14/05/2019

staying hungry

“I tried being a stay-at-home mom, for eight weeks.  
I like the stay-at-home part. Not too crazy about the mom aspect, that shit is relentless.  
I was stupid and naive, and I thought that being a stay-at-home mom was about chillaxing, getting to shit in your own home, watch Wendy Williams and go out to brunch with your sassy girlfriends.  
I did not understand that the whole price you have to pay for staying at home is that you’ve gotta be a mom. Oh, and that’s a job. It’s a wack-ass job.  
You get no 401(k), no co-workers. You’re just in solitary confinement all day long with this human Tamagotchi ... That don’t got no reset button, so the stakes are extremely high.”
From the ever-sassy, hilarious, and brilliant Ali Wong. 
I agree with the whole part, tapi yang terutama perlu digaris bawahi adalah bagian "getting to shit in your own home." 
Boy, that's a luxury. Hahahha. 

Ok sekarang bagian rada seriusnya. 
Beberapa waktu lalu gue mendengar cerita kehidupan seorang rekan di kantor yang lagi ambil cuti di luar tanggungan perusahaan (CLTP) seperti gue dulu. Sebutlah si A. Meskipun sekarang udah berjudul "full-time mom," tapi sehari-hari, kedua anaknya tetap ditaro di daycare dan di sekolah. Sementara itu, si A ngisi waktu dengan wara-wiri ikut seminar dan sejenisnya yang memperkaya kualitas diri. Wah, takjub lho saya, it sounds like she has a solid plan untuk ngisi waktu CLTP. 

Otomatis gue jadi membandingkan dengan masa 3 tahun yang gue pake buat CLTP dulu.  
Apakah gue juga telah berencana dengan sedemikian baiknya? 
Kalau gue lihat-lihat lagi dokumentasi persiapan dulu sih, kayaknya udah cukup lumayan yaa... 
Setidaknya gue udah mikirin gimana soal keuangan, gimana mau mengisi hari. 
Gue curhatin malah di Mommies Daily, haha..di artikel ini, ini, dan ini setidaknya. 

Meskipun begitu, penilaian yang gue dapatkan bisa berbeda. 
Kalau orang 'luar' menilainya dengan: CLTP tapi kok nggak nambah anak? 
Hahaaa... Ya wajar sik, namapun kalau 3 tahun itu dipake buat gedein bayi pasti udah lulus asi dan toilet-training yekann. Nggak perlu pusing juga nyari third party kayak kalo emaknya ngantor. 

Sementara diri gue sendiri menilainya dengan: CLTP tapi kok belum tambah jago ngedidik anak dan rumah tangga?
UHUHUHUHUHUH.
Bukannya ku tak mencoba. I really did try. 
Kalau gue kilas balik ke masa-masa itu, yang otomatis keinget adalah rasa capeknya, karena beberes rumah sendiri, pun nyupirin anak ke mana-mana sendiri. Hal berikutnya yang terkenang adalah betapa dulu Bhumy masih kecil banget. Waktu begitu cepat berlalu. Dulu keperluan dia "cuma" dipeluk sebelum tidur, ditemenin main bikin-bikin, diajakin joget-joget les musik. Sementara sekarang, rasanya konflik gue dan dia semakin rupa-rupa bentuknya. 
Yang ngelawan karena hal-hal kecillah, yang susah dibilanginlah, yang bohonglah, inilah, itulah.
Emang semakin gede anak manusia, semakin berkembang juga segala halnya, sih. 
Apa mungkin gue menghadapi kesulitan karena skill gue belum berkembang yaaa, sebagai ibu?

Bener deh, sekarang baru gue sadari, kalau bagian netekin, toilet training, bahkan begadang-begadangnya, itu semua tergolong gancil! 

(Intermezzo: kok pas banget sih lagu yang mengalun "Yang Tlah Berlalu"-nya Gigi)

Kalau sekarang, gue harus mengatakan: welkam pubertas, marhaban isu-isu pra-remaja. 
Kebayang nggak sih, sementara gue terkadang masih dihantui isu yang terjadi kala gue remaja?
Contoh termudah, sampe sekarang aja gue masih bingung gimana menghandle emosi negatif di tengah mood swing?
Trus udah kudu ngajarin emotional regulation ke anak *tepukdahi :(
Intinya nggak enak deh kalau jadi orangtua yang belum "tuntas" PR bebenah dirinya. Karena akan sampai di suatu titik di mana kerjaan jadi dobel: bebenah diri SEKALIGUS meneruskan ilmu yang baik-baik saja ke anak.
Rasaaiiiiin kamuh, Riska!

Tapi memang sungguhlah Allah Sang Maha Designer.. pernah nggak sih, saat merasa ingin tau sesuatu, lalu segala tentangnya lantas tiba bertubi-tubi?
Tanpa diduga. Tanpa direncanakan. 
Mungkin seperti kata orang bijak: "When the student is ready, the teacher will appear."

Satu hal yang cukup menjadi turning point adalah ketika Kiti my bestbudcat mengenalkan gue pada Nova atau Nup (sinicenopy.com). 
Siapakah dia?

Well, Nup sebenarnya teman kuliah Kiti di kedokteran. Tapi pemikiran yang sejalan dan sefrekuensi membawa Kiti sering berdiskusi dengan Nup bahkan setelah lulus dari bangku perkuliahan. Dari situlah gue jadi suka mendengar tentang Nup dan kiprahnya, terutama di dunia PENDIDIKAN. 
From what I heard, apa yang Nup lakukan is so so ah-mazing. 
Dia menggunakan pengetahuan dan ketertarikannya di bidang sains otak (neuro science, brain science) untuk dimanfaatkan di bidang pendidikan anak. She's someone with a mission, an important one. Dan beruntunglah gue akhirnya bisa dikenalin dan bertemu dengan Nup. Pada pertemuan pertama kita, kita ngobrol sampai 3 atau bahkan 4 jam. Hahaha. Felt like there's soooo many things to discuss and brainstorm about. Di sosok Nup, gue juga menemukan panutan dalam hal parenting (among other things), karena dari yang gue lihat, 'kaki' Nup sudah menjejak dengan lebih ajeg dan tau mau melangkah ke arah mana. 
Bener-bener kayak lagunya Fourtwnty..

