Showing posts with label sahm. Show all posts
Showing posts with label sahm. Show all posts

21/12/2015

why I work

pic from here

huapakah ini?? semacam klarifikasi??
hehehe.. nggak kok, emangnya gue abis bikin sensasi atau kontroversi :P 
kebetulan, gue baru baca artikel tentang kembalinya para ibu ke dunia bekerja yang berjudul "The Opt-Out Generation Wants Back In."
artikel itu jadi bikin gue melihat yang terjadi di diri sendiri. gue yang tadinya dengan gagah berani menanggalkan gelar sebagai "working mom" demi memenuhi cita-cita idealis menjadi stay-at-home-mom (SAHM), kini justru kembali ke ranah full-time job. 
memang awal mula pergantian peran ini digerakkan oleh takdir (sekelumit di sini). tapi apa yang membuat gue memutuskan untuk jalan terus di "jalur" ibu bekerja, setidaknya sampai saat ini, adalah... 

- I wanted to see what it's like to step out of my comfort zone, once again, after almost 3 years of becoming an SAHM.

dengan memakai istilah "comfort zone", bukan berarti hari-hari sebagai SAHM melulu diisi dengan kenyamanan semata. oh tentu tidaak, karena jadi SAHM pun ada problema, dilema, dan dramanya hahaha. 
tapi, dengan caranya sendiri, peran sebagai SAHM seolah membangunkan cangkang untuk gue; gue 'terlindungi' dalam ruang lingkup yang seputar urusan rumah dan keluarga saja. nggak ada kepusingan menghadapi macet atau politik kantor, ataupun ketergantungan pada support systems. 
to be honest, waktu tiba-tiba dipanggil untuk kerja lagi sama kantor, gue ya nggak siap, termasuk untuk menghadapi semua risiko akibat melangkah keluar dari comfort zone. but then, kapan sih kita bisa bener-bener siap menghadapi perubahan?

- I work because I like the idea of earning a bigger income

for now, this is something my full-time job could provide. 
during my SAHM days, I did stuff that could cater my passion and, fortunately, could gain a decent income from it. even though the money was in lesser amount than what I used to earn from my office work, but the fact that I could still earn money no matter what title I hold, had taught me something. I first read about the term "portable equity" from Rene Suhardono's book; it is something not attached to what or where we work, and includes the integrity, track record, network, and skills we have. 
knowing I've been having this portable equity all along gives me confidence to work as a freelancer, also to pursue my passion. 

however, when I was offered my old job back, it felt kinda wrong to pass it up. again, setidaknya untuk saat ini. 
gue tau pengorbanan yang dibutuhkan untuk jadi working mom lagi juga akan lebih besar. dari segi finansial, ini bisa diukur - pastinya bukan dari waktu dan kebersamaan dengan anak yang memang nggak bisa diukur nilainya, yah - tapi dengan menghitung berapa sisa gaji gue setelah dikurangi biaya support system. 
setelah menilik 'raport' kondisi keuangan keluarga, kesempatan untuk balik lagi memang terasa 'benar.' kita lagi butuh suntikan likuiditas, mengingat Adit lagi menjalani pendidikan S2 dengan biaya pribadi (bisa di"reimburse" sih ke kantor, asal lulus tepat waktu hehe), dan setoran dana darurat kita juga banyak bolongnya. 

di sisi lain, juga ada faedah secara finansial yang bisa dipetik dari pengalaman sebagai SAHM. remeh-temeh aja, sih, kalau di kasus gue, kayak jadi terbiasa nggak belanja-belanja nggak penting (derajat kepentingannya tentulah relatip), jadi lebih doyan makanan rumah, dan jadi kangen melulu sama rumah hahaha. secara nggak langsung, hal-hal ini semacam bisa mengerem hasrat spending gue saat menikmati bigger income lagi. 



- lastly, I work because I choose to, even though i know it's not gonna be easy - just like what I have experienced for 8 years before I decided to quit. 
I realize that, as a woman, I am expected, demanded even, to "have it ALL." 
from what I have experienced personally, that outrageous demand made me feel like I needed to prove something. not to just myself, but to everybody in the world. I did what it took that I thought would PROVE my worth: I believe I could manage working, while raising a kid, while being a 'completely fulfilled' human being (the benchmark of being 'fulfilled?' well, only stuff seen from the outside: I seemed to secure an appropriate job, have a nice little family, could afford my life, etc). 
but what did that do to me? after 3 years of trying to prove, I was left broken and beaten down.
that's why I chose to quit. albeit temporarily. 


if this doesn't ensure how mythical the concept of "having it all" is, then I don't know what will

fast forward to 3 years later, here I am, reentering the workforce. only, there's a huge difference this time.
first, now I am 'equipped' with dependable support-systems (even though it comes with risks, like everything else in this world does).

second, now I bear down-to-earth and, hopefully, manageable expectations: I realize I would need to be better at juggling, also to get good at discomfort. because no matter what I choose, I will be tested. it's just how this world works. 

third, I think this is what I need to do at this stage of my life. I no longer feel the need to prove anything to anyone. and neither should any mother... you shouldn't work because you need to prove that you matter, or that you are "productive," or that you are WORTH the praise, the gold medal, or a mug branded with "to the BEST mother in the world." we deserve it all already, whatever choice we make. because as I said, every choice we make comes with risks, and here we are, facing those risks.


pic from here
di sini, I don't speak for everyone. I write what I know, armed with my condition, background, experiences, hopes, expectations, and fears. cukup tau dirilah untuk nggak merasa apapun yang gue pilih sudah benar hahaha... because I am merely a human who is constantly trying to figure life out. 

how about you, fellow mothers out there? 
why choose to work (full-time, or part-time)? or why choose not to? 


pic from here

26/10/2015

tentang keseimbangan

balancing work and home. 
ini isu yang tipikal dan familiar banget buat gue, deh. gue sebut begitu karena melulu gue temui sepanjang berstatus ibu bekerja. contohnya ya seperti sekarang ini. 
gue pernah membeberkan dalam sebuah blogpost, gimana saat gue masih bisa-di-rumah-aja (baca: jadi IRT), gue pernah iseng membayangkan WHAT IF gue balik ngantor lagi. apakah gue bisa berkomitmen penuh pada kerjaan di kantor gue yang workload dan budayanya "seperti itchu?" 
trus, gimana kalo anak gue sakit? kebayang rasa sungkan ketika harus minta ijinnya. atau kalau harus keluar kota, pulang malem karena lembur, dst... maka saat itu, hasrat untuk bekerja lagi yang sempat meninggi di sanubari, mendadak surut.

