14/08/2018

the daring adventure

gue nggak inget pernah baca di mana tapi kata-kata ini terpatri,
dikatakan kalau hal-hal yang "benar" nggak akan membuat suara hatilo bertanya-tanya, "is it the right thing?"
pun nggak akan mendatangkan bisikan-bisikan tentang apa yang seharusnya yang lo lakukan.

time for reality check.

I think I haven't done a proper kind of parenting towards my son. 
I should've done better. he deserves better. 
I think I should've managed my emotions better.. that way all the conflicts I have been facing would come to resolutions instead of anger and pain. semua ada solusinya, gue sebagai orangtua dan manusia dewasa bisa mencari cara, alih-alih larut dalam arus emosi tak berarah. 

sekitar dua minggu lalu gue mencari bantuan lagi, untuk urusan mental. 
udah gila-gilaan deh gue merasa dihajar sama kerepotan dan kelelahan. 
menghandle kerjaan yang menguras pikiran, mengurus bayi kecil, plus mencoba doing parenting ke anak pertama yang menjelang remaja. 
semua mua terbawa jadi drama. 
and that's wrong, ada yang salah pasti. 

gue jadi gampang ngomel terutama sama si sulung. sangaaat gampang ke-triggered.. padahal kenakalan dia ya masih "wajar" apalagi dalam koridor tafakur. nggak ada yang gimana banget sampe kudu diomelin MELULU. (oh gosh jangan sampai malah jadi behaviour problems).

the expert said, I am putting too much into my plate. 
gue seperti itu mostly ya karena overwhelmed... capek fisik dan mental (haloh kurang tidur)... kerjaan meskipun fleksibel dari segi waktu tapi pressure-nya justru lebih besar dibandingkan jadi karyawan biasa.  

the doctor said, harus ada yang dikalahkan. gue harus ngurangin jumlah stressor.
mungkin nggak mundur dari urusan startup? not for now, I said. at least keputusan mundurnya jangan dari gue, tapi kalau memang disuruh mundur barulah... 
buat urusan anak pertama yg sering jadi objek pelampiasan kekesalan (perih loh nulisnya), gue disarankan mengutilisasi partnership. how? urusan bumy dihandle bapaknya SEMUA. misalnya ketika ada behavior problem, ya bapaknya yang negor, atau semata-mata urusan ina inu sekolah... ya bapaknya juga. kenapa ya harus sampe gitu amat? menurut beliau, saat ini gue sedang berada di masa lagi ada bayi yang usianya less than 1 year PLUS sedang ngasih asi ekslusif. it👏🏼is👏🏼so👏🏼damn👏🏼tiring👏🏼physically👏🏼
hormon mamak awur-awuran (still). 
lagian untuk memberikan asi diperlukan kondisi emosional yang “tenang”- menurut sang dokter, it's not asi ekslusif kalo “cuma” susunya yang diberikan tapi bonding dan emotional support dll buat anaknya nggak ter-deliver.

sambil bercerita, somehow gue agak ngerasa “lebay yaaa keluhan gue...”
padahal gue udah hire pembantu pulang-pergi. padahal sam sudah ditaro di daycare. 
tapi ketika mendengar ini dari orang yang bisa dibilang “ahli”, gue baru ngerasa tervalidasi.. selama ini gue masih mempertanyakan jangan-jangan guenya aja yang nggak bener atur waktu, atur tenaga, drama, dll.
si dokter mengatakan kalau indikasi perlu ada "intervensi" adalah ketika hubungan sama orang lain mulai ada yang terganggu. in my case, jelasssss, hubungan gue sama suami dan anak diisi ngomel-ngomel melulu. 

and she said more, punya bayi ya memang melelahkan. tidur malam nggak tenang, anak rungsing. dan itu “saja” tervalidasi kalau bisa bikin stres. moreover with another kid and a stressful job, there’s so much on the plate to make me merasa terhimpit dan mau gilakk. 

I need to be better, for my sake and everyone's sake. 


Did We not expand for you, [O Muhammad], your breast? And We removed from you your burden Which had weighed upon your back. And raised high for you your repute. For indeed, with hardship [will be] ease. Indeed, with hardship [will be] ease. - QS Al-Inshirah



No comments:

Post a Comment