18/10/2016

tentang seorang teman belajar.

"sometimes you still love the person but you just have to let go."

itu headline salah satu artikel yang muncul di newsletter yang gue terima (don't ask what website it's from). it does sound cheesy. but I've always been a sucker for anything cheesy anyway. 

gue jadi bengong sejenak sesudah baca kalimat itu... kok semacam sinkron dengan apa yang lagi gue rasain akhir-akhir ini. 
entah kenapa gue semakin merasa hidup sedang mencoba mendewasakan gue dengan menyuguhkan sajian demi sajian rasa kehilangan. 
it's all beginning to feel familiar now: the loss, and the need to let go. 

setahun lalu, di bulan-bulan september dan oktober seperti sekarang, gue harus melepas Kiti (kembali) ke Inggris. kebetulan momen itu bersamaan dengan keharusan gue melepas comfort (really? maybe it's merely familiar) zone dari dunia yang berotasi di urusan domestik aja. 
it wasn't easy.
at. all. 
gue masih berjuang untuk bisa juggling antara rumah dan kantor. which is a STRUGGLE - hooh, pake "is" bukan "was" karena hidup memegang beberapa peran di saat yang bersamaan tetap c̶h̶a̶l̶l̶e̶n̶g̶i̶n̶g̶ SULIT buat gue jalani. sampai sekarang.  

di titik oktober tahun ini, gue sudah kehilangan beberapa orang lagi... 
some I can't get to see anymore - on this earth, at least. 
while some other I lost because they choose a different direction in life. seperti yang dilakukan one of my younger colleagues at work. 

even though I've (only) known her for exactly a year now, tapi kepergian dia ternyata ngasih dampak yang... well, cukup bikin gue tercenung dan merenung. 
segitunya, yak?

maybe I'm the kind of person who gets attached too easily at people.
or maybe because she reminds so much of myself. 
my younger self, to be precise. 
umurnya genap sepuluh tahun lebih muda dari gue. 
anak (cewek) pertama juga kayak gue. 
pinter. suka belajar hal-hal baru. sedang mencoba mandiri. 
gue banyak menemukan tindak-tanduk, kepribadian, dan cara berpikirnya yang bikin gue ngerasa "ih kaya gue banget.. dulu." 
seperti apa yah kalo bisa digambarkan? mungkin berupa a mixture of curiosity (cluelessness?), optimism (naivety?), and determination (stubbornness?). 


I remember exactly what it was like to be her.. baru lulus, bingung mau "ngapain" sehingga main lahap aja sajian pertama yang dihidangkan hidup. abis itu bingung sendiri... is this what I really want? why don't I feel satisfied? do I even know what it is that I really want??

ada begitu banyak pilihan rute hidup. ada begitu banyak persimpangan dan jalan memutar. if that is not overwhelming, then I don't know what is. 
karenanya tiap kali kita ngobrol, terutama seputar kerjaan, seringkali gue sibuk menasehati dia tanpa diminta. haha. entahlah.. gue cuma gak mau dia mengulang kesalahan yang sama kayak gue (gejala "sok tua") or maybe because she triggers the protective instinct in me. 
katanya sih...

tapi jika dipikir lagi sekarang, sesungguhnya dari interaksi-interaksi kita, gue sendiri belajar tentang banyak hal.
gue belajar kalo spontanitas ternyata barang mewah. karena tendensi diri untuk bersikap spontan semakin menipis seiring dengan pertambahan umur. dan sekarang ini - pas udah menua - baru kepikiran kalau menipisnya atau bahkan ketiadaan spontanitas ternyata membatasi kita dari banyak kesempatan... 

gue belajar kalo untuk bisa tau apa yang kita mau, apa yang kita suka, apa yang kita butuh, itu semua butuh proses. and there is NO competition. human race is a big fat lie. nggak semua hal yang menurut ukuran duniawi bagus-oke-atau-penting itu beneran baik buat kita. 

gue belajar, dan semakin yakin, kalo there is no finish line in self-discovery. somehow, quite in a strange way, gue nggak lagi mengutuk diri sendiri karena masih kerap bingung, nggak pede, atau nggak puas. karena perasaan-perasaan itu bukanlah indikasi kalau gue ini orang gagal, tapi justru nunjukin kalau gue masih 'bertumbuh.' 

some day

kadang gue khawatir juga sih, ocehan gue (dan geng tantes di kantor) yang seringnya bitter dan sinis ini 'merusak' kepolosan dia dalam melihat dunia. 
tapi dia malah pernah bilang kalo anak pertama kaya dia malah butuh sosok 'kakak'... 
perasaan ini juga akrab banget rasanya buat gue. 
gue inget banget dulu suka berharap punya sosok pelindung dan pembimbing yang bisa ngasih gue walkthrough dalam kehidupan. bukannya orangtua sama sekali lepas tangan, tapi buat mereka pun gue ini "first time"-nya mereka. 
pertama kali mereka nyekolahin anak. pertama kali mereka nguliahin anak. pertama kali mereka nikahin anak. dst.
they were as clueless as I was.  

waktu si dedek bilang mau resign demi mengikuti homestay di luar kota, gue langsung cedih karena membayangkan nggak ada lagi temen "senasib sepenanggungan" di unit gue. reaksi hati langsung kayak defensif gitu lho. "ngapain siihh dedek pake resign segala?" "mendingan kerja di sini dulu sembari nunggu kesempatan yang lebih baik." atau "do you know that it's a wild world out there, kiddo??"
tapi untungnya kalimat-kalimat itu nggak ada yang sampe terucap...

gue kesadar gimana dulu waktu masih jadi fresh graduate pengen banget nyobain kuliah lagi dulu, nyicipin tinggal di kota lain, atau simply dapet kesempatan mengenal jati diri dulu. 
meskipun semua impian-masa-muda itu nggak ada yang kewujud - dan gue juga nggak menyesali jalan idup yang udah (terlanjur) dipilih, but still, it would be nice if I had taken the chance... 


belum lagi kalo teringat gimana penyesalan kadang masih merundung kalo kepikiran tempat kerja terbaik buat gue "was" and "is" waktu di citi. bahkan sampai sekarang, masih ada aja yang berkomentar "you should've stayed. you'll get a good career if you had stayed in banking industry." 
tapi yaah.. how could you expect anak berusia 21 tahun bisa membuat keputusan yg bijaksana?


karena pemikiran-pemikiran itulah, sikap terbaik yang bisa gue tunjukin buat menanggapi hasrat si dedek bertualang melihat dunia hanyalah ngasih dukungan. the journey to self-discovery is personal... kalo si dedek mau membuat kesalahan, let it be her own mistake. bukannya karena disuruh atau dipengaruhi sama orang lain. 
begitupun kalau dia mau mereguk kebahagiaan... biarkan dia tentuin sendiri apa yang jadi tolak ukur kebahagiaannya, bukannya (standar) orang lain, bukannya social media. 

so here I am now, bidding an(other) adieu. 
it was a blessing for me to have meeting her. 
semoga dia pun merasa demikian, hehe.... 


I'm gonna miss you, dedek <3

big love from all the tantes (and om) <3  <3



No comments:

Post a Comment