25/08/2011

the house


tempat ini adalah "love nest" ke-dua gue dan adit. 

rumah pertama kita adalah rumah pinjaman dari nyokap gue. lokasinya di karawaci, nggak jauh dari rumah nyokap. begitu gue hamil, kita jadi mendamba punya rumah sendiri, terutama rumah yang letaknya nggak di pinggir jalan dan bentuknya cluster. sebelum hamil sih emang udah punya cita-cita punya rumah sendiri, tapi kondisi expecting baby membuat kita makin terpacu. rumah pinjaman itu letaknya di jalan utama yang ramai dan berisik, dari segi keamanan juga 'kurang' karena posisinya nggak secluded (meski alhamdulillah kita sering lupa ngunci pintu rumah tapi barang-barang aman).

nggak lama, cita-cita kami mendapat jalan. nggak jauh dari rumah pinjaman, kita menemukan sebuah cluster kecil yang terdiri dari 50 rumah saja. suasana di situ tenaaang banget, karena kondisinya yang 'tertutup.' lucunya, asman gue di kantor ternyata punya saudara yang tinggal di cluster tersebut. dia lantas memberikan info bahwa ada satu rumah yang dijual, tapi pemiliknya maju mundur terus, begitu udah ditawar eh dia batalin. 
adit lantas mulai 'bergerilya' ngumpulin info rumah yang kabarnya mau dijual itu. dia mencoba nongkrong di pos satpam cluster itu, dan menggali info cara mengontak si empunya rumah (kondisi rumah saat itu dikontrakkan ke orang yang bekerja sebagai tour guide, so he's away most of the time). to cut a story short, we got the house after a couple of months process. kalau diingat-ingat sekarang, banyak juga obstacle sampai akhirnya rumah tersebut resmi jadi milik kami. tapi alhamdulillah, banyak juga solusi dari arah yang tidak disangka-sangka. sebut aja, DP untuk pembelian dipinjemin nyokap (an extremely soft loan it was), bos adit setuju memberikan ijin deviasi untuk fasilitas KPR (seharusnya kerja 5 tahun dulu baru bisa ngutang rumah), dan dengan perjuangan yang berat menghadapi si pemilik rumah yang... let's say ababil to the max dan jenis manusia yang "langka" (believe me, this is an euphemism), alhamdulillah kami bisa menempati si rumah impian. 

tapi emang bener deh kalau manusia itu gampang lupa dan pinter nyari-nyari kejelekan untuk dikeluhkan (bawa-bawa nama umat manusia untuk menutupi keburukan diri, huhu). sebelum pindah, gue sama sekali nggak pernah memasuki rumah itu. jadilah pas udah masuk, gue terkaget-kaget. kondisinya perlu banyak (bangettt!) perbaikan, dan luasnya juga kurang dibanding rumah pinjaman nyokap. i know, i was ignorant about the house selama proses pembelian (maklum baru punya orok :P), i was so naive to expect the condition when we were about to move in was at least resembled our previous house. ternyata, kami perlu merenovasi toiletnya dulu (besar-besaran *sigh*), perlu memberesi kebocoran di bagian belakang rumah, ngecat di sana-sini, merapikan halaman, taman, and so on and so on. 
setelah semua usaha perbaikan itu selesai, we were left kinda bankrupt (hehe) and still not quite satisfied with the house. to be honest, i was the one who's always complaining. harus gue akui bahwa sebelumnya gue keenakan tinggal di rumah yang udah difasilitasi nyokap gue. pas pindah, kondisinya udah nyaman dan layak karena emang udah direnovasi. terlebih gue nggak perlu keluar duit untuk urusan renovasi. nah di rumah baru ini, udahlah keluar duit (yang menurut gue) banyak, tapi tetep aja masih nggak puas dengan hasilnya. boro-boro deh kepikiran dan punya budget untuk bikin kitchen set apalagi bedroom set, merenovasi 'seadanya' aja udah bikin kantong ngos-ngosan. kita, oh well gue, jadi tau kalo beli rumah tuh bukan cuma perlu uang DP, tapi juga biaya notaris, BPHTB (untungnya didiskon karena fasilitas karyawan), asuransi rumah, endebre endebre. 

