28/09/2015

this week's lesson

hi there, life. what have i learned about you lately?

i think you're teaching me about letting go.

first of all, gue sedang belajar melepas nyamannya rutinitas jadi ibu rumah tangga. yang selama anak sekolah bisa ngopi cantik sambil ketak-ketik (hehe). melepas kenyamanan bisa konek sama diri sendiri, dan kebebasan mengatur jadwal sesuka hati. i do terribly miss it at times. even though i could remember clearly how lonely i used to feel.

lalu yang kedua, gue belajar 'melepas' kiti untuk kembali ke inggris. to me, this was tougher than it looked like from the outside.


tentunya gue senenglah dia bisa meraih cita-citanya untuk lanjutin sekolah lagi, untuk hidup dan berkiprah lagi di inggris. it goes without saying that kalau dia seneng, gue juga akan seneng. tapi, di sisi lain, gue tau gue akan sangat kehilangan dia.
hampir setahun belakangan ini gue tersadarkan, kalau kiti bagi gue itu lebih dari sekadar teman atau sahabat. she's like my sister from a different mother. entah gimana hidup perlahan-lahan menyaring keberadaan orang-orang di sekitar gue. and she's one of the (very) few that's left. gue merasakan banget gimana kita bertumbuh bersama, dan alhamdulillah, ke arah yang sama. dia mengisi kekosongan di hati gue dengan sesuatu yang bukan cuma gue butuhin, tapi juga 'baik' buat gue. she fills my soul by 'teaching' me how to be a better person. dia juga menjelma jadi sosok yang "satu frekuensi" dengan gue. i feel stronger and more whole by our connection. tapi, gue juga sadar kalau dalam hidup ini kita perlu mandiri. bukan cuma secara fisik, keuangan, atau mental, tapi kalbu gue juga harus mandiri, dengan bersandar hanya kepada Allah.
jadi, sekarang ini gue sedang belajar, untuk meyakini kalau keberangkatan kiti kembali ke inggris pasti akan membawa lebih banyak kebaikan untuk dia, dan juga untuk gue.

yang ketiga, it's about my grandma. thankfully she's still alive. dua minggu lalu dia singgah ke tangerang bersama keluarga tante gue dari bengkulu. tante gue cerita kalau sejak tiga bulan belakangan ini beliau mulai pikun. usianya udah 78 tahun, so it's understandable. and it's bound to happen anyway, right? but it's hard for me to see her in this condition. matanya blank, dan dia bener-bener terlihat seperti anak-anak lagi. sosok wajahnya polos; nggak ada secorak beban kehidupan, rasa takut, atau kekhawatiran. she just seems... living in the present. and that's supposed to be... good, i assume?
but it feels like such a loss to me. kehilangan sosok nenek yang sangat pintar, yang mengajarkan gue banyak hal sedari kecil. sahabat pena gue. teman jalan-jalan gue. dan gue merasa sangaaaaat menyesal nggak memanfaatkan waktu sebelum tiga bulan lalu itu just to have a chat with her. before her old self went away for good....

dipikir-pikir, life should be easier that way - when we could finally let go.
masih banyak hal-hal lain yang perlu gue 'lepas.' entah karena masih bikin penasaran, bikin susah move on, atau bikin sakit hati.
number one on my (long) list, is definitely letting go of high school. someone once said to me that "high school never ends." bukan cuma kenangannya, tapi juga imaji yang melekat di dirilo dan orang-orang yang lo kenal saat itu, seolah abadi. i used to define myself with the kind of girl i was in high school. that way, i become my unfulfilled wishes, the boys i never got to date, the achievements i never made, and the kind of beauty, look or whatever that i never lived up to. i need to stop defining myself from those that i cannot change. because that chapter should've ended long ago.




jadi, yah, mungkin ini salah satu cara #realitycheck. living in the present by focusing on and appreciating what's in our lives now.
at this moment alone, i have an abundance of things to be grateful for. (aside from health, family, faith, and fulfillment of basic needs), i'm glad to have the chance to do something i love; the chance to learn a thing or two from life, death, and faith.. 

also the chance to feel, to grieve for, and, hopefully, finally to accept loss....

