18/08/2013

on tolerance

saat gue sedang duduk terpaku di depan tv menonton law & order criminal intent, dear husband (DH) memberi wejangan, "nanti jangan malem-malem ya tidurnya." which i responded with, "iyeee!" then continued munching a very delicious homemade baked salmon & potato with keju lumer on top specially made by him. heheh.

tapii... mungkin karena dengan khusus "disuruh", gue malah jadi kepingin melanggar. (he literally has two children). seperti sekarang, bumy dan DH udah tertidur, gue malah 'iseng' nyalain laptop.

something is bothering my mind. mungkin ini sesuatu yang jarang gue ulas, tapi i'm just kinda into it tonight.
sejak kemarin malam, gue--antara sengaja dan tidak--memantengi akun twitter haf*dz ary (HA) yang sedang berdebat dengan salah seorang celebtwit. bahan perdebatan mereka adalah tentang si HA yang minta didanai 30 M supaya dia sudi berangkat jihad ke gaza. geez, this guy.
well, dari kalimat itu udah ketebak lah ya gue 'memihak' ke mana.
i have to be honest that this guy's tweets makes me cringe most of the time. why most of the time? karena dulu, long long time ago (yeah, about two years ago doang sih kayaknya), i did follow his twitter account. he was twitting about menanamkan keberanian supaya mulai berbisnis, gue inget.
penilaian gue saat itu sih, berapi-api juga nih orang. tapi inputnya gue rasakan berharga. sampe-sampe gue save beberapa twitnya (soal berbisnis tadi) yang menurut gue "oke", lalu malamnya gue bacain ke adit, untuk minta pendapat dia. adit sih yang, "ah terlalu menggampangkan nih orang." needless to say he wasn't impressed.

sampai lalu beberapa lama setelah follow, gue perhatiin, kok 'ni orang memuat twit-twit yang anti agama tertentu, dan dengan cara yang frontal banget. awalnya gue masih berpikir positif, oh mungkin nih orang gerah sama kenyataan di lapangan di mana (menurut dia) banyak terjadi usaha-usaha pemindahan agama. jadi gue bertahan deh, tetep follow. bahkan gue berusaha ngambil yang baik-baik, yang bisa dijadiin warning untuk diri sendiri.
tapi lama-lama, omongannya mulai ngelantur. gue gak bisa inget saat ini apa aja yang ngelantur itu, but i can remember clearly how i felt. ngelantur yang gue maksud adalah mencaci-maki dan mendiskreditkan agama lain. gini yah, gue dibesarkan dari lingkungan keberagamaan yang gak homogen. keluarga bokap 95% beragama berbeda dari gue. but i've known them my whole life, and we get along fine. kalo lebaran, mereka seringnya jadi tamu keluarga yang datang paling awal dan pulang paling akhir. kalo natalan dan tahun baru, kita gantian sowan. dan gak pernah sekalipun mereka mencoba menyusupkan materi untuk pindah agama ke keluarga gue. they are just people, normal non-antagonist people, who happen to have a different religion than ours.

jadi, gue mencoba menganalisa kegerahan gue sama si HA ini karena menurut gue, pengalaman hidup gue bersama para pengikut agama lain itu baik-baik aja. gak kayak dia. yang jadi sampe sebegitu provokatifnya mengejek agama lain. dan gue gak suka ocehan gaya caci-makinya itu. he openly provocates war. dikira ada gitu orang agama lain jadi mau convert jadi muslim gara-gara dicaci maki? reaksi otomatis orang kalo digituin ya defensif, kali. lagian dengan gayanya yang khas-anak-rohis itu, bukankah seharusnya he knows better, thus he can act more terdidik dan santun? whateverlah, yang jelas gue akhirnya memutuskan untuk unfollow dia.

tapi unfollow nggak serta-merta bikin gue bebas dari twit-twitnya HA. beberapa orang yang gue follow adalah followers dia, dan kadang meretweet dia. untungnya, akun yang gue follow itu gak pernah meretweet ocehan-ocehan berbau kebencian dan provokatif HA. jadi gue gak ngerasa perlu meng-unfollow mereka juga.

lalu yang namanya kegiatan ITJ mulai merebak di twitter. HA nih salah satu ponggawanya juga. dan followers HA yang gue follow tentunya pro ITJ. i'm not saying i'm pro JIL, tapi gue juga gak pro ITJ sih. saat menemukan tulisan ini (Terganggu dengan JIL dan Anti-JIL), gue jadi merasa sangat terwakili. on why i don't feel i need to choose, and yes, some people (moslem, indonesian, who don't pick any side of "liberalism" hullabaloo) are bugged by HA.

kenapa gue gak milih? karena it bothers me, to see how a large part of HA's followers menganggap semua ocehan HA as if he can do no wrong. menelannya bulat-bulat, dan gak terkesan ada usaha untuk menjadi objektif.
gini ya, gue selalu berusaha mengapresiasi apapun yang gue baca secara rasional, dan kalo bisa, kritis. sounds so intellect, huh? ya enggak juga siih, maksudnya cuma supaya gak gampang tergoda secara emosional, dan supaya gak ngebebek aja tanpa pake filter pikiran dulu. nah, menurut gue, ini yang gue gak suka dari para followers HA itu. mereka membela ocehan-ocehan HA tanpa pandang bulu. disuruh benci X, ngikut. disuruh bela Y, ngikut. si HA ocehannya ambigu, mereka yang sibuk nyariin dalih. si HA ocehannya ngawur, mereka yang sibuk nyari pembenaran. lah?

