Whew sudah 53 hari aja berlalu sejak gue melahirkan untuk kedua kalinya.
Pengeeeen banget nyeritain di blog, tapi apa daya, hari-hari bersama newborn emang "padet" sampe nyalain laptop aja nggak sempat. Not until now, apparently. Nyuri-nyuri waktu saat si bebi tertidur (siang), marilah kita ulas seputar kelahiran bebi nomor dua. Dan maklumin ya, dibuat berbentuk bulletion board aja haha, saking mandeknya otak.
Sooo.. it's "ALL ABOUT MY Second BORN"
(gak tau kenapa judulnya ditulis huruf kapital semua kecuali di urutan lahir anaknya, eke copas abis pokonya).
1. Epidural?
Yes.
Lagi-lagi ku harus menghadapi proses melahirkan secara caesar. Padahal, seperti waktu hamil Bumy dulu, gue udah berusaha dan juga menyiapkan diri buat bisa lahiran normal. Gue mengulangi melakukan beberapa hal yang sama, kayak ikut pelatihan hypnobirthing dan senam hamil (meski cuma sekali sih).
Tapi lagi-lagi hal yang sama terulang, meski dengan alasan yang berbeda. Delapan tahun lalu gue menyerah pada 'saran' nyokap buat lahiran caesar atas permintaan sendiri karena doi bilang,
"Gak bakal kuat deh kamu nahan sakitnya, kak. Lagian, mama nggak mau cucu mama sampai divakum kalau kamu nggak kuat ngeden."
Ini saran yang berbalut ancaman, sesungguhnya xD
Gimanapun juga, I believed she spoke from her own experiences of 2 kali lahiran normal dan 1 kali lahiran caesar, not to mention she's my mom dan gue berjiwa penurut, jadilah gue manut. I was an inexperienced mother-to-be after all.
So I didn't even try buat lahiran normal dan sampai sekarang nggak tau yang namanya kontraksi itu kaya apa. Was it wrong? Saat itu juga nggak kerasa "benar," sih... just something I had to do.
Fast forward ke delapan tahun kemudian, gue dikasih kesempatan ngerasain hamil lagi sama Allah, dan kali ini somehow muncul tekad buat nyoba VBAC (vaginal birth after caesarean). Awalnya sih nggak berniat sama sekali... tapi mungkin "perjalanan" selama kehamilan yang pelan-pelan membentuk tekad itu.
Selama hamil gue sempat konsul ke 3 obgyn. Padahal selama bertahun-tahun gue konsul dan pap smear sama dr. Ridwan... bahkan waktu mau memulai program TTC (trying to conceive) di awal tahun 2017, dialah obgyn yang gue datangi buat ngecek kondisi daleman. "Sip kok, oke semua. Kalau 6 bulan lagi belum hamil, ketemu saya lagi, deh," kata doi ketika ituh.
Tapii gue ya sempat icip-icip obgyn lain, karena
1. Males ngantrinyaaa buat konsul sama doi.. hahaw.. yah secara beliau dokter populer dan kesayangan banyak orang *lirik Kiki sesama fans beliau
2. Udah tau kalau doi pro normal banget and I wasn't sure mau lahiran normal.
Setelah menjalani bulan demi bulan kehamilan, somehow paradigma gue mulai bergeser... kok gue jadi ngerasa perlu konsul sama dr. Ridwan? Karena rasanya lebih aman dan percaya sama dia setelah mencoba konsul sama obgyn2 yang lain. Nggak cuma itu, kok justru muncul hasrat buat nyoba lahiran normal di sanubari?
Gue jadi kepikiran kalo hakikatnya, lahiran normal itu memang yang "terbaik" yang didesain oleh alam untuk si bayi. Gue juga berpikir kalau it was time to put my reluctance and fear aside demi mencoba ngasih yang terbaik buat anak. Bahkan Adit sempet berucap, "Kayanya lahiran normal bisa ngubah kamu, deh." Tepatnya cara berpikir dan sikap gue dalam mengasuh anak maksud dese.
