31/10/2014

the BFF

apa yah padanan kata "sahabat" dalam bahasa inggris? best friend gitu kali ya. best friends forever biar lebih terasa nyata kekentalannya, hehe.
bicara soal BFF, selain BFF cewek yang jumlahnya mungkin cuma sebanyak jari di satu tangan, gue juga punya dua orang sahabat yang bergender laki-laki.

yang satu, Pooh Magenta Bear, pernah gue "interview" di sini. kenal dan bersahabat dengan doi sejak 1995! intensitas kita ketemuan emang udah menjarang karena kesibukan ini dan itu, tapi bisa dibilang kita rutin ketemu. entah buat ngopi cantik dadakan, bukber, atau yah, ketika ada occassion tertentu melibatkan temen-temen sekolah kita - but not another funeral, i hope :(. sebenernya bukan hal yang esensial untuk dibahas, tapi Pooh Bear is gay. gue rasa gue orang pertama yang dia kasih tau when he first came out, and it meant a lot. pengaruhnya sekarang sih, gue 'bebas' aja kalau kencan sama dia. nggak ada beban 'moril' terhadap keluarga maupun publik. bahkan sahabat-sahabat cewek gue yang lain juga nggak sungkan cipika-cipiki atau pelukan sama dia. well, orang yang nggak kenal kalo ngeliat mungkin heran atau malah nyinyir, tapi what they think about us is entirely none of our business, cencunya.

anyways, sahabat cowok yang satu lagi, let's just call him Level Seven or L7. why that? well, harus disimak terus ceritanya sebelum sampe ke situ, hahaha.
unlike Pooh Bear (PB), he's straight. i never thought it mattered, sih. well, not until these days, at least. selain itu, dalam 10 tahun ini, kita cuma bertatap muka sebanyak tiga kali. understandable, karena dulu dia kuliah trus menetap di bandung. meskipun dia udah di jakarta sejak 2011, tapi kesibukan dan lain hal (oh so cliche) bikin kita baru ketemuan lagi tahun ini.

suatu hari, L7 whatsapp gue setelah berpuluh-puluh bulan tanpa kabar. gue nggak heran juga, sih, because our friendship is like chicken nuggets. you can put it in a freezer for God knows how long, and then one day you just heat it up and find the nuggets still as good as they're supposed to be.
obrolan di whatsapp seputar "ke mane aje looo" dan sedkit nostalgia akhirnya berujung ke rencana meet and greet or emji, as how we used to call it.
karena ini kedua kalinya gue ketemu sama L7 sejak udah berstatus bini orang - udah 7 tahun pula ganti statusnya - tanpa gue sadari, rencana emji nggak bisa dengan gampang dibikin kaya kalo mau kencan sama PB. kalau sama PB, biasanya waktu dan lokasi emji bisa dengan spontan kita tentuin dan gue tinggal bilang sama adit, "eh, besok aku mau emji sama PB, ya," kali ini gue ngerasa nggak bisa ngelakuin hal yang sama. sepertinya superego gue yang ambil kendali, karena tetiba terlintas di pikiran gue untuk ngasih tau adit dulu rencana buat emji ini.
setelah ngobrol sama adit dan dia nggak keberatan (as i thought he wouldn't be sih), barulah gue iyain rencana emji tersebut dan ngebahas soal lokasi. berhubung mau ketemuannya sabtu dan hari itu adit kuliah seharian, akhirnya kita pilih lokasi deket kampus adit jadi gue bisa sembari nungguin doi kuliah and maybe he could join us pas jam istirahat.

...in short, ribet, yahh ciin! xD
so, this is what it's like, this new... phase. when you're having a best friend from the opposite sex (who is straight) and you're married. :|
meskipun begitu, semua keribetan itu emang necessary sih menurut gue. i mean, i myself wouldn't like it kalo adit emji sama BFF-nya yang pere tanpa ngobrolin dulu sama gue dan gak melibatkan gue.

so, finally emjinya jadi juga, adit bisa join pas lagi break kuliah, and everyone's happy.
sementara emji sama L7-nya sendiri serulah, as expected. highlight kabar dari dia adalah cerita backpacking tripnya keliling eropa selama sebulan dengan biaya under 2000 euro sajaah. emang deh, ketemuan sama temen yang single, dan kehidupannya "beda banget" dari domestic life kita sendiri itu menyegarkan banget. selain buat me time, juga ngasih banyaakk perspektif yang fresh dan bikin semangat.
God we're old!
kali ini, untuk memperingati pertemuan ke-tiga kita dalam sepuluh tahun ini, gue jadi kepikiran buat bikin interview ala Rookie's "friend crush" kaya sama Pooh Bear kemarin (meskipun yang kemarin itu imajiner sih, just to proof that i know PB like the back of my hand, haha).

but first, let's start with who L7 is and why he's called L7.

* pertama kali melihat wujudnya waktu MOS/ospek SMA, kebetulan kita sekelas. trus senior yang jadi pendamping kelas nyuruh milih ketua kelas dengan ngajuin beberapa anak sebagai kandidat. anak-anak yang disuruh jadi kandidat ini, entah apa kriterianya, random aja gue rasa, salah satunya L7. mereka masing-masing disuruh memperkenalkan diri dan pas giliran L7, dia maju dan nyebutin namanya dan tempat tinggalnya dengan gaya belagu (first impression lasts forever).
pas MOS udah selesai, ndilalah dia duduk di depan gue dan Reipura - temen semeja gue. and that's when everything started. L7 is a typical class clown. a pied piper yang bisa menarik perhatian semua orang dengan kelakuannya yang... ajaib. kerjaannya ngobroooool melulu sama gue dan Reipura, dan dari ngobrol itu muncullah kelakuan yang aneh-aneh. ngejailin temenlah, ngerjain gurulah (bikin karikatur muka guru was his expertise), bikin ribut, ngakak pas guru ngajar, nyanyi-nyanyi gak jelas, bolos... hahaha.
i remember we used to talk for hours on the phone. heck, i even still remember his home phone number clearly. well, it's either i called him or he called me. but as strange as it may sound, our intimacy never got too "intimate." we talked and talked as though we had been girlfriends. just rambling and talking about everything, and stopped when we're too tired. pas udah kuliah, we still talk to each other regularly. either talking or texting. and yes i can still recall his mobile phone numbers as well.

