Showing posts with label bumy. Show all posts
Showing posts with label bumy. Show all posts

04/04/2019

fana merah jambu

I thought I would start blogging again.
tapi setelah dipikir lagi, lebih nyaman berbicara, berpikir, beropini sendiri dulu.

dari semalam gue sudah tergerak ingin ngeblog lagi. well, gue selalu memperlakukan blog bak diary yang terpublikasi, jadi ya isinya seputar kehidupan sendiri aja. belum ada hal-hal yang berharga buat masyarakat untuk dishare. hehe. 
it feels so different, menulis untuk diri sendiri dan menulis untuk dibaca orang lain (selalu ada harapan untuk itu). 

saat ini gue mau nulis hal-hal yang I'm feeling excited about saja. setelah sebelum-sebelumnya resah dan mengeluh.
  • Sam oh Sam
sekarang bayi ini akan berusia 16 bulan in just a few days. and he makes me more and more in love everyday. 
ternyata begini ya rasanya sama anak kedua.. lovvvveee melulu. 
bedanya sam sama bumy banyak, terlepas dari mukanya yang 89% copy-paste. satu hal yang jelas banget sih dari segi perkembangan fisik. motorik kasarnya cepet banget berkembang. dia bisa jalan di usia 10 bulan (kalau gue nggak salah inget yak), jauh lebih cepet dibanding bumy yang baru berani jalan di 14 bulan. gue menebak faktor nurture berperan besar dalam hal ini. 
dengan sehari-hari berada di daycare, sam punya banyak contoh hidup untuk ditiru, yaitu anak-anak yang lebih besar dan lebih jago kemampuan fisiknya. selain itu, di daycare nggak ada yang sedikit-sedikit parno melarang berlebihan (like me or my mom). 
tidak berapa lama setelah bisa jalan, tau-tau dia udah nyoba manjat tangga di rumah sambil merangkak sendiri. lalu sekarang dia udah bisa naik tangga dengan gaya tangan pegangan ke handle tangga. main bolanya juga jago bener (I got no comparison for this, cuma takjub aja liat dia bisa ngejar-ngejar bola heboh). bahkan sekarang dia udah bisa dong jalan sambil bergaya pura-pura nendang bola. yaampun BAYI. 

waktu kita lagi main di rumah debi, anak-anak cowok besar 'kan pada main sepeda. mungkin drive terbesarnya sam 'ni rasa nggak mau ketinggalan hype. FOMO gitu. jadi dia belagak bisa riding the bike juga, sok-sokan ngegowes padahal belum lancar dan harus didorong juga supaya bisa maju *gudlak pinggang bapaknya.  

ada hal yang menurut gue kocak banget. saat weekend kemarin, gue ngajak bumy bikin telor dadar di rumah. bumy lalu berdiri di atas dingklik untuk belajar cara memutar kenop kompor, sebelum memasak si telor dadar. 
gak lama, saat semua sibuk dengan urusannya masing-masing, gue bingung nyariin sam. yes di rumah yang seuprit itu. tau gak gue temukan dia di mana? lagi berdiri di atas dingklik yang sama which is di depan KOMPOR, sambil berlagak muter kenop kompor juga!!!1!11
antara worry dan terkejut ku melihatnya! astagaaa bayi ini cepet banget nirunya. 

ada juga momen meniru kurang positif lain, yaitu gara-gara gue suka ajak sam nungguin bumy ekskul taekwondo, dia jadi suka belagak nendang, dong, meski sambil becanda -__-  

di satu sisi, daycare sangat ngebantu untuk stimulasi sih. tanpa gue perlu repot bereksperimen, sam tau-tau udah minta makan pake tangan sendiri (menjumput) dan kemarin minta pake sendok sendiri. 
semoga nanti pas toilet training aku pun terbantu!

masih soal perbedaan, yang cukup njomplang adalah kemampuan sam ngomong, yang justru lebih lambat berkembang dibanding bumy. kosakata sam belum banyak nambah, babbling ngoceh gak jelas sih sering, tapi belum mau ngelengkapin suku kata gitu lho. misalnya kita bilang "sa..?" dia gak mau jawab "tuu." bapaknya masih dipanggil mama. kalau mau apa-apa bilangnya "mamammamamma." mamak tau sih kamu tjinta banget padaku, sam, tapi MBOK YA. 