Hmm... mungkinkah gara-gara dulu Bumy dilahirin dengan cara yang sedemikian tidak gentle-nya (more on pengertian gentle birth), maka gue jadi agak kurang 'konek' sama dia ya? I mean, gue tegaan banget sama doi... banyak yang komen gue galak or kejem bener sama doi. Sebenernya sih gue bermaksud teges, tapi kok kayanya kadang gue kurang berempati sama doi. Entahlah.
Karena itulah saat udah hamil 8 bulan, gue ngajak Adit ikut kelas Childbirth Education (CBE) di Nujuh Bulan Studio. Sebelumnya gue udah pernah ikut prenatal yoga di situ, dan ngerasa cocok sama pandangan mereka soal melahirkan dan lainnya seputar urusan per-ibu-an.
Ternyata, kelas intensif selama 2 hari itu okeeee bangettt. Aslik.
Materi yang disajiin beneran mengubah cara berpikir gue soal melahirkan dan persiapannya yang selama ini ternyata kurang pas. Dijelasinlah filosofi gentle birth itu seperti apa (and nope, gentle birth tidak sama dengan harus lahiran di air hahaha), gimana kita sebagai orangtua perlu punya informed choices dan bikin birth plan, trus gimana lahiran itu butuh persiapan holistik yang meliputi fisik, pikiran, dan jiwa. Mindset kalau lahiran itu melulu soal rasa sakit pelan-pelan diganti dengan pemikiran yang jauh lebih positif dan juga produktif (untuk ngebantu proses kelahiran). Seriously, recommended banget deh kelas CBE ini buat diikuti baik oleh first-time parents, atau kayak kita yang berasa newbie lagi.
Setelah mengikuti CBE, gue dan Adit pun mantap untuk menggunakan jasa Doula (dari Nujuh Bulan juga) demi berusaha optimal lahiran normal. Gak cuma itu, berkat ikut CBE, gue yang tadinya hobi mager di kamar kos sepanjang hari (dan malam) selama hamil, langsung jadi rajin yoga dan jalan pagi at least 30 menit setiap hari. Karena seperti dibilang tadi, kalau kita bukan cuma perlu nyiapin mind and soul buat lahiran, tapi fisik juga penting. Kontraksi itu bisa jadi nyapein banget kalau kita nggak fit ternyata. Jadi kalau gue bisa memberi saran, sebaiknya seorang bumil jangan (terlalu) hobi mager (kayak gue) lah ya.
Di CBE juga disampaikan pentingnya menjaga asupan makan... bukan cuma supaya janin bisa tumbuh optimal, tapi juga supaya kondisi fisik si bumil oke.
Di puncak kemageran gue selama hamil, gue berhasil naikin berat badan sebanyak 5 kg hanya dalam 2 minggu. Pas kontrol sama dr. Ridwan, doi komen "Udah naik 13 kg nih... biasanya naik segitu sampai lahiran, loh."
x))))
Walhasil setelah itu gue bener-bener jaga asupan makan. Nggak otomatis jadi serba organik dan anti micin sihk, tapi ngurangin banget yang manis-manis. Alhamdulillah selama sebulan terakhir kehamilan cuma naik 1 kg, dan sampai lahiran cuma naik 14 kg in total. Lagian 'kan skenario awal eke mau lahiran normal, jadi kalau bisa si baby nggak gendut-gendut amat. Ketika gue kontrol di minggu ke-38, si baby udah 3,3 kg aja beratnya. Weww.
Namun, tak dinyana... tekad buat lahiran normal yang tlah lumayan kuat terpatri di diri harus dimusnahkan oleh fakta kondisi fisik. Saat kontrol di minggu ke-37, sesuai rencana dr. Ridwan ngelakuin pemeriksaan panggul dan dinding rahim. Ketika dicek lewat USG transvaginal, ditemukanlah kalau dinding rahim gue ada yang tipiiiiis banget, yaitu 1,2 milimeter saja.
Kemungkinan karena pemulihan pasca c-section pertama kali dulu gak bagus, ada bagian bekas jahitan di dinding rahim yang tipis banget. Seperti semua orang udah tau, dr. Ridwan nih super duper pro lahiran normal. Bahkan mantan calon doula gue mbak Imu bilang, batas toleransi beliau tuh paling melar dibanding dokter-dokter lain. Dr. Ridwan bilang, kalau aja tebalnya at least 2 mm, dia masih berani ngijinin gue lanjut rencana VBAC. Tapi dengan adanya bagian yang setipis 1,2 mm itu, risikonya terlalu besar. Bisa robek rahim segala (naudzubillah).
