22/04/2019

episode mengejar hak pilih dan diskon Ikea

Hello Monday!
It's the first day of work after somewhat a long weekend.
Rabu lalu baru digelar pemilu, sementara Jumatnya libur nasional Kenaikan Isa Al-Masih. That makes Kamis hari kejepit.
Buat gue, Kamis jadi hari libur nggak resmi karena gue "work" from home. 
Daycare Sam diliburin, otomatis gue kudu full-time megang Sam. Waktu buat kerja diisi dengan video conference setengah hari, sisanya boro-boro sempat nyentuh laptop. 

Di hari pemilu, kita udah bersiap mencoblos sejak pagi.  
Tepatnya jam 8 kita udah bersiap-siap jalan menuju TPS dekat rumah. Udah gagah berani rapi jali, eh ada PLOT TWIST: gue gak bisa menemukan e-KTP gue! 
Udah lemes banget rasanya bowww, ngebayangin kehilangan kesempatan nyoblos karena kelalaian nan sepele. 


Sembari berkeringat dingin ngubek-ngubek tas, lemari, sampai mobil, terngiang-ngiang protes dari si bocah, 



"Mama gimana sihhhh, gimana kalo gak bisa nyobloss?!?! Aduh sayang bangetttt!" 
-_______-

Ini bocah emang semacam politically-melek gara-gara gegap-gempita pilpres dan pileg. Gimana nggak, setiap 5 meter dia melihat poster caleg tersuguh (halo, Masinton!). 
Setiap pagi di perjalanan, hal pertama yang ditanya biasanya soal berita politik. 
Kenapa si A dukung nomor ini. Kenapa si B jadi kubu nomer itu. Kenapa partai ini begini, kenapa politisi ini begitu. 
Ntap soul deh gue (eneknya) tiap hari harus bahas politik. 

Anywayss, kembali ke soal e-KTP yang belum ketemu. Stres banget gue dibuatnya, kebayang kalau harus gagal nyoblos, gue akan sibuk mengutuki kebodohan diri hingga 5 tahun ke depan!

Setelah semua tempat dibongkar, akhirnya gue mengibarkan bendera putih. e-KTP nggak ketemu.
Sempat putus asa sampai ngerasa nggak perlu hadir ke TPS sekalian. Tapi Adit si forever-optimis tetep ngajak bergegas ke TPS. Toh kita punya undangan nyoblos. Dia juga nyiapin kartu keluarga in case ditanya kenapa nggak bawa e-KTP. 
Sesampainya di TPS, kita hanya perlu ngantri sebentar. Begitu tiba di depan panitia pemilu, ternyata yang perlu ditunjukkan hanya undangan nyoblos.
Alhamdulillah!
Mamak bisa nyoblosss hueeyyyy... 
Bukan cuma gue yang lega, si bocah juga tersenyum puas xD 

Urusan mencoblos nggak butuh waktu lama. Jam 8:45, kita udah bisa segera melesat ke destinasi berikutnya. 
Apakah itu? 
Ikea aja boww. Gara-gara terbujuk iklan di Instagram kalau ada karpet yang diskonnya lumayan sampai 60%, kita pun berniat ke Ikea sepagi mungkin. sampai di situ masih jam 9:20an, dan ternyata diinfokan karyawan Ikea kalau di hari pemilu ini Ikea baru buka jam 11. Hoalahhh. Akhirnya kita pun melipir ke sekitar Alam Sutera untuk nyari sarapan.
Pertama kita ke Living World. Ternyata mall baru akan buka jam 11 siang juga. Ke Mcdonalds tapi rame banget. Akhirnya ke Flavor Bliss, dan ternyata resto yang buka cuma sedikit dan semuanya penuh nuh. 
Akhirnya kita baru bisa dapat tempat duduk di Starbucks setelah antri. Jam 10:30 kita bertolak ke arah Ikea lagi.
Ndilalah apa yang kita temui di sana? Parkiran udah ramaaaiii keisi mobil, dan... Ikeanya udah buka!!
Waaah, kok ngaco gini info dari karyawannya sendiri?!?! 
Emosi jiwa. 