"Waktu ke waktu perlahan kurakit egoku
Merangkul orang-orang yang mulai sejiwa denganku
Ke-BM-an membukakan jalan mencari teman
Bergeraklah dari zona nyaman"
  
Hihi.
Lalu suatu ketika, tepatnya ketika gue sedang intens berkeluh-kesah seputar problema parenting, Nup merekomendasikan gue workshop bertitel Mother Culture. 
Saat gue baca deskripsi workshop-nya, gue nggak heran kenapa ini gue perlukan. Sub-temanya aja: Raising Yourself while Raising Your Children. Mengena abis!
Selebihnya diinfokan kalau akan dibahas gimana cara menghandle problema kehidupan modern yang serba sibuk, gimana mengembangkan diri sebagai orangtua, plus gimana memperbaiki relasi dengan pasangan dan anak. Uwowow combo ini mah. 

Alhamdulillah juga semesta mendukung, sehingga meskipun durasi workshopnya 5 jam dan di suatu Sabtu, gue bisa muncul di situ.
Apa yang disampaikan emang bener-bener yang gue butuh untuk tau, ternyata. Kudos to Nup my lup!
Di sini akan gue coba sampaikan lagi dengan cara gue memahaminya ya... biar ngelotok. 

Jadi, narsum workshop ini, mba Ellen Kristi, adalah seorang praktisi filosofi Charlotte Mason. 
Jujur gue cuma pernah dengar sekilas soal ini, dan belum pernah mencoba mencari tau. 
Workshop dibuka dengan menyampaikan apa makna pendidikan berdasarkan "paham" bu Mason, yaitu
"Education is an atmosphere, education is a discipline, and education is life." 

Tapi yang akan digarisbawahi adalah education is an atmosphere. 
Apaan sik maksudnya??
Gampangnya bisa dijelasin dengan: karena kita manusia hakikatnya adalah mahluk spiritual, maka pendidikan juga berarti kerja spiritual. Semua yang kita lakukan akan membekaskan sesuatu pada spirit kita. 
Nah, dengan anak-anak, spirit ini yang menentukan apakah waktu kita bersama anak itu berkualitas apa nggak. (!!)
Spirit kita sebagai orangtua harus sinkron, baik saat di depan/bersama anak, maupun di belakang anak. 

Yaampun baru segini aja udah tertampol aku rasanya. Masih terngingang dengan jelas saran bu Alzena tahun 2016 lalu yang bilang gue harus KHUSYUK saat sedang bersama anak. Ternyata ini toh lanjutannya! Gimana caranya gue perlu menumbuhkan spirit yang SEHAT untuk dihirup anak sehingga mereka bisa bertumbuh dari makanan spiritual yang diasupkan oleh gue. 

"Children breathe in the values we emanate," - another quote from the workshop. 
Lebih banyak hal yang ditangkap anak secara naluriah atau secara spirituil dibandingkan apa yang diajarkan blak-blakan lewat nasehat. Urusan spirit ini nggak main-main karena impact-nya pun segitunya. 

Trus gimana caranya? 
Gue udah mencoba dan mencoba rasanya T_T tapi kok tetap aja terkalahkan oleh diri sendiri dan kondisi. 

Jawaban yang ditawarkan mba Ellen adalah: kita perlu jadi orangtua yang bertumbuh
Bukan pertumbuhan secara materiil tapi secara emosionil dan spirituil.
Gampangnya deh, gimana karakter kita? Apakah udah bisa sabar? Apakah bisa berkata tidak pada keinginan yang nggak bener? 
Well, emang sih karakter ini bukan hal pertama yang diperhatikan orang, karena itulah kita jadi nggak fokus mengembangkannya. Yang otomatis dilihat, seperti kala kita menilai anak, apakah hanya tambah pintar, berprestasi, atau makin tinggi. Kala menilai orang dewasa, pertanyaan menjadi apakah ia sudah lebih kaya, lebih kece? Bukan gimana karakter kita. Huhu. 

Akan gue beberkan dengan lebih komprehensif di blogpost berikutnya yaw soal bertumbuh ini.
Buat gue, insight ini bener-bener menggeser paradigma. 
Aha moment at its best! 
Allah memberikan apa yang benar-benar gue butuhkan: petunjuk supaya gue bisa bertumbuh, berbenah, memperbaiki diri supaya bisa amanah mendidik anak.


"Sembilu yang dulu
Biarlah berlalu
Bekerja bersama hati
Kita ini insan bukan seekor sapi
Sembilu yang dulu
Biarlah membiru

Berkarya bersama hati"

03/05/2019

hipertensi okuli, suatu kondisi diri

Sampai sekarang ini, Sam sudah dititip di daycare kurang lebih selama 1 tahun 2 bulan. 
Alhamdulillah dapet daycare yang sejauh ini amanah dan cukup memuaskan layanannya. Membantu banget deh pokoknya buat gue. Tiap pagi, anak dibawa dalam keadaan masih bau acem, lalu sorenya diambil dalam keadaan udah kenyang dan wangi rapi jali. Ketika ketemu, kami main-main sebentar lalu si anak dinenenin dan terlelap. Sungguh membantu mengurangi satu kekhawatiran dan kelelahan sepulang kerja. 

Meskipun begitu, seperti semua hal di dunia ini, ada sisi lain dari "koin." 
Bagian nggak enaknya, seperti yang bisa ditebak ketika ada banyak anak ngumpul berjam-jam dalam sehari di bawah satu atap, bocah jadi mudah tertular (pun menulari) penyakit anak-anak lain. 
Di momen pergantian musim kayak Desember-Januari lalu, common cold bolak-balik diidap Sam.
Bahkan sempat kena roseola juga. 
Nah, di pertengahan bulan Januari, gue liat matanya kerap berair trus belekan buanyak banget kalau bangun tidur. Bisa ditebak, nggak lama setelah anaknya sembuh, gantian deh emaknya yang kena. Di gue, penyakit itu bukan berwujud berair dan belekan DOANG, tapi juga jadi bintitan. Heuhh. 

from here
Mungkin emak emang udah berumur ya, meski katanya bintitan bakal sembuh sendiri, tapi rasanya senut-senut banget. sampe pusiang kepala dibuatnya. 
Gue pun bikin janji untuk kontrol ke dokter spesialis mata di RSPI. 
Seandainya gue ke dokter umum atau ke rumah sakit lain, mungkin gue hanya tinggal konsul sama dokter, diceki-ceki, lalu diresepin obat. Tapi, di RSPI sebelum masuk ke ruang konsul, pasien disuruh cek tekanan bola mata dulu pake alat yang emang tersedia di situ. Nah, hasil dari pengecekan terhadap kedua mata gue nilainya 22 dan 23. Suster yang ngetes langsung berkomentar heran, kok tinggi banget yaa. Gue diinfoin kalau nilai yang normal itu 21 ke bawah. 
Ketika tatap muka sama dokter, setelah dicek kondisi bintitan gue (di mana si bintit akhirnya dipecahkan paksa. pop!), dokter ngecek lagi untuk kondisi tekanan bola mata tinggi atau bahasa medisnya hipertensi okuli.
Terkait kondisi ini, dokternya ngeresepin gue obat tetes untuk dipakai 2 kali sehari selama 2 minggu. Setelah itu, baru gue disuruh kontrol lagi. Bisa jadi tekanan bola mata gue tinggi karena lagi bintitan, soalnya. 

