24/04/2017

starvation of the heart

jauh sudah aku berjalan.
rasakan pahit, rasakan manis
rasakan gelap, rasakan terang.. sampai ku tak tau jalan pulang
tinggi, aku terbang semakin tinggi, lewati awan hampa udara hingga ku lemas, hingga ku jatuh
tapi aku harus bertahan hidup
tolonglah, tolonglah tunjukkan jalan ke rumahku
tolonglah, tolonglah beri udara 'tuk napasku
siapa yang akan menolongku, pegang tanganku bawa ke rumahku?
rasakan kasih, rasakan sayang.. hangat pelukan, hangat kecupan
ada teh hangat dan roti bakar, bantal yang empuk, kasur yang lembut
ada larangan, ada aturan, tatapan mata penuh curiga
gorden yang cantik, dapur yang unik, dan anak kecil panggilku ibu
dan seorang pria ucapkan salam "selamat pagi"
aku jadi rindu rumah

di atas tuh potongan lagunya Oppie Andaresta yang gue sukaaaaa bangett. pertama kali dengar di album "Bidadari Badung" tahun 1995, waktu gue masih bocah SD yang nggak ngerti-ngerti amat maksud lagunya tapi somehow suka aja. kini, semakin gue menua, lagu ini malah semakin 'menusuk.'

siang ini, entah kenapa gue kebayang suatu momen di masa lalu bersama Weich ketika lagu ini mengalun.
waktu itu gue baru mulai kerja setelah lulus kuliah.. jam 6 pagi duduk di angkot bersebelahan dengan nyokap yang mau berangkat kerja. posisi duduk gue/kita tepat di sebrang pintu masuk angkot. 
ketika memasuki gerbang portal sebuah kompleks, angkot berhenti sejenak untuk menaik-turunkan penumpang. tiba-tiba gue liat dia, Weich, lagi berdiri di pinggir jalan dan sedang melihat ke arah gue juga. serta-merta gue dengan heboh dadah-dadah ke dia, begitupun sebaliknya. tapi angkot buru-buru berjalan lagi. it was just a brief moment, mungkin lima detik pun nggak sampai.
tapi gue masih inget banget momen di pagi itu, sampai sekarang.
entah gimana gue ngerasa Weich takjub sekaligus seneng ngeliat gue... dan itu terbukti. beberapa saat kemudian (gue lupa, mungkin di hari yang sama, bisa jadi bukan) Weich bilang ke gue, "waktu gue liat lo pagi itu, chom, gue berpikir, emang yah, akhirnya kita akan 'balik' juga ke keluarga."

kita udah saling kenal sejak umur 12 tahun. Weich mungkin orang yang paling hapal gimana turbulensi hubungan gue sama nyokap. it's a classic love and hate relationship. 
Weich *tahu* gimana kejadian gue duduk bersebelahan dengan nyokap di pagi itu bermakna sesuatu... 
salah satunya mungkin bahwa meskipun gue dan nyokap bisa dibilang "musuh" abadi, but deep down I've always been my mom's little girl. that making her happy is my ultimate goal in life. gue sebel diatur-atur sama dia tapi bakal nurut anyway karena she's the only one I trust. di momen papasan itu, gue belum lama memutuskan pakai jilbab, mungkin baru sebulan. dan nyokap adalah orang pertama yang menentang. alasannya macem-macem, tapi mungkin yang terasa paling jujur adalah : "mama nggak mau jadi nggak kenal kamu lagi."

but time is helping us like it always does. and there we were, sitting next to each other on our way to work.

**

usia 30 tahunan ini bagi gue rasanya identik banget dengan kegiatan mengevaluasi keputusan-keputusan dalam hidup. hari demi hari, pembicaraan gue dengan diri sendiri bukan lagi diisi dengan "apa yang mau gue capai habis ini?" atau "where do I go from here?" melainkan "apa gunanya?" "bener ga sih ini yang gue mau?” “gue lakuin ini buat siapa?”

the thing about parents, is that they only and always want the best for you. maksud mereka pasti dan selalu baik, tapi apa yang mereka pikir terbaik dengan apa yang gue mau nggak selalu sejalan. and that is something I've been struggling with my whole life.. 

let's say dalam hal jurusan kuliah. if it had been totally up to me, gue yakin udah kuliah di IKJ. tapi ya gitu... are we gonna go through that again? hahaha. 
atau... selera gue terhadap lawan jenis. I know my taste in men was questionable. gue kerap tergila-gila suka sama orang yang 'nggak biasa.' musisi, aktor teater, pengembara, gambler (haha) dan entah macam apa lagi. tapi... mungkin berkat doa ibu, gue dikasih partner idup yang 'normal' dan reliable - yang terbaik buat gue. 

