27/08/2015

#backtowork

Finally! Setelah 3 minggu kembali ngantor, akhirnya gue bisa ngupdate blog lagii. 

Ngantor??
Iya, seperti judul, eke back to work, buu. Full time. 8 to 5 (say "amen" to this?). 
Emang tiba-tiba banget, sih. 
Jumat siang gue lagi nyetir abis jemput Bumy dari sekolah, tiba-tiba ditelpon sama orang HR tlkm. Gue disuruh dateng ke kantor gatsu hari senin jam 9-10. Phonecall kayak begini emang udah gue tunggu-tunggu, karena status kepegawaian gue gantung sejak bulan Mei. CLTP gue udah nggak bisa diperpanjang, jadi rencana awal mau ambil cuti selama 3 tahun (jatah maksimal) terpaksa berubah. 
Mau sontak ngajuin resign kok rasanya nggak enak... seolah membuang begitu saja kesempatan untuk jadi pekerja lagi. Belum siap mental gitu judulnya. Jadi gue ajuin permohonan untuk kembali bekerja. 
Strategi ini terasa paling tepat - setelah didiskusiin sama Adit - jadi gue bisa melihat dulu penempatan gue di mana. Kalo emang nggak cucok sama kondisi kita sekarang, barulah gue babay beneran. Tapii, jawaban dari permohonan kembali bekerja ini nggak dateng-dateng selama 3 bulan itu. 

Kondisi hati sih sebenernya masih gamang... 
Masih belum sreg untuk balik ke industri dan lingkungan 'lama.'
Sementara di dunia freelancing tulis-menulis dan translating juga belum punya resume yang mumpuni. Sempat berniat nyobain kerja full-time di dunia kreatif, tapi hati belum kokoh untuk ninggalin anak seharian. Gitu-gitu deh, dilemanya. 

Tapi emang, kalau Allah udah bilang "it's time," then it's time! Nggak bisa di-delay barang sedetik pun!
Pas ngadep ke HR, tau-tau gue disuruh jadi karyawan lagi. Dan kapan harus mulai kerjanya? Ya sesegera mungkin! 
Gue ditempatin di kantor Gatsu (takjub ey, karena emang cuma kantor ini yang cocok sama kondisi kita sekarang), dan hari itu juga dibawa sama orang HR ke ruangan kerja buat dikenalin sama bos-bosnya. 
Terdilo-dilo banget... 
Jujur aja, gue kira dateng buat disuruh resign. Nggak ada persiapan buat kerja lagi, samsek! 
Yaudah, kelar urusan di tlkm, gue (dan Adit) buru-buru nelponin beberapa kandidat daycare. Siang sampe sorenya kita survey ke 2 lokasi daycare. Trus langsung nge-hire abang ojek langganan Adit untuk jemput Bumy dari sekolah. Trus minta ijin buat markir mobil di sekolah Bumy, dsb dst. Riweuh! Tapi alhamdulillah nemu aja jalan keluar, sih....

Dan sekarang, udah 3 minggu aja. 
Rutinitas gue bener-bener jungkir-balik. 
Padahal udah mulai rutin olahraga 3-4 kali seminggu. Udah berencana rutin "kencan keringet" sama konco kenthel si Weich. Udah mulai rutin masak makanan sendiri. 

Kini, kita ngekos demi memangkas waktu commuting. Olahraga juga so far baru sempet on weekend (digebeeer. Bukaan, bukan karena sok-sokan atletico kampreto, tapi ngeri sama hasil kolesterol). Masak? Cuti dulu dah, harharhar. 
Gue juga BELAJAR mengikhlaskan Bumy dipegang sama pihak ketiga selama gue bekerja; mulai dari sekolahnya, abang ojeknya, daycarenya. 
Learning how to trust... menitipkan nasib si anak ke tangan Sang Empunya Mahluk, Allah SWT, yang Maha Menjaga, Maha Kuat. Gue mah apa atuh... cuma manusia dengan keterbatasan tapi dikit-dikit parnoan dan maunya apa-apa sempurna. Ihik. 

