25/01/2017

singapura tahun lalu (part 2)


(lanjutan dari celoteh di post sebelumnya.. hehe)

di hari keempat, kita menjelajah kawasan Serangoon. kita mampir ke NEX Mall untuk beberapa hal ini:

- Sushi Express. sebenernya chained resto ini tersebar di banyak tempat di Sg. keunikannya adalah di sini sushinya diklaim enak, dengan harga yang affordable. di resto ini, kita tinggal pilih sushi mana yang mau dimakan dengan cara nyomot dari piring-piring sushi yang berjalan di "rel" yang melintang di depan meja kita. setiap piring harganya SDG 1.50 aja (kalo ga salah). namanya juga resto sushi murah, di sini setiap customer dikasih allocated time, kalo nggak salah maksimal 1,5 jam deh. 
taste-wise, it was so-so. nothing really special. tapi lumayanlah, bisa makan sushi dengan harga nggak mencekik. 
oya kalaupun ada kiat yang bisa gue bagi, mendingan dateng jangan di rush hour macam jam makan siang atau malam. bakalan ngantri soalnya. kita aja tiba jam 11 yaitu pas saat resto akan dibuka, tapi udah menemui antrian. 

- hal lain yang bikin kita bela-belain datang ke sini adalah waterpark-nya. too bad ujung-ujungnya malah batal.. karena saat itu puanaasss banget, jadi kita larang Bumy main. 

source
- last but not least, adalah untuk menyambangi public library yang ada di dalam mall ini. siang itu kebetulan hari kerja/sekolah, dan mall dipenuhi buanyaakkk banget anak sekolah. mereka pada makan siang dan jajan di situ. di bagian rooftop di mana waterpark berada, gue liat ada banyak tempat bimbel. begitu masuk ke perpustakaan, wuih rame banget pengunjungnya. dan mereka beneran dateng buat duduk baca-baca, bukannya ngadem doang (kayak kita). demografi pengunjungnya sih mayoritas anak sekolah, dan... the elderly alias aki-aki dan nini-nini. I was at awe!

I could get used to this
aktivitas kita di hari keempat masih berlanjut. dari Serangoon, kita ke Mustafa Centre buat beli oleh-oleh. sempat mampir di mesjid yang historis gitu buat sholat dzuhur. kelar belanja di Mustafa, kita jalan kaki sampai ke Jalan Besar Road. sepanjang jalan ditemani pemandangan bangunan-bangunan bernuansa etnik nan colorful. 



tujuan kita salah satunya adalah ke Queensway Shopping Centre, yang katanya tempat belanja sport shoes dan pernak-pernik belanja lainnya dengan harga miring. begitu sampai, well, emang beneran segedung isinya berhubungan sama olahraga semua, sih, tapi kita malah nggak belanja apa-apa. 

tujuan berikutnya yang (kita kira) udah nggak jauh dari situ adalah ke Henderson Waves Bridge. tapi ternyata perjalanan kita ke sini antiklimaks abizzz. setelah sempat salah naik bis, kita turun di satu titik yang kita kira jadi tempat masuk untuk mencapai si jembatan. berhubung si jembatan ini bagian dari Southern Ridges Walk, alias hiking trail sejauh 5 kilometer yang membawa kita melintasi 3 taman gede, jadi agak tricky buat kita untuk nemuin tempat masuknya. culun bener dah!! akhirnya, tau nggak, saking udah LETIHnya nyari-nyari tempat masuk, jadinya kita memutuskan... cussss balik ke hotel. huahahhaha. auk ah. next timenya kudunya pagi-pagi kali, atau naik cable car dari Sentosa. 


the day didn't end there. setelah tepar mencari Henderson Waves Bridge, kita ngaso sejenak di hotel. trus kita sepakat buat makan malam di Newton Food Centre *pijet-pijet kaki*. 
emang udah lelah banget sih badan, tapi hasrat mencoba tempat baru masih menggelora. jadilah kita ngangkot lagi menuju lokasi - yang untungnya nggak terlalu jauh dari hotel. sampai di situ, suasananya 'meriah' dan festive banget. ternyata hawker centre ini andalannya sea food. jadilah kita berpesta pora makan.. mungkin di sinilah tempat makan paling enak selama kita di Sg. 


suasana Newton Food Centre malam itu




makan besaar <3

di hari kelima, highlightsnya adalah tour de museums. 

aselik museum di Sg kerennya maksimal. setengah hari dihabiskan dari museum ke museum, lalu kita makan siang di Just Acia yang lumayan ekonomis tapi enakkk. udah gitu es krim dan minumannya free flow, hehe. 







wearing his stickers proudly like badges
sesudah makan siang, kita meluncur ke arah Esplanade buat ikut-ikutan the locals nungguin kembang api hari kemerdekaan. tapiii... lagi-lagi hari ini trip kita antiklimaks. 