one other thing about L7 adalah kerap kali bermunculan ide-ide 'segar' dari otaknya.
suatu hari, L7 punya ide "we should form a band!" dan jadilah sebuah band, haha. gue yang waktu itu cuma bisa gonjrang-gonjreng gitaran, diracunin sedemikian rupa sama dia sampe mau belajar main bass. it was my first interaction with the instrument, my first band ever, and he was my first so-called music teacher ever hahaha.
in fact, salah satu kenangan terindah masa remaja (wow seperti judul cerpen majalah anita) gue adalah ngider-ngider sama anak-anak band ini; gue, Reipura, L7, Poer, Pane, Atto, disetiri Poer yang baru lulus les nyetir buat ngeband di kawasan serpong hahaha.

back to L7, ide 'segar' lain dari dia adalah suatu hari dia bikin konsep "level pertemanan." i was rolling my eyes when he first told me about this. jadi, dia bikin level 1 sampe 8 buat mengkategorikan temen-temennya. level 8 dia sebut "platinum." -__-
meskipun begitu, gue langsung seketika merasa spesial sih, begitu dia bilang gue salah satu dari dua temen yang masuk ke level 7 hahahaha... senengnya macam dapet diskon khusus kalo belanja di galeries lafayette atau fasilitas VVIP lounge di bandara aja. anyways, dari sinilah nickname (khusus untuk tulisan ini saja) L7 gue bikin buat dia.

 "eviden" music lesson provided by him, dated way back to 1998

well, anyway, dimulai aja deh wawancara-(kali ini bukan khayal)nya!

***********************************************************

his answers.

How did Riska get into level 7? What makes her deserve that?
L7: 7th level is like highest most honored level on The History of Friendship.. you can't get any higher than that.. unless the 5 stars platinum 7th level. You got to ... earn it! By 'earn' i mean... earning points.. so start collecting your points! hahahaha..
Her qualification includes:
Get at least 86% of my published jokes (320 pts), also understand her jokes (110 pts), make me comfortable and can be 'my self' as much and as long I want! (890 pts), always knows that I know what she knows I know (660 pts), speak and understand English (123 pts), open minded (882 pts), understand.. me (1220 pts), have visited her house and know her family (115 pts), do and love crazy things, stuffs that normal people would never do (771 pts), know me and stay being (close) friends for at least 112 months (930 pts). btw, to get platinum you have to add 5 stars, you can claim your stars every 22 months after.

Why formed a band? Did you see any musical potential from her or the other friends that ultimately became the band members?
L7: I formed a band with her because.. she seemed fun to hang around with.. and maybe fun to work some music as well.. and of course, she likes music.. well.. who doesn't. :D

So far, you guys have proven that yes, straight man and woman can be friends with no "When Harry Met Sally" situation involved. Why do you think that's possible? 
L7: Laughing harder than a professional cereal cutter! Hahahahahaha....
Ok... how... how.... well... i think ... some people are just meant to be friends... with no benefits.

all hail Nora Ephron. btw, kisah ini terinspirasi dari kisah nyata persahabatan doi sama pria-pria, loh, antara lain Robert Reiner and Billy Crystal himself


And what makes your friendship lasts this long?
L7: Read answer for the first question.

How much has she changed since 1998?
L7: A LOT! Firstly.. she got married and having a baby, and started to wear veil.. i mean.. I'd never expect her to wear one... no offense but it is true. 
Humm... she laughs less, and started to use her brain capability to think before she say or do anything.. hahahaha... yes, she never done it back-day in high school.. hahahaha.

And how much have you changed? Is there anything new or different about you that she doesn't know yet?
L7: Me? hmmm... I hate 'current-me', I miss the 'old-me'... a couple days ago, she sent me images of papers that apparently were our Band Application form, i totally forgot I wrote that 'sheep'!
But that ain't the point, the content of the application is. The current-me would never answer those questions... like that.. current me would do it a lot more.. normally!
And I still knew how to hand-write lower case letters. Nowadays, I only write uppers!

What should I ask her when I talk to her?
L7: "Risk... why did you do that?" (She'll know what I mean) hahahaha. And how cool does it take to be called 'cool man'? Btw, can you please please please give me a copy of "KHARISMA"!!!

***********************************************************
my answer.

What drew you to L7 when you first met him?
R: awalnya gue kira dia nerd dengan kebanggaan berlebih pada kawasan BSD. tapi setelah Reipura suka ngajak dia ngobrol, dan lalu gue juga mau nggak mau terlibat ngobrol, akhirnya jadi tau kalo 'ni anak otaknya emang "gak biasa" (i'm trying to be nice here). tapi mungkin memang gue selalu tertarik sama orang-orang yang gak biasa karena apa yang gue pikirin juga seringnya "gak biasa." bukannya pengen terkesan anti-mainstream, besides, being not-so-normal was not so cool in the 90's. tapi emang gue cuma bisa tertarik dan nyambung sama mereka yang "bikin hidup lebih HIDUP" *i put a popular tagline from the 90's for the sake of the era*

You guys were in a band together? What was that about?
R: well, yeah... itu band yang proses nyari namanya lebih lama dibanding kesempatan manggungnya. time record for the latter is zero, btw.
even though our band kinda sucked, but the friendship was heartwarming. to me it was. gue inget banget momen latihan di rumah Poer; waktu itu ujan but i felt so warm inside because i was amongst things i loved the most: my dear friends and the music.

Did he play an important part in your adolescence years?
R: I think he surely did. dia ngenalin gue sama bermusik, not just listening to music. dan somehow it makes me appreciate music more, karena range musik yang didengar juga berkembang akibat dia ngenalin gue pada jimsaku dan incognito. dan gara-gara dia juga, kehidupan masa SMA gue jadi lebih berwarna. yang tadinya gak berani bolos jadi biasa. 
yang tadinya nggak kenal serpong jadi berani ngangkot untuk nyari rumahnya di BSD. 
ngobrol sama dia juga menghibur dan menyehatkan. karena sama dia, gue bisa jadi diri sendiri. selain itu, ocehan dan gaya bercerita dia juga selalu bisa bikin gue ngakak. 

oh look at us.. finally could strike a socially-acceptable pose 

What do you think makes your friendship last this long?
R: Because
1) we never hooked up,
2) we're the same type of people. gue baru menyadari ini setelah ketemu dia lagi tahun ini. we're drawn together because secara garis besar, we think alike. mungkin dia melanglang buana ke eropa sementara i'm so domesticated i feel too tired to travel. atau mungkin dia single (and desperate? hahaha) sementara gue settling in a 7-year marriage and become a mother. tapi, all in all, how we think, how we perceive things, what we like, what we laugh about, semuanya SETIPE. yak, bukan sama, tapi setipe. and just because i like odd numbers, there should be a
3) because we want this friendship to last. geer yah, gue? but i do believe so. no matter who he dates, or what 'strange' hobby he's into, he would always 'show up' at my 'door' and take me to an emji someplace. 

