09/01/2017

EoH: the new

beberapa waktu lalu, sesudah Toastmasters meeting, tanpa direncanakan gue berkesempatan makan siang bareng pak Anggoro. yes, THE pak Anggoro. have I mentioned him in this blog?

beliau ini tergolong senior leader di kantor. but he's completely different from the rest (of his kind). not only he's a PhD graduate, he's also inspiring dalam arti yang sebenar-benarnya (ini perlu penjelasan because at the office, the term is often used cynically).
he inspires us - the youngsters especially, yang memang haus akan sosok senior yang mengayomi dan menumbuhkan (bukan cuma mengeksploitasi), with his positive attitude, humility, and the way he leads by example.
has my explanation given enough preview of how "VVIP" he is?

nah, waktu maksi itu sebenernya kita berempat, tapi semesta mengatur dua orang lainnya beli makanan agak lama. jadi tinggallah gue menunggu di meja yang sama dengan beliau. tiba-tiba dia ngomong gini,
"what's new with you, Ris?"
agak kaget dengernya, rasanya kayak ditodong table topic session (a very toastmasters joke it is). saat mau jawab, pikiran blank... jadi gue cuma cengar-cengir. "ah gini-gini aja, pak."

tapi mungkin si bapak diam-diam punya skill sebagai curhat-magnet ya, karena ujung-ujungnya gue menemukan diri gue curhat soal dilema pekerjaan yang dihadapi. well, saat maksi itu kebetulan beberapa hari sebelumnya gue baru saja secara resmi menolak job offer di NGO yang gue sebut-sebut tempo hari. di tengah masa-masa 'sulit,' atau pas masih kebingungan mau nolak apa nggak, gue sempat kepikiran buat konsultasi sama pak Anggoro sebenernya. cuma yaah... karena satu dan lain hal, rencana itu nggak terwujud.
lucunya, kesempatan yang hadir justru buat curhat sama beliau setelah gue mengambil keputusan. I told him about what went through my mind... kekecewaan gue sama gimana talent management diimplementasikan di kantor, ketidakmampuan gue mengikuti 'arus' di kantor, pandangan gue terhadap masa depan gue di perusahaan ini (which is, unquestionably, surem), dan hal-hal sejenis.... he listened to me, attentively. dan nggak menyanggah apa-apa yang gue utarakan.
and I guess that was... sufficient. our conversation confirms my surmise, about what to expect if I had chosen to stay in the company.

sekarang ini masa kerja gue udah 6 tahun lebih. posisi masih gini-gini aja, seorang cengceremen. tapi to be honest, gue nggak punya secuil pun ambisi untuk meraih lebih dari itu, di sini. because I know what it takes to step up the ladder, and I don't have it.
kalau gue lihat keadaan sebagaimana adanya, sekarang ini di kantor gue seperti seorang veteran, yang nggak naik-naik kelas meski udah bertahun-tahun bersekolah. haha!
di kantor ya seperti itu keadaannya: gue kerap menjadi pihak yang ditinggalkan. entah ditinggalkan teman-teman di tangga karir, atau ditinggal rekan-rekan kerja (yang sekarang kebanyakan jauh lebih muda) mendulang rejeki di sumur lain.

I don't really mind. honestly.
kalau diingat niat awal kembali ngantor, selain ada income tetap yang jumlahnya lumayan, juga buat ngisi waktu sembari nunggu anak bersekolah. benefit lain ada yang disadari kemudian, kayak jadi nggak kesepian karena bisa bersama banyak orang di kantor (hal sepele tapi ternyata memberi suntikan energi buat gue yang outgoing-introvert ini). atau dapat temen-temen baru yang asik, yang bisa diajak makan siang bareng sambil ketawa-ketiwi. atau sesepele alasan untuk bangun dan mandi di pagi hari. gue mensyukuri semua itu.
mungkin rejeki gue di kantor ini diberikan Allah dalam wujud semua benefit tadi, alih-alih jabatan mentereng dan income yang lebih besar.

pilihan gue untuk melaju di jalur lambat di kantor memungkinkan gue untuk bisa melalui hari dengan santai, dan beban yang, sejauh ini, lumayan tertahankan. tapi perasaan jenuh dan bosen (dan muak dan hopeless) tetep aja kadang muncul, sih. waktu gue curhat ke seorang dedek di kantor, tak dinyana dia ngasih gue 'wejangan' yang lumayan bikin tersadar. dia bilang, magabut itu nggak sama dengan nganggur. hehe. jadi, nikmati aja keleluasaan waktu yang masih dimiliki. justru bisa jadi kesempatan juga untuk memperluas hidup sampai menembus dinding gedung kantor.
as cliché as it may sound, well.. sometimes I just need to look at the bright side.

source
untuk tahun yang baru ini, harapan gue nggak muluk-muluk. gue cuma pengen bisa menjawab kalau lain kali dapat kesempatan ketemu pak Anggoro dan diberikan pertanyaan yang sama,
"what's new with you, Ris?" jawabannya akan berupa either one or some of these statements
- I'm pursuing a masters degree in media and communication, pak,
- I'm thriving to run a half marathon AND a triathlon, pak (dream big, right?!),
- I'm half the way to obtain my DTM (Distinguished Toastmaster) level, pak,
- I'm busy juggling between the office and my volunteer work in children's education, pak,
- I'm taking a vocal course, pak, and preparing to enter my band to Fuji Rock Festival's lineup,
- I'm planning for my pilgrimage with the family, pak,
- I'm expecting my second child, pak (o really? haha!),
- I'm scheduling my early retirement while establishing my digital-based business, pak.
insya Allah.

kalau diliat lagi sih, nggak satupun harapan di atas menyangkut urusan di kantor. haha.
tapi yahhhh, kalau menyadari apa kebutuhan jiwa, sesungguhnya it doesn't really matter apapun jawaban gue. yang terpenting adalah gue bisa melalui hari-hari dengan nyaman di kantor, di rumah, atau di manapun, karena kebahagiaan di jiwa ini nggak "terampas" apapun yang jadi ketetapan Allah SWT.

