beberapa hari lalu gue sedang ngobrol dengan seorang kawan, who recently has a new boyfriend. tiba-tiba dia bertanya ke gue, "kok tumben lu nggak kepoin cowok gue?" heran banget kayaknya dia, sampe harus bertanya begitu, haha. i have to admit, kalau gue ini super kepo *terutama* di urusan percintaan orang lain xD apalagi temen-temen yang single. wajar banget sih gue rasa, namanya juga emak-emak kurang drama.
to be honest, gue dibuat semacam terhenyak sih oleh pertanyaan itu. and i just answered with the only thing i've been feeling: "iya nih.. gue akhir-akhir ini lagi agak gloomy sejak temen gue meninggal."
and that's the only truth i know. kepergian weich, kepergian mendadak bapak mertua, semua fakta dan peristiwa itu terhidang. selalu ada pilihan, untuk menjalaninya hingga semua dampak dan perasaan yang ada berlalu, atau coba memaknainya sembari melaju. and i chose the latter.
gue jadi tersadar kalo makna yang gue lekatkan pada sebuah peristiwa itulah yang menentukan seperti apa respon gue….
gue jadi tersadar kalo makna yang gue lekatkan pada sebuah peristiwa itulah yang menentukan seperti apa respon gue….
selama ini gue tau, kalau hidup cuma sementara. we are merely passerbys. kedua peristiwa kematian orang terdekat gue di bulan juli lalu sama-sama terjadi secara tiba-tiba. none of them had a chance to say goodbye or put some kinda closure to their life. mereka sama sekali nggak sakit sebelumnya. bapak mertua gue lagi seneng-senengnya menanti kehadiran cucu ketiga yang bakal tinggal di rumahnya. weich juga lagi seneng-senengnya menapaki kehidupan baru di sydney.
peristiwa kematian mereka membuat gue jadi sadar kalau selama ini gue nggak paham apa itu kematian.
gue tau, tapi gue belum punya kesadaran yang tepat tentangnya.
pengetahuan gue itupun masih sama dangkalnya dengan yang gue miliki sejak gue masih duduk di bangku SD. yaitu bahwa kematian berarti perpisahan karena kita nggak akan pernah bertemu orang itu lagi. bahwa kematian itu hal yang nggak nyaman buat dibahas. harus dilekatkan dengan kata "amit-amit" atau "pamali." bahwa kematian, dan bahkan pembicaraan tentang kematian, harus ditunda, didorong sejauh-jauhnya ke pojok ruangan. lupakan tentang itu sebisa mungkin. enjoy LIFE. live it to the fullest. just-don't-think-about-it… about death.
dan karena pemikiran itulah, gue jadi menganggap bahwa it can't happen to me, nor to my family, nor to my closest friends. it shouldn't happen to us! - because we are the people that live everyday and strive to put meaning in it, and will be successful in achieving things we're meant to achieve.
how silly and clueless and misguided i must've been… semua karena pemaknaan gue yang salah.
gue nggak sadar kalau kematian itu bersisian begitu dekat dengan kehidupan. dan bahwa hanya dengan memahami, mendalami, dan merangkul adanya kematianlah kita bisa benar-benar menghidupi hidup…
this is how i realize that i've been trying to survive - no, not living - inside a bubble. gelembung pemikiran dan kepercayaan yang rapuh, yang gue buat untuk melindungi diri sendiri dari hal-hal 'menakutkan' yang mengingatkan gue pada konsep kematian.
hari demi hari melulu gue isi dengan bagaimana caranya supaya bisa 'eksis.'
gimana supaya gue bisa meninggalkan nama besar di dunia. atau gimana supaya hidup gue enak, terhindarkan dari kemiskinan. gimana supaya gue bisa melangkahkan kaki gue ke seluruh penjuru dunia. gimana supaya gue dapat ilmu sebanyak-banyaknya. gimana supaya gue "sukses."
as if that really even matters….
seorang mayit nggak akan peduli whether dia dielu-elukan atau dihina sama orang-orang yang masih ada di dunia. karena nggak akan ada efeknya lagi buat dia…
cuma sedikit banget yang bisa dibawa ke alam selanjutnya. and it's surely not wealth, pride, or knowledge.
cuma amal baik kita doang….
weich dan bapak mertua gue emang bukan manusia sempurna. gue tau celah-celah kekurangan mereka just like they knew mine. tapi mereka benar-benar berhati emas. banget. keduanya nggak punya personality yang sama tapi SELALU menolong orang lain. they shone love through their deeds. yang satu meninggal di usia 33 tahun, sebulan setelah ulang tahunnya. yang satu di usia 67 tahun, hanya tiga hari setelah hari ulang tahunnya. keduanya punya mimpi dan rencana-rencana besar. namun keduanya pergi tanpa sempat mewujudkannya…
gue jadi tersadar kalau masih memaknai kematian sebagai akhir dari segalanya. as a sad ending to a life not yet fulfilled. padahal kematian adalah awal kehidupan baru, di alam yang berbeda.
bedanya, di sana kita hanya tinggal merengguk konsekuensi dari apa-apa yang udah kita buat di alam dunia. and that's when i realized that weich and my father in law would be just fine…
they have nothing to regret. they're at the best place they can be now.
dan 'tugas' gue sekarang hanyalah mendoakan mereka, dan MENCONTOH bagaimana agar gue bisa mengumpulkan banyak amal baik di dunia seperti mereka.
bismillah… semoga gue bisa bangkit dari rasa kehilangan dan kebingungan ini.
semoga gue bisa terus mengirimkan cinta kepada mereka yang telah mendahului.
dan semoga 'kesadaran' ini bisa membawa gue untuk lebih dekat denganNya.
No comments:
Post a Comment