19/01/2017

EoH: Toastmasters

udah 2017 tapi masihhhh bahas 2016 aja... gagal moveon much, huh?
sebenernya murni alasan teknikal aja sih, yaitu karena gue nggak kunjung sempat (baca: males) menuangkan hal-ihwal kejadian 2016 di blog. I've learned that it's not healthy, to just let moments in life pass me by. mengurutkan dan menceritakan ulang apa-apa yang gue alami dan rasakan sebenernya paling membantu gue untuk menata pikiran dan hati. 
bisa dibilang ini 'kebutuhan' tipikal seorang outgoing introvert, buat menggali hikmah dari ini dan itu. because I just like to keep working on myself. 

well, kali ini gue mau mengingat-ingat lagi apa aja hal 'baru' yang gue cicipi di 2016. gue berharap bisa menemukan semacam pola sih dari paparan ini... thus I know better how to improve myself. 
let's start from

- kenal, dan lalu ikut jadi member Toastmasters
ini nih, kegiatan positif yang paling mewarnai 2016 gue. what is it?? gue juga dulu bertanya-tanya begitu. apaan sihhh ini, kok namanya aneh? jangan-jangan MLM?

jadii, suatu hari sahabat gue di kantor, Wieke, ngajak "tan, ikutan toastmasters, yuk!" 
karena gue 80% yakin doi bukan tipe yang berkecimpung di dunia MLM, maka pas Wieke cuma ngasih jawaban "udah, pokonya ikut dulu aja tan, biar tau," gue pun manut aja.
ternyata setelah gue ikutin, kegiatan ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan toast atau roti panggang, heeu... 

ditelaah dari wikipedia, Toastmasters International adalah organisasi nonprofit yang sifatnya edukasional, yang tujuannya membantu para anggotanya untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, public speaking, dan juga leadership. 

kalau gue jelasin dengan bahasa bodoh, di Toastmasters ini kita cuma perlu dateng, dan ngomong. 
kebetulan club TM di kantor gue memakai kurikulum bahasa inggris, jadi manfaatnya jelas banget buat gue, ya untuk melatih lidah terbiasa berucap dalam bahasa inggris, juga melatih pikiran buat menyusun omongan in english. 
ini tantangan bangetttt buat gue. per-bahasa-an is definitely one of my passions, I love learning about it. tapi gue cuma terbiasa mendengar dan menulis in english, bukannya berbicara. gue kerap merasakan lidah gue kelu kala harus bertutur dalam bahasa enggris. gagap, bingung mau ngomong apa. kalau nulis bisa deh sok-sokan jadi grammar nazi, tapi pas ngomong? ke laut aja tuh grammar semua. besides, there's a safety net in writing, because you can edit what you're saying. it's a whole different thing when it comes to speaking. 


source
dalam setiap Toastmasters meeting, ada sesi yang disebut Table Topic. di sini, kita dikasih topik atau pertanyaan secara impromptu alias dadakan (yang biasanya terkait tema meeting kali itu). bukan cuma harus bisa "menjawab" atau ngarang speech yang nyambung sama pertanyaan dadakan tadi, kita juga dikasih batas waktu untuk ngomong, yaitu selama 2 - 2,5 menit doang. 
menantang banget, bukaaan, untuk bisa mengutarakan gagasan dalam waktu singkat? omongan kita pun harus 'juntrung' - lebih bagus lagi kalau terstruktur dan menarik. tapi, semakin susah, semakin nyenengin juga buat gue. I totally enjoy the stuggle to find the answer, or to compose something worth speaking about. 

jangan lupa, di sini kita ditonton.. hence the *public* speaking. 
jujur yah, gue itu grogian banget. grogian parah. sobat-sobat masa SMA tuh tau banget gimana gue yang talkative bahkan gak tau malu ini bisa berubah kicep begitu disuruh tampil di depan khalayak. 
melalui Toastmasters, gue belajar sesuatu tentang diri gue sendiri. 
sesuatu yang baru disadari... padahal udah lama dirasakan. 
bahwa gue nggak mau making a fool out of myself in public, or in short, gue ini jaim-an banget. mungkin karena ego gue terlalu tinggi ya... atau gue somehow menikmati pakai topeng yang berbeda-beda. almarhum sahabat gue, Weich, pernah bilang, "Lo tuh anak bandel yang pandai berkamuflase jadi anak baik-baik, tau gak, Chom." and I guess that is somewhat true. gue nggak mau membiarkan diri gue yang "sebenar-benarnya (if there's such thing)" diketahui oleh orang yang berada di luar lingkaran nyaman gue. it could be people I'm trying to impress, teachers, colleagues, relatives, strangers, or even my own parents. 
I was afraid. and I realized that my shame comes from fear. the fear of being judged, and the fear of being rejected. 

balik ke Toastmasters, gue merasa seseorang harus benar-benar datang dulu buat tau sendiri gimana atmosfer membangun dan saling menolong begitu terasa di sini. because there, you are ALLOWED to make mistakes. you are allowed to have flaws.. to say the wrong things.. because making mistakes gives you the chance to learn. 
isn't that beautiful?

dari pertemuan demi pertemuan Toastmasters yang hadiri selama 2016, gue jadi sadar kalau speech yang paling 'menarik,' adalah speech yang 'jujur.' you can always tell the difference, I believe. 
terasa banget bedanya ketika seseorang ngomongin tentang what he/she knows, atau how much he knows about something, dengan what he/she feels, believes, likes, yearns, or experiences. those things come from the heart, and it's ALWAYS interesting. their face will light up, they will talk out of enthusiasm, and they make other people want to listen. 

I guess Toastmasters does more to me than just improving my ability to speak in english... it makes me realize, that when I open up, I become better. 
speaking in front of people gives me the chance to allow myself to make mistakes. to accept correction and suggestion. and ultimately, to allow myself to be ME, to like me for who I really am. which is a person with sooo many rooms for improvement. and that is totally okay. 

wajar dong ya, kalau gue ketagihan? 

hhh, nggak kerasa ngocehin soal toastmasters udah cukup buat jadi satu entry sendiri. 
sebelumnya gue pernah bahas juga tentang gimana "kurikulum" leadership di toastmasters disusun dengan sedemikian KERENnya di blogpost ini. atau tentang gimana toastmasters meeting selalu kasih insight dan bikin hati tercerahkan, in its unique, supportive, ways, di blogpost ini

last but not least, I met some of the most interesting and inspiring people in my office through this club. 
ada bu Attie yang udah mau 70 tahun tapi masih getol banget belajar, meng-improve diri, dan menebarkan semangat itu ke orang lain.
ada pak Anggoro yang SUPER DUPER keren (wrote about him the other day). 
ada Ikkuyo yang native Japanese (she teaches us to be on time and polite and respectful), dan berusia di atas 50 tahun, tapi masih wara-wiri untuk jadi mentor klub kita tanpa dibayar(!). 

just like an interesting - and inspiring - speech, it's not because they're such perfect people. not at all. but it's their enthusiasm, truthfulness, and sincerity to be themselves and in giving feedback for others that make other people feel accepted and, therefore, improved around them. 

Toastmasters obviously brings me to a higher level in terms of skills, and also in terms of personal maturity.
kalau ada yang berminat ikutan Toastmasters mungkin bisa Googling "Toastmasters club in Jakarta" ya untuk menemukan club yang cocok. club di kantor gue kebetulan hanya untuk internal, hehe, but maybe we could collaborate through club visiting activities. 



No comments:

Post a Comment