One Art

By Elizabeth Bishop

The art of losing isn’t hard to master;
so many things seem filled with the intent
to be lost that their loss is no disaster.

Lose something every day. Accept the fluster
of lost door keys, the hour badly spent.
The art of losing isn’t hard to master.

Then practice losing farther, losing faster:
places, and names, and where it was you meant
to travel. None of these will bring disaster.

I lost my mother’s watch. And look! my last, or
next-to-last, of three loved houses went.
The art of losing isn’t hard to master.

I lost two cities, lovely ones. And, vaster,
some realms I owned, two rivers, a continent.
I miss them, but it wasn’t a disaster.

—Even losing you (the joking voice, a gesture
I love) I shan’t have lied. It’s evident
the art of losing’s not too hard to master
though it may look like (Write it!) like disaster.


27/09/2015

mommy drama

mommy drama, adakah yang pernah nggak terlibat sama hal ini?

meskipun gue merasa diri gue rada ansos di kalangan ibu-ibu, tapi sempat juga gue terlibat mommy drama. waktu itu issuenya seputar (dan dengan orang-orang di) sekolah anak. lucu juga kalo dipikir-pikir!
ceritanya gini, di sekolah Bhumy yang lama, ada beberapa ibu yang melontarkan keluhan mereka tentang sekolah. beginilah, begitulah. sejujurnya, keluhan mereka itu juga sama seperti concern gue. makanya, beberapa bulan sebelum tahun ajaran kelar, gue udah rajin mensurvey beberapa sekolah lain. dari beberapa sekolah yang udah gue liat dan sambangi, gue simpulkan kalo sekolah (lama) Bhumy masih lebih unggul, karena banyak faktor bagusnya yang nggak gue dapetin di sekolah lain.
balik ke soal ibu-ibu yang ngeluh. waktu itu mereka memaparkan keluhan sambil misuh-misuh, bahkan percakapannya juga udah bernada destruktif menurut gue, karena pake nyinyir dan mocking. gue sendiri sebelumnya pernah mengeluh soal kekurangan sekolah itu secara terbuka, yaitu lewat grup WA juga. tapii ketika itu di chatroom, setelah melakukan "studi banding," gue merasa perlu nyampein kalo "woy, sekolah ini masih ada kelebihannya, loh." seenggaknya untuk menawarkan pandangan yang objektiflah, kalo nggak bisa menghibur ibu-ibu itu (ya nggak sih mereka perlu dihibur? 'kan udah repot misuh-misuh tapi nggak bisa nyari sekolah lain?).
eeh gara-gara itu gue dimusuhin, dong! x)))))
yang mana bikin gue heran... lha 'kan gue ngomong (eh ngetik) bukan berdasar emengan semata, tapi lewat survey dan bahkan trial di beberapa sekolah lain. sementara mereka? ngebandingin langsung kayanya juga nggak deh, cuma hearsay atau modal browsing.

bagian lucunya adalah, ibu-ibu yang "kontra" itu bikin grup WA sendiri. :)))) ditengarai supaya bisa bebas misuh-misuhin ibu-ibu lain yang nggak sepemikiran sama mereka. termasuk yang terkesan ngebelain kayak gue. mereka juga suka ngumpul-ngumpul sok eksklusif, padahal beberapa di antara mereka itu 'deket' sama gue. bukan kayak BFF or anything, tapi cukup suka berikrib-ikrib manislah 'ma gue. pernah juga satu dari mereka (sok?) kelepasan "eh nanti mau gini di X, kan ya?" yang gue respon dengan "oh ya? nggak tau, nggak diajak gue." zzz...