Is there any trivia regarding your friendship?
R: well...
  • Gue punya 2 best friend cowok; him and Pooh Bear. dan anehnya, they share the same birthday. exactly same day, month, and year. both of them are also passionate, smart, dan "gak biasa."
  • Songs that remind me of him: any Jimsaku songs, "Dia"-nya Reza, "Torn"-nya Natalie Imbruglia, "I Don't Wanna Miss a Thing," "Tak Ingin"-nya Wong, and "I Want to Hold Your Hand." yep, every single song P24/Splash band (that was the best name we could come up with) had ever rehearsed. 
  • The following is to answer his questions; Kharisma itu nama majalah sekolah yang pernah kita godok bersama-sama. Too bad gue nggak simpen copynya, ey. And "Cooool Man" was the line i and Reipura used to catcall a friend called Bicler. He was well-built like a binaragawan... and damn he was soooo "cool" with that sterek body hahaha. And lastly, to answer his obscure question: i did THAT because i WAS me haha....
***********************************************************

so, i guess in this universe, when Harry met Sally, he can become her friend for the next 18 years and stick together "just because" they find comfort in their friendship.

oh, and guess what? i think it's randomly coincidental, but adit and i put the iconic line from "When Harry Met Sally" on our wedding card invitation. it goes like this:


...i hope he too would find his "Sally," as soon as possible :)

24/10/2014

no guts no glory

Jadi Mandiri, Siapa Berani?

by:  - Tuesday, October 21st, 2014 at 7:00 am
 
  •  
  •  
Pernah nggak, sih, Mommies terhenyak setelah melihat angka cicilan rumah? Saya pernah! Setiap kali me-review cashflow, saya mengkhayal, kapan, yaa, cicilan rumah bisa lunas? Pasti akan indah dan sentosa rasanya, hihihi. Memang, sih, mencicil rumah itu tanggung jawab yang kadang terasa menyesakkan dada. Tapi, tentunya saya tetap perlu mensyukuri, bahwa meski masih dicicil, kami punya tempat untuk disebut rumah.
Kalau saya kenang kembali perjalanan kami mencari rumah, memang, ada kesan ‘maksa’ saat membeli rumah sendiri. Untuk rumah pertama, uang mukanya saja kami pinjam dari orangtua. Cicilan rumah juga menempati porsi yang besar dalam cashflow kami. Tapi, sebenarnya ‘maksa’ itu bukan untuk gaya-gayaan, dan bukan karena ikut-ikutan orang lain. Semangat yang membara untuk punya rumah sendiri itu dikobarkan oleh sejarah “pertempattinggalan” saya dan suami.
DreamHomeDulu, ketika sedang menyiapkan pernikahan, ibu bilang pada saya dan suami, “Nanti kalian tinggal di rumah mama ajayang di X (deket rumah ibu). Nggak usah pusing. Kalian boleh, kok, pakai rumah itu… Tapi minjem, yaaa. Tiga sampai lima tahunlah. Nanti kalau adikmu mau nikah, kalian harus siap-siap gantian.”
Kesannya ibu saya tega sekali, yah? Tapi saat didengar langsung, perkataannya itu tidak membuat kami kaget atau kecewa. Suami, being the good son-in-law that he is, serta-merta menjawab, “Iya, mah.” Sementara reaksi saya, “Iyalaaah, siapa juga yang mau tinggal di situ lama-lama…” Hahaha.
Syukurlah, setelah hampir dua tahun menikah, kami bisa juga punya tempat tinggal sendiri. Sebenarnya, sih, rumah bekas, kecil, dicicil pula, but it’s our very own place. :) Pengalamanngebet punya rumah sendiri (dan kisah sedih membayar cicilannya) membuat saya memikirkan kembali tindakan ibu saya waktu itu. I think she totally deserves a credit. Beliau memfasilitasi kenyamanan kami, tapi juga mengajarkan kami untuk tetap mandiri. Yang beliau lakukan menimbulkan efek tumbuhnya harga diri dan kepercayaan diri pada kami, sehingga kami punya target untuk memiliki rumah. Dan mungkin cara paling bermanfaat untuk mewujudkan rasa terima kasih itu adalah dengan meneruskan ajaran tentang kemandirian kepada anak kami.
Saat orangtua ditanya apa keinginannya buat anak, “mandiri” pasti menjadi salah satu atribut karakter yang disertakan, bukan? Kemandirian seperti apa yang dimaksud?
Kemandirian bisa dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:
1. Mental Independence
Ini terkait dengan kemampuan untuk berpikir sendiri, terlepas dari apa yang dipikirkan dan dikatakan orang lain. Gamblangnya, sih, nggak gampang ikut-ikutan, gitu. Kemandirian mental ini dicapai dengan menimbang fakta dan perasaan dengan sejujur-jujurnya terhadap sebuah isu untuk membentuk opini yang independen.
2. Behavioral Independence
Kemandirian dalam bersikap tumbuh dari kemandirian mental. Karena hanya setelah kita dapat berpikir secara mandiri, kita bisa membuat pilihan-pilihan yang mandiri dalam hidup. Apa saja pilihan itu? Mulai dari memilih film apa yang mau ditonton, sampai apa pekerjaan yang kita pilih.
3. Survival-based Independence
Inti dari kemandirian adalah memperoleh wawasan dan perangkat untuk bisa bertahan hidup dengan baik, yang meliputi:
  • Financial independence – Mampu menghasilkan uang sendiri dan memenuhi kebutuhan hidup.
  • Safety-related independence – Mampu menjaga keselamatan diri dan bagaimana cara menangani situasi berbahaya.
  • Self-care-related independence – Mampu menjaga kesehatan dan kebugaran, baik secara fisik maupun mental dan emosional.
Dari paparan di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa menanamkan karakter mandiri perlu menjadi pondasi agar anak mampu berperilaku mandiri, untuk akhirnya mampu bertahan hidup dan bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.
Lalu, apa, sih, manfaat yang diperoleh anak-anak jika kita menanamkan karakter mandiri pada mereka?
*Gambar dari sini
  • Anak belajar dari pengalamannya sendiri.
Ketika anak melakukan sesuatu sendiri, mereka belajar melalui trial and error. Kemandirian juga mengajarkan kedisiplinan pada anak. Mungkin kita suka mendengar ada orangtua yang (kebanyakan, sih, sudah senior) bilang, “Biarin aja! Biar dia tahu risikonya.” Mungkin terkesan tega, tapi, jika anak melakukan kesalahan dan menghadapi konsekuensinya, anak belajar bahwa ada konsekuensi dari setiap tindakan. Dengan demikian, anak-anak menjadi terbiasa berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu.
  • Kemandirian meningkatkan rasa percaya diri.
Mandiri dan kepercayaan diri berkaitan erat; untuk membesarkan anak yang percaya diri, kita perlu membuatnya mandiri. Gampang saja kok, caranya, yaitu dengan mengajak anak melakukan hal-hal kecil yang berkaitan dengan keterampilan hidup, seperti membersihkan lingkungan, menyiapkan makanan, mengurus dirinya sendiri, atau sesimpel makan sendiri. Anak-anak merasakan harga dirinya meningkat saat mereka berhasil melakukan sesuatu sendiri. Samalah seperti kita kalau berhasil menaklukkan sebuah tantangan, pasti akan muncul perasaan menang dan bangga, ‘kan? Jika anak-anak menjadi lebih percaya diri menghadapi tantangan, nantinya mereka akan lebih siap menghadapi tantangan-tantangan di kehidupan nyata.
  • Kemandirian melatih anak menghadapi kegagalan.
Melatih anak menghadapi rasa kecewa atau stres saat gagal mencapai sesuatu akan lebih mudah jika anak memiliki kesempatan menjadi mandiri. Cepat atau lambat, anak akan belajar untuk tidak berlarut-larut dalam kekecewaan atau perasaan negatif lainnya.
  • Kemandirian memberikan kesempatan pada anak untuk memilih kebahagiaan mereka.
Anak-anak perlu berlatih memilih. Untuk mengembangkan kedewasaan emosional, mereka perlu belajar mengambil keputusan sendiri. Pada usia dini, pilihan bagi anak dapat kita tentukan dan batasi, misalnya memilih menu untuk makan malam, atau memilih aktivitas sepulang sekolah. Dengan memperkenalkan mereka pada pilihan, anak-anak belajar melatih kebebasannya untuk memilih. Dengan demikian, mereka sekaligus belajar bahwa they can’t have it all. Yang mereka miliki hanyalah kebebasan untuk menentukan pilihan.
Kembali lagi ke soal visi orangtua terhadap anak di mana kemandirian selalu menjadi salah satu poin karakter yang perlu dimiliki anak, lantas bagaimana cara melatih anak untuk mandiri?