perbedaan lainnya yang mencolok adalah bumy suka banget (diajak) kelayapan, sementara sam nggak. 
ughh cukup menjadi ujian menahan nafsu kelayapan buat gue. sam bisa cranky kalau belum terpenuhi jatah bertemu kasurnya maksimal di jam 7-an malam. dia juga suka banget gegoleran main di kasur kalau siang hari libur. dikit-dikit nenen, dikit-dikit molor sambil pelukan. walhasil setahun belakangan ini gue udah hampir nggak pernah kelayapan impromptu di malam hari. nggak kayak dulu yang tau-tau bisa nyangkut nongkrong di mana. hmm pernah sih ada anomali sekali, yaitu saat kita dadakan main ke Ikea di suatu jumat malam. dan ini berhubungan sama poin berikutnya yang membuatku excited akhir-akhir ini...

  • mulai dikit-dikit bebenah rumah lagi
bukan beberes maksudnya, kalau itu sih udah fardhu 'ain. tapi mulai bebenah rapihin interior rumah. 
yang pertama kepikiran untuk dirapihkan adalah study room yang duluuuu saat awal merenov rumah sudah dirancang, tapi belum terwujud juga. 
jadi pada suatu jumat malam, dengan agak impusif kita mampir ke Ikea. harapannya bisa dapat inspirasi model ruangan. 

so this study room makeover became my little project these last few weeks. 
gue pun mulai donlot-donlot app buat desain rumah. yang bolak-balik diakses tuh Pinterest, Ikea Store sama Room Planner. bahagia ey bikin-bikinnya. 


the vision on Room Planner
the realization, don't have much to complain though <3
insya Allah kalo ada rezeki maunya sih ngeberesin ruangan lain di rumah. 
pengen ngecat rumah, ganti sofa, benerin halaman belakang, ngisi kamar anak, plus beberapa furniture yang udah lama masuk ke wishlist. pelan-pelan layaaa, little little we can. 

  • soal si anak sulung
baru kerasa lho... kalau gue udah sangat sangat "menjauh" secara jiwa dari dia.
yes I'm admitting it. 
teringat dulu bu alzena menegur gue untuk be present saat bersama anak... i can recite it by heart, tapi hal tsb belum jadi respons alami gue. hiks. semakin gue menyadari kalau gue adalah multitasker yang cukup buruk. it's hard enough to concentrate to a baby, let alone that plus an almost-teenager. 
dan semua keriweuhan urusan membesarkan bayi ini, membuat gue gak bisa melihat bumy dengan lebih 'jelas.' 
all I see is his mistakes, his tingkah-polah yang nyebelin dan usil. 
and all I do is responding it with anger. 
gosh....
tapi Allah Maha Menunjukkan jalan keluar... alhamdulillah lewat satu demi satu kejadian yang tersaji, gue dipertemukan dengan orang-orang yang bisa membantu. orang seperti Nup, salah satunya. gosh, I have so much to tell about her. I learn so much from her! salah satunya gimana mengenal dan melihat anak the way they are. menurut Nup, mengenali apa masalahnya aja udah bisa menjadi pembuka jalan. I realize I need to do better parenting. 
penerang jalan lainnya berupa kelas pendidikan dari Rumah Inspirasi. again, I have so much to tell about these inspiring classes. 
tapi menimbun ilmu tiada artinya kalau nggak dipraktekin, ya 'kan. 

  • MRT
Jakarta akhirnya punya MRT!!!
ya Allah gak pernah terbayang akhirnya gue melihat dengan mata kepala gue sendiri infrastruktur tsb terwujud!
gue masih bisa mengingat jelas suatu momen di tahun 2005 saat gue masih bolak-balik mencari nafkah di sudirman and I felt so disgusted, and desperate about the city. I love the city so much it sickened me to see mereka yg diamanahi untuk mengurus kota ini gak terasa dampak kerjanya. trotoar yang buruk. halte yang kotor dan rusak. kemacetan di jam kerja yang membuat putus asa. 




