21/08/2016

in the attempt of not forgetting


beberapa hari lalu gue sedang ngobrol dengan seorang kawan, who recently has a new boyfriend. tiba-tiba dia bertanya ke gue, "kok tumben lu nggak kepoin cowok gue?" heran banget kayaknya dia, sampe harus bertanya begitu, haha. i have to admit, kalau gue ini super kepo *terutama* di urusan percintaan orang lain xD apalagi temen-temen yang single. wajar banget sih gue rasa, namanya juga emak-emak kurang drama. 
to be honest, gue dibuat semacam terhenyak sih oleh pertanyaan itu. and i just answered with the only thing i've been feeling: "iya nih.. gue akhir-akhir ini lagi agak gloomy sejak temen gue meninggal."  
and that's the only truth i know. kepergian weich, kepergian mendadak bapak mertua, semua fakta dan peristiwa itu terhidang. selalu ada pilihan, untuk menjalaninya hingga semua dampak dan perasaan yang ada berlalu, atau coba memaknainya sembari melaju. and i chose the latter. 
gue jadi tersadar kalo makna yang gue lekatkan pada sebuah peristiwa itulah yang menentukan seperti apa respon gue…. 

selama ini gue tau, kalau hidup cuma sementara. we are merely passerbys. kedua peristiwa kematian orang terdekat gue di bulan juli lalu sama-sama terjadi secara tiba-tiba. none of them had a chance to say goodbye or put some kinda closure to their life. mereka sama sekali nggak sakit sebelumnya. bapak mertua gue lagi seneng-senengnya menanti kehadiran cucu ketiga yang bakal tinggal di rumahnya. weich juga lagi seneng-senengnya menapaki kehidupan baru di sydney.

peristiwa kematian mereka membuat gue jadi sadar kalau selama ini gue nggak paham apa itu kematian. 
gue tau, tapi gue belum punya kesadaran yang tepat tentangnya. 
pengetahuan gue itupun masih sama dangkalnya dengan yang gue miliki sejak gue masih duduk di bangku SD. yaitu bahwa kematian berarti perpisahan karena kita nggak akan pernah bertemu orang itu lagi. bahwa kematian itu hal yang nggak nyaman buat dibahas. harus dilekatkan dengan kata "amit-amit" atau "pamali." bahwa kematian, dan bahkan pembicaraan tentang kematian, harus ditunda, didorong sejauh-jauhnya ke pojok ruangan. lupakan tentang itu sebisa mungkin. enjoy LIFE. live it to the fullest. just-don't-think-about-it… about death.
dan karena pemikiran itulah, gue jadi menganggap bahwa it can't happen to me, nor to my family, nor to my closest friends. it shouldn't happen to us! - because we are the people that live everyday and strive to put meaning in it, and will be successful in achieving things we're meant to achieve. 
how silly and clueless and misguided i must've been… semua karena pemaknaan gue yang salah. 

gue nggak sadar kalau kematian itu bersisian begitu dekat dengan kehidupan. dan bahwa hanya dengan memahami, mendalami, dan merangkul adanya kematianlah kita bisa benar-benar menghidupi hidup… 
this is how i realize that i've been trying to survive - no, not living - inside a bubble. gelembung pemikiran dan kepercayaan yang rapuh, yang gue buat untuk melindungi diri sendiri dari hal-hal 'menakutkan' yang mengingatkan gue pada konsep kematian. 

hari demi hari melulu gue isi dengan bagaimana caranya supaya bisa 'eksis.'
gimana supaya gue bisa meninggalkan nama besar di dunia. atau gimana supaya hidup gue enak, terhindarkan dari kemiskinan. gimana supaya gue bisa melangkahkan kaki gue ke seluruh penjuru dunia. gimana supaya gue dapat ilmu sebanyak-banyaknya. gimana supaya gue "sukses."
as if that really even matters….
seorang mayit nggak akan peduli whether dia dielu-elukan atau dihina sama orang-orang yang masih ada di dunia. karena nggak akan ada efeknya lagi buat dia… 
cuma sedikit banget yang bisa dibawa ke alam selanjutnya. and it's surely not wealth, pride, or knowledge. 
cuma amal baik kita doang…. 

weich dan bapak mertua gue emang bukan manusia sempurna. gue tau celah-celah kekurangan mereka just like they knew mine. tapi mereka benar-benar berhati emas. banget. keduanya nggak punya personality yang sama tapi SELALU menolong orang lain. they shone love through their deeds. yang satu meninggal di usia 33 tahun, sebulan setelah ulang tahunnya. yang satu di usia 67 tahun, hanya tiga hari setelah hari ulang tahunnya. keduanya punya mimpi dan rencana-rencana besar. namun keduanya pergi tanpa sempat mewujudkannya… 
gue jadi tersadar kalau masih memaknai kematian sebagai akhir dari segalanya. as a sad ending to a life not yet fulfilled. padahal kematian adalah awal kehidupan baru, di alam yang berbeda. 
bedanya, di sana kita hanya tinggal merengguk konsekuensi dari apa-apa yang udah kita buat di alam dunia. and that's when i realized that weich and my father in law would be just fine… 

they have nothing to regret. they're at the best place they can be now. 
dan 'tugas' gue sekarang hanyalah mendoakan mereka, dan MENCONTOH bagaimana agar gue bisa mengumpulkan banyak amal baik di dunia seperti mereka. 

bismillah… semoga gue bisa bangkit dari rasa kehilangan dan kebingungan ini. 
semoga gue bisa terus mengirimkan cinta kepada mereka yang telah mendahului. 
dan semoga 'kesadaran' ini bisa membawa gue untuk lebih dekat denganNya. 