1) nyari Gardens by the Bay nggak ketemu. don't ask. x))))

2) kelelahan dan kepanasan nongkrong nungguin kembang api. seriously we couldn't stand the weather.
3) ke Marina Barrage buat piknik syantik sembari nunggu kembang api pun udah enggan... karena beneran deh kita LELAH. 

akhirnya kita melipir ke arah Orchard lagi... sempat ngaso di skatepark depan 313 Sommerset. just chilling... and peacefully letting go the chance to watch the fireworks, huhu. sesudahnya kita makan malam dan belanja di Cineleisure Orchard yang sepertinya sih tergolong tempat belanja bocah-bocah hipster Sg - diliat dari tipe barang-barang yang dijual. 


it's the last day of our trip. kita pun nggak seambisius hari-hari sebelumnya, jadi itinerary cuma untuk mampir ke ArtScience Museum to see the magical Future World Exhibition. 

















mengingat kembali trip kita di 2015, wishlist gue waktu itu adalah kepengen mengunjungi


  • more parks - alhamdulillah tercapai, bisa mampir ke SBG. tapi tetep penasaran sama Marina Barrage dan Henderson Waves Bridge, hehe. 
  • more 'cute' bookstores - kepengen mampir lagi ke Tiong Bahru tapi nggak sempat. 
  • Holland Village - lagi-lagi GAGAL mengunjungi Dempsey Hill karena kaki sudah sangat, sangat tepar (yes, we walked and ngangkot a lot there). padahal kita udah lumayan deket dari lokasi. 
  • Gardens by the Bay maybe? - gagal maningson. 
  • and museums, I guess. - alhamdulillah, yang ini kesampean. 
I love this city more than I can explain. semoga someday Jakarta beneran bisa mengimbangi keteraturan di Sg. dan tentunya, semoga tahun ini kita bisa 'absen' lagi ke Sg, maybe for another week or two, hehe. Aamiin... 

capek ngangkot ya, Bhum? isn't it a privilege? :)

24/01/2017

singapura tahun lalu (part 1)


kemarin gue baru mengunggah foto-foto selama di singapur ke FB. 
sebenarnya males sih terlalu 'aktif' di platform tsb… terasa kurang bebas, mungkin akibat terlalu banyak sodara yang bisa 'mengintip' kehidupan gue di situ. 
tapi kok ya sayang kalau foto-foto itu ngendon aja di hape? gue memperlakukan FB sebagai album foto online. saat ini, bisa membuka ulang foto-foto bumy waktu masih balita tuh rasanya beruntung banget. karena foto-foto itu diambil pakai hape lama, yang sekarang mungkin udah nggak bisa dinyalain karena chargernya entah di mana, atau hapenya sendiri mungkin keselip dan nggak disentuh lagi. sementara gue juga nggak tau backup foto-fotonya ada di mana… 

jadi, gue ambil risikonya deh, untuk dianggap oversharing, demen nyampah, atau bahkan mungkin doyan pamer haha. I simply want to be able to find these photos easily when I want to remind myself of the moment.

oke cukuplah ya justifikasinya. 
kembali ke soal plesir ke Sg tempo hari, sembari mengkurasi satu demi satu foto untuk ditampilkan, mau nggak mau gue jadi mengulas perjalanan tersebut. 
the trip was indeed enjoyable. gue rasa kita punya cukup waktu untuk menjelajah Sg. banyak tempat yang, bukan cuma bisa dikunjungi, tapi juga dinikmati. 

di hari pertama, kita ngider-ngider impromptu ke Vivo City, cuma buat ngajak Bumy nyobain playground, watching the locals on a Friday night, dan menikmati aroma laut di sore hari dari pinggir dermaga.

hari kedua, kita main agak jauh ke Singapore Discovery Centre dan National Army Museum yang berada dalam satu compound yang sama. the trip was kinda tiring, buat Bumy maupun kita. to be honest, gue merasa cukup sekali aja menyambangi tempat ini. just to tick it off our itinerary. cuma ya berhubung Bumy suka hal-hal berbau ke-tentara-an, bagi dia tempat ini super fun. 


di SDC. dia beneran lelah.. haha
hari ketiga, kita ke kawasan Chinatown. ada tiga tempat baru yang kita sambangi, antara lain the Red Dot Design Museum, URA Centre, dan Maxwell Food Centre. mari ditelaah satu per satu. 

  • Red Dot Design Museum: bayar. dan sesungguhnya khalayaknya segmented banget, yaitu mereka yang memang berkiprah di bidang desain (produk, grafis, dsb). buat kami yang kaum jelata, jadinya nggak nyambung blas sama yang dipamerkan di sini. as pathetic as it was, kita cuma jadiin tempat ini sebagai sasana ngadem, dan.. what else, berfoto-foto. darn tourists! haha… 


  • URA (Urban Redevelopment Authority) Centre: this places is located just across the Red Dot Museum. gue tertarik ngajak Bumy berkunjung karena terlihat sangaat sangaaaat menarik kalau ditilik dari postingan yang diunggah oleh mereka yang masuk ke dalamnya di Instagram. the sad thing is, we couldn't get inside the place because it was closed at the time of our arrival! padahal, Bumy kayanya akan  suka banget sama apa yang ditampilkan di sini, seperti rupa-rupa maket, display tata ruang urban, dan berbagai inovasi desain. gue pernah ngajak Bumy ke pameran arsitektur anak UI gitu di Galeri Nasional, and he went ballistic! maaf ya nak kali ini cuma bisa liat dari luar, huhu… tapi ada aja bright side yang bisa ditemukan. kebetulan di pelataran URA Centre saat itu disediakan semacam tempat bersantai - yang sangat ramah bagi anak dan warga kota (the entire point of this place exactly). tempat ini merupakan perwujudan program Our Favourite Place, yaitu sebuah program "that supports projects initiated and implemented by the community to enliven public spaces across Singapore to build community interactions and create shared memories." (source)
he's so excited!