sekarang semua isu itu masih ada, tapi I can feel better knowing ada pak Jokowi yang BEKERJA untuk gue, keluarga gue dan uang pajak yg sudah disetorkan. haha ini maksudnya bukan buat kampanye terselubung (is it?) tapi semata-mata apa yang gue rasakan. 
I was holding back tears saking terharunya saat pertama kali menjejakkan kaki di MRT station di Jakarta. segitunya indeed! 
yes I got emotional... orang indonesia totally deserve itttt, sejak bertahun-tahun lalu bahkan. sadarkah betapa beruntungnya kita ada pemimpin yang segitu getolnya pengen membangun bangsa ini... Kiti told me, bahwa salah satu orang yang dinaungi Allah SWT di hari akhir adalah pemimpin yang adil. I truly hope that Jokowi will be one of them. 

  • hmm what else? oh, our weekends with Palem family and my spontaneous lunch dates with Kiti
sejak abah Venda mulai kuliah s2, otomatis di hari sabtu si bunda Debi dan Abhi nganggur aja di rumah. kita yang hobi kelayapan ini pun kerap kali menculik mereka. minggu lalu kita sarapan sop buntut mak emun jauh-jauh ke Bogor. dari situ lantas nemenin abhi kontrol dokter di KMC, lalu mengganjal perut lagi ke Siku (Dharmawangsa). makan, makan, makaan. malamnya geng Palem nginap di Ciganjur. seneng aja ngumpul ngariung gini. semoga rencana liburan bareng bisa terwujud, nih... 


gosh I look so much like her ELDER sister
sop buntutnya bikin bunda merem-melek
our meetup sessions should be called detoxing. honestly.
well, setelah menulis berpanjang-lebar, sepertinya tulisan ini akan gue muat di blog. 
can't tell exactly why. mungkin hati ini kembali mengenali blog sebagai rumah menyampah yang cukup nyaman.   

and it's glad to be back. ihiy. 

06/03/2017

to here knows when

what the hey it's MARCH already?!

perasaan gue belum kelar-kelar nulis soal resolusi, harapan dan cita-cita di tahun 2017 deh.. tapi kok momentum "tahun baru"nya udah keliwat aja.
lagian, seolah gue segitu sibuknya sampai nggak ngeblog SAMA SEKALI sepanjang Februari... nggak tau sibuk ngapain.

anyways, karena bingung 'kan mau cerita dari mana, jadi dibikin rekapan aja deh..

- gue pernah cerita seputar konsultasi ke psikolog (bu Alzena Masykouri) soal Bumy dan kita di blogpost ini.
salah satu masukan dari beliau tuh kita perlu work on some issues yang jadi faktor penyebab stres. stressor yang kemaren diidentifikasi antara lain jarak tempuh harian yang lumayan bikin badan dan hati lelah, kegamangan gue antara kerja kantoran vs nggak, plus menghadapi les yamaha Bumy yang demanding.
nah, buat urusan jarak tempuh, kita berusaha atasi dengan bikin rencana di 2017 ini untuk nyari tempat tinggal yang lebih deket ke sekolah Bumy. karena akhirnya berasa juga efek keriweuhan menjalani hari demi hari dengan kondisi jarak rumah antara sekolah Bumy sejauh 9 km, melintasi rute yang mainstream banget macetnya. sekolah Bumy masuk jam 7:15, dan dalam satu term kemarin dia telat 33 hari (yang kehitung).
akhirnya kita nyari-nyari apartemen buat disewa dan dapetlah yang sekitar 1 km-an ke sekolah Bumy, dan 1 km-an juga ke kantor gue dan Adit. alhamdulillah dapet unit yang udah full furnished, landlord-nya juga baik bangett. sekarang ini udah sebulan kita tinggal di situ. I'm still adapting, though. emang enak sih pulang-pergi ke kantor cuma 15 menitan, tapi ya gitu.. it feels different living inside an apartement unit as opposed to a landed house. tapi semoga bisa ngasih efek positif yang lebih komprehensif ke kita sekeluarga, deh.