19/08/2016

#backtowork review: agustus dulu dan kini


hey, it's august already!
bukaaan, bukan mau ngereview resolusi entah-apa-itu kok haha. gue justru mau memeringati sebuah tonggak sejarah dalam idup, sesuatu yang sifatnya sangat esensyal. yaitu tepat setahunnya gue kembali bekerja. #backtowork beibih! kekekek...
semangat banget ya kayanya? apa iya secara riil gue (masih) segitu bersemangatnya?

ngejawabnya nggak bisa plek-plekan "iya dong!" atau "puhleeez i can't wait to be back to gabut SAHM life" doang, tentunya. lagian nggak bisa ngoceh panjang-lebar dong awak kalau nggak pake bumbu-bumbu drama kehidupan dulu 'tuk menjawabnya. 
gue memilih untuk memakai "alat ukur" berupa career triangle seperti yang pernah dibahas di blogpost ini beberapa waktu lalu. kilas balik dikit, career triangle alias segitiga karir adalah pengelompokan pilihan dan konsekuensi karir menjadi 3 hal besar, antara lain money - fulfillment - time. 
jadi mari kita telaah! 

>duit
ya tentunya enak ada pemasukan (lagi), bisa berkontribusi lagi buat keluarga. ya secara kita mahzab keuangannya satu pintu, semua plek jadi satu. ya gaji, ya bonus, ya utang, hahaha. eh kecuali duit dari freelancing sih biasanya masuk ke kantong gue sendiri xP 

tapiii as we all know, buat kelas menengah nan mandiri kayak kami ini (aamiin ya Allah), bekerjanya gue juga berarti memunculkan pos-pos pengeluaran baru juga. 
di bulan pertama gue ngantor, kita ngekos dan titipin bumy di daycare. sekarang, beralih jadi pakai jasa ART dan supir. belum lagi hidden cost of being a working mom (tadinya gak mau nulis 'working mom' tapi 'worker' aja for the sake of the feminist inside me, tapi dipikir-pikir lagi, Adit kok gak punya hidden cost macem-macem buat jadi worker, haha). 

sehubungan status pekerjaan gue yang sebagai karyawati BUMN, makna "duit" di career triangle bisa meluas jadi kompensasi dalam bentuk yang lain, sih. misalnya benefit asuransi kesehatan sesudah pensiun, daan kesempatan ambil pensiun dini. juga manfaat intrinsik berupa sifat pekerjaan yang terbilang 'safe' - dalam artian lebih 'stabil' dibandingkan industri tempat Adit kerja. 

kesimpulan sementara yang didapat: it *does* fel good to earn my own money. terlepas dari seberapa besar kontribusi yang diberikan, tapi perasaan berdaya alias empowered itu yang tak ternilai. 

>waktu
kalau waktu dimaknai sebagai kesempatan untuk masih punya waktu atau "me time" di luar kantor, ya alhamdulillah sejauh ini gue masih sempat punya me time, hehe. 
seandainya gue tetap mau beraktivitas freelancing nulis atau blogging pun bisa dicari waktu ngerjainnya. tapiii lagi-lagi seperti biasa, seperti yang sudah-sudah, BALIK LAGI ke pinter-pinternya sang diri nerapin time management. and i still suck at that.. hkahkahkahkk. makanya makin minim aja kontribusi yang gue buat ke blog manapun. jelek sih efeknya, gue jadi kerap kelu dan gugup untuk bertutur. skill nulis juga rasanya nggak nambah-nambah. 

kalau dipikir-pikir lagi, bukannya porsi waktu tuh segitu-gitu aja buat semua orang di muka bumi? we can only make the best of what we're given. jatah waktu idup barulah berbeda-beda... 
the concept of time even says that it's relative. setahun bisa terasa lama when we're stuck at a job we hate. tapi juga bisa terasa terlalu cepat ketika kita mengenang tahun-tahun yang udah terlewatkan.  
gue jadi inget perkataan tentang bagaimana pada hakikatnya setiap peristiwa itu netral. kitalah yang punya pilihan mau gimana memaknainya dan mau seperti apa kita bertindak (free will, remember?). jadi, kayanya bagi GUE untuk bisa megang banyak peran dengan baik (bukan sempurna loh), gue bukan cuma perlu nerapin time management yang baik, tapi lebih bermanfaat kalau punya MOOD MANAGEMENT. hahaha.. mood memegang kendali banget sik di gue. gimana cara ngerebut setirnya yak?? aslik ini mah derajat kesulitannya di awang-awang buat gue. 

but! never say never, sister. 
(so, where should I start? *berbisik* *clueless*)

kesimpulan sementara: kerja atau jadi IRT nggak ngaruh; gabut bisa di mana aja kapan aja x)))

>eksistensi/fulfillment
okeh ini dia yang seksi menggigit.. perempuan bekerja dan eksistensi. 
jujur aja yak, i do feel a lot better sejak bekerja lagi. as i wrote, i think i value myself more karena bisa berkontribusi buat (keuangan) keluarga. 
gue juga seneng bisa keluar rumah untuk suatu tujuan - yaitu ngantor - setiap harinya. ini mungkin tepat buat orang seperti gue, yang kontrol dirinya eksternal, alias perlu hal-hal di luar diri sebagai motivasi. 
meskipun begitu, di sisi lain, gue merasa kantor gue nggak bisa memfasilitasi personal growth gue. ada yang bilang you can't have it all, dan itulah yang terjadi. kalau di bisnis dibilang dari 3 kata sifat faster, better, cheaper, lo cuma bisa dapet 2 dari 3. nah gue jadi mau ngarang teori. mungkin in terms of kerjaan, kata-katanya bisa diganti dengan: bikin kaya, bikin pinter, bikin bahagia. the same rule applies, cuma 2 dari 3 yang bisa didapet. hahahha... pure ngarang sik. 