27/12/2016

EoH series: the walk

source
jalan kaki sore-sore, sepulang ngantor, bisa dibilang jadi aktivitas favorit gue akhir-akhir ini. 
I try to do it every day, if possible. 
jarak tempuhnya nggak jauh sih, palingan bayar di bawah 10 ribu perak kalau naik ojek aplikasi. tapi kesempatan buat bergerak dan (sedikit) berkeringat, sambil menyesap suasana sore hari, itu yang bikin gue ketagihan melakukannya. 

waktu baru mulai memilih jalan kaki dari kantor, niatnya sih cuma supaya badan ini nggak mager-mager amat. paling tidak efektiflah buat mengurangi rasa bersalah gue setelah seharian duduk manis di depan laptop selama 8 jam. 

tapi semakin sering dijalani, this afternoon walk gradually becomes a necessity for me. gue jadi menemukan celah-celah lain yang bisa dinikmati, contohnya: I can be alone with my own thoughts. 

alone time ini makin gue sadari jadi kebutuhan jiwa gue. sebagai orang yang ngaku-ngaku "an outgoing introvert," gue mendapat suntikan energi dari interaksi dengan orang-orang yang 'mengelilingi' gue. 

tapi seolah buat mengimbangi kondisi terekspos ke 'luar' itu, gue tetep perlu momen buat balik lagi ke 'dalam.' (mungkin karena itu dulu gue bisa selon aja melewati macet sambil nyetir sendirian sepulang kerja dari Priok, karena yaa jadi bisa dapet alone time.)  

meskipun begitu, kadang sambil berjalan sendirian terlintas keinginan untuk ditemani. random aja sih.. kepengen punya temen ngobrol a la before sunrise/set, haha. I dont know. maybe just for the sake of having a friend around. keinginan ini nggak pernah terwujud. at least sampai sekarang. tapi dari situ, ternyata gue bisa belajar sesuatu. 


suatu hari, gue janjian minta dijemput sama pak supir di kantor. sayangnya, sore itu traffic nggak masuk akal banget, mungkin karena hujan seharian, supir gue nggak kunjung sampe di kantor. daripada nunggu tanpa kepastian, gue bilang ke dia buat langsung ketemuan di kantor Adit aja, jadi nggak makin buang-buang waktu. 


waktu itu, gue lagi bener-bener nggak mood buat jalan kaki. badan lagi kerasa capeeekkk banget. udah nyoba nyetop taksi beberapa kali, tapi nggak dapet-dapet. trus tau-tau gerimis! dan seolah untuk membuat gue semakin males jalan, footwear gue saat itu cuma sepasang sendal tali-tali - yang tentunya kurang cucok yaa buat berbecek-becek jalan kaki.


to make things worse, entah kenapa sore itu gue kegenitan bawa laptop pulang! daannn karena kepalang yakin bakal dijemput supir, hari itu gue bawa handbag - alih-alih backpack macho seperti biasanya. 

what are the odds??
tapi apa mau dikata? I had to walk the walk. 
I totally wouldn't mind had the circumstances been better. but maybe sometimes you just had to improvise. 
jadi mulailah gue melangkah, dengan agak terseok-seok karena sendal tali-tali sok cantik gue itu alasnya licin dipakai jalan menembus becek. 

sepanjang jalan, yaudah sibuk ngeluh-ngeluh dalem hati. 

tapi nggak lama kesadar sendiri sih, I was just making matters worse, haha... tas tetep aja berat, kaki tetep aja pegel, kebahagiaan terampas pula. rugi banget 'kan! jadi, abis itu gue coba mencari hal yang bisa dienjoi-enjoi-kan saja. hal-hal seperti I wasn't even in a rush. walking might've done me good. plus keinget kata-kata di tafakur, "Allah memang memberi ketidaknyamanan, tapi Dia tidak pernah memberi keburukan." 
segitunya yah!

setengah perjalanan udah ditempuh, sampailah gue di putaran jalan sebelum masuk kawasan SCBD. karena harus nyebrang, jadi gue berhenti dulu sejenak untuk perhatiin mobil-mobil yang lewat. 

di tengah atensi liatin mobil, gue sempat notice eh ada yang mirip mobil gue . tapi berhubung mobil gue pasaran banget, jadi nggak terlalu geer. sampai lalu gue perhatiin plat nomornya.. eh kok 3 hurup belakangnya sama? tiba-tiba mobil yang gue perhatiin itu bunyiin klakson. otomatis gue liat yang nyupir dong. ndilalah... supir gue o__O
bok, pas-pasan banget! 

padahal sepanjang jalan kaki gue udah nggak koling-kolingan lagi sama doi (mahzab '80an banget). 

I. was. stunned. 

yang pertama terlintas di pikiran adalah ini:

betapa Allah memberikan gue apa yang gue BUTUHKAN.
exactly. precisely. 
not the 'sugary' things I've been wanting. not the cherry on top. not the unneeded embellishment. He gives me things I really, truly, need. fullstop. 

isn't that something?!

 "Allah memang memberi ketidaknyamanan, tapi Dia tidak pernah memberi keburukan." 
I'm glad I walked the walk that afternoon, because who could've guessed, something priceless was wrapped inside that walk: a lesson. 

