24/05/2015

how to learn like japanese

Beberapa minggu lalu, ibu-ibu ortu murid sekolah Bumy ngadain semacam seminar. Kecil-kecilan aja, sih. Diadainnya juga di rumah salah seorang ortu. Kebetulan seorang ibu berinisiatif mengundang temen-temennya yang pernah tinggal sekaligus jadi guru di Jepang, tujuannya tak lain untuk sharing seperti apa, sih, sistem pendidikan dan juga pengasuhan yang diterapkan di sana. Gue sendiri penasaran karena udah sering banget 'kan tuh dibahas soal betapa okenya sistem yang dianut masyarakat Jepang.

Bukti dari pengasuhan dan pendidikan itu juga kentara banget di perilaku orang-orangnya; yang paling membuat gue terkesan terutama pas liat betapa positifnya attitude masyarakat Jepang pasca gempa yang menyebabkan tsunami tahun 2011 lalu.
Seperti banyak diangkat di artikel-artikel yang banyak beredar waktu itu, diceritain meskipun dalam kondisi kena musibah dan pasca gempa mereka kedinginan dan kelaparan, tapi nggak terjadi penjarahan. Rakyatnya tetap ngantri ketika menerima bantuan, dan nggak ada sikap menangisi nasib atau memohon bantuan. Mereka tetap disiplin, tenggang rasa, sabar, dan yang paling 'khas' Jepang: tetap berjuang. Kayak slogan "Gambaru" yang sering gue baca di komik-komik, yang ternyata berasal dari istilah “Gambaru shika nai” yang berarti “hanya bisa dengan berusaha.”


video yang menunjukkan rasa terima kasih rakyat Jepang atas bantuan dari negara-negara lain saat bencana tsunami. bikin terharu sekaligus kagum banget.

Ibu yang ngusulin seminar ini adalah teh Ifa @alyahzie, yang padahal anaknya udah nggak sekolah di GMS lagi cuma emang masih aktif di grup WA ortu murid. Grup WA tersebut emang masih 'diramaikan' sama para alumni sekolah; menguntungkan buat orang baru kayak gue gini, karena jadi bisa dapet info dan insight dari orang lama seputar sekolah hehe.
Nah, ketika acara ini akhirnya dimulai, diperkenalkanlah beberapa orang narasumbernya. Ada 3 orang, cuma yang 1 orang kok nampak familiar, yaa... Dan kebetulan si ibu yang nampak familiar ini dapat giliran prensentasi pertama. Begitu beliau cerita sedikit tentang background dan keluarganya, gue baru ngeh... ternyata doi seorang seleb blog yang suka gue baca blognya, yaitu Sekar W. Prasetya alias Miss Tya ourwedjournal.blogspot.com
Ternyata orangnya maniezt banget, lho, hahaha *starstruck* udah gitu cara menjelaskannya juga jelas dan menarik banget - well, namapun ibu guru, yah. tapi guru atau dosen yang bisa menjelaskan sesuatu dengan enak juga nggak banyak, 'kan.

Pada segmennya, Miss Tya (dipanggil gini aja, deh *salim*) nyeritain soal gimana metode pendidikan yang diterapkan kepada anak-anak usia preschool dan TK di Jepang. Gue ngeh kalau dia pernah berbagi tentang betapa mandiri anak-anak di Jepang di Mommies Daily, tepatnya di artikel ini. Selama di sana, anak-anak beliau dititipkan di daycare (hoikuen) dari jam 7 pagi sampai 7 malam. Dari situlah dia dapat banyak insight tentang cara mengasuh a la Jepang yang ternyata mengandung banyak value positif.
Berhubung gue kemaren menyimak presentasinya nggak sambil tekun mencatat (sedang mencoba mengurangi multitasking demi ke-zen-an batin, kekeke - red), jadi gue coba tuangkan poin-poin yang nyantol di otak, yah.


gambar dari sini

- Hal pertama yang diceritain Miss Tya adalah bagaimana orangtua sangat "dimanjakan" oleh pemerintah Jepang. Sebenarnya ini bisa dibilang wujud pemerintah negara tersebut memfasilitasi rakyatnya, ya. Tapi kalau dibandingkan kondisi di Indonesia, beuh kastanya jauh banget. Para orangtua di Jepang dilimpahi banyak kemudahan dan insentif. Contohnya, ketika kita punya anak, kita akan mendapat semacam subsidi selaku orangtua baru, dengan nominal yang lumayan banget - sekian belas juta gitulah.