kalo gue balik lagi liat ke kondisi diri, apakah kerjaan gue bikin kaya dan bahagia? well, in a way, it is. gue jadi punya income sendiri yang nominalnya CUKUP buat gue. gue juga somewhat "bahagia" karena bisa sesekali sering gabut xD tapi kayak yang tadi gue tulis, I got zero personal growth a.k.a. pekerjaan ini nggak bikin gue pinter. 

MUNGKIN... penyebabnya adalah gue emang nggak mau ambil kesempatan untuk jadi lebih "pinter." karena gue masih mau bermain di ranah yang gue kenali aja or in other words: gue nggak mau melakukan lebih dari apa yang ada di job desc gue. belajar bisa di mana dan kapan aja, 'kan, kalo kata kakek bijak di anggur cap orangtua. 
it's all in my hands. 

kesimpulan: BELUM merasa fulfilled karena belum mau belajar. 

ya gitu deh... 
sekarang, gue nggak bisa membayangkan gimana setahun kemarin gue bisa 'bertahan' hidup di ranah domestik thok. dan masih teringat gimana setahun kemarin gue sedang dengan beratnya menjalani tahapan transisi peran ini... ketika gue tengok foto-foto dari periode setahun lalu, gue ingat itulah masa-masa di mana gue dan juga Bumy masih 'kaget' karena gue udah harus ngantor lagi. 
muncul rasa mellow sih... liat Bumy kepalanya diplester karena dinakalin temennya di daycare T__T 
keinget kita suka makan malem bebek goreng bertiga di dalem kamar kosan karena ibu kosannya jual bebek goreng haha... 
ahamdulillah waktu itu kita DIMUDAHKAN banget nyari kosan maupun tenaga antar-jemput bumy dari sekolah.. huhuhu. jadi berasa kalau yang suka disampaikan di majelis tafakur itu bener, "ketika Allah sedang menguji kita, jangan MERONTA... justru kita harus larut dan berserah diri padaNya" karena Dia memang memberikan ketidaknyamanan, tapi tidak pernah memberikan keburukan. 


we were on a dinner after I worked. I remembered he told me he was missing me soooo much T___T

di kamar kos

dinakalin anak daycare!!! T____T

a coincidence? I guess not..
for now, I could say that I don't like or even love my job, but I believe me being back to work dan semua 'drama' yang menyertainya terjadi untuk kebaikan kami sekeluarga. I believe life is happening for me. just like I wrote a year ago, again, I just have to trust the process and focus on the big picture. 

*bookmark blogpost ini sebagai referensi kalau lagi kumat "meronta"nya hehehe..
*the title is copied from an article's title on the Magdalene