tapi atas kehendak Allah, gue kembali jadi karyawati. 
lalu apa yang terjadi?
well, kalau mau dicari nggak enaknya, ya pasti ada aja (*dalam hati menjerit "banyaaaak!"*). tapi, yang harus disyukuri ya juga nggak kalah banyak. misalnya lokasi kantor yang sesuai dengan doa gue dan Adit, unit kerja yang ngurusin segmen business (instead of retail) dan cakupannya di level regional (nggak terlalu luas, tapi juga nggak terlalu 'sempit'), juga keberadaan faktor-faktor pendukung lain seperti suasana pertemanan yang so far so good.  
tapi, seperti yang gue duga, masih muncul ketidaknyamanan ketika gue dihadapkan pada skenario-skenario yang sebelumnya sudah gue bayangkan. 
contohnya, benar gue merasa bete kalau harus pulang kantor malem-malem (atau lebih tepatnya, kalau nggak jam 5 TENG). 
benar gue merasa bersalah ketika diajak jalan-jalan dari kantor keluar kota dan menjadikan harus nginep selama beberapa hari. 
bahkan, untuk saat ini, gue agak mumet mikirin seandainya level posisi gue dinaikin. padahal temen-temen seangkatan gue hampir semuanya udah berada di level posisi tersebut. membayangkan tanggung jawab yang otomatis akan bertambah, komitmen waktu yang diperlukan, dst, bikin gue gentar. 

konsekuensinya, kinerja gue ya nggak jauh beda dengan yang gue tunjukkan 3 tahun lalu. gue masih kalang-kabut menghadapi tantangan waktu. trus terkait hati, gue merasa udah menemukan passion gue tapi kerjaan full-time gue nggak berhubungan sama sekali dengan passion gue itu. meskipun begitu, gue takut menghadapi apa yang akan terjadi "di luar sana" once I decided to step out of this 'safe zone.'
will it be different if I worked full-time doing something I'm passionate about? apakah gue nggak akan merasa bersalah sama anak lagi?

anyways, I remember a Saturday I had a few weeks ago. 
entah kenapa saat itu semua angan ambisius untuk menikmati weekend menguap begitu saja. 
gue kehilangan ambisi untuk quick getaway ke bandung (atau puncak atau anyer). 
I didn't even exercise. gue juga nggak kepengen nyalon atau pijet - like I normally would. gue nggak datang tafakur. gue nggak mengisi waktu dengan melakukan survey ke sekian banyak sekolah seperti yang sudah gue targetkan. 
alih-alih meng'optimal'kan weekend, saat itu gue malah sangaaaat menikmati duduk di sofa panjang gerai fast food bersama Bumy di sebelah gue. he's playing a game on my gadget. gue sendiri asik cetat-cetut di ipad. we ate loads of junkfood. I was listening to Belle and Sebastian's "Funny Little Frog" and had no plans whatsoever on my mind. 
yet I felt so in touch with my heart. there's an absence of restlessness. gue nggak bisa inget kapan terakhir kali gue merasa begini. mungkin perasaan seperti ini yang dimaksud dengan "contentment." 

karena, gue puas bisa berada di dekat Bumy right at that moment. meskipun kami nggak sedang melakukan high-quality bonding activity.
gue puas bisa mendengarkan lagu-lagu dari band-band kesukaan (#nowplaying Beirut's "Postcard to Italy". how is that not to love?).
gue puas bisa melanglang sendirian... berkelana di dalam labirin pikiran dan perasaan gue sendiri. 
I just hope I could feel it more often. 

--------


maybe life will never be balanced. 
dan gue mengatakan ini bukan dengan nada yang sinis atau pahit. dunia emang udah ditakdirkan bersifat fana, bukan? apa-apa yang ada di sini nggak kekal, berubah-ubah kondisinya. kerjaan kadang padat, kadang nyenengin. kebersamaan sama anak kadang mengalir dengan mudah dan menyenangkan, kadang banyak dramanya. 
you just have to seize the moment when it passes you by. tangkap kebahagiaan saat dia datang. hadapin bau busuknya saat ke-enggakenak-an harus dilewati. 
hmm.. sepertinya paragraf ini perlu ditandai dengan hashtag #bukankatabijak #sedangsadarsesaat, deh. 
karena sejujurnya, it's never easy. kembalinya gue ke pekerjaan full-time bukan cuma bikin gue perlu banyak adaptasi, tapi juga berdampak ke diri Bumy. gue perhatiin, dia jadi lebih sensitif, suka nangis lebay karena alasan sepele. dia harus nungguin gue dan Adit pulang ke rumah setiap malem, cuma sama si embak. not to mention perkembangan segala kegiatan les-nya yang agak terbengkalai sejak gue kembali bekerja. 
to me, leaving him feels harder now that I've experienced becoming a SAHM. mungkin, sulit juga bagi dia untuk membiasakan nggak bersama gue setiap saat di rumah. 

gue teringat suatu momen, Minggu malam di pom bensin. Bumy lagi mellow gara-gara baru say byebye ke oma. gue sendiri sedang merasa nggak nyaman; campuran dari perasaan hampa, bingung, dan resah. saat itu, kita berdua sama-sama sedang butuh "obat hati."
seperti apa harusnya obat itu?
should I stop working? 
should I take him to the mall and buy him stuff?
apakah ketidaknyamanan seperti ini akan berhenti terjadi begitu gue jadi IRT *lagi*? 
tapi, apa yang sedang gue ajarkan ke anak gue lewat pilihan-pilihan gue ini? am I being selfish? am I being materialistic? or am I teaching him about hardwork and a life earned from it? am I teaching him to be happy no matter what the situation is like? 

yang jelas, gue nggak bisa melarikan diri (lagi). 
kalau sekarang gue belum bisa "menghidupkan hidup" seperti semboyannya Ho, setidaknya gue bisa mencoba survive lah. 
gue udah pernah bikin survival guide untuk IRT, berdasar pengalaman selama jadi IRT, yang isinya the things that kept me sane. ndak ada salahnya gue coba bikin survival guide juga buat profesi sekarang, 'kan? meskipun mungkin sebagian besar cuma dikarang-karang, haha. 




but if I am to write one right now, what will be in that so-called survival guide?

let's say I'm trying to give myself "wise" but do-able advices here.. so please, spare me from being a smartass :) 
I think this is what the currently-working me should do: 

1. try to like where I am. try hard, lebih tepatnya :)))
in Leo Babauta's words, "get good at discomfort." 

2. keep doing things that I love.
gue merasa paling nyaman sama diri gue sendiri saat bisa berbagi ide, cerita, atau perasaan. kadang gue wujudkan lewat tulisan, kadang lewat ngobrol. jadi, nampaknya gue perlu cari cara untuk menyalurkan hasrat ini sembari bekerja. 
sekarang ini, gue nyambi bikin-bikin blog sama temen-temen (ada ini dan ini, hehe). kerjaan freelancing juga masih gue lakuin, meski untuk merampungkannya butuh effort dan waktu khusus. tapi yaa, demi menyalurkan hasrat, dan ujung-ujungnya, menjaga kewarasan. 