keren 'kan?!
di area Our Favourite Place tsb disediain kursi-kursi, dan beberapa piano yang bebas dimainkan (yang ini perwujudan projek kreatif berjudul Play It Forward). 
yaudah deh, ngeliat piano, otomatis gue si #ibubijak kepikiran buat nyuruh Bumy latihan.. hahaha. lumayan banget kaaan, lagi jalan-jalan tetep bisa latihan, gratis pula. 
  • Maxwell Food Centre: well, it's just another hawker centre. tapi konon tergolong recommended, lagipula letaknya bener-bener selemparan batu dari URA Centre. gue menemukan daftar makanan halal yang bisa dicicip di blogpost ini
sambil makan, gue liat-liat peta dan menemukan kalau hendak ke Singapore Botanic Garden, kita bisa menuju MRT station terdekat dengan melintasi Ann Siang Hill terlebih dahulu. why missed it? 
jadilah kita berjalan santai di siang menjelang sore itu sambil disuguhi pemandangan indah bangunan-bangunan cantiks sepanjang Ann Siang Hill Road dan Club Street
"Just a little outside of the main Chinatown area, the interconnected enclaves of Ann Siang Hill and Club Street have pretty much everything, from trendy bars and intimate restaurants to chic boutiques and even a hidden green space for a quiet night time stroll after all that indulgence. Here’s our ultimate guide to eating, drinking, shopping and partying in this hip part of town (which is conveniently close to Singapore’s CBD)."(source)

Ann Siang Hill



another highlight from the third day is our next destination that day, which was the Singapore Botanic Garden (SBG). we spefically chose that day karena hari itu akan digelar konsernya Singapore Symphony Orchestra di tengah taman. bertempat di Shaw Foundation Symphony Stage, we would be enjoying classical music that afternoon. next time kalau mau menjelajah SBG lagi, I will keep in mind to bring alas tikar yang agak lebar, lotsa drinks and beverages, dan obat oles anti nyamuk, hehe. 



ohh I felt so civilized and cultured, haha. 
and here's some random pics...
at the Killiney Kopitiam's headquarter
watching buskers at Orchard Road

19/01/2017

EoH: Toastmasters

udah 2017 tapi masihhhh bahas 2016 aja... gagal moveon much, huh?
sebenernya murni alasan teknikal aja sih, yaitu karena gue nggak kunjung sempat (baca: males) menuangkan hal-ihwal kejadian 2016 di blog. I've learned that it's not healthy, to just let moments in life pass me by. mengurutkan dan menceritakan ulang apa-apa yang gue alami dan rasakan sebenernya paling membantu gue untuk menata pikiran dan hati. 
bisa dibilang ini 'kebutuhan' tipikal seorang outgoing introvert, buat menggali hikmah dari ini dan itu. because I just like to keep working on myself. 

well, kali ini gue mau mengingat-ingat lagi apa aja hal 'baru' yang gue cicipi di 2016. gue berharap bisa menemukan semacam pola sih dari paparan ini... thus I know better how to improve myself. 
let's start from

- kenal, dan lalu ikut jadi member Toastmasters
ini nih, kegiatan positif yang paling mewarnai 2016 gue. what is it?? gue juga dulu bertanya-tanya begitu. apaan sihhh ini, kok namanya aneh? jangan-jangan MLM?

jadii, suatu hari sahabat gue di kantor, Wieke, ngajak "tan, ikutan toastmasters, yuk!" 
karena gue 80% yakin doi bukan tipe yang berkecimpung di dunia MLM, maka pas Wieke cuma ngasih jawaban "udah, pokonya ikut dulu aja tan, biar tau," gue pun manut aja.
ternyata setelah gue ikutin, kegiatan ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan toast atau roti panggang, heeu... 

ditelaah dari wikipedia, Toastmasters International adalah organisasi nonprofit yang sifatnya edukasional, yang tujuannya membantu para anggotanya untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, public speaking, dan juga leadership. 

kalau gue jelasin dengan bahasa bodoh, di Toastmasters ini kita cuma perlu dateng, dan ngomong. 
kebetulan club TM di kantor gue memakai kurikulum bahasa inggris, jadi manfaatnya jelas banget buat gue, ya untuk melatih lidah terbiasa berucap dalam bahasa inggris, juga melatih pikiran buat menyusun omongan in english. 
ini tantangan bangetttt buat gue. per-bahasa-an is definitely one of my passions, I love learning about it. tapi gue cuma terbiasa mendengar dan menulis in english, bukannya berbicara. gue kerap merasakan lidah gue kelu kala harus bertutur dalam bahasa enggris. gagap, bingung mau ngomong apa. kalau nulis bisa deh sok-sokan jadi grammar nazi, tapi pas ngomong? ke laut aja tuh grammar semua. besides, there's a safety net in writing, because you can edit what you're saying. it's a whole different thing when it comes to speaking. 