16/08/2016

the august holiday



Is this what people call post-holiday blues?
Hati gue nlongso bener rasanya hari ini.
Setelah hampir seminggu di singapur, hari ini – Jumat, gue pun back to work.
Diawali dengan bangun kesiangan. Karena itu ditambah kemacetan nan biasa, Bumy telat 10 menit sampai ke sekolah. Padahal cuma seminggu menikmati kondisi tanpa macet dan public transportation yang (amat) layak, tapi perasaan langsung agak-agak eneg gimana gitu.. hahaha.
Di perjalanan menuju kantor, muncul “firasat” bos ter(not)cinta bakal nyuruh gue pergi keluar kantor hari ini. Padahal gue berekspektasi bisa ngaso-ngaso maniez di kantor; kayak ngeblog, maksi sama tante-tante, lanjut bobok siang sejenak dua jenak xD tapi ya namanya buruh, kudu nurut apa kata majikan, 'kan. Dan bener aja, jam 8an gue dititahkan ngikut rapat di luar kantor. Hhhh....
Saat mau berangkuts, hati jadi semakin mangkel ketika menyadari kalau charger laptop gue RAIB. Belengcek banget nggak sihhhh... Tapi alhamdulillah the so-called rapat bisa selesai jam 4 sore (itupun udah seharian). Jadi di jam 5 sore ini gue udah bisa nongkrong ngopi sembari nungguin Adit ketemu dosen.
What is it that I wanted to talk about?
Singapore has been.. refreshing. Capek sih, as expected. Tapi pikiran dan mental jadi jernih dibuatnya. Entah karena efek jalan kaki hampir 10 km per hari (hiperbol), atau juga karena segala keteraturan di sana ngasih kita perspektif ‘baru’dalam hidup. Itu esensinya traveling, ‘kan? To gain something intangible: experience, inspiration, and the chance to miss your home. Enam hari tetep ajah kurang rasanya. Adit langsung ambisius, “Insya Allah next time kita dua minggu ya di sinih.” Aamiin. 
Tapi tau nggak, hal pertama yang terucap dari mulut gue begitu menjejakkan kaki di lobi terminal 2 Cengkareng adalah, “Aslik enakan di sini.” Yes, in Jakarta I mean! Hahaha… Dan Adit setuju dong, dengan pernyataan gue ituh. 
Kenapa, yak? Well, yang terutama banget banget sih karena cuacanya… Di sg rasanya sumukkkk bin lembap ampun-ampunan. Keluar dari ruangan (ber-ac) langsung terasa drastis banget perbedaan hawanya. Alasan kempi sih, tapi emang begitu adanya yang dirasakan. Bukan berarti lantas bakal menampik kesempatan buat tinggal di negara selain Indo lah. Naluri merantau gue masih tetep kentel kok secara emang #urangawak haha.. intinya hanyalah, Indonesia nyaman banget buat ditinggalin. Cuaca nih faktor besar untuk dipertimbangkan kalau mau pindah negara, nggak sih? Gue mau nggak mau teringat almarhum Weich yang begitu berat menjalani minggu-minggu awalnya di Sydney yang kebetulan pas lagi musim dingin. Sedingin-dinginnya di Jakarta, ya palingan kalo lagi rutin hujan (plus banjir plus macet). And that's what I'm used to sejak dilahirkan. 
Udah gitu Jakarta juga rasanya lebih ‘berwarna.’ 
Gue pernah denger seorang businessman (lupa namanya) Indonesia yang sukses di New York bilang kalo “Sekarang ini istilah yang tepat bukan lagi ‘If you can make it in New York, you can make it anywhere’ tapi ‘If you can make it in Jakarta, you can make it anywhere!’” Sebegitunya bok!
Ya jelas aja, di sini metromini sama angkot bisa seenak-enaknya ngubah trayek, jalan di trotoar aja kudu hati-hati karena jadi tempat lewat motor x))) tapi kalo pernyataan tadi lebih serius ditelaah, buat para pelaku bisnis gue tebak Jakarta nih challenging. Mungkin karena konon regulasi bisa dibengkokkan sedemikian rupa tergantung siapa yang beking, udah gitu karakter pasarnya juga unik – at least kata Adit yang lagi kuliah marketing hehe. 
Kebetulan lagi-lagi pas baru sampe di Soetta dan lagi jalan ke parkiran mobil, kita tau-tau nemu kejadian orang lagi berantem. Kita langsung berkomentar, “Yang kaya begitu di sono kayanya nggak ada, yak!” Sempat sih liat ada pasangan berantem di Changi, tapi ternyata orang endonesah juga haha.



Kalau sebagai rakyat jelata/buruh, gue menilai Jakarta lebih ‘nyaman’ in a way apa-apa lebih murah (penting!), fasilitas lengkap, plus memungkinkan buat punya support system. Kalau dibandingkan di sana, ya jelas kita di Jakarta dimanjakan bangetlah. Iya, dimanjakan dengan berbagai loop holes yang ada. Jujur gue lebih seneng kalo Bhumy bisa berangkat dan pulang dari sekolah pakai transportasi umum dengan aman nyaman, bisa banyak jalan kaki, dan bisa menikmati udara yang bersih (kalau lagi nggak kena kabut asep yah). Tapi selagi masih tinggal di Jakarta, ya dinikmati aja segala kemudahannya haha. 
Sekarang soal jalan-jalannya... Berbeda dengan kunjungan ke sg sebelumnya, kali ini gue mau berepot-repot bikin itinerary. Tema besar kunjungannya sih nggak ada… Cuma kebetulan akan bertepatan sama National Day alias hari kemerdekaan sg di tanggal 9 Agustus. Selain bakal berkesempatan liat national day parade, kunjungan ke seluruh museum juga akan gratis di hari tersebut. Jadi of kors agenda ke museum kita masukin ke itin. Nginep kali ini alhamdulillah kesampean di Royal Plaza on Scotts yang di kawasan Orchard. Kita emang udah berangan-angan mau nginep di sini waktu kunjungan bulan November lalu, karena berada di tengah pusat keramaian. Nyari makan nggak suseh karena bertebaran food court dan dekeut banget sama MRT maupun bus station. Tapi kita ambil deal yang tanpa sarapan sih, biar lebih ekonomis haha. 

Ringkasan kegiatan kita selama di Sg seperti inih...
First day (Friday, Aug 5): 
  • Mendarat di sg jam 11 siang 
  • Check in jam 1
  • Ngisi perut ke Food Opera ION Orchard
  • Cuss ke Vivo City ngajak Bumy main air
  • Malamnya ngider di seputar Bras Basah (cek entrance fee Singapore Art Museum aka SAM ternyata sekitar SGD 10 per orang, jadi mendingan nunggu 9 Agustus biar gratis hehe)
  • Dinner di Subway di SMU (just across SAM).

Second day (Saturday): 

  • Sarapan di Killiney Kopitiam HQ - haha di (mana deui) Killiney Road yang ternyata cuma 1 km-an dari Orchard Road
  • Melancong ke Singapore Discovery Centre & National Army Museum
  • Had a late lunch di Raffles City Mall (yang letaknya di atas MRT station City Hall)
  • Jalan sore ke arah Haji Lane dan numpang sholat di Sultan Mosque
  • Hang out di sekitar Orchard, kebetulan malam minggu, jadi rame gitu, sempat liat atraksi buskers juga.
the view that I miss
Third day (Sunday): 
  • Ke Paragon untuk menyambangi The Soup Spoon dan Toys R Us
  • Mengarah ke Chinatown untuk mampir ke Red Dot Museum, URA Centre, dan makan di Maxwell Food Centre
  • Dari situ, jalan kaki melintasi Ann Siang Hill, cuss ke MRT station menuju keee
  • Singapore Botanic Gardens
  • Malamnya mau ke Dempsey Hill tapi udah nda sangguuup.
Fourth day (Monday): 
  • Had a verrrry late lunch at Serangoon NEX Mall demi bisa makan di Sushi Express. 
  • Abis itu main ke public library-nya. Awalnya mau ajak Bumy main air di waterpark yang ada di Skygarden mall tersebut, tapi cuaca lagi puanaas banget. 
  • Lanjut ke Mustafa Centre buat beli oleh-oleh, trus jalan kaki sampai ke Jalan Besar Road menuju ke...
  • Queensway Shopping Centre dan Henderson Waves Bridge
  • Berangkuts ke Novena Square buat beli Paula’s Choice 
  • Makan malam di Newton Food Centre.