Jadi, sekarang gue mulai dari nol lagi. 
Belajar beradaptasi sama kehidupan 'kantoran,' sama commuting (meski cuma 3,5 km sik. Tapi trafficnya booo), sama rutinitas baru, sama setan-setan di jiwa yang kerap muncul saat gue kelabakan menyeimbangkan waktu dan tenaga, sama semuanya, deh.

Di awal-awal, suka mellow inget betapa gue suka bobo siang berdua Bumy, trus sekarang tiba-tiba rutinitas itu terampas (kangen Bumynya apa tidur siangnya?!). Trus geli-geli miris denger Bumy suka kelepasan manggil gue "miss" (secara setiap harinya dia lebih lama bersama si miss daripada sama gue!). 
Suka gamang juga menghadapi budaya perusahaan yang masih nggak berubah sejak 2,5 tahun lalu, dan bertanya-tanya sendiri "Apa yang gue cari di sini?" 

Tapi... I choose to be brave. 
Emang, jalan di depan masih gelap. Meski kalo ditanya apa tujuan gue bekerja, gue bisa jawab kalo it's more than just money. Tapi kenapa gue kudu balik ke tlkm, itu belom bisa gue jawab sekarang. RencanaNya pasti baik. 
Kayak dibilang di majelis tafakur: kadang kita nggak nyaman sama perubahan, karena nggak bisa melihat apa potensi kebaikan yang dibawa sama perubahan itu. Mungkin ada potensi mengenal diri, memperbaiki diri, dan lainnya yang 'mata' kita belum bisa lihat. 

Pelan-pelan gue sadari... bagaimana pada Jumat pagi itu gue baru nerima kabar kalo kontrak kerjaan part-time gue diputus. Eeh, siangnya tau-tau ditelpon tlkm. Jadilah gue dibukakan pintu rejeki baru. 
Trus, di minggu yang sama gue baruu aja drafting review 2,5 tahun jadi SAHM; apa aja yang udah gue lakuin, lessons learned, bahkan gue bikin SWOT analysis terhadap diri sendiri hehe. Lalu gara-gara dengerin "Train Song"-nya Vashti Bunyan, kepikiran untuk hidup dengan mengikuti #passion, tinggal di Jogja/Bali....
Coba, deh, lirik di bawah ini dibayangin "you"-nya itu si #passion
"It's so many miles and so long since I've met you
Don't even know what I'll find when I get to you
But suddenly now I know where I belong
It's many hundred miles and it won't be long"

I want to be where I belong. Dan sama Allah, gue dibawa ke tlkm. Gimana, mau protes? Bukankah Dia yang Maha Mencukupkan?


07/08/2015

mendadak healthfreak

Dua minggu lalu, gue menerima kejutan.
Sayangnya bukan kejutan yang menyenangkan.

Jadi, sekitar 1,5 bulan lalu kita 'iseng' kontrol ke dokter speasialis penyakit dalam. Awalnya karena mau ngecek kadar kolesterol Adit, sehubungan sejak 2 tahun lalu dia didiagnosa punya kadar kolesterol (jahat) yang cukup tinggi. Sebenernya Adit dapet jatah MCU dari kantornya setahun sekali, tapi entah kenapa kemarin tuh kita pengen aja buat kontrol bareng. Gue sendiri nggak punya keluhan sama sekali, nggak kaya Adit yang suka ngeluh lehernya pegel-pegel atau pusing.
Tapi berhubung lagi iseng, jadi ya kenapa nggak?

Kita sengaja nemuin dokter SpPD yang udah kita 'kenal.' Beliau ini dulu menangani gue pas menjalani pengobatan TB selama hampir 1 tahun. Setelah konsul, 2 minggu lalu akhirnya kita cek darah. Begitu duduk berhadapan sama si dokter untuk dibacain hasil tes lab, barulah kejutan itu gue terima. Fufu.
Adit kolesterolnya hampir 200. Melonjak dari hasil tes lab sebelumnya. Glek.
Sementara gue, yang tadinya nggak bermasalah dengan kolesterol sama sekali, sekarang hasilnya lebih dari 150. SHIOK!
Ya kagetlah, soalnya gue nggak punya keluhan samsek, apalagi gue juga nggak overweight (rada buncit sih iya). Jujur gue merasa agak "sombong" menghadapi cek darah, karena ngerasa hasilnya bakal oke-oke aja. Terbukti kemudian itu ilusi semata xD.