Balik dari RS, gue pun kepo googling soal hipertensi okuli. 
Dan hasilnya nyeremin! Kondisi ini bisa menjadi indikasi glaukoma yang berdampak kebutaan permanen. Alamak huhu...:((( 
Dari yang gue baca, penyebabnya mostly karena keturunan. Tapi seinget gue di keluarga nggak ada yang mengidap ini. Gue sempat cerita ke tan Iti, yang ngasih tau kalau ada kerabatnya yang punya kondisi seperti gue, dan alhamdulillah berhasil di-delay progress penyakitnya berkat tau sejak awal dan rutin pengobatan. Gue jadi bersyukur juga dengarnya. Alhamdulillah tau indikasi ini sejak dini... 

Kemudian 2 minggu pun berlalu... 
Apakah gue balik lagi kontrol ke RSPI?
Tentu saja tidak.
-___________-
Antara takut, males ribet, dan... takut. Itu aja sik.
Tindakan yang sangat tidak rasional, ai knoww. 
Tapi beneran deh saat itu gue sangat sangat enggan dan tak sanggup menerima berita tidak mengenakkan. 
.
.

Waktupun berlalu. fast forward ke 1 bulan kemudian. 
Apa yang terjadi? Gue bintitan LAGI. 
Kali ini kedua mata pula yang kena.. hoalahh. 
Akhirnya gue pun kembali ke poli mata RSPI. 

Dokter yang ngecek tentunya menyayangkan kenapa gue nggak balik kontrol tepat waktu sesuai yang diinstruksikan di awal. Concern utama bukan si bintit tapi kondisi hipertensi okuli tersebut. Beliau kembali ngasih gue obat mata untuk dicoba tetesin selama 2 minggu. Kali itu, tekanan bola mata gue berkisar di 21 dan 22. Yang mana masih tergolong di atas normal juga. 

2 minggu kemudian, gue kembali kontrol. Nilai tekanan 19 dan 20. 
Dokter merujuk gue untuk melakukan 3 macam tes buat mendeteksi kemungkinan glaukoma.  
Tapi gue nggak paham ataupun hapal nama tesnya kecuali tes Humphrey (lapang pandang). Hasil dari browsing, ada beberapa macem tes buat ngecek glaukoma, dan sepertinya gue udah menjalani beberapa kalau tidak semua.

  • Tonometry. Tes ini menggunakan alat khusus yang disebut tonometer. Dalam prosesnya, tonometer akan ditempelkan pada mata untuk memeriksa tekanan yang ada. Sebelum itu, pasien akan terlebih dahulu diberikan anestesi tetes.
  • Tes lapang pandang. Tes ini bertujuan untuk memeriksa keseluruhan ruang pandang mata pasien. Dokter akan meminta pasien untuk mengamati berbagai titik yang ditampilkan pada alat khusus yang disebut perimeter. Jika kondisi mata tidak normal, akan terdapat titik-titk yang tak terlihat oleh pasien.
  • Ophthalmoscopy. Dalam prosesnya, dokter akan memeriksa kondisi mata pasien menggunakan mikroskop atau alat pemindai khusus mata. Sebelum itu, pasien akan diberikan obat tetes yang berfungsi agar pupil dapat tetap melebar selama prosedur berlangsung.
  • Pachymetry. Tes ini bertujuan untuk memeriksa ketebalan kornea. Ketebalan kornea menunjukan tinggi rendahnya tekanan yang ada pada mata. Pachymetry termasuk tes tanpa rasa sakit yang berlangsung paling cepat.
  • Gonioscopy. Gonioscopy adalah tes yang bertujuan untuk mencari tahu cairan yang tertimbun di mata. Dalam prosesnya, dokter menggunakan alat bantu berupa lensa dan cermin khusus yang disebut genioskop.


Alhamdulillah setelah tes-tes itu dilalui, hasilnya menunjukkan normal. 
Gue kemudian dirujuk ke dokter mata yang spesialis glaukoma, dan beliau nyuruh gue tetap balik kontrol 6 bulanan lagi. To make sure and as a precaution step. 

Hhh... 
Jadi bisa dibilang bulan Januari sampai Maret kemarin diisi dengan kunjungan-kunjungan ke dokter mata. 
I never thought I would have an issue on this department. Sampai sekarang alhamdulillah gue belum perlu pakai kacamata. Makanya jadi agak takabur, mungkin. Then again, kalau nggak ada warning mungkin gue akan tetap slonong boy menggunakan mata. Dalam gelap melototin henpon, misalnya, yang merupakan suatu kelaziman bagi gue sebelumnya. 

Karena pengalaman ini, gue juga menyarankan ada bagusnya sekali-kali ngecek tekanan bola mata meski masih muda dan nggak ada keluhan. Kantor gue ngasih fasilitas medical check up tahunan yang cukup lengkap, tapi nggak meliputi tes tekanan bola mata. Jadi mungkin netijen yang membaca (jika ada) bisa minta dicek khusus.  

22/04/2019

episode mengejar hak pilih dan diskon Ikea

Hello Monday!
It's the first day of work after somewhat a long weekend.
Rabu lalu baru digelar pemilu, sementara Jumatnya libur nasional Kenaikan Isa Al-Masih. That makes Kamis hari kejepit.
Buat gue, Kamis jadi hari libur nggak resmi karena gue "work" from home. 
Daycare Sam diliburin, otomatis gue kudu full-time megang Sam. Waktu buat kerja diisi dengan video conference setengah hari, sisanya boro-boro sempat nyentuh laptop. 

