19/02/2013

the burning question



Anak saya kini berusia 3,5 tahun. Tiba-tiba, saya dikagetkan bukan hanya oleh semakin banyak celoteh dan tingkahnya, tapi juga oleh celetukan orang-orang di sekitar saya, “Kapan Bumy punya adik?”
Uh-oh.
Saya akui pertanyaan itu kerap membuat saya tidak nyaman, bahkan kadang tersudut (tergantung seberapa kepo yang menanyakan). Memang saya bisa menjawabnya dengan sepintas lalu, tapi ketidaknyamanan yang saya rasakan ini membuat saya ingin menggali apa yang ‘mengganjal’ di diri saya (sekaligus curhat, hehe).
Sejak awal menikah, saya dan suami punya semacam kesepakatan tidak tertulis bahwa “Satu anak saja cukup, kok.” Yang mendasari pemikiran kami saat itu adalah kami merasa tidak mampu mencintai anak (pertama) kami sebesar anak-anak lainnya nanti. Romantis sekali, ya? :))
Kami menikah selama hampir 1,5 tahun sebelum akhirnya saya dipercayai untuk hamil. Usaha saya untuk hamil didahului dengan konsultasi ke dokter kandungan spesialis fertilitas. Saya didiagnosis mengidap PCOS dan harus mengikuti terapi pengobatan agar bisa hamil. Syukurlah tak lama setelah melakukan terapi, saya berhasil hamil. Tapi saya tetap harus mengonsumsi obat hingga usia kandungan mencapai 4 bulan.
Saat itu, saya merasa minum obat sebagai usaha yang cukup berat. Karena didera mual-mual, makan saja sulit, apalagi ditambahi kewajiban mengonsumi obat yang harus saya kunyah karena saya tidak bisa menelan kapsul.
Pada usia kehamilan 38 minggu, saya melahirkan secara caesar. Saat berada di meja operasi, saya sempat terserang panic attack karena merasa dada saya sesak (yang ternyata wajar akibat anastesi  tulang belakang). Ini mengakibatkan tekanan darah saya naik dan meracau karena ketakutan :(
Saya akui saya cukup trauma atas kejadian di ruang operasi itu, dan hal itu membuat saya berpikir dua kali untuk melahirkan secara caesar lagi.
Pasca kelahiran, saya menghadapi drama menyusui (yang untungnya tidak berlarut-larut), kolik, dan konflik seputar pengasuhan anak dengan ibu saya sendiri. Saat itu saya memang masih tinggal di rumah orangtua. Mungkin saat itu saya didera baby blues juga ya, jadi perasaan kesal akibat konflik (yang kalau diingat-ingat sekarang sesungguhnya sepele) dengan ibu membuat saya merasa semakin tidak berdaya.
Ketika anak saya berusia 2 bulan, saya terserang demam selama 2 minggu diikuti batuk-batuk. Karena khawatir salah minum obat (saat itu saya masih memberi ASI ekslusif), saya konsultasi ke dokter spesialis penyakit dalam. Saya kaget ketika dokter memvonis saya menderita penyakit pernapasan yang menular. Dunia saya seolah runtuh…. Saya harus minum obat yang sebagian besar antibiotik selama paling tidak 6 bulan, padahal saya masih menyusui. Saya mencoba berkonsultasi pada dokter yang berbeda, dan syukurlah dokter itu ternyata jauh lebih atentif dan, yang terutama, empatik. Beliau menjelaskan panjang-lebar tentang penyakit yang saya derita, dan mengatakan bahwa obat-obatan yang saya minum tidak berpengaruh pada ASI. Beliau juga membesarkan hati saya dengan mengatakan bahwa penyakit ini curable, asal disiplin minum obat.
Tapi badai memang pasti berlalu. Saat anak berusia 3 bulan, kami berjodoh dengan sebuah rumah. Di rumah sendiri, saya merasa punya kontrol atas pilihan dan cara saya mengasuh anak, dan ini menjadikan saya lebih rileks menjalani parenting. Sementara dalam hal kesehatan, setelah melalui 6 bulan pengobatan, saya dinyatakan sembuh.
Saat pelan-pelan mengingat ini semua, saya menjadi paham kenapa saya begitu enggan untuk ‘mengulangi’ seluruh tahapan tadi jika punya anak lagi.
Meskipun saya sadar bahwa kesulitan yang saya hadapi pada saat punya newborn kemarin juga dialami banyak ibu lain. Bahkan, pasti ada yang masalahnya jauh lebih berat ketimbang saya.
I just think I’m not emotionally ready for another child.
Mungkin saat ini saya masih berada dalam tahap “pemulihan”-bukan dari segi fisik, tapi jiwa. Saat melihat anak saya tumbuh dengan sehat dan cemerlang, saya bersyukur kondisi saya yang tidak prima saat menyusuinya dahulu tidak mempengaruhinya. Saat saya melihat rumah mungil kami pelan-pelan terisi dan semakin terasa sebagai ‘rumah’ untuk hati kami, saya bersyukur bisa memberikan tempat tinggal yang nyaman untuk anak saya.
Saya sedang menunggu dan menyaksikan satu demi satu kekhawatiran lama saya tumbang.

