trending topic saat ini di dunia maya (region ibu-ibu, di mana aktivitas maya gue paling tinggi :p) adalah soal hijab. gue emang gak eksis apalagi terkenal urusan blogging atau twitter, tapi gue cukup aktif sebagai observer *ehem* nah, sehubungan ramainya si hijab ini dibahas, gue jadi terinsipirasi untuk mengenang kembali pengalaman awal gue berjilbab (btw gue lebih seneng nyebut jilbab daripada hijab. lebih endosyah aja).
gue mulai kepikiran untuk pakai di awal 2005. baru kepikiran ya, belum berkeinginan. pertengahan akhir 2004 gue udah mulai nyusun skripsi dan jarang ke kampus. kebanyakan aktivitas gue dihabiskan di rumah, browsing internet, dan somehow, that made me wonder what i was gonna do with my future. lulus dari kampus itu kan sebuah langkah besar, karena gue seharusnya udah tau mau melakukan apa untuk mengisi hidup gue. in terms of career, setidaknya. but the answer I got was close to nothing. nada.
jadi, mulai deh fase hidup galau -__- galau di sini, gue jadi mulai merasa insecure, gak punya arah untuk dituju. gue jadi mempertanyakan 'pilihan' gue untuk kuliah IT sementara gue nggak bisa membayangkan diri bekerja 8 to 6 sebagai pegawai, pegawai IT pula! i didn't know where my position was in this world, nor what I could contribute to make my life meaningful. *lebay yah, tapi sejujurnya begitu*
lalu pada desember 2004, bencana tsunami di aceh terjadi. exposure media terhadap bencana ini sedemikian besarnya sehingga gue ingat hari demi hari melihat tayangan dari dan tentang aceh. being an already fragile person that i was, the massiveness of the tragedy and the 'message' it conveyed made me contemplate deeper. life is fragile. we don't know how it would end, nor where, nor when.
tak lama setelah itu, gue dengar kabar teman SMP gue, cewek, meninggal karena sakit yang cuma seminggu. dia seumuran sama gue, dan yang gue ingat, dia orangnya ceria dan aktif banget (not that those two related, it's just how i remembered her). it shook me harder.
gue nggak tau awal mulanya gimana, yang jelas gue mulai mendekatkan diri ke hal-hal berbau islam. gue baca banyak buku berbau islam, berusaha ngebenerin ibadah, dan bergabung ke komunitas remaja islam yang namanya sama dengan gue (halah). salah satu sosok yang berperan sangattt besar adalah bunda nuri. gue inget di masa-masa galau gue ngintilin beliau ke kampus psikologi UI dan kosannya :') awalnya sih gak ada niat mencari ilmu agama atau semacamnya tuh saat main dengan bu akhwat ini (eh dulu masih miss ding). i just felt peaceful being around her ;'))) i felt like she's one of verrrry few persons who understood my 'new'found interest. karena harus gue akui, teman-teman yang kenal gue sejak dahulu, akan terbelalak kalau tau gue tertarik sama hal-hal relijius. circle of friends gue-with all due respect-mayoritas non-agamis/hedonis, hahaha, kecuali bunda nuri ini, yang entah kenapa mau sahabatan sama gue sejak SMU. padahal dari SMU doi udah jadi akhwat, sementara gue ber-rok mini + long socks niru-niru anak tarki :P #aib.
jadilah dulu gue suka nginep di kosan nuri, nongkrong di kampusnya, bahkan pernah ikut sesi kuliah di jurusan psikologi. gue inget bersama doi, gue selalu diajak sholat, lima waktu pula. dan saat berada di musholla kampus UI, gue liat banyak akhwat yang nongkrong di situ untuk membaca Al-Qur'an. hal ini mungkin biasa aje banget buat mereka yang hidupnya 'akrab' dengan hal-hal relijius, tapi bagi gue, melihat dan berada di dekat hal itu membuat terkagum-kagum. dan rindu. perasaan rindu yang gue maksud itu seperti berkeinginan masuk islam (all over again). dan rindu itu sangaaaat kuat, menggedor-gedor batin.