Di hari pemilu, kita udah bersiap mencoblos sejak pagi.  
Tepatnya jam 8 kita udah bersiap-siap jalan menuju TPS dekat rumah. Udah gagah berani rapi jali, eh ada PLOT TWIST: gue gak bisa menemukan e-KTP gue! 
Udah lemes banget rasanya bowww, ngebayangin kehilangan kesempatan nyoblos karena kelalaian nan sepele. 

Sembari berkeringat dingin ngubek-ngubek tas, lemari, sampai mobil, terngiang-ngiang protes dari si bocah, 



"Mama gimana sihhhh, gimana kalo gak bisa nyobloss?!?! Aduh sayang bangetttt!" 
-_______-

Ini bocah emang semacam politically-melek gara-gara gegap-gempita pilpres dan pileg. Gimana nggak, setiap 5 meter dia melihat poster caleg tersuguh (halo, Masinton!). 
Setiap pagi di perjalanan, hal pertama yang ditanya biasanya soal berita politik. 
Kenapa si A dukung nomor ini. Kenapa si B jadi kubu nomer itu. Kenapa partai ini begini, kenapa politisi ini begitu. 
Ntap soul deh gue (eneknya) tiap hari harus bahas politik. 

Anywayss, kembali ke soal e-KTP yang belum ketemu. Stres banget gue dibuatnya, kebayang kalau harus gagal nyoblos, gue akan sibuk mengutuki kebodohan diri hingga 5 tahun ke depan!

Setelah semua tempat dibongkar, akhirnya gue mengibarkan bendera putih. e-KTP nggak ketemu.
Sempat putus asa sampai ngerasa nggak perlu hadir ke TPS sekalian. Tapi Adit si forever-optimis tetep ngajak bergegas ke TPS. Toh kita punya undangan nyoblos. Dia juga nyiapin kartu keluarga in case ditanya kenapa nggak bawa e-KTP. 
Sesampainya di TPS, kita hanya perlu ngantri sebentar. Begitu tiba di depan panitia pemilu, ternyata yang perlu ditunjukkan hanya undangan nyoblos.
Alhamdulillah!
Mamak bisa nyoblosss hueeyyyy... 
Bukan cuma gue yang lega, si bocah juga tersenyum puas xD 

Urusan mencoblos nggak butuh waktu lama. Jam 8:45, kita udah bisa segera melesat ke destinasi berikutnya. 
Apakah itu? 
Ikea aja boww. Gara-gara terbujuk iklan di Instagram kalau ada karpet yang diskonnya lumayan sampai 60%, kita pun berniat ke Ikea sepagi mungkin. sampai di situ masih jam 9:20an, dan ternyata diinfokan karyawan Ikea kalau di hari pemilu ini Ikea baru buka jam 11. Hoalahhh. Akhirnya kita pun melipir ke sekitar Alam Sutera untuk nyari sarapan.
Pertama kita ke Living World. Ternyata mall baru akan buka jam 11 siang juga. Ke Mcdonalds tapi rame banget. Akhirnya ke Flavor Bliss, dan ternyata resto yang buka cuma sedikit dan semuanya penuh nuh. 
Akhirnya kita baru bisa dapat tempat duduk di Starbucks setelah antri. Jam 10:30 kita bertolak ke arah Ikea lagi.
Ndilalah apa yang kita temui di sana? Parkiran udah ramaaaiii keisi mobil, dan... Ikeanya udah buka!!
Waaah, kok ngaco gini info dari karyawannya sendiri?!?! 
Emosi jiwa. 

Selanjutnya bisa ditebak, karpet incaran sudah habis diborong. tau gak siapa yang borong? Jastipersssss, huhuhu.
Mereka ngeborong itu karpet dan beberapa items yang sedang didiskon sampai menggunung di trolley masing-masing.
Sebel banget sih. Padahal Ikea udah ngebatasin per orang hanya boleh beli item yang sama maksimal 2 buah. Tapi ya tetep bisa diakalin kan, mereka tinggal bagi-bagi jatah ke personel tim jastipernya. 
Fail banget deh intinya kunjungan kita hari itu. 
Ketika mau bertolak balik, kita lihat ada pengumuman resmi dipasang di dinding Ikea, yang menyatakan bahwa di hari pemilu ikea akan buka jam 11. 
Tapi kenapa mereka sendiri yang melanggar peraturan tersebut, ya?
Sooo disappointing. 
Yasutralah. Kita menghibur diri dengan sedikit nyhombong halu, mungkin kita emang gak cocok beli karpet diskonan. Hahahha. 

Seperti gue bilang tadi, hari Jumat kebetulan tanggal merah.
Kita pun mengisinya dengan nimbrung staycation Geng Palem di sesehotel tengah kota. 
Lumayan banget, dong. Bisa ajak anak-anak ngariung, cipak-cipuk main air, dan GRATIS. Hahaha. Thanks, Geng Palem!
Karena jujur aja, isu yang kita hadapi setiap long weekend masih yang itu-itu aja:
  • Gimana supaya nggak overbudget terlalu besar. Kita sekarang coba ngakalin dengan mengurangi eating out dan lebih banyak cooking in (istilah apa ini). Mungkin iya gue segitu menuanya, haha, tapi sekarang gue jadi bisa menikmatinya: Ngajarin Bumy berkreasi di dapur meski cuma bikin yang gampil-gampil. 
  • Gimana supaya si anak besar tetap dapat "wahana" kegiatan yang menyenangkan buat dia. Syukurlah kali ini dia diajak nginap di hotel sama Geng Palem.  
The next day, gue dengan rajinnya menghadiri workshop yang direkomendasikan seorang teman, bertajuk "Mother Culture." I have so many things about this workshop alone. Insya Allah nantilah ya on the next post. 

Begitulah. 
Sekarang sudah kembali Senin. Sam si bayi yang udah bisa menggeleng-geleng kalau ditanya pendapatnya sudah kembali dititipin di daycare. sementara Bumy seharian ikut gue ngantor karena sekolahnya libur bur burrr. 