The “bulky,” smile-y, 6-month-old baby.

Tapi, semakin lama berpikir, saya malah dihinggapi segudang kekhawatiran baru: jika kami menambah anak, bagaimana dana pendidikannya? Bagaimana saya membagi waktu sebagai ibu bekerja dengan DUA anak kelak? Apakah saya bisa menjadi ibu yang adil?
Tapi saya juga khawatir apakah anak saya akan ‘baik-baik saja’ jika menjadi anak tunggal? Will we make our child miss anything ‘important’ by not giving him any sibling?
Di tengah badai pemikiran ini, saya memilih untuk berpegang pada 2 hal utama, yaitu:
1. Kesepakatan saya dan suami.
Saya selalu berusaha mengkomunikasikan pertimbangan saya kepada suami. Baik dari segi finansial, maupun kesiapan kami secara emosional untuk menjadi orangtua dengan dua anak.
Dari situ, kami mencoba menyelaraskan pandangan apakah SAAT INI kami sudah siap menambah anak atau belum. Sejauh ini keputusannya sih belum :D
2. Apa yang dikatakan hati saya.
Meskipun saya sadar ada banyak orang dengan perjuangan lebih tough dalam usaha memiliki atau membesarkan anak, namun saya ingin keputusan saya didorong oleh hasil mengukur diri secara objektif, bukan karena dorongan emosi atau sosial saja.
Saya teringat potongan dialog dari film The Back Up Plan (2010) yang menurut saya menggambarkan dengan tepat (dan kocak) seperti apa rasanya memiliki anak:
Stan: “What’s it like, the whole kid thing?”
Playground Dad: “The best way I can describe it is, it’s awful awful awful awful, and then, something incredible happen, and then awful awful awful awful awful awful and then something incredible happens again. It’s like this all day every day. I feel like I’m drowning, like I’m gasping to get my old life back. And then, a small moment happens that’s perfect, that’s so magical, so life-affirming that makes it all worth while. “

The less-chubby, (still) smile-y, 3-and-a-half-year-old baby.

