04/09/2017

home renov

source
setelah pindah rumah ke ciganjur hampir 5 tahun lalu, akhirnya kita lakuin renovasi juga. 
ada beberapa pertimbangan sebelum memutuskan buat renov..

- ternyata setelah dijalani, gue nggak betah tinggal di apartemen. 
mungkin karena space-nya segitu-gitu aja ya... padahal yang kita tempati sekarang ukurannya lumayanlah, lebih gede dari ukuran garasi 2 mobil dengan 2 bedrooms dan 2+1 kamar mandi. tapi beneran sumpek rasanya. apalagi semenjak hamil dengan mood yang banyakan bad, aargh I just can't stand the place. 
setelah masuk trimester kedua sih mood jauh lebih mendingan. tapi ketika kita mampir ke rumah ciganjur untuk nginep semalem dua malem, IH RASANYA BEDA PISAN. hawanya segerrrr, dan somehow nggak mentrigger rasa muak aja padahal rumah gue kicil dan kawasan cluster juga terbilang sepi sunyi.

- pertimbangan berikutnya adalah kepengen nambah kamar. 
sekarang ini rumah ciganjur formatnya 2+1 bedroom dengan 2+1 kamar mandi. maunya ya dibuat kamar sepetak lagi, kalo nggak buat kamar tidur masing-masing anak ya buat aktivitas atau ngapain kek gitu. 

- other than that, we simply thought a landed house is the most suitable option for us now. 


jadilah kita mulai mencari pihak yang bisa bantuin urusan per-renov-an ini. adit dengan gamblang bilang ogah berurusan sama tukang, yang mana bisa dimengerti karena dulu waktu ngebikin kamar mandi kecil aja pake diambekin dan dicharge lebih dari seharusnya sama tukang. 
alhamdulillah dapet jalan keluar lewat temen adit di kantor, yang ngasih tau kalau bokapnya seorang arsitek. rumah beliau juga deket dari ciganjur jadi bisa gampang ngontrol proses pembangunannya. saat ini, pembangunannya udah berjalan sebulan lebih, dengan progress sekitar 60% lah. padahal kita udah kepengen buru-buru cabs juga dari apartemen. 


source

di sisi lain ada PR besar juga nih buat kita (selain budget haha...), yaitu ngurusin detil ngisi furniture dan furnishing rumah. gue belum dapet gambaran jelas sih soal gayanya mau seperti apa atau detilnya gimana, secara pertimbangan utama ya tetep budget hehehe. 
tapiiii gue udah tau apa aja yang perlu gue hindari saat menata rumah. hal-hal inilah yang baru kepikiran kelak setelah pengalaman ngisi dan menata rumah tahun 2012 lalu, trus melihat hasil dari penataan tersebut beberapa tahun ke depannya. 
kesimpulannya, gue perlu:

- menghindari memasang terlalu banyak ambalan atau laci terbuka.
why? karena nyimpen debu ciin. kebetulan gue pasang ambalan agak banyak ya, antara lain di kitchen set, kamar mandi, laundry room, dan kamar-kamar tidur. 
nah kesimpulan gue ini berdasarkan hasil observasi yang terjadi di tempat tinggal gue di belantara ciganjur... yang padahal bukan di tengah kota jakarta, tapi ya mungkin karena cuacanya yang kering berangin atau entahlah, yang jelas ambalan-ambalan itu harus RAJIN dilap sehari sekali. yang susah adalah gue terpaksa (atau kadang memilih juga sih) gaya hidup embak-less yang membuat gue harus mengurusi segalanya sendiri. boro-boro ngelapin ambalan segitu banyak, nyapu ngepel rutin tiap hari aja udah baguz. 
jadi, lesson learned-nya adalah gue mau sebanyak mungkin bikin laci atau kabinet yang ketutup biar kalaupun banyak debu ya nggak keliatan. xD

- memilih parket yang kualitasnya bagus.
waktu mau menempati rumah ciganjur, kita emang udah sepakat kalau lantai atas semuanya dipasangin parket. nah di lantai atas ini selain ada kamar tidur juga ada kamar mandi dan washtafel yang letaknya di luar kamar mandi. terkadang si washtafel ini pipanya bermasalah sehingga rembes sampe kena parket. nah parket yang gue pasang jenisnya enginereed bukannya solid atau laminated, dan ini udah opsi yang paling cocok sih baik dari segi harga maupun kualitas. parket jenis ini gampang dipel, jadi tahan kalau kena air, dan kalau ada yang rusak tinggal copot di satu bagian aja (bentuknya terpotong-potong). 
cuma ya ituu, mungkin karena kita milih yang termurah dari jenis ini, jadi si parket yang dipasang kaya gampang menggompal gitu kena rembesan pipa yang tadi gue sebut. trus pemasangannya juga kurang oke karena ada beberapa bagian terutama yang menempel ke dinding, lama-kelamaan longgar atau malah copot sama sekali. PR-nya ya jelas harus milih vendor parket yang oke. 
oya masukan dari arsitek kemarin, kita perlu perhatiin juga jenis kayunya karena ada kayu tertentu yang lebih rentan dimakanin rayap. sebagai catatan, rumah ciganjur ini udah gue suntik rayap sebelum ditempati mengingat kasus rayap yang menggila waktu tinggal di rumah karawaci dulu. refooot kalau rumah udah terlanjur ditempati trus baru suntik rayap, karena barang-barang harus digeser dan ubin harus dicopotin segala. 

