31/08/2017

something changed

"I wrote this song two hours before we met
I didn't know your name or what you looked like yet
I could've stayed at home and gone to bed
I could've gone to see a film instead
you might have changed your mind and seen your friend
life could've been very different but then..
something changed.."

kehamilan gue yang kedua ini sudah berjalan hampir 6 bulan.
each day still feels like a wonder.
aneh, magical, dan surreal bisa merasakan ada mahluk hidup gerak-gerak lagi di dalam perut.
heck, bahkan liat bumy segede sekarang aja gue masih suka takjub... manusia ini beneran pernah tinggal di dalam perut gue??
beneran ya gue itu ternyata seorang... ibu.

namun tak berarti kehamilan ini dijalani tanpa keluh-kesah sama sekali. bukan gue namanya kalo nggak hobi ngeluh. tapiii gue mencoba meyakini kalo semua keluhan dan ketidaknyamanan yang dirasakan efeknya pasti baik. contohnya keluhan kaki yang sakit-sakit setiap malem. ini bikin adit mau nggak mau mijitin gue hahaha.. emang sebelum hamdun lagi juga dia mau-mau aja sih mijitin, tapi kali ini, mungkin efek hormon (atau "bawaan bayik" kalo kata rangorang) tapi bener-bener jadi kebutuhan buat gue supaya badan bisa melepaskan hormon oksitosin.
tidur juga maunya kekepan sama doi hahaha, padahal tadinya mah bawaan kegerahan mulu.
kalo liat bumy sekarang yang kecanduan pelukan sama bapaknya ("badan papa enak buat dipeluk, besar kaya gorila."), ada kemungkinan karena pas hamil dia dulu gue juga harus tidur kekepan sama bapaknya. wallahualam xD

kalau dipikir-pikir, mungkin kehadiran seorang bayi bisa jadi perekat hubungan lagi. ada istilah band-aid baby, atau menghadirkan anak untuk menyelamatkan sebuah hubungan. in a way, gue rasa kehadiran baby number 2 ini layak disebut demikian... tahun ini insya Allah kita memasuki tahun ke-sepuluh pernikahan. 
per tahun lalu, sama sekali belum terpikir untuk nambah anak. but this year, we just decided to go for it. belum tentu langsung dikasih juga kan, kita pikir.
ternyata it happened sooner than we expected.
dan jika mau jujur, this pregnancy does give some sort of refreshment in our relationship, dengan cara yang... nggak diduga. seperti gimana gue ngerasain selama hamil kapasitas badan dan juga mental punya keterbatasan. I feel like I need to depend on my spouse on certain stuff. I need his support, mulai dari buat mijitin, nganterin ke kelas prenatal yoga, sampai buat nemenin ajah kalo kebangun di dini hari setelah mimpi buruk (yang mana semacam rutin semenjak hamil, sama kaya waktu hamil bumy dulu).
kita juga excited ngebayangin what it would be like... how bumy would act as a big brother, how we could manage two little boys.. yes we are experienced parents, but still, we are not perfect parents. and that gives us something to look forward to. gue kayak diingetin lagi kalo kita bertiga ini sebenernya satu tim all along.

*******

kebetulan bulan agustus belum benar-benar berlalu, gue jadi keingat kalau bulan ini adalah titik milestone gue balik ngantor. tepat dua tahun silam, HR kantor nyuruh gue kembali bekerja setelah cuti panjang.
gue pun balik jadi cengcremen di kantor lama... saat itu rasanya I had known almost everything there is needed to know about this old trick, I had no expectation. apa saja enaknya, apa saja busuknya, I didn't come unprepared. tapi tetep aja, satu sampai tiga bulan pertama dijalani dengan berat hati.
meskipun lama-kelamaan kerjaan gue itu berubah jadi rutinitas bahkan zona nyaman.
hal-hal yang awalnya memberatkan hati buat ngantor, pelan-pelan bisa diakalin dan dijalanin dengan lapang dada. hal-hal yang tadinya jadi kekurangan, seiring waktu malah jadi hal yang bisa dinikmati. I was beginnning to see the "lightness" of my job. ada nasehat dari sohib gue di kantor kala gue merasa muak dan jenuh sama kerjaan rutin, katanya "magabut itu beda sama nganggur loh, mba..."
HAHA.