Memiliki, atau menambah anak, jelas is not for the ones who don’t have the guts :)
Yang jelas, apapun keputusan Mommies, it’s all yours, and make it yours! Mau punya satu anak saja, atau keluarga besar, atau bahkan a childless marriage, you’re the one who’s gonna be in ‘the game’ 24/7, and everything will come back at you in the end. So, are you ready for a child, or two? Please do share your thoughts about this. :)
*thumbnail dari sini

12/02/2013

special in my heart

lokasi: di grand lucky.
B: "itu apa ma?" (nunjuk wall sticker)
R: "wall sticker."
B: "mau!"
R: "buat apa? lagian mau ditempel di mana?"
B: "di dindinglah!"
-_________-

lokasi: kamar tidur gue & adit.
R: "mi, nanti bumy tidur sendiri di kamar bumy ya. kalau mau pipis, bumy ke sini, bangunin mama atau papa. nanti dianterin ke kamar mandi."
B: "abis pipis nanti bumy tidurnya di sini ya."
i think he'll be a good negotiator.

lokasi: di mobil, perjalanan pulang kantor, just the two of us.
R: "dari sini, bumy maunya lewat trakindo apa sekolah cikal?"
B: "lewat sekolah trakindo aja ma."

lokasi: di mobil, perjalanan pulang kantor, just the two of us, lewatin wijaya kusuma di mana beberapa hari sebelumnya bumy teriak-teriak kesakitan nahan pup.
B: "bumy kemaren di sini pengen pupup."
R: "hoo iya. sekarang pengen pupup gak?"
B: "enggaaaak."
R: "kalo mau pupup, tahan ya mi."
B: "ga usah bilang tahan ma."
well, logically he's right.

R: "komodo jalannya merayap mi."
B: "kayak apa?"
R: "hmmm... kayak buaya."
B: *nyanyi* "CICAK CICAK DI DINDING!"
well, logically he's right #2

adit lagi pake konterpen di kakinya.
B: "kalo kaki sakit pake konterpen ya?"
A: "iya."
B: "panas kali ya??" tanyanya dengan nada ingin tau dan mata besar.
R: *pengen nyerbu anak with hugs and kisses*

lagu buat hari mendung #2

lagi duduk anteng sambil browsing, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. time for lagu-lagu mendung, don't you think?

first one, is by my all-time favorite local male singer selain afgan (dan mekha angelo i think) ^o^
and i heart this song because
1. it contains damn beautiful lyrics.
2. enak buat nyanyi bareng. biasanya gue sama adit 'rebutan' nyanyiin lagu ini di mobil. 
3. lagunya sedih :( well, i'm a sucker for sad songs.


aku hanya sinar yang melintas sekedip
bagai kunang-kunang kecil
dan engkau sayap-sayap yang meranggas seusai
sekepak kau mengudara, membawa hatiku semua.

kita ialah kata yang terlambat tercipta
yang semestinya tak terjadi
dan cinta ialah rasa yang pertama dan terakhir
'tuk merangkum kerinduan, kepasrahan, dan maafku

'tuk semua yang terlambat kulakukan
'tuk semua yang tak sanggup kujanjikan
'tuk semua

lama kucoba memandang jejak kaki kita tanpa sesal
menerimamu tanpa aku mengerti
indahnya arti hari ini
tanpa harapan 'tuk kembali

ke semua yang tak sempat ku ungkapkan
ke semua yang tak tepat ku katakan
yang tak usai ku jalani,
yang tak ingin ku ingkari
dan semua...


gila ih powerful banget ini lirik lagu. bikinan dewi lestari sih yaaa, no wonder.

oya satu lagi ah yang juga favorit gue pas lagi mendung.
i think this one is a bit 'dark' for this singer. never expected her to make this kind of song. enjo-hoy.


the week with the trees and the rain

weekend kemarin,
  • sabtu pagi, antri SAI, as written here.
  • ke omah sendok -> lanjut ke kokas untuk pertama kalinya (hihihi. ternyata sama aja kayak mall-mall lain! gue mampir ke scoop dan tick tock. kedua toko ini sejenis, meski yang belakangan lebih sedikit koleksinya) -> di perjalanan balik, tepatnya pas di flyover antasari, ujan gedeeeee banget -> kena moacetlah begitu turun dari flyover -___- -> berhubung di cilandak KKO juga masih moacet, kita putuskan mampir ke andakar. tempatnya oke ternyata, ada outdoor playground lumayan gede, ada trampoline segala. steaknya sih rasanya "homemade" banget menurut gue. but still better than ab*ba -> ternyataaa, pondok labu banjir -> bisa sampai rumah juga setelah 3 jam muter-muter di jalan doang!
  • subhanallah tetangga gue dan embaknya calon penghuni surga: jemuran kita diangkatin! huhuhu.
  • malamnya, begadang ngisi ini

