Showing posts with label soul. Show all posts
Showing posts with label soul. Show all posts

26/02/2018

the kids are alright

are they? 
are they really?

menurut gue, salah satu ciri khas menjadi orangtua adalah the neverending surprises. be it good or bad. if you do love a thrill seperti dinyanyikan di lagu pembuka glee (#lawas), then be a parent. lagi nggak angin nggak ada hujan, tau-tau tau-tau bocah panas tinggi aja gitu. atau waktu pulang kantor setelah commuting berjam-jam, baruuu ingin merebahkan punggung di kursi, tiba-tiba si anak eeknya berdarah, dan harus berlari lintang-pukanglah elo ke UGD. contoh-contoh yang gue sebut ini berdasarkan kisah nyata. pastinya para orangtua lain punya contohnya masing-masing. dari satu titik netral, kondisi kita bisa seketika dibawa ke titik nadir karena apa yang terjadi sama anak. it's a rollercoaster ride! 
makanya kalau bisa disebut hikmah, yang bisa gue petik dari sekian tahun jadi orangtua (newbie) adalah: jangan takabur. iya, jangan dehhh nyombong baru liat anaknya pinter makan sebentar, karena bisa jadi sekian hari kemudian si anak GTM ora kelar-kelar x))) atau kaya sekarang nih waktu punya newborn, baru merasa jumawa punya bayi yang nggak ngajak begadang, eeeh tau-tau besoknya doi kena ruam popok dan jadi riwiiil banget. tahan-tahan deh ini mulut dan jari dari bersikap "sombong." because you might not know what'll happen next. 

tapiii tadi 'kan gue bilang kalo ngegedein anak itu bagaikan naik rollercoaster, yang berarti ada saat-saat cihuynya juga. jadi orangtua kadang terasa kayak lo dapet kejutan-kejutan manis dari hidup di saat yang nggak diduga. kado-kado kecil yang bikin semuanya terasa berarti. 
kayak waktu si sulung nyeletuk "mama tuh the best mom," entah kenapa dan bagaimana padahal kerjaan gue ngomeeeeel melulu sama dia :(((
atau kayak waktu si bayi ketawa (saat lagi sadar bukan lagi ngelindur) untuk pertama kalinya waktu lo ajak bercanda. it's always the littlest things. mungkin cuma 0,01% dari keseluruhan hahaha... tapi ajaibnya itu yang bikin lo bisa jalanin hari demi hari. 

selama jadi orangtua anak tunggal tempo hari, kondisi kehidupan kayaknya udah mendingan banget. udah jarang bolak-balik rumah sakit (alhamdulillah for that), bumy udah makin nyambung diajak ngobrol (which means dia juga makin jago ngeles dan bales omongan kalau lagi diomelin), gue pun merasa kondisi mental gue dan adit sebagai orangtua udah lumayan santai. occassional worrying atau kekhawatiran sesekali ada, tapi di isu-isu tertentu aja. 
ketika punya newborn lagiii, jreng, ternyata kita nggak jadi lebih berpengalaman dalam urusan menata hati. welcome back my old friend, the constant worrying. 
meskipun secara umum gue dan adit udah lebih "berpengetahuan" dalam artian we know what to expect most of the time, tapi ada hal dan kondisi yang emang berbeda. yang sedang gue alami sekarang adalah khawatir karena mau menitipkan sam di daycare. 

dulu bumy emang sempat di daycare, tapi 'kan umurnya udah 3 tahun. 
sekarang sam belum genap 3 bulan... huhuhu. bisa dibilang bumy dulu beruntung karena 3 tahun pertama hidupnya diasuh sama nyokap gue atau omanya. dan gue juga beruntung karena bebas dari kekhawatiran, bisa menitipkan bumy di tangan orang yang paling gue percaya. 
untuk sam sekarang, gue dan adit udah pertimbangkan kayaknya untuk saat ini daycare yang sesuai. bukan paling sesuai, no no, karena 'kan kayak tadi gue bilang, jangan jumawa duluu. pertimbangannya adalah karena gue nggak harus ngantor full time, selain itu rumah kita juga nggak pantes buat diisi 2 orang asisten nginep (let's say yang satu khusus ngurus bayi). 

kontranya? ada banget. dan ini yang bikin gue kebat-kebit khawatir. 
ada yang bilang kondisi dititipin di daycare secara nggak rutin bisa mengganggu kondisi psikologis anak. gue sendiri pernah baca sih kalau anak emang sebaiknya mendapatkan pengasuhan dari orang yang sama di 2 tahun pertama hidupnya. 
gue juga khawatir nanti sam "menderita" di daycare.. karena di rumah dia bisa nenen anytime dan dengan pose apapun yang dia pengen. sementara di daycare... ya pakai botol. gue takut inilah itulah aduuuh banyaak banget. 
nggak tega, ya jelas. abisan kok masih kicil banget ini anak, tapi udah harus dititipin di luar rumah.. huhuhu. 

apapun pilihan pasti ada risikonya, sih. 
kondisi kayak gini pun bikin gue "mentok", bukan berarti jadi nggak ambil opsi manapun, tapi jadi mentok untuk serahin semuanya ke Allah aja. 
there's only so much I can do!!
udah usaha nyari daycare yang cocok... udah survey sekian kali... hhh... nggak ada jaminan apapun untuk fisik dan mentalnya sam, tapi ya emang idup di dunia kaya gitu ya kan ;(

sampai lalu gue nemuin kata-kata yang diposting sama bu Inca Restu salah seorang fasilitator tafakuran di akun IGnya. duh kok pas banget sama kebat-kebit di hati ini. 