- Hindari melakukan hal-hal untuk anak yang bisa dia lakukan sendiri.Berikan waktu ekstra supaya anak bisa melakukan sesuatu sendiri, misalnya saat memakai baju, memakai dan melepas sepatu, makan, dan lain-lain. Juga, jangan menjawabkan jika anak ditanya. Biarkan ia berpikir dan menyusun jawabannya sendiri.
- Tunjukkan dukungan saat anak berusaha mengerjakan sesuatu sendiri. Misalnya dengan mendukung anak untuk mencoba melakukan hal-hal yang belum pernah dicobanya. Jangan menyela saat mereka sedang melakukan sesuatu. Jika mereka terlihat kesusahan dan meminta bantuan, barulah bantu mereka menyelesaikan pekerjaannya. Saat berjalan, biarkan anak berjalan sendiri kapanpun ia bisa daripada menggendongnya. Jangan lupa untuk memberikan respon atau komentar saat anak berhasil melakukan sesuatu sendiri, seperti, “Wah, kamu sudah bisa, ya.”
Kita juga bisa membantu menyesuaikan penempatan dan kondisi rumah agar dapat mendukung anak menjadi mandiri, namun tetap aman. Misalnya dengan membuat rak dan laci sesuai tinggi mereka sehingga mereka bisa menaruh mainan, buku, atau baju sendiri. Makanan dan minuman juga dapat ditaruh dalam kotak-kotak plastik kecil sehingga mereka bisa mengambilnya sendiri. Tapi, jangan mengharapkan kesempurnaan dari yang dilakukan anak, ya, Mommies. A little mess here and there is to be expected. :)
- Berikan anak tanggung jawab. Menanamkan tanggung jawab kepada anak juga berarti mengajarkan life skills. Tugas-tugas rumah tangga yang sesuai dengan usia anak dapat menjadi cara yang mudah untuk mengajarkan tanggung jawab.
*Gambar dari sini
- Berikan pilihan kepada anak dan biarkan dia membuat keputusan. Kita dapat membantu anak membuat keputusan sesuai dengan usianya, misalnya dengan membatasi pilihan, atau mengajaknya memikirkan kemungkinan-kemungkinan, pro-kontra, dan memberikan feedback. Jika anak mengalami situasi sulit, alih-alih mendikte anak harus melakukan A, B, C, bimbing mereka dalam proses berpikir dan menyimpulkan sendiri. Buat pertanyaan-pertanyaan untuk mendorongnya berpikir.
- Bangun peraturan-peraturan yang jelas dan fair dalam keluarga. Peraturan membantu kita untuk lebih konsisten meperlakukan anak. Seperti pernah saya bahas dalam artikel“Branding untuk Keluarga,” aturan juga membantu anak memahami batasan dan tingkah laku seperti apa yang diharapkan darinya, serta apa prinsip (values) di balik aturan itu.
- Terakhir, jadilah role model dengan mencontohkan kemandirian. Our children are mirror images of ourselves. Jadilah ‘iklan berjalan’ dari nilai-nilai kemandirian yang kita ajarkan pada mereka, baik itu kemandirian mental, tingkah laku, maupun ehem, finansial.
Hmm, sepertinya lebih baik mulai sekarang saya nggak lagi merisaukan perihal cicilan rumah, ya. Justru harusnya saya ceritakan pada anak kalau ia sudah mengerti, bahwa meski kecil dan dicicil, rumah ini berdiri di atas nilai-nilai kemandirian (dan mungkin juga kenekatan, sih, hehehe).
Kesimpulannya, meski kadang sulit dan berat dijalani, kemandirian punya banyak manfaat dalam pengembangan karakter, terutama on the long run. Jadi, Mommies, yuk, mulai ajak anak kita mandiri.
“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka ria karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri.” – Nyai Ontosoroh, “Bumi Manusia.”
Sumber dan referensi:

20/10/2014

angry birds anonymous

saat masih dalam proses mencari-cari sekolah baru, kita mampir ke sebuah sekolah yang ngasih fasilitas trial. kalau dibandingkan sekolah-sekolah lain yang bisa ngasih free trial, sekolah ini emang berbeda, karena trialnya bayar hehe. bukan cuma bayar, waktu trialnya juga cuma 60-75 menit, nggak seharian seperti sekolah lain yang pernah gue survei. berhubung waktu itu gue dan adit udah penasaran banget sama metode yang diterapin di sekolah ini, jadi segera kita daftarin bumy buat trial keesekokan harinya.
setelah trial, kedua orangtua perlu mendengar langsung hasil observasi terhadap kemampuan dan perkembangan anak. iyah, dua-duanya. berhubung saat visit pertama kali ke sekolah tsb adit udah ambil cuti, terpaksa deh jadwal penyampaian hasil observasinya diatur pas jam break kantor.

waktu bumy ikut trial, berhubung sekolahnya pakai metode montessori, jadi dia dibebasin untuk belajar apa aja, ngambil apa aja, atau mainin apa aja.
kelar trial, sekitar satu jam kemudian, dipanggil deh kita buat tau hasil observasi vice principal sekolahnya terhadap bumy. hasilnya gini:
- kemampuan bumy secara overall oke; kayak motorik, kognitif, sosial gitu. oiya, sebelumnya sori yah gue nggak paham soal teori psikologi, jadi nggak hafal maupun tau secara mendalam faktor-faktor apa aja yang diobservasi ini. yang gue inget, VP-nya nyebutin soal bumy nggak keberatan atau rewel dilepas ke lingkungan baru, trus perencanaan motoriknya, serta logika bagus. bumy juga langsung making friends (not a surprise to us, at all. anak ini berjiwa sosialitah bangettt).

- but! enough about the good stuff (meskipun lega juga sih dengernya), miss VP sekarang masuk ke hal-hal apa aja yang perlu dikembangin dari bumy. mulai deh gue dan adit deg-degan!

1. soal konsentrasi.
konsentrasi bumy jelek! hahaha, miss VP tentunya gak serta-merta ngomong beginilaah. pertama-tama dia bertanya, "kalo boleh tau, apa bumy suka main game? nonton tv? trus kira-kira nonton tvnya berapa lama?" gue jawab dengan polos, dong. "iya, miss, biasanya main game saya kasih jatah waktu 20 menit setiap hari, kalo nonton tv, 3 jam." dan miss VP serta-merta terhenyak xD
"wah, bu, lama juga, ya sampai 3 jam," komentarnya. (pembelaan diri: padahal 3 jam itu 1,5 jam siang, 1,5 jam maleeem. ya kalii bakal ngaruh gitu, jadi gue gak nampak sebagai ibu yang buruk-buruk amat kekekek).
sebelum bercerita lebih lanjut, trial ini dilakukan pasca bumy dirawat selama seminggu di RS gara-gara demam berdarah dengue. selama di RS, seperti bisa ditebak, jatah waktu main game dan nonton tv-nya jadi ngaco, alias hampir gak dibatasi sama sekaliii *tertunduk malu* gue tauuu seharusnya gue bisa menciptakan seribu satu kegiatan lain yang nggak melibatkan tv atau gadget sama sekali. tapi saat di RS, yah bukan alasan yang bener memang, rasanya gue udah ke-drain banget secara fisik dan mental. jadi boro-boro mikirin aktivitas, bolak-balik nyuci pispot aja bisa 20 kali dalam 12 jam, jadi ya milih yang gampang aja: nyodorin anak tv dan gadget. it's perfecly my own fault... so, sue me!
(apaan sih nih jadi drama sendiri, balik ke soal anak.)

anyways, miss VP bilang, kalo anak-anak di bawah usia 6 tahun sebaiknya gak nonton tv dan main gadget sama sekali. kalaupun iya, maksimal waktunya 30 menit (untuk nonton tv) dan with guidance. kenapa begitu? soalnya anak-anak usia segini tuh belum bisa membedakan fantasi dengan realitas. dia bilang, "tadi ketika bumy menggambar, kalau anak-anak lain biasanya menggambar sesuatu yang riil, yang mereka lihat sehari-hari seperti awan, pohon, rumah, dsb; bumy menggambarnya angry birds."
fact: game favoritnya saat itu memang angry birds semata....

nah, efeknya ke bumy adalah tingkat konsentrasinya jadi rendah banget. saat mengerjakan sesuatu, dia gak bisa berlama-lama tekun mengerjakan. seharusnya, lama konsentrasi anak itu minimal usianya dikali 2. kayak bumy, harusnya dia berkonsentrasi mengerjakan sesuatu selama minimal 4 x 2 = 8 menit. tapi tadi, kata miss VP, belum ada 2 menit aja dia langsung bosen T__T huhuhu. gak hanya itu, eye contactnya juga kurang. yang paling 'serem' buat gue adalah saat miss VP bilang, "memang, usia saat ini di bawah 6 tahun adalah golden age anak karena otak anak dapat menyerap begitu banyak ilmu. tapi, untuk bisa menyerap informasi dan mempelajari apapun itu, anak harus bisa berkonsentrasi. kalau konsentrasinya rendah, ya percuma, gak akan ada ilmu yang bisa diserap." oh mamahh.
tapiii, sesudahnya, miss VP ngasih saran-saran perbaikan. selain durasi tv dan gadget kalo bisa dihilangin sama sekali, ada tips lain kayak:
  • banyak-banyak ajak bumy engage dengan aktivitas sehari-hari, mulai dari menyiapkan barang-barangnya sendiri, nyiram tanaman, nyuci piring, siapin makanan, beberes.
  • sediakan corner kesibukan untuk berkreasi dengan gunting, pensil warna, dan sejenisnya.
  • kenalkan dengan cerita-cerita yang nyata, karena ya tadi, anak belum bisa membedakan fantasi dengan realitas. misalnya ada 'kan tuh anak yang niru spiderman dengan manjat-manjat dan thinking he's a superhero, padahal dia belom ngerti konsekuensinya bisa jatuh. itu karena otak anak belum ter-develop untuk mengenali mana yang bukan-kenyataan. sementara kalo anak dibiarin nonton tv terus-terusan, tanpa guidance pula, ya dia kenalnya sama jajaran superhero atau hewan fantasi dan semacamnya itu, yang dia pikir bisa dia tiru segala tingkah-polahnya.
duly noted, miss!