Selanjutnya bisa ditebak, karpet incaran sudah habis diborong. tau gak siapa yang borong? Jastipersssss, huhuhu.
Mereka ngeborong itu karpet dan beberapa items yang sedang didiskon sampai menggunung di trolley masing-masing.
Sebel banget sih. Padahal Ikea udah ngebatasin per orang hanya boleh beli item yang sama maksimal 2 buah. Tapi ya tetep bisa diakalin kan, mereka tinggal bagi-bagi jatah ke personel tim jastipernya. 
Fail banget deh intinya kunjungan kita hari itu. 
Ketika mau bertolak balik, kita lihat ada pengumuman resmi dipasang di dinding Ikea, yang menyatakan bahwa di hari pemilu ikea akan buka jam 11. 
Tapi kenapa mereka sendiri yang melanggar peraturan tersebut, ya?
Sooo disappointing. 
Yasutralah. Kita menghibur diri dengan sedikit nyhombong halu, mungkin kita emang gak cocok beli karpet diskonan. Hahahha. 

Seperti gue bilang tadi, hari Jumat kebetulan tanggal merah.
Kita pun mengisinya dengan nimbrung staycation Geng Palem di sesehotel tengah kota. 
Lumayan banget, dong. Bisa ajak anak-anak ngariung, cipak-cipuk main air, dan GRATIS. Hahaha. Thanks, Geng Palem!
Karena jujur aja, isu yang kita hadapi setiap long weekend masih yang itu-itu aja:
  • Gimana supaya nggak overbudget terlalu besar. Kita sekarang coba ngakalin dengan mengurangi eating out dan lebih banyak cooking in (istilah apa ini). Mungkin iya gue segitu menuanya, haha, tapi sekarang gue jadi bisa menikmatinya: Ngajarin Bumy berkreasi di dapur meski cuma bikin yang gampil-gampil. 
  • Gimana supaya si anak besar tetap dapat "wahana" kegiatan yang menyenangkan buat dia. Syukurlah kali ini dia diajak nginap di hotel sama Geng Palem.  
The next day, gue dengan rajinnya menghadiri workshop yang direkomendasikan seorang teman, bertajuk "Mother Culture." I have so many things about this workshop alone. Insya Allah nantilah ya on the next post. 

Begitulah. 
Sekarang sudah kembali Senin. Sam si bayi yang udah bisa menggeleng-geleng kalau ditanya pendapatnya sudah kembali dititipin di daycare. sementara Bumy seharian ikut gue ngantor karena sekolahnya libur bur burrr. 



10/04/2019

like everything else that happens in life, there's lesson learned

the hardest part of this startup experience I've been having this past two years?

first, it's that I'm alone most of the time. 
ada enaknya, sih. I have the time for myself, atur sendiri mau ngapain. nggak ada yang texting nanyain posisi udah di mana saat lagi zen moment sarapan di sareeng - seperti yang kerap terjadi dahulu. 
trus karena nggak ada orang lain, well, gue nggak perlu ngobrol basa-basi.

it's fine. except for the fact that I *do* like berbasa-basi. 
sungguh, gue tipe orang yang datang ke kantor untuk ngobrol, berteman, makan siang bareng. to make connection with other people. 
begitulah paguyuban geng tante dan dedek-dedek brondong binaan terbentuk pada awalnya. 

during my years in the previous work unit, I didn't come to the office to actually work and build a career. 
I was trying to find a meaning in my work, but failed to find it. so I steered my way to build relationships instead. and I found friends.   

di unit kerja sekarang, yang berbentuk startup (internal kantor), alhamdulillah I found what had been lacking: the meaning, the why, the golden circle. 
the friend(ship) part? well, tim startup gue ini dibangun bersama orang yang gue sebut teman, sih. 
tapi karena faktor lokasi kerja, gue kerap ngantor sendiri saja. 
kadang rindu punya teman diskusi, saling melempar ide dan opini. 
rindu berbasa-basi. mengocehkan hal-hal di luar pekerjaan; keluarga, masalah, gosip, film favorit, you know.. the things that make us human.  

even though this way I get to learn to enjoy my own company. 
sebagai tipe manusia yang mendapatkan energi dari berbagi dan berinteraksi dengan orang lain (yang membuat nyaman), kondisi sehari-hari sendiri ini bisa dibilang sempat melumpuhkan. 
felt like I was gasping for air. lebay, yah hahaha. tapi begitulah yang gue rasakan.  