Fifth day (Tuesday): pi bersdeyy singapuur. 

  • Sarapan di Killiney Kopitiam lagi - tapi kali ini yang di Lucky Plaza ajah. 
  • Memulai tour de museums diawali dari Singapore Art Museum di mana lagi ada eksebisi Imaginarium, yang dilanjutkan ke National Museum of Singapore yang walking distance ajah dari SAM. 
  • Ke Esplanade di mana udah banyak orang berkumpul. 
  • Nyebrang Helix Bridge, sampailah di The Shoppes at Marina Bay
  • Balik dari situ, kita pun ke arah Orchard, mampir ke mall 313 Sommerset dan Cineleisure yang hipster ke-gen Y-gen Y-an haha.





Sixth day/last day (Wednesday): 

  • Sarapan di sebrang hotel ajah, yaitu di KFC-nya Far East Plaza. 
  • Dari situ lanjut ke Esplanade buat mampir ke ArtScience Museum


Berhubung menghabiskan waktu cukup lama - hampir 3 jam - di eksebisi Future World nan cetar ituh (memikat anak-anak banget eksebisi inih), jadi kita udah nggak sempat mampir ke mana-mana lagi. Sekitar jam 1 kita balik ke Orchard untuk maksi, trus ke hotel ambil koper, dan langsung cusss ke Changi.
Alhamdulillah trip kemarin berjalan lancar. Meskipun sehari sebelumnya rasanya capeekk banget; gue kudu ke dokter gigi Eko malem-malem karena tambelan gigi tiba-tiba copot(!) dan harus nginep di Karawaci karena perlu ngambil koper dan stroller. Badan gue juga tadinya udah nggak enak, kayak mau flu gitu. Tapi alhamdulillah selama di sg terasa baik-baik aja. 
Di post-post lanjutan nanti sih maunya membahas lebih lengkap dan seksama mengenai tempat-tempat yang dikunjungi kemarin. (Yaah lagian apalagi sih tujuan liburan selain buat bahan apdet blog??) Hehe.. Wait for it, blog! 
Penutup:
"bonus" rela disuruh keluar kantor hari ini: bertemu bunda Nissa solehah yang rajin bekerja dan merawat kulit muka <3

01/08/2016

aku berkisar antara mereka

Guess I've been distracting myself so much from writing for my own blog.
The last update made was two months ago... it was only until the passing of Weich, my bestest friend, that I felt the urge to write again. To say something, because it hurts too much just to be silent about it.  
The latest entry was the playlist, yang gue kira akan bisa dibuat weekly, bi-weekly kalau best effort, tapi nyatanya? Dua bulan lebih gue nggak bisa menuangkan isi pikiran dan (keruwetan) hati. It’s a bit ironic that I was feeling kind of low on those two or three months.. semacam merasa males, unenthusiastic about life. Well, I thought I had hit a low until I got dragged down into the lowest lows. 

*****
Seperti yang tertuang di blog entry dua bulan lalu, gue sedang bergulat memikirkan gimana caranya hidup dengan passion sebagai bahan bakar utama. Jadi galau karena dipikirin doang sih ya, nggak dilakuin hehehe.
Tapi mungkin yang bikin semakin galau adalah ketika hadir kesempatan untuk kerja bener-bener sesuai passion tadi. I landed two job interviews, satu buat startup sebagai content writer, satu di international NGO buat posisi communications officer.
I was so excited menjalani prosesnya. Mulai dari written test (online) sampai tatap muka langsung. Rasanya suatu kesempatan yang langka dan berharga banget bisa membahas hal-hal yang jadi minat dan juga kemampuan gue. Tapi jujur, gue sadar hati dan tekad gue setengah-setengah dalam menjalaninya. I was constantly making a pro-cons list and actually felt afraid if I should make a decision.
In a way, ada bagusnya juga ketika proses rekrutmen gue tidak dilanjutkan di kedua tempat tadi. I did feel disappointed. Tapi, gue juga menyadari kalau sekarang bukan waktu yang tepat. So, bisa jadi gue dihadapkan ke dua tawaran tadi untuk membuat gue menyadari apa yang paling penting buat gue sekarang. 

 "Don't you understand? When you give up your dream, you die."

