05/04/2017

full frontal

suatu hari, gue tengah makan siang bersama teman-teman seperti biasa... tapi variasi teman-makan-siang hari itu sedikit berbeda. kebetulan ada pacarnya tan Yen. kebetulan gue ngajak rekan kerja yang masih muda belia dan berencana nikah dalam waktu dekat. plus satu kebetulan lagi, ada rekan kerja - sebut saja G - yang tiba-tiba dateng ke tempat makan yang sama dan akhirnya nimbrung sama kita. 

dalam formasi maksi saat itu ada tiga orang (satu setengah pasangan) yang berencana menikah tahun ini. jadi pembicaraan di meja ya seputar persiapan merit, do's and dont's (haha), ples mines bahtera pernikahan (even louder hahaha), dan sejenisnya. 
sebagai latar belakang kisah, tan Yen dan pacarnya udah usia kepala tiga kaya gue, sementara si dedek baru 24 tahun.. seumur gue dulu waktu merit. 
di tengah percakapan itu, gue melontarkan pernyataan, "nikah mah ga usah buru-burulah.. berat tau kalo nikah (ke)muda(an)." 
ini testimoni yang subjektif sih.. yang kemudian disanggah sama si G.  

but! let me explain my reason. gini loh, usia awal 20 tahunan mungkin terkesan cukup ya buat nikah. tapi berkaca dari pengalaman, rasanya berat banget deh dulu itu kalo diinget-inget.. semua-mua dihadapi di saat yang bersamaan: di kantor masih jadi kacung kelas rendah yang menuntut dedikasi dan waktu tinggi, sementara di rumah baru punya orok yang bikin begadang melulu.. nikahpun beda banget sama pacaran, yang dijalani bener-bener bukan lagi rainbows and butterflies. tapi tanggung jawab, kompromi setiap saat, mitigasi konflik, belum lagi urusan finansial yang menghimpit... 
kebayang kan, tanpa kedewasaan dan kecerdasan emosional yang cukup, challenging banget menjalani isu-isu tersebut all at once. karena itulah gue nggak lagi heran kalau denger tentang kisah kasih yang harus berakhir saat usia pernikahan baru seumur jagung. 

meski udah gue paparkan begitu, si G justru kontra. menurut dia, "justru enak kalo nikah muda, hidup jadi lebih cepat terarahnya, lebih juntrung. contohnya kayak mbak Riska ini nih," dan gue pun herman tau-tau disorot. 
insight dia gini: dengan nikah cepet, prioritas jadi terbantu disusun. yang paling keliatan ya di urusan finansial. emang sih... duit jadi ada ''wujud'nya terpakai buat apa. di gue, ya berwujud tempat tinggal (yang masih kridit), sama bayar uang pangkal sekolah anak haha. 
prioritas di sektor lain-lain pun terkena dampak... kalo di gue, menyusui dan ngurus anak pas masih balita bobotnya lebih besar dibandingkan ninggalin dia ngantor atau menuntut ilmu di negri orang. positif atau nggaknya dampak tersebut mungkin baru bisa dinilai di kemudian hari, kayak yang gue pernah kontemplasikan di blogpost ini

jadi yaah.. ada benernya juga pendapat doi. 
mungkin karena itu menikah disebut ngebuka pintu rezeki. karena tujuan hidup setidaknya jadi lebih clear, yaitu mengurusi dan menghidupi keluarga. 

hikmah lain yang gue tangkap dari potongan percakapan saat makan siang itu adalah... betapa gue memerlukan perspektif orang di "luar" kehidupan gue. bukan karena gue haus pengen dijudge sihhh, tapi karena pandangan mereka bisa ngasih insight yang berbeda, bahkan mencerahkan. honestly pendapat si G kemarin itu bahkan bisa bikin gue nggak terlalu menyalahkan diri sendiri lagi karena nikah kemudaan. gue jadi mikir, iya sih, idup gue genah juga kalo dipikir-pikir... semacam membuktikan kalau gue nggak selalu tolol-tolol amat kalau ngambil keputusan. 

******

gara-gara sekelumit pembicaraan itu gue jadi keinget momen-momen lain di mana perspektif orang lain tentang idup gue membuat diri ini 'terkejut'...  
contohnya waktu lagi ngobrol sama tan Yen, di mana kita lagi sibuk berkeluh-kesah tentang kerjaan dan kehidupan, kita pun ngelantur.. berpikir soal nyari sumber energi kehidupan di luar lingkup kantor dengan mendalami hobi, passion atau apapun itu. tan Yen tiba-tiba berkata, "lo mah enak, hobilo udah jelas: nulis. jadi lo bisa nyalurin hobi."
and i was like.. iye juga yak. hobi gue nggak ribet-ribet amat, nggak butuh biaya banyak, bisa dilakuin sembari berakting kerja di depan laptop pula.

okelah nulisnya juga kacrut semacam ngeblog kayak gini haha, but the point is, everybody needs a release. bisa jadi buat pelarian dari sumpeknya rutinitas kehidupan, tapi kalau ngasih efek yang positif ke jiwa raga, ya wai not?  
in fact I think I should do it more often.

contoh lain lagi yang kepikiran adalah waktu rumah ciganjur dilepas ke pasaran (for rent). kebetulan bunda Rahma mau bantu ngiklanin, dia publishlah lewat socmed dan ke kenalan-kenalannya yang berpotensi berminat.
gue kepo dong ya sama reaksi pasar, gue ceklah akun socmed si bunda.. eeh nggak nyangka hatiku dibuat trenyuh sama komen-komen orang di situh. ada yang bilang rumahnya homy banget (redundan ga sih), bagus, dan sebagainya. padahal selama tinggal di situ gue kerap mengeluh... jauhlah, terpencillah, intinya jago banget deh gue menemukan kekurangan dalam apapun.

kurang dari seminggu setelah diiklanin, alhamdulillah ada yang berminat. di hari sabtu kita janjian sama beberapa orang, tau-taunya yang pertama melihat langsung jatcin dan bayar tanda jadi. eh kok semudah ituu? sekonyong-konyong aku merasa SAD. 
beda aja rasanya ketika harus melepas... padahal cuma buat disewain. 
maybe not realizing the true worth of something we acquire until it's gone is simply human nature. 


from here


******

well, since we're on the "episode," I think it's a safe place to blurt out some mis-perceptions about me from other people that I could recall.

- "Antisosial? Mbak Riska banget." - something a younger colleague said once. little did she know alasan terbesar gue balik ngantor hanyalah demi berada di antara orang-orang...
- "Ah elo mah nggak pernah patah hati." - a person. HAHAHHA. 
- "Aduh ini cowok oke banget. Awas ya, jangan lo godain." hastaga. bener-bener nggak bakal ada yang percaya kali ya gue ini PEMALU... :)))

btw I suppose this post qualifies as an uber self-centered and narcissistic post.. haha. not that I intended it to. tapi begitulah, kadang mau se-sophisticated/deep/intellect apapun kita mengemas diri, ketika benar-benar 'telanjang' mungkin yang tersisa hanyalah hal-hal dangkal. 



No comments:

Post a Comment