26/12/2016

EoH series: the epiphany

so, I mentioned about this so-called series of writing for my blog, called the Enlightenment of the Heart (EoH). rasanya sayang aja kalau apa-apa yang sempat mampir di hati nggak dituangkan di sini. karena, buat gue pribadi, achievement nggak melulu diukur dalam bentuk perubahan secara fisikal. transformasi mental dan segala usaha yang menyertainya, juga bisa dianggap pencapaian. malah mungkin itu yang beneran matters. 
well, for a start, because it's December (still), which happens to be my birthday month as well, I'd like to ramble about stuff relating to the occasion. 

yes, I've turned 33. bukannya nggak bersyukur, tapi gue nggak lagi terlalu menandai ultah sebagai momentum yang sebegitu bermaknanya. mungkin ini lazim ya setelah melewati usia 30. you don't expect that many milestones, nggak kaya waktu masih 20an. ada momentum first cool job, first serious relationship, first marriage (haha), first pregnancy, first-time parenting, dst. 
sekarang? yah not that there is nothing I'm looking forward to; masih adalah keinginan untuk mewujudkan first time haji, first time jadi home owner (not loaner haha), nyunatin anak, and so on - tapiii.. (mungkin) sensasi pencapaiannya nggak sebegitu meletup-letupnya. perhaps it's because, as you get older, things don't feel as special as they used to be, and you yourself also no longer feel *that* special. moments are just moments, they fleet by, they pass. 
   
nah, karena pemaknaan akan ultah yang nggak segitu sensasionalnya itulah, gue nggak really expected anything. nggak ada rencana khusus untuk diri sendiri dan keluarga kecil. diinget ultahnya syukur, nggak juga ndak masyalah samsekk. 
di pagi hari ultah itu, begitu terbangun dari tidur, gue cek hape dan menemui ucapan ultah pertama. dari syapakah? ternyata bokap. 
mungkin itu biasa aja, ya. secara dialah (salah satu) orang yang membawa gue hadir ke dunia. tapi entah kenapa hal itu membuat seperti ada yang terhimpit di hati gue, dan himpitannya membawa kaca-kaca ke bola mata. tiba-tiba gue disadarkan, oh such a great time it is to be alive. 
everyday is, actually. 
kesadaran itu seolah membuka pintu di hati gue, yang bikin gue merasa bersyukurrrrrrr banget. it IS a special time; sungguh waktu adalah rejeki tertinggi… Alhamdulillah gue masih diberi kesempatan untuk diucapin selamat ultah sama bokap gue. Alhamdulillah I still have both of my parents around. 

sekitar setengah jam kemudian, nyokap nelpon, juga untuk ucapin selamat ultah. nggak tau kenapa, kayak ada switch yang ditekan bersamaan di hati kita berdua, karena di tengah ucapannya, gue tiba-tiba merasa trenyuh banget - padahal ucapan nyokap standar-standar aja - dan nyokap pun tau-tau mewek! haha.. maybe we are melancholic creatures, but I believe at that moment, the same realization touched our hearts. kesadaran bahwa laku sesederhana mengucapkan selamat ultah ini sejatinya sangatlah berharga… ya, karena hal ini belum tentu bisa terulang! 
:'))))) ya Allah gue jadi trenyuh lagi… 

source
segala puji bagiMu ya Allah… saat itu, gue merasa kayak dipersembahkan HADIAH yang berhargaaaaa banget dari Dia… kesadaran yang tiba-tiba hadir itu, gue percaya adalah wujud cintaNya. 
setelah itu, seolah agar kesadaran itu benar-benar tertancap di hati, Elmo berkata dalam ucapan ultahnya, 
"Chomey… Semoga hari ini penuh berkah ya. You are loved and blessed."

:')
sometimes, this fragile self needs to be reminded, again and again. 
I AM special. this moment IS special. 
terima kasih banyak ya Allah… 

meanwhile, other notable moments that I remember from that day were
- Adit ngucapin selamat selagi gue nongkrong di toilet. haha. dia ngelongok ke kamar mandi dan bilang "hepi bersdey ya mah," atau semacam itulah xD guess this is how an #oldmarriedcouple does it. 
- hal pertama yang Bumy ucapin begitu kebangun (masih di kasur), "mama hari ini umurnya udah TIGA TIGA ya?" 
- sampe di kantor, dicurhatin sama sese-dedek yang lagi melalui breakup. dia belum sadar gue ultah, jadi kita sibuk deh tuh ngebahas the guy who broke her heart. begitu tau gue ultah gara-gara adeee ajeee yang ngucapin di grup kantor, dia langsung meluk gue dan bilang "yaampun mba riska ultahnya bareng sama si X!" a.k.a. the guy she's been venting about!! hahahahah mungkin ada #hikmah yang terselip dalam kebetulan itu?? entahlah.  

tapi, somehow dari kejadian breakup si dedek, gue jadi dapat semacam pencerahan. 
entah gimana gue jadi kepikiran tentang gimana budaya atau lifestyle masa kini yang cenderung "sekarang-centris" alias cuma peduli sama SAAT INI. walhasil manusianya (me included) jadi cuma fokus pada usaha mengejar kesenangan sesaat. atau obat instan. atau apapun namanya yang bisa segera dinikmati. dan ini terasa bukan cuma di skala personal, tapi juga dalam skala besar. terlihat dari gimana banyak industri yang nggak peduli sama kondisi bumi yang seharusnya jadi legacy untuk generasi selanjutnya. gimana bisnis cuma peduli sama gimana biar untung untung untung duit duit duit, tanpa mikirin kualitas jualannya. kok "kita" nggak belajar dari sejarah… gimana dulu bangsa Romawi dulu unggul dan menguasai dunia tapi bisa ancur juga. 
generasi yang sekarang ini lagi bisa berjalan di muka bumi kayak nggak sadar kalau kita ini cuma generasi kesekian dari sekian ribu generasi yang sudah dan mungkin akan datang kelak. we are only, simply, a tiny blip in the universe! it (our lives) doesn't really matter, yet it also really totally matters. 
why? there is a perfect answer to that, something I read about in Rookie actually. let me quote:
"if your life is just a teeny tiny blip on the radar, the only meaning it has is what I give it, and the only person it needs to mean anything to is ME." (source)

it came to me like an epiphany.
gue tiba-tiba tersadarkan, kalau gue ada di sini, for a while on earth, for a reason. pasti ada manfaatnya. mungkin bukan buat diri gue sendiri, mungkin buat generasi ratusan tahun ke depan, apapun itu, it doesn't matter. what matters is gue yang harus kasih makna buat hidup gue sekarang. 
dan lucunya… kesadaran yang tiba-tiba ini membuat gue merasa kalau segala ambisi duniawi yang gue rasakan nggak lagi begitu penting. keinginan untuk dikenal, dikenang, dirayakan, atau apalah… yang penting cuma: enjoying my TIME on the planet as fully as possible… and make the best use of the time I have… each and every day. 

it was undoubtedly the best thing that could've happened, on my birthday. 