***** 
Bulan Mei dan bulan puasa yang baru berlalu bernuansa campur-baur di ingatan gue. 
Gue bertemu Weich dan juga Wawan di tanggal 21 Mei di FX. It was the night of M83 concert. Such a rare occurrence it was. Weich dan Wawan, or the May 13th twins as i call them. Belum pernah terjadi dalam sejarah pertemanan gue untuk meet and greet (emji) sama mereka berdua sekaligus. Yep, padahal kita bertiga kenal sejak SMA. Tapi entah kenapa Wawan dan Weich never really got along. Bukan yang musuhan atau gimana sih, simply mereka nggak merasa klik aja dengan satu sama lain. Beda stream, gitulah.
Tapi kemarin, justru Wawan yang semangat pengen ketemu Weich, karena mau nanya-nanya tips ngadepin IELTS. Jadi, kemarin itu Wawan seolah-olah baru mengenal Weich. Berkali-kali dia melempar komentar, "Gilak koleksi temenlo, Ris!" saking takjubnya sama pengetahuan Weich. :')
He was indeed lovely, and charming...
Originally, my plan for the night was to emji with Wawan dan Weich sampai jam 8 malam di FX. Sesudahnya gue berencana mampir ke konser M83 di Lapangan D Senayan. Meskipun sampai last minute gue belum beli tiketnya, tapi rencana udah disusun sedemikian rapi sampai-sampai gue, Adit dan Bumy check in di The Sultan supaya deket ke FX dan juga Lapangan D. Janjiannya jam 5, dan seperti biasa, Weich dateng on time :')) 
Ketika jam 8 akhirnya tiba, gue memutuskan untuk nggak jadi nonton M83. I don't know, rasanya nggak rela aja memotong waktu perjumpaan yang jarang banget terjadi itu. Obrolan kita seruuuuu banget dan topik nggak abis-abis. Jam 11 malem, kita mau pindah tempat duduk, tapi akhirnya batal, dan kita berpisah. I hugged and kissed Weich goodbye... I told him bahkan sejak awal emji kalau berat banget rasanya hati gue ini melepas dia. Gue mellow bangeeettt. Entah kenapa! Dia cuma ketawa dan bilang "Kan gue cuma 1,5 tahun di sana, Chom. Nanti lo main ajaa." Gue nggak bisa jelasin kenapa rasanya sedih dan berat banget buat gue... Meskipun selama ini di Jakarta emang kita jarang ketemu muka, tapi rasanya dia "selalu ada" aja. Berbeda kalau dia udah di Sydney... He would've felt so far... and unreachable... (little did I know, right?). 


the M(ay)83 brothers...


the last picture of us... 
Ya Allah we had a really great time that evening.... sungguh nggak menyangka itu bakal jadi pertemuan terakhir kita. Malam itu rasanya kita bertiga excited banget. Sampai udah jam 1 pagi masih sibuk komen-komenan di Path dan berkirim mesej via Whatsapp. 
To think about it now, I should really be so thankful, aren’t I? Karena masih sempat punya momen “farewell” yang proper sama Weich… dan bikin dia tersenyum bahagia malam itu.

*****
Satu hal yang juga sangat kental nuansanya di bulan puasa lalu bagi gue pribadi, is that I got to be around people so much. Sangat kontras dengan yang gue alami tahun lalu sehingga gue nggak kebayang having gone through such a lonely life just a year ago. What a difference a year could make…
Of course there were bukbers, lots of it. Belum lagi munggahan dan halal bihalalnya. Don’t we Indonesians just love ngariung? Semua kegiatan itu seringnya ya sama “temen-temen baru” di kantor, dan "temen-temen lama" juga pastinya. 
Sempat reuni sama bapak-ibu rekan-rekan di kantor Jaksel dulu, including my former lady boss, hehehe... Reuni juga sama Nisha yang udah balik dari UK dan Lia yang udah balik juga..dari cuti melahirkan x) Lalu bukber sama so-called Tim EYD yang dipersatukan oleh status sebagai kontributor buat Mommies Daily. Alhamdulillah banget, deh…


munggahan bersama eks rekan-rekan di Jaksel. ada yang udah pensiun, ada yang udah jadi bos, ada yang masih jadi cengceremen (*unjuk jari)
yay full team <3 look at those "babies" - udah tinggi-tinggi semua!


tlkm gatsu toastmasters club; bukber sekaligus penunjukan presiden baru (the one with red top)


si jelata di antara para celebblogger #blessed xD

my loveliest girls

#girlsquad yang telah dibubarkan paksa.. tapi semoga solid selaluh <3
BFFs mamah-mamah kesayangan 

Tapi di sisi lain, gue dan Adit semacam sepakat memprioritaskan bukber sama keluarga besar. Weekend pertama bulan puasa kita bukber sama Mricans dan Cengkarengs. Minggu depannya, Mricans ngundang bapak Adit bukber di rumah. Lalu ketika udah 10 hari terakhir, Adit ngabisin weekend dengan i’tikaf sama bapaknya di Cengkareng. Little did we know those moments are the ones we would miss dearly. Iya, karena tanggal 20 juli kemarin bapaknya Adit wafat, secara tiba-tiba. Tanpa ada sakit, tanpa ada tanda-tanda.