Saat ngasih tau fakta tersebut, raut muka dr. Ridwan kaya nggak enaaaaak banget sama kita. Dia bilang, "Saya tuh seneng banget loh kalau bisa membantu ibu-ibu yang mau VBAC."
Yaampun dookkk, nggak papa banget, sih! Jujur ini menumbangkan satu ketakutan gue, yaitu untuk finally ngerasain kontraksi dan menjalani persalinan normal. Meskipun di sisi lain, tak bisa gue pungkiri kalau ada rasa kecewa juga...
2. Father in the room?
Nah, ketika sudah diterima fakta kalau gue nggak bisa melahirkan spontan, waktu kontrol di minggu ke-38, kita mulai membahas soal-soal teknis. Hal pertama yang gue tanyakan ke dr. Ridwan adalah "Suami saya boleh masuk (ruang operasi) ya dok?!" Ini bukan pertanyaan ingin tahu, sih, tapi lebih untuk mengonfirmasi kalau iya Adit boleh masuk. Karena gue nggak siap secara mental untuk taking no for an answer!
Lantas beliau jelasin kondisinya, kalau dia pribadi membolehkan, tapi harus meminta ijin sama kepala ruang operasi atau kepala RS gitu.. karena di KMC aturannya adalah suami boleh masuk saat anak sudah dilahirkan, sebelum IMD. Fingers crossed Adit diijinin masuk sejak awal.
Saat itu kita juga sekalian memastikan tanggal operasi, di mana ujung-ujungnya gue dan Adit malah berdebat antara lahiran Jumat atau Sabtu. Gue pilih Jumat karena barengan sama ultah gue, dan rasanya lebih bagus aja gitu lahiran Jumat, heuheu. Sementara Adit pilih Sabtu "supaya hitungan cuti saya dimulai dari Senin, dok."
Ugh terlalu praktisss deh ini orang apa-apa. Mungkin daripada kita ribut di ruang konsul, dr. Ridwan nyuruh kita diskusi dulu untuk mastiin hari, dan keputusannya ditunggu paling telat hari Rabu.
Seperti bisa ditebak, si bebi akhirnya memiliki tanggal lahir sama dengan gue, tanggal 8 hari Jumat. Kamis malamnya, kita bertiga masih kelayapan di Pacific Place, dan baru sampai di KMC jam 8:30 malam. Sempet drama pula karena gue lupa bawa surat rujukan c-section dari dokter, untungnya bisa dibikinin suratnya saat itu juga. Setelah ngurus ina-inu asuransi, nunggu kamar disiapin, dsb, kita pun check in sekitar jam 9:30.
Kita nginap di rumah sakit bertiga, yang berarti Bhumy ikut bobok di kamar rawat. Malam itu, sementara Adit dan Bhumy tidur lelap sempurna, gue berkali-kali dibangunin sama suster untuk cek alergi, pasang infus, cukur-cukur, dan sebagainya. Jam 4:30 gue mulai didorong ke kamar operasi, dan jam 5:30 operasinya dimulai.
Selama itu Adit udah mulai stand by nemenin gue. Bhumy gimana? Bobok aja sendirian di kamar xD Jam 5:30, supir gue naik buat nemenin Bhumy ganti baju dan siap-siap ke sekolah. Yesss sekolah tetep lanjut, soalnya nggak ada orangtua atau saudara yang nemenin kita di RS. Daripada nanti malah ribet, mendingan Bhumy tenang-tenang di sekolah.
Oya, gimana kondisi gue menjelang operasi?
FREAKING OUT ABISSSSS. As predicted.
Malamnya gue sama sekali gak tidur. Gak bisaaaaa bener-bener, karena ketakutan. Udah zikir, sholat, dengerin hypnobirthing, tapi teteup ajaa kalut....
To make matters worse, menjelang masuk ruang operasi, dikabarin kalau Adit nggak bisa ikutan masuk. GLUK.
(to be continued :P)
Luar biasaaaaa panjangnya hahahaha... semangat momsis
ReplyDelete