lalu gimana kelanjutan dari drama itu? well, gue sih udah mindahin Bhumy dari sekolah lama itu ya. sementara dedengkot grup WA tandingan itu sampai sekarang anaknya masiih setia ngendon di sekolah yang sibuk dikomplain itu. #tongkosongnyaringbunyinya :)))))

bagi gue, lesson learned dari drama nggak-penting-tapi-ngenekin itu mungkin
- gue jadi nggak mau terlalu aktif di chatroom grup manapun, apalagi grup ibu-ibu yang baru gue kenal. rawan salah persepsi, bo.
- jangan terlalu fanatik mencinta maupun membenci suatu sekolah. hahaha. biasa ajaa, malu 'kan kalo nanti dikecewain atau malah dibikin seneng sama itu sekolah?
- kalo udah kadung terlibat drama sama ibu-ibu kurang piknik, pilihannya cuma: hadapi, lawan, atau... tinggalin. akun socmed-nya tinggal dibikin mute. sapa seperlunya kalo ketemu. pokoknya minimalisir urusan, deh.


oh how we all wish for world peace :)))
last but not least, sepertinya emang bener kalo semakin tua, semakin susah juga nyari temen yang beneran nyambung, dan juga 'baik' buat kita. our circle may become wider, but the connection is getting harder to get.
demikian curhat kali ini, wassalam.
kekekke.

02/09/2015

my life as an IRT, 2 and a half years later

oke, udah pertengahan tahun 2015 aja. malah tinggal empat bulan menjelang pergantian tahun. udah 'sampe' di mana guee?

milestone hidup gue sepertinya bisa diukur sejak gue cuti kerja buat jadi SAHM, deh. udah 2,5 tahun aja, ternyata gue jadi SAHM. bikin review kecil-kecilan, ah.

jadi, setelah 2,5 tahun, gue...
  • masih belum nambah anak
ini hal yang selaluuu aja ditanyakan setiap ketemu temen atau kenalan. "anak udah berapa?" 
masih satu aja, buuu. 
kepengen nambah? kadang-kadang, sih, tapi lebih sering nggak pengen. buat gue, bayi masih identik dengan kata "repot." mulai dari usaha buat hamilnya, kehamilannya, melahirkannya - yang sampe sekarang masih bikin trauma, sampai ngurus newborn-nya. 
kenalan dari kantor lama yang paling suka terheran-heran pas tau gue belum juga nambah anak. mungkin di pikiran mereka, ngapain cuti segala kalo bukan buat nambah anak?




seperti layaknya menetapkan target yang ketinggian untuk dicapai sehingga hampir nggak mungkin, gue juga punya kondisi ideal di benak yang buat gue layak untuk punya anak kedua. maunya, sih, kalo mau nambah anak, gue (dan Adit) udah 
- bisa hamil tanpa usaha yang 'berat' kayak pas mau punya Bhumy dulu. no pills, no injections. 
- bisa menjalani kehamilan dengan sehat, mudah dan menyenangkan. 
- bisa melahirkan secara normal dengan selamat. etapi nulis gini aja otomatis bikin deg-degan, kumaha atuh?! 
- bisa tinggal deket sekolah Bhumy, jadi kita bisa minta Jali (ojek langganan Adit) untuk antar-jemput Bhumy sekolah.
- bisa punya kerjasama yang enak untuk ngurus anak, rumah, dan kerjaan; bisa menyediakan lingkungan yang aman dan positif buat anak-anak kelak. nggak mau "salah ngasuh" kayak sama Bhumy. 
kira-kira bisa kesampean nggak tuh? xD


  • masih suka galau pengen kerja. 
padahal sampe sekarang gue juga masih clueless sih kalaupun balik kerja lagi, gue mau berkiprah di bidang apa. pengen nyoba jadi copywriter atau gabung di media atau startup. tapi kalo mau jujur, kebutuhan utama gue sebenernya berada di tengah orang-orang dewasa. kayaknya otak bisa terstimulasi untuk jadi kreatif, sekaligus bisa bersosialisasi juga. tapiiii, begitu ngebayangin skenario-skenario secara spesifik jikalau gue jadi ibu pekerja, macam nggak enak bolos kalo anak sakit, stres kalo kudu pulang malem atau keluar kota, hasrat pengen kerja lagi kok ya surut... 
sempat kepikiran buat kuliah S2 aja, buat ilmu dan networking-nya. tapi dari segi dana masih sulit untuk saat ini. 
pengen bikin-bikin "sesuatu" sama Kiti, my BFF, tapi kok yaaa sampe sekarang belum kewujud gara-gara kurang komitmen xD
kalo punya bisnis, sempat kepikiran, sih. tapi makin ke sini, gue makin ngerasa lebih cocok self-employed. gue nyadarin kalau belum berani ngambil risiko, dan belum ada ide yang bener-bener 'klik' juga.