Dokternya langsung bilang, wah kalo serumah bisa sama begini (kadar kolesterol jahatnya tinggi - red), kemungkinan besar karena makanan.
Yep, menurut dia, makanan yang terlalu berlemak bisa menjadi faktor penyebab. Selain kurang berolahraga, kebanyakan karbo, faktor keturunan, dsb. Lebih lanjut, menurut dia sih kadar kolesterol jahat yang tinggi itu sama sekali nggak ada gejalanya. Jadi, pegel-pegel atau pusing itu nggak bisa dibilang gejala kolesterol tinggi, bisa semata-mata karena kurang stretching. Wajar aja kalo gue nggak curiga hasil gue bakal begitu karena nggak punya keluhan fisik apa-apa.

So (setelah terkaget-kaget menerima hasil tes dan diagnosa), what's next?
Nggak heran, kita disuruh
1) Kurangi asupan karbo dan makanan berlemak. Dijelasinlah kalau karbo yang nggak 'kepake' di badan itu akan jadi lemak dan efeknya ya bikin kadar lemak di darah tinggi. Trus makanan yang berlemak jenuh juga wajib dikurangi. Udah kebayang 'kan yah, babay gorengan, mayo, dan segala makanan "kotor" lainnya.
2) Rajin olahraga. pastinyaaalahay. Nggak perlu jadi atlet-wannabe segala, sik, cukup 3-4 kali seminggu, masing-masing 30 menit, atau 1 jam lebih bagus. Intinya bergerak aktif.
3) Minum Lipitor!! x))))))) (baca: ketawa miris).
Emang siih, kadar kolesterol di bawah 200 katanya masih "normal." Apalagi melihat gaya hidup sekarang, banyak bangeeet orang masih muda-muda yang kolesterolnya di atas 100 (btw, kadar kolesterol jahat yang sehat itu baiknya di bawah 100).
Dia jelasin, gaya hidup kita sekarang ini 'kan membuat sangat MUDAH untuk membeli dibandingkan bikin sendiri. Tempat jajan bertaburan di mana-mana, males keluar tinggal angkat telpon buat delivery service, udah gitu ada faktor kesibukan juga yang bikin kita prefer jajan. Sementara itu, makanan jaman sekarang kebanyakan kalorinya tinggi, berminyak atau manisz.
Diperburuk sama kondisi kurang bergerak. Jadi, deh, tuh kolesterol melejit tinggi tanpa disadari.
Ya, bener, tanpa disadari. Karena kaya yang dia bilang tadi, kolesterol tinggi itu nggak ada gejalanya. Maka, semacam lazim ditemui orang yang pas kontrol tau-tau udah ratusan kadar kolesterol jahatnya di darah.
Kata pak dokter, Lipitor ini fungsinya membantu kerja enzim yang bertugas mengolah lemak di darah, dan mengontrol lemak-lemak itu supaya nggak menyumbat pembuluh darah (naudzubillah, serem dengernya). Kalau kita mau berusaha jaga makan dan olahraga, kita bisa stop konsumsi lipitor sama sekali nantinya (AMEEEEN!).

Perasaan gue sendiri agak-agak jungkir-balik abis mendengar diagnosa pak dokter. Antara merasa
- Bodoh, karena udah dikelabui kondisi badan yang terasa baik-baik aja,
- Marah sama diri sendiri, karena udah memilih gaya hidup yang nggak sehat, dan juga
- Terguncang, karena harus minum obat yang sama kayak bokap-nyokap yang usianya udah 50 tahun lebih!