source
dalam setiap Toastmasters meeting, ada sesi yang disebut Table Topic. di sini, kita dikasih topik atau pertanyaan secara impromptu alias dadakan (yang biasanya terkait tema meeting kali itu). bukan cuma harus bisa "menjawab" atau ngarang speech yang nyambung sama pertanyaan dadakan tadi, kita juga dikasih batas waktu untuk ngomong, yaitu selama 2 - 2,5 menit doang. 
menantang banget, bukaaan, untuk bisa mengutarakan gagasan dalam waktu singkat? omongan kita pun harus 'juntrung' - lebih bagus lagi kalau terstruktur dan menarik. tapi, semakin susah, semakin nyenengin juga buat gue. I totally enjoy the stuggle to find the answer, or to compose something worth speaking about. 

jangan lupa, di sini kita ditonton.. hence the *public* speaking. 
jujur yah, gue itu grogian banget. grogian parah. sobat-sobat masa SMA tuh tau banget gimana gue yang talkative bahkan gak tau malu ini bisa berubah kicep begitu disuruh tampil di depan khalayak. 
melalui Toastmasters, gue belajar sesuatu tentang diri gue sendiri. 
sesuatu yang baru disadari... padahal udah lama dirasakan. 
bahwa gue nggak mau making a fool out of myself in public, or in short, gue ini jaim-an banget. mungkin karena ego gue terlalu tinggi ya... atau gue somehow menikmati pakai topeng yang berbeda-beda. almarhum sahabat gue, Weich, pernah bilang, "Lo tuh anak bandel yang pandai berkamuflase jadi anak baik-baik, tau gak, Chom." and I guess that is somewhat true. gue nggak mau membiarkan diri gue yang "sebenar-benarnya (if there's such thing)" diketahui oleh orang yang berada di luar lingkaran nyaman gue. it could be people I'm trying to impress, teachers, colleagues, relatives, strangers, or even my own parents. 
I was afraid. and I realized that my shame comes from fear. the fear of being judged, and the fear of being rejected. 

balik ke Toastmasters, gue merasa seseorang harus benar-benar datang dulu buat tau sendiri gimana atmosfer membangun dan saling menolong begitu terasa di sini. because there, you are ALLOWED to make mistakes. you are allowed to have flaws.. to say the wrong things.. because making mistakes gives you the chance to learn. 
isn't that beautiful?

dari pertemuan demi pertemuan Toastmasters yang hadiri selama 2016, gue jadi sadar kalau speech yang paling 'menarik,' adalah speech yang 'jujur.' you can always tell the difference, I believe. 
terasa banget bedanya ketika seseorang ngomongin tentang what he/she knows, atau how much he knows about something, dengan what he/she feels, believes, likes, yearns, or experiences. those things come from the heart, and it's ALWAYS interesting. their face will light up, they will talk out of enthusiasm, and they make other people want to listen. 

I guess Toastmasters does more to me than just improving my ability to speak in english... it makes me realize, that when I open up, I become better. 
speaking in front of people gives me the chance to allow myself to make mistakes. to accept correction and suggestion. and ultimately, to allow myself to be ME, to like me for who I really am. which is a person with sooo many rooms for improvement. and that is totally okay. 

wajar dong ya, kalau gue ketagihan? 

hhh, nggak kerasa ngocehin soal toastmasters udah cukup buat jadi satu entry sendiri. 
sebelumnya gue pernah bahas juga tentang gimana "kurikulum" leadership di toastmasters disusun dengan sedemikian KERENnya di blogpost ini. atau tentang gimana toastmasters meeting selalu kasih insight dan bikin hati tercerahkan, in its unique, supportive, ways, di blogpost ini

last but not least, I met some of the most interesting and inspiring people in my office through this club. 
ada bu Attie yang udah mau 70 tahun tapi masih getol banget belajar, meng-improve diri, dan menebarkan semangat itu ke orang lain.
ada pak Anggoro yang SUPER DUPER keren (wrote about him the other day). 
ada Ikkuyo yang native Japanese (she teaches us to be on time and polite and respectful), dan berusia di atas 50 tahun, tapi masih wara-wiri untuk jadi mentor klub kita tanpa dibayar(!). 

just like an interesting - and inspiring - speech, it's not because they're such perfect people. not at all. but it's their enthusiasm, truthfulness, and sincerity to be themselves and in giving feedback for others that make other people feel accepted and, therefore, improved around them. 

Toastmasters obviously brings me to a higher level in terms of skills, and also in terms of personal maturity.
kalau ada yang berminat ikutan Toastmasters mungkin bisa Googling "Toastmasters club in Jakarta" ya untuk menemukan club yang cocok. club di kantor gue kebetulan hanya untuk internal, hehe, but maybe we could collaborate through club visiting activities. 