- from the words of my beloved BFF, Weich, dia bilang gini: style tertentu bakalan jadi out of date within a few years, atau bahkan mungkin kitanya yang bosen.  
jadiii, nggak ada salahnya kalau mau pilih style yang lagi "in" atau dianggap modis di masa tertentu, tapi mendingan pilih yang harganya juga murah atau terjangkau. karena ya itu, untuk menghindari rugi banyak ketika kita ingin ganti gaya dekor, entah karena gaya yang sebelumnya dipilih udah nggak trendy atau kitanya bosen sama gaya itu. 
I think that's where affordable trendy furnitures come in handy, yah. 

- budget pasti selalu ada batasnya (buat kita). makanya kita harus nentuin prioritas bagian mana dulu yang wajib terlihat oke, sementara yang lainnya bisalah di level acceptable atau unfurnished sekalian. 
kalo di gue, prioritas terletak di master bedroom, dapur, dan ruang tamu, in that specific order. master bedroom jelass karena di situ kita bakal ngaso setelah lelah mencari nafkah haha. dapur dan ruang tamu, well itu subjektif aja sih, tergantung preferensi masing-masing. tapi gue pribadi paling nggak betah sama dapur "jorok", lagian kabinet-kabinet di dapur juga berguna untuk nyimpan printilan. 
ruang tamu juga masuk ke list karena... kita prefer makan sambil nonton tv di atas sofa dibanding di atas meja makan hehe. 

- kalau mau naro "aksesoris" di rumah semacam kolam dan taman, do reconsider biaya maintenance-nya. 
setelah melalui pengalaman pindah-pindahan antar landed house 3 kali, kita akhirnya tersadar kalau taman yang cantik takkan selamanya cantik. the green grass we see at the neighbour's come from a lot of TLC (tender loving care), plus biaya maintenance taman yang rutin juga haha. 
sejak tau itu, gue reluctant bikin taman yang terlalu elaborate atau pakai banyak tanaman yang kurang tahan banting. untuk rumput pun milih jenis yang nggak akan bertambah tinggi dan perlu ditrim rutin. belum lagi kalau mengingat faktor akan selalu ada kucing tetangga yang hobi pipis atau pup sembarangan, makin males deh gue punya taman yang luas.  
begitupun soal kolam. tiap kali adit bring up soal kolam, gue akan dengan skeptisnya menyerang dengan berbagai argumen. 
pokoknya acuan gue cuma satu: bayangin kalo lagi nggak punya pembantu! 
itu saja moment of truth yang sejati bagiku x)))

- another lesson learned for me: selalu dahulukan fungsi dibanding tampilan unik, lucu atau seksi. 
ini nihhhhh bagian yang kerap bikin kesandung. walhasil, sekarang ini gue nggak gampang tergoda liat aksesoris dekor nan lucu-lucu menggigit. pun saat liat gaya dekor nan unik, atau style dapur yang oh so american/scandinavian dll. karena ya itu.. belum tentu cocok sama lifestyle dan derajat kemageran gue sehari-hari. gue perlu dahulukan fungsi saat memilih barang maupun menentukan prioritas. kalau hal itu akan lebih banyak jadi liabilitas dibanding aset fungsional, better skip it. 


source

oh well.
ada satu lagi ding yang lumayan hakiki buat gue. 
- the people make the house. 
mau seciamik apapun itu rumah didekor, ujung-ujungnya ya gimana tindak-tanduk para penghuninya yang menentukan sebuah rumah nyaman ditinggali atau nggak. malu ah kalo masih ribut-ribut didenger tetangga, atau kalap ngamuk sama anak.. semoga bisa bikin kenangan-kenangan yang jauhhh lebih indah di rumah hasil renov kelak. more entertaining close friends, more laughter (and baby cries haha), and much much reinvention of the soul. 

so, is it time I start building that mood board? 