bicara tentang minimnya dukungan yang gue dapatkan untuk bisa terkoneksi lagi dengan agama gue, hal serupa juga gue temui dari keluarga. nyokap gue malah khawatir gue sering bolak-balik ke depok. i have to admit bahwa dia punya stigma terhadap jilbaber, apalagi yang jilbabnya panjang (slash syar'i, hehe). dia mengungkapkan kekhawatirannya dengan gamblang ke gue, meskipun dia gak melarang gue mau ngapain selama gue lapor pergi ke mana dan mau pulang kapan. keluarga gue tidak relijius. we're pretty much democrats in terms of religion. nyokap bokap gue (cuma) nyuruh sholat, puasa, dan mendaftarkan gue dan adik-adik ke guru ngaji. tapi kita nggak pernah punya ketertarikan atau agenda khusus untuk kegiatan berbau agama.
gue ingat suatu hari sepulang kuliah, nyokap ngajak gue pergi berdua, terserah gue mau ke mana, katanya. berhubung gue demen belanji, gue bilang aja mau ke kemang, nengok butik favorit masa muda (yang sekarang udah digusur aje) boys meet girls atau apa yah namanya. di sebrang butik tersebut ada bakmi japos, setelah gue kuras dompet nyokap, kita makan di situ. kondisi hubungan gue dengan nyokap gak pernah akrab dan intim seperti di film-film. nyokap gue wanita sumatera yang pengasuhan anaknya bergaya old school. meaning: gue nggak bisa curhat apa adanya sama dia, dia sangat ekspresif (yells a lot when she's mad, laughs hard, says what she means), sangat controlling, dan menuntut kepatuhan dari seorang anak. tapi yang gue inget sampai sekarang, momen di bakmi japos itulah satu-satunya kejadian nyokap gue ngomong 'dalem' sama gue, memperlihatkan kerapuhannya. she said "kak, mama takut kakak berubah."
pengen mewek ga sih :(((
dia bilang, dia gak mau gue jadi penganut islam fanatik kayak yang dia dengar dari berita. dia khawatir gue bakal nurut disuruh kawin dan dipilihin jodoh sama guru ngaji gue (as if there had been any deh si mamah), dia takut gue jadi orang yang gak dia kenal dan gak dia sukai.
lantas gue paparkan ke dia keinginan dan visi yang ada di kepala gue. gue cuma pengen tau ilmu agama, karena gue merasa gak punya kompas ke mana harus melangkah dan gue harus menjadi manusia seperti apa. and then i promised her i would not be a stranger to her. i would not disappoint her.
nuri dulu bilang "mungkin ini izzah/harga diri lo sebagai muslim yang sedang terdorong ke luar." gue rasa iya. gue lagi mencari identitas, dan hal pertama yang terlintas di kepala adalah bagaimana mendefinisikan diri gue sebagai muslim-stempel yang udah ada sejak gue lahir ke dunia.
maret 2005, gue kerja di citi, dan sebulan kemudian, gue memutuskan pakai jilbab ke kantor. it was somewhat out of the blue. bukan keinginan untuk pakai jilbabnya yang tiba-tiba datang, melainkan kenapa harus hari itu. gue ingat berpikir "idup cuma satu kali." and i wanted to do it 'right.' at least dengan mengikuti aturan agama yang gue anut dalam hal berpakaian, yaitu bagaimana kita menampilkan diri dan ciri kita di depan umum sebagai muslim. beberapa saat sebelum D-day, gue udah mulai membiasakan diri pakai baju lengan panjang atau rok panjang. dan pastinya temen yang pertama ngeh sama perubahan gue adalah weiche the fashion police. he bluntly asked, "cin, lo mau pake jilbab ya kok pake rok dan baju panjang gitu mulu?" hihi dasar my soulmate.
tapi yah emang dasar gak modis, gue gak pernah sengaja mengalokasikan waktu apalagi duit untuk mengoleksi rupa-rupa baju dan jilbab.
jadi on D-day, which was senin, gue inget heboh nyari-nyari scarf nyokap gue yang bisa dipakai sebelum berangkat kerja. kebetulan saat itu nyokap gue mulai suka pakai jilbab kalau lagi hang out atau pergi kerja, jadi beliau mengoleksi scarf untuk dijadikan penutup kepala plus ciput-ciputnya. kenapa gak gue siapin semalam sebelumnya? pertimbangan gue, kalau dari malam udah 'ketauan' berniat pakai jilbab besoknya, bisa-bisa terjadi interogasi dan persidangan sepanjang malam. jadi gue pilih untuk memanfaat pagi hari senin yg sibuk untuk meminimalisir durasi drama.