tapi memang yang namanya gejolak hati nggak bisa selamanya dibungkam. gue tetap menginginkan kerjaan yang fulfilling, yang bikin bersemangat dan excited, yang ngasih banyak ilmu. mungkin seiring dengan tekad gue untuk menghadapi hal-hal yang selama ini menjadi momok bagi gue, Allah pun merespon, selain menganugerahi dengan kehamilan, Dia juga ngasih gue kesempatan untuk "escape" dari kerjaan rutin.
jadi suatu hari, sohib yang ngasih nasehat tadi, ngajak gue ikut semacam program intrapreneurship di kantor. gue dan si sohib ini emang sering banget curhat-curhatan mulai dari soal anak, agama, sampe visi hidup dan kerjaan ideal yang kita inginkan. he knows me well, and vice versa, sehingga bisa dibilang kita itu work-spouses. nah program ini mengharuskan kita mengajukan ide untuk diwujudkan pembuatan startup dan aplikasinya kelak. semua biaya, pelatihan, dan support lainnya disediain sama kantor. kita tetep berstatus pegawai tlkm, bahkan dimodalin untuk wujudin ide kita jadi kenyataan. kesempatan langka banget kannnn.


setelah ngebentuk tim yang terdiri dari 3 orang, kita pun masukin ide kita ke kompetisi... dan ternyata ide ini kemudian lolos seleksi. sesudahnya, mulailah kita ikutin program yang dinamain Amoeba ini. selama tahapan pra-seleksi. kita diikutin training seputar startup dan industri digital, selama seminggu sekali setiap bulannya. hingga akhirnya tiba fase seleksi, dan alhamdulillah kita lolos lagi. 
selanjutnya di tahapan post-seleksi, kita dibebastugasin dari kerjaan lama selama 3 bulan... untuk nantinya ada tahapan sidang oleh komite Amoeba yang nentuin apakah kita bisa lanjut jadi "pengusaha" startup atau balik jadi karyawan reguler kaya sebelumnya.
and here I am, in the three-month off-from-work phase. bukan berarti kita leha-leha doang sih, justru ini momen tersibuk karena di sini kita kudu bikin produk nyata. tapi enaknya, gue jadi nggak perlu dateng ke kantor tiap hari lagi, waktu bisa diatur secara fleksibel.
alhamdulillah banget...


bukan cuma dari segi mobilitas kerja yang berbeda, tapi yang juga kerasa banget adalah dari segi mindset. ini gue kayak balik jadi freelancer lagi, karena perlu nentuin jadwal dan aktivitas sendiri. tapi yang paling fundamental adalah di mental. saat ini gue perlu banget membangun mental FOUNDER.
seorang founder nggak nunggu perintah.. bahkan seharusnya bisa membangun rencana dan jadwal kerja sesuai kebutuhan. we do it all, mulai dari hulu sampe hilir.
gue pun jadi berkontemplasi setelah liat tulisan di pintu kelas bumy tempo hari, yang bilang, "We are very hungry for knowledge." 



seru banget kalo liat dia bersekolah, kegiatannya macem-macem. show and tell-lah, simulasi-lah, eksperimen apalah, there's never a dull moment.
gue jadi inget perasaan gue waktu SD dulu, yang meskipun cuma bersekolah di SD negri, tapi gue merasa sangat bersemangat setiap mau berangkat sekolah. bahkan kadang deg-degan excited di atas becak membayangkan dan bertanya-tanya akan belajar apa hari itu.

semenjak 'berlatih' bikin startup ini, gue jadi tersadar kalau gue butuh "hunger" aka rasa lapar dan excitement seperti waktu SD dulu itu. akan ilmu dan ranah baru yg belum pernah dijajaki.
gue nggak bisa lagi menghindar-hindari kesempatan (keharusan?) belajar simply because "itu bukan ranah gue," atau karena "gue nggak butuh tau itu ah." padahal justru saat ini gue butuh belajar membuat kesalahan alih-alih menghindarinya.. karena gue bergerak bukan lagi berdasarkan titah dan perintah, melainkan karena sekarang ini we eat what we kill; kalau nggak bergerak ya nggak 'makan' - which means zero progress.
I learn and improve through my mistakes. I am growing.

di sini, pengetahuan gue buat ngatur budget, nyusun marketing plan, multitasking, daaan lain-lainnya, kepake semua. gue juga harus buka mata untuk tau soal hal-hal yang tadinya gue nggak familiar sama sekali.
it's scary!! but damn exciting as well. 
just like the surprising pregnancy. 


"do you believe that there's Someone up above?
and does He have a timetable directing acts of love?
why did I write this song on that one day?
why did you touch my hand and softly say,
'stop asking questions that don't matter anyway
just give us a kiss to celebrate here today: something changed.'

No comments:

Post a Comment