Tapi sesudahnya gue mencoba berpikir objektif dan berkaca... Kayak kata pak dokter, ini semua kebanyakan bermuara di lifestyle.
Pelan-pelan gue SADARI kalau
- Pagi-pagi gue udah makan berat: nasi uduk, lontong sayur, bubur ayam, you name it. nggak sering sih, tapi sukalah.
- Suka males makan sayur dan buah.
- Doyan ngemil nggak sehat, contohnya: nyaplok kue lebaran saat "laper" malem-malem, ngabisin 1 batang coklat dalam sekali lep kalo lagi PMS, rutin ngopi dengan susu non-skim dan gula.
- Nggak teratur olahraga. Apalagi sejak bulan puasa, gue bener-bener nggak pernah olahraga lagi.
- "Lupa" sama clean eating. hahaha. Kalo lagi inget ya dilakuin, tapi tetep suka tergoda sama delivery service atau jajan di luar. Udah gitu, pilihan makan di luarnya juga nggak pernah "clean."



Yaudah, ikhlas, I do deserve this. *duduk di pojokan*
Jadi, ya gini deh PR kita sekarang: revamping our lifestyle. Goals gue nggak neko-neko, sih... "cuma" sbb:
1. No more emotional eating or mindless snacking
2. Bye bye pills! Au revoir potions!
3. Stay committed.

Buat goal nomor satu, gue usahain dengan nyetok camilan 'bersih' dan bikin makanan sendiri di rumah. Susah? Ya pastinya! Buat gue, cooking is hard. Keeping myself healthy is harder. Discipline is a pain in the a*s!
Apalagi kalo gue udah kembali ke rutinitas nganter-jemput Bhumy kayak sekarang. Harus ngulik waktu supaya sempat masak. Harus kreatif juga nyusun menu makanan. Tapi sejak dapet 'tamparan keras' ini, otomatis hasrat masak-bersih gue kembali membara, sih. Mungkin emang iya locus of control gue eksternal, jadi kudu dapet wake-up call dulu macam ini.

Baby steps, deh. Pelan-pelan.
Sekarang gue nyoba pake aplikasi Two Grand (being a gen Y that I am, tentunya yang diandalin ya gadget dulu haha). App ini ngebantu tracking makanan yang dikonsumsi dalam sehari dan tracking pencapaian tujuan kita - entah itu berat badan, konsumsi cairan, atau goals lain berupa kebiasaan baik. Food journal ini berguna buat gue jadi nggak perlu repot nyusun menu lagi, tinggal ngulang per dua minggu, gitu. Lagian bisa mengakomodir hobi gue curhat juga, sih, karena bisa naro kesan dan pesan kita seputar sepak terjang dalam sehari udah ngapain aja haha.

Sementara buat olahraga, gue belum sign up ke kelas atau gym tertentu. Masih nyoba rutin yoga di rumah pake yutub.
Pas weekend, kita lagi nyoba rutin jogging - udah 2 kali nyoba di Lippo Karawaci di minggu pagi. lumayan nyaman di situ. Trus baruuu aja semalem nyoba lari di Senayan malem-malem ngajak Bhumy juga. Adit sih semacem rutin 1-2 kali seminggu lari malem di situ sama temen-temen kantornya, tapi gue baru pertama kali. Kali ada yang mau lari bareng nemenin gue, gitu?

Satu catatan penting buat diri sendiri dari 'kejutan' ini, yaitu gaya hidup sehat seharusnya nggak cuma jadi sebuah fase. Tapi perlu berkesinambungan supaya bisa jadi kebiasaan. Bagaimanapun, pasang-surut pasti akan ada; yang jadi penentu keberhasilan gue rasa cuma komitmen diri (goal nomor tiga).
Agak mirip sama pernikahan, kalo dipikir-pikir. Tapi yang ini 'pernikahan' sama tubuh sendiri. Apa iya perlu bikin marriage vow juga?
"Hereby, I take 'me' or my physical being, as a lifelong companion, and I promise to take care of 'me' and to love 'me' from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, through highs and lows, in sickness and health, to infinity and beyond."
Hehehe.

So, wish me luck, people. Semoga 'pernikahan' (kedua?) gue ini bisa langgeng dan samawa xD

06/08/2015

wants vs. needs

Beberapa waktu lalu, gue berpapasan dengan pesan yang bikin tergugu. It says, Allah pasti akan mencukupkan apapun yang kita butuhkan. Tapi untuk hal-hal yang kita inginkan, kita sendiri yang harus berupaya mendapatkannya. 