- satu kekurangan lagi adalah respon terhadap stimulasi taktil. taktil tuh kalo nggak salah berkaitan dengan indera peraba. jadi, bumy "dites" dengan dikasih dua kantong yang berisi benda dengan berbagai bentuk dan tekstur. dia disuruh ambil satu item dari kantong pertama, lalu diminta ambil item yang sama dari kantong kedua, tentunya tanpa bisa melihat bendanya dan cuma mengandalkan indera peraba. nah, menurut miss VP, bumy agak kesulitan melakukan ini.
saran perbaikan yang diberikan antara lain bumy perlu dikenalkan dengan macam-macam bentuk untuk perbandingan. lalu juga diajak meniru gerakan, atau melakukan memory game.

miss VP juga ngasih beberapa saran perbaikan lain yang sifatnya nggak 'mendesak' tapi penting, kayak
- pengenalan huruf dan angka. karena metode montessori emang udah mengenalkan konsep huruf dan angka sejak anak-anak di level usia 3 tahun yah, jadi ini wajar menurut gue if we would want to sign up for this method. caranya bisa dengan membentuk huruf menggunakan media amplas, atau pasir, atau melalui gerakan tubuh.

- membuat rutinitas dengan jadwal harian bergambar. seperti kita tau, rutinitas itu kan penting banget buat anak yah, jadi miss VP ngasih ide bikin jadwal harian yang jelas dan juga menarik untuk mengenalkan anak pada rutinitas.

well, akhirnya sejak saat itu, gue bener-bener nge-cut asupan tv dan gadget bumy, hehehe. ngerii kalo bayangin dampaknya, dan saat inipun udah ada dampak yang nyata 'kan *sedih lagi kalo inget*
bumy sendiri jadi kayak orang sakaw, minta angry birdssss melulu. bolak-balik bilang, "ma, bumy kangen angry birds, nih." sampe oma dan tetanya nggak tega. tapi yang gue salut, anak ini nggak maksa sama sekali, loh. nggak pake drama atau ngambek-ngambek juga. i take it he GETS that what we're doing is important and good for him. emang sih, kalo dipikir-pikir, anak kecil mana ngerti siih, lha rumusnya aja masih enak dan gak enak. itu dia, gue juga kagum bumy bisa menerima dan ngontrol rasa sakaw dia akan tv dan gadget.
akhirnya, setelah 4 minggu, kemarin dia berucap ke gue dan adit, "sekarang bumy udah nggak suka sama angry birds. bumy sekarang sukanya mobil."
ternyata emang kalo diperhatiin dari gambar-gambarnya yang biasanya bentuk angry birds berbagai ukuran, sekarang mulai bergeser ke mobil, rumah, jalan, temen-temennya, dan sebagainya... yang riil-riil :')

sementara soal tv, dari yang tadinya bisa nonton tiap sore atau malam selama ya tadi itu, 3 jam, sekarang cuma dapet jatah seminggu sekali, selama 30 menit, dengan supervisi xD gue juga nggak ngasih nonton tv sebagai reward, ya sesuai jadwal aja tiap minggu dia dapet jatah nonton tv 30 menit.
penerapannya sendiri kalo di rumah sih bisa kekontrol. tapi kalo di rumah oma, meskipun gue udah briefing oma opa akan "kebutuhan" bumy untuk gak nonton tv, tapi pelaksanaannya gak gue bawa sutris juga. kalo emang yang tinggal di rumah itu lagi pengen nonton tv, ya silakan aja. palingan bumy gue bawa ke ruangan lain. tapi so far sih, alhamdulillah oma opa cukup kooperatif dan bumy juga jadi kurang tertarik melongo di depan tv. dia kayak bisa nge-distract dirinya sendiri dengan latihan piano sendiri, main mobil-mobilan, atau minta kertas dan pensil buat ngegambar. bangga banget dah guaaa xD thanks for making it easy ya naaakkk. <3

17/10/2014

current favorite things


- Hada Labo Ultimate Moisturizing Cleansing Oil & Foaming Facial Wash
suki banget sama performansi duet produk ini buat ngebersihin wajah. berhubung gue sekarang mencoba menerapkan double cleansing religiously, dua item ini bisa perfectly suit my need. sebelumnya, untuk untuk langkah pertama double cleansing atau membersihkan wajah dari makeup, gue pernah coba pakai wardah makeup cleanser (yang oke juga buat ngebersihin makeup di wajah), virgin coconut oil (setelah muka dipijet pakai ini lalu di-wipe pakai kapas, langsung jadi bersih cerah), dan wardah olive oil. tapi so far, hasil dari kombinasi dua produk ini ngasih hasil yang paling gue suka. muka bersih (setelah pakai duo produk hada labo ini, gue pakai exfoliating toner yang di-wipe ke wajah pakai kapas, keliatan nggak ada sisa kotoran lagi di kapas), tapi nggak kering karena ada fungsi moisturizingnya.


ini sebenernya gambar facial wash dan lotionnya sih hihi..
 
sebelumnya gue nggak suka pakai foaming facial washnya karena terlalu melembapkan di wajah. tapi setelah rutin pakai exfoliating toner (Paula's Choice Skin Perfecting 2% BHA Liquid Exfoliant), trus Sulwhasoo First Care Activating Serum buat pre-essence dan Secret Key Dragon Blood Essence yang sama-sama mengurangi keberminyakan di wajah, fungsi moisturizing duo produk ini jadi bikin balanced. muka gue nggak lagi terasa ketarik dan kering.
pics from Paula's Choice website and here.

- Sulwhasoo First Care Activating Serum
lovvve it. manfaatnya banyak banget, pernah direview FD di sini. buat gue, karena teksturnya ringan, jadi cocok buat kulit yang berminyak. efek yang timbul di gue adalah muka jadi lebih cerah, trus kulit gue yang tadinya parah banget kondisi "kulit jeruk"nya, pelan-pelan mulai membaik. jerawat juga jadi lebih cepet kering pake ini.

- Hera CC Cream #02
sukak! sebelumnya emang karena denger banyak review positif dari CC cream ini gue tertarik nyoba. poin paling penting buat gue adalah bisa ngurangin minyak di muka, dan terbukti setelah gue pake. gue pake ini buat sehari-hari karena teksturnya ringan, coveragenya juga lumayan. karena emang teksturnya lebih ringan dari BB cream, coveragenya juga nggak setebal BB cream.

- enough about skincare and makeup. the next one is a bit random. these last couple of days, i've been obssessing over making french braids. hahaha. random abisss. gara-gara Ira suka taro foto-foto kreasi kepangan rambut di IG, gue jadi pengen tau cara bikin french braids. jaman gue kecil dulu, yang gue tau model kepangan begitu disebutnya "dijalin" haha, tau deh bener apa nggak ingatan gue. berhubung rambut sekarang udah menggondrong, dan bosen aja dikuncir kuda melulu, kalo iseng ya gue kepang-kepang xD naah, akhirnya bisa juga bikin french braids yang bener setelah nonton video tutorialnya di youtube dan practice practice practice!