  • minggu pagi, nyari tukang taman di pertanian. abangnya mau diajak ke rumah untuk ngukur-ngukur dan ngasih tau tanaman mana yang bisa dicontek dari rumah tetangga :))) semoga kelak rumah bisa jadi lebih asri dan homey hehe.
  • bumy dan adit bobo di tengah cuaca mendung plus hujan rintik-rintik, gue nyetrika :)))) puas sih, soalnya kelar semua!
  • sore-sore, gue kepikiran bikin mie godog yang resepnya gue dapet dari majalah. ih endang (iya-in aje dah), cocok buat ujan-ujan :P


  • malamnya, ternyata film "the joy luck club" diputar di tv. gue mewekkkk (sendirian) nontonnya. jadi inget buku itu salah satu favorit gue. kalo someday punya anak cewek, bakal gue ajak nonton bareng 'tu film deh.

11/02/2013

school-hopping part 2

minggu lalu, berkat percakapan seputar pengasuhan anak sama bunda Nisha, gue jadi kepikiran lagi tentang memilih sekolah. insya Allah bumy mau masuk kelompok bermain juni ini. sebelum pindah, sekitar bulan desember, gue dan adit udah sempat survey ke tetum bunaya. kita udah pegang formulir pendaftaran, just in case bumy mau disekolahin januari (haha). tapiiii seiring dengan berjalannya waktu dan semakin seringnya browsing (biasa deh, emak-emak jaman sekarang), gue jadi semakin ngeh tentang pentingnya survey sekolah-sekolah lain dan berbagai jenis kurikulum, metode, konsep dan apapun itu.

setelah baca sana sini, gue menyimpulkan kalau

1. gue tertarik sama metode montessori. emang udah naksir sih sama metode ini sejak dulu, udah baca buku "membesarkan anak dengan metode montessori" juga, dan kepengen banget bumy bisa disekolahin di sekolah montessori yang nggak abal-abal. salah satu yang gue tau bukan abal-abal itu Jakarta M*ntessori School (JMS) yang mana lokasinya cuma 1 kilometer sekian dari rumah(!). ini gue kutip dari webnya,

"The Montessori educational system is unique in that it has successfully undergone continued development for over seventy years and has been used effectively with mentally retarded, physically handicapped, normal, and gifted children in different countries around the world. Perhaps the most significant reason for its success is that it is a comprehensive method of education resulting from an integration of research on development, learning, curriculum, and teaching."

saking pengennya, akhirnya gue putuskan untuk menelpon bagian informasi JMS. dari situ jadi tau bahwa
  • di JMS ada level sekolah toddler (18 bulan - 3 tahun), preschool (3-6 tahun), primary (setingkat SD), dan SMP-nya juga (meski sampai sekarang cuma untuk anak yang SD-nya di situ).
  • biaya pendaftaran IDR 7 juta, tuition fee untuk level preschoolnya lebih dari 50 juta T___T
  • berhubung tuition fee itu dibayarnya setiap tahun, jadi gue artikan sama aja uang bayaran sekolah per bulan di-setahun-kan. dihitung-hitung ya biayanya mirip kaya nyekolahin anak di c*kal. setaraflah, gitu. karena gue dan adit udah pernah bahas kalo kita ogah nyekolahin anak di c*kal (jelaslah karena belum masuk level kita-eh kebalik sih, kita yang belum masuk level c*kal), dengan demikian ogah juga nyekolahin anak di JMS (kerasa gak ada nuansa ingin-menyelamatkan-harga-diri yang kental??). huhuhu. diam-diam tetap berharap sih semoga someday bisa :D