31/08/2017

something changed

"I wrote this song two hours before we met
I didn't know your name or what you looked like yet
I could've stayed at home and gone to bed
I could've gone to see a film instead
you might have changed your mind and seen your friend
life could've been very different but then..
something changed.."

kehamilan gue yang kedua ini sudah berjalan hampir 6 bulan.
each day still feels like a wonder.
aneh, magical, dan surreal bisa merasakan ada mahluk hidup gerak-gerak lagi di dalam perut.
heck, bahkan liat bumy segede sekarang aja gue masih suka takjub... manusia ini beneran pernah tinggal di dalam perut gue??
beneran ya gue itu ternyata seorang... ibu.

namun tak berarti kehamilan ini dijalani tanpa keluh-kesah sama sekali. bukan gue namanya kalo nggak hobi ngeluh. tapiii gue mencoba meyakini kalo semua keluhan dan ketidaknyamanan yang dirasakan efeknya pasti baik. contohnya keluhan kaki yang sakit-sakit setiap malem. ini bikin adit mau nggak mau mijitin gue hahaha.. emang sebelum hamdun lagi juga dia mau-mau aja sih mijitin, tapi kali ini, mungkin efek hormon (atau "bawaan bayik" kalo kata rangorang) tapi bener-bener jadi kebutuhan buat gue supaya badan bisa melepaskan hormon oksitosin.
tidur juga maunya kekepan sama doi hahaha, padahal tadinya mah bawaan kegerahan mulu.
kalo liat bumy sekarang yang kecanduan pelukan sama bapaknya ("badan papa enak buat dipeluk, besar kaya gorila."), ada kemungkinan karena pas hamil dia dulu gue juga harus tidur kekepan sama bapaknya. wallahualam xD

kalau dipikir-pikir, mungkin kehadiran seorang bayi bisa jadi perekat hubungan lagi. ada istilah band-aid baby, atau menghadirkan anak untuk menyelamatkan sebuah hubungan. in a way, gue rasa kehadiran baby number 2 ini layak disebut demikian... tahun ini insya Allah kita memasuki tahun ke-sepuluh pernikahan. 
per tahun lalu, sama sekali belum terpikir untuk nambah anak. but this year, we just decided to go for it. belum tentu langsung dikasih juga kan, kita pikir.
ternyata it happened sooner than we expected.
dan jika mau jujur, this pregnancy does give some sort of refreshment in our relationship, dengan cara yang... nggak diduga. seperti gimana gue ngerasain selama hamil kapasitas badan dan juga mental punya keterbatasan. I feel like I need to depend on my spouse on certain stuff. I need his support, mulai dari buat mijitin, nganterin ke kelas prenatal yoga, sampai buat nemenin ajah kalo kebangun di dini hari setelah mimpi buruk (yang mana semacam rutin semenjak hamil, sama kaya waktu hamil bumy dulu).
kita juga excited ngebayangin what it would be like... how bumy would act as a big brother, how we could manage two little boys.. yes we are experienced parents, but still, we are not perfect parents. and that gives us something to look forward to. gue kayak diingetin lagi kalo kita bertiga ini sebenernya satu tim all along.

*******

kebetulan bulan agustus belum benar-benar berlalu, gue jadi keingat kalau bulan ini adalah titik milestone gue balik ngantor. tepat dua tahun silam, HR kantor nyuruh gue kembali bekerja setelah cuti panjang.
gue pun balik jadi cengcremen di kantor lama... saat itu rasanya I had known almost everything there is needed to know about this old trick, I had no expectation. apa saja enaknya, apa saja busuknya, I didn't come unprepared. tapi tetep aja, satu sampai tiga bulan pertama dijalani dengan berat hati.
meskipun lama-kelamaan kerjaan gue itu berubah jadi rutinitas bahkan zona nyaman.
hal-hal yang awalnya memberatkan hati buat ngantor, pelan-pelan bisa diakalin dan dijalanin dengan lapang dada. hal-hal yang tadinya jadi kekurangan, seiring waktu malah jadi hal yang bisa dinikmati. I was beginnning to see the "lightness" of my job. ada nasehat dari sohib gue di kantor kala gue merasa muak dan jenuh sama kerjaan rutin, katanya "magabut itu beda sama nganggur loh, mba..."
HAHA.

tapi memang yang namanya gejolak hati nggak bisa selamanya dibungkam. gue tetap menginginkan kerjaan yang fulfilling, yang bikin bersemangat dan excited, yang ngasih banyak ilmu. mungkin seiring dengan tekad gue untuk menghadapi hal-hal yang selama ini menjadi momok bagi gue, Allah pun merespon, selain menganugerahi dengan kehamilan, Dia juga ngasih gue kesempatan untuk "escape" dari kerjaan rutin.
jadi suatu hari, sohib yang ngasih nasehat tadi, ngajak gue ikut semacam program intrapreneurship di kantor. gue dan si sohib ini emang sering banget curhat-curhatan mulai dari soal anak, agama, sampe visi hidup dan kerjaan ideal yang kita inginkan. he knows me well, and vice versa, sehingga bisa dibilang kita itu work-spouses. nah program ini mengharuskan kita mengajukan ide untuk diwujudkan pembuatan startup dan aplikasinya kelak. semua biaya, pelatihan, dan support lainnya disediain sama kantor. kita tetep berstatus pegawai tlkm, bahkan dimodalin untuk wujudin ide kita jadi kenyataan. kesempatan langka banget kannnn.


