17/01/2011

it's been there all along

beberapa hari kemarin, gue buka-buka lagi stok majalah parents (indonesia) lama yang numpuk di kamar. saat baru melahirkan dulu, adit ngebawain majalah-majalah ini dari kantor, sebenernya mereka punya ex-bos adit yang saat itu baru pindah. karena ditinggalkan begitu aja di kantor, kita pikir, daripada mubazir lebih baik jadi sumber ilmu buat ibu baru yang culun macam diriku kan (justifikasi alert) hehe...
secara random, gue ambil majalah edisi maret 2008, buka sambil lalu, trus gak disangka-sangka jadi excited! kok artikel-artikelnya bagus banget ya? beberapa topik yang diangkat seolah membaca kekhawatiran yang sering gue rasakan sebagai ibu amatir, misalnya "jadi ibu rumah tangga atau tetap kerja?", "temukan kebahagiaan sebagai orangtua baru", "pentingkah pre-school?", dan satu lagi yang gue lupa judul aslinya gimana, tapi tentang menghadapi batita yang tingkahnya diibaratkan manusia gua... hihihi.

dari artikel pertama, "jadi ibu rumah tangga atau tetap kerja?", gue jadi tau kalo sebaiknya ibu sebagai breadwinner tambahan, berhenti kerja di saat jumlah income-nya sepertiga atau bahkan seperempat dari pengeluaran keluarga. di situ juga disebutkan faktor-faktor pertimbangan lain, seperti 'kaget' menghadapi lingkup sosial yang mengkerut jauhh. awalnya sebagai pekerja terbiasa di antara temen-temen kantor, klien, dan lainnya, sementara sebagai ibu rumah tangga nanti lingkupnya cuma anak dan orang-orang yang di rumah. saran dari penulis artikel adalah untuk menjadwalkan pertemuan rutin sama temen-temen kita... baca ini gue jadi sedih, salah satu temen yang suka jadi pelampiasan gue to act my age udah melanglang buana ke london, huhuhu!

di artikel "pentingkah pre-school?", dibahas mengenai sesungguhnya kebutuhan anak usia TK adalah mengasah kemampuan motorik kasar dan halus, serta mengasah kemampuan sosial dan emosi. jadi sebenarnya hal-hal itu bisa didapat dari pendidikan di rumah, dan exposure anak ke lingkungan bermain di sekitarnya (tetangga). emang sih, seiring dengan semakin banyaknya perempuan yang bekerja, pendidikan di rumah (home schooling) jadi sulit dilakukan (hiksss), karenanya banyak yang memilih menyekolahkan anak di TK.
nah di artikel tersebut juga disebutkan beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan saat kita melakukan trial sebelum memilih TK. perhatikan apakah anak diberikan kesempatan bertanya, apakah anak ditanya oleh gurunya setiap habis melakukan kegiatan, dan pilihlah TK yang tidak menitikberatkan pada pengajaran berhitung dan membaca, karena sebenarnya tujuan TK adalah untuk menjadi sarana mengasuh kemampuan sosial dan emosi anak melalui bermain. pelajaran berhitung dan membaca adalah materi SD, jadi seharusnya anak usia TK tidak 'dituntut' untuk bisa/mahir melakukan kedua hal itu.

trus ini yang seru, tentang menghadapi batita yang tingkahnya diibaratkan manusia gua. batita mulai usia 2-3 tahun umumnya suka tantrum, marah dan kesal gak jelas. nah, di situ dijelasin kalo batita bukanlah miniatur orang dewasa. mereka itu manusia yang belum berkembang sepenuhnya. jadi, orang dewasa berpikir dengan otak kiri, sementara batita, karena otak kirinya belum sempurna berkembang, berpikir dengan otak kanannya. kalau kita merasakan emosi tertentu, kita akan otomatis menganalisanya sebelum kita melakukan aksi. sementara batita, merasakan emosi, dan 'bingung' harus melakukan apa terhadap emosi itu. makanya timbullah tantrum. cara batita mewujudkan emosi dengan marah-marah sambil bicara tidak jelas itulah yang diibaratkan dengan kelakuan manusia gua. nah, saat lagi tantrum, kita mau kasihtau mereka dengan omongan macam apapun, itu tidak akan berhasil karena mereka tidak bisa mencernanya dengan otak kiri yang belum sempurna. so to communicate with a caveman, you have to act like a caveman!

ini step-by-step praktis yang gue saring dari artikel itu:

- kita tunjukkan dulu kalo we know how they're feeling, by imitating their emotion! dari satu kasus nyata, si anak tantrum di toko mainan. yang si ibu lakukan adalah meniru tingkah laku si anak... anaknya ngomong marah-marah, ibunya niru "iya, kamu kessssell gak boleh beli mainan!", anaknya menghentak-hentakkan kaki, ibunya juga. emang sih, dia diliatin semua orang di situ karena dianggap freak haha... saran dari penulis sih kita cukup tiru sepertiga emosi anak kita aja, yang penting messagenya sampe, yaitu kita merasakan juga apa yang dia rasakan.
- miraculously, si anak akan menjadi agak 'adem', at least tantrumnya gak sebesar sebelumnya, karena otak kanannya mencerna bahwa emosi dia bisa dimengerti oleh kita. saat inilah kita kasih tau pembelajaran atau instruksi yang mau kita sampaikan. misalnya "kita akan beli mainan bulan depan, karena sekarang jatah beli mainan sudah habis" atau "kamu gak bisa makan es krim terlalu banyak karena nanti bisa sakit tenggorokan."

jujur gue belum pernah melakukan sendiri eksperimen ini karena anak gue belum mencapai 2 tahun hehe.. tapi penulisnya bilang, suaminya mencoba mempraktekkan teori ini ke dia, and it worked. yes as sexist as it sounds, tapi kita perempuan emang cenderung 'berpikir' dengan otak kanan saat lagi kesal atau sedih. gue seperti itu sih, maap ya sebelumnya kalo mengeneralisir :D

well, can't wait to read more of those parents indo magazine. nanti kalo ada yang menarik lagi, gue beberkan di sini (pertanyaannya, adakah ibu amatir selain diriku?) hehe... 

5 comments:

  1. tantrum....hmmm nice inpoh gan, jadi ngeh kenapa fakhri suka kadang-kadang ngambek yang sama sekali ibunnya engga ngerti alesannya ;p

    *ngacung ahhh karena ngerasa sebagai ibu amatir juga jeung ;D*

    ReplyDelete
  2. Ini bayi sumo apa ya.. heuheu..

    I noted the tips juga, tadi pagi Mary tantrum nguamuk-nguamuk karena gak gue kasih nenen. Jadi musti ngikut dia ngamuk2 gitu ya, hihi..

    ReplyDelete
  3. nanti kasih tau beta hasil try out tips di atas yaa, ibun-ibun :D

    ReplyDelete
  4. hahaha ini lucu tapi setelah dipikir-pikir bener juga. jadi nebak-nebak siapa yang nulis ya? gw kenal beberapa orang di parents indonesia :D

    ReplyDelete
  5. wahaha mungkin kalo sempat dan ingat, gue ceki-ceki nama penulisnya...

    ReplyDelete