seiring waktu, kondisi ini memaksa gue menghadapi hal yang gue takuti: sendiri, tanpa teman berbagi. gue jadi terpaksa belajar.. buat menata hati dan memanfaatkan "ruang sendiri" ini. 
I start by listening to podcasts, bergabung kelas webinar, and through diving into the depth of my own thoughts. 
hingga akhirnya terbentuklah ide untuk buat akun @agilehome, board trello untuk diri sendiri, dan pakai aplikasi Calendar untuk menata waktu. I also try making conversations with myself again. 
hingga akhirnya sekarang gue mulai menanti-nanti ruang sendiri ini. sudah terbayang akan melakukan apa saja, sendirian, dan itu cukup menyenangkan. 

oh, where were we? 
hardest part of being in this startup... 
secondly, I miss having a corner. 
tempat di mana gue bisa bersandar, meletakkan semua barang bawaan dengan aman. 
and I mean that literally. haha. 
suatu tempat yang tetap sehingga gue tak perlu kerap berpindah-pindah dan membawa serta segala yang gue butuhkan. 

but at least I learn to 
a) know my needs ahead, 
b) pack lightly, 
c) getting used to bring heavy loads. 
I bring my work tools, minuman, dan snack ke manapun pergi. 
and that kind of reminds me of this portable equity concept. 
yang gue bawa ke mana-mana bukan cuma yang terlihat, tapi juga yang nggak kasat mata. 
my knowledge, my capabilities, my ideas, my reputation, my networks. 
semua hal itu nggak terikat pada titel atau perusahaan manapun. I can bring it anywhere I go. 

is there a third on this?
guess there is. 
it's that I have to be assertive. in voicing my opinion, to get my desired results, and also to save me from unwanted consequences. 
dan hal ini tidak mudah buat gue, yang sampai detik ini pun masih sangat tidak enakan. 
ugh. 

sepertinya gue perlu membaca (ulang) 7 habits for highly effective people. 
random I know, haha. tapi ini yang jadi jawaban adit waktu gue tanya kok dia bisa lempeng minta apa yang dia mau - tanpa menafikan fakta bahwa dia menggenggam kartu sakti triple majority: fakta bahwa dia laki-laki jawa beragama islam di indonesia yang mirip white men privilige di barat sana. jawaban dia tidak gue duga sama sekali, yaitu dia baca buku 7 habits. 
anggaplah gue butuh personality makeover. 
berguna bukan cuma buat idup di startup 'kan. 


04/04/2019

fana merah jambu

I thought I would start blogging again.
tapi setelah dipikir lagi, lebih nyaman berbicara, berpikir, beropini sendiri dulu.

dari semalam gue sudah tergerak ingin ngeblog lagi. well, gue selalu memperlakukan blog bak diary yang terpublikasi, jadi ya isinya seputar kehidupan sendiri aja. belum ada hal-hal yang berharga buat masyarakat untuk dishare. hehe. 
it feels so different, menulis untuk diri sendiri dan menulis untuk dibaca orang lain (selalu ada harapan untuk itu). 

saat ini gue mau nulis hal-hal yang I'm feeling excited about saja. setelah sebelum-sebelumnya resah dan mengeluh.
  • Sam oh Sam
sekarang bayi ini akan berusia 16 bulan in just a few days. and he makes me more and more in love everyday. 
ternyata begini ya rasanya sama anak kedua.. lovvvveee melulu. 
bedanya sam sama bumy banyak, terlepas dari mukanya yang 89% copy-paste. satu hal yang jelas banget sih dari segi perkembangan fisik. motorik kasarnya cepet banget berkembang. dia bisa jalan di usia 10 bulan (kalau gue nggak salah inget yak), jauh lebih cepet dibanding bumy yang baru berani jalan di 14 bulan. gue menebak faktor nurture berperan besar dalam hal ini. 
dengan sehari-hari berada di daycare, sam punya banyak contoh hidup untuk ditiru, yaitu anak-anak yang lebih besar dan lebih jago kemampuan fisiknya. selain itu, di daycare nggak ada yang sedikit-sedikit parno melarang berlebihan (like me or my mom). 
tidak berapa lama setelah bisa jalan, tau-tau dia udah nyoba manjat tangga di rumah sambil merangkak sendiri. lalu sekarang dia udah bisa naik tangga dengan gaya tangan pegangan ke handle tangga. main bolanya juga jago bener (I got no comparison for this, cuma takjub aja liat dia bisa ngejar-ngejar bola heboh). bahkan sekarang dia udah bisa dong jalan sambil bergaya pura-pura nendang bola. yaampun BAYI. 