jadilah persidangan tersebut terjadi dalam perjalanan menuju kantor. bokap nyokap yang saat itu masih bekerja dan selalu berangkat bareng gue, mengutarakan disapproval mereka. mulai dari khawatir gue gak konsisten, sampai khawatir gue susah cari jodoh gara-gara berjilbab. i know, silly it was, tapi gue yakin gue akan mengkhawatirkan hal-hal konyol semacam itu juga sebagai orangtua (eh i guess i already did now).
percakapan dalam mobil pagi itu tidak berjalan mulus. gue inget gue marah-marah dan nangis :( kalau dipikirkan sekarang sih durhaka banget yah eike, yelling ke orangtua. what i felt that time was i had to defend it, my decision to wear jilbab. pada akhir percakapan, bokap nyokap gue 'nyerah,' they left the decision to me. your decision, your consequences to bear.
on the other hand, i felt relieved. i felt that's the way i should have been all along.
selain dari orangtua, respon yang harus gue hadapi adalah dari temen-temen. gue tulis di atas kalau mereka DULU tipe yang non-agamis/hedonis, hehe (karena kebanyakan udah berubah seiring dengan usia yang tambah tua). nah saat itu reaksi mereka yang "ciiin, for real?" tapi syukurlah jarang terjadi kondisi gak nyaman dalam pertemanan kita. gue juga tau diri, kalau mereka dugem ya gue gak nimbrung. sebaliknya saat kita lagi jalan bareng seperti ngemol dan gue minta break untuk sholat, mereka juga hayuk aja.
beda dulu sama sekarang, respon yang harus gue hadapi kan seputar keluarga dan teman kantor plus main aja ya. kalau sekarang, seiring dengan semakin mudahnya akses ke dunia maya, otomatis kita juga jadi eksis secara virtual. mungkin ini tantangan bagi para jilbaber baru yang cukup eksis di dunia maya. tindakan sebagian dari mereka yang hobi memajang hijab of the day mendapat reaksi yang beragam. ada orang-orang yang kagum, ada juga yang lebih kritis seperti menanyakan "mana sisi spiritualnya?"
internet memberikan exposure ke banyak manusia yang gak kita kenal maupun gak kenal kita, jadi para jilbaber baru ini juga harus menyiapkan diri menampung respon dari beragam pribadi itu sih menurut gue.
yang jelas, tantangan berjilbab bukan cuma sampai di tahap menerima berbagai reaksi atas 'perubahan' kita, tapi menurut gue, yang paling berat justru gimana tetap istiqomah. sampai saat ini, alhamdulillah gue masih pakai jilbab. tapi emang kondisi keimanan selalu naik turun, ujian demi ujian harus dialami dalam proses menjadi muslimah yang baik.
to be honest, wujud naik turun ini di gue yah kadang gue males menambah ilmu agama, kadang pengen. kadang x, kadang y.
karenanya gue mencoba sebisa mungkin gak mengkritik atau menasehati orang lain yang berjilbab harus bersikap gimana atau berpakaian seperti apa, kecuali kalo emang diminta. hahaha cari aman aja yah gue :P abis gimana dong, soalnya gue merasa belom punya pengetahuan yang cukup sih untuk bisa mendakwahi orang dan semacamnya. daripada omdo, mendingan gue anggap ini pe-er guna meningkatkan kualitas diri sebagai muslim. seperti layaknya saat mendapat peran baru sebagai ibu, gue browsing dan cari ilmu sebanyak-banyaknya seputar pengasuhan dan pendidikan anak (not to mention the gadgets and the belanjaans hehe). jadi demi menjadi muslimah yang diharapkan lebih baik, harusnya emang gue terus meng-update knowledge dan meng-upgrade level keimanan #self-reminder.
tapi kalau ngomongin fashion dalam berjilbab, sejauh ini gue cuma pernah nyobain bahan sutra, paris, sama katun. gaya berjilbabnya juga sama terusss hahaha... abis muke gue bentuknya bulet, gak pantes dimacem-macemin ah :p gue juga anti peniti dan pentul, maunya yang praktis-praktis ajahh. #gaadayangnanya
sekarang mah mari kita rayakan aja deh semakin berkembangnya ragam fashion untuk wanita berjilbab. liat, sortir, terus apply mana yang paling cucok dengan diri kita. cheers to all jilbabers!