3. stop COMPARING. 
ini berlaku buat kondisi diri sendiri, maupun kondisi anak dan keluarga. 
we all have our own demons and battles to face. cuma masing-masing yang tahu hidupnya beneran bahagia atau nggak. 

4. mencoba disiplin.
poin yang ini kayanya wajib ada di daftar gue baik mau jadi WM maupun IRT. disiplin waktu selalu jadi yang paling penting buat gue; gue perlu membiasakan tidur di waktu yang sama setiap malam, bangun pagi supaya sempat olahraga, cuci muka sebelum tidur, tafakur setiap minggu. begitupun buat anak, merutinkan jadwal latihan electone, baca buku bareng setiap malam, dll. 

5. batasin waktu megang gadget.
poin ini juga rasanya udah terlalu sering diulang, yah hehehe. 

6. spend less, and less. I just realized that possession is an illusion. because things we buy, they come with responsibilities. kalau kita nggak sanggup memenuhi responsibilities itu, the things we own can only end up owning us. 
 
tapi gimana dengan cicilan ini dan itu yang udah terlanjur ada? hahaha. 
ya nggak boleh skip juga buat diperhitungkan, pastinya... tapi setidaknya coba ngerem diri, deh, kalau mau belanja impulsif. 
another note to self: usahain "kebutuhan" skincare dan belenjong tersier lainnya udah dibudgetin sejak jauh-jauh hari, kekeke. 

7. never underestimate the power of prayer.
say no more. 

that's all I could come up with for now.. setelah 3 bulan kembali ngantor full-time. rasa bersalah, ketidaknyamanan, drama - they are always a part of this role I've chosen. I just need to be good at dealing with them. *bookmark halaman ini for future reference* :))

02/09/2015

my life as an IRT, 2 and a half years later

oke, udah pertengahan tahun 2015 aja. malah tinggal empat bulan menjelang pergantian tahun. udah 'sampe' di mana guee?

milestone hidup gue sepertinya bisa diukur sejak gue cuti kerja buat jadi SAHM, deh. udah 2,5 tahun aja, ternyata gue jadi SAHM. bikin review kecil-kecilan, ah.

jadi, setelah 2,5 tahun, gue...
  • masih belum nambah anak
ini hal yang selaluuu aja ditanyakan setiap ketemu temen atau kenalan. "anak udah berapa?" 
masih satu aja, buuu. 
kepengen nambah? kadang-kadang, sih, tapi lebih sering nggak pengen. buat gue, bayi masih identik dengan kata "repot." mulai dari usaha buat hamilnya, kehamilannya, melahirkannya - yang sampe sekarang masih bikin trauma, sampai ngurus newborn-nya. 
kenalan dari kantor lama yang paling suka terheran-heran pas tau gue belum juga nambah anak. mungkin di pikiran mereka, ngapain cuti segala kalo bukan buat nambah anak?




seperti layaknya menetapkan target yang ketinggian untuk dicapai sehingga hampir nggak mungkin, gue juga punya kondisi ideal di benak yang buat gue layak untuk punya anak kedua. maunya, sih, kalo mau nambah anak, gue (dan Adit) udah 
- bisa hamil tanpa usaha yang 'berat' kayak pas mau punya Bhumy dulu. no pills, no injections. 
- bisa menjalani kehamilan dengan sehat, mudah dan menyenangkan. 
- bisa melahirkan secara normal dengan selamat. etapi nulis gini aja otomatis bikin deg-degan, kumaha atuh?! 
- bisa tinggal deket sekolah Bhumy, jadi kita bisa minta Jali (ojek langganan Adit) untuk antar-jemput Bhumy sekolah.
- bisa punya kerjasama yang enak untuk ngurus anak, rumah, dan kerjaan; bisa menyediakan lingkungan yang aman dan positif buat anak-anak kelak. nggak mau "salah ngasuh" kayak sama Bhumy. 
kira-kira bisa kesampean nggak tuh? xD


  • masih suka galau pengen kerja. 
padahal sampe sekarang gue juga masih clueless sih kalaupun balik kerja lagi, gue mau berkiprah di bidang apa. pengen nyoba jadi copywriter atau gabung di media atau startup. tapi kalo mau jujur, kebutuhan utama gue sebenernya berada di tengah orang-orang dewasa. kayaknya otak bisa terstimulasi untuk jadi kreatif, sekaligus bisa bersosialisasi juga. tapiiii, begitu ngebayangin skenario-skenario secara spesifik jikalau gue jadi ibu pekerja, macam nggak enak bolos kalo anak sakit, stres kalo kudu pulang malem atau keluar kota, hasrat pengen kerja lagi kok ya surut... 
sempat kepikiran buat kuliah S2 aja, buat ilmu dan networking-nya. tapi dari segi dana masih sulit untuk saat ini. 
pengen bikin-bikin "sesuatu" sama Kiti, my BFF, tapi kok yaaa sampe sekarang belum kewujud gara-gara kurang komitmen xD
kalo punya bisnis, sempat kepikiran, sih. tapi makin ke sini, gue makin ngerasa lebih cocok self-employed. gue nyadarin kalau belum berani ngambil risiko, dan belum ada ide yang bener-bener 'klik' juga.




  • belum rutin olahraga, belum rutin makan sehat, belum rutin memperkaya jiwa. 
malahan mengidap kolesterol tinggi. -__- mau baby steps lagi untuk makan "bersih." olahraga juga insya Allah dirutinin. 
untuk urusan jiwa, alhamdulillah gue dipertemukan sama majelis tafakur. di situ gue merasa dipertemukan sama orang-orang yang sejiwa; sahabat-sahabat terbaik yang selalu mengingatkan sama akhirat. <3


  • sementara dalam kehidupan sosial, yang paling terasa sih, gue jadi sering kesepian
sejak pegang jabatan SAHM, interaksi gue dengan sesama orang dewasa emang lebih sedikit dibanding waktu bekerja. tapi kayaknya sih yang bikin ngerasa kesepian adalah gue kurang dapet "connection"nya.
mungkin gini ya, dulu gue mendefinisikan diri gue sebagai ibu bekerja, dan itu bikin gue ngerasa belong di 'komunitas' ibu bekerja. 
sementara sekarang, gue udah jadi ibu rumah tangga, tapi bekerja juga meski cuma part-time dan freelancing. dari interaksi sama ibu-ibu SAHM aliran murni (maklumi istilah ngasal ini), gue bisa cukup nyambung bersosialisasi. tapi, perasaan "connect"-nya itu yang kadang nggak didapetin. 
gue pengen dapetin percakapan tentang hal-hal yang menjadi minat gue (dan lawan bicara). percakapan yang memungkinkan gue bertukar ide, yang membawa ke pertumbuhan, atau yang bisa memfasilitasi impian. bukan berarti sekarang gue nggak dapetin itu sama sekali dari orang-orang di sekitar gue, tapi hal itu yang gue dambakan kalo lagi merasa kesepian. 
or maybe I just think too much. 
atau perlu 'pindah' ke jogja atau ubud? hehehe.