tahun ini, alhamdulillah kita tergerak dan punya rejeki untuk mengganti warna cat rumah. i like the color, lebih kalem, dan memberikan suasana yang lebih cerah. gue dengan spontan bilang ke adit, "rumah ini 'dibenerin' sedikit aja tapi jadi terasa lebih nyaman ya bi," kebetulan hari itu jumat, adit bilang dia jadi inget isi khotbah yang baru dia dengar. 
"Nabi Muhammad SAW dulu tuh lantai rumahnya dari tanah doang loh beb. tapi beliau berkata 'baiti jannati,' rumahku surgaku. jadi rumah itu nggak harus mewah untuk nyaman ditinggali, tapi lebih ke rasa syukur yang menempati." 
ealahh tumben suami eike bijaksana kekeke... tapi mau nggak mau gue jadi tersentil mendengarnya. semoga kami diberkati dengan rasa syukur yang melimpah, ya Tuhanku.... 

anyways i'd like to share some shoots from our humble love nest. the pictures are before the 'makeover', so let me remind you they're uber-humble, hehehe. biarpun demikian, tapi udah beberapa kali ditawar orang loh... hihihi, mungkin karena kondisi clusternya yang, seperti gue sebut tadi, tenang dan secluded. kali aja ada yang tertarik jadi tetangga gue ;D you are so welcome (masih ada satu rumah tuh yang dijual). 


03/08/2011

untitled #53

selintas dokumentasi hari:
- tadi pagi ada talkshow QM di hardrock, tapi yang ngisi Fitri Noeriman. tema yang dibawakan adalah basic financial planning. ada satu kalimat yang gue suka banget, mungkin karena gue merasakan banget pesan di kalimat itu: "Dari kecil, kita cuma diajarkan gimana menabung dan berhemat, tapi tidak tentang bagaimana membelanjakan uang dengan bijak." bener banget deh! selanjutnya dia paparkan bahwa karena itulah begitu kita megang duit sendiri, some of us jadi foya-foya karena bingung duitnya mau diapain. hahaha... duit, mau dipegang atau ditaruh di atm, kalau nggak jelas peruntukkannya, jadinya nyampur aja gitu. gue jadi teringat quote yang gue sebut di blgopost sebelumnya tentang uang yang nyampur-nyampur bagaikan air. padahal seharusnya air tuh kita pisahkan, mana yang buat minum, mana yang buat cebok :D
semoga Bumy dapat edukasi yang penting itu yah... lebih baik lagi kalau dapatnya dari gue!
- ceramah di tvone yang gue dengar sore ini menarik, tapi berhubung gue nontonnya dari kejauhan (kita-kita 6 meter deh), gue nggak tau siapa nama ustadznya, atau bahkan judul ceramahnya. yang jelas, temanya adalah tentang rezeki. gue mulai memperhatikan ceramahnya ketika ada pertanyaan "kenapa kok ada orang beriman yang miskin, sementara ada orang kafir yang kaya raya?" jawaban si ustadz bagus deh menurut gue. dia bilang (disclaimer: agak gue dramatisir ya jawabannya, hihi), "kalau ada orang kafir loncat dari lantai 12 pakai parasut, dan orang beriman loncat juga tanpa parasut, kira-kira siapa yang mati? lagipula, rezeki itu bukan cuma berupa materi, tapi bisa juga berupa kenikmatan ibadah. kalau ada orang yang ngomong, 'ah gue nggak sholat tapi dapat jabatan oke tuh.'
coba kita lihat dari sudut pandang yang lain: memang dari segi materi dia mendapat kelimpahan, tapi apakah dia merasakan manisnya ibadah? apa dia merasakan nikmatnya bangun dan bersujud di sepertiga malam? apa dia bisa mengucurkan airmata ketika berdoa kepada Allah?"
duh... duh T_T
- berkat meminjam majalah cleo si debi, gue jadi tau film "one day" sudah beredar. tapi kurang jelas juga beredarnya di indonesia berwujud film bioskop atau dvd (bajakan). i hope anne hathaway would do justice to emma morley's character!

an amateur's sotoy guide about dana pendidikan

the title says it all. gue ini emak-emak yang amatir dalam urusan perencaan keuangan. tapi berhubung gue pernah beberapa kali dapet pertanyaan "Gimana sih cara nyusun dana pendidikan?" jadi gue coba tuliskan aja apa yang gue tau berdasarkan pengalaman browsing dan menggunakan jasa financial planner. wajar kalau disebut "sotoy" kan?

