27/08/2019

begin again

hey there, blog. 

beberapa waktu lalu gue menemukan semacam konsep meregulasi emosi berupa start of the week check-in dan end of the week check-in. visualnya dibuat dengan sangat ciamik oleh akun Instagram @heyamberrae. 



ini sejalan dengan konsep agile, sih. seperti tertuang di agile manifesto, 
"At regular intervals, the team reflects on how
to become more effective, then tunes and adjusts
its behaviour accordingly."
atau dengan kata lain, kalau hidup berbasis prinsip agile, kita perlu sering melakukan refleksi agar tau perubahan apa yang diperluin untuk mengimprove hidup kita. 
nah, karya visual ini sepertinya bisa ngebantu gue buat introspeksi diri. melihat ke dalam. bertanya ke dalam. harapannya sih supaya bisa kemudian ngerencanain perbaikan yang gue rasa diperlukan. 

yiuk dimulaai. 

My #1 priority this week is...
makan lebih bener. lebih bersih. lebih sehat. 
di minggu malam lalu, yang bertepatan dengan akhir dari minggu ketiga agustus, gue siap-siap bobok dengan kondisi begah sesudah menyikat seporsi ayam geprek bensu. 
dan ini bukanlah kejadian spontan semata. sepanjang weekend itu, gue udah mengonsumsi burger, ayam goreng, dan seperangkat hidangan fast food dari mcd, burger king, carl's jr, you name it. bahkan bukan di minggu ini saja gue rajin mengonsumsi fast/junk food; it's been going like this for yearssss.
padahal gue udah tau benar dari hasil medical check up kalau nilai kolesterol gue jelek. dan gue juga udah paham sekaleee kalau makanan berlemak minim serat semacam itu nggak baik untuk badan berusia 35 tahun gue ini. 
but I just keep consuming them. simply because they're fast, and easy. 
cepet kenyang, cepet puas, enak, dan mudah didapat. 

menyadari kalau dosa-dosa akibat makan dengan sembrono udah semakin menumpuk, malam itu gue semacam berjanji sama diri gue kalau "besok gue akan makan dengan lebih bener!" 
dan pencapaian terbesar gue SEJAUH INI (tolong dinotis kalau ini baru hari selasa pagi. yang berarti kurang dari 2 x 24 jam berlalu sejak sumpah tersebut terucap, haha!) adalah berhasil gak makan pakai nasi tadi malam. 
lalu pagi ini gue berhasil sarapan ala-ala my favorite content creator @congcongh pakai buah, greek yogurt campur granola dan brown sugar. tak lupa ngebekel homemade sandwich. ala-ala indeed, but I feel kinda great that I could do some change. meskipun (masih) sedikit hahayy. 
perjuangan kita masih berat, diriku!

I want to do less...
mbak Amber ngebantu untuk menjawab ini dengan pertanyaan tambahan: ada nggak hal-hal yang gue iyakan/lakukan padahal sebenernya gue nggak mau-mau amat? atau justru ada hal-hal yang gue lakukan tapi nggak berdampak apa-apa ke diri, atau simply nggak ngebantu mencapai goals gue?
hmm.. apa ya? 
yang saat ini kepikiran sih, I want to do less looking at my phone saat lagi sama anak-anak. 
hal lain yang selalu ada di wishlist untuk dikurangi adalah ke-moody-an diri ini. gampang banget ketenangan jiwa ini "terampas" sama hal-hal yang wajar terjadi di dunia. supir salah belok lah. ada barang ketinggalan lah. janji dibatalkan sepihak lah. just normal, duniawi, stuff kan padahal. 

next, I want to do more...
pastinya more clean eating. dan untuk mencapai itu, gue perlu lebih berKOMITMEN dan meluangkan waktu untuk bikin makanan sendiri di rumah
jika bisa dipersempit lagi ranah jawabannya, maka gue perlu tanyakan ke diri: apa aja hal-hal yang membawakan perasaan fulfillment dan joy buat gue? and how can I do more of that?