setelah ngebentuk tim yang terdiri dari 3 orang, kita pun masukin ide kita ke kompetisi... dan ternyata ide ini kemudian lolos seleksi. sesudahnya, mulailah kita ikutin program yang dinamain Amoeba ini. selama tahapan pra-seleksi. kita diikutin training seputar startup dan industri digital, selama seminggu sekali setiap bulannya. hingga akhirnya tiba fase seleksi, dan alhamdulillah kita lolos lagi. 
selanjutnya di tahapan post-seleksi, kita dibebastugasin dari kerjaan lama selama 3 bulan... untuk nantinya ada tahapan sidang oleh komite Amoeba yang nentuin apakah kita bisa lanjut jadi "pengusaha" startup atau balik jadi karyawan reguler kaya sebelumnya.
and here I am, in the three-month off-from-work phase. bukan berarti kita leha-leha doang sih, justru ini momen tersibuk karena di sini kita kudu bikin produk nyata. tapi enaknya, gue jadi nggak perlu dateng ke kantor tiap hari lagi, waktu bisa diatur secara fleksibel.
alhamdulillah banget...


bukan cuma dari segi mobilitas kerja yang berbeda, tapi yang juga kerasa banget adalah dari segi mindset. ini gue kayak balik jadi freelancer lagi, karena perlu nentuin jadwal dan aktivitas sendiri. tapi yang paling fundamental adalah di mental. saat ini gue perlu banget membangun mental FOUNDER.
seorang founder nggak nunggu perintah.. bahkan seharusnya bisa membangun rencana dan jadwal kerja sesuai kebutuhan. we do it all, mulai dari hulu sampe hilir.
gue pun jadi berkontemplasi setelah liat tulisan di pintu kelas bumy tempo hari, yang bilang, "We are very hungry for knowledge." 



seru banget kalo liat dia bersekolah, kegiatannya macem-macem. show and tell-lah, simulasi-lah, eksperimen apalah, there's never a dull moment.
gue jadi inget perasaan gue waktu SD dulu, yang meskipun cuma bersekolah di SD negri, tapi gue merasa sangat bersemangat setiap mau berangkat sekolah. bahkan kadang deg-degan excited di atas becak membayangkan dan bertanya-tanya akan belajar apa hari itu.

semenjak 'berlatih' bikin startup ini, gue jadi tersadar kalau gue butuh "hunger" aka rasa lapar dan excitement seperti waktu SD dulu itu. akan ilmu dan ranah baru yg belum pernah dijajaki.
gue nggak bisa lagi menghindar-hindari kesempatan (keharusan?) belajar simply because "itu bukan ranah gue," atau karena "gue nggak butuh tau itu ah." padahal justru saat ini gue butuh belajar membuat kesalahan alih-alih menghindarinya.. karena gue bergerak bukan lagi berdasarkan titah dan perintah, melainkan karena sekarang ini we eat what we kill; kalau nggak bergerak ya nggak 'makan' - which means zero progress.
I learn and improve through my mistakes. I am growing.

di sini, pengetahuan gue buat ngatur budget, nyusun marketing plan, multitasking, daaan lain-lainnya, kepake semua. gue juga harus buka mata untuk tau soal hal-hal yang tadinya gue nggak familiar sama sekali.
it's scary!! but damn exciting as well. 
just like the surprising pregnancy. 


"do you believe that there's Someone up above?
and does He have a timetable directing acts of love?
why did I write this song on that one day?
why did you touch my hand and softly say,
'stop asking questions that don't matter anyway
just give us a kiss to celebrate here today: something changed.'

03/08/2017

the seven-year itch

hello cyber-world.

it's been quite a while a while. 
life keeps on turning and here I am, hooked on its wiring. 

baru sadar ini udah agustus. where have I been?
well, sejak februari kita nggak menempati rumah ciganjur, tapi pindah ke apartemen yang posisinya di tengah-tengah sekolah dan kantor. gue berdoa di blogpost ini, semoga kepindahan ini memberi efek positif ke kita sekeluarga. and guess what? now I'm pregnant hahahah. 
alhamdulillah pastinya... 
di awal 2017 kita emang udah nggak pake kontrasepsi. but we were so chill, mikirnya nggak bakal langsung dikasih. lha wong bumy dulu kan usahanya hampir setahun sampe ujung-ujungnya konsul ke dokter dan didiagnosa PCOS. salah satu yang bikin gue males hamil dari dulu (di antara ribuan alasan lain) adalah nggak mau mengulang minum obat-obatan selama hamil kaya dulu. jadi kalau dikasih ya alhamdulillah, kalau nggak ya it might be the best for us. 
sampai di bulan april, gue baru ngeh kok mens gue telat. padahal udah beberapa tahun belakangan selalu on time. gue mulai agak cemas (yes I won't deny kalo initial reaction gue berupa kecemasan), apa gue hamdun yaa. 
sampai pas di hari pengumuman Ahok kalah di pilkada putaran ke-dua, gue diem-diem beli sensitip dan ngetes. hasilnya: dua garis merah tebel. melongoklah daku di toilet pacific place.  




malemnya kita dinner bertiga di santa 88, dan gue keluarin dengan santai itu testpack ke depan adit. dia kuaget, dan otomatis bilang "waduh?!" hahahahahhah. 