09/01/2017

EoH: the new

beberapa waktu lalu, sesudah Toastmasters meeting, tanpa direncanakan gue berkesempatan makan siang bareng pak Anggoro. yes, THE pak Anggoro. have I mentioned him in this blog?

beliau ini tergolong senior leader di kantor. but he's completely different from the rest (of his kind). not only he's a PhD graduate, he's also inspiring dalam arti yang sebenar-benarnya (ini perlu penjelasan because at the office, the term is often used cynically).
he inspires us - the youngsters especially, yang memang haus akan sosok senior yang mengayomi dan menumbuhkan (bukan cuma mengeksploitasi), with his positive attitude, humility, and the way he leads by example.
has my explanation given enough preview of how "VVIP" he is?

nah, waktu maksi itu sebenernya kita berempat, tapi semesta mengatur dua orang lainnya beli makanan agak lama. jadi tinggallah gue menunggu di meja yang sama dengan beliau. tiba-tiba dia ngomong gini,
"what's new with you, Ris?"
agak kaget dengernya, rasanya kayak ditodong table topic session (a very toastmasters joke it is). saat mau jawab, pikiran blank... jadi gue cuma cengar-cengir. "ah gini-gini aja, pak."

tapi mungkin si bapak diam-diam punya skill sebagai curhat-magnet ya, karena ujung-ujungnya gue menemukan diri gue curhat soal dilema pekerjaan yang dihadapi. well, saat maksi itu kebetulan beberapa hari sebelumnya gue baru saja secara resmi menolak job offer di NGO yang gue sebut-sebut tempo hari. di tengah masa-masa 'sulit,' atau pas masih kebingungan mau nolak apa nggak, gue sempat kepikiran buat konsultasi sama pak Anggoro sebenernya. cuma yaah... karena satu dan lain hal, rencana itu nggak terwujud.
lucunya, kesempatan yang hadir justru buat curhat sama beliau setelah gue mengambil keputusan. I told him about what went through my mind... kekecewaan gue sama gimana talent management diimplementasikan di kantor, ketidakmampuan gue mengikuti 'arus' di kantor, pandangan gue terhadap masa depan gue di perusahaan ini (which is, unquestionably, surem), dan hal-hal sejenis.... he listened to me, attentively. dan nggak menyanggah apa-apa yang gue utarakan.
and I guess that was... sufficient. our conversation confirms my surmise, about what to expect if I had chosen to stay in the company.

sekarang ini masa kerja gue udah 6 tahun lebih. posisi masih gini-gini aja, seorang cengceremen. tapi to be honest, gue nggak punya secuil pun ambisi untuk meraih lebih dari itu, di sini. because I know what it takes to step up the ladder, and I don't have it.
kalau gue lihat keadaan sebagaimana adanya, sekarang ini di kantor gue seperti seorang veteran, yang nggak naik-naik kelas meski udah bertahun-tahun bersekolah. haha!
di kantor ya seperti itu keadaannya: gue kerap menjadi pihak yang ditinggalkan. entah ditinggalkan teman-teman di tangga karir, atau ditinggal rekan-rekan kerja (yang sekarang kebanyakan jauh lebih muda) mendulang rejeki di sumur lain.

I don't really mind. honestly.
kalau diingat niat awal kembali ngantor, selain ada income tetap yang jumlahnya lumayan, juga buat ngisi waktu sembari nunggu anak bersekolah. benefit lain ada yang disadari kemudian, kayak jadi nggak kesepian karena bisa bersama banyak orang di kantor (hal sepele tapi ternyata memberi suntikan energi buat gue yang outgoing-introvert ini). atau dapat temen-temen baru yang asik, yang bisa diajak makan siang bareng sambil ketawa-ketiwi. atau sesepele alasan untuk bangun dan mandi di pagi hari. gue mensyukuri semua itu.
mungkin rejeki gue di kantor ini diberikan Allah dalam wujud semua benefit tadi, alih-alih jabatan mentereng dan income yang lebih besar.

pilihan gue untuk melaju di jalur lambat di kantor memungkinkan gue untuk bisa melalui hari dengan santai, dan beban yang, sejauh ini, lumayan tertahankan. tapi perasaan jenuh dan bosen (dan muak dan hopeless) tetep aja kadang muncul, sih. waktu gue curhat ke seorang dedek di kantor, tak dinyana dia ngasih gue 'wejangan' yang lumayan bikin tersadar. dia bilang, magabut itu nggak sama dengan nganggur. hehe. jadi, nikmati aja keleluasaan waktu yang masih dimiliki. justru bisa jadi kesempatan juga untuk memperluas hidup sampai menembus dinding gedung kantor.
as cliché as it may sound, well.. sometimes I just need to look at the bright side.

source
untuk tahun yang baru ini, harapan gue nggak muluk-muluk. gue cuma pengen bisa menjawab kalau lain kali dapat kesempatan ketemu pak Anggoro dan diberikan pertanyaan yang sama,
"what's new with you, Ris?" jawabannya akan berupa either one or some of these statements
- I'm pursuing a masters degree in media and communication, pak,
- I'm thriving to run a half marathon AND a triathlon, pak (dream big, right?!),
- I'm half the way to obtain my DTM (Distinguished Toastmaster) level, pak,
- I'm busy juggling between the office and my volunteer work in children's education, pak,
- I'm taking a vocal course, pak, and preparing to enter my band to Fuji Rock Festival's lineup,
- I'm planning for my pilgrimage with the family, pak,
- I'm expecting my second child, pak (o really? haha!),
- I'm scheduling my early retirement while establishing my digital-based business, pak.
insya Allah.

kalau diliat lagi sih, nggak satupun harapan di atas menyangkut urusan di kantor. haha.
tapi yahhhh, kalau menyadari apa kebutuhan jiwa, sesungguhnya it doesn't really matter apapun jawaban gue. yang terpenting adalah gue bisa melalui hari-hari dengan nyaman di kantor, di rumah, atau di manapun, karena kebahagiaan di jiwa ini nggak "terampas" apapun yang jadi ketetapan Allah SWT.