*"epiphany" (noun)

a moment when you suddenly feel that you understand, or suddenly become conscious of, something that is very important to you - source


20/12/2016

december specials: EoH

"let me photograph you in this light, 
in case it is the last time that we might be exactly
like we were before we realized
we were sad of getting old, it made us restless
it was just like a movie, it was just like a song
when we were young..."

kata-kata di lagu ini, mau nggak mau bikin gue teringat masa muda. dan Weich. of course, my youth had Weich in it. in almost every moment. 

masa muda benar-benar rasanya berlalu kaya ditiup angin dalam sekejap. 
how can those years be so short? can't I have a say in this violent roll of time?
i remember how it felt when I was just turning 24.. it's like I had a big space to do stuff, unlimited time, and vast choices. 
trus tau-tau sekarang udah 33.  
dan trus tau-tau I'm on my own, without Weich... 

alhamdulillah tahun 2016 ini gue dikasih kesempatan oleh Allah untuk melalui banyak hal... ulang tahun gue, Bumy, Adit, dan keluarga. ulang tahun pernikahan yang ke-sembilan (dear Lord!). another year with both of my parents. another year to make mistakes, and to learn... truly, Allah memberi gue pelajaran dalam bentuk kehilangan. kehilangan mertua, kehilangan sahabat, ditinggalkan rekan kerja. 

it feels like I've lost so, so much. 
yet gained so many treasures as well...

and now, December is here again. the countdown to the new year has been started... 

what have I learned thus far?
about myself? about people around me? about love, life and death?
have I changed? or am I merely becoming a truer version of myself?

saking udah lamanya nggak n̶u̶l̶i̶s̶ meracau di blog, gue jadi bingung mau mengulas tahun yang nyaris akan berlalu ini dari mana. kalau Nazura Gulfira pernah bikin serial Reproduction of Happiness (ROH) di blognya untuk membahas hal-hal yang membuat hatinya senang, gue jadi kepikiran untuk membuat semacam serial juga. 

mungkiiin... untuk berbagi tentang hal-hal yang berkesan banget bagi gue di tahun 2016 ini. mohon maklum kalau bahasan di serial itu singkat dan acak. karena tujuannya cuma buat mendokumentasikan stream of thought dan semata-mata 'tuk mengajak hati ini bicara, sih. ahahah... 

apa ya sebutan untuk serial ocehan itu? 

how about... "Enlightment of the Heart" series.
mungkin bagi orang lain apa-apa yang gue celotehkan akan terkesan biasa-biasa aja, tapi bagi gue, membukakan mata hati dan pintu pikiran. 

we are only young once. maybe one day I'll look back at these things bothering my mind and laugh them off. but I believe the real treasure lies in the process. in the way those thoughts transform me into someone who can recognize my own potential, and settle into who I am, and make life work for me. 

maybe.



20/11/2016

now my heart is...

hello, blog!

rasanya seneng banget bisa duduk manis sambil ngetak-ngetik di ranjang, dalam kondisi udah mandi di jam 8 Minggu malam. alih-alih sedang kelelahan setelah berjibaku dengan jalanan seperti biasanya. 
di luar abis ujan seharian pula. I can't even describe how "full" my heart feels right now. alhamdulillah.... 

weekend ini terlalu menggembirakan. honestly. 
kemarin kita 'sukses' menggelar acara syukuran super-sederhana dalam rangka ulang tahun Bumy. mungkin udah 3 tahun sejak gue mau berepot-repot bikin acara dalam rangka merayakan ultah Bumy, dan tahun ini pun awalnya nggak mau bikin apa-apa. apalagi di sekolah Bumy sekarang nggak boleh ada perayaan ultah dengan cara bagi-bagi goody bag - which I'm thankful for! - yang juga menjadikan semakin nggak ada 'motivasi' eksternal bagi gue untuk ngerayain, hehe. 

agak merasa bersalah sih sama Bumy.. karena waktu gue kecil dulu nyokap bikin perayaan ultah gue setiap tahun selama gue di SD. ya cuma pesta kecil-kecilan, tiup lilin sambil ngundang anak tetangga, but I remembered feeling very happy. 

tapiii.. beneran deh, secara gue ini emak pemalas, gue merasa kurang ada meaning-nya berepot-repot bikin party bertema ini-itu. untungnya di montessori ada tradisi commemorating ulang tahun yng disebut Birthday Walk (yang nggak ada hubungannya dengan selebrasi dan parti-parti), jadi at least setiap anak nggak akan merasa terlupakan di hari ultahnya. 

sampai sekitar sebulan lalu terlintas di pikiran, gimana kalo tahun ini kita ajak bumy berbagi kebahagiaan sama anak-anak di panti yatim? this idea is kinda new, and strange, for us, but maybe we needed to try it out. 

yaudah deh gue mulai pelan-pelan eksekusi (asli, pelaaan banget progressnya), mulai dari belanja goody bag, pesen bento (dua hal ini sangat sangatttt dibantu sama Bundo Rahma kesayangan), trus ngatur waktu sama pengurus yayasan. kue ultah Adit yang pesen ke Barska Cakes yang emang udah jadi 'langganan' tiap ada acara di kantornya. 