Hati membaca kebenaran yang tersirat; bahwa anak adalah "titipan"-Nya.
Apa yang dititipkan-Nya? Jiwa anak!
Karena anak adalah "titipan"-Nya, terserah DIA mau menitipkan anak yang seperti apa.
Pernahkah bertanya untuk apa Allah menitipkan jiwa anak?
DIA menitipkan jiwa anak untuk DIBINA bukan DIBINASAKAN.
Anak memang lemah, tapi backing-Nya Maha Kuat.
DIA menitipkan jiwa anak untuk di"isi" dengan persepsi2 Qur'ani.
DIA MENITIPKAN JIWA ANAK UNTUK DIBINA, TAPI KITA TIDAK DISURUH SAMPAI BERHASIL!
Karena sampai kiamat, Al-Qur'an tidak akan berubah; ANAK ADALAH COBAAN.
Al-Qur'an menginformasikan bahwa kemampuan kita hanya menyampaikan, kita tidak diberi kemampuan mencerahkan anak. JANGANLAH PUNYA KEINGINAN MELEBIHI KEMAMPUAN. 

hiks... menusuk ke relung sanubari. 
semoga kesadaran ini meresap dan bisa gue praktekin. 
indeed, hasil itu bukan wilayah kita, sama sekaliiii. hasil itu urusan Allah. gue mah cuma bisa berusaha... ikhtiar maksimal bukanlah supaya hasil sesuai sama keinginan gue, tapi ikhtiar maksimal adalah jalanin apapun hasil yang dikasih Allah.... T___T   

jadi, apakah pertanyaan gue di atas masih perlu dijawab? atau emang itu sebuah pernyataan seperti judul yang gue taro? 
the kids are alright. "backing-Nya Maha Kuat." serahkan mereka sama yang menciptakan, and they will be, alright. 


16/03/2017

vapour trail

life is not so bad. it hasn't been thus far.

I tried waxing for the first time. legs only, though, it's a safe rookie move.

I did (and still've been doing) yoga and zumba at the office. 

but I've missed walking all by myself in the afternoon... heck I've even missed sunsets. 

literary-wise, I've been trying to finish reading "raden mandasia" and marie kondo's book and a book titled "emotional intelligence" - so yeah, I've reached the age where self-help genre doesn't sound like bullsh*t anymore.

I've been meeting and knowing and connecting with new interesting people.. most are younger than me, they put "mbak" in front of my name but it doesn't really matter, not to me at least.  

I met and talked and reconnected with old, beloved friends of mine. kiti and elmo. wawan. edo and other weich's "bear" friends. girls from citi. aside from talking about and romanticizing the past, the conversation also revealed some newfound "facts" and perspectives. it's kind of strange how you thought when you'd known a person for a long time, nothing would be so surprising.. it's like when you've walked through a familiar route for years, you don't anticipate different turns or detours. but sometimes, even with familiar faces and the usual interaction, you'll gain unexpected insights and perhaps learn something new about yourself. 

I've had some short getaways I haven't got time to "report" about here.. belitung, surabaya, bandung, tegal, cirebon, to name a few. those trips were short and tiring, but also refreshing and memorable. 

for instance, I remember that feeling I found when I visited Belitung.
one of the activities we sort of awaited for was island-hopping. well, being not-a-beach person that I am, suffice to say I was giddy and scared from the first moment we stepped onto the sand.
what are the odds, on our way to Lengkuas island, the weather suddenly worsened. and then the rain poured.. the wind blew hard... and o boy didn't the boat ROCK.. I was panicked.. but not really, because my mind was focused more on keeping Bumy and Abhi calm. Bumy even started to get a bit seasick. Abhi just closed his eyes we thought he fainted. 
but alhamdulillah, we managed to sail safely... as I looked back to the trip, I felt.. strange... a mixture of relief, victory, and delight. maybe I could call it being "happy" - for I've done something I've always been scared of. the journey wasn't perfect.. tapi untuk bikin bahagia mungkin emang diperluin ketidaksempurnaan dan ujian-ujian. 


*****

the longer I've lived, the more I realize how true these words are..
"you are what you love, not what loves you." - from the movie "Adaptation."
I am shaped and built by the things I love.. things that make me feel alive. things I'm willing to sacrifice for. 
it's what really matters: the things that uniquely gives meaning to my life. those things might be futile and insignificant for other people, but to me, they're fundamental. 
whether or not those "things" love me back doesn't define who I am. 

it just crossed my mind in a flash, on a hot afternoon at Grand Lucky SCBD's parking lot.. the realization that I've lost the sense of who I am and how I've lost "love." maybe it's love for the life God has bestowed upon me, or love for things that make me passionate, or maybe both... 
and I think I've been mistakenly trying to find it in hopeless places... by settling in a job I don't like, and oppressing my heart's calling, and steering away from God's path... 
my source of LOVE, it never leaves, it has always been within me all along. waiting to be nurtured and rekindled and refined. 

I am what I love. 
it's the things that I like, the things (people, activities, choices) that spark joy inside me. 
so let them lead.. let love guide me to the "track" of self-growth and blessing...