2. selain metode montessori, gue juga tertarik sama kurikulum yang dipakai sama S*k*lah Alam Indo (SAI). di sini yang dipakai adalah kombinasi akhlak (pembentukan karakter) - kognitif - leadership. 

hal lain yang bikin makin naksir

  • sekolah ini ngajarin life skill kaya leadership dan entrepreneurship. gue dan adit pengen banget bumy dapat wawasan entrepreneurship. kita berdua dibesarkan dari lingkungan keluarga yang murni pegawai soalnya, haha (gue rasa ini penyebab terbesar nyokap gue merinding dengar ide gue mau kerja freelance). jadi ya gitu, berasa gak punya perspektif lain, kayaknya opsi mata pencaharian tuh satu dimensi aja.
  • sekolahnya berbasis komunitas, jadi ortu macam kita gak bisa tinggal terima jadi. karena itulah pada proses seleksi, yang diwawancara dan diseleksi itu orangtuanya! ortu harus terlibat sama perkembangan anak DAN sekolah juga. gue setuju bangetttt sama konsep ini. inget 'kan kredo "it takes a village to raise a child?" ortu dan sekolah harus satu visi dan misi, susah-senang ditanggung bersama :)))
  • sekolah ini pernah jadi target studi banding para pendidik dari UK! gue baca di sini. orang british aja terkagum-kagum loh! mereka bilang metode pembelajaran yang dipake di sini fun, trus konsep green school-nya bener-bener diterapin. tapi yang paling bikin mereka kagum, adalah guru-gurunya itu dihormati sama anak murid! kata mereka, di UK sekarang tuh susah banget guru untuk dihormati, lha wong muridnya ngedengerin mereka ngomong aja udah bagus. nah, "konon" ini disebabkan sekolah ini punya prinsip anak-anak itu learn by example. makanya seleksi untuk guru bener-bener ketat, karena guru bakal jadi a living example untuk murid-muridnya.

3. pengennya sih nyekolahin anak di tempat yang ada level KB, TK, dan SD-nya sekalian. JMS, SAI, tetum, semuanya masuk kriteria ini. semuanya juga dekeet dari rumah. beda di biaya, metode, dan proses seleksinya aja.


karena itulah, setelah nelpon JMS, gue juga tergerak untuk buka web SAI.
dari situ gue tau ternyata pendaftaran siswa baru untuk SAI Ciganjur dibuka tanggal 9 Feb.
gue lantas kirim wassap ke adit, "eh semakin aku survey, aku jadi makin naksir SAI deh. pendaftarannya buka tanggal 9 feb. sayang ya udah lewat."
adit bales, "wah pas dong. tanggal 9 kan sabtu ini."
gue, "hah?! oiya ya sabtu ini! kok aku mikirnya sekarang ini bulan juni!"
-_________- kebanyakan magabut bikin otak jadi memble.
abis itu gue telpon deh ke SAI, mbaknya konfirm kalo pendaftaran dibuka sabtu, which was dua hari lagi dari kamis. gue langsuuung browsing cerita-cerita antri daftar SAI yang banyak diliput media itu. tahun 2008 ada orang tua yang antri dari jam 3 pagi padahal 'loket' buka jam 8. tahun 2010, ada orang tua yang nginep sejak sehari sebelumnya! jiper dooong beta....
akhirnya jumat malam, sepulang kerja, kita mampir ke SAI dulu. di situ, dikasih tau kalo sekarang seleksi diperketat di bagian wawancara orangtua. formulir akan disebar sebanyak-banyaknya, jadi gak perlu takut keabisan.