waktu kita lagi main di rumah debi, anak-anak cowok besar 'kan pada main sepeda. mungkin drive terbesarnya sam 'ni rasa nggak mau ketinggalan hype. FOMO gitu. jadi dia belagak bisa riding the bike juga, sok-sokan ngegowes padahal belum lancar dan harus didorong juga supaya bisa maju *gudlak pinggang bapaknya.  

ada hal yang menurut gue kocak banget. saat weekend kemarin, gue ngajak bumy bikin telor dadar di rumah. bumy lalu berdiri di atas dingklik untuk belajar cara memutar kenop kompor, sebelum memasak si telor dadar. 
gak lama, saat semua sibuk dengan urusannya masing-masing, gue bingung nyariin sam. yes di rumah yang seuprit itu. tau gak gue temukan dia di mana? lagi berdiri di atas dingklik yang sama which is di depan KOMPOR, sambil berlagak muter kenop kompor juga!!!1!11
antara worry dan terkejut ku melihatnya! astagaaa bayi ini cepet banget nirunya. 

ada juga momen meniru kurang positif lain, yaitu gara-gara gue suka ajak sam nungguin bumy ekskul taekwondo, dia jadi suka belagak nendang, dong, meski sambil becanda -__-  

di satu sisi, daycare sangat ngebantu untuk stimulasi sih. tanpa gue perlu repot bereksperimen, sam tau-tau udah minta makan pake tangan sendiri (menjumput) dan kemarin minta pake sendok sendiri. 
semoga nanti pas toilet training aku pun terbantu!

masih soal perbedaan, yang cukup njomplang adalah kemampuan sam ngomong, yang justru lebih lambat berkembang dibanding bumy. kosakata sam belum banyak nambah, babbling ngoceh gak jelas sih sering, tapi belum mau ngelengkapin suku kata gitu lho. misalnya kita bilang "sa..?" dia gak mau jawab "tuu." bapaknya masih dipanggil mama. kalau mau apa-apa bilangnya "mamammamamma." mamak tau sih kamu tjinta banget padaku, sam, tapi MBOK YA. 

perbedaan lainnya yang mencolok adalah bumy suka banget (diajak) kelayapan, sementara sam nggak. 
ughh cukup menjadi ujian menahan nafsu kelayapan buat gue. sam bisa cranky kalau belum terpenuhi jatah bertemu kasurnya maksimal di jam 7-an malam. dia juga suka banget gegoleran main di kasur kalau siang hari libur. dikit-dikit nenen, dikit-dikit molor sambil pelukan. walhasil setahun belakangan ini gue udah hampir nggak pernah kelayapan impromptu di malam hari. nggak kayak dulu yang tau-tau bisa nyangkut nongkrong di mana. hmm pernah sih ada anomali sekali, yaitu saat kita dadakan main ke Ikea di suatu jumat malam. dan ini berhubungan sama poin berikutnya yang membuatku excited akhir-akhir ini...

  • mulai dikit-dikit bebenah rumah lagi
bukan beberes maksudnya, kalau itu sih udah fardhu 'ain. tapi mulai bebenah rapihin interior rumah. 
yang pertama kepikiran untuk dirapihkan adalah study room yang duluuuu saat awal merenov rumah sudah dirancang, tapi belum terwujud juga. 
jadi pada suatu jumat malam, dengan agak impusif kita mampir ke Ikea. harapannya bisa dapat inspirasi model ruangan. 

so this study room makeover became my little project these last few weeks. 
gue pun mulai donlot-donlot app buat desain rumah. yang bolak-balik diakses tuh Pinterest, Ikea Store sama Room Planner. bahagia ey bikin-bikinnya. 


the vision on Room Planner
the realization, don't have much to complain though <3
insya Allah kalo ada rezeki maunya sih ngeberesin ruangan lain di rumah. 
pengen ngecat rumah, ganti sofa, benerin halaman belakang, ngisi kamar anak, plus beberapa furniture yang udah lama masuk ke wishlist. pelan-pelan layaaa, little little we can. 