  • lastly, apa aja yang udah gue kerjain selama 2,5 tahun? 


kekekek... yes, I'm glued to tv most days, but I do have "jobs!" 
- nulis artikel buat Mommies Daily dan Cantik.com
- jadi proofreader dan editor freelance
- nerjemahin lepas. alhamdulillah dapet aja klien entah itu korporat atau perseorangan. 
- ikutan event buat blogging atau reportase ke MD. 
- nimbrung nulis untuk buku kumpulan artikel, dan kumpulan cerpen.
pintu rejeki emang macem-macem, ya. tapi di kasus gue, banyak banget yang datangnya lewat @nenglita hehehe. semoga dapet balasan yang berlipat-ganda, ya kakk. :*

ke depannya gimana? 
pengennya sih masih bisa memperpanjang isi resume. 
dalam waktu dekat, gue juga pengen bisa bikin blog di luar urusan curhat; pengen bisa lebih banyak terjun di reportase event; dapet project translating, proofreading dan copywriting yang besar; juga pengen jadi kontributor tetap di media online bidang edukasi keuangan. 


yang bikin postingan ini terasa lucu (dan agar getir) buat gue, adalah fakta bahwa sekian jam sesudahnya, gue balik kerja lagi di tlkm. padahal liat aja paragraf terakhir, nggak ada nyebut-nyebut mau balik ke ranah profesi telekomunikasi xD
kadang gue merasa hidup tuh seperti mencoba menyatukan potongan-potongan puzzle yang nggak lengkap. I'm constantly trying to figure it all out.... 

16/03/2015

what are you waiting for?

kayaknya gue sebutin deh somewhere tentang 'niat' gue buat baca sampai kelar minimal 2 buah buku dalam sebulan. sehubungan itu, gue mulai menggali-gali rak buku di rumah. being a not-so-ferocious reader (yet an impulsive shopper), gue numpuk banyak buku yang udah dibeli sejak entah kapan, tapi belum khatam dibaca. makanya, daripada nambahin daftar dosa boros beli buku, mendingan gue jadiin lunasin utang baca sebagai "resolusi."

nah, mungkin karena masih januari-februari, gitu ya, jadi masih adalah ambisi untuk fulfill si resolusi, haha. ya berhasil juga gue kelarin baca satu buku pertama. abis itu, jadi bersemangat ngejar buku kedua. buat yang ini, gue sengaja milih untuk re-reading. buku mana, sih, yang pengen gue baca ulang? ternyata, tangan gue bergerak mengikuti kehendaknya sendiri (halah!) dan memilih buku Rene Soehardono yang terbit tahun 2009 dulu, "Your Job Is Not Your Career."

bener-bener nggak paham sih, kenapa gue pengen baca ulang buku ini. lha wong sekarang kerjaan gue IRT semata. yah campur freelancing nulis, proofreading, sama translating sesekali, emang. tapi karir? sepertinya gue udah menghapus kata tersebut dari kamus gue sejak 2 tahun lalu, deh. secara i no longer have a full-time kantoran job, therefore i regard myself as careerless.
tapi, gue turutin aja, deh, kehendak hati (dan tangan). gue mulai buka lembar demi lembar, sambil sesekali berucap dalam hati, "oh begitu ya, hmm... gue udah pernah baca ini tapi kok nggak keinget buat praktekin..." reaksi tipikal guelah. xD 
karena gue gampang lupa, jadi gue ulas sekilas aja, ya, buku ini. secara garis besar, sih, Rene ngasih tau kalo karir itu beda sama pekerjaan. 
-> pekerjaan itu alat atau sarana untuk kita memenuhi kebutuhan hidup dan berkarya; bisa dianalogikan kalau pekerjaan itu kendaraan untuk memperoleh pencapaian pribadi. sementara, karir itu perjalanannya. 
-> karir berbicara soal impian dan passion kita
-> karir itu milik kita sendiri, bukannya milik perusahaan atau tempat kita bekerja. 
-> dalam karir, yang kita 'urusin' adalah bagaimana mengenal keunikan diri kita, passion kita, gimana menjalankan hidup yang bermakna (purpose of life), how we want to be remembered after we're gone through our values, motivasi kita, dsb... yang 'dalem-dalem' dan butuh perenungan khusus, deh, intinya. 

kesan pertama gue ketika re-reading ini, gue ngerasa lebih mudeng dan paham apa maksud Rene terutama soal passion, dibandingkan pas baru pertama kali baca buku ini. dulu, kayaknya konsep hidup menjalani passion itu mengawang-awang banget. tapi ternyata sekarang... ya alhamdulillah, bisa dibilang i am living my life doing things that i enjoy the most. bisa di rumah ngejagain anak, bisa semacem nulis for a living, bisa terlibat project translating. malah kemarin ini gue 2 kali dapat tawaran kerjaan copywriting. jadi keinget pas usia 23-24, mendamba bangettt terjun ke dunia kreatif. meskipun kedua tawaran tadi harus gue skip karena belum yakin mau balik jadi full-time worker, nothing i can say but alhamdulillah.

balik ke pengalaman membaca ulang buku ini lagi, sampailah gue di pembahasaan soal "career triangle." menurut Rene, career triangle adalah pengelompokan pilihan dan konsekuensi karir. segitiga karir ini dibentuk oleh 3 hal, yaitu money - fulfillment - time. 

penjelasan masing-masing elemen itu begini:
-> time = bisa terwujud dalam gaya hidup, seperti pemanfaatan me time untuk kesenangan pibadi dan keluarga. 
-> fulfillment = kepuasan kerja.
-> money = kompensasi = uang dan manfaat intrinsik yang diterima. 

mekanisme career triangle ini gampang aja, kita harus punya prioritas dari 3 elemen itu dengan menyadari penuh apa makna dan konsekuensinya.
jadi, ya kita perlu nyadarin apa prioritas kita dalam bekerja; apa sekadar menuhin kebutuhan hidup, jadi SVP sebelum 40 tahun, pulang tenggo, punya bisnis, atau apapun deh, semuanya terserah kita. yang jelas semua pilihan punya konsekuensi. 
kalo udah tau gimana jawabannya, ya kita tinggal cari perusahaan atau pekerjaan yang sesuai sama prioritas kita. 

