28/06/2012

sins, and money

pagi ini, gue membaca artikel "WHAT ARE YOUR SINS IN SPENDING?" di sini dan terinspirasi membuat tulisan yg sama.
waktu gue kebetulan pulang bareng sohib gue setio alias weiche, dia sempat nanya ke gue, "pengeluaran terbesarlo untuk apa sih?" gue mikir beberapa lama sebelum menjawab itu, sementara weiche ngerasa duit dia banyak dipakai untuk beli gadget. bukan cuma gadget IT, tapi juga gadget musik. dia 'mengoleksi' berbagi merk smartphone, tablet pc, dan mungkin saking hausnya spending his money on something, ragam barang yg dia beli mulai merambah ke alat-alat musik. saat itu dia bilang, "one time gue craving banget pengen beli keyboard. gue pikir 'seru nih, gue bisa mengasah kemampuan bermusik gue, sekaligus nyanyi-nyanyi di rumah kalo bete,'" yg gue potong dengan, "you thought it would make you happier?" sambil nyengir. dia bilang, "iya bo! awalnya gue sering mainin 'tu keyboard, tapi sebulan berlalu, dan gue udah gak pernah menyentuh keyboard itu lagi." gue ngakak dengernya.
gue ngakak bukan karena ngerasa he's being silly with his money, tapi karena i did the same thing :p i used to think buying stuff could make me happier. ujung-ujungnya nyesel karena udah beli barang yg gak dibutuhkan, dan barang tsb jadi tergeletak gak terpakai.

jadi gini, dulu di masa-masa baru kerja, gue gak pernah punya tabungan. gue nggak tau deh ke mana larinya itu uang. pernyataan yg klise ya? larinya pasti jadi makanan, nongkrong, dan outfit sih. tapi kita pasti expect ada benda berwujud yg valuable kalo ditanya "gajilo pas kerja di X udah bisa beli apa?" kan.
gue baru melakukan yg namanya menabung pas udah jadian sama adit. saat itu kita sadar, kok biaya kencan kita lumejen juga yaa. akhirnya kita berdua tiap bulan mentransfer sejumlah dana ke rekening yg kita sebut "99" - ga ngerti juga kenapa dulu disebut begitu nama rekeningnya. jadi, biaya kencan kita harus sepadan dengan uang yg udah kita alokasiin untuk kencan tiap bulannya.
lantas setelah 2 tahun pacaran, kita mulai serius ngomongin nikah. tepatnya februari 2007 adit bicara formil ke nyokap gue kalo dia berencana menikahi gue. setelah itu, kita mulai serius nabung untuk membiayai pernikahan dan tetek bengeknya. emang sih, kita gak super mandiri (dan mampu) untuk membiayai our wedding on our own. tapi untuk 'perintilan' macam cincin kawin, biaya foto prewedding, nyetak undangan, belanja seserahan, setelan jas buat adit, dan semacamnya, kita pakai tabungan kita itu (ketika nulis ini, gue jadi sadar, betapa sejak dahulu kala gue dan adit udah nggak punya boundary mengenai "ini duit gue dan ini duit elo.").
yg 'aneh', meski dulu gue dan adit sama-sama kroco (sekarang juga sih) yg baru 2-3 tahun bekerja, kok bisa yaa nabung buat kawin? makanya gue sekarang jadi suka sok preaching ke adek gue yg masih maju-mundur urusan nikah, begitu lo determined akan sesuatu, pasti akan ada aja jalannya. success story gue ya urusan nikah ini, hehehe.

