16/03/2017

vapour trail

life is not so bad. it hasn't been thus far.

I tried waxing for the first time. legs only, though, it's a safe rookie move.

I did (and still've been doing) yoga and zumba at the office. 

but I've missed walking all by myself in the afternoon... heck I've even missed sunsets. 

literary-wise, I've been trying to finish reading "raden mandasia" and marie kondo's book and a book titled "emotional intelligence" - so yeah, I've reached the age where self-help genre doesn't sound like bullsh*t anymore.

I've been meeting and knowing and connecting with new interesting people.. most are younger than me, they put "mbak" in front of my name but it doesn't really matter, not to me at least.  

I met and talked and reconnected with old, beloved friends of mine. kiti and elmo. wawan. edo and other weich's "bear" friends. girls from citi. aside from talking about and romanticizing the past, the conversation also revealed some newfound "facts" and perspectives. it's kind of strange how you thought when you'd known a person for a long time, nothing would be so surprising.. it's like when you've walked through a familiar route for years, you don't anticipate different turns or detours. but sometimes, even with familiar faces and the usual interaction, you'll gain unexpected insights and perhaps learn something new about yourself. 

I've had some short getaways I haven't got time to "report" about here.. belitung, surabaya, bandung, tegal, cirebon, to name a few. those trips were short and tiring, but also refreshing and memorable. 

for instance, I remember that feeling I found when I visited Belitung.
one of the activities we sort of awaited for was island-hopping. well, being not-a-beach person that I am, suffice to say I was giddy and scared from the first moment we stepped onto the sand.
what are the odds, on our way to Lengkuas island, the weather suddenly worsened. and then the rain poured.. the wind blew hard... and o boy didn't the boat ROCK.. I was panicked.. but not really, because my mind was focused more on keeping Bumy and Abhi calm. Bumy even started to get a bit seasick. Abhi just closed his eyes we thought he fainted. 
but alhamdulillah, we managed to sail safely... as I looked back to the trip, I felt.. strange... a mixture of relief, victory, and delight. maybe I could call it being "happy" - for I've done something I've always been scared of. the journey wasn't perfect.. tapi untuk bikin bahagia mungkin emang diperluin ketidaksempurnaan dan ujian-ujian. 


*****

the longer I've lived, the more I realize how true these words are..
"you are what you love, not what loves you." - from the movie "Adaptation."
I am shaped and built by the things I love.. things that make me feel alive. things I'm willing to sacrifice for. 
it's what really matters: the things that uniquely gives meaning to my life. those things might be futile and insignificant for other people, but to me, they're fundamental. 
whether or not those "things" love me back doesn't define who I am. 

it just crossed my mind in a flash, on a hot afternoon at Grand Lucky SCBD's parking lot.. the realization that I've lost the sense of who I am and how I've lost "love." maybe it's love for the life God has bestowed upon me, or love for things that make me passionate, or maybe both... 
and I think I've been mistakenly trying to find it in hopeless places... by settling in a job I don't like, and oppressing my heart's calling, and steering away from God's path... 
my source of LOVE, it never leaves, it has always been within me all along. waiting to be nurtured and rekindled and refined. 

I am what I love. 
it's the things that I like, the things (people, activities, choices) that spark joy inside me. 
so let them lead.. let love guide me to the "track" of self-growth and blessing...


"some psychologists classify every emotion as either love (attraction) or fear (aversion). it's not unusual for humans to base almost every decision on fear: fear of rejection, fear of poverty, fear of looking dumb, and so on. but.. I've seen that fear-based decisions lead to hollow victories at best, endless regret at worst.
only love-based decisions create lasting happiness." 
(Martha Beck)





at a place called "happiness" :D 
at hanamasa... remembering and honouring Weich <3

<3<3<3

06/03/2017

to here knows when

what the hey it's MARCH already?!

perasaan gue belum kelar-kelar nulis soal resolusi, harapan dan cita-cita di tahun 2017 deh.. tapi kok momentum "tahun baru"nya udah keliwat aja.
lagian, seolah gue segitu sibuknya sampai nggak ngeblog SAMA SEKALI sepanjang Februari... nggak tau sibuk ngapain.

anyways, karena bingung 'kan mau cerita dari mana, jadi dibikin rekapan aja deh..

