09/04/2015

anthem for a fifteen year-old girl

dulu, lebih tepatnya duluuuuuuuu banget, 17 tahun lalu tepatnya, gue harus memilih lagu untuk dibawakan dalam rangka ujian EBTA praktek SMP. i know, there's so many jebakan umur in the sentence i shouldn't even bother to conceal my real age. nah, waktu itu kita diijinkan untuk entah memainkan lagu tersebut pakai alat musik yang kita kuasai, atau semata-mata nyanyi, sambil tepok tangan kayak pengamen jalanan juga boleh. 
mengingat diri gue yang sejak dulu pemalu kelas berat/pengidap demam panggung akut, entah kenapa gue memilih untuk menyanyikan lagu yang gue pilih. dan sambil main gitar. lengkap pisan yah. 
dan entah kenapa gue memilih lagu tertentu ini. bukannya lagu populer yang guru SMP gue bakal ngerti, misalnya, jadi kans gue dapat nilai bagus agak lebih besar. atau lagu dengan vokal yang butuh keahlian tertentu atau improvisasi meliuk-liuk kek, jadi lagi-lagi mungkin guru gue akan terpesona (meskipun gue ragu dese ngerti soal pitch control whatsoever berhubung those were the days when AFI wasn't even around yet) dan sebagai dampaknya, ngasih gue nilai bagus. 

tapi, gue malah ngotot memilih satu lagu ini. lagu yang rasanya cuma dua anak lain di kelas yang ngeh. lagu yang nadanya cenderung datar bahkan membosankan; nggak butuh liukan vokal nan ciamik atau kalau dimainin pakai gitar pun cuma berisi ritme yang biasa-biasa aja.
gue inget waktu gue menyanyikan lagu itu, si guru penilai cuma melirik ke arah gue sebentar trus keliatan bosen. i don't blame her - she was a 40 something woman, living in a low-to-middle-class suburb and obviously never watched MTV. 
udah bawaan gue untuk jadi overly self-conscious, bahkan sejak masih bocah kayak saat itu. normalnya, gue ngejaga banget perasaan lawan interaksi gue, dan bahkan bisa ikutan nggak nyaman kalo mereka nunjukin gelagat nggak nyaman because of what i say or do. that's how self-conscious i am (or was, maybe). tapi gue inget banget, saat nyanyi itu, gue nggak peduli sama reaksi si guru penilai. to hell with your boredom i thought. you can look as bored and unimpressed as you want but i'm still gonna finish this song 'til the very end. 
and there, i sang it. 
tapi ketika gue baru sampe di bagian menyanyikan chorus yang kedua kali, dia nyuruh gue berhenti. 
"udah, cukup cukup" she said, and told me to get out. 
i assumed she had finished scoring me. 
yaudah sih. but how come that bitch didn't even let me finish?! that's what i thought then, and still do now.

sampe sekarang hal itu masih mengganggu gue. bukan, bukan karena nilai yang gue dapet - i got a 7. or equal as a "meh," "so-so," or even a "naon sih?"
i didn't care about nilai, i never (actually) did.
tapi karena dia memotong saat gue lagi menyanyi. meskipun gue tau dia nggak familiar sama sekali sama lagu, nggak ngerti di mana enaknya, dan bukan salah dia juga kalo dia nggak mencoba memahami letak 'berarti'nya lagu itu buat gue PADAHAL pekerjaan dia adalah guru seni musik dan menjadi sensitif serta mengapresiasi segala bentuk seni seharusnya menjadi hal yang naluriah buat dia. 
no no, i don't blame her. because that's only a miniscule size of effect dari apa yang sudah diperbuat Orde Baru, spesifiknya di bidang pendidikan dalam 'kasus' gue ini, yaitu menciptakan kurikulum sedemikian rupa yang menganggap manusia sebagai statistik semata untuk diluluskan, but let's not go there this time. i should focus on how that little ignorant act made me feel. and on why it mattered to me.