1. Gimana cara ngitung dana pendidikan?
gue kenal istilah "dana pendidikan" dari talkshow ligwina di hard rock fm. dari situ, gue tau bahwa tool untuk menghitung dana pendidikan disediakan di website www.qmfinancial.com, namanya kalkulator dana pendidikan. jadi hal pertama yang gue lakukan ya mengisi biaya untuk tiap level pendidikan, angka-angka ini disebut present value. nanti kalkulator QM akan memberikan future value sesuai dengan target waktu tiap level pendidikan. setelah itu kita akan disuguhkan totalnya deh... jengjeng!! beware, bagian ini yang biasanya bikin tersedak :P

ohya gue pernah baca di artikel yang ditulis ligwina, biaya yg kita input ini boleh uang pangkalnya aja, boleh juga kalau mau sekalian dihitung biaya tahunannya (seperti SPP, dikalikan jumlah tahun sekolah) dan biaya hidup si anak nantinya (ini direkomendasikan untuk yang berencana menyekolahkan anak di luar negeri).

berikut gue sertakan ilustrasi perhitungan untuk mengetahui berapa besar investasi bulanan atau tahunan yang diperlukan (link). template awal sheet yang gue share ini gue dapatkan dari blognya the infamous darina danil, hehe. tapi lantas gue sesuaikan dengan pengetahuan yang gue share di sini.
disclaimers:
(a) gue gak bisa memastikan validitas perhitungan ilustrasi ini, karena emang nyontek juga dari hitungan orang :P
(b) data yang diinput bukan dari plan dana pendidikan gue yaaa! penting itu untuk di-state hehehe.

2. Sebenernya produk yang oke buat dana pendidikan tuh apa? LM? RD? tabungan?
nah setelah urusan input-menginput di kalkulator tadi selesai, baru deh bisa diulik produk apa yang sesuai. setau gue (yang belum pernah ikut Pelatihan QMPC ini, fyi), faktor utama untuk menentukan produk yang sesuai adalah jangka waktu tujuannya. karena jangka waktu ini berkaitan dengan resiko suatu produk keuangan. we know the adage: high risk high return. kurang lebih kayak gitu acuannya: kalau mau return yang lebih besar, ya resiko yang harus diambil juga besar. jadi kalau untuk mencapai tujuan jangka pendek, paling bener ya ambil produk keuangan yang resikonya rendah.

kalau menurut ligwina, tujuan finansial dibagi tiga: jangka pendek (3-5 tahun), jangka menengah (5-10 tahun), dan jangka panjang (10-15 tahun) serta di atas 15 tahun.
Tujuan < 5 tahun, pilih produk yang rata-rata return per tahunnya sekitar 7%. produknya bisa reksadana pasar uang, tabungan, deposito. bisa juga reksadana terproteksi, obligasi, ORI, atau sukuk.
Tujuan 5-15 tahun, pilih produk yang rata-rata return per tahunnya sekitar 10%, yaitu reksadana campuran. untuk produk ini jenisnya ada yang moderat, konservatif, dan agresif. kita lihat aja di prospektusnya, kalau komposisi sahamnya makin besar berarti makin agresif.
Tujuan >15 tahun, pilih produk yang rata-rata return per tahunnya sekitar 25% yaitu reksadana saham.

tapi ternyata ada juga pertimbangan selain jangka waktu investasi, seperti yang gue kutip dari artikel tentang ligwina di sini:
"Namun, ia juga menyebutkan, pilihan ini dapat tergantung dari karakter orang yang mau berinvestasi. “Ada orang yang agresif, di atas 10 tahun, sudah bisa masuk reksadana saham,” ungkapnya.