bersama bundo dan Azka setelah belanja printilan goody bag di Depok hehe

mendekati hari H, baru kepikiran buat bikin semacam stiker logo ultah kali ini, buat ditempel di bungkus bento, gitu. jadilah gue minta tolong sama temen kantor yang andal di bidang per-PPT-an (not gonna mention his name for I'm afraid it would ruin his "credibility" xD). alhamdulillaah banget, semuanya dimudahkan. 
it was indeed a new experience for us... and how did it feel?
ternyata 'beda' banget efek yang ditimbulkan, di hati. rasanya kayak... oh, this felt right, and should've been done more often. 
insya Allah, yaa <3






sebelum syukuran ultah, Sabtu paginya kita dateng ke event Science Fair yang rutin diadain setiap tahun di sekolah Bumy. karena Adit ada urusan, jadi kita ke sekolah sama Oma dan Opa. dari sekolah, barulah kita semua ngumpul. tim Mricans kumplit, Bun-Abah-Abhi pun hadir karena emang malamnya kita kudu dateng ke acara nikahan sodara dan juga mau nginep di Ciganjur. 



proud momma moment <3
setelah acara nikahan, sementara Oma-Opa balik ke Karawaci, kita nongkrong di Menteng buat makan, abis itu begadang bareng bayi-bayi di rumah. paginya, cuss ke Ragunan karena Bun dan Abah lagi mood berolahraga (a bit hard to believe, hahaha). 
di Ragunan cuma sampai 10 pagi karena udah mulai ramee dan semakin panas, abis itu kita ajak Bun-Abah-Abhi main ke Eleven Trees - tempat nongkrong favorit akhir-akhir ini karena tempatnya nyaman sekaligus memungkinkan tetap beraktivitas fisik. kayak yang pernah gue ceritain, di sini bisa main skateboard, sepeda, pingpong, basket, bilyar, bahkan numpang kerja karena ada coworking space-nya juga. we just lovvve this place, apalagi gue yang emang ngebet mau latihan pingpong hehe. 

setelah semua puas berkeringat di Eleven Trees (kecuali si Bun), kita pun balik lagi ke Ciganjur buat leyeh-leyeh, menikmati ujan, dan 'ngemil' soto mie plus tahu gejrot haha. this, too, should be done more often <3 

   




busted banget si bunda, sibuk ngemil anywhere haha
ah.. karena blogpost ini isinya rekapan hidup, perlukah gue ceritain hal-ikhwal di luar weekend? 
well, this past week I've

- declined that job offer I've been dreaming (as an editor in an NGO - should I keep repeating it? xD)
- had lunch with the marvelous/my idol Pak Anggoro (lucky me indeed) and somehow we got to talk about me declining the aforementioned offer. it's nice to know beliau sudi mendengar keluh-kesah gue, hehe. 
- jadi responden survey mengenai kebijakan terkait talent management di kantor, yang diadain sama konsultan ternama gitu dehhh. gue yakin mereka capcipcup milihnya, dan gue pribadi skeptis it would make any difference, but personally I'm just glad to be able to vent my frustration (or "the brutal facts" as they may call it). 
- jungkir-balik nyiapin dokumen buat tender... yang ujung-ujungnya nggak lolos kualifikasi. 
- main pingpooong. 

guess that's wrapped it all up. 
in short:

02/11/2016

life lately: swimming good

there are just so many things I haven't reported or rambled about in this blog. perhaps I am an obsessive oversharer, but I just *need* to write them down.
seolah punya utang ke diri sendiri kalau melihat "daftar" hal yang perlu diocehkan belum juga bertambah checklist-nya.
so, in random order, this is what I've been up to lately.

- keeping up with the so-called healthy lifestyle
hmm.. in terms of makanan, asupan yang gue berikan ke diri masih nyampur antara sehat dan sampah, sih. tapi yang jelas komposisinya masih sekitar 80 (sampah) - 20 (sehat). haha.
the big downside is we're no longer consuming nasi merah. entah kenapa lupa melulu mau beli beras merah.
...meanwhile, I just had my first indomie in a week.
should I get an applause for such resistance?

dalam hal olahraga, dua minggu ini gue mulai kembali getol olahraga. LAGI. sebelumnya sempat me-rajin, tapi trus sebulan off aja gitu... biasanya gara-gara PMS, rasanya badan jadi super pegel, nggak enak and then I'd feel too tired to workout. begituuu terus siklusnya: mencoba rajin selama seminggu-gagal olahraga selama tiga minggu-and so on.

main pingpong di Eleven Trees,
tempat nongkrong favorit terbaru
tapi akhir-akhir ini gue mulai coba rutinin lagi sih,
- latihan HIIT pake aplikasi
- dilanjutin yoga
- mencoba lari(-lari kecil manja) seminggu sekali
- atau renang, seminggu sekali juga
- main pingpong

haha... yang belakangan ini yang sedang gue gandrungi.
penyebabnya sih cuma karena di kantor ada meja pingpong, yang sebenernya udah ada sejak lama. cuma keinginan buat mulai nimbrung menggunakannya baru muncul akhir-akhir ini.
pertama-tama nyoba main sih 10 menit aja langsung ngos-ngosan. sekarang sih agak lumayan deh, bisa tahan main 30 menitlah, hehe. meski badan basah kuyup keringetan, tapi yaa... seneng. bahkan kalau lagi memungkinkan, bisa tuh gue main sampai 3 kali sehari bak mau jadi atlet kontingen PON xD

it does feel nice to find something new to learn about.
meskipun badan yang kaku ini jadi pegel-pegel banget sesudahnya. tapi kan emang katanya discomfort is a sign that you're stepping out of your comfort zone. (iya bukan sih? haha).

- I started freelancing again!
beberapa waktu lalu gue random aja ngirimin CV ke sebuah agency. syukurlah dapet respon positif, jadi mereka udah beberapa kali hire gue untuk penerjemahan.
job freelancing lainnya gue dapatkan setelah interview dengan founder sebuah startup di bidang finansial. I wasn't eligible for the full-time job, but got an offer to be a freelance contributor instead.

emang bener deh, semakin ke sini, semakin nyata pesan bahwa gue emang perlu lebih sering menjemput bola.