gue mulai kepikiran untuk pakai di awal 2005. baru kepikiran ya, belum berkeinginan. pertengahan akhir 2004 gue udah mulai nyusun skripsi dan jarang ke kampus. kebanyakan aktivitas gue dihabiskan di rumah, browsing internet, dan somehow, that made me wonder what i was gonna do with my future. lulus dari kampus itu kan sebuah langkah besar, karena gue seharusnya udah tau mau melakukan apa untuk mengisi hidup gue. in terms of career, setidaknya. but the answer I got was close to nothing. nada.
jadi, mulai deh fase hidup galau -__- galau di sini, gue jadi mulai merasa insecure, gak punya arah untuk dituju. gue jadi mempertanyakan 'pilihan' gue untuk kuliah IT sementara gue nggak bisa membayangkan diri bekerja 8 to 6 sebagai pegawai, pegawai IT pula! i didn't know where my position was in this world, nor what I could contribute to make my life meaningful. *lebay yah, tapi sejujurnya begitu*
lalu pada desember 2004, bencana tsunami di aceh terjadi. exposure media terhadap bencana ini sedemikian besarnya sehingga gue ingat hari demi hari melihat tayangan dari dan tentang aceh. being an already fragile person that i was, the massiveness of the tragedy and the 'message' it conveyed made me contemplate deeper. life is fragile. we don't know how it would end, nor where, nor when.
tak lama setelah itu, gue dengar kabar teman SMP gue, cewek, meninggal karena sakit yang cuma seminggu. dia seumuran sama gue, dan yang gue ingat, dia orangnya ceria dan aktif banget (not that those two related, it's just how i remembered her). it shook me harder.
gue nggak tau awal mulanya gimana, yang jelas gue mulai mendekatkan diri ke hal-hal berbau islam. gue baca banyak buku berbau islam, berusaha ngebenerin ibadah, dan bergabung ke komunitas remaja islam yang namanya sama dengan gue (halah). salah satu sosok yang berperan sangattt besar adalah bunda nuri. gue inget di masa-masa galau gue ngintilin beliau ke kampus psikologi UI dan kosannya :') awalnya sih gak ada niat mencari ilmu agama atau semacamnya tuh saat main dengan bu akhwat ini (eh dulu masih miss ding). i just felt peaceful being around her ;'))) i felt like she's one of verrrry few persons who understood my 'new'found interest. karena harus gue akui, teman-teman yang kenal gue sejak dahulu, akan terbelalak kalau tau gue tertarik sama hal-hal relijius. circle of friends gue-with all due respect-mayoritas non-agamis/hedonis, hahaha, kecuali bunda nuri ini, yang entah kenapa mau sahabatan sama gue sejak SMU. padahal dari SMU doi udah jadi akhwat, sementara gue ber-rok mini + long socks niru-niru anak tarki :P #aib.
jadilah dulu gue suka nginep di kosan nuri, nongkrong di kampusnya, bahkan pernah ikut sesi kuliah di jurusan psikologi. gue inget bersama doi, gue selalu diajak sholat, lima waktu pula. dan saat berada di musholla kampus UI, gue liat banyak akhwat yang nongkrong di situ untuk membaca Al-Qur'an. hal ini mungkin biasa aje banget buat mereka yang hidupnya 'akrab' dengan hal-hal relijius, tapi bagi gue, melihat dan berada di dekat hal itu membuat terkagum-kagum. dan rindu. perasaan rindu yang gue maksud itu seperti berkeinginan masuk islam (all over again). dan rindu itu sangaaaat kuat, menggedor-gedor batin.
bicara tentang minimnya dukungan yang gue dapatkan untuk bisa terkoneksi lagi dengan agama gue, hal serupa juga gue temui dari keluarga. nyokap gue malah khawatir gue sering bolak-balik ke depok. i have to admit bahwa dia punya stigma terhadap jilbaber, apalagi yang jilbabnya panjang (slash syar'i, hehe). dia mengungkapkan kekhawatirannya dengan gamblang ke gue, meskipun dia gak melarang gue mau ngapain selama gue lapor pergi ke mana dan mau pulang kapan. keluarga gue tidak relijius. we're pretty much democrats in terms of religion. nyokap bokap gue (cuma) nyuruh sholat, puasa, dan mendaftarkan gue dan adik-adik ke guru ngaji. tapi kita nggak pernah punya ketertarikan atau agenda khusus untuk kegiatan berbau agama.
