hey, it's august already!
bukaaan, bukan mau ngereview resolusi entah-apa-itu kok haha. gue justru mau memeringati sebuah tonggak sejarah dalam idup, sesuatu yang sifatnya sangat esensyal. yaitu tepat setahunnya gue kembali bekerja. #backtowork beibih! kekekek...
semangat banget ya kayanya? apa iya secara riil gue (masih) segitu bersemangatnya?
ngejawabnya nggak bisa plek-plekan "iya dong!" atau "puhleeez i can't wait to be back to gabut SAHM life" doang, tentunya. lagian nggak bisa ngoceh panjang-lebar dong awak kalau nggak pake bumbu-bumbu drama kehidupan dulu 'tuk menjawabnya.
gue memilih untuk memakai "alat ukur" berupa career triangle seperti yang pernah dibahas di blogpost ini beberapa waktu lalu. kilas balik dikit, career triangle alias segitiga karir adalah pengelompokan pilihan dan konsekuensi karir menjadi 3 hal besar, antara lain money - fulfillment - time.
jadi mari kita telaah!
>duit
ya tentunya enak ada pemasukan (lagi), bisa berkontribusi lagi buat keluarga. ya secara kita mahzab keuangannya satu pintu, semua plek jadi satu. ya gaji, ya bonus, ya utang, hahaha. eh kecuali duit dari freelancing sih biasanya masuk ke kantong gue sendiri xP
tapiii as we all know, buat kelas menengah nan mandiri kayak kami ini (aamiin ya Allah), bekerjanya gue juga berarti memunculkan pos-pos pengeluaran baru juga.
di bulan pertama gue ngantor, kita ngekos dan titipin bumy di daycare. sekarang, beralih jadi pakai jasa ART dan supir. belum lagi hidden cost of being a working mom (tadinya gak mau nulis 'working mom' tapi 'worker' aja for the sake of the feminist inside me, tapi dipikir-pikir lagi, Adit kok gak punya hidden cost macem-macem buat jadi worker, haha).
sehubungan status pekerjaan gue yang sebagai karyawati BUMN, makna "duit" di career triangle bisa meluas jadi kompensasi dalam bentuk yang lain, sih. misalnya benefit asuransi kesehatan sesudah pensiun, daan kesempatan ambil pensiun dini. juga manfaat intrinsik berupa sifat pekerjaan yang terbilang 'safe' - dalam artian lebih 'stabil' dibandingkan industri tempat Adit kerja.
kesimpulan sementara yang didapat: it *does* fel good to earn my own money. terlepas dari seberapa besar kontribusi yang diberikan, tapi perasaan berdaya alias empowered itu yang tak ternilai.
>waktu
kalau waktu dimaknai sebagai kesempatan untuk masih punya waktu atau "me time" di luar kantor, ya alhamdulillah sejauh ini gue masih sempat punya me time, hehe.
seandainya gue tetap mau beraktivitas freelancing nulis atau blogging pun bisa dicari waktu ngerjainnya. tapiii lagi-lagi seperti biasa, seperti yang sudah-sudah, BALIK LAGI ke pinter-pinternya sang diri nerapin time management. and i still suck at that.. hkahkahkahkk. makanya makin minim aja kontribusi yang gue buat ke blog manapun. jelek sih efeknya, gue jadi kerap kelu dan gugup untuk bertutur. skill nulis juga rasanya nggak nambah-nambah.
kalau dipikir-pikir lagi, bukannya porsi waktu tuh segitu-gitu aja buat semua orang di muka bumi? we can only make the best of what we're given. jatah waktu idup barulah berbeda-beda...
the concept of time even says that it's relative. setahun bisa terasa lama when we're stuck at a job we hate. tapi juga bisa terasa terlalu cepat ketika kita mengenang tahun-tahun yang udah terlewatkan.
gue jadi inget perkataan tentang bagaimana pada hakikatnya setiap peristiwa itu netral. kitalah yang punya pilihan mau gimana memaknainya dan mau seperti apa kita bertindak (free will, remember?). jadi, kayanya bagi GUE untuk bisa megang banyak peran dengan baik (bukan sempurna loh), gue bukan cuma perlu nerapin time management yang baik, tapi lebih bermanfaat kalau punya MOOD MANAGEMENT. hahaha.. mood memegang kendali banget sik di gue. gimana cara ngerebut setirnya yak?? aslik ini mah derajat kesulitannya di awang-awang buat gue.
but! never say never, sister.