- we got a new cat!

namanya Miti.. atau Mitty? atau Mitchy?
entahlah.
jadii suatu hari Ika sijutekcuek Loekita nawarin salah seekor anak kucingnya buat Bumy. si kucing kita jemput ke rumah Ika di Priok sekalian 'tuk menengok bebi Ryu anak(manusia)nya yang baru lahir hehe... akhirnyaaaa Ika jadi emak-emak juga.
btw Miti ini beda banget personalitynya sama kucing incumbent di rumah, si Vicky yang kuckamp (kucing kampung) banget kelakuannya. Vicky nggak ada anggun-anggunnya, sebaliknya Miti jaim banget.

return of the baby snatcher


MITI <3

tapiiii sekitar dua minggu setelah kehadiran Miti, tiba-tiba Vicky ngilang. kirain dia kecantol kucing jantan manaaa gitu dan bakalan balik lagi, tapi nyatanya doi nggak ada tanda-tanda pulang sampe sekarang.
Bumy sedih nggak?
ndak sama sekali tuh -___- ini anak kadung jatuh cinta sama Miti jadi kayanya dia malah seneng karena bisa fokus mencurahkan cinta ke Miti, zzzz. semoga Vicky baik-baik aja deh di luar sana.

- and it's November already...
"the meaning of life is that it stops." - Franz Kafka
I still think about Weich, and death, a lot. but I don't see it as a bad thing anymore.
beberapa waktu lalu, gue liat postingan Arryo di Instagram, seperti ini,


kata-kata yang dia taro di caption fotonya itu bermakna banget.
but what spoke to me the loudest is this part: "Kantor hanya tempat lain untuk menambah sahabat."
karena sepertinya itu mendasari apa yang gue pahami selama ini. even though Murakami said one should not mix business with friendship. but guess I'm not that wise.
gue seneng di kantor bisa punya 'komunitas' di mana kita bisa ngobrolin hal-hal di luar kerjaan. I'm the kind of person who always craves for connection; membangun interaksi sama orang lain yang bikin kita saling kenal bukan cuma di permukaan. bukan cuma dunia terasa jadi lebih 'luas,' tapi juga bikin kita makin mengerti diri sendiri. so it's a priority for me, to make friends and build connection. 

during one of our always-cheerful and insightful-toastmasters meetings
gathering tantes & brondongs: nobar performance stand up comedy-nya Marcho
minggu lalu gue akhirnya sempat ketemuan sama Elms lagi. kita ngobroooolll panjang-lebar soal ide-ide yang berseliweran di kepala. gue sangat sangatttt mendukung Elms buat bikin website yang ngebahas all about wellness and health. because she is soooo into it right now, and has been living her life using those wellness guides she's been reading about. bakalan keren banget kalo dia bisa menularkan itu ke orang lain, bukan?
gue sendiri dapet (banyak) pencerahan juga dari percakapan kita. salah satunya, entah kenapa jadi tumbuh optimisme. keinginan untuk jadi lebih baik. untuk menata hidup dan prioritas. among many other inspirations she gave me.
Alhamdulillah.. I feel so blessed to 'have' her in my life.

sahabat yang mengajak ke arah kebaikan, rare and so hard to find <3

22/10/2016

rookie parent: the montessori edusession

di blogpost sebelumnya, gue curhat soal meeting 'dadakan' sama kepsek dan gurunya bumy di sekolah. dari situ sempat kesebut juga soal seminar yang diadain di sekolah Bumy. dilanjutin yaa ceritanya.

jadiii, di awal term kemarin, dalam rangka Parents-Teachers Conference (PTC), sekolah Bumy ngundang psikolog bu Alzena Masykouri buat ngasih materi berjudul "Understanding Child Development aged 6-12 years old."
gue sendiri excited banget buat denger materinya, maklum ortu amatiran yang untungnya masih haus belajar. timing yang dipilih juga pas banget buat ngasih materi ini, yaitu di awal tahun ajaran. bisalah dianggap effort supaya ortu dan sekolah bisa satu visi dan misi.
seperti PTC sebelumnya, juga ada presentasi dari para guru mengenai yaitu topik dan metode pembelajaran yang diterapkan dalam tiap aktivitas montessori. guru-guru SD mendemonstrasikan metode belajar bahasa, matematika, science, Islamic studies dan lainnya menggunakan apparatus Montessori. 
guru sedang mendemonstrasikan penggunaan apparatus montessori

demonstration of learning math the montessori way

sesudah sesi presentasi guru, akhirnya dimulai juga penyampaian materi dari bu Alzena. pertama-tama beliau menanyakan ke kita para audiens, kenapa sih memilih SD montessori buat nyekolahin anak?
jawabannya tentunya macem-macem.. yang kemudian sama beliau dibawa ke seperti apa ciri khas pendekatan montessori.
jadi, pendekatan montessori yang memberikan pendidikan sesuai tahapan perkembangan anak (developmentally appropriate practice), punya ciri khas mengenalkan konsep secara konkret, bersifat interaktif, dan menerapkan mindful-ness dalam aplikasinya.


beliau kemudian mengajak kita mengenali seperti apa ciri-ciri anak usia middle childhood. bu Alzena menjelaskan kalau secara ilmu, ciri-ciri anak tadi bisa dikategorikan dalam empat hal, antara lain kognitif, fisik, afektif, dan sosial.
sembari kita orangtua menyebutkan ciri-ciri yang dikenali dari anak sendiri, bu Alzena nulisin masuk ke kategori mana ciri tersebut.
hasilnya begini,
1. kognitif - wujudnya berupa pengetahuan yang bertambah luas, semakin ingin tau, kreatif, kemampuan berkomunikasi yang semakin baik, semakin banyak maunya, bisa talk back kalo dikasih tau (haha), dll.
2. fisik - berupa badan yang meninggi, gigi bertambah banyak, makannya juga jadi lebih banyak, dll.
3. afektif - sikapnya minta diperhatikan, maunya harus diturutin, lebih susah dikasih tau, ekspresinya kadang lebay, dll.
4. sosial - lebih pede, lebih mandiri, makin tertarik membentuk persahabatan dan teamwork, ingin disukai dan diterima teman-temannya, dll.