mungkin... saat weich melihat gue sekilas di angkot itu, dan sekarang saat gue denger lagu "Rumahku," yang dia dan gue rasakan adalah... mungkin hidup untuk menyenangkan orangtua is not that bad after all. dikatakan kalau ridho orangtua adalah ridho Allah, and it's something that I believe deeply. 

hidup gue mungkin jadi se'genah' ini berkat konsistensi bokap nyokap mendoakan gue. 

tempo hari, waktu lagi makan siang di dekat kantor seperti biasa, tiba-tiba gue berpapasan sama Arryo. dia bisa dibilang childhood friend bagi gue, dan juga Weich karena kita satu sekolah sejak SMP. di tengah perbincangan kita, tiba-tiba Arryo bilang, "elo itu anak baik-baik yang jago berkamuflase jadi anak bandel, Ris." 
dan gue termangu. 
mungkin dia udah tau hal itu sejak lama.. sebagaimana Weich juga sudah sadari jauh-jauh hari, mungkin sejak pagi kita berpapasan itu. 
despite all my rage and rebelliousness, I am still just my parents' little girl. 

dan tugas gue sekarang, adalah berdamai dengan "identitas" itu. 
I crave for stability, security, and logical things that my parents have been cultivated in me since I was a child. 
maybe that's why I ended up masuk tlkm and returned back to the place despite all my complaints and unhappiness. 
but there's also the yearning in me to "burn my bridges, to swallow the poison in one gulp instead of drop by drop, to go down into the bottom of my fear and see if I could pull myself up,"*) because I never really know what it's like to do things for the sake of MYSELF. 
maybe that's why I do what I do; restlessly questioning, restlessly searching, continuously starving ... for something that could cater all the contradictions within me. 

***

seperti kilas pertemuan gue dengan Weich pagi itu, hidup mungkin hanya untuk bersua sesaat. dan di tengah semua kegelisahan dan kesakitan menjalani pilihan-pilihan ini, gue diingatkan, bahwa ya, hidup hanya sesaat. I don't have all the time in the world. 
now is the time to make peace. now is the time to make closure. 
now is the time to do the things I've always been scared of. 

oh Weich, betapapun kini kita sudah tak berada di "ruangan" dimensi yang sama, tetap saja lo menjaga dan mengurusi gue yang senantiasa linglung ini. 
never realized how truly lucky I am to be a friend of yours... for a moment here on earth, and hopefully later in heaven as well. 

always have, always will


*) quoted from the book "Fear of Flying" by Erica Jong.

05/04/2017

full frontal

suatu hari, gue tengah makan siang bersama teman-teman seperti biasa... tapi variasi teman-makan-siang hari itu sedikit berbeda. kebetulan ada pacarnya tan Yen. kebetulan gue ngajak rekan kerja yang masih muda belia dan berencana nikah dalam waktu dekat. plus satu kebetulan lagi, ada rekan kerja - sebut saja G - yang tiba-tiba dateng ke tempat makan yang sama dan akhirnya nimbrung sama kita. 

dalam formasi maksi saat itu ada tiga orang (satu setengah pasangan) yang berencana menikah tahun ini. jadi pembicaraan di meja ya seputar persiapan merit, do's and dont's (haha), ples mines bahtera pernikahan (even louder hahaha), dan sejenisnya. 
sebagai latar belakang kisah, tan Yen dan pacarnya udah usia kepala tiga kaya gue, sementara si dedek baru 24 tahun.. seumur gue dulu waktu merit. 
di tengah percakapan itu, gue melontarkan pernyataan, "nikah mah ga usah buru-burulah.. berat tau kalo nikah (ke)muda(an)." 
ini testimoni yang subjektif sih.. yang kemudian disanggah sama si G.  

but! let me explain my reason. gini loh, usia awal 20 tahunan mungkin terkesan cukup ya buat nikah. tapi berkaca dari pengalaman, rasanya berat banget deh dulu itu kalo diinget-inget.. semua-mua dihadapi di saat yang bersamaan: di kantor masih jadi kacung kelas rendah yang menuntut dedikasi dan waktu tinggi, sementara di rumah baru punya orok yang bikin begadang melulu.. nikahpun beda banget sama pacaran, yang dijalani bener-bener bukan lagi rainbows and butterflies. tapi tanggung jawab, kompromi setiap saat, mitigasi konflik, belum lagi urusan finansial yang menghimpit... 
kebayang kan, tanpa kedewasaan dan kecerdasan emosional yang cukup, challenging banget menjalani isu-isu tersebut all at once. karena itulah gue nggak lagi heran kalau denger tentang kisah kasih yang harus berakhir saat usia pernikahan baru seumur jagung. 