10/04/2019

like everything else that happens in life, there's lesson learned

the hardest part of this startup experience I've been having this past two years?

first, it's that I'm alone most of the time. 
ada enaknya, sih. I have the time for myself, atur sendiri mau ngapain. nggak ada yang texting nanyain posisi udah di mana saat lagi zen moment sarapan di sareeng - seperti yang kerap terjadi dahulu. 
trus karena nggak ada orang lain, well, gue nggak perlu ngobrol basa-basi.

it's fine. except for the fact that I *do* like berbasa-basi. 
sungguh, gue tipe orang yang datang ke kantor untuk ngobrol, berteman, makan siang bareng. to make connection with other people. 
begitulah paguyuban geng tante dan dedek-dedek brondong binaan terbentuk pada awalnya. 

during my years in the previous work unit, I didn't come to the office to actually work and build a career. 
I was trying to find a meaning in my work, but failed to find it. so I steered my way to build relationships instead. and I found friends.   

di unit kerja sekarang, yang berbentuk startup (internal kantor), alhamdulillah I found what had been lacking: the meaning, the why, the golden circle. 
the friend(ship) part? well, tim startup gue ini dibangun bersama orang yang gue sebut teman, sih. 
tapi karena faktor lokasi kerja, gue kerap ngantor sendiri saja. 
kadang rindu punya teman diskusi, saling melempar ide dan opini. 
rindu berbasa-basi. mengocehkan hal-hal di luar pekerjaan; keluarga, masalah, gosip, film favorit, you know.. the things that make us human.  

even though this way I get to learn to enjoy my own company. 
sebagai tipe manusia yang mendapatkan energi dari berbagi dan berinteraksi dengan orang lain (yang membuat nyaman), kondisi sehari-hari sendiri ini bisa dibilang sempat melumpuhkan. 
felt like I was gasping for air. lebay, yah hahaha. tapi begitulah yang gue rasakan.  

seiring waktu, kondisi ini memaksa gue menghadapi hal yang gue takuti: sendiri, tanpa teman berbagi. gue jadi terpaksa belajar.. buat menata hati dan memanfaatkan "ruang sendiri" ini. 
I start by listening to podcasts, bergabung kelas webinar, and through diving into the depth of my own thoughts. 
hingga akhirnya terbentuklah ide untuk buat akun @agilehome, board trello untuk diri sendiri, dan pakai aplikasi Calendar untuk menata waktu. I also try making conversations with myself again. 
hingga akhirnya sekarang gue mulai menanti-nanti ruang sendiri ini. sudah terbayang akan melakukan apa saja, sendirian, dan itu cukup menyenangkan. 

oh, where were we? 
hardest part of being in this startup... 
secondly, I miss having a corner. 
tempat di mana gue bisa bersandar, meletakkan semua barang bawaan dengan aman. 
and I mean that literally. haha. 
suatu tempat yang tetap sehingga gue tak perlu kerap berpindah-pindah dan membawa serta segala yang gue butuhkan. 

but at least I learn to 
a) know my needs ahead, 
b) pack lightly, 
c) getting used to bring heavy loads. 
I bring my work tools, minuman, dan snack ke manapun pergi. 
and that kind of reminds me of this portable equity concept. 
yang gue bawa ke mana-mana bukan cuma yang terlihat, tapi juga yang nggak kasat mata. 
my knowledge, my capabilities, my ideas, my reputation, my networks. 
semua hal itu nggak terikat pada titel atau perusahaan manapun. I can bring it anywhere I go. 

is there a third on this?
guess there is. 
it's that I have to be assertive. in voicing my opinion, to get my desired results, and also to save me from unwanted consequences. 
dan hal ini tidak mudah buat gue, yang sampai detik ini pun masih sangat tidak enakan. 
ugh. 

sepertinya gue perlu membaca (ulang) 7 habits for highly effective people. 
random I know, haha. tapi ini yang jadi jawaban adit waktu gue tanya kok dia bisa lempeng minta apa yang dia mau - tanpa menafikan fakta bahwa dia menggenggam kartu sakti triple majority: fakta bahwa dia laki-laki jawa beragama islam di indonesia yang mirip white men privilige di barat sana. jawaban dia tidak gue duga sama sekali, yaitu dia baca buku 7 habits. 
anggaplah gue butuh personality makeover. 
berguna bukan cuma buat idup di startup 'kan. 


04/04/2019

fana merah jambu

I thought I would start blogging again.
tapi setelah dipikir lagi, lebih nyaman berbicara, berpikir, beropini sendiri dulu.

dari semalam gue sudah tergerak ingin ngeblog lagi. well, gue selalu memperlakukan blog bak diary yang terpublikasi, jadi ya isinya seputar kehidupan sendiri aja. belum ada hal-hal yang berharga buat masyarakat untuk dishare. hehe. 
it feels so different, menulis untuk diri sendiri dan menulis untuk dibaca orang lain (selalu ada harapan untuk itu). 

saat ini gue mau nulis hal-hal yang I'm feeling excited about saja. setelah sebelum-sebelumnya resah dan mengeluh.
  • Sam oh Sam
sekarang bayi ini akan berusia 16 bulan in just a few days. and he makes me more and more in love everyday. 
ternyata begini ya rasanya sama anak kedua.. lovvvveee melulu. 
bedanya sam sama bumy banyak, terlepas dari mukanya yang 89% copy-paste. satu hal yang jelas banget sih dari segi perkembangan fisik. motorik kasarnya cepet banget berkembang. dia bisa jalan di usia 10 bulan (kalau gue nggak salah inget yak), jauh lebih cepet dibanding bumy yang baru berani jalan di 14 bulan. gue menebak faktor nurture berperan besar dalam hal ini. 
dengan sehari-hari berada di daycare, sam punya banyak contoh hidup untuk ditiru, yaitu anak-anak yang lebih besar dan lebih jago kemampuan fisiknya. selain itu, di daycare nggak ada yang sedikit-sedikit parno melarang berlebihan (like me or my mom). 
tidak berapa lama setelah bisa jalan, tau-tau dia udah nyoba manjat tangga di rumah sambil merangkak sendiri. lalu sekarang dia udah bisa naik tangga dengan gaya tangan pegangan ke handle tangga. main bolanya juga jago bener (I got no comparison for this, cuma takjub aja liat dia bisa ngejar-ngejar bola heboh). bahkan sekarang dia udah bisa dong jalan sambil bergaya pura-pura nendang bola. yaampun BAYI. 

waktu kita lagi main di rumah debi, anak-anak cowok besar 'kan pada main sepeda. mungkin drive terbesarnya sam 'ni rasa nggak mau ketinggalan hype. FOMO gitu. jadi dia belagak bisa riding the bike juga, sok-sokan ngegowes padahal belum lancar dan harus didorong juga supaya bisa maju *gudlak pinggang bapaknya.  

