24/04/2017

starvation of the heart

jauh sudah aku berjalan.
rasakan pahit, rasakan manis
rasakan gelap, rasakan terang.. sampai ku tak tau jalan pulang
tinggi, aku terbang semakin tinggi, lewati awan hampa udara hingga ku lemas, hingga ku jatuh
tapi aku harus bertahan hidup
tolonglah, tolonglah tunjukkan jalan ke rumahku
tolonglah, tolonglah beri udara 'tuk napasku
siapa yang akan menolongku, pegang tanganku bawa ke rumahku?
rasakan kasih, rasakan sayang.. hangat pelukan, hangat kecupan
ada teh hangat dan roti bakar, bantal yang empuk, kasur yang lembut
ada larangan, ada aturan, tatapan mata penuh curiga
gorden yang cantik, dapur yang unik, dan anak kecil panggilku ibu
dan seorang pria ucapkan salam "selamat pagi"
aku jadi rindu rumah

di atas tuh potongan lagunya Oppie Andaresta yang gue sukaaaaa bangett. pertama kali dengar di album "Bidadari Badung" tahun 1995, waktu gue masih bocah SD yang nggak ngerti-ngerti amat maksud lagunya tapi somehow suka aja. kini, semakin gue menua, lagu ini malah semakin 'menusuk.'

siang ini, entah kenapa gue kebayang suatu momen di masa lalu bersama Weich ketika lagu ini mengalun.
waktu itu gue baru mulai kerja setelah lulus kuliah.. jam 6 pagi duduk di angkot bersebelahan dengan nyokap yang mau berangkat kerja. posisi duduk gue/kita tepat di sebrang pintu masuk angkot. 
ketika memasuki gerbang portal sebuah kompleks, angkot berhenti sejenak untuk menaik-turunkan penumpang. tiba-tiba gue liat dia, Weich, lagi berdiri di pinggir jalan dan sedang melihat ke arah gue juga. serta-merta gue dengan heboh dadah-dadah ke dia, begitupun sebaliknya. tapi angkot buru-buru berjalan lagi. it was just a brief moment, mungkin lima detik pun nggak sampai.
tapi gue masih inget banget momen di pagi itu, sampai sekarang.
entah gimana gue ngerasa Weich takjub sekaligus seneng ngeliat gue... dan itu terbukti. beberapa saat kemudian (gue lupa, mungkin di hari yang sama, bisa jadi bukan) Weich bilang ke gue, "waktu gue liat lo pagi itu, chom, gue berpikir, emang yah, akhirnya kita akan 'balik' juga ke keluarga."

kita udah saling kenal sejak umur 12 tahun. Weich mungkin orang yang paling hapal gimana turbulensi hubungan gue sama nyokap. it's a classic love and hate relationship. 
Weich *tahu* gimana kejadian gue duduk bersebelahan dengan nyokap di pagi itu bermakna sesuatu... 
salah satunya mungkin bahwa meskipun gue dan nyokap bisa dibilang "musuh" abadi, but deep down I've always been my mom's little girl. that making her happy is my ultimate goal in life. gue sebel diatur-atur sama dia tapi bakal nurut anyway karena she's the only one I trust. di momen papasan itu, gue belum lama memutuskan pakai jilbab, mungkin baru sebulan. dan nyokap adalah orang pertama yang menentang. alasannya macem-macem, tapi mungkin yang terasa paling jujur adalah : "mama nggak mau jadi nggak kenal kamu lagi."

but time is helping us like it always does. and there we were, sitting next to each other on our way to work.

**

usia 30 tahunan ini bagi gue rasanya identik banget dengan kegiatan mengevaluasi keputusan-keputusan dalam hidup. hari demi hari, pembicaraan gue dengan diri sendiri bukan lagi diisi dengan "apa yang mau gue capai habis ini?" atau "where do I go from here?" melainkan "apa gunanya?" "bener ga sih ini yang gue mau?” “gue lakuin ini buat siapa?”

the thing about parents, is that they only and always want the best for you. maksud mereka pasti dan selalu baik, tapi apa yang mereka pikir terbaik dengan apa yang gue mau nggak selalu sejalan. and that is something I've been struggling with my whole life.. 

let's say dalam hal jurusan kuliah. if it had been totally up to me, gue yakin udah kuliah di IKJ. tapi ya gitu... are we gonna go through that again? hahaha. 
atau... selera gue terhadap lawan jenis. I know my taste in men was questionable. gue kerap tergila-gila suka sama orang yang 'nggak biasa.' musisi, aktor teater, pengembara, gambler (haha) dan entah macam apa lagi. tapi... mungkin berkat doa ibu, gue dikasih partner idup yang 'normal' dan reliable - yang terbaik buat gue. 

mungkin... saat weich melihat gue sekilas di angkot itu, dan sekarang saat gue denger lagu "Rumahku," yang dia dan gue rasakan adalah... mungkin hidup untuk menyenangkan orangtua is not that bad after all. dikatakan kalau ridho orangtua adalah ridho Allah, and it's something that I believe deeply. 

hidup gue mungkin jadi se'genah' ini berkat konsistensi bokap nyokap mendoakan gue. 

tempo hari, waktu lagi makan siang di dekat kantor seperti biasa, tiba-tiba gue berpapasan sama Arryo. dia bisa dibilang childhood friend bagi gue, dan juga Weich karena kita satu sekolah sejak SMP. di tengah perbincangan kita, tiba-tiba Arryo bilang, "elo itu anak baik-baik yang jago berkamuflase jadi anak bandel, Ris." 
dan gue termangu. 
mungkin dia udah tau hal itu sejak lama.. sebagaimana Weich juga sudah sadari jauh-jauh hari, mungkin sejak pagi kita berpapasan itu. 
despite all my rage and rebelliousness, I am still just my parents' little girl. 

dan tugas gue sekarang, adalah berdamai dengan "identitas" itu. 
I crave for stability, security, and logical things that my parents have been cultivated in me since I was a child. 
maybe that's why I ended up masuk tlkm and returned back to the place despite all my complaints and unhappiness. 
but there's also the yearning in me to "burn my bridges, to swallow the poison in one gulp instead of drop by drop, to go down into the bottom of my fear and see if I could pull myself up,"*) because I never really know what it's like to do things for the sake of MYSELF. 
maybe that's why I do what I do; restlessly questioning, restlessly searching, continuously starving ... for something that could cater all the contradictions within me. 

***

seperti kilas pertemuan gue dengan Weich pagi itu, hidup mungkin hanya untuk bersua sesaat. dan di tengah semua kegelisahan dan kesakitan menjalani pilihan-pilihan ini, gue diingatkan, bahwa ya, hidup hanya sesaat. I don't have all the time in the world. 
now is the time to make peace. now is the time to make closure. 
now is the time to do the things I've always been scared of. 

oh Weich, betapapun kini kita sudah tak berada di "ruangan" dimensi yang sama, tetap saja lo menjaga dan mengurusi gue yang senantiasa linglung ini. 
never realized how truly lucky I am to be a friend of yours... for a moment here on earth, and hopefully later in heaven as well. 

always have, always will


*) quoted from the book "Fear of Flying" by Erica Jong.

No comments:

Post a Comment