weekend lalu gue merasa cukup bangga dan puas sama diri sendiri, karena rencana-rencana yang disusun alhamdulillah bisa terlaksana. mulai dari nongol absen mingguan ke rumah nyokap, nganter Bumy tampil di konser dengan kostum lengkap dan on time, berhasil mampir ke rumah Nup (SainsOtakAnak.id) sekaligus mengikuti workshop nan sangat kaya manfaat berjudul "Apa yang Penting di Usia Dini vs Neuromyths dalam Parenting." bahkan dapet bonus sepulangnya dari workshop tersebut, kita bisa singgah di mol baru yaitu TransMart Cibubur, hahaha. 
meskipun sebelum menjalani weekend ini kita nggak pakai kegiatan family meeting seperti biasa, sih. Bumy sampai request, "ma kapan nih kita family meeting?" duuh. ini harus banget masuk ke kategori "more." more family meetings!
gue juga pengen lebih emotionally present saat lagi sama anak-anak, salah satu caranya ya dengan mengurangi distraksi hengpon tadi. mungkin ragam aktivitas gue sama anak-anak juga perlu lebih direncain, sih, since I'm an OCD yang nggak paling nggak tahan liat waktu terbuang "percuma." 
balik lagi, caranya lewat family meeting. buat si bayi, gue pengen lebih banyak reading aloud ke dia. buat yang gede, gue pengen sesi nonton berdua kek, atau ngerjain soal matematik berdua hahaha. 

This week, I want to feel...
powerful. confident. and satisfied. 

To feel this way, I will..
berusaha konsisten melakukan hal-hal yang baik buat diri, secara fisik dan mental. 
gue juga akan lebih milih baca buku dibandingkan melototin hengpon (the root of all evil di duniaku). harapan gue adalah bisa kelar satu buku lagi minggu ini.

If I get stuck, I'll remember..
that I can deal with this too even though I prefer something else to happen. 
that not everything will go my way, but I am flexible. 
that I will breathe, I will think of solutions. 

Bismillah.
how about you, o readers?


more of this, too!

di Ruang Komunal Sains Otak Anak Indonesia

21/08/2019

tough love


gue inget waktu bagi rapot saat masih kelas 2 atau 3 SMP, gue yang kala itu masih menjadi anak rajin nan berprestasi, mendapat ranking 1 di kelas. 
gue ingat merasa lega, dan senang, tentunya. 
my mom was busy congratulating me when I told her the news. 
tapi ketika bokap melihat isi rapot gue, komen dia adalah, 
“ini nilai pelajaran A kok cuma 7?” seraya menunjuk satu mata pelajaran entah-apa yang gak bia gue ingat. karena yang paling teringat justru komentarnya itu dan reaksi otomatis gue yang berupa rasa kesal.
menurut gue titel sebagai rengking satu udah segitu menterengnya, tapi malah nilai gue yg paling rendah yg doi komentarin. 
K E T E R L A L U A N.  
(lagian nilai 7 udah macem dosa besar aja, masi untung nilai gue kagak 4) (grumbles). 

reaksi berikutnya dari diri remajaku yang mudah mellow dan sensitif kala itu, adalah hati seketika luluh lantak. 
tega bener ye bokap… kok ranking 1 ini gak berarti apa-apa buat dia?
kenapa justru yang diliat, dispotlight, dikomenin, justru kekurangan gue, padahal yang paling gue inginkan hanyalah membuat dia BANGGA?
apa susahnya bilang selamet?! 

kejadian yang masih terekam jelas di ingatan ini, terputar kembali saat gue menemukan twit dari @roshennn. doi membeberkan screenshot chat ke bokap dan nyokapnya saat mengabarkan dia lulus dengan GPA sempurna, tapi reaksi dari kedua orangtuanya berbeza sangat bak bumi dan langit.
her mom didn’t even know his grades tapi udah kasih selamat. meanwhile bokapnya? liat sendiri nih hahahaha.


saat gue share ini dengan seorang temen, dia langsung meng-iyabanget-kan kalau kelakuan para bokap (hampir) selalu kayak gitu. at least my dad and her dad and Roshen’s dad are! 
temen gue juga ngerasa sulit banget membuat bokapnya seneng. no matter how many professional accomplishments she’s made. no matter how caring she is to her family.
rasanya kayak nggak pernah cukup! 

it’s a sad feeling. gue tau karena I’ve been there, too.
jadi anak seorang bokap yang boro-boro deh berkata bangga, sikapnya ke gue kalau nggak cuek-cuek sayang, ya mengkritik. kayak urusan ranking satu tadi. 
udah kenyang banget rasanya dikomenin,
kamu sih gini.” “kamu tuh selalu gitu.” yang kontennya mengkritik kekurangan gue. 