ada hal yang menurut gue kocak banget. saat weekend kemarin, gue ngajak bumy bikin telor dadar di rumah. bumy lalu berdiri di atas dingklik untuk belajar cara memutar kenop kompor, sebelum memasak si telor dadar. 
gak lama, saat semua sibuk dengan urusannya masing-masing, gue bingung nyariin sam. yes di rumah yang seuprit itu. tau gak gue temukan dia di mana? lagi berdiri di atas dingklik yang sama which is di depan KOMPOR, sambil berlagak muter kenop kompor juga!!!1!11
antara worry dan terkejut ku melihatnya! astagaaa bayi ini cepet banget nirunya. 

ada juga momen meniru kurang positif lain, yaitu gara-gara gue suka ajak sam nungguin bumy ekskul taekwondo, dia jadi suka belagak nendang, dong, meski sambil becanda -__-  

di satu sisi, daycare sangat ngebantu untuk stimulasi sih. tanpa gue perlu repot bereksperimen, sam tau-tau udah minta makan pake tangan sendiri (menjumput) dan kemarin minta pake sendok sendiri. 
semoga nanti pas toilet training aku pun terbantu!

masih soal perbedaan, yang cukup njomplang adalah kemampuan sam ngomong, yang justru lebih lambat berkembang dibanding bumy. kosakata sam belum banyak nambah, babbling ngoceh gak jelas sih sering, tapi belum mau ngelengkapin suku kata gitu lho. misalnya kita bilang "sa..?" dia gak mau jawab "tuu." bapaknya masih dipanggil mama. kalau mau apa-apa bilangnya "mamammamamma." mamak tau sih kamu tjinta banget padaku, sam, tapi MBOK YA. 

perbedaan lainnya yang mencolok adalah bumy suka banget (diajak) kelayapan, sementara sam nggak. 
ughh cukup menjadi ujian menahan nafsu kelayapan buat gue. sam bisa cranky kalau belum terpenuhi jatah bertemu kasurnya maksimal di jam 7-an malam. dia juga suka banget gegoleran main di kasur kalau siang hari libur. dikit-dikit nenen, dikit-dikit molor sambil pelukan. walhasil setahun belakangan ini gue udah hampir nggak pernah kelayapan impromptu di malam hari. nggak kayak dulu yang tau-tau bisa nyangkut nongkrong di mana. hmm pernah sih ada anomali sekali, yaitu saat kita dadakan main ke Ikea di suatu jumat malam. dan ini berhubungan sama poin berikutnya yang membuatku excited akhir-akhir ini...

  • mulai dikit-dikit bebenah rumah lagi
bukan beberes maksudnya, kalau itu sih udah fardhu 'ain. tapi mulai bebenah rapihin interior rumah. 
yang pertama kepikiran untuk dirapihkan adalah study room yang duluuuu saat awal merenov rumah sudah dirancang, tapi belum terwujud juga. 
jadi pada suatu jumat malam, dengan agak impusif kita mampir ke Ikea. harapannya bisa dapat inspirasi model ruangan. 

so this study room makeover became my little project these last few weeks. 
gue pun mulai donlot-donlot app buat desain rumah. yang bolak-balik diakses tuh Pinterest, Ikea Store sama Room Planner. bahagia ey bikin-bikinnya. 


the vision on Room Planner
the realization, don't have much to complain though <3
insya Allah kalo ada rezeki maunya sih ngeberesin ruangan lain di rumah. 
pengen ngecat rumah, ganti sofa, benerin halaman belakang, ngisi kamar anak, plus beberapa furniture yang udah lama masuk ke wishlist. pelan-pelan layaaa, little little we can. 

  • soal si anak sulung
baru kerasa lho... kalau gue udah sangat sangat "menjauh" secara jiwa dari dia.
yes I'm admitting it. 
teringat dulu bu alzena menegur gue untuk be present saat bersama anak... i can recite it by heart, tapi hal tsb belum jadi respons alami gue. hiks. semakin gue menyadari kalau gue adalah multitasker yang cukup buruk. it's hard enough to concentrate to a baby, let alone that plus an almost-teenager. 
dan semua keriweuhan urusan membesarkan bayi ini, membuat gue gak bisa melihat bumy dengan lebih 'jelas.' 
all I see is his mistakes, his tingkah-polah yang nyebelin dan usil. 
and all I do is responding it with anger. 
gosh....
tapi Allah Maha Menunjukkan jalan keluar... alhamdulillah lewat satu demi satu kejadian yang tersaji, gue dipertemukan dengan orang-orang yang bisa membantu. orang seperti Nup, salah satunya. gosh, I have so much to tell about her. I learn so much from her! salah satunya gimana mengenal dan melihat anak the way they are. menurut Nup, mengenali apa masalahnya aja udah bisa menjadi pembuka jalan. I realize I need to do better parenting. 
penerang jalan lainnya berupa kelas pendidikan dari Rumah Inspirasi. again, I have so much to tell about these inspiring classes. 
tapi menimbun ilmu tiada artinya kalau nggak dipraktekin, ya 'kan. 

  • MRT
Jakarta akhirnya punya MRT!!!
ya Allah gak pernah terbayang akhirnya gue melihat dengan mata kepala gue sendiri infrastruktur tsb terwujud!
gue masih bisa mengingat jelas suatu momen di tahun 2005 saat gue masih bolak-balik mencari nafkah di sudirman and I felt so disgusted, and desperate about the city. I love the city so much it sickened me to see mereka yg diamanahi untuk mengurus kota ini gak terasa dampak kerjanya. trotoar yang buruk. halte yang kotor dan rusak. kemacetan di jam kerja yang membuat putus asa. 




sekarang semua isu itu masih ada, tapi I can feel better knowing ada pak Jokowi yang BEKERJA untuk gue, keluarga gue dan uang pajak yg sudah disetorkan. haha ini maksudnya bukan buat kampanye terselubung (is it?) tapi semata-mata apa yang gue rasakan. 
I was holding back tears saking terharunya saat pertama kali menjejakkan kaki di MRT station di Jakarta. segitunya indeed! 
yes I got emotional... orang indonesia totally deserve itttt, sejak bertahun-tahun lalu bahkan. sadarkah betapa beruntungnya kita ada pemimpin yang segitu getolnya pengen membangun bangsa ini... Kiti told me, bahwa salah satu orang yang dinaungi Allah SWT di hari akhir adalah pemimpin yang adil. I truly hope that Jokowi will be one of them. 