meski udah gue paparkan begitu, si G justru kontra. menurut dia, "justru enak kalo nikah muda, hidup jadi lebih cepat terarahnya, lebih juntrung. contohnya kayak mbak Riska ini nih," dan gue pun herman tau-tau disorot. 
insight dia gini: dengan nikah cepet, prioritas jadi terbantu disusun. yang paling keliatan ya di urusan finansial. emang sih... duit jadi ada ''wujud'nya terpakai buat apa. di gue, ya berwujud tempat tinggal (yang masih kridit), sama bayar uang pangkal sekolah anak haha. 
prioritas di sektor lain-lain pun terkena dampak... kalo di gue, menyusui dan ngurus anak pas masih balita bobotnya lebih besar dibandingkan ninggalin dia ngantor atau menuntut ilmu di negri orang. positif atau nggaknya dampak tersebut mungkin baru bisa dinilai di kemudian hari, kayak yang gue pernah kontemplasikan di blogpost ini

jadi yaah.. ada benernya juga pendapat doi. 
mungkin karena itu menikah disebut ngebuka pintu rezeki. karena tujuan hidup setidaknya jadi lebih clear, yaitu mengurusi dan menghidupi keluarga. 

hikmah lain yang gue tangkap dari potongan percakapan saat makan siang itu adalah... betapa gue memerlukan perspektif orang di "luar" kehidupan gue. bukan karena gue haus pengen dijudge sihhh, tapi karena pandangan mereka bisa ngasih insight yang berbeda, bahkan mencerahkan. honestly pendapat si G kemarin itu bahkan bisa bikin gue nggak terlalu menyalahkan diri sendiri lagi karena nikah kemudaan. gue jadi mikir, iya sih, idup gue genah juga kalo dipikir-pikir... semacam membuktikan kalau gue nggak selalu tolol-tolol amat kalau ngambil keputusan. 

******

gara-gara sekelumit pembicaraan itu gue jadi keinget momen-momen lain di mana perspektif orang lain tentang idup gue membuat diri ini 'terkejut'...  
contohnya waktu lagi ngobrol sama tan Yen, di mana kita lagi sibuk berkeluh-kesah tentang kerjaan dan kehidupan, kita pun ngelantur.. berpikir soal nyari sumber energi kehidupan di luar lingkup kantor dengan mendalami hobi, passion atau apapun itu. tan Yen tiba-tiba berkata, "lo mah enak, hobilo udah jelas: nulis. jadi lo bisa nyalurin hobi."
and i was like.. iye juga yak. hobi gue nggak ribet-ribet amat, nggak butuh biaya banyak, bisa dilakuin sembari berakting kerja di depan laptop pula.

okelah nulisnya juga kacrut semacam ngeblog kayak gini haha, but the point is, everybody needs a release. bisa jadi buat pelarian dari sumpeknya rutinitas kehidupan, tapi kalau ngasih efek yang positif ke jiwa raga, ya wai not?  
in fact I think I should do it more often.

contoh lain lagi yang kepikiran adalah waktu rumah ciganjur dilepas ke pasaran (for rent). kebetulan bunda Rahma mau bantu ngiklanin, dia publishlah lewat socmed dan ke kenalan-kenalannya yang berpotensi berminat.
gue kepo dong ya sama reaksi pasar, gue ceklah akun socmed si bunda.. eeh nggak nyangka hatiku dibuat trenyuh sama komen-komen orang di situh. ada yang bilang rumahnya homy banget (redundan ga sih), bagus, dan sebagainya. padahal selama tinggal di situ gue kerap mengeluh... jauhlah, terpencillah, intinya jago banget deh gue menemukan kekurangan dalam apapun.

kurang dari seminggu setelah diiklanin, alhamdulillah ada yang berminat. di hari sabtu kita janjian sama beberapa orang, tau-taunya yang pertama melihat langsung jatcin dan bayar tanda jadi. eh kok semudah ituu? sekonyong-konyong aku merasa SAD. 
beda aja rasanya ketika harus melepas... padahal cuma buat disewain. 
maybe not realizing the true worth of something we acquire until it's gone is simply human nature. 


from here


******

well, since we're on the "episode," I think it's a safe place to blurt out some mis-perceptions about me from other people that I could recall.

- "Antisosial? Mbak Riska banget." - something a younger colleague said once. little did she know alasan terbesar gue balik ngantor hanyalah demi berada di antara orang-orang...
- "Ah elo mah nggak pernah patah hati." - a person. HAHAHHA. 
- "Aduh ini cowok oke banget. Awas ya, jangan lo godain." hastaga. bener-bener nggak bakal ada yang percaya kali ya gue ini PEMALU... :)))

btw I suppose this post qualifies as an uber self-centered and narcissistic post.. haha. not that I intended it to. tapi begitulah, kadang mau se-sophisticated/deep/intellect apapun kita mengemas diri, ketika benar-benar 'telanjang' mungkin yang tersisa hanyalah hal-hal dangkal. 



16/03/2017

vapour trail

life is not so bad. it hasn't been thus far.