jujur aja waktu itu rasanya langsung kalut. I mean, it's my first pregnancy after 7 yearssss... udah blank, lupa segala-gala. dan terbersit di pikiran "can we??" 
are we ready? can we still live in the apartment? will we need live-in babysitter? or is it daycare? which daycare?? etc etc. 
kalut berkecamuk alih-alih girang gempita. 

tapi Allah emang selalu mengirimkan bantuanNya di saat yang tepat. 
during that period, He sent me Kiti. 
what she said to me reassured me, 
"Chomey, I couldn't be more happier! Allah PERCAYA sama kamu. He knows you can do this! Dia akan kasih beserta 'kelengkapanNya'. Rezekinya, rezeki kamu sekeluarga, kesehatan untuk kamu dan kandungan kamu, dll."
I was left speechless.

alhamdulillah, sekarang kehamilan udah memasuki bulan ke-lima - I guess. haha. emang jauh lebih santai rasanya dibanding dulu, nggak terlalu kepo dan parno. gue masih hunting obgyn dan rumah sakit yang cocok. selama hampir empat bulan pertama bolak-balik mual dan muntah-muntah, ditambah sakit lambung juga sampe sempat ke IGD. tapi alhamdulillah sekarang kehamilan ini udah jauh lebih bisa dinikmati. makan udah enak, no more mual kecuali maag kumat, badan juga nggak sesensitif saat trimester awal. sensitifnya kemarin tuh sampe kalau kena air mandi yang dingin atau kena panas pas naik ojek aja rasanya sampe sakit-sakit di kulit bok. mood masih naik-turun, tapi nggak dominan bad mood kayak waktu trimester awal sih, hehehe, sekarang lebih stabil. 
semoga rasa enjoy ini bisa berlanjut sampe melahirkan, menyusui, dan begadang-begadang kelak yaah... aamiin. 

katanya sih it's a boy xD


24/04/2017

starvation of the heart

jauh sudah aku berjalan.
rasakan pahit, rasakan manis
rasakan gelap, rasakan terang.. sampai ku tak tau jalan pulang
tinggi, aku terbang semakin tinggi, lewati awan hampa udara hingga ku lemas, hingga ku jatuh
tapi aku harus bertahan hidup
tolonglah, tolonglah tunjukkan jalan ke rumahku
tolonglah, tolonglah beri udara 'tuk napasku
siapa yang akan menolongku, pegang tanganku bawa ke rumahku?
rasakan kasih, rasakan sayang.. hangat pelukan, hangat kecupan
ada teh hangat dan roti bakar, bantal yang empuk, kasur yang lembut
ada larangan, ada aturan, tatapan mata penuh curiga
gorden yang cantik, dapur yang unik, dan anak kecil panggilku ibu
dan seorang pria ucapkan salam "selamat pagi"
aku jadi rindu rumah

di atas tuh potongan lagunya Oppie Andaresta yang gue sukaaaaa bangett. pertama kali dengar di album "Bidadari Badung" tahun 1995, waktu gue masih bocah SD yang nggak ngerti-ngerti amat maksud lagunya tapi somehow suka aja. kini, semakin gue menua, lagu ini malah semakin 'menusuk.'

siang ini, entah kenapa gue kebayang suatu momen di masa lalu bersama Weich ketika lagu ini mengalun.
waktu itu gue baru mulai kerja setelah lulus kuliah.. jam 6 pagi duduk di angkot bersebelahan dengan nyokap yang mau berangkat kerja. posisi duduk gue/kita tepat di sebrang pintu masuk angkot. 
ketika memasuki gerbang portal sebuah kompleks, angkot berhenti sejenak untuk menaik-turunkan penumpang. tiba-tiba gue liat dia, Weich, lagi berdiri di pinggir jalan dan sedang melihat ke arah gue juga. serta-merta gue dengan heboh dadah-dadah ke dia, begitupun sebaliknya. tapi angkot buru-buru berjalan lagi. it was just a brief moment, mungkin lima detik pun nggak sampai.
tapi gue masih inget banget momen di pagi itu, sampai sekarang.
entah gimana gue ngerasa Weich takjub sekaligus seneng ngeliat gue... dan itu terbukti. beberapa saat kemudian (gue lupa, mungkin di hari yang sama, bisa jadi bukan) Weich bilang ke gue, "waktu gue liat lo pagi itu, chom, gue berpikir, emang yah, akhirnya kita akan 'balik' juga ke keluarga."

kita udah saling kenal sejak umur 12 tahun. Weich mungkin orang yang paling hapal gimana turbulensi hubungan gue sama nyokap. it's a classic love and hate relationship. 
Weich *tahu* gimana kejadian gue duduk bersebelahan dengan nyokap di pagi itu bermakna sesuatu... 
salah satunya mungkin bahwa meskipun gue dan nyokap bisa dibilang "musuh" abadi, but deep down I've always been my mom's little girl. that making her happy is my ultimate goal in life. gue sebel diatur-atur sama dia tapi bakal nurut anyway karena she's the only one I trust. di momen papasan itu, gue belum lama memutuskan pakai jilbab, mungkin baru sebulan. dan nyokap adalah orang pertama yang menentang. alasannya macem-macem, tapi mungkin yang terasa paling jujur adalah : "mama nggak mau jadi nggak kenal kamu lagi."

but time is helping us like it always does. and there we were, sitting next to each other on our way to work.