- belanja di FO, hahahah.... suatu ketika gue chatting sama temen from hometown karawaci, ngebahas "beli baju anak yang bagus tapi gak mahal di mane yaa." temen gue yang anaknya 2 tahun lebih tua dan sehari-harinya kerja lewatin serpong langsung nyamber, "di FO, Chom! di BSD, serpong, banyak banget FO yang bagus-bagus." btw, iya, BSD dan serpong disebut sebagai dua entitas terpisah, hehe.
tapii, bertahun-tahun bolak-balik serpong, BSD, kok gue belom pernah notice ada FO? dengan arahan si temen, akhirnya gue temuin juga FO Parade di BSD,sama satu lagi di deket Alam Sutera yang gue lupa namanya. ada banyaakkk baju anak-anak, trendi-trendi pula modelnya, haha. ada beberapa yang emang mahal sih, karena "branded," tapi tetep aja jauuuh lebih murah dari harga counter. baju orang dewasa juga bagus-bagus, tapi buat cowok. kalo yang buat cewek, nggak ada yang bikin gue selera, sih. mendingan beli cotton ink atau ke goods dept gituh #bukanhipster #cumasupportmereklokal :P
tapiii, anggapan itu berubah saat gue diajak si debi ke sebuah FO baru di serpong. nama FO-nya POS. entah itu singkatan atau satu kata. begitu liat koleksi baju-baju ceweknya, kok bagus-bagus?? walhasil belanja deh gue. mana kemarin lagi ada promo apa gitu, jadi tiap pembelian 500 rb dapet voucher 100rb. okeh banget 'kaan.

- bisa nongkrong di kantor FD selama nungguin Bumy sekolah. well, sebenernya di situ DAN konter McD kemang, sih xD
alhamdulillaah, gue diijinin sama Hani dkk buat 'ngantor' di situ sambil nungguin Bumy. ide buat mencari tempat nunggu yang bikin produktif (bukannya konsumtif xD) tiba-tiba terlintas justru pas Bumy udah kita daftarin di sekolah baru. kepikiran karena meskipun durasi sekolahnya cukup lama, tapi jauh juga kalo gue bolak-balik ke rumah. akhirnya gue beranikan diri deh nanya ke Hani hehehe... dan yaayyy seneng banget pas diijinin! rasanya kaya balik lagi ke rutinitas ngantor, meski cuma ala-ala hahaha.
so far, kesan yang gue dapatkan adalah... suasananya beda banget sama kantor gue dulu! iyalah, namapun media, online pula. suasananya 'santai', seger, dan bikin kepengen lebih banyak tau tentang macem-macem.

- another one on this current favorite things list is that now i'm hooked on montessori method. dulu saat pertama kali baca dan kenal juga udah terpikat. tapi kebetulan sekarang "interaksi" gue sama metode ini jadi lebih besar karena sekolah bumy sekarang full montessori. apa dan gimana yang bikin makin terpikat, maybe on another different post.

07/10/2014

keep moving forward

kalau gue tengok sekilas, selama bulan september, gue banyak disodorin hal-hal baru, deh. bukan cuma pemahaman dan cara berpikir yang dibukakan terhadap kemungkinan-kemungkinan baru kaya soal sekolah, tapi ngalamin beberapa hal baru juga. jadinya "seimbang," sih, karena ada yang bikin excited, tapi ada juga yang bikin sutris.

- ikutan workshop clean eating
menemukan info soal workshop kecil-kecilan ini lewat retweet-an seseorang yang gue follow di twitter. sebenernya gue nggak health-freak banget, sih, olahraga aja udah makin jarang. ngejus juga udah nggak pernah lagi hoahoa. tapi gue pengen juga, sih, ngubah gaya hidup terutama terkait dengan apa yang dimasukin ke perut. acara ini diadain sama Dynna, yang ternyata inspiring juga kiprahnya terkait clean eating: memulai healthy eating habit, trus kepikiran untuk "ngeracunin" orang-orang dengan metode clean eating, sampai weight loss story-nya, semua bisa diintip lewat akun instagramnya @dynzzzz. 





mengenai workshopnya sendiri, hampir aja gue batal ikutan. jumat siang, bumy panas tinggi, sampe 39 bok. ini sebelum ketauan DBD, yah, jadi gue pikir dia mau flu atau gara-gara ISK. sabtu pagi sempat agak galau untuk ninggalin anak lagi panas tinggi, tapi gue pikir bisalah ke-handle sama oma opanya (padahal ternyata selama gue tinggal itu, panasnya mencapai 40,5!! T___T).

yang gue syukuri, meski pake ninggalin anak yang lagi sakit (huhu), workshop ini bermanfaat banget. selain dijelasin soal konsep dan tips 'n trick seputar clean eating, juga ada cooking demo menu-menu sederhana dan mudah. berkat acara ini juga gue jadi tau orang-orang yang emang serius ngejalanin clean eating, dan info sayur-mayur organik yang murah.

berikut beberapa slideshows from the workshop:




rehab kulkas! buang yang kemasan-kemasan jadi, gantiin dengan tupperware2 cantik hehehe


PR besar gue: bikin meal plan *keringet dingin*

trus sekarang progress gue sendiri gimana? well, masih pelan-pelan berusaha nyusun menu yang applicable, sih. tapi satu perubahan yang drastis adalah gue nggak lagi menggunakan jasa katering rumahan, hehehe. sebelumnya ini kerasa berat banget bahkan impossible, loh... nggak kebayang gue mau refot-refot lagi belanja - potong-potong- masak - cuci perkakas setelah tau enak dan praktisnya jasa katering. tapiii... gara-gara 'didoktrin' untuk "reclaim our kitchen!", semangat gue untuk kembali ngedapur berkobar sendiri :))) lumayan deh, sekarang gue bisa bela-belain masak malem hari demi bisa makan buatan sendiri besoknya. tapi ya gitu, kadang kacau juga gara-gara suka kelayapan nggak jelas. biasalah, ujung-ujungnya ketemu lagi sama sahabat lama satu itu: problema konsistensi. xD
oiya, satu lagi yang juga perubahan drastis: nggak makan sambal botolan lagihh. berrraaaaat buanget buat gue yang lebih doyan sambel botol dibanding sambel asli, huhu. tapi alhamdulillah, sejak workshop itu sampai sekarang masih mulus perjalanan gue detox sambel botol. wismilak yah supaya yang satu ini bisa konsisten!

