18/06/2014

fall from grace

(warning: this post contains 65% rambling, 35% rants)

mei ini masa cltp gue genap setahun. oh, how time flies... wait, does it really feel so?
kayanya kurang tepat kalau waktu dibilang terasa cepat berlalu. soalnya, masa adaptasi perubahan peran ini kerasa beneerrr lajunya sama gue. ya rempongnya, capeknya, bosennya. tapi juga senengnya, ngerasa bebasnya, pembelajarannya, semuaaa gue telan dan hadapi hari demi hari. some days feel long. some pass by like a blink of an eye. on certain days, i could find myself thinking, "tell me why i chose to do this again?"
what's certain is that it's never a smooth-sailing journey.

jujur aja, mendekati habisnya periode cltp tahun pertama, gue merasa agak galau. kalau kata om toge, galau itu pertanda hati dan kepala nggak kompak, hehehe.
pada saat gue harusnya mulai ngajuin perpanjangan cltp, gue malah menunda-nunda untuk ngurusin. meskipun "si kepala" tau kalau kondisi gue saat ini nggak memungkinkan untuk ujug-ujug kembali bekerja, tetap aja "si hati" suka kumat merengek-rengek, minta didengar. 
supaya bisa memberi penyaluran untuk sampah emosi "si hati," gue putuskan untuk mencurahkan apa-apa yang bikin mumet dan berkontemplasi di sini....

1. i think i totally suck at time-management.
seperti pernah gue curhatkan di sini, jadi IRT harus pinter ngatur waktu. terutama IRT yang gak punya pembantu macam gue. selama ini, ritme hidup gue terbentuk akibat status sebagai karyawan. pagi berangkat kerja. sampe di kantor ya disibukkan dengan tugas-tugas (kalau ada. atau sibuk browsing kalo lagi magabut, haha). siang lunch, sore pulang, dst. semua aktivitas udah ada slot waktunya.
sementara sebagai IRT, gue sendiri yang harus pinter-pinter bikin jadwal dan mendisiplinkan diri ngikutin jadwal itu. eh, apa tadi, DISIPLIN?

mungkin buat orang yang karakternya organized, hal ini bisa lebih mudah dijalani. mungkin, ya... karena bagi gue yang impulsif, moody, dan gampang bosen sama rutinitas, for real, disiplin itu beraaat untuk dijalanin! 

tapi... apa iya segitu beratnya memenej waktu sampai gue pengen 'resign' jadi IRT? yah, sebenernya, sih, karena di-combine dengan...

2. perasaan lacking of achievement.
hal ini yang sepertinya gak gue antisipasi saat mau banting setir dulu. dan jujurnya, karena baru terasa saat lo udah 'nyebur' ke dalam profesi IRT.
jadi IRT, tuh, mau lo 'berhasil' nyuci piring+nyapu ngepel+masak+bersihin halaman+akrobat+melalui hari sama anak tanpa berantem dalam sehari sekalipun, at the end of the day, noone congratulates you. gak ada tepukan (figuratively) di bahu, dan buat gue, gak ada sense of achieving something.
karena besoknya, you'll do the same thing all over again. 


gambar dari sini

lalu, mungkin ini faktor kedangkalan pemikiran gue aja, ya. atau mungkin i have to much "free" time on my hands sehingga banyak 'rumput liar' tumbuh di alam pemikiran, tapi perasaan lacking of achievement ini sedikit-banyak dipupuk oleh... keterlibatan diri di social media. 
gamblangnya, di saat lo 'berhasil' menyelesaikan nyetrika 50 helai baju dalam semalam, atau 'sukses' menyulap halaman rumah bebas daun-daun kering, bobotnya terasa jauuh berbeda jika dibandingkan dengan pengumuman keberhasilan mereka yang abis dipromosi di kantor, atau yang berhasil liburan ribuan kilometer jauhnya setelah dapet bonus, atau yang sukses kerja disambi jualan via online shop. 

dan the ever-comparative me juga dihinggapi pemikiran kenapa gue tetap gak bisa berprestasi padahal udah banting setir. seharusnya 'kan i have more time on my hands? seharusnya 'kan gue bisa leluasa mengeksplor kemampuan gue? tapi, kenapa gue belum punya karya apa-apa yang bisa dibanggain? atau kenapa gue gak punya bisnis yang menghasilkan jutaan?

dangkal, ya? indeed. gue juga terganggu sama hal ini. bahwa gue dapat dengan mudah ter-distract oleh pencapaian orang lain. padahal tujuan hidup gue berbeda dengan mereka. padahal kondisi perikehidupan gue nggak sama persis dengan mereka. padahal lagiii, nih,
"prestasi itu tentang hasil karya. berjuang meraih tujuan dengan mengelola diri. bukan tentang hasil lomba, bersaing meraih gelar juara dengan mengalahkan orang lain." - Om Toge.
*tertohok*
bener juga, sih, seandainya gue bisa membuktikan bahwa gue bisa meraih semua pencapaian yang "keren" menurut standar hidup orang lain, apa maknanya akan tetap sama buat gue? are those kinds of achievements really what i NEED for myself? 
"who do you want to entertain: the audience or yourself?" (Man on the Moon, 1999).

...sepertinya gue perlu menulis ulang definisi gue soal "pencapaian."