- balik ke soal stressor yang tadi disebut, hal kedua yang kita coba atasi adalah soal les yamaha Bumy yang semakin demanding sajah rasanya.
bayangin, sampe bikin eke dan si anak stres bo.. haha.

jadiiii semua bermula waktu Bumy sudah menyelesaikan tahap pendidikan JMC (Junior Music Course) dan akan 'naik kelas' ke JXC (Junior Extention Course). guru les Bumy di JMC, sebutlah kak Maria, tiba-tiba mengajukan ide untuk ikutin Bumy audisi masuk kelas JSAC (Junior Special Advanced Course). JSAC ini selevel dengan JXC, yaitu untuk anak usia 6-7 tahun atau usia SD, tapi bedanya lebih... terakselerasi. Bumy bakal 'dituntut' buat bisa mencapai level lebih tinggi dalam waktu lebih singkat, dan composition skill atau kemampuan bikin lagunya akan lebih diasah.
menurut kak Maria, dia milih Bumy buat ikut audisi karena skill doi di atas rata-rata anak selevelnya.. dia khawatir Bumy bakal bosen kalo dibiarkan di kelas biasa.

prerequisite yang dibutuhkan untuk bisa masuk kelas ini ya dengan ikut audisi. later on gue denger audisinya se-Jakarta, dan yang diterima maksimal 10 orang.
to be honest gue nggak kepengen Bumy lulus ke kelas ini. JMC aja rasanya udah cukup demanding, sampe gue masukin Bumy ke kelas weekend - demi gue bisa ikut masuk kelas dan memantau.
tapi di sisi lain, nggak enak juga kalo menolak mentah-mentah tawaran gurunya... bahkan gue dan Adit sempat minta sesi diskusi dulu, kita pengen kak Maria mempertimbangkan fakta bahwa gue dan Adit nggak ada yang bisa main musik dengan serius. selain itu, kelas JSAC nantinya juga cuma akan ada di hari kerja, terdiri dari 2 macam kelas untuk diikuti Bumy: group class dan private. akan sulit bagi gue untuk keep up kalau nggak ikutin kelasnya. tapi kak Maria optimis, menurut dia Bumy bakal baik-baik aja ikutin kelas tsb. lagian nggak ada ruginya juga dicoba ikut audisi.

jadi diikutilah audisinya... dan si anak lolos. dia jadi satu dari 5 orang murid JSAC. dijalani sejak bulan Juli/Agustus, baru sebulan aja rasanya berat banget buat gue. iyaahhh di gue, karena gue yang bertugas ngajarin dia di rumah. udah gitu guru-gurunya juga udah kasih maklumat untuk si anak berlatih MINIMAL 2 jam setiap hari. sesuatu yang IMPOSIBEL untuk dicapai... lha gue aja pas sampe rumah seringnya udah nggak punya energi buat ngurus diri sendiri, boro-boro bisa ngurusin materi electone-nya Bumy.

inilah yang gue sampaikan ke bu Alzena.. kalo gue SUTRISSSS banget mikirin lesnya ini. Bumy sendiri juga menyatakan kalau dia nggak enjoy ikut kelas JSAC... dia merasa jadi underdog, kok salah-salah melulu, kok nggak bisa keep up, sementara yang lain bisa main dengan gampang. belum lagi tuntutan buat latihan, PR les, dan keharusan bikin lagu sendiri untuk ditampilin 6 bulan berikutnya.
lagian, di kelas reguler, Bumy masih bisa haha-hihi sama temen-temennya, karena memang kelasnya lebih santai dan less demanding. buat doi yang anaknya sosialita banget, bisa gaul dan main-main di kelas tuh something worth to consider. pelan-pelan minat dia terhadap electone memudar. dia bahkan bilang "Bumy nggak mau konser bulan Januari, takut." :( kasian banget anak gue....


dari hasil konsul ke bu Alzena, beliau menilai kalau karena IQ Bumy yang mayan di atas rata-rata, makanya dia bisa dengan mudah lolos audisi. tapi buat anak seusia Bumy, sekarang ini belum waktunya untuk mulai serius di satu bidang entah itu olahraga atau musik (baru siap di usia 9 tahun). saat ini, untuk jalanin hal-hal itu masih tergantung minat si anak, jadi ya masih di fase mencoba-coba dan mencari-cari.