gue ingat suatu hari sepulang kuliah, nyokap ngajak gue pergi berdua, terserah gue mau ke mana, katanya. berhubung gue demen belanji, gue bilang aja mau ke kemang, nengok butik favorit masa muda (yang sekarang udah digusur aje) boys meet girls atau apa yah namanya. di sebrang butik tersebut ada bakmi japos, setelah gue kuras dompet nyokap, kita makan di situ. kondisi hubungan gue dengan nyokap gak pernah akrab dan intim seperti di film-film. nyokap gue wanita sumatera yang pengasuhan anaknya bergaya old school. meaning: gue nggak bisa curhat apa adanya sama dia, dia sangat ekspresif (yells a lot when she's mad, laughs hard, says what she means), sangat controlling, dan menuntut kepatuhan dari seorang anak. tapi yang gue inget sampai sekarang, momen di bakmi japos itulah satu-satunya kejadian nyokap gue ngomong 'dalem' sama gue, memperlihatkan kerapuhannya. she said "kak, mama takut kakak berubah."
pengen mewek ga sih :(((
dia bilang, dia gak mau gue jadi penganut islam fanatik kayak yang dia dengar dari berita. dia khawatir gue bakal nurut disuruh kawin dan dipilihin jodoh sama guru ngaji gue (as if there had been any deh si mamah), dia takut gue jadi orang yang gak dia kenal dan gak dia sukai.
lantas gue paparkan ke dia keinginan dan visi yang ada di kepala gue. gue cuma pengen tau ilmu agama, karena gue merasa gak punya kompas ke mana harus melangkah dan gue harus menjadi manusia seperti apa. and then i promised her i would not be a stranger to her. i would not disappoint her.
nuri dulu bilang "mungkin ini izzah/harga diri lo sebagai muslim yang sedang terdorong ke luar." gue rasa iya. gue lagi mencari identitas, dan hal pertama yang terlintas di kepala adalah bagaimana mendefinisikan diri gue sebagai muslim-stempel yang udah ada sejak gue lahir ke dunia.
maret 2005, gue kerja di citi, dan sebulan kemudian, gue memutuskan pakai jilbab ke kantor. it was somewhat out of the blue. bukan keinginan untuk pakai jilbabnya yang tiba-tiba datang, melainkan kenapa harus hari itu. gue ingat berpikir "idup cuma satu kali." and i wanted to do it 'right.' at least dengan mengikuti aturan agama yang gue anut dalam hal berpakaian, yaitu bagaimana kita menampilkan diri dan ciri kita di depan umum sebagai muslim. beberapa saat sebelum D-day, gue udah mulai membiasakan diri pakai baju lengan panjang atau rok panjang. dan pastinya temen yang pertama ngeh sama perubahan gue adalah weiche the fashion police. he bluntly asked, "cin, lo mau pake jilbab ya kok pake rok dan baju panjang gitu mulu?" hihi dasar my soulmate.
tapi yah emang dasar gak modis, gue gak pernah sengaja mengalokasikan waktu apalagi duit untuk mengoleksi rupa-rupa baju dan jilbab.
jadi on D-day, which was senin, gue inget heboh nyari-nyari scarf nyokap gue yang bisa dipakai sebelum berangkat kerja. kebetulan saat itu nyokap gue mulai suka pakai jilbab kalau lagi hang out atau pergi kerja, jadi beliau mengoleksi scarf untuk dijadikan penutup kepala plus ciput-ciputnya. kenapa gak gue siapin semalam sebelumnya? pertimbangan gue, kalau dari malam udah 'ketauan' berniat pakai jilbab besoknya, bisa-bisa terjadi interogasi dan persidangan sepanjang malam. jadi gue pilih untuk memanfaat pagi hari senin yg sibuk untuk meminimalisir durasi drama.