abis baca ini, gue jadi tergugu. sampe berhenti sebentar buat meresapi apa yang baru dibaca dan 
berkaca ke kehidupan gue sendiri. meskipun gue rasanya udah live by my passion, tapi masih aja terjadi 'kegalauan' dalam menjalani hari demi harinya, kayak yang terpampang dalam curahan hati gue di blogpost ini. bahkan, kalau gue baca ulang blogpost-blogpost lama gue (sekitar 3-5 tahun lalu) saat masih bimbang menentukan pilihan, gue agak mengernyit ngebacanya. selain karena nganggep diri sendiri sotoy - gue mendamba banget jadi SAHM and romanticized the role just because gue belum tau rasanya jadi SAHM - juga karena sekarangpun gue masih aja dibikin bingung oleh pilihan-pilihan. 
i know, now i have experienced both sides of the "world" - jadi ibu bekerja udah, jadi SAHM udah, jadi part-time worker juga ongoing - tapi gue masih belum punya keyakinan yang kokoh atas pilihan gue. kadang, gue malah bertanya-tanya sendiri: am i regretting my decision? 
dan abis ngebaca buku Rene ini, gue jadi mempertanyakan lagi urutan prioritas "career triangle" gue. yang udah jelas gue tau hanyalah bahwa setiap 'peran' itu punya keuntungan dan juga downsides-nya masing-masing. harapan gue sih, melalui tulisan ini, mungkin gue bisa nemuin 'jawaban' yang gue cari by being brutally honest about what I've found out and how I've been feeling about each of the roles along the way. so let's just spit it out. 

what i know about being a karyawati:
waktu terjadwal, udah ada slot-slotnya. berangkat pagi, pulang malem. di tengah-tengahnya ada rapat, kerjaan dadakan, dsb. this could suck in a way because it's boring and predictable, but also menguntungkan buat gue yang impulsif dan 'tak tentu arah' dalam bekerja. this at least gave me direction, or became somekinda anchor to me. baik dalam soal waktu, job description, sampai aktivitas. gue jadi nggak 'terpaksa' nggak ngikutin mood and it's sort of a good thing - again, for me.  

income udah fixed dan terjamin. ada dana pensiun dan kesehatan setelah pensiun pulak.
- tapiii, yang gue rasain selama bekerja di industri dan instansi kemarin, kerjaannya begitu-begitu aja. kreativitas cuma diperlukan untuk 'mengakali' masalah atau tugas, bukannya untuk berkreasi. lagian, gue ngerasa passion gue bukan di bidang telekomunikasi, sih... so i couldn't care less tentang apapun yang terekpos ke gue selama di situ.  

trus, selama jadi SAHM & freelancer, yang gue rasain:
- waktu bebas, kita sendiri yang nentuin tapi ujung-ujungnya perlu menguasai time management dengan baik. begitupun soal mood, kita sendiri yang lebih kuat menguasai mood swings supaya bisa stay committed to our schedule and routine. and that, my friend, is a hella tough job for the ever-impulsive moi.

being at home with the kid all day sounds like fun. but most days, it doesn't feel fun at all. kita selalu bersama orang lain, tapi can't help not being lonely... aneh, 'kan? i think what i miss the most is adult interaction; pembicaraan 'bermutu' meskipun cuma tentang model baju atau gosip artis xD but at least you do that with an adult! nggak heran malah gue yang senewen kalo Bumy libur sekolahnya (ke)lama(an)! 
makanya, sering dengan waktu i found out kalo me time = wajib, demi kewarasan. entah itu meet&greet sama temen, nyalon, pijet, olahraga, skip nganterin anak one school day every two weeks at least just to be alone at the house, dll. but as we know, kebanyakan sarana me time itu perlu biaya 'kan... hahaha iyalah! and that leads us to money subject.  

- because i'm a freelancer, income ya tergantung project. gak cuma itu, it also depends on us to be creative and innovative dalam menjemput rejeki; gimana kek caranya, entah memperluas networking, berani menjajal bidang baru, ngambil risiko baru, dsb. 

gue menyadari, meskipun masih punya cicilan dan nggak ke mana-mana disupirin naik alphard, tapi buat gue bisa jadi IRT ini adalah privilege. suami gue banting tulang demi gue bisa 'nongkrong' (sambil nulis atau ngedit artikel, loh, tapii hehe) selama Bumy sekolah. kadang ada perasaan nggak enak juga sama dese, pengen balik join the workforce lagi untuk ngebantuin doi nyari duit. 
apalagi as we know it, biaya hidup merangkak naik terus. it may sound like a cliche tapi berasa banget buat gue sejak jadi "IRT-saja." mungkin karena yang diutak-atik jadi duit suami doang, yah, beda aja rasanya mentally. jadi harus lebih "bertanggung jawab" mengalokasikannya.  
nah, alokasi expense yang jadi prioritas kita tuh sekolah anak. mau nyari yang 'bermutu' dan cocok di hati, biayanya juga mihil. don't pay peanuts if you don't want monkey ya berlaku banget. di luar yang "primer" itu, kita juga perlu ngebiayain gaya hidup. mungkin ini nih, yang suka dibilang "hidden costs." 

bicara soal hidden costs of living, adit kemaren tau-tau cerita, "eh, gaya hidup di X (a suburb in tangsel) itu gila juga, yak. temenku kemaren disuruh istrinya pindah kerja karena suami temen arisannya kerja di industri Y dan duit bonusnya bisa buat beli alphard." gue ngakak sih pas denger! what is it about middle class dan punya alphard?? sesuatu sekali, sepertinya, even *I* made a reference to it earlier. but i bet adit's friend wasn't laughing when her wife told him that :|
kesimpulannya apa? ya kalaupun gue mau kerja lagi demi membantu suami nyari nafkah, niatnya supaya Bumy bisa les macem-macem (teteup deh gue, ambisius soal les anak), dan just like my mom (yes, I can't seem to get away becoming more and more like her), she always says dia kerja buat beliin gue (and siblings) ini-itu yang tersier, untuk biayain 'hidden costs' of our living. so we could live more conveniently.

- meskipun di poin di atas gue ngebahas soal duit panjaaaang banget (yakan just like the popular tagline "ujung-ujungnya duit"), ada hal lain yang juga penting, yaitu fulfillmentgue ngerasain banget selama bekerja di luar 'dinding' instansi dan terjun di bidang kreatif, pikiran jadi terbuka, segar oleh rentetan ide, lebih bisa mengeksplor diri, dan gue jadi terekspos pada banyak hal di luar 'kotak.' 
jujurnya gue juga rindu banget sama kehidupan yang nggak rumah-sentris semata, alias pengen being among adults dan fokus berkarya (hence, the fulfillment). meskipun emang nggak harus kerja full-time, sih, untuk bisa berkarya...  

jadi gimana, udah bisakah gue nyusun prioritas? 
tetep aja bingung, sih, sebenernya!! hahahah xD 
berhubung a blind man shouldn't lead another, jadi gue balik ke buku ini lagi aja untuk nemuin guidance. a career coach himself, Rene surely knows what he's saying. dan gue nemuin kata-kata ini...