I tried waxing for the first time. legs only, though, it's a safe rookie move.

I did (and still've been doing) yoga and zumba at the office. 

but I've missed walking all by myself in the afternoon... heck I've even missed sunsets. 

literary-wise, I've been trying to finish reading "raden mandasia" and marie kondo's book and a book titled "emotional intelligence" - so yeah, I've reached the age where self-help genre doesn't sound like bullsh*t anymore.

I've been meeting and knowing and connecting with new interesting people.. most are younger than me, they put "mbak" in front of my name but it doesn't really matter, not to me at least.  

I met and talked and reconnected with old, beloved friends of mine. kiti and elmo. wawan. edo and other weich's "bear" friends. girls from citi. aside from talking about and romanticizing the past, the conversation also revealed some newfound "facts" and perspectives. it's kind of strange how you thought when you'd known a person for a long time, nothing would be so surprising.. it's like when you've walked through a familiar route for years, you don't anticipate different turns or detours. but sometimes, even with familiar faces and the usual interaction, you'll gain unexpected insights and perhaps learn something new about yourself. 

I've had some short getaways I haven't got time to "report" about here.. belitung, surabaya, bandung, tegal, cirebon, to name a few. those trips were short and tiring, but also refreshing and memorable. 

for instance, I remember that feeling I found when I visited Belitung.
one of the activities we sort of awaited for was island-hopping. well, being not-a-beach person that I am, suffice to say I was giddy and scared from the first moment we stepped onto the sand.
what are the odds, on our way to Lengkuas island, the weather suddenly worsened. and then the rain poured.. the wind blew hard... and o boy didn't the boat ROCK.. I was panicked.. but not really, because my mind was focused more on keeping Bumy and Abhi calm. Bumy even started to get a bit seasick. Abhi just closed his eyes we thought he fainted. 
but alhamdulillah, we managed to sail safely... as I looked back to the trip, I felt.. strange... a mixture of relief, victory, and delight. maybe I could call it being "happy" - for I've done something I've always been scared of. the journey wasn't perfect.. tapi untuk bikin bahagia mungkin emang diperluin ketidaksempurnaan dan ujian-ujian. 


*****

the longer I've lived, the more I realize how true these words are..
"you are what you love, not what loves you." - from the movie "Adaptation."
I am shaped and built by the things I love.. things that make me feel alive. things I'm willing to sacrifice for. 
it's what really matters: the things that uniquely gives meaning to my life. those things might be futile and insignificant for other people, but to me, they're fundamental. 
whether or not those "things" love me back doesn't define who I am. 

it just crossed my mind in a flash, on a hot afternoon at Grand Lucky SCBD's parking lot.. the realization that I've lost the sense of who I am and how I've lost "love." maybe it's love for the life God has bestowed upon me, or love for things that make me passionate, or maybe both... 
and I think I've been mistakenly trying to find it in hopeless places... by settling in a job I don't like, and oppressing my heart's calling, and steering away from God's path... 
my source of LOVE, it never leaves, it has always been within me all along. waiting to be nurtured and rekindled and refined. 

I am what I love. 
it's the things that I like, the things (people, activities, choices) that spark joy inside me. 
so let them lead.. let love guide me to the "track" of self-growth and blessing...


"some psychologists classify every emotion as either love (attraction) or fear (aversion). it's not unusual for humans to base almost every decision on fear: fear of rejection, fear of poverty, fear of looking dumb, and so on. but.. I've seen that fear-based decisions lead to hollow victories at best, endless regret at worst.
only love-based decisions create lasting happiness." 
(Martha Beck)





at a place called "happiness" :D 
at hanamasa... remembering and honouring Weich <3

<3<3<3

06/03/2017

to here knows when

what the hey it's MARCH already?!

perasaan gue belum kelar-kelar nulis soal resolusi, harapan dan cita-cita di tahun 2017 deh.. tapi kok momentum "tahun baru"nya udah keliwat aja.
lagian, seolah gue segitu sibuknya sampai nggak ngeblog SAMA SEKALI sepanjang Februari... nggak tau sibuk ngapain.

anyways, karena bingung 'kan mau cerita dari mana, jadi dibikin rekapan aja deh..

