kayaknya gue sebutin deh somewhere tentang 'niat' gue buat baca sampai kelar minimal 2 buah buku dalam sebulan. sehubungan itu, gue mulai menggali-gali rak buku di rumah. being a not-so-ferocious reader (yet an impulsive shopper), gue numpuk banyak buku yang udah dibeli sejak entah kapan, tapi belum khatam dibaca. makanya, daripada nambahin daftar dosa boros beli buku, mendingan gue jadiin lunasin utang baca sebagai "resolusi."
nah, mungkin karena masih januari-februari, gitu ya, jadi masih adalah ambisi untuk fulfill si resolusi, haha. ya berhasil juga gue kelarin baca satu buku pertama. abis itu, jadi bersemangat ngejar buku kedua. buat yang ini, gue sengaja milih untuk re-reading. buku mana, sih, yang pengen gue baca ulang? ternyata, tangan gue bergerak mengikuti kehendaknya sendiri (halah!) dan memilih buku Rene Soehardono yang terbit tahun 2009 dulu, "Your Job Is Not Your Career."
bener-bener nggak paham sih, kenapa gue pengen baca ulang buku ini. lha wong sekarang kerjaan gue IRT semata. yah campur freelancing nulis, proofreading, sama translating sesekali, emang. tapi karir? sepertinya gue udah menghapus kata tersebut dari kamus gue sejak 2 tahun lalu, deh. secara i no longer have a full-time kantoran job, therefore i regard myself as careerless.
tapi, gue turutin aja, deh, kehendak hati (dan tangan). gue mulai buka lembar demi lembar, sambil sesekali berucap dalam hati, "oh begitu ya, hmm... gue udah pernah baca ini tapi kok nggak keinget buat praktekin..." reaksi tipikal guelah. xD
bener-bener nggak paham sih, kenapa gue pengen baca ulang buku ini. lha wong sekarang kerjaan gue IRT semata. yah campur freelancing nulis, proofreading, sama translating sesekali, emang. tapi karir? sepertinya gue udah menghapus kata tersebut dari kamus gue sejak 2 tahun lalu, deh. secara i no longer have a full-time kantoran job, therefore i regard myself as careerless.
tapi, gue turutin aja, deh, kehendak hati (dan tangan). gue mulai buka lembar demi lembar, sambil sesekali berucap dalam hati, "oh begitu ya, hmm... gue udah pernah baca ini tapi kok nggak keinget buat praktekin..." reaksi tipikal guelah. xD
karena gue gampang lupa, jadi gue ulas sekilas aja, ya, buku ini. secara garis besar, sih, Rene ngasih tau kalo karir itu beda sama pekerjaan.
-> pekerjaan itu alat atau sarana untuk kita memenuhi kebutuhan hidup dan berkarya; bisa dianalogikan kalau pekerjaan itu kendaraan untuk memperoleh pencapaian pribadi. sementara, karir itu perjalanannya.
-> karir berbicara soal impian dan passion kita
-> karir itu milik kita sendiri, bukannya milik perusahaan atau tempat kita bekerja.
-> dalam karir, yang kita 'urusin' adalah bagaimana mengenal keunikan diri kita, passion kita, gimana menjalankan hidup yang bermakna (purpose of life), how we want to be remembered after we're gone through our values, motivasi kita, dsb... yang 'dalem-dalem' dan butuh perenungan khusus, deh, intinya.
-> pekerjaan itu alat atau sarana untuk kita memenuhi kebutuhan hidup dan berkarya; bisa dianalogikan kalau pekerjaan itu kendaraan untuk memperoleh pencapaian pribadi. sementara, karir itu perjalanannya.
-> karir berbicara soal impian dan passion kita
-> karir itu milik kita sendiri, bukannya milik perusahaan atau tempat kita bekerja.
-> dalam karir, yang kita 'urusin' adalah bagaimana mengenal keunikan diri kita, passion kita, gimana menjalankan hidup yang bermakna (purpose of life), how we want to be remembered after we're gone through our values, motivasi kita, dsb... yang 'dalem-dalem' dan butuh perenungan khusus, deh, intinya.
kesan pertama gue ketika re-reading ini, gue ngerasa lebih mudeng dan paham apa maksud Rene terutama soal passion, dibandingkan pas baru pertama kali baca buku ini. dulu, kayaknya konsep hidup menjalani passion itu mengawang-awang banget. tapi ternyata sekarang... ya alhamdulillah, bisa dibilang i am living my life doing things that i enjoy the most. bisa di rumah ngejagain anak, bisa semacem nulis for a living, bisa terlibat project translating. malah kemarin ini gue 2 kali dapat tawaran kerjaan copywriting. jadi keinget pas usia 23-24, mendamba bangettt terjun ke dunia kreatif. meskipun kedua tawaran tadi harus gue skip karena belum yakin mau balik jadi full-time worker, nothing i can say but alhamdulillah.