"be who you are; kenali strengths, passion dan purpose of life kita. this self-awareness will lead you to do what you love. emang gak ada jaminan sih semua yang kita inginkan itu akan diperoleh seketika. makanya, kita mutlak perlu sabar. meskipun begitu, in the process, kepuasan dan kebahagiaan sudah menjadi milik kita, bagian dari kita, dengan memahami who you are, not what you have."

wow... that sure is *deep*. 
kalo menilik nasehat itu, PR gue masih buanyak banget, sik. gue belum pernah mikirin apa tujuan hidup gue. tapi, buku ini juga ngasih saran lebih lanjut soal passion. what to do kalo emang lo udah nemuin passion lo itu? 
1. believe in yourself and be courageous.
2. passion is all about what you FEEL when you do things.
3. perluas horizon.
4. jangan nanggung. 
5. be enthusiastic and positive.
6. enjoy the process because the journey doesn't have a finish line. 

yang gue bold ini yang menurut gue paling 'nampol,' sih. self-discovery itu nggak akan ada ujungnya. 

yang jelas, mungkin gue akan balik kerja kantoran full-time begitu Bumy masuk SD dan gue bisa kerja di tempat yang fleksibel dari segi waktu (yet also creatively stimulating). in the long run, maunya sih bisa punya my own startup and it can be profitable jadi gue bisa nerapin 4-hour work per day - meskipun sekarang juga udah begitu, sih, hahaha. but a girl can dream. 
  
jadi, jawabannya apaan? what's number one on my cacreer triangle? buat sekarang, jawaban gue sih "time," ternyata. maunya tetap bisa hands-on ngurus anak, punya kesempatan me time juga, meskipun dari segi duit kudu dibuat beberapa pengorbanan. paling nggak, merem dulu sama beberapa target di financial plan xD
lagian, sometimes we just have to trust the process and the big picture, nggak sih? isn't that what being ikhlas all about? 
yaah, mungkin inti dari semua celoteh/rengekan gue ini sama aja sih, seperti lima tahun atau lima bulan yang lalu. gue butuh terus-terusan diingetin sama apa yang baik buat diri sendiri dan keluarga. kegalauan pastinya bakal muncul terus, namanya juga idup, kadang jalan lurus kadang mencong. the journey doesn't have a finish line pan katanya tadi. hihi. 

yah namaste aja aja deh, pokoknya.
"may all beings be happy, blessed, and free." 

23/09/2014

on august and september

- bosen dengan tempat main yang itu-itu aja, atau lebih tepatnya mall yang itu-itu aja, minggu lalu, kita main ke bintaro xchange dan mall kelapa gading. dalam satu hari. sedih yak kedengarannya, weekend abisnya dari mall ke mall aja? hehehe... yaabes kalau siang panas banget, sementara gue lagi nggak bernapsu juga untuk mengejar kegiatan-kegiatan berbudaya #hapalah. atau mungkin sebenernya yang kita cari tuh berkeliling pake mobilnya; nggak kepanasan, tapi juga nggak bermuram durja di rumah aja. 

anyways, gue sempat nongkrong alone/me time pas di MKG. bumy dan adit main-main, sementara gue buka laptop di jco, nyelesaiin hutang kerjaan, browsing, dsb. sembari kerja, tanpa dikehendaki gue ikut mencuri dengar obrolan tamu-tamu di meja sebrang. yang satu keluarga agak-muda, yang satu lebih-tua. yang agak-muda ini anaknya cuma satu dan udah kelas 3 SD. ketebak dong, yang lebih-tua sibuk mem'bully' dengan "kok nggak dikasih adek siiih anaknyaaa... kasian lohhh nggak ada temen maiiin" and the likes. tapi kedengarannya pasangan agak-muda (PAM) ini udah terlatih banget untuk menjawab dakwaan-dakwaan semacam itu.
PAM: "nggak usahlah. biaya sekolah YANG BAGUS sekarang mahal."
pasangan agak tua (PAT): "halahh, masukin sekolah ya nggak usah yang bagus-bagus amat. sekolahin di **** (nyebut nama sekolah swasta terkenal) aja, nggak mahal kok!"
PAM: "ehehehe... yaa nanti kan maunya kuliah di luar negri."
PAT: "iihh nanti anakmu dapet jodoh orang luar loh! emangnya mau dapet mantu orang sono?"
PAM: "eheheheh...."
diam-diam gue mengacungkan jontos tanda solidaritas dan penyemangat buat pasangan agak-muda ini. boleh deh ntar gue contek jawaban-jawaban ngelesnyah. 

ok, ceritanya gitu aja, sih. no moral of the story.

- sumpah gue butuh banget struktur hidup. ketemu halaman ini dan ngerasa masalah gue banghet yang dibahas. for maybe i am a shut in; one thing for sure, my mind IS scattered all over the place and i don't know where to put my hands on.
setelah gue jahit agar sesuai dengan problema dan kondisi gue, nasehat polly bisa disimpulkan seperti ini:

"Escaping is not going to help. Rewarding yourself in moderation will. But you absolutely must
1) exercise, 2) write down your feelings for you and no one else, 3) eat good things, 4) sleep regular hours, 5) get up early and do your work SOMEWHERE YOU CAN CONCENTRATE, 6) expect more from see a therapist, 7) focus, and 8) remind yourself, over and over and over, that things will get better.

THINGS WILL GET BETTER."

so i guess that's exactly what i'm gonna do. atau lebih tepatnya what i need to do.
lihatlah gue saat ini, jam 4 sore dan belum mandi, kurang tidur tapi nggak bisa tidur (siang), berniat megang kerjaan tapi malah loncat ke sana ke sini di dunia maya, mau abcd tapi malah melakukan wxyz. setidaknya bumy udah makan mandi tidur siang main keurus, memang. tapi in general, i'm a huge mess.

jadi tadi gue akhirnya membuat langkah-langkah kecil: nanya soal pembantu pulang-pergi ke tetangga, nyari alamat klinik psikolog yang deket dari rumah, nyiapin jadwal dan dana buat ngegym, nyiapin dana buat ngikutin bumy jemputan, dan nulis ini. still so much work to be done. but this is where i start.