bu Alzena jelasin soal bedanya hobi, minat dan bakat.
anak disebut punya bakat, jika ia mampu menguasai suatu hal dengan lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan anak lain.
sementara minat, ya ketertarikan anak, yang bisa berubah-ubah. satu hari minat main bola, hari lain minatnya karate.
trus hobi adalah kegiatan yang produktif untuk mengisi waktu.
tiga hal ini berbeda banget. Bumy awalnya punya minat buat main electone, dan kebetulan punya bakat karena bisa menguasai dengan cepat. tapi Bumy belum acquire the ability and the mentality untuk fokus, tekun, dan serius di satu alat musik.
bu Alzena cerita tentang anaknya yang sempat les piano, tapi di usia 12 tiba-tiba minta ganti gitar. kesimpulannya, menurut bu Alzena lebih baik kalau Bumy dikeluarin dari kelas JSAC dan balik ke kelas reguler.
tentang kekhawatiran Bumy bosen, beliau bilang, anak butuh merasa bosen, dan juga untuk merasa bisa. perasaan bosen bikin anak mencari kegiatan untuk mengatasi kebosanannya. sedangkan perasaan "merasa bisa" bikin anak percaya diri... yaampun sekonyong-konyong gue keinget tulisan Malcolm Gladwell di salah satu bukunya, yang cerita soal gimana anak pinter yang dimasukin ke 'kolam' atau sekolah anak-anak pinter malah jadi patah arang atau lebih banyak yang nggak sukses karena kepercayaan dirinya terkikis.

to be honest gue merasa dilematis soal ini. vvhy? karena ada value yang diperjuangan di sini... ahahahahh.... seriously, though.
di satu sisi, gue, seperti tulisan Lita soal emak kekinian, ingin anaknya BAHAGIA, dengan menjalani sesuatu tanpa merasa terpaksa.
tapi di sisi lain, gue nggak mau Bumy menganggap dia bisa take the easy way out... kalau dia kehilangan minat atau pengen menyerah, udah tinggal escape aja gitu (#lookwhostalking).
tapi setelah berembuk dan brainstorming bareng adit... akhirnya kita putusin untuk minta Bumy keluar dari JSAC.
it's not about pride, it's not about giving Bumy what he wants... but it's about giving him what he needs. at least that's what we thought.

akhirnya Adit putusin buat ngomong ke guru-gurunya Bumy (kelas grup dan privat), dan kasih tau keinginan kita buat keluarin Bumy dari JSAC. ternyata guru-gurunya kaget... di mata mereka, Bumy nggak bermasalah. bisa ikutin lesson dengan baik, malah mereka optimis Bumy bisa lancar ikutin kurikulum JSAC. yaudah.. antiklimaks deh. kalo udah gitu, jadi nggak ada alasan yang kuat bagi kita untuk kekeuh keluarin Bumy dari JSAC.

waktupun terus berjalan... Bumy masuk kelas tiap minggu cuma didampingi pak supir (sementara yang lain sama ibu dan mamihnya). latihan 2 jam setiap hari? anaknya mau nyentuh electone lima miniiit aja sepulang sekolah udah sukur. gue pun belajar menurunkan tuntutan ke Bumy dan diri sendiri... sampai Januari akhirnya tiba dan dia kudu konser menampilkan lagu ciptaannya.
alhamdulillah, it went smoothly....
beta kaget dan bangga liat si anak bisa mengatasi demam panggungnya (seminggu menjelang konser, tiap jam ngomong "ma, hari minggu ini Bumy konser lhoooo.. hiiii" seraya bergidik).

setelah konser perdana
his supporters
Februari lalu, tiba-tiba gue nerima pesan dari gurunya, kalau Bumy lolos untuk konser di tingkat wilayah (Jakarta). padahal gue sama sekali nggak ngeh kalau konser ini ada tahap kualifikasinya.. haha.
jadi awalnya itu tingkat tempat les aja, trus lanjut diadu se-Jakarta, nantinya nasional, abis itu internasional. yaa kita sih nggak berharap muluk-muluk, bisa sampe di titik ini (Bumy bisa tampil di konser membawakan lagunya sendiri) aja udah BERSYUKUR banget.

his second concert
nguks
tempo hari, gue sempat ngobrol sama pacarnya temen yang seorang musisi. doi nyaranin gue masukin Bumy ke orchestra, katanya sih biar nggak bosen. melihat sejarah dia yang juga belajar musik sejak belia, gue seriously considering his suggestion.