sabtu pagi, kita dengan santainya jalan dari rumah jam 8:45. soalnya deket sih, cuma 1,4 km menurut aplikasi maps! ternyataaaa... kita dapat nomor antrian 42. yoweees, kita nunggu dipanggil, sampai jam 11 bok.
selama nunggu, kita nemenin bumy muter-muter tiada habisnya. area sekolahnya guede sih, ada empang dan sungai kecil segala. giranglah anak gue ketemu alam dalam pengertian sebenarnya.

seneng banget liatin sungai mengalir

sekarang, tugas kita:

1. melengkapi formulir pendaftaran yang isinya bukan cuma pertanyaan seputar data pribadi dan perkembangan anak saja. tapi juga visi misi kita dalam pengasuhan dan pendidikan anak! ada studi kasusnya juga bo.... alhamdulillah kita udah beres mengisi formulir tersebut. gue PAKSA adit duduk bareng pas sabtu malem. awalnya dia udah bobo cantik dong sejak jam 9 (akibat ngelonin bumy). gue bangunin dan ancem "lo mau anak masuk sekolah bagus gak?!" hahahaha.

yaudah kita isi deh soal-soal tersebut satu demi satu... lumayan juga, sampe jam 1 pagi baru kelar. emang pake acara makan indomie segala sih. tapi kegiatan ini memberikan pencerahan juga ternyata... gue udah selama beberapa lama nulis di to do list gue untuk "bikin tujuan pengasuhan anak, kalo udah jadi, ditandatangani kaya kata bu elly." alhamdulillah berkat proses pendaftaran SAI ini jadi terlaksana! proses diskusi dan hasil yang udah disepakati ternyata memberikan rasa adem di hati.... emang beda yah kalo punya tujuan yang udah dibicarain dan ditulis dengan enggak. rasa adem itu muncul karena kita jadi kayak punya guideline. meskipun gue akui, gue dan adit masih sama caur seperti sebelumnya. tapi paling enggak abis kelar nulis itu, timbul PENYESALAN. kok kita gini ya, kok gitu ya :(((( nah kalo udah nyesel, berubah dong jeng! huhuhu.

2. nyiapin mental untuk diseleksi dan menerima hasilnya kelak.

agak gentar juga nih boo, soalnya diterima enggaknya anak kita bukan tergantung sanggup bayar doang atau enggak. terlebih lagi, bukan tergantung anak kita memenuhi syarat doang apa enggak. tapi tergantung kitaaaa.
meskipun to be rational, yang di'nilai' bukan moril kita atau gimana sih, melainkan visi misi kita sejalan dengan SAI atau enggak. kalo emang ternyata gak cocok, masa mau dipaksa? nanti kita sendiri yang makan ati :S

3. bikin pas foto si koala. hihihi penasaran hasilnya nanti kayak gimana.

4. siapin pilihan sekolah "cadangan".... :D

proses pendaftaran di SAI ini selain wawancara ortu juga ada "sit-in" alias anak trial sekolah selama 5 hari. jadi nanti diliat anaknya beneran suka dan cocok gak sekolah di situ. fair enough i think! jadi gak ada satu pihakpun yang akan merasa terpaksa kelak.
ohya, selain ngisi visi misi, kita juga ditanya bisa memberikan kontribusi apa ke komunitas SAI kalo anak kita diterima. kontribusi di sini nggak harus material, apapun bisa. mau ngasih lecture kek, demo masak kek, ngedesain SAI kek kalo ortunya arsitek, daaan sebagainya.

okeh, demikian cerita poanjang/reportase per-sekolah-an kali ini. mari balik magabut lagi.