nah, setelah nikah, apakah kami lantas jadi 'pinter' urusan duit? jawabannya, BORO-BORO. kita saat itu tuh living the lifestyle of DINKS couple, yaitu pasangan yg punya Double Income tapi have No Kids. kita 'pacaran' setelah nikah selama 2 tahun sampai akhirnya punya anak. yg kita lakukan adalah setiap malam eating out, gak kepikiran buat nabung, dan bebas hutang KPR karena masih nebeng di rumah pinjaman dari nyokap. sentausa banget rasanya urusan duit. tiga bulan setelah nikah, gue diterima di tlkm. monthly incomenya emang gak mengesankan dibanding gaji dari perusahaan swasta, tapi 'gaya' menggaji perusahaan ini membuat kita para karyawan merasa seolah sering dapat uang kaget.
gue yg dulu belum ngeh tentang gaya yg satu ini, suka bingung, loh kok ada transferan segini? belagu ye! sungguh dulu gue bener-bener cuek urusan duit, yg penting perut kenyang dan bisa kencan aja sama suami.
i have to admit i made my biggest splurge on this period. suatu ketika gue mendapat transferan yg nominalnya 3 kali gaji bulanan gue. mata melotot doong. kepala langsung muter... beli apa yaa untuk memanfaatkannya -__- and i made my biggest splurge yg masih suka gue sesali sampai sekarang: macbook. if someone asked me now, i'd say i really didn't know why i did that! bukan an avid mac user, bukan seseorang yg updated soal teknologi dsb, i just thought it would be cool to have a macbook! silly silly me....

kembali ke soal "buying stuff to make me happier", di sini gue mau membuat pengakuan, i thought by looking cool (cuz i own a macbook), i would be happier. itu cara pikir gue yg dangkal akibat 'buta' soal urusan finansial. dulu gue gak tau bahwa by default setiap manusia punya tujuan finansial macam dana darurat, pendidikan, pensiun, dan proteksi. ketika gue sadar, i looked at my macbook, and then i looked at my dana darurat post. "boooo, kok yg wajib malah gak ada isinyaaaa? jadi ini macbook apa gunanya buat gueee?" sungguh kepanikan yg terlambat.

jadi, the bottomline of my rambling, jawaban dari "WHAT ARE YOUR SINS IN SPENDING?" tadi adalah... ya si macbook tadi. i haven't made any big purchase ever since. kembali ke dialog sama weiche, gue bilang ke dia, "kayanya splurge terbesar gue tetep si macbook deh. belanjaan terbaru gue tuh skincare dan tujuannya investment. investment kulit muka bo!" bukannya mau sok hollier-than-thou sih dengan memaparkan begini. just wanna reminisce how i've learned my mistakes. gara-gara memasuki peran sebagai orangtua dengan tabungan nol rupiah, pas hamil dulu, kita terdilo-dilo ketika melihat biaya belanja kebutuhan newborn. belum lagi harus menyiapkan dana pendidikan, pensiun, dan blablalaa.
kayaknya kalo belum punya anak, i'll end up ngejar tiket murah dan liburan ke luar negri tiap tiga bulan-which i don't intend to mock in all means. it's just... in my case, having kids sort of forced me to get 'sober.' it tells me that i do need to have proper knowledge to make the best use of my money, it shifted my priorities, and most importantly, it makes me realize that i don't have to "have it all." duit kepotong tiap bulan buat nyicil KPR 'terbayarkan' dengan kepuasan punya tempat bernaung (meski ngutang. huahahaha). gue juga jadi lebih berpikir masak-masak kalo mau beli sesuatu. gak tau ekstrim apa kagak, tapi gue dulu bertahan gak mau beli smartphone sampai akhirnya dibeliin kantor. gue juga mikiiirrr berkali-kalikalo naksir sebuah barang, sampe ujung-ujungnya batal beli. soal liburan dan konser, entah kenapa musnah aja gitu hasrat gue untuk dua hal ini.

upsidesnya sih, gue jadi nggak terbebani dengan barang-barang yg ngejogrok begitu saja di rumah kayak si weiche (muahahhaa). trus karena emang hasratnya udah musnah, kalo ada temen yg cerita soal liburan atau abis nonton konser, perasaan gue lempeng-lempeng aja. gak pake defensif "ya elo kan belom pada punya anak!" tapi lempeng ikhlas plus turut seneng aja buat mereka, huahaha. guess it maybe because i am content this way.
jadi, gue salut banget sama mereka yg udah siap dari segi finansial ketika akan punya anak. terlebih kalo belom nikah tapi udah paham urusan finansial, dan bahkan udah punya dana darurat, pensiun dan proteksi. sungguh, aku cemburu pada kalian. how i wish i had known about those financial stuff earlier!
sekarang jadi kepikiran, kalo gue jual si macbook di kaskus kira-kira laku berapa yaaa....

No comments:

Post a Comment