- kalau celotehan gue dirunut dari awal, postingan rekap ini menyangkut faktor stressor yang tadi satu demi satu gue sebutin. setelah soal tempat tinggal dan les yamaha, satu lagi adalah kegamangan gue antara mau lanjut kerja kantoran (at my current office) vs nggak.

seperti yang sudah seriing gue lontarkan... bener-bener nggak ada yang gue kejar di sini... selain duit, mungkin. it feels nice to have money on my own, meskipun nggak seberapa buat orang lain. I also need the routinity of berangkat kerja tiap hari.
in other words, I kinda enjoy it.

tapi dipikir-pikir lagi, sebenernya nggak perlu lagilah ya gue bahas A-Z untuk menvalidasi alasan dan kebutuhan gue. sekarang, yang gue jadikan #lifeguide adalah kesadaran kalau mau di kantor kek, mau di rumah kek, teteup ada ujiannya. yang penting gimana supaya ujian itu bikin kebajikan dan ketakwaan gue bertambah *tsaaah... xD 

gue juga mulai menyadari kebutuhan gue untuk belajar hal yang bener-bener gue suka. jadi bismillah gue lagi dalam proses mendaftar program magister di bidang komunikasi.. hihihi, ngetiknya aja udah seneng. semoga pas jalanin kuliahnya juga masih seneng riang gembira yak. 

oh well. sometimes I still find myself wondering, is everything worth fighting for? 
"should I go on? should I stop?
what would i find at the mountain top?" (- from Bin Idris' "How Naive.")

I truly can't tell. but I believe everything happens for a good, greater reason. 

22/10/2016

rookie parent: the montessori edusession

di blogpost sebelumnya, gue curhat soal meeting 'dadakan' sama kepsek dan gurunya bumy di sekolah. dari situ sempat kesebut juga soal seminar yang diadain di sekolah Bumy. dilanjutin yaa ceritanya.

jadiii, di awal term kemarin, dalam rangka Parents-Teachers Conference (PTC), sekolah Bumy ngundang psikolog bu Alzena Masykouri buat ngasih materi berjudul "Understanding Child Development aged 6-12 years old."
gue sendiri excited banget buat denger materinya, maklum ortu amatiran yang untungnya masih haus belajar. timing yang dipilih juga pas banget buat ngasih materi ini, yaitu di awal tahun ajaran. bisalah dianggap effort supaya ortu dan sekolah bisa satu visi dan misi.
seperti PTC sebelumnya, juga ada presentasi dari para guru mengenai yaitu topik dan metode pembelajaran yang diterapkan dalam tiap aktivitas montessori. guru-guru SD mendemonstrasikan metode belajar bahasa, matematika, science, Islamic studies dan lainnya menggunakan apparatus Montessori. 
guru sedang mendemonstrasikan penggunaan apparatus montessori

demonstration of learning math the montessori way

sesudah sesi presentasi guru, akhirnya dimulai juga penyampaian materi dari bu Alzena. pertama-tama beliau menanyakan ke kita para audiens, kenapa sih memilih SD montessori buat nyekolahin anak?
jawabannya tentunya macem-macem.. yang kemudian sama beliau dibawa ke seperti apa ciri khas pendekatan montessori.
jadi, pendekatan montessori yang memberikan pendidikan sesuai tahapan perkembangan anak (developmentally appropriate practice), punya ciri khas mengenalkan konsep secara konkret, bersifat interaktif, dan menerapkan mindful-ness dalam aplikasinya.