Udah gitu, sekolah negeri di sana semuanya gratis. Orangtua nggak perlu khawatir mencari sekolah, karena lokasi sekolah anak akan diarahkan sesuai "rayon"nya, dicarikan yang dekat dari tempat tinggal. Selain itu, orangtua juga nggak perlu pusing milih-milih sekolah, karena mutu semua sekolah di penjuru negeri itu sama, setara. Seandainya anak mau dimasukin ke daycare atau sekolah, lagi-lagi ortu juga nggak usah pusing nyari, hanya tinggal melapor ke kantor kelurahan yang akan mencarikan daycare atau sekolah mana yang ada 'lowongan.'

Wujud privilege lain yang bisa dinikmati orangtua di antaranya cuti melahirkan selama 6 bulan (*glek!) dan juga ada cuti setengah hari khusus untuk menyaksikan performance anaknya di sekolah. Hahahha... gimana nggak takjub? Sampai hal begini aja dipikirin oleh pemerintah Jepang! Orangtua nggak perlu repot nyari cuti dari kantor, atau menghadapi dilema menghadiri acara anak versus urusan kantor, karena udah ada cuti khusus untuk itu!


gambar dari sini
- Value yang paling menonjol dari pola asuh dan didik Jepang adalah penekanan pada kemandirian. Seperti yang diceritain di artikel Mommies Daily tadi, anak usia 2 tahun diharapkan udah bisa makan sendiri, lalu usia 3-4 tahun diharapkan udah bisa mandi dan merapikan barang-barang pribadinya sendiri. Miss Tya cerita gimana anaknya bisa menggelar alas tidur lalu melipatnya sendiri selama di daycare. Nah, untuk bagian yang ini, gue (dan ibu-ibu yang lain) bisa agak tenang, soalnya sekolah anak-anak juga menerapkan hal yang sama. Anak-anak udah dibiasain untuk unpacking dan packing barang-barangnya sendiri selama di sekolah; mulai dari sepatu, sandal, snack box, baju ganti dan sajadah (plus mukena buat yang cewek) untuk sholat setiap hari di sekolah. Anak-anak juga diajarkan hal-hal practical di dunia nyata seperti mencuci piring, tidying up after meal, serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan (ngelap, nyapu, ngepel and the likes). PR-nya tinggal gimana konsisten menanamkan sikap-sikap mandiri itu di luar sekolah, yang mana justru ini yang suka kelewat, hehe.
Pada praktiknya, kalo ngeliat anak makannya lammma, kita gampang banget menukas "Sini mama suapin aja, deh!"
Begitupun ketika anak mau pake baju sendiri, mau pake sepatu sendiri, atau mau mandi sendiri, kita sendiri yang suka menyabotase usaha mereka buat belajar mandiri itu dengan alasan "nggak tega" atau (yang paling sering, nih) "nggak sabaran." *tersipu-sipu*


gambar dari sini
- Sekolah di Jepang juga sangat memerhatikan soal nutrisi. Miss Tya cerita kalau anaknya sempat disuruh diet pada beberapa bulan pertama masuk sekolah! Padahal, di sini orangtua berlomba-lomba menggendutkan anaknya (termasuk gue, beda tipis sekilo sampai setengah kilo sama anak sebaya aja rasanya bangga beneuur).
Sementara di Jepang, makanan yang disajikan untuk anak diukur sampai ke gramnya. Dalam penyajian makanan sehari-hari, porsi serat jauh lebih banyak dibandingkan unsur gizi yang lain. Apa aja, sih, makanan mengandung serat yang biasa dikasihkan ke anak? Selain sayur-mayur, pastinya ya buah, juga jelly. Untuk protein, orang Jepang banyak mengonsumsi protein nabati, daging putih dan ikan, sementara daging merah cuma dikasihkan 2 kali per minggu. Snack ya tetep ada, tapi bedanya, dipilih yang "sehat" kayak makanan kukusan atau rebusan, macam ubi jepang, zukini, atau kacang-kacangan kayak edamame gitu. Porsi nasi juga sedikit, beda banget sama di sini... emak-emak macam gue galau kalo anak makan nasinya dikit. xD
Oh ya miss Tya juga nyeritain 'trik' yang dipakai di sekolah Jepang supaya anak doyan sayur. Makanan untuk anak 'kan disajikan dalam cups atau mangkok-mangkok kecil gitu, yang dipisahkan sesuai jenis makanannya. Ketika tiba saatnya makan besar, makanan yang dihidangkan pertama ke anak adalah SAYURAN. Jadi, ketika anak lagi lapar-laparnya setelah beraktivitas, pilihan pertama dia ya cuma sayur... wajar 'kan kalau sayur tersebut akan dimakan dengan lahap. Setelah itu baru yang lain-lain menyusul - kalau gue nggak salah ingat, nasi akan diberikan belakangan. Emang, sih, kandungan nasi (putih terutama) banyakan gulanya, jadi nggak diperlukan banyak-banyak oleh tubuh. Udah tau, tapi tetep aja susah ngubah kebiasaan nyidukin nasi banyak-banyak ke piring anak xD