dari awal, gue tau siapa audiens gue - yaitu si guru dengan segala profilnya tadi.dan gue sadar risikonya, bahwa lagu ini nggak akan mengesankan buat dia. 
tapi siapalah gue waktu itu? a 15 year old kid. i didn't care about her, i didn't really care about EBTA praktek either. all i knew was that lirik lagu itu isi hati gue banget. atau dengan istilah sekarang: gue berniat curhat terselubung melalui lagu itu. waktu itu, impian gue adalah jadi vokalis sebuah band (yes, a laughable dream one might say) dan gue bisa meneriakkan kata-kata yang menjadi isi hati gue di hadapan ribuan orang (!) (a girl should dream big, right?!). of course i also wanted the fame and glory, tapi gue membayangkan kepuasan bernyanyi itu and i thought that's what i wanted to do for the rest of my life. 
but it's not only about the singing. i did manage to have a band(s) later in my youth, and became a vocalist. tapi gue nggak pernah merasakan dorongan untuk menyanyikan suatu lagu dengan sama kuatnya seperti waktu EBTA praktek itu.

gue inget sekitar dua minggu sebelum momen EBTA praktek tersebut dan harus memilih lagu untuk dibawakan. saat itu gue punya ratusan kaset dan puluhan CD (i saved my money diligently). i could pick any song. i could pick any reason needed to pick a song. gue bisa ingin dapet nilai bagus. gue bisa ingin disukai. gue bisa ingin merasa senang karena udah membuktikan kemampuan gue bernyanyi.
tapi saat itu, cuma lagu ini yang 'berbicara' sama gue, dan mengerti gue.
i didn't even like oasis. haha. 
but i needed to sing that song, in front of another person.
kalo dipikir-pikir sekarang, maybe i didn't wanna let go of the chance of having an audience (albeit a not so compatible one) and pouring out what i felt inside to another living, breathing individual. i took the only chance i had that time, to be heard, understood, and even though it's a stretch, comforted. 

well, i soon found out where my choice led me. a plain seven.
as expected, my mission failed. 
i took the chance and it haunts me.
"Here's a thought for every man
Who tries to understand what is in his hands
He walks along the open road of Love & Life
surviving if he can

Bound with all the weight of all the words he tried to say
Chained to all the places that he never wished to stay
Bound with all the weight of all the words he tried to say
and as he faced the sun he cast no shadow

As they took his soul they stole his pride
As they took his soul they stole his pride
As they took his soul they stole his pride

As he faced the sun he cast no shadow
Here's a thought for every man
Who tries to understand what is in his hands
He walks along the open road of Love & Life
surviving if he can

Bound with all the weight of all the words he tried to say
Chained to all the places that he never wished to say
Bound with all the weight of all the words he tried to stay
and as faced the sun he cast no shadow

As they took his soul they stole his pride
As they took his soul they stole his pride
As they took his soul they stole his pride

And as he faced the sun he cast no shadow"

02/04/2015

march antidepressants

march may be bland for me in terms of being productive, but i did get to try some new stuff... like
 
- mencoba rutin olahraga. ada tempat baru nih yang kebetulan rutenya deket dari tempat beredar gue sehari-hari. namanya Balance Studio, di Jl. Benda, Kemang. di sini kelasnya macem-macem banget, ada HIIT, pilates, muay thai, yoga, swing yoga, body balance, zumba... sama yang baru gue denger, barre sculpt sama aerial hoops. jadi, yang pertama (barre) itu pilates-based sebenernya, tapi juga ballet-inspired.
kita pakai alat bantu barre alias tiang yang buat balerina itu, loh. gerakannya emang rada-rada 'kemayu' karena emang memakai gerakan-gerakan ballet, tapi sebenernya ngebantu banget buat stretching juga buat ngebentuk otot (sculpting) haha.
sementara kalo aerial hoops itu ya literraly using hoops atau simpai. kebayang sih, serunya. cuma gue takut nyoba yang gelantungan x)