(so, where should I start? *berbisik* *clueless*)
kesimpulan sementara: kerja atau jadi IRT nggak ngaruh; gabut bisa di mana aja kapan aja x)))
>eksistensi/fulfillment
okeh ini dia yang seksi menggigit.. perempuan bekerja dan eksistensi.
jujur aja yak, i do feel a lot better sejak bekerja lagi. as i wrote, i think i value myself more karena bisa berkontribusi buat (keuangan) keluarga.
gue juga seneng bisa keluar rumah untuk suatu tujuan - yaitu ngantor - setiap harinya. ini mungkin tepat buat orang seperti gue, yang kontrol dirinya eksternal, alias perlu hal-hal di luar diri sebagai motivasi.
meskipun begitu, di sisi lain, gue merasa kantor gue nggak bisa memfasilitasi personal growth gue. ada yang bilang you can't have it all, dan itulah yang terjadi. kalau di bisnis dibilang dari 3 kata sifat faster, better, cheaper, lo cuma bisa dapet 2 dari 3. nah gue jadi mau ngarang teori. mungkin in terms of kerjaan, kata-katanya bisa diganti dengan: bikin kaya, bikin pinter, bikin bahagia. the same rule applies, cuma 2 dari 3 yang bisa didapet. hahahha... pure ngarang sik.
kalo gue balik lagi liat ke kondisi diri, apakah kerjaan gue bikin kaya dan bahagia? well, in a way, it is. gue jadi punya income sendiri yang nominalnya CUKUP buat gue. gue juga somewhat "bahagia" karena bisa
MUNGKIN... penyebabnya adalah gue emang nggak mau ambil kesempatan untuk jadi lebih "pinter." karena gue masih mau bermain di ranah yang gue kenali aja or in other words: gue nggak mau melakukan lebih dari apa yang ada di job desc gue. belajar bisa di mana dan kapan aja, 'kan, kalo kata kakek bijak di anggur cap orangtua.
it's all in my hands.
kesimpulan: BELUM merasa fulfilled karena belum mau belajar.
ya gitu deh...
sekarang, gue nggak bisa membayangkan gimana setahun kemarin gue bisa 'bertahan' hidup di ranah domestik thok. dan masih teringat gimana setahun kemarin gue sedang dengan beratnya menjalani tahapan transisi peran ini... ketika gue tengok foto-foto dari periode setahun lalu, gue ingat itulah masa-masa di mana gue dan juga Bumy masih 'kaget' karena gue udah harus ngantor lagi.
muncul rasa mellow sih... liat Bumy kepalanya diplester karena dinakalin temennya di daycare T__T
keinget kita suka makan malem bebek goreng bertiga di dalem kamar kosan karena ibu kosannya jual bebek goreng haha...
ahamdulillah waktu itu kita DIMUDAHKAN banget nyari kosan maupun tenaga antar-jemput bumy dari sekolah.. huhuhu. jadi berasa kalau yang suka disampaikan di majelis tafakur itu bener, "ketika Allah sedang menguji kita, jangan MERONTA... justru kita harus larut dan berserah diri padaNya" karena Dia memang memberikan ketidaknyamanan, tapi tidak pernah memberikan keburukan.
| we were on a dinner after I worked. I remembered he told me he was missing me soooo much T___T |
| di kamar kos |
| dinakalin anak daycare!!! T____T |
| a coincidence? I guess not.. |
*bookmark blogpost ini sebagai referensi kalau lagi kumat "meronta"nya hehehe..
*the title is copied from an article's title on the Magdalene.

No comments:
Post a Comment