jadilah persidangan tersebut terjadi dalam perjalanan menuju kantor. bokap nyokap yang saat itu masih bekerja dan selalu berangkat bareng gue, mengutarakan disapproval mereka. mulai dari khawatir gue gak konsisten, sampai khawatir gue susah cari jodoh gara-gara berjilbab. i know, silly it was, tapi gue yakin gue akan mengkhawatirkan hal-hal konyol semacam itu juga sebagai orangtua (eh i guess i already did now).
percakapan dalam mobil pagi itu tidak berjalan mulus. gue inget gue marah-marah dan nangis :( kalau dipikirkan sekarang sih durhaka banget yah eike, yelling ke orangtua. what i felt that time was i had to defend it, my decision to wear jilbab. pada akhir percakapan, bokap nyokap gue 'nyerah,' they left the decision to me. your decision, your consequences to bear.
on the other hand, i felt relieved. i felt that's the way i should have been all along.
selain dari orangtua, respon yang harus gue hadapi adalah dari temen-temen. gue tulis di atas kalau mereka DULU tipe yang non-agamis/hedonis, hehe (karena kebanyakan udah berubah seiring dengan usia yang tambah tua). nah saat itu reaksi mereka yang "ciiin, for real?" tapi syukurlah jarang terjadi kondisi gak nyaman dalam pertemanan kita. gue juga tau diri, kalau mereka dugem ya gue gak nimbrung. sebaliknya saat kita lagi jalan bareng seperti ngemol dan gue minta break untuk sholat, mereka juga hayuk aja.
beda dulu sama sekarang, respon yang harus gue hadapi kan seputar keluarga dan teman kantor plus main aja ya. kalau sekarang, seiring dengan semakin mudahnya akses ke dunia maya, otomatis kita juga jadi eksis secara virtual. mungkin ini tantangan bagi para jilbaber baru yang cukup eksis di dunia maya. tindakan sebagian dari mereka yang hobi memajang hijab of the day mendapat reaksi yang beragam. ada orang-orang yang kagum, ada juga yang lebih kritis seperti menanyakan "mana sisi spiritualnya?"
internet memberikan exposure ke banyak manusia yang gak kita kenal maupun gak kenal kita, jadi para jilbaber baru ini juga harus menyiapkan diri menampung respon dari beragam pribadi itu sih menurut gue.
yang jelas, tantangan berjilbab bukan cuma sampai di tahap menerima berbagai reaksi atas 'perubahan' kita, tapi menurut gue, yang paling berat justru gimana tetap istiqomah. sampai saat ini, alhamdulillah gue masih pakai jilbab. tapi emang kondisi keimanan selalu naik turun, ujian demi ujian harus dialami dalam proses menjadi muslimah yang baik.
to be honest, wujud naik turun ini di gue yah kadang gue males menambah ilmu agama, kadang pengen. kadang x, kadang y.
karenanya gue mencoba sebisa mungkin gak mengkritik atau menasehati orang lain yang berjilbab harus bersikap gimana atau berpakaian seperti apa, kecuali kalo emang diminta. hahaha cari aman aja yah gue :P abis gimana dong, soalnya gue merasa belom punya pengetahuan yang cukup sih untuk bisa mendakwahi orang dan semacamnya. daripada omdo, mendingan gue anggap ini pe-er guna meningkatkan kualitas diri sebagai muslim. seperti layaknya saat mendapat peran baru sebagai ibu, gue browsing dan cari ilmu sebanyak-banyaknya seputar pengasuhan dan pendidikan anak (not to mention the gadgets and the belanjaans hehe). jadi demi menjadi muslimah yang diharapkan lebih baik, harusnya emang gue terus meng-update knowledge dan meng-upgrade level keimanan #self-reminder.
tapi kalau ngomongin fashion dalam berjilbab, sejauh ini gue cuma pernah nyobain bahan sutra, paris, sama katun. gaya berjilbabnya juga sama terusss hahaha... abis muke gue bentuknya bulet, gak pantes dimacem-macemin ah :p gue juga anti peniti dan pentul, maunya yang praktis-praktis ajahh. #gaadayangnanya
sekarang mah mari kita rayakan aja deh semakin berkembangnya ragam fashion untuk wanita berjilbab. liat, sortir, terus apply mana yang paling cucok dengan diri kita. cheers to all jilbabers!
No comments:
Post a Comment