"some psychologists classify every emotion as either love (attraction) or fear (aversion). it's not unusual for humans to base almost every decision on fear: fear of rejection, fear of poverty, fear of looking dumb, and so on. but.. I've seen that fear-based decisions lead to hollow victories at best, endless regret at worst.
only love-based decisions create lasting happiness." 
(Martha Beck)





at a place called "happiness" :D 
at hanamasa... remembering and honouring Weich <3

<3<3<3

26/05/2016

thursday playlist: travelling north

so I'm starting out this new "series" for my blog, which is a playlist series. 
this is where I document a chain of songs that captures the way I'm feeling throughout the week. 

and for a start, I made this one called "travelling north." 
what the heck is it intended for?

masih berhubungan dengan blogpost gue di minggu ini, yang berjudul "on loving." di situ gue ngebahas soal konsep mencintai diri sendiri - more or less. I wrote something like, 
"..kalo memang passion gue itu hal yang membuat gue bahagia/fulfilled/feel whole, maka gue harus terus mengejarnya, mencari-cari alasan untuk 'bertemu' dengannya, dan mencurahkan energi untuk bisa 'bersama'nya. 
just like when you're in love."

and this is what the playlist all about. 
tentang jatuh cinta, pada sesuatu yang MUNGKIN nggak akan pernah bisa lo rasakan untuk miliki. tentang gimana perasaan yang kuat itu terus menarik lo, sehingga mau nggak mau lo mengambil risiko juga untuk "berjudi." 
even though you might end up broken and beaten down, but you just have to take the chance anyways. because you just can't fight the feeling. that longing to something that pulls your heart the hardest. that one thing that never fails to excite you. that passion. 

a wise man once said passion adalah sesuatu yang we enjoy the most, sekaligus sesuatu yang sifatnya "must" buat kita. 
"Must is who we are, what we believe, and what we do when we are alone with our truest, most authentic self. It's that which calls to us most deeply. It's our convictions, our passions, our deepest held urges and desires - unavoidable, undeniable, and inexplicable.To choose Must is to say yes to hard work and constant effort, to say yes to a journey without a road map or guarantees, and in so doing, to say yes to what Joseph Campbell called 'the experience of being alive, so that our life experiences on the purely physical plane will have resonance within our innermost being and reality, so that we actually feel the rapture of being alive.'Choosing Must is the greatest thing we can do with our lives."
(from the book "The Crossroads of Should and Must")
the words "travelling north" are uttered in Vashti Bunyan's "Train Song."
bagi gue, lirik lagu itu berbicara tentang mencari sesuatu yang udah lama hilang. elo tau apa yang lo cari, tapi nggak tau harus ke mana supaya ketemu. so you travel north to find it... lo nggak tau apa yang akan terjadi ketika lo akhirnya bisa bertemu sama dia/hal tsb ("don't even know what I'll find when I get to you"), but you know for sure that you will finally be where you truly belong. *sigh*

but as we all know, the journey to attain something we desire is often not a smooth one. you will feel endless doubts. you'll question yourself so many times you'd lose your mind. 
you'll get lost. you'll be afraid to even possess the faintest sight of hope. 
so you'll try to relent that desire. you'll even try to turn back and change your course... you'll try to say goodbye. you'll struggle to stop wanting, but fail. until one day you just don't care "if the feeling goes both ways," and start the search all over again. 

and so it's all rendered in these following songs:
1. Oh Nadine (You were in My Dreams) - Willow Smith
2. The Circle Married the Line - Feist
3. Your Type - Carly Rae Jepsen
4. Kiss It Better - Rihanna
5. Lost in You - Ash
6. Goodbye to Love - The Carpenters
7. Feels Like We Only Go Backwards - Tame Impala
8. Do I Wanna Know? - Arctic Monkey
9. Train Song - Ben Gibbard & Feist


04/01/2016

what's in a year?

gambar dari sini
this is 9 pm on a saturday night. and where am I right now?
di kasur aja, cyiin, sementara bumy dan bapake sudah terlelap. tumben yah kita 'disiplin' banget di malam libur, udah kayak malam hari kerja aja. maklumlah, 'kan lagi long weekend. oh yes, libur natal ini empat hari aja gituu... dari kemarin kita udah jalan-jalan random seharian, begadang, dan bangun siang. bisa dibilang udah cukup kenyang bergaya hidup 'hedon' selama beberapa hari ini, hihihi. tapi hari ini, kayaknya badan mulai tepar, jadi dari jam 8 udah mulai merapat ke kasur. bumy dan bapaknya sih yang begitu. gue masih anteng di ruang tamu, sembari blogwalking, buka socmed, dan sejenak nonton "Annie Hall" yang kebetulan diputar di AMC. 

karena nyebut socmed, gue jadi keinget kalau banyak orang yang lagi menghabiskan long weekend ini dengan berlibur entah ke luar kota atau luar negri. kita mah di sini-sini aja. menikmati jakarta yang lengang, hahaha dalih standar ini. to be honest kalau 'amunisi'nya ada, ya tentunya pengen liburan jugalah. tapi, lagi-lagi diliat dari postingan socmed orang-orang, tempat wisata malah justru penuh. iya, mulai dari yang di bandung sampai di los angeles, keluhannya sama: tempat wisata penuh sesak, dan jalanan dari-menuju tempat wisata macet. jadi kayaknya kalaupun next time punya amunisi, mending dipake buat plesir saat low season, deh. lagian, suasana kantor di mana banyak yang lagi cuti gini justru enak buat dinikmati *kedip-kedip licik* hehehe. 