beliau kemudian mengajak kita mengenali seperti apa ciri-ciri anak usia middle childhood. bu Alzena menjelaskan kalau secara ilmu, ciri-ciri anak tadi bisa dikategorikan dalam empat hal, antara lain kognitif, fisik, afektif, dan sosial.
sembari kita orangtua menyebutkan ciri-ciri yang dikenali dari anak sendiri, bu Alzena nulisin masuk ke kategori mana ciri tersebut.
hasilnya begini,
1. kognitif - wujudnya berupa pengetahuan yang bertambah luas, semakin ingin tau, kreatif, kemampuan berkomunikasi yang semakin baik, semakin banyak maunya, bisa talk back kalo dikasih tau (haha), dll.
2. fisik - berupa badan yang meninggi, gigi bertambah banyak, makannya juga jadi lebih banyak, dll.
3. afektif - sikapnya minta diperhatikan, maunya harus diturutin, lebih susah dikasih tau, ekspresinya kadang lebay, dll.
4. sosial - lebih pede, lebih mandiri, makin tertarik membentuk persahabatan dan teamwork, ingin disukai dan diterima teman-temannya, dll.


dalam ilmu psikologi, di rentang usia 7 sampai 11, anak-anak sedang berada di periode perkembangan kognitif yang disebut oleh Jean Piaget sebagai tahapan concrete operational.

keseluruhannya ada 4 tahapan sbb:
1. tahap sensory motor usia 0-2 tahun
anak mengenal dunia lewat gerakan dan sensasi.
2. tahap preoperational usia 2-7 tahun
anak mulai mengenal berpikir lewat simbol dan belajar menggunakan kata-kata dan gambar untuk mewakili objek. meskipun udah lebih fasih berbicara, tapi anak masih cenderung berpikir dan memahami hal-hal secara konkret.
3. tahap concrete operational usia 7-11 tahun
cara anak berpikir udah lebih logis dan terorganisir, tapi masih sangat konkret - mereka masih kesulitan menangkap konsep yang abstrak atau hipotesis.
4. formal operational usia 12 tahun ke atas
anak sudah bisa mengerti konsep abstrak atau bersifat hipotesis. ketika sudah remaja, mereka mulai memikirkan soal isu moral, filosofi, etika, sosial dan politik yang membutuhkan penalaran teoritis dan abstrak.

dari situ, bisa disimpulkan kalau cara anak berpikir pada dasarnya berbeda dengan orang dewasa. anak-anak middle childhood, berada di tahap concrete operational. yang meskipun kemampuan berkomunikasinya udah lebih baik, tapi masih belum bisa memahami hal-hal yang abstrak. karena itulah, pendekatan montessori yang mengenalkan konsep secara konkret dianggap paling tepat untuk anak usia middle childhood, karena sesuai banget dengan tahap perkembangan anak usia tsb.


bu Alzena speaking

Bu Alzena lantas "menceritakan" soal taksonomi Bloom. dalam konteks pendidikan, sesungguhnya ada tiga kawasan di diri anak, antara lain
1. kognitif
2. afektif
3. psikomotor

yeuk dibahas satu-satu.

- kawasan kognitif ini isinya perilaku yang menekankan aspek intelektual. kayak kemampuan berpikir, kemampuan memahami, kecerdasan, dan keterampilan.

- kawasan afektif berisi perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, kayak sikap, minat, dan apresiasi. wujud penerapannya dalam mendidik anak, yaitu mendidik dengan melibatkan faktor afektif juga. suka denger 'kan omongan psikolog atau expert pendidikan kalo anak bisa menyerap materi dengan lebih cepat dan lebih baik kalau perasaannya bisa disentuh?

- kawasan psikomotor isinya perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik kayak tulisan tangan, kemampuan mengoperasikan sesuatu, atau kebisaan berenang. materi yang kita ingin untuk anak kuasai bisa disampaikan lewat gerakan. gue inget pada PTC beberapa waktu silam para guru mendemonstrasikan cara mengenalkan abjad pada anak yang ternyata nggak cuma lewat see & tell, tapi juga bisa lewat menggerakan jari di atas sandpaper, pun pakai gerakan badan seperti ngajak anak olahraga atau joget.

nah, dari sini bisa disimpulkan kalo stimulasi kognitif tetep perlu, tapi bukan cuma itu doang yang perlu digempur.. inget kalau ada kawasan "feeling" sama "psikomotor" juga yang perlu dikembangkan.

pendekatan montessori memberikan stimulasi yang menyeluruh dengan mengembangkan seluruh kawasan di diri anak, sementara sekolah konvensional cuma menekankan atau menggempur kawasan kognitif. jadi inget sekolah gue dulu, deh... dan ini juga yang bu Alzena sampaikan, pendidikan sekolah tipe old-school memproduksi banyak anak yang ketika sudah melewati masa middle childhood justru 'tumpul' feelingnya dan/atau nggak bisa olahraga. padahaaal semua kawasan itu sama penting dan krusialnya untuk dididik.

berikutnya, bu Alzena ngasih masukan tentang gimana cara stimulasi yang tepat yang bisa dilakukan orangtua untuk anak-anak usia middle childhood ini.