**

usia 30 tahunan ini bagi gue rasanya identik banget dengan kegiatan mengevaluasi keputusan-keputusan dalam hidup. hari demi hari, pembicaraan gue dengan diri sendiri bukan lagi diisi dengan "apa yang mau gue capai habis ini?" atau "where do I go from here?" melainkan "apa gunanya?" "bener ga sih ini yang gue mau?” “gue lakuin ini buat siapa?”

the thing about parents, is that they only and always want the best for you. maksud mereka pasti dan selalu baik, tapi apa yang mereka pikir terbaik dengan apa yang gue mau nggak selalu sejalan. and that is something I've been struggling with my whole life.. 

let's say dalam hal jurusan kuliah. if it had been totally up to me, gue yakin udah kuliah di IKJ. tapi ya gitu... are we gonna go through that again? hahaha. 
atau... selera gue terhadap lawan jenis. I know my taste in men was questionable. gue kerap tergila-gila suka sama orang yang 'nggak biasa.' musisi, aktor teater, pengembara, gambler (haha) dan entah macam apa lagi. tapi... mungkin berkat doa ibu, gue dikasih partner idup yang 'normal' dan reliable - yang terbaik buat gue. 

mungkin... saat weich melihat gue sekilas di angkot itu, dan sekarang saat gue denger lagu "Rumahku," yang dia dan gue rasakan adalah... mungkin hidup untuk menyenangkan orangtua is not that bad after all. dikatakan kalau ridho orangtua adalah ridho Allah, and it's something that I believe deeply. 

hidup gue mungkin jadi se'genah' ini berkat konsistensi bokap nyokap mendoakan gue. 

tempo hari, waktu lagi makan siang di dekat kantor seperti biasa, tiba-tiba gue berpapasan sama Arryo. dia bisa dibilang childhood friend bagi gue, dan juga Weich karena kita satu sekolah sejak SMP. di tengah perbincangan kita, tiba-tiba Arryo bilang, "elo itu anak baik-baik yang jago berkamuflase jadi anak bandel, Ris." 
dan gue termangu. 
mungkin dia udah tau hal itu sejak lama.. sebagaimana Weich juga sudah sadari jauh-jauh hari, mungkin sejak pagi kita berpapasan itu. 
despite all my rage and rebelliousness, I am still just my parents' little girl. 

dan tugas gue sekarang, adalah berdamai dengan "identitas" itu. 
I crave for stability, security, and logical things that my parents have been cultivated in me since I was a child. 
maybe that's why I ended up masuk tlkm and returned back to the place despite all my complaints and unhappiness. 
but there's also the yearning in me to "burn my bridges, to swallow the poison in one gulp instead of drop by drop, to go down into the bottom of my fear and see if I could pull myself up,"*) because I never really know what it's like to do things for the sake of MYSELF. 
maybe that's why I do what I do; restlessly questioning, restlessly searching, continuously starving ... for something that could cater all the contradictions within me. 

***

seperti kilas pertemuan gue dengan Weich pagi itu, hidup mungkin hanya untuk bersua sesaat. dan di tengah semua kegelisahan dan kesakitan menjalani pilihan-pilihan ini, gue diingatkan, bahwa ya, hidup hanya sesaat. I don't have all the time in the world. 
now is the time to make peace. now is the time to make closure. 
now is the time to do the things I've always been scared of. 

oh Weich, betapapun kini kita sudah tak berada di "ruangan" dimensi yang sama, tetap saja lo menjaga dan mengurusi gue yang senantiasa linglung ini. 
never realized how truly lucky I am to be a friend of yours... for a moment here on earth, and hopefully later in heaven as well. 

always have, always will


*) quoted from the book "Fear of Flying" by Erica Jong.

05/04/2017

full frontal

suatu hari, gue tengah makan siang bersama teman-teman seperti biasa... tapi variasi teman-makan-siang hari itu sedikit berbeda. kebetulan ada pacarnya tan Yen. kebetulan gue ngajak rekan kerja yang masih muda belia dan berencana nikah dalam waktu dekat. plus satu kebetulan lagi, ada rekan kerja - sebut saja G - yang tiba-tiba dateng ke tempat makan yang sama dan akhirnya nimbrung sama kita. 

dalam formasi maksi saat itu ada tiga orang (satu setengah pasangan) yang berencana menikah tahun ini. jadi pembicaraan di meja ya seputar persiapan merit, do's and dont's (haha), ples mines bahtera pernikahan (even louder hahaha), dan sejenisnya. 
sebagai latar belakang kisah, tan Yen dan pacarnya udah usia kepala tiga kaya gue, sementara si dedek baru 24 tahun.. seumur gue dulu waktu merit. 
di tengah percakapan itu, gue melontarkan pernyataan, "nikah mah ga usah buru-burulah.. berat tau kalo nikah (ke)muda(an)." 
ini testimoni yang subjektif sih.. yang kemudian disanggah sama si G.  