saat ini sebenernya gue lagi nggak punya topik khusus buat 'dibahas' di blog. well, I guess you could tell blog gue ini memang tempat ngelantur yang cenderung tidak informatif - no sarcasm or irony intended, really. this blog is just a place where I could feel connected with myself. 

what should I talk about? since we're getting closer to new year, how about making somekinda review of how this year has been? 
it doesn't have to be on chronological order, but at least I could have something to reflect upon. let's start it with..
- about school choice 
ini salah satu sumber dilema/kepusingan terbesar gue dan adit tahun ini. meskipun pilihannya hanya antara 2: a "new" school or the incumbent - tapi kita maju-mundur terus dalam proses membuat keputusan. 
sejujurnya sih, kita nggak merasa 100% sreg saat membuat pilihan, karena we sort of waited for something to happen. a 'sign' yang bisa melonjakkan rasa sreg kita hingga full 100%. well, that 'sign' never did come. sampai lalu deadline memilih akhirnya hadir dan kita terpaksa membuat pilihan. kalau dipikir ulang sekarang, rasanya sombong banget deh pemikiran kita itu. kenapa merasa berhak diberikan pertanda, dorongan, atau apalah sebutannya. bukankah kita justru seharusnya melakukan 'porsi' tindakan kita sebaik-baiknya, yaitu mencari tahu, menghitung risiko, menemukan solusi, dan lain-lain yang kendalinya memang kita miliki? bukannya dengan songong meminta keajaiban supaya tau-tau bisa mampu beli apartemen deket calon SD bumy kelak.. hahaha. 
jadi berarti keputusan diambil dengan agak gambling, dong? yaa bisa dibilang begitu xD 
kalau dibilang mencari yang terbaik, bisa dibilang "terbaik" itu ya yang paling sesuai dengan kebutuhan kita. kita butuh bumy diberi asupan ilmu bukan cuma duniawi tapi juga bekal buat ke akhirat. kita butuh bumy bisa nentuin cara belajar, apa yang mau dia pelajari, dengan "kecepatan"nya sendiri, sehingga dia bisa 'mandiri' dalam berpikir. by choosing this one school, bismillah semoga jalan kita dimudahkan untuk memenuhi (kebutuhan) pendidikan bumy ini.



- tahun ini, gue juga dapat wake up call dalam hal kesehatan. ternyata, gaya hidup yang selama ini dijalani berdampak merugikan buat tubuh sendiri - terbukti, kadar kolesterol (jahat) gue dan adit tinggi, kak! kita emang naif (dan terlalu pede) sih kalo dipikir-pikir, hihihi... makan berlemak-berminyak-penuh gula semaunya, di rumah hobinya jadi couch potato, udah gitu keturunan darah tinggi+diabetes pula dari kedua sisi. jadi ya kita mulai bebenah soal ini. umur emang di tangan Allah, tapi ikhtiar itu wajib, dan merusak diri juga 'kan berdosa. kecuekan kita sama badan sendiri selama ini bisa dibilang 'usaha' merusak diri pelan-pelan in a way. sebelumnya, gue udah lumayan bertekad kuat merombak gaya hidup. menu makan sehari-hari disusun sehingga banyak sayur dan buahnya, goreng-gorengan dikurangi sampe beli phillips airfryer segala, trus olahraga jadi menu wajib sehari-hari. tapi tau-tau... gue dipanggil kerja full-time lagi! valid banget kata-kata yang bilang "setiap perubahan pasti akan dihadapkan pada tantangan." tekad yang udah bulat tadi langsung terhadang kendala waktu dan rutinitas baru. pelan tapi pasti, kita berusaha get around it, sih... road block bukan berarti bikin kita langsung berhenti sama sekali, 'kan. the only problem is, as always, consistency. concern sama kesehatan ini ya harusnya dijadiin habit, gaya hidup. semogaaa kalo bisa konsisten, kita bisa dapet bonus lingkar perut bisa mengecil, bisa crow pose, dan tuntas lari 5 km. aheey.  

- tahun ini juga jadi momen perubahan status gue: from SAHM, back to a WM once again
even though I've been missing bisa jemput bumy tiap hari, bisa bobok siang bareng, les yamaha di hari kerja, dst dsb, but I am thankful for the opportunity to work again. I said it then and I'll say it again: to have a choice is a  privilege! so hopefully I can be a better person by having this 'new' role. 

- a new skincare routine here. nggak banyak wishlist dulu, deh, mau rajin dan rutin aja dalam nerapin rutin ini. 

- new "projects" with fellow blogger/inspiring moms here, and project kalbu with Kiti here. kedua "project" ini bener-bener sarana katarsis sekaligus penyemangat dalam mewujudkan passion gue. alhamdulillah :)