- gue pernah cerita seputar konsultasi ke psikolog (bu Alzena Masykouri) soal Bumy dan kita di blogpost ini.
salah satu masukan dari beliau tuh kita perlu work on some issues yang jadi faktor penyebab stres. stressor yang kemaren diidentifikasi antara lain jarak tempuh harian yang lumayan bikin badan dan hati lelah, kegamangan gue antara kerja kantoran vs nggak, plus menghadapi les yamaha Bumy yang demanding.
nah, buat urusan jarak tempuh, kita berusaha atasi dengan bikin rencana di 2017 ini untuk nyari tempat tinggal yang lebih deket ke sekolah Bumy. karena akhirnya berasa juga efek keriweuhan menjalani hari demi hari dengan kondisi jarak rumah antara sekolah Bumy sejauh 9 km, melintasi rute yang mainstream banget macetnya. sekolah Bumy masuk jam 7:15, dan dalam satu term kemarin dia telat 33 hari (yang kehitung).
akhirnya kita nyari-nyari apartemen buat disewa dan dapetlah yang sekitar 1 km-an ke sekolah Bumy, dan 1 km-an juga ke kantor gue dan Adit. alhamdulillah dapet unit yang udah full furnished, landlord-nya juga baik bangett. sekarang ini udah sebulan kita tinggal di situ. I'm still adapting, though. emang enak sih pulang-pergi ke kantor cuma 15 menitan, tapi ya gitu.. it feels different living inside an apartement unit as opposed to a landed house. tapi semoga bisa ngasih efek positif yang lebih komprehensif ke kita sekeluarga, deh.






- balik ke soal stressor yang tadi disebut, hal kedua yang kita coba atasi adalah soal les yamaha Bumy yang semakin demanding sajah rasanya.
bayangin, sampe bikin eke dan si anak stres bo.. haha.

jadiiii semua bermula waktu Bumy sudah menyelesaikan tahap pendidikan JMC (Junior Music Course) dan akan 'naik kelas' ke JXC (Junior Extention Course). guru les Bumy di JMC, sebutlah kak Maria, tiba-tiba mengajukan ide untuk ikutin Bumy audisi masuk kelas JSAC (Junior Special Advanced Course). JSAC ini selevel dengan JXC, yaitu untuk anak usia 6-7 tahun atau usia SD, tapi bedanya lebih... terakselerasi. Bumy bakal 'dituntut' buat bisa mencapai level lebih tinggi dalam waktu lebih singkat, dan composition skill atau kemampuan bikin lagunya akan lebih diasah.
menurut kak Maria, dia milih Bumy buat ikut audisi karena skill doi di atas rata-rata anak selevelnya.. dia khawatir Bumy bakal bosen kalo dibiarkan di kelas biasa.

prerequisite yang dibutuhkan untuk bisa masuk kelas ini ya dengan ikut audisi. later on gue denger audisinya se-Jakarta, dan yang diterima maksimal 10 orang.
to be honest gue nggak kepengen Bumy lulus ke kelas ini. JMC aja rasanya udah cukup demanding, sampe gue masukin Bumy ke kelas weekend - demi gue bisa ikut masuk kelas dan memantau.
tapi di sisi lain, nggak enak juga kalo menolak mentah-mentah tawaran gurunya... bahkan gue dan Adit sempat minta sesi diskusi dulu, kita pengen kak Maria mempertimbangkan fakta bahwa gue dan Adit nggak ada yang bisa main musik dengan serius. selain itu, kelas JSAC nantinya juga cuma akan ada di hari kerja, terdiri dari 2 macam kelas untuk diikuti Bumy: group class dan private. akan sulit bagi gue untuk keep up kalau nggak ikutin kelasnya. tapi kak Maria optimis, menurut dia Bumy bakal baik-baik aja ikutin kelas tsb. lagian nggak ada ruginya juga dicoba ikut audisi.

jadi diikutilah audisinya... dan si anak lolos. dia jadi satu dari 5 orang murid JSAC. dijalani sejak bulan Juli/Agustus, baru sebulan aja rasanya berat banget buat gue. iyaahhh di gue, karena gue yang bertugas ngajarin dia di rumah. udah gitu guru-gurunya juga udah kasih maklumat untuk si anak berlatih MINIMAL 2 jam setiap hari. sesuatu yang IMPOSIBEL untuk dicapai... lha gue aja pas sampe rumah seringnya udah nggak punya energi buat ngurus diri sendiri, boro-boro bisa ngurusin materi electone-nya Bumy.

inilah yang gue sampaikan ke bu Alzena.. kalo gue SUTRISSSS banget mikirin lesnya ini. Bumy sendiri juga menyatakan kalau dia nggak enjoy ikut kelas JSAC... dia merasa jadi underdog, kok salah-salah melulu, kok nggak bisa keep up, sementara yang lain bisa main dengan gampang. belum lagi tuntutan buat latihan, PR les, dan keharusan bikin lagu sendiri untuk ditampilin 6 bulan berikutnya.
lagian, di kelas reguler, Bumy masih bisa haha-hihi sama temen-temennya, karena memang kelasnya lebih santai dan less demanding. buat doi yang anaknya sosialita banget, bisa gaul dan main-main di kelas tuh something worth to consider. pelan-pelan minat dia terhadap electone memudar. dia bahkan bilang "Bumy nggak mau konser bulan Januari, takut." :( kasian banget anak gue....