27/12/2016

EoH series: the walk

source
jalan kaki sore-sore, sepulang ngantor, bisa dibilang jadi aktivitas favorit gue akhir-akhir ini. 
I try to do it every day, if possible. 
jarak tempuhnya nggak jauh sih, palingan bayar di bawah 10 ribu perak kalau naik ojek aplikasi. tapi kesempatan buat bergerak dan (sedikit) berkeringat, sambil menyesap suasana sore hari, itu yang bikin gue ketagihan melakukannya. 

waktu baru mulai memilih jalan kaki dari kantor, niatnya sih cuma supaya badan ini nggak mager-mager amat. paling tidak efektiflah buat mengurangi rasa bersalah gue setelah seharian duduk manis di depan laptop selama 8 jam. 

tapi semakin sering dijalani, this afternoon walk gradually becomes a necessity for me. gue jadi menemukan celah-celah lain yang bisa dinikmati, contohnya: I can be alone with my own thoughts. 

alone time ini makin gue sadari jadi kebutuhan jiwa gue. sebagai orang yang ngaku-ngaku "an outgoing introvert," gue mendapat suntikan energi dari interaksi dengan orang-orang yang 'mengelilingi' gue. 

tapi seolah buat mengimbangi kondisi terekspos ke 'luar' itu, gue tetep perlu momen buat balik lagi ke 'dalam.' (mungkin karena itu dulu gue bisa selon aja melewati macet sambil nyetir sendirian sepulang kerja dari Priok, karena yaa jadi bisa dapet alone time.)  

meskipun begitu, kadang sambil berjalan sendirian terlintas keinginan untuk ditemani. random aja sih.. kepengen punya temen ngobrol a la before sunrise/set, haha. I dont know. maybe just for the sake of having a friend around. keinginan ini nggak pernah terwujud. at least sampai sekarang. tapi dari situ, ternyata gue bisa belajar sesuatu. 


suatu hari, gue janjian minta dijemput sama pak supir di kantor. sayangnya, sore itu traffic nggak masuk akal banget, mungkin karena hujan seharian, supir gue nggak kunjung sampe di kantor. daripada nunggu tanpa kepastian, gue bilang ke dia buat langsung ketemuan di kantor Adit aja, jadi nggak makin buang-buang waktu. 


waktu itu, gue lagi bener-bener nggak mood buat jalan kaki. badan lagi kerasa capeeekkk banget. udah nyoba nyetop taksi beberapa kali, tapi nggak dapet-dapet. trus tau-tau gerimis! dan seolah untuk membuat gue semakin males jalan, footwear gue saat itu cuma sepasang sendal tali-tali - yang tentunya kurang cucok yaa buat berbecek-becek jalan kaki.


to make things worse, entah kenapa sore itu gue kegenitan bawa laptop pulang! daannn karena kepalang yakin bakal dijemput supir, hari itu gue bawa handbag - alih-alih backpack macho seperti biasanya. 

what are the odds??
tapi apa mau dikata? I had to walk the walk. 
I totally wouldn't mind had the circumstances been better. but maybe sometimes you just had to improvise. 
jadi mulailah gue melangkah, dengan agak terseok-seok karena sendal tali-tali sok cantik gue itu alasnya licin dipakai jalan menembus becek. 

sepanjang jalan, yaudah sibuk ngeluh-ngeluh dalem hati. 

tapi nggak lama kesadar sendiri sih, I was just making matters worse, haha... tas tetep aja berat, kaki tetep aja pegel, kebahagiaan terampas pula. rugi banget 'kan! jadi, abis itu gue coba mencari hal yang bisa dienjoi-enjoi-kan saja. hal-hal seperti I wasn't even in a rush. walking might've done me good. plus keinget kata-kata di tafakur, "Allah memang memberi ketidaknyamanan, tapi Dia tidak pernah memberi keburukan." 
segitunya yah!

setengah perjalanan udah ditempuh, sampailah gue di putaran jalan sebelum masuk kawasan SCBD. karena harus nyebrang, jadi gue berhenti dulu sejenak untuk perhatiin mobil-mobil yang lewat. 

di tengah atensi liatin mobil, gue sempat notice eh ada yang mirip mobil gue . tapi berhubung mobil gue pasaran banget, jadi nggak terlalu geer. sampai lalu gue perhatiin plat nomornya.. eh kok 3 hurup belakangnya sama? tiba-tiba mobil yang gue perhatiin itu bunyiin klakson. otomatis gue liat yang nyupir dong. ndilalah... supir gue o__O
bok, pas-pasan banget! 

padahal sepanjang jalan kaki gue udah nggak koling-kolingan lagi sama doi (mahzab '80an banget). 