- and 2015 is also very special karena di tahun inilah gue mengenal majelis tafakur.  
gue merasa, hal-hal yang disampaikan di majelis bener-bener apa yang selama ini gue butuhkan. gue diajarkan mengenai tauhid from stratch. setelah dijalani hampir 10 bulan ini, makin terasa kalau ilmu agama yang gue terima sebelum kenal tafakur tuh normatif banget, dan nggak menanamkan motivasi intrinsik untuk menjadi insan/muslimah yang lebih baik. di sini gue dikenalkan tentang konsep 'baru' tentang iman, tentang keyakinan ilahiyah. berhubung sepanjang hidup gue belajar tentang agama islam lewat cara pandang dan pemaparan yang melibatkan otak aja, jadi tantangan terbesar setelah bertafakur (di mana kalbu yang diisi dan diasah) adalah bagaimana mencabut keyakinan yang sudah ada di diri sejak kecil. 
intinya, kalau gue bisa meringkas kalimat untuk mereview kesan gue terhadap majelis ini, yang bisa gue bilang hanyalah: thank you for the disillusionment

kesimpulannya, there's a lot to be thankful for this year. meskipun sempat rada depresi, alhamdulillah bisa jalan-jalan, alhamdulillah kita semua sehat-sehat, alhamdulillah bisa menikmati banyak momen kebersamaan dengan keluarga. 
oh ya terkait parenting, gue sempat ikut beberapa seminar di tahun 2015. seru, membuka mata, dan ngasih banyak ilmu. tapi kalaupun bisa membuat resolusi, sepertinya gini:
- terkait parenting, I want to apply more verbs instead of putting on adjectives, to-do lists, atau nambah ilmu. not that it's bad. tapi gue pengen bisa mewujudkan hal-hal yang selama ini cuma gue pelajari, baca, atau angan-angankan doang. pengen bisa bacain buku cerita buat bumy tiap malem. pengen bisa SABAR (wishlist semua orangtua nih kayaknya - dan sebenernya ini udah dikabulkan loh, karena 'kan dikasih Allah media latihannya setiap hari hehe). pengen disiplin menjauhkan gadget kalau lagi bersama anak. pengen bener-bener dilakuin, deeehh pokonya. 

- buat hal-hal duniawi, antara lain seperti yang dicantumkan di bawah ini


hehe.. but the bottomline is, I hope this will be a great year; meaning I will be "great" in everything I come across. 
happy new year, y'all!

28/09/2015

this week's lesson

hi there, life. what have i learned about you lately?

i think you're teaching me about letting go.

first of all, gue sedang belajar melepas nyamannya rutinitas jadi ibu rumah tangga. yang selama anak sekolah bisa ngopi cantik sambil ketak-ketik (hehe). melepas kenyamanan bisa konek sama diri sendiri, dan kebebasan mengatur jadwal sesuka hati. i do terribly miss it at times. even though i could remember clearly how lonely i used to feel.

lalu yang kedua, gue belajar 'melepas' kiti untuk kembali ke inggris. to me, this was tougher than it looked like from the outside.


tentunya gue senenglah dia bisa meraih cita-citanya untuk lanjutin sekolah lagi, untuk hidup dan berkiprah lagi di inggris. it goes without saying that kalau dia seneng, gue juga akan seneng. tapi, di sisi lain, gue tau gue akan sangat kehilangan dia.
hampir setahun belakangan ini gue tersadarkan, kalau kiti bagi gue itu lebih dari sekadar teman atau sahabat. she's like my sister from a different mother. entah gimana hidup perlahan-lahan menyaring keberadaan orang-orang di sekitar gue. and she's one of the (very) few that's left. gue merasakan banget gimana kita bertumbuh bersama, dan alhamdulillah, ke arah yang sama. dia mengisi kekosongan di hati gue dengan sesuatu yang bukan cuma gue butuhin, tapi juga 'baik' buat gue. she fills my soul by 'teaching' me how to be a better person. dia juga menjelma jadi sosok yang "satu frekuensi" dengan gue. i feel stronger and more whole by our connection. tapi, gue juga sadar kalau dalam hidup ini kita perlu mandiri. bukan cuma secara fisik, keuangan, atau mental, tapi kalbu gue juga harus mandiri, dengan bersandar hanya kepada Allah.
jadi, sekarang ini gue sedang belajar, untuk meyakini kalau keberangkatan kiti kembali ke inggris pasti akan membawa lebih banyak kebaikan untuk dia, dan juga untuk gue.

yang ketiga, it's about my grandma. thankfully she's still alive. dua minggu lalu dia singgah ke tangerang bersama keluarga tante gue dari bengkulu. tante gue cerita kalau sejak tiga bulan belakangan ini beliau mulai pikun. usianya udah 78 tahun, so it's understandable. and it's bound to happen anyway, right? but it's hard for me to see her in this condition. matanya blank, dan dia bener-bener terlihat seperti anak-anak lagi. sosok wajahnya polos; nggak ada secorak beban kehidupan, rasa takut, atau kekhawatiran. she just seems... living in the present. and that's supposed to be... good, i assume?
but it feels like such a loss to me. kehilangan sosok nenek yang sangat pintar, yang mengajarkan gue banyak hal sedari kecil. sahabat pena gue. teman jalan-jalan gue. dan gue merasa sangaaaaat menyesal nggak memanfaatkan waktu sebelum tiga bulan lalu itu just to have a chat with her. before her old self went away for good....

dipikir-pikir, life should be easier that way - when we could finally let go.
masih banyak hal-hal lain yang perlu gue 'lepas.' entah karena masih bikin penasaran, bikin susah move on, atau bikin sakit hati.
number one on my (long) list, is definitely letting go of high school. someone once said to me that "high school never ends." bukan cuma kenangannya, tapi juga imaji yang melekat di dirilo dan orang-orang yang lo kenal saat itu, seolah abadi. i used to define myself with the kind of girl i was in high school. that way, i become my unfulfilled wishes, the boys i never got to date, the achievements i never made, and the kind of beauty, look or whatever that i never lived up to. i need to stop defining myself from those that i cannot change. because that chapter should've ended long ago.




jadi, yah, mungkin ini salah satu cara #realitycheck. living in the present by focusing on and appreciating what's in our lives now.
at this moment alone, i have an abundance of things to be grateful for. (aside from health, family, faith, and fulfillment of basic needs), i'm glad to have the chance to do something i love; the chance to learn a thing or two from life, death, and faith.. 

also the chance to feel, to grieve for, and, hopefully, finally to accept loss....