balik ke pengalaman membaca ulang buku ini lagi, sampailah gue di pembahasaan soal "career triangle." menurut Rene, career triangle adalah pengelompokan pilihan dan konsekuensi karir. segitiga karir ini dibentuk oleh 3 hal, yaitu money - fulfillment - time.
penjelasan masing-masing elemen itu begini:
penjelasan masing-masing elemen itu begini:
-> time = bisa terwujud dalam gaya hidup, seperti pemanfaatan me time untuk kesenangan pibadi dan keluarga.
-> fulfillment = kepuasan kerja.
-> money = kompensasi = uang dan manfaat intrinsik yang diterima.
mekanisme career triangle ini gampang aja, kita harus punya prioritas dari 3 elemen itu dengan menyadari penuh apa makna dan konsekuensinya.
jadi, ya kita perlu nyadarin apa prioritas kita dalam bekerja; apa sekadar menuhin kebutuhan hidup, jadi SVP sebelum 40 tahun, pulang tenggo, punya bisnis, atau apapun deh, semuanya terserah kita. yang jelas semua pilihan punya konsekuensi.
kalo udah tau gimana jawabannya, ya kita tinggal cari perusahaan atau pekerjaan yang sesuai sama prioritas kita.
abis baca ini, gue jadi tergugu. sampe berhenti sebentar buat meresapi apa yang baru dibaca dan berkaca ke kehidupan gue sendiri. meskipun gue rasanya udah live by my passion, tapi masih aja terjadi 'kegalauan' dalam menjalani hari demi harinya, kayak yang terpampang dalam curahan hati gue di blogpost ini. bahkan, kalau gue baca ulang blogpost-blogpost lama gue (sekitar 3-5 tahun lalu) saat masih bimbang menentukan pilihan, gue agak mengernyit ngebacanya. selain karena nganggep diri sendiri sotoy - gue mendamba banget jadi SAHM and romanticized the role just because gue belum tau rasanya jadi SAHM - juga karena sekarangpun gue masih aja dibikin bingung oleh pilihan-pilihan.
i know, now i have experienced both sides of the "world" - jadi ibu bekerja udah, jadi SAHM udah, jadi part-time worker juga ongoing - tapi gue masih belum punya keyakinan yang kokoh atas pilihan gue. kadang, gue malah bertanya-tanya sendiri: am i regretting my decision?
dan abis ngebaca buku Rene ini, gue jadi mempertanyakan lagi urutan prioritas "career triangle" gue. yang udah jelas gue tau hanyalah bahwa setiap 'peran' itu punya keuntungan dan juga downsides-nya masing-masing. harapan gue sih, melalui tulisan ini, mungkin gue bisa nemuin 'jawaban' yang gue cari by being brutally honest about what I've found out and how I've been feeling about each of the roles along the way. so let's just spit it out.
what i know about being a karyawati:
- waktu terjadwal, udah ada slot-slotnya. berangkat pagi, pulang malem. di tengah-tengahnya ada rapat, kerjaan dadakan, dsb. this could suck in a way because it's boring and predictable, but also menguntungkan buat gue yang impulsif dan 'tak tentu arah' dalam bekerja. this at least gave me direction, or became somekinda anchor to me. baik dalam soal waktu, job description, sampai aktivitas. gue jadi nggak 'terpaksa' nggak ngikutin mood and it's sort of a good thing - again, for me.
- income udah fixed dan terjamin. ada dana pensiun dan kesehatan setelah pensiun pulak.
- tapiii, yang gue rasain selama bekerja di industri dan instansi kemarin, kerjaannya begitu-begitu aja. kreativitas cuma diperlukan untuk 'mengakali' masalah atau tugas, bukannya untuk berkreasi. lagian, gue ngerasa passion gue bukan di bidang telekomunikasi, sih... so i couldn't care less tentang apapun yang terekpos ke gue selama di situ.
- waktu terjadwal, udah ada slot-slotnya. berangkat pagi, pulang malem. di tengah-tengahnya ada rapat, kerjaan dadakan, dsb. this could suck in a way because it's boring and predictable, but also menguntungkan buat gue yang impulsif dan 'tak tentu arah' dalam bekerja. this at least gave me direction, or became somekinda anchor to me. baik dalam soal waktu, job description, sampai aktivitas. gue jadi nggak 'terpaksa' nggak ngikutin mood and it's sort of a good thing - again, for me.