The first setence *IS* true, karena tertuang di Al-Qur'an kalau Allah pasti akan mencukupkan kebutuhan hamba-Nya. Dia 'kan Maha Mengetahui, Dia pasti tahu apa yang kita butuhkan. Tapi, yang bikin manusia sering merasa galau, gelisah atau bahkan kecewa, adalah karena kita kerap didera oleh keinginan-keinginan. Dan keinginan kita itu banyak banget. We want so much. Bahkan mungkin keinginan kita itu nggak ada batasnya; begitu satu hal terpenuhi, fokus kita langsung bergerak ke hal-hal lain yang belum terwujud. 
And so we strive to fulfill it. 

Padahal, apa-apa yang gue butuhkan, Allah udah cukupi. Tapi, kayak yang gue tulis tadi, keinginan yang bermacam-macam rupa itu bikin diri susah ngerasa 'tenang.' Wajar sih, karena belum semua (and I mean ALL, every single thing on our "checklist") yang kita inginkan itu terpenuhi. Kita jadi belum merasa fullfilled, dan efeknya, nggak ada perasaan content atau puas. Ini kali, ya, yang suka bikin susah bersyukur? 
Mewujudkan konsep bersyukur kalau cuma di bibir aja sih gampang. Mungkin tinggal pasang status "Alhamdulillah yaa, hari ini aku bisa lari 5 km, anak makannya abis, pembantu rajin banget... #blessed." 
Atau bersyukur di otak aja, dengan memikirkan "Apa, sih, yang gue nggak punya? Rumah ada, mobil bagus, kerjaan oke, bisa jalan-jalan ke sana ke mari. Duh, kebangetan deh, kalo gue nggak bersyukur." 
Tapi meRASAkan syukur, bener-bener merasa diperhatikan dan dicintai oleh Sang Pencipta dan karenanya, sampe nggak enak ati banget kalo nggak mewujudkan syukur dalam perbuatan - apa gue bisa sampe ke 'tahap' itu? 

Bukan berarti lantas kita harus mengeliminasi keinginan dari sanubari, sih. Ingin ini ingin itu 'kan manusiawi banget. tapi, semakin tua gini - dan semakin nggak nyaman didera perasaan susah puas - gue jadi tersadarkan kalo gue perlu fokus. Fokus sama apa yang jadi tujuan gue. 
Sudah beberapa bulan belakangan ini gue ikutan majelis tafakur, namanya Mutiara Tauhid. Berawal dari merasa jiwa gue kering-kerontang banget, nggak pernah disiram sama tausiyah dan ilmu agama. Akhirnya gue tanya ke Kiti perihal pengajian yang rutin dia ikuti sejak sekitar setahun terakhir. Alhamdulillah, ternyata gue cocok banget ikut pengajian di situ. Yang gue dapet bukan cuma tausiyah atau ilmu agama, tapi juga kesadaran! 
Salah satunya yang berkaitan dengan curhatan gue kali ini, gue disadarkan kalau keinginan yang banyak banget dan nggak ada abisnya itu tuh sebenernya keinginan "badan" atau fisik. Badan ini pengen jadi cantik, jadi sehat, jadi kaya, ganti mobil, kerjaan yang keren, daaan lain sebagainya. Tapi apa yang JIWA gue butuhkan? Jiwa, entitas yang akan tersisa setelah badan ini berhenti berfungsi. Jiwa, yang akan kembali pada Allah, yang akan terus 'hidup' setelah masanya di alam dunia habis. Apa sih yang penting buat jiwa gue?