dalam ilmu psikologi, di rentang usia 7 sampai 11, anak-anak sedang berada di periode perkembangan kognitif yang disebut oleh Jean Piaget sebagai tahapan concrete operational.

keseluruhannya ada 4 tahapan sbb:
1. tahap sensory motor usia 0-2 tahun
anak mengenal dunia lewat gerakan dan sensasi.
2. tahap preoperational usia 2-7 tahun
anak mulai mengenal berpikir lewat simbol dan belajar menggunakan kata-kata dan gambar untuk mewakili objek. meskipun udah lebih fasih berbicara, tapi anak masih cenderung berpikir dan memahami hal-hal secara konkret.
3. tahap concrete operational usia 7-11 tahun
cara anak berpikir udah lebih logis dan terorganisir, tapi masih sangat konkret - mereka masih kesulitan menangkap konsep yang abstrak atau hipotesis.
4. formal operational usia 12 tahun ke atas
anak sudah bisa mengerti konsep abstrak atau bersifat hipotesis. ketika sudah remaja, mereka mulai memikirkan soal isu moral, filosofi, etika, sosial dan politik yang membutuhkan penalaran teoritis dan abstrak.

dari situ, bisa disimpulkan kalau cara anak berpikir pada dasarnya berbeda dengan orang dewasa. anak-anak middle childhood, berada di tahap concrete operational. yang meskipun kemampuan berkomunikasinya udah lebih baik, tapi masih belum bisa memahami hal-hal yang abstrak. karena itulah, pendekatan montessori yang mengenalkan konsep secara konkret dianggap paling tepat untuk anak usia middle childhood, karena sesuai banget dengan tahap perkembangan anak usia tsb.


bu Alzena speaking

Bu Alzena lantas "menceritakan" soal taksonomi Bloom. dalam konteks pendidikan, sesungguhnya ada tiga kawasan di diri anak, antara lain
1. kognitif
2. afektif
3. psikomotor

yeuk dibahas satu-satu.

- kawasan kognitif ini isinya perilaku yang menekankan aspek intelektual. kayak kemampuan berpikir, kemampuan memahami, kecerdasan, dan keterampilan.

- kawasan afektif berisi perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, kayak sikap, minat, dan apresiasi. wujud penerapannya dalam mendidik anak, yaitu mendidik dengan melibatkan faktor afektif juga. suka denger 'kan omongan psikolog atau expert pendidikan kalo anak bisa menyerap materi dengan lebih cepat dan lebih baik kalau perasaannya bisa disentuh?

- kawasan psikomotor isinya perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik kayak tulisan tangan, kemampuan mengoperasikan sesuatu, atau kebisaan berenang. materi yang kita ingin untuk anak kuasai bisa disampaikan lewat gerakan. gue inget pada PTC beberapa waktu silam para guru mendemonstrasikan cara mengenalkan abjad pada anak yang ternyata nggak cuma lewat see & tell, tapi juga bisa lewat menggerakan jari di atas sandpaper, pun pakai gerakan badan seperti ngajak anak olahraga atau joget.

nah, dari sini bisa disimpulkan kalo stimulasi kognitif tetep perlu, tapi bukan cuma itu doang yang perlu digempur.. inget kalau ada kawasan "feeling" sama "psikomotor" juga yang perlu dikembangkan.

pendekatan montessori memberikan stimulasi yang menyeluruh dengan mengembangkan seluruh kawasan di diri anak, sementara sekolah konvensional cuma menekankan atau menggempur kawasan kognitif. jadi inget sekolah gue dulu, deh... dan ini juga yang bu Alzena sampaikan, pendidikan sekolah tipe old-school memproduksi banyak anak yang ketika sudah melewati masa middle childhood justru 'tumpul' feelingnya dan/atau nggak bisa olahraga. padahaaal semua kawasan itu sama penting dan krusialnya untuk dididik.

berikutnya, bu Alzena ngasih masukan tentang gimana cara stimulasi yang tepat yang bisa dilakukan orangtua untuk anak-anak usia middle childhood ini.

- di kawasan kognitif, orangtua bisa menawarkan kesempatan belajar buat anak lewat berbagai cara. misalnya dengan membaca bersama anak untuk meng-encourage anak membaca. gunanya banyak, di antaranya untuk menambah kosakatanya dan meningkatkan konsentrasi.

butuh nggak les yang bersifat akademik? 
nah di sini bu Alzena ngejelasin seputar hobi, minat, dan bakat. ketiganya hal yang berbeda. hobi itu kegiatan produktif yang dilakukan anak di waktu luang. "anak harus merasa bosen dulu untuk mencari kegiatan," kata beliau. tapi inget, kegiatannya harus yang produktif untuk bisa disebut hobi.

anak disebut punya bakat, jika ia mampu menguasai suatu hal dengan lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan anak lain.
sementara minat, ya ketertarikan anak, yang bisa berubah-ubah. satu hari minat main bola, hari lain minatnya karate.

tugas orangtua adalah (hanyalah?) memancing anak, untuk mengenali bakatnya, untuk memfasilitasi minatnya, dan untuk mengarahkan anak memilih hobi (yang produktif, cateut).
menurut bu Alzena, anak boleh ambil les kalau memang BUTUH. either untuk mengembangkan bakat atau butuh secara akademik JIKA kemampuan anak ada di bawah rata-rata. karena yang dibutuhkan anak usia middle childhood lebih ke kegiatan yang mengasah di bidang olahraga dan seni.