- Materi pengajaran sehari-hari di sekolah Jepang banyak diisi dengan musik dan olahraga. Porsi untuk kedua materi ini bahkan seimbang dengan materi yang menstimulasi kemampuan kognitif anak macam math, language atau science. Orang Jepang percaya kalau otak perlu distimulasi secara seimbang, I guess, and that's a good point. Miss Tya cerita kalau ekskul anak-anak sana biasanya non-akademik, seperti les musik dan olahraga. Kursus akademik macam Kum*n gitu sifatnya cuma tambahan, dan anak hanya di-drill di materi tertentu di mana dia perlu improvement. Hmm... agak beda, sih, ya sama di sini.
Tapi, bukan berarti anak-anak TK di sana nggak diajarin baca, nulis dan berhitung. Tetap diajarkan, tapi lagi-lagi nggak di-drill, melainkan pakai cara yang menyenangkan dan sambil main-main, jadi anak nggak merasa sedang belajar. Bahkan di Jepang sana, anak-anak juga belajar aksara Kanji, loh, yang ribet dan suseh menurut Miss Tya, tapi ternyata anak-anak nggak pake stres memelajarinya. Berkaca dari pengalaman, metode seperti ini mirip seperti yang diterapkan di sekolah montessori.
Semakin jauh Miss Tya bercerita tentang metode pendidikan, gue menemukan semakin banyak kemiripan dengan montessori. Misalnya bagaimana pada tiap semester, orangtua akan diundang ke sekolah untuk merasakan bagaimana anak bersekolah sehari-hari. Saat itu, orangtua bahkan bisa melihat sampai ke proses makanan disiapkan, sehingga bisa yakin kalau makanan yang disediakan itu higienis. Mau nggak mau ini mengingatkan gue sama kegiatan yang mirip diadain di sekolah montessori, seperti gue ceritakan di blogpost ini.
Hal lain yang mirip, rasio anak dengan guru, yaitu 2 guru menghandle 30 anak pada kelas yang isinya anak-anak mulai dari usia 3 tahun. Berhubung anak sudah diajarkan dan dibiasakan mandiri, maka kondisi tersebut nggak jadi masalah. Kalau ada kejadian anak let's say kejedot atau jatuh ketika main, orangtua di Jepang juga cenderung pengertian. Namapun mata guru cuma sepasang - lagian ketika anak sedang berada dalam pengawasan orangtuanya sendiri aja suka jatuh, bukan.

- Contoh kasus anak jatuh itu berkaitan dengan gimana cara guru di sana menyelesaikan konflik. Miss Tya nyeritain gimana sikap guru ketika anaknya digigit sama temen sekelasnya. Pertama-tama, seperti sudah sewajarnya, si guru meminta maaf, tapi corrective actionnya nggak berhenti di situ. Guru lalu memfasilitasi pertemuan antara Miss Tya dengan ortu murid yang menggigit itu. Dibikinlah beberapa kali pertemuan, untuk selanjutnya disusun langkah-langkah usaha yang akan dan sudah dilakukan oleh masing-masing pihak terkait masalah ini. Sampai beberapa bulan kemudian, guru anaknya masih akan mem-follow up, lho, dengan nanya kabar sekaligus tindakan yang udah diambil oleh para ortu murid. Kata Miss Tya, bahkan guru itu masih suka meminta maaf atas kesilapannya padahal udah lewat berbulan-bulan, ehehe... jadi kepikiran kok bangsa Jepun ini amanah bangeet, yah, sama jabatan.