One Art

By Elizabeth Bishop

The art of losing isn’t hard to master;
so many things seem filled with the intent
to be lost that their loss is no disaster.

Lose something every day. Accept the fluster
of lost door keys, the hour badly spent.
The art of losing isn’t hard to master.

Then practice losing farther, losing faster:
places, and names, and where it was you meant
to travel. None of these will bring disaster.

I lost my mother’s watch. And look! my last, or
next-to-last, of three loved houses went.
The art of losing isn’t hard to master.

I lost two cities, lovely ones. And, vaster,
some realms I owned, two rivers, a continent.
I miss them, but it wasn’t a disaster.

—Even losing you (the joking voice, a gesture
I love) I shan’t have lied. It’s evident
the art of losing’s not too hard to master
though it may look like (Write it!) like disaster.


27/08/2015

#backtowork

Finally! Setelah 3 minggu kembali ngantor, akhirnya gue bisa ngupdate blog lagii. 

Ngantor??
Iya, seperti judul, eke back to work, buu. Full time. 8 to 5 (say "amen" to this?). 
Emang tiba-tiba banget, sih. 
Jumat siang gue lagi nyetir abis jemput Bumy dari sekolah, tiba-tiba ditelpon sama orang HR tlkm. Gue disuruh dateng ke kantor gatsu hari senin jam 9-10. Phonecall kayak begini emang udah gue tunggu-tunggu, karena status kepegawaian gue gantung sejak bulan Mei. CLTP gue udah nggak bisa diperpanjang, jadi rencana awal mau ambil cuti selama 3 tahun (jatah maksimal) terpaksa berubah. 
Mau sontak ngajuin resign kok rasanya nggak enak... seolah membuang begitu saja kesempatan untuk jadi pekerja lagi. Belum siap mental gitu judulnya. Jadi gue ajuin permohonan untuk kembali bekerja. 
Strategi ini terasa paling tepat - setelah didiskusiin sama Adit - jadi gue bisa melihat dulu penempatan gue di mana. Kalo emang nggak cucok sama kondisi kita sekarang, barulah gue babay beneran. Tapii, jawaban dari permohonan kembali bekerja ini nggak dateng-dateng selama 3 bulan itu. 

Kondisi hati sih sebenernya masih gamang... 
Masih belum sreg untuk balik ke industri dan lingkungan 'lama.'
Sementara di dunia freelancing tulis-menulis dan translating juga belum punya resume yang mumpuni. Sempat berniat nyobain kerja full-time di dunia kreatif, tapi hati belum kokoh untuk ninggalin anak seharian. Gitu-gitu deh, dilemanya. 

Tapi emang, kalau Allah udah bilang "it's time," then it's time! Nggak bisa di-delay barang sedetik pun!
Pas ngadep ke HR, tau-tau gue disuruh jadi karyawan lagi. Dan kapan harus mulai kerjanya? Ya sesegera mungkin! 
Gue ditempatin di kantor Gatsu (takjub ey, karena emang cuma kantor ini yang cocok sama kondisi kita sekarang), dan hari itu juga dibawa sama orang HR ke ruangan kerja buat dikenalin sama bos-bosnya. 
Terdilo-dilo banget... 
Jujur aja, gue kira dateng buat disuruh resign. Nggak ada persiapan buat kerja lagi, samsek! 
Yaudah, kelar urusan di tlkm, gue (dan Adit) buru-buru nelponin beberapa kandidat daycare. Siang sampe sorenya kita survey ke 2 lokasi daycare. Trus langsung nge-hire abang ojek langganan Adit untuk jemput Bumy dari sekolah. Trus minta ijin buat markir mobil di sekolah Bumy, dsb dst. Riweuh! Tapi alhamdulillah nemu aja jalan keluar, sih....

Dan sekarang, udah 3 minggu aja. 
Rutinitas gue bener-bener jungkir-balik. 
Padahal udah mulai rutin olahraga 3-4 kali seminggu. Udah berencana rutin "kencan keringet" sama konco kenthel si Weich. Udah mulai rutin masak makanan sendiri. 

Kini, kita ngekos demi memangkas waktu commuting. Olahraga juga so far baru sempet on weekend (digebeeer. Bukaan, bukan karena sok-sokan atletico kampreto, tapi ngeri sama hasil kolesterol). Masak? Cuti dulu dah, harharhar. 
Gue juga BELAJAR mengikhlaskan Bumy dipegang sama pihak ketiga selama gue bekerja; mulai dari sekolahnya, abang ojeknya, daycarenya. 
Learning how to trust... menitipkan nasib si anak ke tangan Sang Empunya Mahluk, Allah SWT, yang Maha Menjaga, Maha Kuat. Gue mah apa atuh... cuma manusia dengan keterbatasan tapi dikit-dikit parnoan dan maunya apa-apa sempurna. Ihik. 

Jadi, sekarang gue mulai dari nol lagi. 
Belajar beradaptasi sama kehidupan 'kantoran,' sama commuting (meski cuma 3,5 km sik. Tapi trafficnya booo), sama rutinitas baru, sama setan-setan di jiwa yang kerap muncul saat gue kelabakan menyeimbangkan waktu dan tenaga, sama semuanya, deh.