Lagi-lagi lewat (dan berkat tafakur), gue diingetin kalau tujuan hidup manusia itu "cuma": Kebahagiaan di dunia dan di akhirat. 
Simpel? Apa malah rumit? 
Masalahnya, kita harus redefine dulu kebahagiaan itu apa. Sama atau nggak dengan kesenangan?
Mulai, deh, di sini dikupas... Ternyata, harta yang banyak, anak yang baik, suami yang setia, mertua yang sayang sama kita, pekerjaan yang keren, dan bahkan badan yang sehat, itu semua kesenangan semata. Hooh! Itu semua bukan definisi  kebahagiaan. 
Balik lagi ke Al-Qur'an, ternyata kebahagiaan itu adalah "Tidak adanya rasa gelisah, khawatir, atau sedih." 
Referensinya ayat ini:
(QS. Al-Baqarah, 38) "Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Hmm... kalau gitu, nampaknya gue perlu mengoreksi persepsi gue kalau melihat orang yang kaya, cantik, dan punya 'paket lengkap,' nope, nggak berarti orang itu (sudah) bahagia. Orang itu hidupnya enak, itu bener, karena hidupnya dipenuhi dengan kesenangan. 
Tapi kebahagiaan? Apakah orang itu udah selalu merasa tenang? Nggak pernah khawatir?
Justru seandainya gue melihat keluarga yang hidup seadanya tapi nggak pernah berantem, bisa menikmati apa yang ada di meja makan dengan penuh syukur dan senyum, mungkin mereka itulah yang hidupnya bahagia kalau mereka bisa merasa tenang, nggak stres, meskipun nggak kaya.  


Dari situ, gue semakin merasa perlu membedakan kebutuhan dan keinginan. Keinginan bagi gue lekat dengan kesenangan. Seperti gue tulis tadi, keinginan nggak ada abisnya, tak terbatas, dan we tend to want it all. Karena faktor penentu kesenangan adanya di "luar" diri kita, ditentukan sama hal-hal yang nggak bisa kita kontrol - kekayaan, kesehatan, anak, suami/istri, mertua, pekerjaan, dst. Sementara kebahagiaan itu letaknya di "dalam."
Lebih lanjut gue sadari, berkat berkaca dari pengalaman; dari materi tafakur yang mengacu ke Al-Qur'an dan hadits; juga dari blog seputar minimalism yang akhir-akhir ini gue gandrungi, punya banyak barang atau punya banyak ilmu itu nggak menjamin kebahagiaan. Not at all.
Kita harus membedakan hal-hal mana yang emang kita butuhkan. And the truth is, we don't need a lot. Iya, kita butuh kesehatan. Iya, kita butuh hidup berkecukupan. Tapi apa artinya kalo saat kita tiba-tiba sakit, atau tiba-tiba harta kita terenggut, kebahagiaan kita langsung terampas?  

Kembali ke premis awal tentang "Allah pasti akan mencukupkan apapun yang kita butuhkan. Tapi untuk hal-hal yang kita inginkan, kita sendiri yang harus berupaya mendapatkannya." Gue yakin ketentuan dariNya pasti yang terbaik, makanya apa-apa yang kita 'miliki' sekarang pasti ada for a reason. Rasa malas berolahraga, rasa serakah, rasa nggak pernah puas, nggak bisa manajemen waktu, nggak sabar, dan lain-lain, semuanya kita (ups, gue) miliki untuk sebuah alasan. Kalau kita (iya, gue!) ingin rajin olahraga, murah hati, hobi bersyukur, bisa ngatur waktu dengan baik, jadi penyabar, ya gue sendiri yang harus mengusahakannya.  
After all, gue yakin Allah mencintai proses, no matter how messy or erratic that process is. 

Meski tulisan gue ini terkesan sok alim dan sok bijak pangkat seribu, tapi yakinlah bahwa ini murni kontemplasi semata. Gue cuma pengen sharing tentang perjalanan jiwa yang masih hobi galau, khawatir, dan ketakutan ini. Jiwa yang belum bahagia. Gue masih punya sederet wishlist yang semuanya duniawi banget. Gue masih gampang 'ngamuk' dan 'terampas.' Kata-kata yang gue tuangkan di sini juga yah, sekadar kata-kata, hasil dari isi pikiran gue, bukannya perilaku nyata. But this thought is a part of my journey. 

Dan di titik perjalanan ini, gue menyadari kalau yang gue butuhkan adalah
1. Bisa membedakan keinginan dan kebutuhan
2. Bisa membedakan kesenangan dan kebahagiaan 
3. Fokus sama tujuan 

Well, I guess with this, gerakan Kawal Kalbu is officially started? Hehe.. lagi-lagi ini cuma usaha untuk bisa lebih 'bahagia.' 
Bismillah.