3. susahnya perjuangan untuk konsisten.
told you i'm moody. kadang-kadang hadir perasaan (baca: bisikan setan) yang ngingetin gue akan pertanyaan lama: apakah gue gak sedang menyia-nyiakan masa produktif dengan jadi IRT? kelihatannya, semua orang di luar sana hidupnya dinamis, mereka bergerak dari satu lokasi/posisi ke tempat yang lain, mereka terlihat evolving dalam hal material maupun pengalaman. sementara gue? kok gini-gini aja. eh, ada, sih, perubahan: tambah gendut T__T

back to topic, why is it so hard for me to be persistent?
padahal, waktu kita (gue & adit) ngambil keputusan ini, yang jadi fokus kita adalah tujuan jangka panjang. kita mau bumy diurus sama emaknya. kita mau mandiri. kita mau jadi keluarga yang utuh, selalu bersama. dan serentetan cita-cita luhur lainnya.

hmm, kalau mau jujur, gue rasa jawabannya adalah... karena gue belum sanggup kecewa. akibatnya, gue jadi belum sanggup berjuang. hihihi (harusnya tertampar malah cekikikan). 
(ini terkait dengan ruasdito yang akhir-akhir ini lagi gue dalami. but i guess that's for a whole other post).

setelah ngoceh panjang-lebar gini, mendingan sekarang gue menarik semacam-kesimpulan dan solusi aja, deh, ya, supaya (terkesan) ada juntrungannya:

1. gue butuh penyaluran emosi yang aman dan efektif. 
kalau badan udah capek, hati juga resah karena marah-marah sama anak, akibatnya jadi makin betekkk dan unhappy, atau "error." 
kata om toge, setiap orang butuh istirahat fisik (rebah) dan rekreasi hati (rehat). "kalo salah satunya nggak dipenuhi, potensi error akan makin besar."
let's see, apa aja sih metode rehat yang efektif buat gue? 
melantur di blog sendiri. nyanyi-nyanyi di mobil. ketemuan sama sohib-sohib. the list shall continue. tapi yang terpenting, punya penyaluran emosi yang 'bener' itu menjadi salah satu cara mengasah kesanggupan kecewa tadi. namanya juga idup (baca: realita), nggak selalu sesuai dengan keinginan. kalo gak sanggup kecewa ujung-ujungnya ya jadi demen maksa. maksa keadaan berubah... tolong dicek kata-kata oma Joan Rivers tempo hari, "Things don't get better. YOU get better."

2. berkaitan dengan problema nomor 2 di atas, soal lacking of achievement, sepertinya selain perlu meluruskan niat lagi, gue juga perlu take notes on little things and mundane stuff that's happening around me. seperti saat gue dan si buah hati berduet "angin pujaan hujan" dan lagu-lagu the carpenters di kamar. menikmati perkembangan anak hari demi hari (defense standar SAHM banget, ya, kedengarannya? tapi gue gak defensif kok inii, hehe). saat si anak memamerkan kebisaan-kebisaan baru, saat dia curhat soal 'konflik' di sekolah dan cara dia menanganinya, saat-saat bodornya, saat celotehnya bikin tercengang dan takjub. should just enjoy these things while they last. 

3. but on the long run, i think there's a chance i might go back and join the workforce.
meski belum menjadi keputusan, tapi ada kejadian yang membuka mata dan ngasih gue warning. jadi, beberapa waktu lalu ada kesempatan di mana gue bisa mingling dengan ibu-ibu berusia sekitar sepuluh tahunan di atas gue. anak-anak mereka udah pada SMP atau bahkan SMA. most of them are housewives. setelah  beberapa jam di antara mereka, i suddenly had an epiphany... yaitu harapan gue punya regular day job saat seusia mereka kelak... hahaha. 
gue inget Pak Lilik dulu pernah bilang kalau dia ingin istrinya tetap bekerja, yang terutama bukan untuk penghasilan, tapi supaya si istri tetap bisa terekspos dengan "dunia luar," dengan permasalahan-permasalahan yang dapat mengasah pemikiran. it seems like he thinks that professional life can shape a person's mind and point of view, for the better. 
dulu dan sekarang, gue setuju sih sama opini Pak Lilik tersebut. itu juga penyebab gue tetap berusaha punya pekerjaan yang mengasah otak meski cuma freelance. 
terlebih setelah ketemu ibu-ibu "senior" kemarin, hehe... well, maybe i just happened to meet a 'wrong' sort of crowd. entahlah. semoga jalan yang sekarang gue jejaki bisa membawa gue ke tempat-tempat yang paling sesuai dan terbaik buat perkembangan jiwa gue.

can i hear an "amen?"   
now, let's summon this long rant with a Blur's video. lagu ini kerap berputar-putar di kepala beberapa waktu belakangan.


2 comments:

  1. hello... berkaca dari pengalaman sendiri, I need at least 1 year to finally settle in the new zone after every drastic change (dan sudah pernah melalui fase seperti ditulis di atas juga heuheu). Dan setelah settle pun akan ada aja masa-masa terusik dengan pencapaian orang lain :D So yeah, give it time, dan benar banget, ukuran pencapaian orang lain akan beda-beda. Semoga bisa cepat sudahan galaunya, yaa.. :D Salam kenal, BTW, maap panjang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hi there!
      you know what, i read dan re-read your words and hope to absorb them like a sponge :))
      thank you for the encouragement, and also for dropping by.
      btw, you have a very interesting blog. i myself have a "soft spot" for blog ibu-ibu yang tidak-all-rainbows-and-butterflies, hehehe.
      nice to meet you, a.cp! hihi.

      Delete