Lalu, gimana cara guru menghandle kelakuan anak yang 'salah?' Dari cerita Miss Tya, ketika anak berbuat salah dan dilihat guru, cara guru menanganinya adalah anak dibikin sadar akan efek tindakannya terhadap orang lain. Jadi guru bukan yang langsung menghakimi kesalahan, melainkan mengajak anak berpikir apa dampak dan konsekuensi dari tindakannya. 

Dari semua poin yang udah dipaparkan itu, gue jadi bisa menyimpulkan kalau 'modal' untuk membiasakan anak berlaku mandiri bukan rasa tega (haha) tapi kayak kaya Miss Tya, anak harus dibiarkan... dibiarkan mencoba, dibiarkan bikin salah, dan karenanya dibiarkan belajar.
Kita juga perlu percaya sama prosesnya. Miss Tya cerita gimana anak-anak kecil di Jepang biasa lelarian tanpa dilarang-larang, atau ketika di playground, mereka dibiarkan main di monkey bar yang tinggi tanpa sedikit-sedikit diteriakin sama orangtuanya. Bedalah sama kecenderungan ortu di sini - setidaknya dari pengamatan gue saat nganterin Bumy ke playground, yah, hehe.


gambar dari sini
Lastly, semua nilai-nilai itu gue rasa bisa sukses ditanamkan karena udah didukung dengan sistem yang well-managed juga. Kayak di artikel MD tadi, dijelasin kalau anak usia mulai dari 6 tahun udah bisa berangkat dan pergi ke sekolah sendiri. Rada ngeri yaah kalo diterapin di sini... padahal bukan berarti di Jepang sana nggak ada kriminalitas, tapi hal itu bisa terjadi karena 1) Sistem transportasi umumnya sudah memadai, 2) Dibuat sistem yang bisa memungkinkan itu terjadi, seperti dibuat kelompok jadi anak nggak pulang-pergi sendirian, trus anak dilengkapi peluit tanda bahaya, juga ada relawan yang tugasnya menjaga area yang mungkin berbahaya buat anak-anak, seperti di pertigaan yang nggak ada lampu merahnya.
Kalau sudah ada infrastruktur yang sedemikian mantap, otomatis orangtua juga bisa tenang, 'kan.

Sesi berikutnya dilanjutkan oleh 2 narasumber lain yang punten banget gue lupa namanya T__T Yang jelas mereka menceritakan tentang sistem pendidikan pada level SD dan SMP. Secara garis besar paparannya sama, yaitu orang Jepang sangat berpegang pada value, dan sistem pendidikannya menstimulasi anak untuk belajar dengan cara yang menyenangkan. Anak selalu di-encourage untuk bereksplorasi; contohnya di dalam kelas Matematika, guru akan menyuguhkan sebuah persoalan, tapi nggak mencekoki anak dengan cara menjawab atau bahkan jawabannya. Murid dibiarkan mencari caranya sendiri untuk mendapatkan jawaban. Menurut gue dari situ, setiap hasil pemikiran individu dihargai, begitupun prosesnya. Anak akan termotivasi dari dalam alih-alih termotivasi untuk dapat jawaban yang benar dan nilai 100 semata.  


gambar dari sini.
All in all, it's a very cool insight. Gue sendiri jadi semakin yakin akan pilihan menyekolahkan Bumy di sekolah berbasis kurikulum montessori, insya Allah sampai level SD dan pendidikan menengah kalau bisa. Kudos untuk teh Ifa yang menggagas acara ini, juga para narasumber yang sudi meluangkan waktu dan berbagi ilmu.

PS
: Berhubung gue udah keburu cabut sebelum acara benar-benar kelar (pas lagi makan-makan, silaturahim, dan sesi foto-foto lebih tepatnya) jadi nggak ada 'eviden' foto-foto kebersamaan, hehehe. Yang jelas ilmunya sangat membekas di hati, kok, and I guess that's what really matters, right?

Oh ya, mohon maaf seandainya ada kesalahan pada "reportase" gue ini, ya. Maklum, sengaja nggak tekun mencatat biar bisa paham dan meresap ke hati, hehehe.

No comments:

Post a Comment