  • soal si anak sulung
baru kerasa lho... kalau gue udah sangat sangat "menjauh" secara jiwa dari dia.
yes I'm admitting it. 
teringat dulu bu alzena menegur gue untuk be present saat bersama anak... i can recite it by heart, tapi hal tsb belum jadi respons alami gue. hiks. semakin gue menyadari kalau gue adalah multitasker yang cukup buruk. it's hard enough to concentrate to a baby, let alone that plus an almost-teenager. 
dan semua keriweuhan urusan membesarkan bayi ini, membuat gue gak bisa melihat bumy dengan lebih 'jelas.' 
all I see is his mistakes, his tingkah-polah yang nyebelin dan usil. 
and all I do is responding it with anger. 
gosh....
tapi Allah Maha Menunjukkan jalan keluar... alhamdulillah lewat satu demi satu kejadian yang tersaji, gue dipertemukan dengan orang-orang yang bisa membantu. orang seperti Nup, salah satunya. gosh, I have so much to tell about her. I learn so much from her! salah satunya gimana mengenal dan melihat anak the way they are. menurut Nup, mengenali apa masalahnya aja udah bisa menjadi pembuka jalan. I realize I need to do better parenting. 
penerang jalan lainnya berupa kelas pendidikan dari Rumah Inspirasi. again, I have so much to tell about these inspiring classes. 
tapi menimbun ilmu tiada artinya kalau nggak dipraktekin, ya 'kan. 

  • MRT
Jakarta akhirnya punya MRT!!!
ya Allah gak pernah terbayang akhirnya gue melihat dengan mata kepala gue sendiri infrastruktur tsb terwujud!
gue masih bisa mengingat jelas suatu momen di tahun 2005 saat gue masih bolak-balik mencari nafkah di sudirman and I felt so disgusted, and desperate about the city. I love the city so much it sickened me to see mereka yg diamanahi untuk mengurus kota ini gak terasa dampak kerjanya. trotoar yang buruk. halte yang kotor dan rusak. kemacetan di jam kerja yang membuat putus asa. 




sekarang semua isu itu masih ada, tapi I can feel better knowing ada pak Jokowi yang BEKERJA untuk gue, keluarga gue dan uang pajak yg sudah disetorkan. haha ini maksudnya bukan buat kampanye terselubung (is it?) tapi semata-mata apa yang gue rasakan. 
I was holding back tears saking terharunya saat pertama kali menjejakkan kaki di MRT station di Jakarta. segitunya indeed! 
yes I got emotional... orang indonesia totally deserve itttt, sejak bertahun-tahun lalu bahkan. sadarkah betapa beruntungnya kita ada pemimpin yang segitu getolnya pengen membangun bangsa ini... Kiti told me, bahwa salah satu orang yang dinaungi Allah SWT di hari akhir adalah pemimpin yang adil. I truly hope that Jokowi will be one of them. 

  • hmm what else? oh, our weekends with Palem family and my spontaneous lunch dates with Kiti
sejak abah Venda mulai kuliah s2, otomatis di hari sabtu si bunda Debi dan Abhi nganggur aja di rumah. kita yang hobi kelayapan ini pun kerap kali menculik mereka. minggu lalu kita sarapan sop buntut mak emun jauh-jauh ke Bogor. dari situ lantas nemenin abhi kontrol dokter di KMC, lalu mengganjal perut lagi ke Siku (Dharmawangsa). makan, makan, makaan. malamnya geng Palem nginap di Ciganjur. seneng aja ngumpul ngariung gini. semoga rencana liburan bareng bisa terwujud, nih... 


gosh I look so much like her ELDER sister
sop buntutnya bikin bunda merem-melek
our meetup sessions should be called detoxing. honestly.
well, setelah menulis berpanjang-lebar, sepertinya tulisan ini akan gue muat di blog. 
can't tell exactly why. mungkin hati ini kembali mengenali blog sebagai rumah menyampah yang cukup nyaman.   

and it's glad to be back. ihiy.