  • belum rutin olahraga, belum rutin makan sehat, belum rutin memperkaya jiwa. 
malahan mengidap kolesterol tinggi. -__- mau baby steps lagi untuk makan "bersih." olahraga juga insya Allah dirutinin. 
untuk urusan jiwa, alhamdulillah gue dipertemukan sama majelis tafakur. di situ gue merasa dipertemukan sama orang-orang yang sejiwa; sahabat-sahabat terbaik yang selalu mengingatkan sama akhirat. <3


  • sementara dalam kehidupan sosial, yang paling terasa sih, gue jadi sering kesepian
sejak pegang jabatan SAHM, interaksi gue dengan sesama orang dewasa emang lebih sedikit dibanding waktu bekerja. tapi kayaknya sih yang bikin ngerasa kesepian adalah gue kurang dapet "connection"nya.
mungkin gini ya, dulu gue mendefinisikan diri gue sebagai ibu bekerja, dan itu bikin gue ngerasa belong di 'komunitas' ibu bekerja. 
sementara sekarang, gue udah jadi ibu rumah tangga, tapi bekerja juga meski cuma part-time dan freelancing. dari interaksi sama ibu-ibu SAHM aliran murni (maklumi istilah ngasal ini), gue bisa cukup nyambung bersosialisasi. tapi, perasaan "connect"-nya itu yang kadang nggak didapetin. 
gue pengen dapetin percakapan tentang hal-hal yang menjadi minat gue (dan lawan bicara). percakapan yang memungkinkan gue bertukar ide, yang membawa ke pertumbuhan, atau yang bisa memfasilitasi impian. bukan berarti sekarang gue nggak dapetin itu sama sekali dari orang-orang di sekitar gue, tapi hal itu yang gue dambakan kalo lagi merasa kesepian. 
or maybe I just think too much. 
atau perlu 'pindah' ke jogja atau ubud? hehehe.


  • lastly, apa aja yang udah gue kerjain selama 2,5 tahun? 


kekekek... yes, I'm glued to tv most days, but I do have "jobs!" 
- nulis artikel buat Mommies Daily dan Cantik.com
- jadi proofreader dan editor freelance
- nerjemahin lepas. alhamdulillah dapet aja klien entah itu korporat atau perseorangan. 
- ikutan event buat blogging atau reportase ke MD. 
- nimbrung nulis untuk buku kumpulan artikel, dan kumpulan cerpen.
pintu rejeki emang macem-macem, ya. tapi di kasus gue, banyak banget yang datangnya lewat @nenglita hehehe. semoga dapet balasan yang berlipat-ganda, ya kakk. :*

ke depannya gimana? 
pengennya sih masih bisa memperpanjang isi resume. 
dalam waktu dekat, gue juga pengen bisa bikin blog di luar urusan curhat; pengen bisa lebih banyak terjun di reportase event; dapet project translating, proofreading dan copywriting yang besar; juga pengen jadi kontributor tetap di media online bidang edukasi keuangan. 


yang bikin postingan ini terasa lucu (dan agar getir) buat gue, adalah fakta bahwa sekian jam sesudahnya, gue balik kerja lagi di tlkm. padahal liat aja paragraf terakhir, nggak ada nyebut-nyebut mau balik ke ranah profesi telekomunikasi xD
kadang gue merasa hidup tuh seperti mencoba menyatukan potongan-potongan puzzle yang nggak lengkap. I'm constantly trying to figure it all out....