but! let me explain my reason. gini loh, usia awal 20 tahunan mungkin terkesan cukup ya buat nikah. tapi berkaca dari pengalaman, rasanya berat banget deh dulu itu kalo diinget-inget.. semua-mua dihadapi di saat yang bersamaan: di kantor masih jadi kacung kelas rendah yang menuntut dedikasi dan waktu tinggi, sementara di rumah baru punya orok yang bikin begadang melulu.. nikahpun beda banget sama pacaran, yang dijalani bener-bener bukan lagi rainbows and butterflies. tapi tanggung jawab, kompromi setiap saat, mitigasi konflik, belum lagi urusan finansial yang menghimpit... 
kebayang kan, tanpa kedewasaan dan kecerdasan emosional yang cukup, challenging banget menjalani isu-isu tersebut all at once. karena itulah gue nggak lagi heran kalau denger tentang kisah kasih yang harus berakhir saat usia pernikahan baru seumur jagung. 

meski udah gue paparkan begitu, si G justru kontra. menurut dia, "justru enak kalo nikah muda, hidup jadi lebih cepat terarahnya, lebih juntrung. contohnya kayak mbak Riska ini nih," dan gue pun herman tau-tau disorot. 
insight dia gini: dengan nikah cepet, prioritas jadi terbantu disusun. yang paling keliatan ya di urusan finansial. emang sih... duit jadi ada ''wujud'nya terpakai buat apa. di gue, ya berwujud tempat tinggal (yang masih kridit), sama bayar uang pangkal sekolah anak haha. 
prioritas di sektor lain-lain pun terkena dampak... kalo di gue, menyusui dan ngurus anak pas masih balita bobotnya lebih besar dibandingkan ninggalin dia ngantor atau menuntut ilmu di negri orang. positif atau nggaknya dampak tersebut mungkin baru bisa dinilai di kemudian hari, kayak yang gue pernah kontemplasikan di blogpost ini

jadi yaah.. ada benernya juga pendapat doi. 
mungkin karena itu menikah disebut ngebuka pintu rezeki. karena tujuan hidup setidaknya jadi lebih clear, yaitu mengurusi dan menghidupi keluarga. 

hikmah lain yang gue tangkap dari potongan percakapan saat makan siang itu adalah... betapa gue memerlukan perspektif orang di "luar" kehidupan gue. bukan karena gue haus pengen dijudge sihhh, tapi karena pandangan mereka bisa ngasih insight yang berbeda, bahkan mencerahkan. honestly pendapat si G kemarin itu bahkan bisa bikin gue nggak terlalu menyalahkan diri sendiri lagi karena nikah kemudaan. gue jadi mikir, iya sih, idup gue genah juga kalo dipikir-pikir... semacam membuktikan kalau gue nggak selalu tolol-tolol amat kalau ngambil keputusan. 

******

gara-gara sekelumit pembicaraan itu gue jadi keinget momen-momen lain di mana perspektif orang lain tentang idup gue membuat diri ini 'terkejut'...  
contohnya waktu lagi ngobrol sama tan Yen, di mana kita lagi sibuk berkeluh-kesah tentang kerjaan dan kehidupan, kita pun ngelantur.. berpikir soal nyari sumber energi kehidupan di luar lingkup kantor dengan mendalami hobi, passion atau apapun itu. tan Yen tiba-tiba berkata, "lo mah enak, hobilo udah jelas: nulis. jadi lo bisa nyalurin hobi."
and i was like.. iye juga yak. hobi gue nggak ribet-ribet amat, nggak butuh biaya banyak, bisa dilakuin sembari berakting kerja di depan laptop pula.

okelah nulisnya juga kacrut semacam ngeblog kayak gini haha, but the point is, everybody needs a release. bisa jadi buat pelarian dari sumpeknya rutinitas kehidupan, tapi kalau ngasih efek yang positif ke jiwa raga, ya wai not?  
in fact I think I should do it more often.

contoh lain lagi yang kepikiran adalah waktu rumah ciganjur dilepas ke pasaran (for rent). kebetulan bunda Rahma mau bantu ngiklanin, dia publishlah lewat socmed dan ke kenalan-kenalannya yang berpotensi berminat.
gue kepo dong ya sama reaksi pasar, gue ceklah akun socmed si bunda.. eeh nggak nyangka hatiku dibuat trenyuh sama komen-komen orang di situh. ada yang bilang rumahnya homy banget (redundan ga sih), bagus, dan sebagainya. padahal selama tinggal di situ gue kerap mengeluh... jauhlah, terpencillah, intinya jago banget deh gue menemukan kekurangan dalam apapun.

kurang dari seminggu setelah diiklanin, alhamdulillah ada yang berminat. di hari sabtu kita janjian sama beberapa orang, tau-taunya yang pertama melihat langsung jatcin dan bayar tanda jadi. eh kok semudah ituu? sekonyong-konyong aku merasa SAD. 
beda aja rasanya ketika harus melepas... padahal cuma buat disewain. 
maybe not realizing the true worth of something we acquire until it's gone is simply human nature. 


from here


******

well, since we're on the "episode," I think it's a safe place to blurt out some mis-perceptions about me from other people that I could recall.