- as i mentioned earlier, bumy kena demam berdarah dengue. huhuhu.
ini pengalaman pertama di keluarga (kecil) gue, dan tentunya, it suckeeeddddd. awalnya sama sekali nggak kepikiran bumy kena DBD. bukan cuma gue, tapi juga dokternya! berhubung bumy abis medikasi buat ISK, dokternya curiga ini ISK berulang makanya badan doi panas lagi. tapi pas hari ketiga masih juga panas tinggi, gue bawalah bumy ke RS dengan tergopoh-gopoh sambil berjibaku dengan ganasnya jalanan senin pagi. ya Allah nyeseeel banget nggak buru-buru tes NS1 jadi bisa cepet ketauan.

gue juga kok ya polos banget, bisa nggak kepikiran bumy kena DBD. padahal sebelumya udah ada 2 anak kena DBD di sekolahnya bumy. belum lagi gue pernah menemui sendiri si nyamuk dengue ini pas lagi nungguin bumy pulang sekolah. hiks, nyeseeeell dan sedih banget rasanya.

seminggu kita bertiga nginap di RS. dua kali dalam sehari gue mulessss tiap dengar langkah suster berderap ke kamar untuk ngasih tau jumlah trombosit bumy hari itu. pas awal baru masuk juga udah kebat-kebit nggak karuan, karena bumy nggak juga berhasil dipasangin infus setelah 4 jam! tangannya udah ditusuukkk berkali-kali tapi nggak dapet juga. langsung deh gue nelpon nyokap untuk curhat keputusasaan. akhirnya dipanggilin suster dari perina untuk masangin infusnya di kaki, dan mungkin berkat doa nyokap gue juga, akhirnya berhasil juga infus dipasang. fiuhh.
alhamdulillah kondisi bumy selama di RS stabil dan bagus meski trombositnya naik-turun. makan masih lancar meski gampang mual (kata dokternya itu disebabkan hatinya agak membesar jadi menekan lambung). kalau soal bintik-bintik merah, gue perhatiin nggak muncul sama sekali sih di badannya.

- ke bandung, kali ini nggak nginep di concordia.
iya, kita mini-vacation ke bandung lagi, makanya sempat ke kineruku. kali ini nggak mampir ke 'rumah singgah' yang biasa (concordia, hihi), tapi menjajal hotel mercure di setiabudi yang masih pre-opening (ini bukan ya istilahnya?). yang jelas, rate hotel yang diberikan masih 50% dari rate normalnya kelak. kita suka banget hotel ini selain karena baru, kolam renangnya yang guedeee juga full air anget! hotelnya sendiri family-friendly; ada playroom di depan kolam renang, trus ukuran single bed di kamar yang twin-bed gedee jadi kita gak berdesakan tidur sama bumy. oiya, karena hari pertama dateng itu sabtu, kita kebagian nyicipin fasilitas BBQ night yang diadain setiap malam minggu. all you can eat buffet buat 2 orang 133 ribu ajah!! kita bisa makan malam by the pool ataupun di dalam resto. menunya oke-oke banget, standar bintang lima. berhubung gue bukan big fan of meats, jadi juaranya buat gue ya dessertnya. tapi dagingnya juga ada wagyu, gue yang nggak demen daging karena males ngunyahnya ini jadi bisa menikmati juga.

ke mana ajakah kita? itinerarynya kurleb begini: miss bee providore (wajib hukumnya nyobain yg lagi heits hahah) - kineruku - check in hotel - tjendana bistro - hotel lagi buat renang dan dinner. besoknya ke de ranch (setelah bingung mau pilih ini atau dusun bambu. tapi ternyata cukuplah sekali aja mampir ke de ranch) - treehouse & lavie (nyetok kado lahiran, berhubung perlunya buanyaakk. selain ke lavie, gue sempat mampir ke yen's juga) - dinner ke maja house. yang belakangan ini baru pertama kali dicoba, hehe telat yee... ternyata oke juga. menawarkan suasana nongkrong sambil makan yang beda, makanannya juga enak-enak. meskipun makin malem makin dingin dan jadi banyak yang ngerokok, tapi overall bikin pengen nyobain lagi. siang-siang pasti bakal beda suasananya.


de ranch
 




the infamous miss bee








tjendana bistro


tjendana bistro - inside


rumah pohon di treehouse. obviously.



tempat yang belum juga dicoba tuh warung laos dan lawangwangi art space. kayanya enak buat duduk manis menikmati view bebukitan dago dan nyeruput-nyeruput cantik deh. tapi tempat-tempat yang kita datengin kemaren semuanya family-friendly. tjendana ada indoor playground meski kecil, dan juga outdoor space yang luas jadi anak bisa lari-lari. treehouse yang di belakang RS Borromeus pasti udah pada familiarlah ya, ada rumah pohon, flying fox mini, dan playhouse. miss bee yang lagi heits selain tempatnya cantik, makanannya juga cantik- cantik banget tampilannya.

- ikutan workshop essential oil
apalagi, nih? hehehe... nggak sengaja gue baca thread event di forum FD, eh ada tentang essential oil ini. menarik banget, ternyata. gue masih utang tulisan soal laporan event ini, sih xD intinya EO ini bermacam-macam rupa dan khasiat. karena indera penciuman itu nyambung langsung ke otak (dijelasin anatominya gimana), jadi bisa mempengaruhi kondisi tubuh juga. event kemarin topiknya khusus tentang EO dan hormon perempuan. jadi dapet pencerahan deh gimana mengahadapi problema-problema hormonal dengan bantuan EO. acara kemarin ini gratis dan diadain sama pihak Young Living, gue tertarik sih pengen nyoba ngoleksi beberapa. tapi dicicil dulu deh, soalnya harganya lumayan mahal. btw, narsumnya kemarin itu oma Frances Fuller yang udah 71 tahun tapi nggak keliatan berumur segitu, bok.


 


 


- bumy les renang
udah hampir dua bulan ini si mas dilesin renang di anak air kebagusan. selama ini dia suka berenang tapi nggak berani nyelupin kepala -__- gue tertarik ngelesin doi di AA selain gak jauh dari rumah, juga karena programnya bagus dan pengajarnya sarjana-sarjana olahraga gitu. sebulan pertama sih, porsi 'belajar' dan main-mainnya masih 50-50. gue pribadi nggak ada masalah dengan metode banyak main-main begini, biar dibawa fun sama bumy. sekarang sih bumy udah berani nyelupin kepala dan tahan napas dalam air. gerakannya juga lebih konsisten dan udah lebih kuat juga. awal-awal les, 30 menit lesson udah bilang "capeek," sekarang abis les malah minta main-main air setengah jam lagi.

ya begitulah.... alhamdulillah masih bisa merasakan semua yang baru-baru; baik pait maupun manis, heheheh. whatever happens, i think we should just see it as moving forward, gitu kali ya?