gue mencoba objektif, sih. pada episode twitwar si HA dengan celebtwit kemarin, gue mencoba menilai juga ocehan pihak lawannya HA. i do think si lawan ini melebih-lebihkan dan kadang gak punya bahan 'perdebatan' (more like adu bacot, actually) yang "tepat." kayak nyela-nyela tampangnya HA-lah, atau nuduh HA makan duit sumbangan dari orang-oranglah (did they say it based on facts?). (usaha untuk--semoga--objektif) ini membuat gue gak "pro" ke pihak manapun, dan "bebas" membuat penilaian sendiri.

dalam urusan social media, mungkin kredo paling tua ini selalu bisa dijadiin penyelamat: kalo gak suka, ya tinggal tutup. gak usah baca twitnya, acuhkan postingannya, dsb.
ya, gue tau itu. kemarin ini gue baca twitwar HA juga atas keinginan sendiri. gue tau gue punya pilihan untuk mengacuhkan dia dan orang-orang lain sejenis dia. (another tokoh that posted really irritating twits is the one who *dictates* perempuan harus seperti apa. geesh, maybe i'll 'deal' with him later. kalo mood.).
tapi yang namanya ketidaknyamanan ini ingin gue entaskan. at least for tonight. gue gak peduli kalo dijudge sebagai islam ktp, islam abangan, atau apapun. tapi gue emang hidup dan dibesarkan dalam paham diversity and tolerance. keislaman gue dan keluarga gue emang jauh banget dari sempurna, tapi gue bersyukur gue gak merasakan kebencian dan menyebarkan caci-maki pada orang-orang yang berbeda agama dari gue. 
gue juga bersyukur gak pake kacamata kuda, yang menerima buah pikir seseorang tanpa disaring dulu, tanpa mempertimbangkan how he/she acts would make me feel. because it matters; penilaian gue, perasaan gue, attitude gue. amit-amit jangan sampe kehilangan identitas di masa keberlimpahan informasi ini.

ngelantur ya gue? well, maybe i am.
sepertinya gue merasa se...terganggu ini sebagiannya karena memikirkan seperti apa era kehidupan anak(-anak) gue kelak. apa nanti pemerintahan yang fasis yang akan berkuasa? apa nantinya di bumi ini semua orang harus 'seragam'? apa nantinya kebencian terhadap perbedaan akan menjadi hal yang wajar? it scares me, really.
(deep sigh)

at the end of this note, gue ingin memuat satu lembar halaman dari buku "Karung Mutiara Al-Ghazali" yang gue miliki sejak SMP dulu. satu halaman ini sangaatttt membekas di diri gue, i practically remember it everytime gue mulai merasa holier-than-thou. i hope it'd touch you as well. 


4 comments:

  1. Ris, kalau disuruh tidur sama suami, ya, tidur dong. Jadi istri harus nurut...bhihiihihihikkkk *look who's talking*

    Gw juga merasa banyakkan dari orang indo, masih gulible. Gadget boleh canggih, tapi sayangnya mentalnya masih ketinggalan jaman.

    Dan gw merasa orang-orang religius yang pakai kacamata kuda itupun hidup dalam kotak,ris. Kinda sad, ini sesama muslim tapi kok hatinya gak damai dan malah seperti penuh kebencian :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. I agree. Ekonomi indo lagi bagus banget, tapi banyak yang pada kaget dengan keberlimpahan informasi di era internet/socmed on their gadgets. Pola pikirnya gampang kebawa arus gitudehh.

      Delete
  2. Ris, sekalinya gue blogwalking baca beginian rasanya nyesss..

    Ini salah satu hal yang bikin gue campur aduk (kesel, mangkel, marah, gemes, dsb.). Beberapa kali baca twit orang-orang yang sangat provokatif karna RT-an orang, salah satunya yang lo sebut itu. Kalo udah gini yang kebayang langsung anak gue. Sedih deh, soalnya yang kayak gini makin banyak dan membabi buta benci sama orang lain. Salah satu usaha gue mungkin dengan ngga masukkin anak ke sekolah homogen, biar dia bisa belajar toleransi sama orang lain.

    Dan bener, kenapa Islam seakan-akan dibedakan antara ITJ dan Non-ITJ, sedangkal itu kah orang-orang? Pingin kayak lo nih bikin blog kayak gini, cuma belom ada "keberanian" dan pasti kerasa banget biasnya.

    Hal lain yang bisa dilakukan di twitter, jangan follow "so-called" ustadz, siapa pun itu. Dijamin hati lebih damai. Untungnya Quraish Shihab udah ngga twitteran lagi.. (eaaa, idola tetep dibawa-bawa). Eh tapi gue pernah baca tulisan caci maki beliau sih karna non-ITJ itu, makin bikin gue bias.

    Bikin part 2 dong...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gemma, makasih buat komennya. Mewakili isi hati gue juga soalnya.

      Soal sekolah, gue setuju. Tapi ada yg lebih 'ngeri' deh dibanding sekolah homogen, yaitu kompleks perumahan homogen kekeke...

      Soal ustadz, cuma 1 yang masih bertahan di following list gue. Omongannya adem dan jarang tendensius soalnya. Gue tau ustadz favoritlo rasanya, Gem. Masa sih pernah twit anti ITJ gitu? Oh well....(Keabisan kata)

      Delete