- gue pernah cerita seputar konsultasi ke psikolog (bu Alzena Masykouri) soal Bumy dan kita di blogpost ini.
salah satu masukan dari beliau tuh kita perlu work on some issues yang jadi faktor penyebab stres. stressor yang kemaren diidentifikasi antara lain jarak tempuh harian yang lumayan bikin badan dan hati lelah, kegamangan gue antara kerja kantoran vs nggak, plus menghadapi les yamaha Bumy yang demanding.
nah, buat urusan jarak tempuh, kita berusaha atasi dengan bikin rencana di 2017 ini untuk nyari tempat tinggal yang lebih deket ke sekolah Bumy. karena akhirnya berasa juga efek keriweuhan menjalani hari demi hari dengan kondisi jarak rumah antara sekolah Bumy sejauh 9 km, melintasi rute yang mainstream banget macetnya. sekolah Bumy masuk jam 7:15, dan dalam satu term kemarin dia telat 33 hari (yang kehitung).
akhirnya kita nyari-nyari apartemen buat disewa dan dapetlah yang sekitar 1 km-an ke sekolah Bumy, dan 1 km-an juga ke kantor gue dan Adit. alhamdulillah dapet unit yang udah full furnished, landlord-nya juga baik bangett. sekarang ini udah sebulan kita tinggal di situ. I'm still adapting, though. emang enak sih pulang-pergi ke kantor cuma 15 menitan, tapi ya gitu.. it feels different living inside an apartement unit as opposed to a landed house. tapi semoga bisa ngasih efek positif yang lebih komprehensif ke kita sekeluarga, deh.






- balik ke soal stressor yang tadi disebut, hal kedua yang kita coba atasi adalah soal les yamaha Bumy yang semakin demanding sajah rasanya.
bayangin, sampe bikin eke dan si anak stres bo.. haha.

jadiiii semua bermula waktu Bumy sudah menyelesaikan tahap pendidikan JMC (Junior Music Course) dan akan 'naik kelas' ke JXC (Junior Extention Course). guru les Bumy di JMC, sebutlah kak Maria, tiba-tiba mengajukan ide untuk ikutin Bumy audisi masuk kelas JSAC (Junior Special Advanced Course). JSAC ini selevel dengan JXC, yaitu untuk anak usia 6-7 tahun atau usia SD, tapi bedanya lebih... terakselerasi. Bumy bakal 'dituntut' buat bisa mencapai level lebih tinggi dalam waktu lebih singkat, dan composition skill atau kemampuan bikin lagunya akan lebih diasah.
menurut kak Maria, dia milih Bumy buat ikut audisi karena skill doi di atas rata-rata anak selevelnya.. dia khawatir Bumy bakal bosen kalo dibiarkan di kelas biasa.

prerequisite yang dibutuhkan untuk bisa masuk kelas ini ya dengan ikut audisi. later on gue denger audisinya se-Jakarta, dan yang diterima maksimal 10 orang.
to be honest gue nggak kepengen Bumy lulus ke kelas ini. JMC aja rasanya udah cukup demanding, sampe gue masukin Bumy ke kelas weekend - demi gue bisa ikut masuk kelas dan memantau.
tapi di sisi lain, nggak enak juga kalo menolak mentah-mentah tawaran gurunya... bahkan gue dan Adit sempat minta sesi diskusi dulu, kita pengen kak Maria mempertimbangkan fakta bahwa gue dan Adit nggak ada yang bisa main musik dengan serius. selain itu, kelas JSAC nantinya juga cuma akan ada di hari kerja, terdiri dari 2 macam kelas untuk diikuti Bumy: group class dan private. akan sulit bagi gue untuk keep up kalau nggak ikutin kelasnya. tapi kak Maria optimis, menurut dia Bumy bakal baik-baik aja ikutin kelas tsb. lagian nggak ada ruginya juga dicoba ikut audisi.

jadi diikutilah audisinya... dan si anak lolos. dia jadi satu dari 5 orang murid JSAC. dijalani sejak bulan Juli/Agustus, baru sebulan aja rasanya berat banget buat gue. iyaahhh di gue, karena gue yang bertugas ngajarin dia di rumah. udah gitu guru-gurunya juga udah kasih maklumat untuk si anak berlatih MINIMAL 2 jam setiap hari. sesuatu yang IMPOSIBEL untuk dicapai... lha gue aja pas sampe rumah seringnya udah nggak punya energi buat ngurus diri sendiri, boro-boro bisa ngurusin materi electone-nya Bumy.