dari hasil konsul ke bu Alzena, beliau menilai kalau karena IQ Bumy yang mayan di atas rata-rata, makanya dia bisa dengan mudah lolos audisi. tapi buat anak seusia Bumy, sekarang ini belum waktunya untuk mulai serius di satu bidang entah itu olahraga atau musik (baru siap di usia 9 tahun). saat ini, untuk jalanin hal-hal itu masih tergantung minat si anak, jadi ya masih di fase mencoba-coba dan mencari-cari.

bu Alzena jelasin soal bedanya hobi, minat dan bakat.
anak disebut punya bakat, jika ia mampu menguasai suatu hal dengan lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan anak lain.
sementara minat, ya ketertarikan anak, yang bisa berubah-ubah. satu hari minat main bola, hari lain minatnya karate.
trus hobi adalah kegiatan yang produktif untuk mengisi waktu.
tiga hal ini berbeda banget. Bumy awalnya punya minat buat main electone, dan kebetulan punya bakat karena bisa menguasai dengan cepat. tapi Bumy belum acquire the ability and the mentality untuk fokus, tekun, dan serius di satu alat musik.
bu Alzena cerita tentang anaknya yang sempat les piano, tapi di usia 12 tiba-tiba minta ganti gitar. kesimpulannya, menurut bu Alzena lebih baik kalau Bumy dikeluarin dari kelas JSAC dan balik ke kelas reguler.
tentang kekhawatiran Bumy bosen, beliau bilang, anak butuh merasa bosen, dan juga untuk merasa bisa. perasaan bosen bikin anak mencari kegiatan untuk mengatasi kebosanannya. sedangkan perasaan "merasa bisa" bikin anak percaya diri... yaampun sekonyong-konyong gue keinget tulisan Malcolm Gladwell di salah satu bukunya, yang cerita soal gimana anak pinter yang dimasukin ke 'kolam' atau sekolah anak-anak pinter malah jadi patah arang atau lebih banyak yang nggak sukses karena kepercayaan dirinya terkikis.

to be honest gue merasa dilematis soal ini. vvhy? karena ada value yang diperjuangan di sini... ahahahahh.... seriously, though.
di satu sisi, gue, seperti tulisan Lita soal emak kekinian, ingin anaknya BAHAGIA, dengan menjalani sesuatu tanpa merasa terpaksa.
tapi di sisi lain, gue nggak mau Bumy menganggap dia bisa take the easy way out... kalau dia kehilangan minat atau pengen menyerah, udah tinggal escape aja gitu (#lookwhostalking).
tapi setelah berembuk dan brainstorming bareng adit... akhirnya kita putusin untuk minta Bumy keluar dari JSAC.
it's not about pride, it's not about giving Bumy what he wants... but it's about giving him what he needs. at least that's what we thought.

akhirnya Adit putusin buat ngomong ke guru-gurunya Bumy (kelas grup dan privat), dan kasih tau keinginan kita buat keluarin Bumy dari JSAC. ternyata guru-gurunya kaget... di mata mereka, Bumy nggak bermasalah. bisa ikutin lesson dengan baik, malah mereka optimis Bumy bisa lancar ikutin kurikulum JSAC. yaudah.. antiklimaks deh. kalo udah gitu, jadi nggak ada alasan yang kuat bagi kita untuk kekeuh keluarin Bumy dari JSAC.

waktupun terus berjalan... Bumy masuk kelas tiap minggu cuma didampingi pak supir (sementara yang lain sama ibu dan mamihnya). latihan 2 jam setiap hari? anaknya mau nyentuh electone lima miniiit aja sepulang sekolah udah sukur. gue pun belajar menurunkan tuntutan ke Bumy dan diri sendiri... sampai Januari akhirnya tiba dan dia kudu konser menampilkan lagu ciptaannya.
alhamdulillah, it went smoothly....
beta kaget dan bangga liat si anak bisa mengatasi demam panggungnya (seminggu menjelang konser, tiap jam ngomong "ma, hari minggu ini Bumy konser lhoooo.. hiiii" seraya bergidik).

setelah konser perdana
his supporters
Februari lalu, tiba-tiba gue nerima pesan dari gurunya, kalau Bumy lolos untuk konser di tingkat wilayah (Jakarta). padahal gue sama sekali nggak ngeh kalau konser ini ada tahap kualifikasinya.. haha.
jadi awalnya itu tingkat tempat les aja, trus lanjut diadu se-Jakarta, nantinya nasional, abis itu internasional. yaa kita sih nggak berharap muluk-muluk, bisa sampe di titik ini (Bumy bisa tampil di konser membawakan lagunya sendiri) aja udah BERSYUKUR banget.

his second concert
nguks
tempo hari, gue sempat ngobrol sama pacarnya temen yang seorang musisi. doi nyaranin gue masukin Bumy ke orchestra, katanya sih biar nggak bosen. melihat sejarah dia yang juga belajar musik sejak belia, gue seriously considering his suggestion.

