konsep membuat visi-misi buat keluarga pertama kali gue ketahui dari buku Bruce Feiler yang rasanya udah sering gue sebut-sebut, "The Secrets of Happy Families" - buku yang bagus dan mencerahkan banget, btw. di sini, om Feiler membahas seputar family mission statement dalam satu bab khusus berjudul "Branding Your Family.".
sebelumnya, gue ceritain dulu yaa, kalau gue sendiri kerap ngerasa susah menentukan prioritas. terlebih setelah punya anak. kalau di atas kertas, sih, udah jelasss, bahwa begitu hadir, anak seyogyanya jadi prioritas utama. tapi, apakah prakteknya juga begitu?
seringnya 'kan kita harus sadar diri akan keadaan dan bikin banyak kompromi.
misalnya, mau mengasuh anak full-time seketika si anak lahir. sayangnya, kondisi secara finansial belum memungkinkan karena dana darurat aja belum punya. walhasil kita settle ke opsi lain yang lebih masuk akal.
atau seandainya kita dapet tawaran pekerjaan yang oke dengan benefit yang lebih baik tapi workloadnya lebih tinggi, di saat kebetulan lagi hamil. pilihannya apakah kita mau stepping up on the career ladder dengan tantangan harus lebih jago manage waktu/juggling, atau mau memilih settle dengan pekerjaan sekarang dengan segala konsekuensinya juga.
berkaca dari pengalaman, kalau urutan prioritas nggak dinyatakan dan disepakati sama pasangan, urusan pilih-memilih ini bisa bikin rungsing. meskipun menurut gue manusiawi banget to want to have it all. kalau bisa ya urusan keluarga perfect, karir perfect, hubungan sama suami juga perfect. but isn't having it all only a myth?
nah, di bukunya, om Feiler menjelaskan soal metode memberikan branding untuk keluarga. bagaimana beberapa orang menerapkan brand untuk keluarga seperti layaknya untuk perusahaan.
brand atau merek bisa dimaknai sebagai tanda yang dikenanakan pada barang-barang sebagai tanda pengenal, atau juga sebagai kegagahan, keunggulan, kualitas (KBBI). dalam brand - untuk keluarga - ini dimuat pernyataan misi keluarga, bisa juga dicantumkan daftar dari nilai-nilai yang dipercayai semua anggota keluarga, atau bahkan logo atau tagline yang bisa mewakili "brand" keluarga tersebut.
kenapa membuat branding untuk keluarga akan sangat berguna? menurut David Kidder yang menjadi salah seorang narasumber penulis di buku ini, banyak perusahaan 'muda' yang gagal karena nggak mengomunikasikan nilai-nilainya. "you have a charismatic leader with a bunch of beliefs, but those beliefs don't translate to the rest of the company."
hal yang sama bisa dianalogikan ke dalam unit keluarga. orangtua tentunya punya visi dan misi yang mau dicapai, baik untuk anak-anaknya maupun buat keluarga itu sendiri. orangtua juga ingin nilai-nilai yang mereka anut dan budaya yang mereka jalanin bisa diteruskan ke anak-anak mereka.
nah, dengan menuangkan visi, misi, dan nilai-nilai dalam sebuah wujud pernyataan yang jelas, orangtua bisa menyampaikan cita-cita luhurnya, dan anak-anak jadi tahu perilaku seperti apa yang diharapkan dari mereka.
setelah gue pahami, bikin branding untuk keluarga ini berguna sebagai kompas. orangtua jadi sadar apa sih tujuan jangka mereka. apa sih misi yang mereka usung dengan memiliki keluarga. lalu dengan menyatakan visi-misi yang jelas, orangtua jadi bisa menyadari urutan prioritas dalam hidup mereka.
hal ini bikin gue teringat kata-kata di "the great speech"-nya bapak Anies Baswedan, dia bilang cita-cita itu berbeda dengan misi. misi bisa diwariskan, bisa diteruskan kepada orang-orang yang satu visi dengan kita. kalau kita nggak bisa mencapainya, misi itu nggak mati. sementara cita-cita hanya untuk pribadi, dan cuma bisa dicapai oleh diri kita sendiri.
ini bener-bener nyambung dengan apa yang tertuang di buku om Feiler. apa yang membuat suatu entitas (perusahaan, agama, keluarga) abadi adalah ia didasari oleh seperangkat core values atau nilai-nilai inti. nilai-nilai ini dapat bertahan lama, dan menjadi semacam lem yang daya tahannya melampaui waktu dan batas geografi.