Di awal-awal, suka mellow inget betapa gue suka bobo siang berdua Bumy, trus sekarang tiba-tiba rutinitas itu terampas (kangen Bumynya apa tidur siangnya?!). Trus geli-geli miris denger Bumy suka kelepasan manggil gue "miss" (secara setiap harinya dia lebih lama bersama si miss daripada sama gue!). 
Suka gamang juga menghadapi budaya perusahaan yang masih nggak berubah sejak 2,5 tahun lalu, dan bertanya-tanya sendiri "Apa yang gue cari di sini?" 

Tapi... I choose to be brave. 
Emang, jalan di depan masih gelap. Meski kalo ditanya apa tujuan gue bekerja, gue bisa jawab kalo it's more than just money. Tapi kenapa gue kudu balik ke tlkm, itu belom bisa gue jawab sekarang. RencanaNya pasti baik. 
Kayak dibilang di majelis tafakur: kadang kita nggak nyaman sama perubahan, karena nggak bisa melihat apa potensi kebaikan yang dibawa sama perubahan itu. Mungkin ada potensi mengenal diri, memperbaiki diri, dan lainnya yang 'mata' kita belum bisa lihat. 

Pelan-pelan gue sadari... bagaimana pada Jumat pagi itu gue baru nerima kabar kalo kontrak kerjaan part-time gue diputus. Eeh, siangnya tau-tau ditelpon tlkm. Jadilah gue dibukakan pintu rejeki baru. 
Trus, di minggu yang sama gue baruu aja drafting review 2,5 tahun jadi SAHM; apa aja yang udah gue lakuin, lessons learned, bahkan gue bikin SWOT analysis terhadap diri sendiri hehe. Lalu gara-gara dengerin "Train Song"-nya Vashti Bunyan, kepikiran untuk hidup dengan mengikuti #passion, tinggal di Jogja/Bali....
Coba, deh, lirik di bawah ini dibayangin "you"-nya itu si #passion
"It's so many miles and so long since I've met you
Don't even know what I'll find when I get to you
But suddenly now I know where I belong
It's many hundred miles and it won't be long"

I want to be where I belong. Dan sama Allah, gue dibawa ke tlkm. Gimana, mau protes? Bukankah Dia yang Maha Mencukupkan?


06/08/2015

wants vs. needs

Beberapa waktu lalu, gue berpapasan dengan pesan yang bikin tergugu. It says, Allah pasti akan mencukupkan apapun yang kita butuhkan. Tapi untuk hal-hal yang kita inginkan, kita sendiri yang harus berupaya mendapatkannya. 


The first setence *IS* true, karena tertuang di Al-Qur'an kalau Allah pasti akan mencukupkan kebutuhan hamba-Nya. Dia 'kan Maha Mengetahui, Dia pasti tahu apa yang kita butuhkan. Tapi, yang bikin manusia sering merasa galau, gelisah atau bahkan kecewa, adalah karena kita kerap didera oleh keinginan-keinginan. Dan keinginan kita itu banyak banget. We want so much. Bahkan mungkin keinginan kita itu nggak ada batasnya; begitu satu hal terpenuhi, fokus kita langsung bergerak ke hal-hal lain yang belum terwujud. 
And so we strive to fulfill it. 

Padahal, apa-apa yang gue butuhkan, Allah udah cukupi. Tapi, kayak yang gue tulis tadi, keinginan yang bermacam-macam rupa itu bikin diri susah ngerasa 'tenang.' Wajar sih, karena belum semua (and I mean ALL, every single thing on our "checklist") yang kita inginkan itu terpenuhi. Kita jadi belum merasa fullfilled, dan efeknya, nggak ada perasaan content atau puas. Ini kali, ya, yang suka bikin susah bersyukur? 
Mewujudkan konsep bersyukur kalau cuma di bibir aja sih gampang. Mungkin tinggal pasang status "Alhamdulillah yaa, hari ini aku bisa lari 5 km, anak makannya abis, pembantu rajin banget... #blessed." 
Atau bersyukur di otak aja, dengan memikirkan "Apa, sih, yang gue nggak punya? Rumah ada, mobil bagus, kerjaan oke, bisa jalan-jalan ke sana ke mari. Duh, kebangetan deh, kalo gue nggak bersyukur." 
Tapi meRASAkan syukur, bener-bener merasa diperhatikan dan dicintai oleh Sang Pencipta dan karenanya, sampe nggak enak ati banget kalo nggak mewujudkan syukur dalam perbuatan - apa gue bisa sampe ke 'tahap' itu? 

Bukan berarti lantas kita harus mengeliminasi keinginan dari sanubari, sih. Ingin ini ingin itu 'kan manusiawi banget. tapi, semakin tua gini - dan semakin nggak nyaman didera perasaan susah puas - gue jadi tersadarkan kalo gue perlu fokus. Fokus sama apa yang jadi tujuan gue. 
Sudah beberapa bulan belakangan ini gue ikutan majelis tafakur, namanya Mutiara Tauhid. Berawal dari merasa jiwa gue kering-kerontang banget, nggak pernah disiram sama tausiyah dan ilmu agama. Akhirnya gue tanya ke Kiti perihal pengajian yang rutin dia ikuti sejak sekitar setahun terakhir. Alhamdulillah, ternyata gue cocok banget ikut pengajian di situ. Yang gue dapet bukan cuma tausiyah atau ilmu agama, tapi juga kesadaran! 
Salah satunya yang berkaitan dengan curhatan gue kali ini, gue disadarkan kalau keinginan yang banyak banget dan nggak ada abisnya itu tuh sebenernya keinginan "badan" atau fisik. Badan ini pengen jadi cantik, jadi sehat, jadi kaya, ganti mobil, kerjaan yang keren, daaan lain sebagainya. Tapi apa yang JIWA gue butuhkan? Jiwa, entitas yang akan tersisa setelah badan ini berhenti berfungsi. Jiwa, yang akan kembali pada Allah, yang akan terus 'hidup' setelah masanya di alam dunia habis. Apa sih yang penting buat jiwa gue?