pic from here
so far yang udah pernah gue coba baru body balance sama barre conditioning, sih. and now i'm kinda hooked on body balance. ini gabungan antara yoga, pilates, dan taichi. penasaran 'kan gue pas baca deskripsinya. berhubung ada taichinya, jadi gue pikir bakalan low impact. ternyataaa... kuyup dan tepar setelah ikutan kelasnya selama 1 jam. di minggu berikutnya sih gue udah lumayan bisa keep up. yang baru pertama kali ikutan kelas ini rata-rata komentarnya sama, "gilaaaa, parah amat ini kelas!" atau "gue biasa ikutan zumba sampe ngos-ngosan tapi nggak segininya dah!"
tapi emang sih, semenjak rutin ngikut kelas ini, kelas pilates rasanya jadi kurang nampol hahaha. this exercise emphasizes on flexibility, strength, dan cencunya, balance. movementsnya nampak sederhana dan gampang, tapi ketika dilakukan, wuih keringet ngocor.  

tapi berhubung gue nggak bisa tiap hari 'nongkrong' di Balance Studio, jadi gue selang-selinglah dengan workout di rumah. biasanya sih gue pake youtube aja buat yoga. niatnya sih mau nambahin frekuensi olahraga dengan
1) intall NTC lagi di handphone. dulu sempat install tapi i felt kinda intimidated by the exercises jadi gue delete hahaha
2) run for 20 minutes every other day
3) or maybe try out a Master Bootcamp class? jiper siih, tapi i really think i should give it a try some time.

- on a one fine day, tanpa direncanakan, we had a nice time di kawasan jalan antasari bawah/kolong flyover. waktu itu adit mau nyuci mobil, maka kita menuju ke tempat langganannya. sambil nunggu, kebeneran udah masuk waktu lunch. adit bilang di seberang tempat cuci mobil ada restoran yang dia udah lama pengen coba. namanya De Laris Garden & Resto.
pas masuk ke restonya, ternyata resto yang dari depan keliatannya kecil itu ternyata punya "view" yang luas di belakangnya. hence the "garden" word on the name, d'oh. sambil liat-liat menu, kita diajak ngobrol sama yang punya resto, namanya Dira. ternyata seumuran sama kita. Dira cerita kalo di lahan belakang resto ini ada tempat kursus programming bikin game buat anak-anak. dia nawarin kita liat-liat ke situ kalo udah kelar makan.

kebetulan hari itu abis ada workshop, jadi agak rame. Dira juga ngasih tau kalo dia sama suami dan iparnya bikin MakeDoNia buat jadi sarana kreatif bukan cuma buat anak-anak, tapi kalo bisa orangtuanya juga ikutan berkreasi. dia nawarin kita kapan-kapan ikutan acara di situ, tapi Bumy kayanya sih belum bisa ikutan ya, karena programnya juga buat anak usia 10 tahun ke atas kalo nggak salah.

sementara itu kalo di restonya, bahan makanan andalan tuh bistik. jadi kebanyakan menu emang mengandung bistik. pas dicoba, emang endes bistiknya. 





- abis dari De Laris, we did very hipster things: potong rambut di barbershop dan ke Pasar Santa. nah ini juga cuma beberapa langkah dari resto tadi, masih di Antasari kolong. kita ke barbershop "Potram" yang juga udah sering dilihat. potram-lah anak dan bapak di situ, sementara gue bisa nunggu sambil leyeh-leyeh karena meski tempatnya kecil tapi disediain sofa yang cukup gede - dan empuk pastinya. adit biasanya males sama tempat potram "fancy" macam begini karena not worth the money menurut dia. tapi buat yang ini dia ngasih kesan positip. dipijetnya enak katanya. 




 kelar potram, bingung mau ke mana. mau pulang nanggung... terbetiklah ide buat main ke Pasar Santa. 'tema' hari itu nyobain tempat-tempat baru, nampaknya.