  • hmm what else? oh, our weekends with Palem family and my spontaneous lunch dates with Kiti
sejak abah Venda mulai kuliah s2, otomatis di hari sabtu si bunda Debi dan Abhi nganggur aja di rumah. kita yang hobi kelayapan ini pun kerap kali menculik mereka. minggu lalu kita sarapan sop buntut mak emun jauh-jauh ke Bogor. dari situ lantas nemenin abhi kontrol dokter di KMC, lalu mengganjal perut lagi ke Siku (Dharmawangsa). makan, makan, makaan. malamnya geng Palem nginap di Ciganjur. seneng aja ngumpul ngariung gini. semoga rencana liburan bareng bisa terwujud, nih... 


gosh I look so much like her ELDER sister
sop buntutnya bikin bunda merem-melek
our meetup sessions should be called detoxing. honestly.
well, setelah menulis berpanjang-lebar, sepertinya tulisan ini akan gue muat di blog. 
can't tell exactly why. mungkin hati ini kembali mengenali blog sebagai rumah menyampah yang cukup nyaman.   

and it's glad to be back. ihiy. 

28/09/2018

bali after a decade

yes, I believe it was a decade ago, my visit to Bali.

Adit ke sana dalam rangka acara kantor sih udah seringkali. sementara gue nggak pernah berkeinginan untuk menginjak Bali lagi. entah kenapa.
sampai sekitar dua bulan lalu. seperti biasa, diawali dengan kegragasan, ide jalan-jalan ke Bali kok terdengar seru. yaudah langsung cari-cari tiket, buka-buka situs hotel, dan tau-tau udah kebooking aja haha.

where we stayed: Hard Rock Hotel, Kuta.
duration: 4 days.
transportation: rental (Avanza), nyupir sendiri.

first of all, alhamdulillah we could catch the flight on time.
ahaha.
pesawat berangkat jam 8an. dan alhamdulillah Sam sangaaattt kooperatif di pesawat. (of course mamak tetap deg-degan mengingat pengalaman pertama kalinya bawa Sam naik pesawat kemarin).
tapi entah kebetulan entah nggak, seperti saat mau ke Singapur, sehari sebelumnya dia demam LAGI.
biasa, batuk pilek. tapi lumayan bikin mamak pening.
cuma pagi itu dia mau makan lumayan banyak, di pesawat pun tertidur lelap. 


sumringah banget begitu sampai di bandara. "ma fotoin Bumy ma"

kita mendarat di Bali jam 11 WITA. mobil sewaan sudah menunggu di bandara.
kita langsung menuju ke Uluwatu, ke GWK Cultural Park lebih tepatnya.
yeah it's a mainstream tourist destination. tapi memang "tema" liburan kali ini mau ngasih Bumy his first Bali experience. plus mamak sudah kekurangan tenaga (baca: tua) untuk sok ambisyes dan berepot-repot mengambil risiko. 
kita sampai di lokasi sekitar jam 12. yesss, sedang panas-panasnya.

but we love it there.
- tempatnya bersih
- ada atraksi tari-tarian nusantara yang bisa dinikmati. ada schedule tiap jamnya. Bumy suka banget nonton ini. "kita harus nonton sampai selesai!"
- ada Starbucks dan resto-resto lain yang bisa disinggahi untuk ngadem dan makan.
- ada opsi lain biar si bocah nggak ribut bilang bosen, yaitu main Segway.


dari sini, karena sudah di kawasan Uluwatu, kita pun melanjutkan wisata ke arah pantai Melasti demi melihat keindahan tebing-tebing, untuk kemudian menikmati sore di Sundays Beach Club.
nyari si sunday ini agak susah yaa - bisa jadi karena kita bluun meski sudah pakai Gmaps, atau karena pintu masuk ke sini ternyata dari tempat bernama The Ungasan Cliftop Resort - jadi seharusnya tempat ini yang kita tuju di Gmaps.

did we love it there?
- pantai dan fasilitas yang disedikan cocok buat aktiviti-aktiviti bocah seumur Bumy. 
- nice view. meskipun don't expect to catch the sunset karena ketutupan tebing karang.
- tangganya banyaaak bangettt... kita harus meniti ratusan tangga turun ke pantai. mending siapin selengkap mungkin barang dari mobil, jangan sampai ada yang tertinggal. cukup merepotkan buat bolak balik ke lokasi mobil diparkir.
- stafnya cukup friendly dan helpful. ketika gue minta tolong agar makanan Sam dipanasin, mereka sigap membantu, dan kita juga dicariin tempat duduk yang oke buat keluarga.
- in my opinion, makanan Indonesianya jauh lebih enak dibanding western dish (yang terasa keasinan buat gue).
- price-wise? $$$$$ banget buat kita hahahah. adults 400 rb/person, child 300 rb/person.

kita nongkrong cukup lama di situ (iyalah sayang udah bayar mihil xD) dan baru beranjak saat maghrib.

saat perjalanan balik, kita singgah sejenak di Gaya Gelato yang dilewati di jalan Uluwatu untuk menikmati aiskrim nan lezato. pilihan rasanya unik-unik. 
akhirnya kita baru check in di hotel jam 8 malam. udah lelah bangeeeet rasanya. dan sempat ngerasa
salah itineraty, haha. mungkin lain kali ada baiknya kita check in dulu di hotel dibandingkan langsung jalan-jalan. kali ini terasa lebih capek, euy. 

hari kedua.
we had our first breakfast at the hotel. dari segi rasa terbilang oke. tapi restonya memang rame, dan kebanyakan tamunya families with children. 

sepagian itu kita menjelajah kawasan hotel. ternyata di Hard Rock ada beberapa jenis kolam renang. ada sand island pool, ada chill out pool, lalu pool di mana ada perosotan untuk anak-anak. 

karena Bumy excited banget pengen mencicipi berenang, jadi pagi itu kita habiskan di hotel saja. baru saat mendekati jam makan siang, kita berangkat untuk kelayapan.
first stop adalah tempat makan nostalgia gue dan Adit: Be Pasih. 
10 tahun lalu, supir kantor Adit ngajak kita ke sini, dan kita terkenang-kenang banget sama rasa enaknya.
hidangan utama di sini (sesuai namanya in bahasa Bali) adalah ikan laut. rasanya khas, dan sambelnya lezat. minumannya juga seger-seger. 