- akhirnya ke kineruku. yep setelah bertahun-tahun penasaran, berniat, dan hanya sampai pada menyambangi hegarmanah 52 tapi ruku-nya lagi tutup, sabtu lalu berhasil juga gue masuk ke situ. kebetulan bisa ketemu juga budi warsito, one of the owners. gue tau budi ini pertama kali dari blognya di jaman dahulu kala, budibadabadu.blogspot.com. awal-awal mbaca, gue mikir "ini orang gilak amat otaknya" i mean he could abruptly associate a word with random songs, books, films, names, or whatever. it's like a huge "library" on his head.
and then i was hooked on the blog dan jadi suka baca tulisan-tulisan lama di arsip blog tsb. tapi tau-tau blog itu inactive. sempat linglung juga sih, bertanya-tanya bisa nemuin tulisan doi di mana lagi... sampai lalu bisa menemukan budi lagi di multiply. kalau nggak salah ingat sih begitu kisahnya... pokoknya lewat multiply itu gue jadi bisa 'kenal' sama beliau dan tau soal ruku/kineruku. siapa sangka ternyata dia punya dan mengelola sebuah perpustakaan in real life. dengan gemes dan penasaran gue membayangkan segilak apa koleksi perpustakaan yang dikurasi oleh THE budibadabadu... sampai tahun demi tahun berlalu dan gaung kineruku as one of the "it" places in bandung semakin terdengar. tapi sedihnya, gue belum juga berhasil sowan.
padahal 'kan hotel concordia semacam 'rumah' gue kalo ke bandung, dan jaraknya cuma selemparan batu dari hegarmanah. tapi ya gitu... siapa bisa menggegas suratan hidup? hahahah.

well, saat akhirnya gue masuk dan liat koleksi kineruku, rasanya ekspresi gue udah kaya muka bumy saat masuk ke toko mainan yang superbesar dan koleksinya menggetarkan dada. etapi mungkin aja gue udah nyengir lebar, garuk-garuk kepala, dan mondar-mandir tanpa gue bener-bener sadari sih. bingung mau mulai dari mana, tapi gue putuskan untuk memulai dari koleksi filmnya. sayang seribu sayang, gue nggak bisa minjem film karena waktu pinjamnya cuma 3 hari... dan nyesel juga nggak bawa laptop supaya bisa sempat nonton di hotel. setelah pandang-pandang dan pegang-pegang koleksi film dan cd, baru deh gue ke koleksi buku. gue mulai dari rak puisi dan hmm mungkin non-fiksi, di situ gue udah mulai 'pusing' karena excited lihat judul-judulnya. setelah mencomot buku "ariel"nya sylvia plath, buku puisi emily dickinson, dan bukunya yb mangunwijaya, gue ke rak fiksi. di situ gue lebih terhenyak lagi. i knew this would happen, makanya gue menyambangi rak fiksi belakangan. because, you know, i'm totally into "delayed gratification" dan udah curiga kalau koleksi buku fiksi di sini bakal bikin gue megap-megap. to cut long story short, buku yang gue pungut di sini adalah "noone belongs here more than you"nya miranda july yang nggak bisa gue temukan di manapun (di jakarta, tangerang) dan "nine stories"nya jd salinger.
sekilas catatan untuk budi: 1) terima kasih sudah mengizinkan gue yang berdomisili di jakarta untuk bisa minjam buku-buku di ruku, and it's an awesome place you're running! 2) tolong kabari kalau movie room sudah available lagi karena God only knows betapa saya kepingin nonton "eliana, eliana" hehe, 3) yang ini baru kepikiran, kalau saya mau meminjam lagi, apa bisa minta tolong dikirimkan ke jakarta?? sadar sih, betapa ngelunjaknya permintaan satu ini xD 


tau-tau teringat salah satu scene kesukaan di "jane austen book club"

yasudahlah sepertinya blogpost ini udah terlalu random. akan lanjut berceloteh di lain hari. :D

18/06/2014

fall from grace

(warning: this post contains 65% rambling, 35% rants)

mei ini masa cltp gue genap setahun. oh, how time flies... wait, does it really feel so?
kayanya kurang tepat kalau waktu dibilang terasa cepat berlalu. soalnya, masa adaptasi perubahan peran ini kerasa beneerrr lajunya sama gue. ya rempongnya, capeknya, bosennya. tapi juga senengnya, ngerasa bebasnya, pembelajarannya, semuaaa gue telan dan hadapi hari demi hari. some days feel long. some pass by like a blink of an eye. on certain days, i could find myself thinking, "tell me why i chose to do this again?"
what's certain is that it's never a smooth-sailing journey.

jujur aja, mendekati habisnya periode cltp tahun pertama, gue merasa agak galau. kalau kata om toge, galau itu pertanda hati dan kepala nggak kompak, hehehe.
pada saat gue harusnya mulai ngajuin perpanjangan cltp, gue malah menunda-nunda untuk ngurusin. meskipun "si kepala" tau kalau kondisi gue saat ini nggak memungkinkan untuk ujug-ujug kembali bekerja, tetap aja "si hati" suka kumat merengek-rengek, minta didengar. 
supaya bisa memberi penyaluran untuk sampah emosi "si hati," gue putuskan untuk mencurahkan apa-apa yang bikin mumet dan berkontemplasi di sini....

1. i think i totally suck at time-management.
seperti pernah gue curhatkan di sini, jadi IRT harus pinter ngatur waktu. terutama IRT yang gak punya pembantu macam gue. selama ini, ritme hidup gue terbentuk akibat status sebagai karyawan. pagi berangkat kerja. sampe di kantor ya disibukkan dengan tugas-tugas (kalau ada. atau sibuk browsing kalo lagi magabut, haha). siang lunch, sore pulang, dst. semua aktivitas udah ada slot waktunya.
sementara sebagai IRT, gue sendiri yang harus pinter-pinter bikin jadwal dan mendisiplinkan diri ngikutin jadwal itu. eh, apa tadi, DISIPLIN?

mungkin buat orang yang karakternya organized, hal ini bisa lebih mudah dijalani. mungkin, ya... karena bagi gue yang impulsif, moody, dan gampang bosen sama rutinitas, for real, disiplin itu beraaat untuk dijalanin! 

tapi... apa iya segitu beratnya memenej waktu sampai gue pengen 'resign' jadi IRT? yah, sebenernya, sih, karena di-combine dengan...