- income udah fixed dan terjamin. ada dana pensiun dan kesehatan setelah pensiun pulak.
- tapiii, yang gue rasain selama bekerja di industri dan instansi kemarin, kerjaannya begitu-begitu aja. kreativitas cuma diperlukan untuk 'mengakali' masalah atau tugas, bukannya untuk berkreasi. lagian, gue ngerasa passion gue bukan di bidang telekomunikasi, sih... so i couldn't care less tentang apapun yang terekpos ke gue selama di situ.
trus, selama jadi SAHM & freelancer, yang gue rasain:
- waktu bebas, kita sendiri yang nentuin tapi ujung-ujungnya perlu menguasai time management dengan baik. begitupun soal mood, kita sendiri yang lebih kuat menguasai mood swings supaya bisa stay committed to our schedule and routine. and that, my friend, is a hella tough job for the ever-impulsive moi.
- waktu bebas, kita sendiri yang nentuin tapi ujung-ujungnya perlu menguasai time management dengan baik. begitupun soal mood, kita sendiri yang lebih kuat menguasai mood swings supaya bisa stay committed to our schedule and routine. and that, my friend, is a hella tough job for the ever-impulsive moi.
- being at home with the kid all day sounds like fun. but most days, it doesn't feel fun at all. kita selalu bersama orang lain, tapi can't help not being lonely... aneh, 'kan? i think what i miss the most is adult interaction; pembicaraan 'bermutu' meskipun cuma tentang model baju atau gosip artis xD but at least you do that with an adult! nggak heran malah gue yang senewen kalo Bumy libur sekolahnya (ke)lama(an)!
makanya, sering dengan waktu i found out kalo me time = wajib, demi kewarasan. entah itu meet&greet sama temen, nyalon, pijet, olahraga, skip nganterin anak one school day every two weeks at least just to be alone at the house, dll. but as we know, kebanyakan sarana me time itu perlu biaya 'kan... hahaha iyalah! and that leads us to money subject.
- because i'm a freelancer, income ya tergantung project. gak cuma itu, it also depends on us to be creative and innovative dalam menjemput rejeki; gimana kek caranya, entah memperluas networking, berani menjajal bidang baru, ngambil risiko baru, dsb.
gue menyadari, meskipun masih punya cicilan dan nggak ke mana-mana disupirin naik alphard, tapi buat gue bisa jadi IRT ini adalah privilege. suami gue banting tulang demi gue bisa 'nongkrong' (sambil nulis atau ngedit artikel, loh, tapii hehe) selama Bumy sekolah. kadang ada perasaan nggak enak juga sama dese, pengen balik join the workforce lagi untuk ngebantuin doi nyari duit.
gue menyadari, meskipun masih punya cicilan dan nggak ke mana-mana disupirin naik alphard, tapi buat gue bisa jadi IRT ini adalah privilege. suami gue banting tulang demi gue bisa 'nongkrong' (sambil nulis atau ngedit artikel, loh, tapii hehe) selama Bumy sekolah. kadang ada perasaan nggak enak juga sama dese, pengen balik join the workforce lagi untuk ngebantuin doi nyari duit.
apalagi as we know it, biaya hidup merangkak naik terus. it may sound like a cliche tapi berasa banget buat gue sejak jadi "IRT-saja." mungkin karena yang diutak-atik jadi duit suami doang, yah, beda aja rasanya mentally. jadi harus lebih "bertanggung jawab" mengalokasikannya.
nah, alokasi expense yang jadi prioritas kita tuh sekolah anak. mau nyari yang 'bermutu' dan cocok di hati, biayanya juga mihil. don't pay peanuts if you don't want monkey ya berlaku banget. di luar yang "primer" itu, kita juga perlu ngebiayain gaya hidup. mungkin ini nih, yang suka dibilang "hidden costs."
bicara soal hidden costs of living, adit kemaren tau-tau cerita, "eh, gaya hidup di X (a suburb in tangsel) itu gila juga, yak. temenku kemaren disuruh istrinya pindah kerja karena suami temen arisannya kerja di industri Y dan duit bonusnya bisa buat beli alphard." gue ngakak sih pas denger! what is it about middle class dan punya alphard?? sesuatu sekali, sepertinya, even *I* made a reference to it earlier. but i bet adit's friend wasn't laughing when her wife told him that :|
- meskipun di poin di atas gue ngebahas soal duit panjaaaang banget (yakan just like the popular tagline "ujung-ujungnya duit"), ada hal lain yang juga penting, yaitu fulfillment. gue ngerasain banget selama bekerja di luar 'dinding' instansi dan terjun di bidang kreatif, pikiran jadi terbuka, segar oleh rentetan ide, lebih bisa mengeksplor diri, dan gue jadi terekspos pada banyak hal di luar 'kotak.'