I. was. stunned. 

yang pertama terlintas di pikiran adalah ini:

betapa Allah memberikan gue apa yang gue BUTUHKAN.
exactly. precisely. 
not the 'sugary' things I've been wanting. not the cherry on top. not the unneeded embellishment. He gives me things I really, truly, need. fullstop. 

isn't that something?!

 "Allah memang memberi ketidaknyamanan, tapi Dia tidak pernah memberi keburukan." 
I'm glad I walked the walk that afternoon, because who could've guessed, something priceless was wrapped inside that walk: a lesson. 

26/12/2016

EoH series: the epiphany

so, I mentioned about this so-called series of writing for my blog, called the Enlightenment of the Heart (EoH). rasanya sayang aja kalau apa-apa yang sempat mampir di hati nggak dituangkan di sini. karena, buat gue pribadi, achievement nggak melulu diukur dalam bentuk perubahan secara fisikal. transformasi mental dan segala usaha yang menyertainya, juga bisa dianggap pencapaian. malah mungkin itu yang beneran matters. 
well, for a start, because it's December (still), which happens to be my birthday month as well, I'd like to ramble about stuff relating to the occasion. 

yes, I've turned 33. bukannya nggak bersyukur, tapi gue nggak lagi terlalu menandai ultah sebagai momentum yang sebegitu bermaknanya. mungkin ini lazim ya setelah melewati usia 30. you don't expect that many milestones, nggak kaya waktu masih 20an. ada momentum first cool job, first serious relationship, first marriage (haha), first pregnancy, first-time parenting, dst. 
sekarang? yah not that there is nothing I'm looking forward to; masih adalah keinginan untuk mewujudkan first time haji, first time jadi home owner (not loaner haha), nyunatin anak, and so on - tapiii.. (mungkin) sensasi pencapaiannya nggak sebegitu meletup-letupnya. perhaps it's because, as you get older, things don't feel as special as they used to be, and you yourself also no longer feel *that* special. moments are just moments, they fleet by, they pass. 
   
nah, karena pemaknaan akan ultah yang nggak segitu sensasionalnya itulah, gue nggak really expected anything. nggak ada rencana khusus untuk diri sendiri dan keluarga kecil. diinget ultahnya syukur, nggak juga ndak masyalah samsekk. 
di pagi hari ultah itu, begitu terbangun dari tidur, gue cek hape dan menemui ucapan ultah pertama. dari syapakah? ternyata bokap. 
mungkin itu biasa aja, ya. secara dialah (salah satu) orang yang membawa gue hadir ke dunia. tapi entah kenapa hal itu membuat seperti ada yang terhimpit di hati gue, dan himpitannya membawa kaca-kaca ke bola mata. tiba-tiba gue disadarkan, oh such a great time it is to be alive. 
everyday is, actually. 
kesadaran itu seolah membuka pintu di hati gue, yang bikin gue merasa bersyukurrrrrrr banget. it IS a special time; sungguh waktu adalah rejeki tertinggi… Alhamdulillah gue masih diberi kesempatan untuk diucapin selamat ultah sama bokap gue. Alhamdulillah I still have both of my parents around. 

sekitar setengah jam kemudian, nyokap nelpon, juga untuk ucapin selamat ultah. nggak tau kenapa, kayak ada switch yang ditekan bersamaan di hati kita berdua, karena di tengah ucapannya, gue tiba-tiba merasa trenyuh banget - padahal ucapan nyokap standar-standar aja - dan nyokap pun tau-tau mewek! haha.. maybe we are melancholic creatures, but I believe at that moment, the same realization touched our hearts. kesadaran bahwa laku sesederhana mengucapkan selamat ultah ini sejatinya sangatlah berharga… ya, karena hal ini belum tentu bisa terulang! 
:'))))) ya Allah gue jadi trenyuh lagi… 

source
segala puji bagiMu ya Allah… saat itu, gue merasa kayak dipersembahkan HADIAH yang berhargaaaaa banget dari Dia… kesadaran yang tiba-tiba hadir itu, gue percaya adalah wujud cintaNya. 
setelah itu, seolah agar kesadaran itu benar-benar tertancap di hati, Elmo berkata dalam ucapan ultahnya, 
"Chomey… Semoga hari ini penuh berkah ya. You are loved and blessed."

:')
sometimes, this fragile self needs to be reminded, again and again. 
I AM special. this moment IS special. 
terima kasih banyak ya Allah… 

meanwhile, other notable moments that I remember from that day were
- Adit ngucapin selamat selagi gue nongkrong di toilet. haha. dia ngelongok ke kamar mandi dan bilang "hepi bersdey ya mah," atau semacam itulah xD guess this is how an #oldmarriedcouple does it. 
- hal pertama yang Bumy ucapin begitu kebangun (masih di kasur), "mama hari ini umurnya udah TIGA TIGA ya?" 
- sampe di kantor, dicurhatin sama sese-dedek yang lagi melalui breakup. dia belum sadar gue ultah, jadi kita sibuk deh tuh ngebahas the guy who broke her heart. begitu tau gue ultah gara-gara adeee ajeee yang ngucapin di grup kantor, dia langsung meluk gue dan bilang "yaampun mba riska ultahnya bareng sama si X!" a.k.a. the guy she's been venting about!! hahahahah mungkin ada #hikmah yang terselip dalam kebetulan itu?? entahlah.  