whoa... bener banget. kalau udah tahu nilai-nilai apa yang dipercaya, kita jadi terbantu buat fokus ke tujuan jangka panjang atau "misi agung" yang mau dicapai.
lalu, branding macam apa yang kami bikin untuk keluarga sendiri?
sekitar sekian bulan setelah menemukan konsep ini di buku om Feiler, akhirnya gue tergerak juga untuk mencoba membuat family mission statement sendiri.
kalau mau jujur, sebenernya gue (dan adit) seringkali ngenyek sama hal-hal berbau motivator (iya, motivatornya bukan motivasinya). gara-gara jaman sekarang ini keliatannya gampang banget untuk jadi motivator. tinggal copas kata-kata mutiara nan indah, bikin status bernada menggurui namun bijaksana di FB, bergaya holier than thou, atau ujug-ujug menerbitkan buku cara-cara instan menjadi kaya (true story).
tapi, gue selalu suka sama konsep lebih mengenal diri sendiri dan sama hal-hal yang berbau perubahan menuju arah yang lebih baik. jaman SMA dulu gue sempat mengoleksi buku-buku self-help, trus juga doyan menyelundup ikut kuliah di kampus psiko ui bareng nuri, haha.
oleh karena itu, meskipun yes, a part of me thinks this is a bit bullsh*t-y (pardon my french) dan skeptis, "apa sih gunanya bikin-bikin ginian? emang ngaruh?!" tapi sebagian diri yang lain berpikir nggak ada salahnya nyoba.
kembali ke topik, setelah duduk ngopi-ngopi pada suatu malam minggu (dan bumy dititipkan ke oma - cencunya), akhirnya kita berhasil menyusun poin-poin yang kita sepakati sebagai values atau nilai-nilai luhur keluarga. ada value yang standar banget, hehe... standar tapi esensial, sih, karena berguna sebagai moral compass. kaya "faith" (gini-gini beta juga mendamba syurga, keless xD).
ada juga value yang somewhat inspired by my father. it's "family." beliau punya prinsip kalau keluarganya nggak boleh kocar-kacir secara fisik, sebisa mungkin. dia menolak ditempatkan kerja di kota yang berbeda dari keluarga dengan risiko kelewatan promosi. dia juga nggak ngebolehin waktu gue mau masuk SMP di jakarta dan tinggal sama nenek. menurut doi, apapun yang terjadi, family sticks together. :')
trus ada juga hal-hal yang terinspirasi dari "daftar values" di buku om Feiler, hehe. di dalam buku, dia mencantumkan sekian banyak kata benda yang bisa dijadiin nilai-nilai, lalu kita disuruh memilih sendiri mana aja yang kita rasa cocok sebagai panutan.
om Feiler juga menyarankan agar setelah family mission statement ini disusun, kata-kata tersebut kita tuangkan ke sebuah poster yang bisa dilihat dan dibaca seluruh anggota keluarga.
i get it, sih, jadi supaya mission statement ini berguna sebagai guidance dalam bersikap dan mengambil keputusan dalam keluarga. misalnya kalau si emak lagi marah-marah dan kebetulan di poster tercantum value "politeness," anak-anak atau suaminya bisa tinggal nunjuk, "eh eh, liat tuh, kita 'kan udah sepakat harus berkata-kata sopan."
atau misalnya si bapak lagi mempertimbangkan beli sepeda balap abis dapet bonus, tapi anggota keluarga yang lain ngingetin value "experience" yang juga udah disepakati. "bukannya kita lebih memilih pengalaman dibandingkan barang-barang?" hehehehe.
well, setelah berjibaku dengan MS power point semalaman, akhirnya gue bisa juga menuangkan values dan mission statement yang udah dibuat dalam bentuk visual. sempat juga minta pendapat sohib gue grafityo yang berkecimpung di bidang bikin-bikin poster. alhamdulillah dengan baik hatinya dia mau bikinin. lalu setelah gue edit-edit lagi, inilah hasilnya:
"At the end of the day, you want your children to be truly happy. And that's what this board is trying to do. I believe words matter, even a few words. Maybe they'll matter when the kids are young; maybe they'll matter when they're eighty. Who knows? But this puts onto one piece of paper all the words that matter to their parents." - David Kidder on "The Secrets of Happy Families" page 61.
Owsemmm!!! And you put it on paper!!! More owsemmm. Couldn't agree more, we need this compass to lead our ways. Supaya kalo lagi rungsing bisa bangun bediri tegak lagi & go on with our lives. Great piece, love it
ReplyDeleteaww terima kasih, Ristiii :")
Delete