menjadi stay at home mother (SAHM). salah satu thread favorit gue ini. gue juga mencoba menerima sebanyak-banyaknya masukan dan tanggapan dari orang-orang terdekat. gak pake defensif, gak pake denial, gue mau bener-bener membuka mata. begitupun kalo ada yang mempertanyakan, meragukan, atau bahkan ngetes keinginan gue untuk banting setir ini. gue jawab sebisa gue aja. kalo gue gak tau "jawaban"nya ya gue bilang i still have no clue.
one other thing, gue gak punya visi dan cita-cita jadi kayak amy chua. hahah. gue gak menargetkan anak harus jadi "superkid" atau "anak paripurna" begitu gue jadi irt. this is the best effort i can make as a mother, yaitu dengan berada di rumah, mendampingi dia, mengasuh dia. tanpa bantuan pihak lain. secara realistis, gue gak akan bisa menghalau segala rupa ancaman hal negatif di dunia untuk gak sampai di dia. gue hanya berharap dengan jadi SAHM gue bisa memberikan bekal yang cukup bagi anak gue untuk mampu menangkis, melawan, dan mengalahkan semua hal negatif itu. is that too much to ask? i hope not.
semoga setelah jadi SAHM,
one other thing, gue gak punya visi dan cita-cita jadi kayak amy chua. hahah. gue gak menargetkan anak harus jadi "superkid" atau "anak paripurna" begitu gue jadi irt. this is the best effort i can make as a mother, yaitu dengan berada di rumah, mendampingi dia, mengasuh dia. tanpa bantuan pihak lain. secara realistis, gue gak akan bisa menghalau segala rupa ancaman hal negatif di dunia untuk gak sampai di dia. gue hanya berharap dengan jadi SAHM gue bisa memberikan bekal yang cukup bagi anak gue untuk mampu menangkis, melawan, dan mengalahkan semua hal negatif itu. is that too much to ask? i hope not.
semoga setelah jadi SAHM,
- gue bisa menikmati dengan kerelaan sepenuh hati.
- gue, bumy, adit, bahkan bokap nyokap, semakin bahagia (hal ini bener-bener relatif kan? gak keliatan, gak bisa digembar-gemborin di socmed (kalo nyata, bukan pencitraan), maka semoga bisa terwujud melalui hal-hal positif yang akan kami alami kelak. amin).
- bumy, adit, gue, lebih sehat.
- adit bisa lebih fokus sama kerjaan dan karirnya semakin meningkat.
- bumy bertumbuh jadi anak yang berbudi pekerti luhur (ternyata kata-kata yang orba banget ini jadi bermakna sangat dalam pas gue udah emak-emak ya), percaya diri, dan "utuh."
- gue bisa jadi ibu yang positif, yang mendidik anak dengan sabar, yang bisa jadi sahabat dia, yang selalu berkata-kata baik, dan "pinter" (kalo ditanya, enggak lemot).
- gue selalu inget alasan fundamental why i choose to be irt, dan selalu inget what really matters to me in life.
- gue bisa mendalami hal-hal yang ingin gue lakukan dan pelajari tapi belum sempat selama jadi pegawai, kayak belajar ngaji, bahasa perancis (lagi), menjahit, berkebun, masak (heuheheu).
- gue bisa melakukan pekerjaan freelance melakukan hal-hal yang gue minati untuk pertama kalinya dalam hidup :D oh so excited about this.
- gue bisa sociable sama ibu-ibu di sekolah bumy dan di kompleks, hehe.
- gue bisa tetap keep in touch sama teman-teman lama, dan bisa dapetin teman-teman baru yang memperkaya hidup.
- semakin sering ketawa, for the right reasons, of course :D
amin ya ALLAH.


:D :D :D :D :D
ReplyDelete