2. perasaan lacking of achievement.
hal ini yang sepertinya gak gue antisipasi saat mau banting setir dulu. dan jujurnya, karena baru terasa saat lo udah 'nyebur' ke dalam profesi IRT.
jadi IRT, tuh, mau lo 'berhasil' nyuci piring+nyapu ngepel+masak+bersihin halaman+akrobat+melalui hari sama anak tanpa berantem dalam sehari sekalipun, at the end of the day, noone congratulates you. gak ada tepukan (figuratively) di bahu, dan buat gue, gak ada sense of achieving something.
karena besoknya, you'll do the same thing all over again. 


gambar dari sini

lalu, mungkin ini faktor kedangkalan pemikiran gue aja, ya. atau mungkin i have to much "free" time on my hands sehingga banyak 'rumput liar' tumbuh di alam pemikiran, tapi perasaan lacking of achievement ini sedikit-banyak dipupuk oleh... keterlibatan diri di social media. 
gamblangnya, di saat lo 'berhasil' menyelesaikan nyetrika 50 helai baju dalam semalam, atau 'sukses' menyulap halaman rumah bebas daun-daun kering, bobotnya terasa jauuh berbeda jika dibandingkan dengan pengumuman keberhasilan mereka yang abis dipromosi di kantor, atau yang berhasil liburan ribuan kilometer jauhnya setelah dapet bonus, atau yang sukses kerja disambi jualan via online shop. 

dan the ever-comparative me juga dihinggapi pemikiran kenapa gue tetap gak bisa berprestasi padahal udah banting setir. seharusnya 'kan i have more time on my hands? seharusnya 'kan gue bisa leluasa mengeksplor kemampuan gue? tapi, kenapa gue belum punya karya apa-apa yang bisa dibanggain? atau kenapa gue gak punya bisnis yang menghasilkan jutaan?

dangkal, ya? indeed. gue juga terganggu sama hal ini. bahwa gue dapat dengan mudah ter-distract oleh pencapaian orang lain. padahal tujuan hidup gue berbeda dengan mereka. padahal kondisi perikehidupan gue nggak sama persis dengan mereka. padahal lagiii, nih,
"prestasi itu tentang hasil karya. berjuang meraih tujuan dengan mengelola diri. bukan tentang hasil lomba, bersaing meraih gelar juara dengan mengalahkan orang lain." - Om Toge.
*tertohok*
bener juga, sih, seandainya gue bisa membuktikan bahwa gue bisa meraih semua pencapaian yang "keren" menurut standar hidup orang lain, apa maknanya akan tetap sama buat gue? are those kinds of achievements really what i NEED for myself? 
"who do you want to entertain: the audience or yourself?" (Man on the Moon, 1999).

...sepertinya gue perlu menulis ulang definisi gue soal "pencapaian."


3. susahnya perjuangan untuk konsisten.
told you i'm moody. kadang-kadang hadir perasaan (baca: bisikan setan) yang ngingetin gue akan pertanyaan lama: apakah gue gak sedang menyia-nyiakan masa produktif dengan jadi IRT? kelihatannya, semua orang di luar sana hidupnya dinamis, mereka bergerak dari satu lokasi/posisi ke tempat yang lain, mereka terlihat evolving dalam hal material maupun pengalaman. sementara gue? kok gini-gini aja. eh, ada, sih, perubahan: tambah gendut T__T

back to topic, why is it so hard for me to be persistent?
padahal, waktu kita (gue & adit) ngambil keputusan ini, yang jadi fokus kita adalah tujuan jangka panjang. kita mau bumy diurus sama emaknya. kita mau mandiri. kita mau jadi keluarga yang utuh, selalu bersama. dan serentetan cita-cita luhur lainnya.

hmm, kalau mau jujur, gue rasa jawabannya adalah... karena gue belum sanggup kecewa. akibatnya, gue jadi belum sanggup berjuang. hihihi (harusnya tertampar malah cekikikan). 
(ini terkait dengan ruasdito yang akhir-akhir ini lagi gue dalami. but i guess that's for a whole other post).

setelah ngoceh panjang-lebar gini, mendingan sekarang gue menarik semacam-kesimpulan dan solusi aja, deh, ya, supaya (terkesan) ada juntrungannya:

1. gue butuh penyaluran emosi yang aman dan efektif. 
kalau badan udah capek, hati juga resah karena marah-marah sama anak, akibatnya jadi makin betekkk dan unhappy, atau "error." 
kata om toge, setiap orang butuh istirahat fisik (rebah) dan rekreasi hati (rehat). "kalo salah satunya nggak dipenuhi, potensi error akan makin besar."
let's see, apa aja sih metode rehat yang efektif buat gue? 
melantur di blog sendiri. nyanyi-nyanyi di mobil. ketemuan sama sohib-sohib. the list shall continue. tapi yang terpenting, punya penyaluran emosi yang 'bener' itu menjadi salah satu cara mengasah kesanggupan kecewa tadi. namanya juga idup (baca: realita), nggak selalu sesuai dengan keinginan. kalo gak sanggup kecewa ujung-ujungnya ya jadi demen maksa. maksa keadaan berubah... tolong dicek kata-kata oma Joan Rivers tempo hari, "Things don't get better. YOU get better."

2. berkaitan dengan problema nomor 2 di atas, soal lacking of achievement, sepertinya selain perlu meluruskan niat lagi, gue juga perlu take notes on little things and mundane stuff that's happening around me. seperti saat gue dan si buah hati berduet "angin pujaan hujan" dan lagu-lagu the carpenters di kamar. menikmati perkembangan anak hari demi hari (defense standar SAHM banget, ya, kedengarannya? tapi gue gak defensif kok inii, hehe). saat si anak memamerkan kebisaan-kebisaan baru, saat dia curhat soal 'konflik' di sekolah dan cara dia menanganinya, saat-saat bodornya, saat celotehnya bikin tercengang dan takjub. should just enjoy these things while they last. 

3. but on the long run, i think there's a chance i might go back and join the workforce.
meski belum menjadi keputusan, tapi ada kejadian yang membuka mata dan ngasih gue warning. jadi, beberapa waktu lalu ada kesempatan di mana gue bisa mingling dengan ibu-ibu berusia sekitar sepuluh tahunan di atas gue. anak-anak mereka udah pada SMP atau bahkan SMA. most of them are housewives. setelah  beberapa jam di antara mereka, i suddenly had an epiphany... yaitu harapan gue punya regular day job saat seusia mereka kelak... hahaha. 
gue inget Pak Lilik dulu pernah bilang kalau dia ingin istrinya tetap bekerja, yang terutama bukan untuk penghasilan, tapi supaya si istri tetap bisa terekspos dengan "dunia luar," dengan permasalahan-permasalahan yang dapat mengasah pemikiran. it seems like he thinks that professional life can shape a person's mind and point of view, for the better. 
dulu dan sekarang, gue setuju sih sama opini Pak Lilik tersebut. itu juga penyebab gue tetap berusaha punya pekerjaan yang mengasah otak meski cuma freelance. 
terlebih setelah ketemu ibu-ibu "senior" kemarin, hehe... well, maybe i just happened to meet a 'wrong' sort of crowd. entahlah. semoga jalan yang sekarang gue jejaki bisa membawa gue ke tempat-tempat yang paling sesuai dan terbaik buat perkembangan jiwa gue.

can i hear an "amen?"   
now, let's summon this long rant with a Blur's video. lagu ini kerap berputar-putar di kepala beberapa waktu belakangan.