tapi, somehow dari kejadian breakup si dedek, gue jadi dapat semacam pencerahan. 
entah gimana gue jadi kepikiran tentang gimana budaya atau lifestyle masa kini yang cenderung "sekarang-centris" alias cuma peduli sama SAAT INI. walhasil manusianya (me included) jadi cuma fokus pada usaha mengejar kesenangan sesaat. atau obat instan. atau apapun namanya yang bisa segera dinikmati. dan ini terasa bukan cuma di skala personal, tapi juga dalam skala besar. terlihat dari gimana banyak industri yang nggak peduli sama kondisi bumi yang seharusnya jadi legacy untuk generasi selanjutnya. gimana bisnis cuma peduli sama gimana biar untung untung untung duit duit duit, tanpa mikirin kualitas jualannya. kok "kita" nggak belajar dari sejarah… gimana dulu bangsa Romawi dulu unggul dan menguasai dunia tapi bisa ancur juga. 
generasi yang sekarang ini lagi bisa berjalan di muka bumi kayak nggak sadar kalau kita ini cuma generasi kesekian dari sekian ribu generasi yang sudah dan mungkin akan datang kelak. we are only, simply, a tiny blip in the universe! it (our lives) doesn't really matter, yet it also really totally matters. 
why? there is a perfect answer to that, something I read about in Rookie actually. let me quote:
"if your life is just a teeny tiny blip on the radar, the only meaning it has is what I give it, and the only person it needs to mean anything to is ME." (source)

it came to me like an epiphany.
gue tiba-tiba tersadarkan, kalau gue ada di sini, for a while on earth, for a reason. pasti ada manfaatnya. mungkin bukan buat diri gue sendiri, mungkin buat generasi ratusan tahun ke depan, apapun itu, it doesn't matter. what matters is gue yang harus kasih makna buat hidup gue sekarang. 
dan lucunya… kesadaran yang tiba-tiba ini membuat gue merasa kalau segala ambisi duniawi yang gue rasakan nggak lagi begitu penting. keinginan untuk dikenal, dikenang, dirayakan, atau apalah… yang penting cuma: enjoying my TIME on the planet as fully as possible… and make the best use of the time I have… each and every day. 

it was undoubtedly the best thing that could've happened, on my birthday. 



*"epiphany" (noun)

a moment when you suddenly feel that you understand, or suddenly become conscious of, something that is very important to you - source


20/12/2016

december specials: EoH

"let me photograph you in this light, 
in case it is the last time that we might be exactly
like we were before we realized
we were sad of getting old, it made us restless
it was just like a movie, it was just like a song
when we were young..."

kata-kata di lagu ini, mau nggak mau bikin gue teringat masa muda. dan Weich. of course, my youth had Weich in it. in almost every moment. 

masa muda benar-benar rasanya berlalu kaya ditiup angin dalam sekejap. 
how can those years be so short? can't I have a say in this violent roll of time?
i remember how it felt when I was just turning 24.. it's like I had a big space to do stuff, unlimited time, and vast choices. 
trus tau-tau sekarang udah 33.  
dan trus tau-tau I'm on my own, without Weich... 

alhamdulillah tahun 2016 ini gue dikasih kesempatan oleh Allah untuk melalui banyak hal... ulang tahun gue, Bumy, Adit, dan keluarga. ulang tahun pernikahan yang ke-sembilan (dear Lord!). another year with both of my parents. another year to make mistakes, and to learn... truly, Allah memberi gue pelajaran dalam bentuk kehilangan. kehilangan mertua, kehilangan sahabat, ditinggalkan rekan kerja. 

it feels like I've lost so, so much. 
yet gained so many treasures as well...

and now, December is here again. the countdown to the new year has been started... 

what have I learned thus far?
about myself? about people around me? about love, life and death?
have I changed? or am I merely becoming a truer version of myself?

saking udah lamanya nggak n̶u̶l̶i̶s̶ meracau di blog, gue jadi bingung mau mengulas tahun yang nyaris akan berlalu ini dari mana. kalau Nazura Gulfira pernah bikin serial Reproduction of Happiness (ROH) di blognya untuk membahas hal-hal yang membuat hatinya senang, gue jadi kepikiran untuk membuat semacam serial juga. 

mungkiiin... untuk berbagi tentang hal-hal yang berkesan banget bagi gue di tahun 2016 ini. mohon maklum kalau bahasan di serial itu singkat dan acak. karena tujuannya cuma buat mendokumentasikan stream of thought dan semata-mata 'tuk mengajak hati ini bicara, sih. ahahah... 

apa ya sebutan untuk serial ocehan itu? 

how about... "Enlightment of the Heart" series.
mungkin bagi orang lain apa-apa yang gue celotehkan akan terkesan biasa-biasa aja, tapi bagi gue, membukakan mata hati dan pintu pikiran. 

we are only young once. maybe one day I'll look back at these things bothering my mind and laugh them off. but I believe the real treasure lies in the process. in the way those thoughts transform me into someone who can recognize my own potential, and settle into who I am, and make life work for me. 

maybe.