Lagi-lagi lewat (dan berkat tafakur), gue diingetin kalau tujuan hidup manusia itu "cuma": Kebahagiaan di dunia dan di akhirat. 
Simpel? Apa malah rumit? 
Masalahnya, kita harus redefine dulu kebahagiaan itu apa. Sama atau nggak dengan kesenangan?
Mulai, deh, di sini dikupas... Ternyata, harta yang banyak, anak yang baik, suami yang setia, mertua yang sayang sama kita, pekerjaan yang keren, dan bahkan badan yang sehat, itu semua kesenangan semata. Hooh! Itu semua bukan definisi  kebahagiaan. 
Balik lagi ke Al-Qur'an, ternyata kebahagiaan itu adalah "Tidak adanya rasa gelisah, khawatir, atau sedih." 
Referensinya ayat ini:
(QS. Al-Baqarah, 38) "Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Hmm... kalau gitu, nampaknya gue perlu mengoreksi persepsi gue kalau melihat orang yang kaya, cantik, dan punya 'paket lengkap,' nope, nggak berarti orang itu (sudah) bahagia. Orang itu hidupnya enak, itu bener, karena hidupnya dipenuhi dengan kesenangan. 
Tapi kebahagiaan? Apakah orang itu udah selalu merasa tenang? Nggak pernah khawatir?
Justru seandainya gue melihat keluarga yang hidup seadanya tapi nggak pernah berantem, bisa menikmati apa yang ada di meja makan dengan penuh syukur dan senyum, mungkin mereka itulah yang hidupnya bahagia kalau mereka bisa merasa tenang, nggak stres, meskipun nggak kaya.  


Dari situ, gue semakin merasa perlu membedakan kebutuhan dan keinginan. Keinginan bagi gue lekat dengan kesenangan. Seperti gue tulis tadi, keinginan nggak ada abisnya, tak terbatas, dan we tend to want it all. Karena faktor penentu kesenangan adanya di "luar" diri kita, ditentukan sama hal-hal yang nggak bisa kita kontrol - kekayaan, kesehatan, anak, suami/istri, mertua, pekerjaan, dst. Sementara kebahagiaan itu letaknya di "dalam."
Lebih lanjut gue sadari, berkat berkaca dari pengalaman; dari materi tafakur yang mengacu ke Al-Qur'an dan hadits; juga dari blog seputar minimalism yang akhir-akhir ini gue gandrungi, punya banyak barang atau punya banyak ilmu itu nggak menjamin kebahagiaan. Not at all.
Kita harus membedakan hal-hal mana yang emang kita butuhkan. And the truth is, we don't need a lot. Iya, kita butuh kesehatan. Iya, kita butuh hidup berkecukupan. Tapi apa artinya kalo saat kita tiba-tiba sakit, atau tiba-tiba harta kita terenggut, kebahagiaan kita langsung terampas?  

Kembali ke premis awal tentang "Allah pasti akan mencukupkan apapun yang kita butuhkan. Tapi untuk hal-hal yang kita inginkan, kita sendiri yang harus berupaya mendapatkannya." Gue yakin ketentuan dariNya pasti yang terbaik, makanya apa-apa yang kita 'miliki' sekarang pasti ada for a reason. Rasa malas berolahraga, rasa serakah, rasa nggak pernah puas, nggak bisa manajemen waktu, nggak sabar, dan lain-lain, semuanya kita (ups, gue) miliki untuk sebuah alasan. Kalau kita (iya, gue!) ingin rajin olahraga, murah hati, hobi bersyukur, bisa ngatur waktu dengan baik, jadi penyabar, ya gue sendiri yang harus mengusahakannya.  
After all, gue yakin Allah mencintai proses, no matter how messy or erratic that process is. 

Meski tulisan gue ini terkesan sok alim dan sok bijak pangkat seribu, tapi yakinlah bahwa ini murni kontemplasi semata. Gue cuma pengen sharing tentang perjalanan jiwa yang masih hobi galau, khawatir, dan ketakutan ini. Jiwa yang belum bahagia. Gue masih punya sederet wishlist yang semuanya duniawi banget. Gue masih gampang 'ngamuk' dan 'terampas.' Kata-kata yang gue tuangkan di sini juga yah, sekadar kata-kata, hasil dari isi pikiran gue, bukannya perilaku nyata. But this thought is a part of my journey. 

Dan di titik perjalanan ini, gue menyadari kalau yang gue butuhkan adalah
1. Bisa membedakan keinginan dan kebutuhan
2. Bisa membedakan kesenangan dan kebahagiaan 
3. Fokus sama tujuan 

Well, I guess with this, gerakan Kawal Kalbu is officially started? Hehe.. lagi-lagi ini cuma usaha untuk bisa lebih 'bahagia.' 
Bismillah.