- kalau celotehan gue dirunut dari awal, postingan rekap ini menyangkut faktor stressor yang tadi satu demi satu gue sebutin. setelah soal tempat tinggal dan les yamaha, satu lagi adalah kegamangan gue antara mau lanjut kerja kantoran (at my current office) vs nggak.

seperti yang sudah seriing gue lontarkan... bener-bener nggak ada yang gue kejar di sini... selain duit, mungkin. it feels nice to have money on my own, meskipun nggak seberapa buat orang lain. I also need the routinity of berangkat kerja tiap hari.
in other words, I kinda enjoy it.

tapi dipikir-pikir lagi, sebenernya nggak perlu lagilah ya gue bahas A-Z untuk menvalidasi alasan dan kebutuhan gue. sekarang, yang gue jadikan #lifeguide adalah kesadaran kalau mau di kantor kek, mau di rumah kek, teteup ada ujiannya. yang penting gimana supaya ujian itu bikin kebajikan dan ketakwaan gue bertambah *tsaaah... xD 

gue juga mulai menyadari kebutuhan gue untuk belajar hal yang bener-bener gue suka. jadi bismillah gue lagi dalam proses mendaftar program magister di bidang komunikasi.. hihihi, ngetiknya aja udah seneng. semoga pas jalanin kuliahnya juga masih seneng riang gembira yak. 

oh well. sometimes I still find myself wondering, is everything worth fighting for? 
"should I go on? should I stop?
what would i find at the mountain top?" (- from Bin Idris' "How Naive.")

I truly can't tell. but I believe everything happens for a good, greater reason. 

sometimes

Teacher: Do you think you’re too young to really love somebody?
Classroom: No, no….No, no.
Teacher: Well let's take it from me. I'm a adult I say wait, you're too young to be in love, this is silly. You infatuated with him, he got nice jeans, he wear fancy Adidas... I mean it must be something I don't know...
Student 1: It’s a difference from loving somebody and being in love with somebody.
Teacher: Well you tell me what’s the difference. What’s the difference?
Student 1: Ok, ok. You can love anybody, but when you’re in love with somebody you’re looking at it like this: You're taking that person for what he or she is, no matter what he or she looks like or no matter what he or she does. 
Student 2: If you can fall in love, you can fall outta love.
Student 1: You might stop being in love with them, but you’re not going to stop loving that person.
Student 3: Maybe sometimes they’ve never been loved before. They’ve never been in love before or they’ve never… they don’t know what the feeling is to be loved.
Teacher: Dang she poetic. She killed it. We can end that conversation with that!


from here

~transcript of conversation in one of my favorite albums of all time, "The Miseducation of Lauryn Hill."

25/01/2017

singapura tahun lalu (part 2)


(lanjutan dari celoteh di post sebelumnya.. hehe)

di hari keempat, kita menjelajah kawasan Serangoon. kita mampir ke NEX Mall untuk beberapa hal ini:

- Sushi Express. sebenernya chained resto ini tersebar di banyak tempat di Sg. keunikannya adalah di sini sushinya diklaim enak, dengan harga yang affordable. di resto ini, kita tinggal pilih sushi mana yang mau dimakan dengan cara nyomot dari piring-piring sushi yang berjalan di "rel" yang melintang di depan meja kita. setiap piring harganya SDG 1.50 aja (kalo ga salah). namanya juga resto sushi murah, di sini setiap customer dikasih allocated time, kalo nggak salah maksimal 1,5 jam deh. 
taste-wise, it was so-so. nothing really special. tapi lumayanlah, bisa makan sushi dengan harga nggak mencekik. 
oya kalaupun ada kiat yang bisa gue bagi, mendingan dateng jangan di rush hour macam jam makan siang atau malam. bakalan ngantri soalnya. kita aja tiba jam 11 yaitu pas saat resto akan dibuka, tapi udah menemui antrian. 

- hal lain yang bikin kita bela-belain datang ke sini adalah waterpark-nya. too bad ujung-ujungnya malah batal.. karena saat itu puanaasss banget, jadi kita larang Bumy main. 

source
- last but not least, adalah untuk menyambangi public library yang ada di dalam mall ini. siang itu kebetulan hari kerja/sekolah, dan mall dipenuhi buanyaakkk banget anak sekolah. mereka pada makan siang dan jajan di situ. di bagian rooftop di mana waterpark berada, gue liat ada banyak tempat bimbel. begitu masuk ke perpustakaan, wuih rame banget pengunjungnya. dan mereka beneran dateng buat duduk baca-baca, bukannya ngadem doang (kayak kita). demografi pengunjungnya sih mayoritas anak sekolah, dan... the elderly alias aki-aki dan nini-nini. I was at awe!