Untuk itu, ia kembali menegaskan, tujuan untuk berinvestasi itu penting diketahui sejak awal. Baru setelah itu menentukan berapa tahun investasi dan jenis investasinya."

untuk memilih produk reksadana berdasarkan rata-rata return per tahun ini, gue pakai alat bantu pantau performansi reksadana di infovesta.com dan bloomberg.com. di situ dipaparkan return 1 bulan sampai 5 tahun, tinggal kita lihat aja produk mana yang returnnya 'masuk' ke target future value kita. ohya gue dapat tips dari salah seorang perencana keuangan, kalau kita cari reksadana untuk tujuan yang jangka waktunya 5 tahun, maka performansi yang kita lihat adalah performansi 5 tahun produk tersebut. setau gue dari kedua website itu, maksimal performansi yang ditampilkan 5 tahun deh, jadi untuk tujuan yang di atas 5 tahun, acuan gue tetap yang 5 tahun :P adakah yang tau gimana cara lihat performansi puluhan tahun??

fyi, untuk LM, rata-rata return per tahunnya diberikan angka 20%. gue juga sempat kepikiran untuk pakai LM sebagai salah satu instrumen dana pendidikan, tapi akhirnya gak jadi. dengan berbagai pertimbangan akhirnya LM masuk ke instrumen dana darurat sahaja.

3. Trus gimana cara memilih produk reksadananya?
this is what i did: melototin thread "Investasi Reksadana" di forum Fashionese Daily (FD)! it took a week for me to 'complete' the whole thread... hahaha. di thread itu banyak suhu investasi yang mau berbagi ilmu dan pengalaman, gue tau di mana beli produk reksadana, cara buka account commbank, sampai nama-nama produk yang recommended dari situ.

kalau mau 'gampang' sih search aja google "reksadana terbaik versi kontan tahun 2010/09/dst" hihi, gue juga melakukan itu untuk cek dan ricek.
tapi IMHO, memang diperlukan riset sebelum terjun ke dunia investasi. banyak browsing, baca-baca artikel di koran, atau bahkan datang ke talkshow seputar financial planning dan produk keuangan akan sangat membantu memberikan wawasan. gue jadi merasa tercerahkan bukan cuma soal produk keuangan (salah satunya bahwa unitlink itu produk yang sangat gak direkomendasikan. untuk argumen sekaligus perdebatan lengkapnya bisa disimak di banyak link yang membahas 'keburukan' unitlink), tapi juga soal pengaturan keuangan pribadi.

4. Beli reksadana di mana?
yang gue tau, ada 3 bank yang menjadi supermarket reksadana. mandiri, commbank, dan HSBC. masing-masing punya keunggulan dan kekurangan, dipilih aja mana yang paling nyaman buat kita dalam praktek investasinya. gue prefer commbank, karena:
- internet banking dan mobile bankingnya juara.. hahaha. tampilannya memudahkan, informasinya detil. so far sih gue baru nyoba 3 produk internet banking, dan bukan hanya gue yang memuji tampilan dan kepraktisan e-banking-nya commbank, tapi juga salah seorang pegawai bank kompetitor yang kritis banget orangnya, tuh, temen tidur gue.
- kalau beli reksadana lewat e-banking, kita dapat diskon fee pembelian 50%.
- chargesnya minim dan narik atm di atm MANAPUN gratis.
- monthly statement-nya terperinci dan jelas.
- pilihan produk reksadana yang dijual beragam, dan terutama, belinya bisa 'recehan' hihi. sebenernya tergantung dari produk reksadananya, tapi ada tuh yang bisa dibeli mulai dari 100 ribuan.
- gak ribet! gak masalah mau beli reksadana di cabang X, gak harus buat rekening baru lagi kalau kita mau beli reksadana di cabang Y. semuanya udah online.
- frontlinernya gak nawarin unitlink ketika kita lagi apply comminvest, hahaha.

5. Gimana cara pantau hasil investasi kita?
well, karena infovesta udah gak gratis, jadi gue pakai bloomberg.com. ada sih aplikasi bloomberg mobile, tapi gue masih belum bisa makainya, hehe. tinggal diinput aja nama produk reksadana apa aja yang kita punya, NAB reksadana, besarnya pembelian, dan tanggal pembelian.
ohya nama produk yang diinput berupa kode gitu, bisa dilihat di menu Mutual Funds Screener.

sejauh ini sih demikian yang bisa gue ceritain. gue sendiri baru mulai rutin beli reksadana per akhir tahun lalu, jadi belum merasakan banyak asam garam. semoga membantuuu.