- "Antisosial? Mbak Riska banget." - something a younger colleague said once. little did she know alasan terbesar gue balik ngantor hanyalah demi berada di antara orang-orang...
- "Ah elo mah nggak pernah patah hati." - a person. HAHAHHA. 
- "Aduh ini cowok oke banget. Awas ya, jangan lo godain." hastaga. bener-bener nggak bakal ada yang percaya kali ya gue ini PEMALU... :)))

btw I suppose this post qualifies as an uber self-centered and narcissistic post.. haha. not that I intended it to. tapi begitulah, kadang mau se-sophisticated/deep/intellect apapun kita mengemas diri, ketika benar-benar 'telanjang' mungkin yang tersisa hanyalah hal-hal dangkal. 



16/03/2017

vapour trail

life is not so bad. it hasn't been thus far.

I tried waxing for the first time. legs only, though, it's a safe rookie move.

I did (and still've been doing) yoga and zumba at the office. 

but I've missed walking all by myself in the afternoon... heck I've even missed sunsets. 

literary-wise, I've been trying to finish reading "raden mandasia" and marie kondo's book and a book titled "emotional intelligence" - so yeah, I've reached the age where self-help genre doesn't sound like bullsh*t anymore.

I've been meeting and knowing and connecting with new interesting people.. most are younger than me, they put "mbak" in front of my name but it doesn't really matter, not to me at least.  

I met and talked and reconnected with old, beloved friends of mine. kiti and elmo. wawan. edo and other weich's "bear" friends. girls from citi. aside from talking about and romanticizing the past, the conversation also revealed some newfound "facts" and perspectives. it's kind of strange how you thought when you'd known a person for a long time, nothing would be so surprising.. it's like when you've walked through a familiar route for years, you don't anticipate different turns or detours. but sometimes, even with familiar faces and the usual interaction, you'll gain unexpected insights and perhaps learn something new about yourself. 

I've had some short getaways I haven't got time to "report" about here.. belitung, surabaya, bandung, tegal, cirebon, to name a few. those trips were short and tiring, but also refreshing and memorable. 

for instance, I remember that feeling I found when I visited Belitung.
one of the activities we sort of awaited for was island-hopping. well, being not-a-beach person that I am, suffice to say I was giddy and scared from the first moment we stepped onto the sand.
what are the odds, on our way to Lengkuas island, the weather suddenly worsened. and then the rain poured.. the wind blew hard... and o boy didn't the boat ROCK.. I was panicked.. but not really, because my mind was focused more on keeping Bumy and Abhi calm. Bumy even started to get a bit seasick. Abhi just closed his eyes we thought he fainted. 
but alhamdulillah, we managed to sail safely... as I looked back to the trip, I felt.. strange... a mixture of relief, victory, and delight. maybe I could call it being "happy" - for I've done something I've always been scared of. the journey wasn't perfect.. tapi untuk bikin bahagia mungkin emang diperluin ketidaksempurnaan dan ujian-ujian. 


*****

the longer I've lived, the more I realize how true these words are..
"you are what you love, not what loves you." - from the movie "Adaptation."
I am shaped and built by the things I love.. things that make me feel alive. things I'm willing to sacrifice for. 
it's what really matters: the things that uniquely gives meaning to my life. those things might be futile and insignificant for other people, but to me, they're fundamental. 
whether or not those "things" love me back doesn't define who I am. 

it just crossed my mind in a flash, on a hot afternoon at Grand Lucky SCBD's parking lot.. the realization that I've lost the sense of who I am and how I've lost "love." maybe it's love for the life God has bestowed upon me, or love for things that make me passionate, or maybe both... 
and I think I've been mistakenly trying to find it in hopeless places... by settling in a job I don't like, and oppressing my heart's calling, and steering away from God's path... 
my source of LOVE, it never leaves, it has always been within me all along. waiting to be nurtured and rekindled and refined. 

I am what I love. 
it's the things that I like, the things (people, activities, choices) that spark joy inside me. 
so let them lead.. let love guide me to the "track" of self-growth and blessing...


"some psychologists classify every emotion as either love (attraction) or fear (aversion). it's not unusual for humans to base almost every decision on fear: fear of rejection, fear of poverty, fear of looking dumb, and so on. but.. I've seen that fear-based decisions lead to hollow victories at best, endless regret at worst.
only love-based decisions create lasting happiness." 
(Martha Beck)





at a place called "happiness" :D 
at hanamasa... remembering and honouring Weich <3

<3<3<3