well, untungnya, sekarang gue bisa mengenang momen dan rasa nggak-pernah-dianggap-cukup itu tanpa baper. 
in fact, I began to view that experience the way my father did. which maybe a perk of being a parent. 
gue mulai memahami kalau maksud bokap tuh baik. klise banget, ya?
but in all honestly, sekarang sebagai orangtua, gue mengalami gimana yang kita maksudkan dan lakukan bisa  nggak nyambung banget. pengennya mendidik anak supaya mandiri, tapi bisa aja wujudnya dirasakan ‘kejam’ oleh sang anak. contohnya ngelatih anak tidur sendiri, atau nggak langsung beliin apa yang anak minta, dan lain sebagainya. 
mungkin dengan melontarkan komentar seperti itu, bokap pengen gue nggak besar kepala. yang bisa mengakibatkan gue jadi lalai memperbaiki kekurangan, atau malah jadi nggak bisa mempertahankan prestasi. 
gue rasa udah jadi nature orangtua (bapak-bapak in particular) menginginkan anaknya selalu eling dan waspada, karena dunia di luar sana nggak seramah di dalam rumah. (kejauhan nggak, sih, mikirnya? well, you can never be too parno - said a parno mom. hahaha..)

kalau diadu sama teori parenting terkini sih, sikap bokap yang seperti itu pasti akan langsung dianggap big no and so wrong. how could you not be appreciative towards your own children?? how could you make your kids feel invalidated and unworthy of unconditional love?? 
bisa jadi karena it’s the only way they knew how to parent. 

mental health, kayanya itu sesuatu yang sebagian besar dari mereka kurang pahami. 
di era di mana mereka dibesarkan, yang ‘industrial’ banget, manusia dilihat sebagai mesin, yang harus bisa menghasilkan, yang harus bisa ‘berguna’ dengan baik. 
gue ingat cerita bu Lanny waktu ngasih materi childbirth education. fyi, bu Lanny ini bidan senior banget. dia udah membantu ibu-ibu melahirkan lintas generasi. beliau cerita kalau dulu, ibu-ibu melahirkan di ruangan khusus lahiran tanpa ditemani suami atau keluarga. so they struggled all by themselves. suami dan keluarganya menunggu di luar, ngintip lewat jendela kecil saja. itu karena pemahaman tentang manusia pada saat itu baru sampai tahap fisikal. sisi emosionalnya belum diperhitungkan. barulah kemudian pandangan tersebut bergeser hingga melihat manusia secara holistik: body and soul. that’s why di kelas ibu hamil yang gue ikuti, kita diajak mempersiapkan momen kelahiran (siapa yang menemani, cara apa yang bisa membantu menenangkan kita, dll), supaya saat beneran lahiran nanti, fisik dan mental bisa sama-sama disupport. 

benang merah yang gue tangkap ya itu tadi, di jaman bokap nyokap kita dulu, pemahamannya adalah manusia itu (harus) bisa berfungsi, berguna, dengan baik secara "fisikal," atau dalam hal-hal yang kasat mata. 
nampaknya itu yang menjadikan mereka mati-matian mendukung anaknya dari sisi fisik/finansial dan pendidikan. karena mereka ingin anaknya “jadi” atau sukses atau mentas; yang dalam pengertian mereka adalah terjamin sandang, pangan, dan papannya. 
kemudian di usia tuanya, para ortu kita kebingungan, ini anak gue nampak udah punya segalanya, tapi kok masih bolak-balik ke psikolog? hahahhaa. 

I’m not saying yang mereka lakukan itu benar. but I’m sure they did the best they could. dan mereka ngasih segala resource yang mereka punya untuk membesarkan anak-anaknya dengan tulus. mereka pasti menghadapi perjuangan mentalnya sendiri juga saat itu - atau mungkin hingga sekarang. 

my friend said, kita memang harus re-parenting ourselves. 
nggak ada pihak yang ‘salah,’ - tidak diri kita kalau merasa kecewa atas sikap orangtua, tidak juga orangtua kita karena punya pola pikir dan harapannya sendiri, tidak juga ‘hidup’ yang mendesain seperti ini. 
apalah hidup kalau tanpa PR-PR seperti ini? hehehe. 


hope I could do better for you, kiddos