jujurnya gue juga rindu banget sama kehidupan yang nggak rumah-sentris semata, alias pengen being among adults dan fokus berkarya (hence, the fulfillment). meskipun emang nggak harus kerja full-time, sih, untuk bisa berkarya...
jadi gimana, udah bisakah gue nyusun prioritas?
tetep aja bingung, sih, sebenernya!! hahahah xD
berhubung a blind man shouldn't lead another, jadi gue balik ke buku ini lagi aja untuk nemuin guidance. a career coach himself, Rene surely knows what he's saying. dan gue nemuin kata-kata ini...
"be who you are; kenali strengths, passion dan purpose of life kita. this self-awareness will lead you to do what you love. emang gak ada jaminan sih semua yang kita inginkan itu akan diperoleh seketika. makanya, kita mutlak perlu sabar. meskipun begitu, in the process, kepuasan dan kebahagiaan sudah menjadi milik kita, bagian dari kita, dengan memahami who you are, not what you have."
wow... that sure is *deep*.
kalo menilik nasehat itu, PR gue masih buanyak banget, sik. gue belum pernah mikirin apa tujuan hidup gue. tapi, buku ini juga ngasih saran lebih lanjut soal passion. what to do kalo emang lo udah nemuin passion lo itu?
1. believe in yourself and be courageous.
2. passion is all about what you FEEL when you do things.
3. perluas horizon.
4. jangan nanggung.
5. be enthusiastic and positive.
6. enjoy the process because the journey doesn't have a finish line.
yang gue bold ini yang menurut gue paling 'nampol,' sih. self-discovery itu nggak akan ada ujungnya.
yang jelas, mungkin gue akan balik kerja kantoran full-time begitu Bumy masuk SD dan gue bisa kerja di tempat yang fleksibel dari segi waktu (yet also creatively stimulating). in the long run, maunya sih bisa punya my own startup and it can be profitable jadi gue bisa nerapin 4-hour work per day - meskipun sekarang juga udah begitu, sih, hahaha. but a girl can dream.
jadi, jawabannya apaan? what's number one on my cacreer triangle? buat sekarang, jawaban gue sih "time," ternyata. maunya tetap bisa hands-on ngurus anak, punya kesempatan me time juga, meskipun dari segi duit kudu dibuat beberapa pengorbanan. paling nggak, merem dulu sama beberapa target di financial plan xD
lagian, sometimes we just have to trust the process and the big picture, nggak sih? isn't that what being ikhlas all about?
yaah, mungkin inti dari semua celoteh/rengekan gue ini sama aja sih, seperti lima tahun atau lima bulan yang lalu. gue butuh terus-terusan diingetin sama apa yang baik buat diri sendiri dan keluarga. kegalauan pastinya bakal muncul terus, namanya juga idup, kadang jalan lurus kadang mencong. the journey doesn't have a finish line pan katanya tadi. hihi.
yah namaste aja aja deh, pokoknya.
"may all beings be happy, blessed, and free."

Always love your posting yang model-model begini nih Ris... Lo bener-bener bisa bluntly share both sides of a living...
ReplyDeleteYang jleb nih: "kegalauan pastinya bakal muncul terus, namanya juga idup, kadang jalan lurus kadang mencong" hihi
Kalo lagi mencong ya, jogetin aja shayyy... alias dancing in the rain... ;D
aah Desi, komen ini bikin gue merasa ocehan gue ada artinya hahaha. thanks, yah *hugs*
Deletebener, sih, kayak yang pernah gue baca di Pinterest, life is about learning to dance in the rain. sayangnya not literally, padahal akik suka banget ujan-ujanan aheeh xD
hmm...baca ini jadi ngerasa ada temen, sering bingung,galau dan semacamnya. pengen ini-itu tapi ini-itu. sering ngerasa ga punya tujuan hidup, meski sering memikirkannya.
ReplyDeletetapi...memang dasarnya manusia ya mba,,harus selalu bertanya2 aga hidup berkembang dan tak "begini" aja.
nice post mba...aku suka tulisan mba riska.
bagus ngerangkumin buku2 gitu...daripada aku, belum punya resolusi utk nuntasi utang baca-nya x_x
hehe,,,thx
halooo, salam kenal! ihik makasih ya udah dibaca.
Deletemungkin bertanya-tanya itu tandanya "hidup" yaah.. jadi emang harus dan perlu. tapi aku selalu berekspresi begini kalo udah membahas soal tujuan hidup --> (.__.)