08/02/2013

good morning


hey there, blog. been two weeks since my last update here... not that i was busy or anything. just haven't really sorted out the words and the mood to curhat here.


peek-a-boo i see you

anyways, let's 'warm up' with a bit of good news, eh? 
seperti tertuang di sini , gue diterima jadi kontributor lepas di MD. hehehe. it's exciting, because i've been enjoying writing some stuff regarding urusan pengasuhan anak. i like the site and the company as well. mereka idealis dalam filosofi maupun penerapannya (gak menerima sponsorship sufor, dan unitlink, misalnya). terlebih lagi, dan ini poin yang paling membuat... hm, apa yah, lega mungkin, yaitu ini kayak jawaban bagi doa gue. i've written many times about how i wanted to be an IRT some time this year. after putting a lot of thoughts, gue mau tetap punya penghasilan (meskipun gak sama seperti saat masih berstatus pegawai) by doing things i really like and enjoy doing. one of those things is writing. alhamdulillah this thing with MD is in line with what i want to do. 
well, happiness aside, i haven't even finished my first piece :S i really have to work on building the freelancer mentality. target awal nggak muluk-muluk, satu artikel jadi dulu deh! bismillah.

meanwhile, life in jagakarsa has been... quite well. not *perfectly* well, but i think we can manage to run the household okay meski belum pakai pembantu. sekelumit hal 'baru' yang kita alami dan jalani dari dua bulan pertama ini di antaranya,
  • kalau berangkat jam 6 pagi, waktu tempuh dari rumah ke daycare bumy bisa cuma 30 menit. tapi kalau 'telat' 15 menit dari jam 6, bisa sampai 1,5 jam! udah tau sih kalo daerah sini macet karena banyak sekolah (dan emang penduduknya makin padat juga), jadi ya dibawa santai aja. the good thing about moving here adalah bumy udah bersama kita dari awal sampai akhir perjalanan ngantor. kalo harus nungguin adit pulang agak telat, ya gue nongkrong dulu sama bumy, hehe.
  • gue pernah tulis tentang jasa katering yang kita pakai. ternyata, cuma 'bertahan' pakai jasanya 3 hari. minggu berikutnya, si pemilik bilang mau libur. tapi abis itu gak ada kabar lagi. yaudah, gue berburu jasa katering lagi, dan dapatlah Prapanca Catering. so far it's been the best catering service we ever use! dari segi harga, emang lebih mahal dari katering rumahan sebelumnya dan bahkan dari sebagian besar jasa katering rumahan lain (4 porsi Rp. 70.000). gue pernah baca di blog orang, si katerer mengklaim rasa makanannya enak dibanding katering kebanyakan. let me tell you, it's a fact! dari 2 jasa katering organik dan 2 katering rumahan yang pernah gue coba, ini emang yang paling enak, padahal masakannya diklaim tanpa MSG. dan yang paling memuaskan buat gue, nganternya gak pernah telat. gue bisa minta dianter ke kantor atau ke rumah, dan belom pernah kejadian mas deliverynya nganter di atas jam 12:15. 
  • semenjak tinggal di sini, gue mulai rutin nyetok bahan makanan di kulkas. dan yang nyenengin, bahan makanan itu gak membusuk di kulkas doang. penyebabnya karena di sini gak banyak tempat makan yang oke, haha. kalo mau makanan cepat saji, paling deket di cilandak mall atau ke cinere. beda sama di karawaci, jarak ke mol terdekat cuma 10 menit. tukang makanan yang oke (kayak Pawon, Roti Bakar 88, Nasi Goreng Bang Eja, sate padang, dsb dsb) bisa disamperin sama adit naik sepeda. nah di sini? ke cilandak mall aja malessss, adanya cuma hokben, mcd, kfc. tukang makanan non-mall juga belom nemu yang oke. lagian kalo adit 'harus' naik sepeda malem-malem, ngeri juga soalnya masih banyak puun dan kebon :S in adit's words, sekarang ini kita "tinggal di udik." :))) dari sini gue bisa memetik hikmah (stop me if you heard this one before :P), yaitu jadi lebih irit dan 'humble', yang belakangan itu maksudnya gak berlagak #kelasmenengahngehek bangetlah yang dikit-dikit eating out :))) 