:'(

Innalillahi wa innailaihi roji’un… who would’ve known. Masih terasa nyeselnya waktu beliau ultah tanggal 17 juli (yes, just three days earlier) beliau ultah yang ke-67 dan kita nggak bisa dateng ke rumahnya. Padahal beliau katanya nungguin kita dateng… :’(
***** 
looking at himself on the big screen...
Cerita lain, anak lanang semata wayang tahun ini lulus dari TK. He really couldn't wait to be anak SD. I was immersed in various kinds of feelings from the moment I saw him trying on his elementary uniform. 
Seneng dan bersyukur... Sekaligus malu... Mengingat gue yang begajulan ini sudah dianugerahi amanah berupa anak manusia, tapi sejujurnya belum bisa melaksanakan peran sebagai ibu dengan sebaik-baiknya. Selain itu, yang paling terasa ya bingung dan takjub... because, why so soon? 
Waktu oh waktu. 
Aku berkisar antara mereka sejak terpaksa
Bertukar rupa di pinggir jalan, aku pakai mata mereka
Pergi ikut mengunjungi gelanggang bersenda:
Kenyataan-kenyataan yang didapatnya
(Bioskop Capitol putar film Amerika,
Lagu-lagu baru irama mereka berdansa).
Kami pulang tidak kena apa-apa
Sungguhpun Ajal macam rupa jadi tetangga
Terkumpul di halte, kami tunggu trem dari kota
Yang bergerak di malam hari sebagai gigi masa.
Kami, timpang dan pincang, negatip dalam janji juga
Sandarkan tulang-belulang pada lampu jalan saja
Sedang tahun gempita terus berkata
Hujan menimpa. Kami tunggu trem dari kota.


 ("Aku Berkisar Antara Mereka" - Chairil Anwar)


28/07/2016

lost ones

"tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada
pohon berbunga itu

tak ada yang bijak lebih dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu 
di jalan itu

tak ada yang arif lebih dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar
pohon bunga itu..."

june was a very strange month for me.
i lost a best friend. 
he wasn't sick or anything. 
he went to his campus that morning. he walked up in front of his class to present his report, and afterwards, he sat down. he seemed a bit dizzy, but when his friend asked him whether he's alright, he said he's fine. 
just a minute later, he collapsed. 
it was later found out that his heart stopped working. just like that. 

seperti biasa, kepala atau logika yang lebih dulu mengambil alih 'kemudi' untuk memaknai. it was not logical. i know people die everyday... but why him? why now? 
he couldn't even say a proper goodbye. 

sampai kalbu pelan-pelan menelusup di tengah rasa marah dan kesedihan... 
maybe his sudden departure can be seen as something that life's trying to teach me about. that, no matter hard or thorough you've been preparing yourself for all the wildest scenarios, it will still hit you like a hurricane on a calm, harmless morning. or in my case, on an idle thursday afternoon. when you're thinking that you are finally being okay, and your loved ones are safe wherever they are, and there's nothing else in this world that you need aside from that fact and simple basic needs like a comfortable means of transport, a decent job that pays the bill, and a good night sleep. 

and that maybe people are dispensable. that we don't belong to this earth. that we're only here for a while. that we don't have forever. we only have the rest of our lives. 
and that made me realize how the younger a person is, the more often they will use phrases like "for the rest of my life" atau frase lain sejenis, yang dipakai dalam kalimat-kalimat kayak,
"I love him forever and ever," or
"We'll never get along, not for the rest of my life" or
"We are sooo gonna be friends until the rest of our lives."

how very... gullible, isn't it?
baru sekarang gue bisa menilai begitu. betapa kata-kata itu menunjukkan pemikiran yang begitu gullible, dan naif, karena kurangnya pengalaman hidup. iya sekarang, setelah sudah "berumur," sudah puluhan kali janjian sebatas wacana ("Tak ada teman / telah terpencar" kata Pure Saturday), dan sudah mengalami ujung-ujungnya berteman dengan orang yang dulunya disebelin. 

tapi bukan berarti sekarang frase-frase tadi sama sekali nggak pernah terucap. deep within, I still belive some things will last forever (and ever). 
contohnya persahabatan yang gue miliki dengan dia... weich. 
bisa dibilang, I have always believed that there would always be me and him. apapun yang terjadi. teman-teman, bahkan sahabat-sahabat lain bisa come and go. bisa jadi strangers. tapi kami? I believed we were gonna be friends for the rest of our lives. 
FOR THE REST OF OUR LIVES. 

tapi, bukankah manusia memang seperti itu? we want things to go the way we expect them to. kita bahkan berpikir sudah seharusnya dunia berjalan seperti yang kita rencanakan. maybe it's a simple, blind confidence, that engrosses us like a plague. 
seperti yang juga menjangkiti gue; gue yakin hidup akan berjalan "sebagaimana mestinya." gue dan weich terus bertumbuh bersama just like we had been doing for this past 20 years. gue akan menyaksikan weich menikah with whoever the bride or the groom is, just like he did when I got married on 2007. gue akan mendampingi dia membesarkan anak-anaknya kelak, jadi "onti kome" just like he had been "paman weich" buat bumy. 

sampai lalu suatu hari terbukti semua itu nggak akan pernah bisa terjadi.
weich had passed away.
yes, weich, MY weich. 

masih teringat dengan jelas, gimana di kamis sore itu gue sedang bersama teman-teman toastmasters menuju venue buka bersama. iseng membuka aplikasi path, gue temukan echa, teman kantor weich, menulis status mengajak mendoakan kesembuhan weich. she wrote "Tio" so I was like, "maksudlo Tio = Weich? dia kenapa??" to which she answered, "iya, Setio. dia kena serangan jantung tadi pagi." 
what. the. hell. i thought... 
what, is this a joke?? 
tapi gue tau echa wouldn't joke about such thing. it'd be too cruel. 

sesudah membaca itu, gue bengong... sampai temen yang nyetir mobil salah masuk parkir karena gue nggak menjalankan 'tugas' selaku penunjuk jalan. hampir secara otomatis gue mengirimkan pesan ke weich via whatsapp, hanya untuk bertanya "cin lo gimanaaaa??" I still believed he would reply, maybe not immediately, but he would. soon. 