nah, untuk ke sini, kita masuk lewat Jl. Wijaya trus ke Jl. Cisanggiri 2 di mana si pasar berada. 
udah tau sih, kalo bakal berkunjung ke pasar tradisional, dan bakalan rame karena itu Minggu sore. tapi tetep aja kaget pas masuk ke area pasar dan parkirannya stuck karena banyak banget mobil yang keluar-masuk atau nyari parkir kayak kita. gue udah males aja tuh, nawarin adit capcus aja kalo nggak dapet parkir. tapi ternyata dapet.
nggak cuma gue yang jiper pas liat settingan pasar tradisional. Bumy komentarnya "ma, ini kok tempatnya ala-ala gini?" -__-

gerai-gerai hip yang rame dibahas (dan dipoto-poto trus diunggah ke socmed) itu ada di lantai 2. pas masuk, kaget karena suasananya kontras banget sama suasana di lantai bawah yang "tradisional" banget. di sini kios-kiosnya menarik, atraktif, dan ciamik banget. modern. keren. hahaha kaget ceritanya. 
yang dijual juga kekinian banget dan bisa dibilang kualitas mall. ada jus organik, desserts lucu-lucu, vynil, jajanan unik dari berbagai negara, apparel, vintage stuff, atau warung kopi tapi dengan biji kopi yang diolah dengan serius plus deretan coffee machine-nya (i don't think you'll find kopi sachetan dan termos aer panasnya). 
gue rasa tempat ini menarik sebutan "hipster" karena kekontrasannya itu, deh. lo nyobain makanan dan minuman yang oke-oke dan lucu-lucu, tapi di pasar. di tempat yang sumuk dan kusam, lo bisa nemuin berbagai kios dengan dekorasi yang fresh, muda dan modern, yang dijejali para pengunjung (dan penjaja dagangan) yang hip and trendy (baca: cwrendeh). 
kita ngider-ngider dan nongkrong di situ hampir selama 1 jam. menjelang maghrib, rasanya makin rame dan sumuk aja. meski begitu, tetep aja kita kepengen main lagi ke situ. jajanannya macem-macem banget, dan enak-enak! kemaren kita nyoba black hotdog, jus organik (ehem), es cendol (pastinya beda 'kan sama cendol yang dibeli di abang-abang? haha), sama kuenya @sepotongkue dengan es krim green teanya yang bener-bener enaQ. 

begitu turun dari lantai 2 dan jalan ke parkiran, si bocah berkomentar lagi, "besok-besok kita ke sini lagi, yuk!" dengan muka gembira.
#nyem.



- oh ya, kita juga sempat berwisata singkat sama Kiti, ke tempat yang belum pernah kita datengin. ke manakah? kawasan Ciomas, Serang, Banten ajaah. hehe... gue juga baru tau daerah ini, padahal pemegang KTP Banten. jadi, keluarganya Kiti bikin tempat buat detoks sejenak dari kehidupan kota di sana. 
dari Karawaci butuh sekitar 1,5 untuk sampe ke Ciomas. lagi-lagi gue baru tau kalo Serang nggak cuma punya pantai, tapi juga view pegunungan yang bagus. bedanya, di sini nggak dingin macam di Puncak.
tadinya kita berniat mampir ke pantai Cinangka, yang sebenernya masih jauh juga, sekitar 30 km dari lokasi. tapi keenakan leyeh-leyeh di tempat Kiti, haha, malah tidur siang dan bangun pas udah sore. berhubung nggak berniat nginep, jadi ya terpaksa head home dan skip dulu ke pantainya. 
kegiatan kita - selain tidur - tuh berenang dan masak-masak. sehari sebelumnya sempat belanja dulu bertiga (sama Kiti), dan nyusun menu (only Kiti did this :p). btw, thank you for having us, Kitii!



clean eating +1 (indomie rulzzz)