mungkin karena kecapean main air, sesampainya di Be Pasih, Bumy teler dan malah bobok di mobil. 
gue juga cuma bisa mengelus dada karena hari itu Sam ngelepeh-lepeh disuapin makan untuk sesudahnya, mengunci mulut rapat-rapat. 

dari Be Pasih, kita sempat kebingungan mau ke mana. terpikir ke Ubud, tapi kok rasnaya udah kesiangan. 
mau main agak jauh ke Bedugul, tapi kok gentar, khawatir si bayi bosen di jalan. 
akhirnya kita melipir ke... pantai Petitenget. yang nggak jauh dan ada airnya sehingga menarik untuk bocah-bocah setidaknya. 
haha soooo not ambisyesss.
di Petitenget

Bumy tentunya seneng, karena buat dia yang penting bisa main air lagi. 
awalnya kita ingin nongkrong-nongkrong kekinian di seseresto kawasan Seminyak.. sebutlah Sea Vu Playlah, Sisterfieldslah, apalah apalah. 
tapi yang terjadi, kita lewatin aja resto-resto itu sambil melihat-lihat sekitar. the whole area felt crowded. dan entahlah, vibe-nya terasa terlalu "muda" buat kita yang nenteng-nenteng bayi. akhirnya dari pantai, kita pun mengarah balik ke hotel. Bumy yang emang udah kepengen main air LAGI di kolam renang hotel, seketika bersorak gembira. 
jadilah sore itu aktivitas kita hanya leyeh-leyeh di pantai artifisialnya Hard Rock. 
hotel ini emang bener-bener kid-friendly, sih. dalam sehari ada beberapa kali schedule acara buat anak-anak, biasanya di sand island pool. sore itu ada acara lomba dan kuis buat anak-anak yang lagi pada main di pool. lumayan well-organised dan seru. 
ini di chill out pool. ada jacuzzinya juga haha

menjelang sunset, kita jalan kaki ke pantai Kuta. pakai trik pesen teh botol 15 ribu per botol supaya bisa duduk di kursi plastik berpayung haha. di situ, Bumy dan Adit kembali main air, sementara gue planga plongo megangin Sam yang bobok. 
nurisss

di hari ketiga, kita sudah siap untuk berangkat lebih pagi dari hotel. 
we grabbed a quick breakfast, jam 9an kita cuss ke arah Ubud. 

our first stop is Pasar Ubud untuk beli oleh-oleh. 

singkat aja, kesan gue adalah harganya mahal-mahal banget. apa karena lagi rame turis mancanegara? nggak tau juga, tapi gue kerap terkaget-kaget saat nanya harga dan dijawab oleh penjualnya. harga yang disebut bisa sih ditawar, tapi gue malu sendiri karena jadi harus agak "tega" nawarnya. the initial price given didn't make any sense. 
kita dapat kain bali seharga 25 ribu (harga awal 100 ribuan). celana bahan ikat-ikat 80 ribu. tas bulat anyaman ala Raisa 120 ribu (harga awal 300 ribuan). daster. dan beberapa printilan lain. 
di tengah pasar ada penjual gelato. seems like a good choice karena hawanya kan emang gerah. tapi harganya wow, macam beli aiskrim di gerai mall. 
dari situ, kita makan siang di Bebek Tepi Sawah. we had a lovely feast there. suasananya enak. Sam pun bikin hati mamak tenang karena mau makan sampai habis. 

hari masih siang jadi kita memutuskan untuk bereksplorasi di sekitar Ubud. our next stop was air terjun Tegenungan. menemukan tempat ini nggak susah, tapiii ternyata untuk sampai ke depan waterfall, kita harus menuruni sekian banyak tangga yang cukup curam. 
turunnya sih nggak masyalah, tapi gue udah kebayang naiknya. 
semacam trauma sama tangga-tangga di Sundays Beach Club kemarin, gue dan Adit merasa cukup menikmati keindahan waterfall dari kejauhan saja. haha.
di bebek tepi sawah siang itu. oh!

mamak cukup jadi tukang foto



from Ubud, we headed to Sanur beach. tujuannya mau makan LAGI, kali ini di Makbeng. 
pantai sanur sih nggak bisa buat main-main syantik ya, apalagi pas kita sampai masih jam 3 sore dan teriiik banget mataharinya. tapi makanannya was soooo worth it!

selesai makan, kita menuju ke pusat oleh-oleh Kresna. di sini lengkap kap koleksi oleh-olehnya. dan ketika kita lihat harga-harga di sana, wowww jauh berbeda dari yang disebut di pasar Ubud. di sini lebih murah dan of course, kita nggak perlu nawar.

belum begitu lama di Kresna, Bumy udah rewel aja minta buru-buru balik supaya bisa main di kolam renang hotel lagi. kita tiba di Kuta sekitar jam 5 sore, dan nggak pakai mampir ke kamar lagi tapi langsung nongkrong di pinggir kolam renang. karena jarak dari kolam renang ke kamar cukup jauh. 

menjelang sunset, lagi-lagi kita jalan ke Kuta. waktu itu anginnya cukup kencang dan dingin, katanya efek musim dingin di Australia, sih.  

hari keempat, which was our last day in Bali. 
rasanya gimanaaa gitu.. kok inginnnya memperpanjang liburan xD
tapiii hari ini suhu badan Sam tiba-tiba meninggi. haiyaah. 

sepanjang pagi dan siang, kita nyemplung dan main-main aja di kolam renang hotel. 
makan siang di Yoshinoya. 
Sam menolak makan sampai sendok harus dipaksa masuk ke mulutnya. 
selama siang sampai sore, kita kelayapan di Beachwalk Mall. santai bangettt suasananya. hati pun jadi makin terasa berat untuk balik ke Jakarta, haha. Bumy bolak-balik ngomong minta "mau di Bali aja."
ih maunya juga gitu sikkk. tapi mamak bapak harus kembali banting tulang di Jakarta. 

well, hari itu pesawat kita berangkat sekitar jam 7. alhamdulillah Sam anteng walaupun masih demam. aahhh liburan kali ini terasa terlalu singkat. 
bottomline: we definitely would like to repeat our visit to Bali! 

dilukis di Beachwalk Mall :D
suatu saat di Kuta Bali kekekekk
seneng banget "ketemu" David Bowie!

yang bikin susah move on... the sky <3
susah moveon #2