di sisi lain, ada satu hal yang baru gue pahami tentang diri gue.. betapa ternyata ada semacam kompartemen-kompartemen emosi di diri gue. saat itu, I could manage to go on with the bukber, bisa ngobrol-ngobrol seru, ketawa-ketawa. padahal dalam hati gue kalut mikirin kabar weich. 
meskipun begitu, jujurnya, there was still a glimpse of optimism in my heart. gue somehow yakin kejadian ini akan 'berlalu' dan weich bisa tertangani dengan baik karena dia langsung dibawa ke RS sesaat setelah serangan tsb terjadi. 
tapi bisa jadi saat itu gue belum sepenuhnya 'sadar' akan apa yang terjadi... karena begitu sampai di rumah, udah bersih-bersih, udah nangkring di ranjang, baru deh terasa... betapa gue sangat TAKUT kehilangan weich. betapa gue SEDIH ini harus menimpa dia. betapa gue dibuat KHAWATIR tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. 
barulah gue bisa nangis... 

aneh juga saat menyadari kalau beberapa minggu belakangan gue memasang gambar bertuliskan "life is short. stay awake for it" sebagai profile picture di whatsapp. mungkin terdengar kurang masuk akal, tapi entah kenapa terasa sangat relevan dengan kejadian yang menimpa weich hari itu. 
bener-bener baru paginya gue me-remove gambar itu. ya lagi-lagi entah kenapa. 
gue cuma inget merasakan a rush of desire to "do the things I've always felt scared of." 
gue bahkan menuliskan satu demi satu hal-hal apa yang termasuk kategori tersebut, seperti naik haji... punya anak kedua... kuliah lagi... dll. 
things that have been my 'monsters.' karena cuma membayangkan melakukan hal-hal itu aja membuat gue ingin berlari kabur. 

but why on THAT particular morning, gue merasa sudah saatnya menghadapi monster-monster jiwa itu? 
lalu sorenya gue mendengar berita tentang weich. bagaimana dia tiba-tiba mengalami serangan jantung.. in the middle of our oh-so-young life... 

gue tau betapa weich sudah berjuang untuk mencapai mimpi-mimpinya, salah satunya adalah mewujudkan goalnya kuliah di sydney ini. he had beaten one of his monsters! gimana dengan berdarah-darah dia belajar english buat meraih skor IELTS yang qualified. gimana dia menata hidupnya hingga bisa kaya sekarang. gimana dia bisa menjadi dirinya saat ini yang 'genah,' yang kritis, yang wise... 

and that's exactly why I need him to stay with me... because I need him to help me face my monsters. 
just like what he's been doing ever since we were TWELVE. oh God... 

gue bisa membayangkan dia memutar bola mata mendengar permintaan gue ini, dan berkata, "Chomeyyy, selalu deh ya! you are such a selfish bitch!"
but he knew how demanding I could be and that never bothered him. because we are MORE than just any person to each other. 
we are US. what can I say, it always feels like we are one soul divided into two bodies. 
"it's like you're my mirror / I couldn't get any better with anyone else beside me..."

and that's when I truly realized, that life is, indeed stupidly short. and we needed each other to go through it....

tapi.. jika Allah berkehendak, maka manusia hanya bisa ikhlas menerimanya. hari sabtu jam 11 siang, gue menerima kabar that weich had passed away. his struggle was over. 
and there's nothing that i could do but to accept it. 
but to live life like i hadn't lost a limb... 

twenty years. twenty fucking years. 
we've made so many memories, countless laughter, fights, and hugs... but still it's not enough. 
there's still so many people i want to introduce him with. still so many thoughts ands ideas i need to share with him. there's still too much love i need to show him. 
but... how ungrateful would that make me be?
how more tortured could i get?
i'm sure that's not what God intended for me... not for him also... 
he left with dignity. dalam keadaan yang mulia... dalam kondisi sangat sangat bahagia dan puas sama hidupnya. how many people have that kind of privilege, to feel content and satisfied and GRATEFUL for their life? 

ketetapan Allah pastilah yang terbaik. karena dari Zat yang Maha Suci tidak akan lahir suatu keburukan. 

later on, i noticed how on the farewell video he made before he departed to sydney, he quoted words from Arisan! 2 the movie, 

"teman, selalu datang dan pergi... hanya teman sejati yang selalu di hati
saat teman ada di sisi, itu adalah anugerah... dan, saatnya untuk dinikmati,"

...and how he closed the video with a prayer, 
"Semoga, jika diijinkan Tuhan, kita bisa bersama lagi," with his gentle, soft voice. 
which i kept listening to over and over again. 

so long, my golden bestfriend. 
i have no regrets for everything we had been through. if there is a chance for me to repeat this life i'd shared with you, i'd take it without a doubt. 
but not to change a thing... simply just to feel everything twice. 

Setio yang baik hati... yang lembut... yang penyayang... yang sabar menghadapi gue... yang selalu mau BERUSAHA meluangkan waktu dan berletih-letih membelah ketidakramahan jakarta untuk bertemu gue. yang gue hubungi kalau butuh ketawa. yang cuma perlu berkomunikasi sama gue lewat tatapan mata and we would instantly know what's on each other's mind. 

i could write a hundred pages just to show how much i know about him and how a thousand things could remind me of him, but... it really doesn't matter. he'll always be on my mind. he always has been my inspiration. and it is a blessing to have known him and enjoyed his company. 
he has given the world something. 
and if that's all there is, maybe it was enough.