I could get used to this
aktivitas kita di hari keempat masih berlanjut. dari Serangoon, kita ke Mustafa Centre buat beli oleh-oleh. sempat mampir di mesjid yang historis gitu buat sholat dzuhur. kelar belanja di Mustafa, kita jalan kaki sampai ke Jalan Besar Road. sepanjang jalan ditemani pemandangan bangunan-bangunan bernuansa etnik nan colorful. 



tujuan kita salah satunya adalah ke Queensway Shopping Centre, yang katanya tempat belanja sport shoes dan pernak-pernik belanja lainnya dengan harga miring. begitu sampai, well, emang beneran segedung isinya berhubungan sama olahraga semua, sih, tapi kita malah nggak belanja apa-apa. 

tujuan berikutnya yang (kita kira) udah nggak jauh dari situ adalah ke Henderson Waves Bridge. tapi ternyata perjalanan kita ke sini antiklimaks abizzz. setelah sempat salah naik bis, kita turun di satu titik yang kita kira jadi tempat masuk untuk mencapai si jembatan. berhubung si jembatan ini bagian dari Southern Ridges Walk, alias hiking trail sejauh 5 kilometer yang membawa kita melintasi 3 taman gede, jadi agak tricky buat kita untuk nemuin tempat masuknya. culun bener dah!! akhirnya, tau nggak, saking udah LETIHnya nyari-nyari tempat masuk, jadinya kita memutuskan... cussss balik ke hotel. huahahhaha. auk ah. next timenya kudunya pagi-pagi kali, atau naik cable car dari Sentosa. 


the day didn't end there. setelah tepar mencari Henderson Waves Bridge, kita ngaso sejenak di hotel. trus kita sepakat buat makan malam di Newton Food Centre *pijet-pijet kaki*. 
emang udah lelah banget sih badan, tapi hasrat mencoba tempat baru masih menggelora. jadilah kita ngangkot lagi menuju lokasi - yang untungnya nggak terlalu jauh dari hotel. sampai di situ, suasananya 'meriah' dan festive banget. ternyata hawker centre ini andalannya sea food. jadilah kita berpesta pora makan.. mungkin di sinilah tempat makan paling enak selama kita di Sg. 


suasana Newton Food Centre malam itu




makan besaar <3

di hari kelima, highlightsnya adalah tour de museums. 

aselik museum di Sg kerennya maksimal. setengah hari dihabiskan dari museum ke museum, lalu kita makan siang di Just Acia yang lumayan ekonomis tapi enakkk. udah gitu es krim dan minumannya free flow, hehe. 







wearing his stickers proudly like badges
sesudah makan siang, kita meluncur ke arah Esplanade buat ikut-ikutan the locals nungguin kembang api hari kemerdekaan. tapiii... lagi-lagi hari ini trip kita antiklimaks. 

1) nyari Gardens by the Bay nggak ketemu. don't ask. x))))

2) kelelahan dan kepanasan nongkrong nungguin kembang api. seriously we couldn't stand the weather.
3) ke Marina Barrage buat piknik syantik sembari nunggu kembang api pun udah enggan... karena beneran deh kita LELAH. 

akhirnya kita melipir ke arah Orchard lagi... sempat ngaso di skatepark depan 313 Sommerset. just chilling... and peacefully letting go the chance to watch the fireworks, huhu. sesudahnya kita makan malam dan belanja di Cineleisure Orchard yang sepertinya sih tergolong tempat belanja bocah-bocah hipster Sg - diliat dari tipe barang-barang yang dijual. 


it's the last day of our trip. kita pun nggak seambisius hari-hari sebelumnya, jadi itinerary cuma untuk mampir ke ArtScience Museum to see the magical Future World Exhibition. 

















mengingat kembali trip kita di 2015, wishlist gue waktu itu adalah kepengen mengunjungi


  • more parks - alhamdulillah tercapai, bisa mampir ke SBG. tapi tetep penasaran sama Marina Barrage dan Henderson Waves Bridge, hehe. 
  • more 'cute' bookstores - kepengen mampir lagi ke Tiong Bahru tapi nggak sempat. 
  • Holland Village - lagi-lagi GAGAL mengunjungi Dempsey Hill karena kaki sudah sangat, sangat tepar (yes, we walked and ngangkot a lot there). padahal kita udah lumayan deket dari lokasi. 
  • Gardens by the Bay maybe? - gagal maningson. 
  • and museums, I guess. - alhamdulillah, yang ini kesampean. 
I love this city more than I can explain. semoga someday Jakarta beneran bisa mengimbangi keteraturan di Sg. dan tentunya, semoga tahun ini kita bisa 'absen' lagi ke Sg, maybe for another week or two, hehe. Aamiin... 

capek ngangkot ya, Bhum? isn't it a privilege? :)