inilah yang gue sampaikan ke bu Alzena.. kalo gue SUTRISSSS banget mikirin lesnya ini. Bumy sendiri juga menyatakan kalau dia nggak enjoy ikut kelas JSAC... dia merasa jadi underdog, kok salah-salah melulu, kok nggak bisa keep up, sementara yang lain bisa main dengan gampang. belum lagi tuntutan buat latihan, PR les, dan keharusan bikin lagu sendiri untuk ditampilin 6 bulan berikutnya.
lagian, di kelas reguler, Bumy masih bisa haha-hihi sama temen-temennya, karena memang kelasnya lebih santai dan less demanding. buat doi yang anaknya sosialita banget, bisa gaul dan main-main di kelas tuh something worth to consider. pelan-pelan minat dia terhadap electone memudar. dia bahkan bilang "Bumy nggak mau konser bulan Januari, takut." :( kasian banget anak gue....


dari hasil konsul ke bu Alzena, beliau menilai kalau karena IQ Bumy yang mayan di atas rata-rata, makanya dia bisa dengan mudah lolos audisi. tapi buat anak seusia Bumy, sekarang ini belum waktunya untuk mulai serius di satu bidang entah itu olahraga atau musik (baru siap di usia 9 tahun). saat ini, untuk jalanin hal-hal itu masih tergantung minat si anak, jadi ya masih di fase mencoba-coba dan mencari-cari.

bu Alzena jelasin soal bedanya hobi, minat dan bakat.
anak disebut punya bakat, jika ia mampu menguasai suatu hal dengan lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan anak lain.
sementara minat, ya ketertarikan anak, yang bisa berubah-ubah. satu hari minat main bola, hari lain minatnya karate.
trus hobi adalah kegiatan yang produktif untuk mengisi waktu.
tiga hal ini berbeda banget. Bumy awalnya punya minat buat main electone, dan kebetulan punya bakat karena bisa menguasai dengan cepat. tapi Bumy belum acquire the ability and the mentality untuk fokus, tekun, dan serius di satu alat musik.
bu Alzena cerita tentang anaknya yang sempat les piano, tapi di usia 12 tiba-tiba minta ganti gitar. kesimpulannya, menurut bu Alzena lebih baik kalau Bumy dikeluarin dari kelas JSAC dan balik ke kelas reguler.
tentang kekhawatiran Bumy bosen, beliau bilang, anak butuh merasa bosen, dan juga untuk merasa bisa. perasaan bosen bikin anak mencari kegiatan untuk mengatasi kebosanannya. sedangkan perasaan "merasa bisa" bikin anak percaya diri... yaampun sekonyong-konyong gue keinget tulisan Malcolm Gladwell di salah satu bukunya, yang cerita soal gimana anak pinter yang dimasukin ke 'kolam' atau sekolah anak-anak pinter malah jadi patah arang atau lebih banyak yang nggak sukses karena kepercayaan dirinya terkikis.

to be honest gue merasa dilematis soal ini. vvhy? karena ada value yang diperjuangan di sini... ahahahahh.... seriously, though.
di satu sisi, gue, seperti tulisan Lita soal emak kekinian, ingin anaknya BAHAGIA, dengan menjalani sesuatu tanpa merasa terpaksa.
tapi di sisi lain, gue nggak mau Bumy menganggap dia bisa take the easy way out... kalau dia kehilangan minat atau pengen menyerah, udah tinggal escape aja gitu (#lookwhostalking).
tapi setelah berembuk dan brainstorming bareng adit... akhirnya kita putusin untuk minta Bumy keluar dari JSAC.
it's not about pride, it's not about giving Bumy what he wants... but it's about giving him what he needs. at least that's what we thought.

akhirnya Adit putusin buat ngomong ke guru-gurunya Bumy (kelas grup dan privat), dan kasih tau keinginan kita buat keluarin Bumy dari JSAC. ternyata guru-gurunya kaget... di mata mereka, Bumy nggak bermasalah. bisa ikutin lesson dengan baik, malah mereka optimis Bumy bisa lancar ikutin kurikulum JSAC. yaudah.. antiklimaks deh. kalo udah gitu, jadi nggak ada alasan yang kuat bagi kita untuk kekeuh keluarin Bumy dari JSAC.