as for life at the office, well, it kinda sucks. the company is going through ANOTHER phase of organization transformation. udah dua minggu ini gue dan segenap orang-orang regional gak punya bos dan gak punya kerjaan. magabut abissss. sehari dua hari sih hepi karena bisa browsing sampai mata perih. tapi selanjutnya? matigayaaaa. 
yang gue rasa paling merugikan buat gue adalah ketidakpastian harus menunggu kejelasan penempatan sampai kapan, dan di mana nantinya gue akan ditempatkan. gue omongin ke adit kalau gue bisa ditempatkan di mana aja di jabodetabek. ohyes that could be slipi (not comfy tapi masih okelah), jatinegara (hope not!), tangerang (tolnya mahal kalau dari sini!), atau bahkan bekasi (knock on wood!). jadi dia bilang mendingan gue mundur aja kalau lokasi penempatan gue nggak menguntungkan. keinginan berkarir toh udah gak ada, jadi ngapain capek-capek? 
gue akui gue udah kehilangan motivasi buat ngantor selain untuk menambahkan saldo tabungan. selama ngantor di jaksel, gue masih merasa nyaman karena daycare bumy deket dan dia betah di situ. gue merasa bisa buying time sampai nanti bumy harus sekolah. tapi kalo ngantor di tempat yang makin jauh dari rumah? aduhhh nyape-nyapein badan dan hati doang :((
ah semoga hati ini semakin diberikan kemantapan dan keberanian untuk menempuh pilihan 'karier' baru. karena kans gue untuk tetap ngantor di jaksel keciiil banget, huuh.

ohya minggu lalu gue ketemuan sama temen-temen SMU. cuma dua orang siiih, sasa dan ratri. jati yang harusnya jadi tamu mandatory (karena mau gue kasihin buku hasil giveaway kemarin) dan nuri gak bisa dateng. udah loama banget gak ketemu, thanks to socmeds where all our life updates are, kita bisa lancar ngobrol dan bergosip, hehe. 
btw, gue asal sebut aja ngajak ketemuan di black c*nyon coffee di SMS. ternyata kurang oke tempatnya, pantesan sepi. rasa minuman dan makanan biasa aja, tapi harganya mehong.
kasian bener adit jadi background :P

another update is i cut my hair short, so short that i no longer need kunciran. udah lama gak berambut pendek, it feels really good! kalo keramas atau nyisir gak dapat bonus rambut rontok lagi. minggu lalu pas ke karawaci, i decided to visit salon loe diva karena ada kapster yang gue rasa selalu cocok kalo milihin haircut. gue seneng ke situ selain karena ada si mas ari (the kapster), murah meriah, juga karena letaknya gak di dalam mall. muales rasanya menyambangi mall di suburb pas akhir pekan. 
anyways, mas ari ini oke banget dan kalo ngasih saran objektif. pernah ada masa manajemen salon doyan nawarin produk rambut bikinan mereka sendiri. diklaim ngurangin rontoklah dsb. tapi si mas malah nyuruh gue pake sampo dan masker rambut dove. terbukti emang oke sih produk rambut dove. oke kan doi, gak conflict of interest :P
kemarin dia nawarin gue potongan rambut "kaya jupe di sctv awards tadi malem." and i was like "huh??" to which he corrected with "mirip rihanna gitu deeeh." and i went "bebaslah mas. yang penting pendek." :))) and it turned out that i love his work. 

on the other hand, some factors in life remain "in progress": i'm still trying to be thankful to what we have (implementasi: gak lirik-lirik rumah tetangga! babai desainer interior!!), trying to manage household chores when i'm off from work (dua hari di rumah, achievements paling membanggakan ya berhasil ngegosek semua wc, setrikaan beres, DAN halaman bebas dari rumput liar!), and trying to understand my kid better (terrible two they say? it gets more 'exciting' as they get older, really!). 
try, try, try.
baby steps lah yaa... tertatih-tatih tapi yang penting tetap keras kepala nyoba dan, hopefully, berhasil *setel dvd mashup tung desem+mario teguh+ippho* kekekek.