- di kawasan fisik, disarankan kita terus memantau tumbuh-kembang anak secara rutin. sehingga bisa segera diketahui kalau ada hal-hal yang perlu perhatian khusus. tinggi anak sebaiknya diukur secara rutin. trus ditekankan juga pentingnya resting time.

sekolah anak gue setiap harinya berjalan sampai jam 3-4 sore. kalau anak bisa/mau tidur siang itu bagus, tapi kalau nggak, yang penting mereka dapet resting time, yaitu waktu untuk bisa leyeh-leyeh secara fisik tanpa distraksi tv/gadget atau teman/saudara lain. semacam "me time" kali ya, di mana anak bisa memulihkan diri lagi setelah beraktivitas.
bu Alzena juga menekankan pentingnya berolahraga buat anak. disarankan anak mengikuti olahraga rutin selama 1 jam setiap minggu. kalau berenang, bukan yang cipak-cipuk nggak terarah, tapi yang beneran belajar teknik berenang. begitupun kalau main futsal, yoga, atau lainnya. gue artikan berolahraga di sini berarti mengalokasikan waktu dan tenaga untuk menguasai teknik tertentu secara terarah.

- sekarang kawasan afeksi, ini nih yang banyak pe-ernya...
anak usia middle childhood kebutuhan sosialnya besar. karena emang lagi begitu adanya sesuai dengan tahap perkembangan mereka. buat mereka, ini masanya buat mulai berinteraksi dengan scope dunia yang lebih lebar, seperti di sekolah. di masa ini, peer pressure juga akan terasa lebih kuat buat anak. semakin anak merasa nyaman dengan dirinya, semakin kuat pula ia dalam menghadapi terpaan peer pressure yang negatif dan justru akan bisa membuat pilihan yang baik untuk dirinya sendiri.
apa yang perlu dilakukan orangtua?

bu Alzena lantas menjelaskan soal tahapan emosi, yang terdiri dari: Merasakan - Menyatakan - Mengidentifikasi - Mengelola. 
anak butuh banget peran orangtua sebagai coach untuk mengelola emosinya. caranya?

- the priceless stuff in life come for free. berikan perhatian dan kasih sayang sebanyak-banyaknya buat anak. kata kuncinya adalah "mindful" yang tadi udah disebut di awal. be present, be khusyuk saat bersama anak.
khusyuk 'kan berarti melibatkan perhatian dan segenap jiwa raga, jadi cencunya ya disingkirkan dulu segala beban pikiran yang dibawa dari kantor dan segala layar yang tangtingtung minta perhatian. 
ajak anak ngobrol soal sekolah - bukan soal pelajaran sekolah atau soal dapet nilai berapa di sekolah - tapi soal apa yang terjadi di sekolah. siapa temen baiknya, apa yang bikin dia senang, apa hal baru yang dia pelajari.

- ajarin anak untuk ngasih nama untuk perasaannya. "oh kamu sedih ya?" "kamu merasa marah?" "kamu kangen sama mama?"

- bantu anak mengelola emosi dengan menunjukin cara penyaluran yang sehat dan aman untuk meluapkan emosi. emosi negatif bukan berarti harus dipendam atau dianggap nggak ada. acknowledge perasaannya, kasih nama untuk perasaannya itu, dan ajarin cara yang tepat untuk mengelola emosi itu.

gosh... kayanya justru gue yang perlu menguasai ilmu seputar emosi ini deh, sebelum bisa ngajarin Bumy xD

bahasan lebih lanjut tentang kawasan emosi ini terjadi lewat sesi tanya-jawab.

- Ada orangtua yang bertanya gimana kalau anak mencontoh perilaku teman yang nggak baik. saran bu Alzena, orangtua bisa langsung menyatakan tidak suka (sama perilaku tsb) tanpa menjelekkan temannya.

beliau juga ngingetin, "imun, bukannya steril." dalam artian, jadi orangtua itu bukannya berusaha bikin anak steril dari segala pengaruh buruk di dunia ini, karena kita nggak bisa menghilangkan keburukan atau menghindar selamanya. tapi bikin anak punya kekebalan alami. ya seperti ulasan soal peer pressure tadi, bikin anak strong enough untuk bisa menimbang sendiri mana yang buruk dan mana yang jelek buat dirinya.
balik ke soal menyatakan ketidaksukaan akan kelakuan teman anak, pesan bu Alzena cukup menyentil, "Kalo kita punya hubungan dekat dengan anak, pasti dia mengerti."

- Ada yang nanya cara menumbuhkan motivasi anak, karena dirasa anaknya nggak seperti anak lain yang berani bahkan nyaman berkompetisi.
bu Alzena bilang, jangan pernah membandingkan anak dengan anak lain. TAPIII kita bisa ajak anak acknowledge perasaannya dan perasaan yang bakal ditimbulkan kalau dia misalnya, ikut berkompetisi atau rajin belajar atau suka menolong, dan sebagainya. choose our words wisely. jangan memuji hasil atau keberhasilan (anak sendiri atau anak lain), tapi usahanya. ini akan bikin anak fokus sama the joy of learning or competing or helping supaya menumbuhkan motivasi intrinsik.

- Bangun sense of responsibility anak dengan ngasih tugas rumahtangga. 
menurut bu Alzena, anak bisa dikasih sesuai usianya. hitungannya gini, 1 tahun 1 tugas rumahtangga.
sekarang Bumy hampir 7 tahun, berarti bisa dapet 7 tugas.

kita udah sepakati tugasnya dia ini:
1. merapikan kamar
2. mandi sendiri
3. makan sendiri
4. siapkan tas sekolah: baju ganti, comm book, snack box dan botol air.
5. cuci piring sendok gelas sendiri habis makan
6. kasih makan snack kucing peliharaan
7. jaga kebersihan electone


bu Alzena ngajak beberapa ortu jadi volunteer 'percobaan' hehe
"kenyang" banget deh rasanya setelah dengerin materinya bu Alzena.
dari sesi PTC ini, gue jadi tau gimana pandangan beliau soal pendidikan anak, di mana beliau paham banget soal montessori. 
nah, sebagai tindaklanjut meeting sama Kepsek kemarin, akhirnya kita putuskan untuk mulai konsultasi sama beliau. apa aja masukan yang didapet akan gue share di blogpost berikutnyahh.