waktupun terus berjalan... Bumy masuk kelas tiap minggu cuma didampingi pak supir (sementara yang lain sama ibu dan mamihnya). latihan 2 jam setiap hari? anaknya mau nyentuh electone lima miniiit aja sepulang sekolah udah sukur. gue pun belajar menurunkan tuntutan ke Bumy dan diri sendiri... sampai Januari akhirnya tiba dan dia kudu konser menampilkan lagu ciptaannya.
alhamdulillah, it went smoothly....
beta kaget dan bangga liat si anak bisa mengatasi demam panggungnya (seminggu menjelang konser, tiap jam ngomong "ma, hari minggu ini Bumy konser lhoooo.. hiiii" seraya bergidik).

setelah konser perdana
his supporters
Februari lalu, tiba-tiba gue nerima pesan dari gurunya, kalau Bumy lolos untuk konser di tingkat wilayah (Jakarta). padahal gue sama sekali nggak ngeh kalau konser ini ada tahap kualifikasinya.. haha.
jadi awalnya itu tingkat tempat les aja, trus lanjut diadu se-Jakarta, nantinya nasional, abis itu internasional. yaa kita sih nggak berharap muluk-muluk, bisa sampe di titik ini (Bumy bisa tampil di konser membawakan lagunya sendiri) aja udah BERSYUKUR banget.

his second concert
nguks
tempo hari, gue sempat ngobrol sama pacarnya temen yang seorang musisi. doi nyaranin gue masukin Bumy ke orchestra, katanya sih biar nggak bosen. melihat sejarah dia yang juga belajar musik sejak belia, gue seriously considering his suggestion.

- kalau celotehan gue dirunut dari awal, postingan rekap ini menyangkut faktor stressor yang tadi satu demi satu gue sebutin. setelah soal tempat tinggal dan les yamaha, satu lagi adalah kegamangan gue antara mau lanjut kerja kantoran (at my current office) vs nggak.

seperti yang sudah seriing gue lontarkan... bener-bener nggak ada yang gue kejar di sini... selain duit, mungkin. it feels nice to have money on my own, meskipun nggak seberapa buat orang lain. I also need the routinity of berangkat kerja tiap hari.
in other words, I kinda enjoy it.

tapi dipikir-pikir lagi, sebenernya nggak perlu lagilah ya gue bahas A-Z untuk menvalidasi alasan dan kebutuhan gue. sekarang, yang gue jadikan #lifeguide adalah kesadaran kalau mau di kantor kek, mau di rumah kek, teteup ada ujiannya. yang penting gimana supaya ujian itu bikin kebajikan dan ketakwaan gue bertambah *tsaaah... xD 

gue juga mulai menyadari kebutuhan gue untuk belajar hal yang bener-bener gue suka. jadi bismillah gue lagi dalam proses mendaftar program magister di bidang komunikasi.. hihihi, ngetiknya aja udah seneng. semoga pas jalanin kuliahnya juga masih seneng riang gembira yak. 

oh well. sometimes I still find myself wondering, is everything worth fighting for? 
"should I go on? should I stop?
what would i find at the mountain top?" (- from Bin Idris' "How Naive.")

I truly can't tell. but I believe everything happens for a good, greater reason. 

sometimes

Teacher: Do you think you’re too young to really love somebody?
Classroom: No, no….No, no.
Teacher: Well let's take it from me. I'm a adult I say wait, you're too young to be in love, this is silly. You infatuated with him, he got nice jeans, he wear fancy Adidas... I mean it must be something I don't know...
Student 1: It’s a difference from loving somebody and being in love with somebody.
Teacher: Well you tell me what’s the difference. What’s the difference?
Student 1: Ok, ok. You can love anybody, but when you’re in love with somebody you’re looking at it like this: You're taking that person for what he or she is, no matter what he or she looks like or no matter what he or she does. 
Student 2: If you can fall in love, you can fall outta love.
Student 1: You might stop being in love with them, but you’re not going to stop loving that person.
Student 3: Maybe sometimes they’ve never been loved before. They’ve never been in love before or they’ve never… they don’t know what the feeling is to be loved.
Teacher: Dang she poetic. She killed it. We can end that conversation with that!


from here

~transcript of conversation in one of my favorite albums of all time, "The Miseducation of Lauryn Hill."