- di kawasan kognitif, orangtua bisa menawarkan kesempatan belajar buat anak lewat berbagai cara. misalnya dengan membaca bersama anak untuk meng-encourage anak membaca. gunanya banyak, di antaranya untuk menambah kosakatanya dan meningkatkan konsentrasi.

butuh nggak les yang bersifat akademik? 
nah di sini bu Alzena ngejelasin seputar hobi, minat, dan bakat. ketiganya hal yang berbeda. hobi itu kegiatan produktif yang dilakukan anak di waktu luang. "anak harus merasa bosen dulu untuk mencari kegiatan," kata beliau. tapi inget, kegiatannya harus yang produktif untuk bisa disebut hobi.

anak disebut punya bakat, jika ia mampu menguasai suatu hal dengan lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan anak lain.
sementara minat, ya ketertarikan anak, yang bisa berubah-ubah. satu hari minat main bola, hari lain minatnya karate.

tugas orangtua adalah (hanyalah?) memancing anak, untuk mengenali bakatnya, untuk memfasilitasi minatnya, dan untuk mengarahkan anak memilih hobi (yang produktif, cateut).
menurut bu Alzena, anak boleh ambil les kalau memang BUTUH. either untuk mengembangkan bakat atau butuh secara akademik JIKA kemampuan anak ada di bawah rata-rata. karena yang dibutuhkan anak usia middle childhood lebih ke kegiatan yang mengasah di bidang olahraga dan seni.

- di kawasan fisik, disarankan kita terus memantau tumbuh-kembang anak secara rutin. sehingga bisa segera diketahui kalau ada hal-hal yang perlu perhatian khusus. tinggi anak sebaiknya diukur secara rutin. trus ditekankan juga pentingnya resting time.

sekolah anak gue setiap harinya berjalan sampai jam 3-4 sore. kalau anak bisa/mau tidur siang itu bagus, tapi kalau nggak, yang penting mereka dapet resting time, yaitu waktu untuk bisa leyeh-leyeh secara fisik tanpa distraksi tv/gadget atau teman/saudara lain. semacam "me time" kali ya, di mana anak bisa memulihkan diri lagi setelah beraktivitas.
bu Alzena juga menekankan pentingnya berolahraga buat anak. disarankan anak mengikuti olahraga rutin selama 1 jam setiap minggu. kalau berenang, bukan yang cipak-cipuk nggak terarah, tapi yang beneran belajar teknik berenang. begitupun kalau main futsal, yoga, atau lainnya. gue artikan berolahraga di sini berarti mengalokasikan waktu dan tenaga untuk menguasai teknik tertentu secara terarah.

- sekarang kawasan afeksi, ini nih yang banyak pe-ernya...
anak usia middle childhood kebutuhan sosialnya besar. karena emang lagi begitu adanya sesuai dengan tahap perkembangan mereka. buat mereka, ini masanya buat mulai berinteraksi dengan scope dunia yang lebih lebar, seperti di sekolah. di masa ini, peer pressure juga akan terasa lebih kuat buat anak. semakin anak merasa nyaman dengan dirinya, semakin kuat pula ia dalam menghadapi terpaan peer pressure yang negatif dan justru akan bisa membuat pilihan yang baik untuk dirinya sendiri.
apa yang perlu dilakukan orangtua?

bu Alzena lantas menjelaskan soal tahapan emosi, yang terdiri dari: Merasakan - Menyatakan - Mengidentifikasi - Mengelola. 
anak butuh banget peran orangtua sebagai coach untuk mengelola emosinya. caranya?

- the priceless stuff in life come for free. berikan perhatian dan kasih sayang sebanyak-banyaknya buat anak. kata kuncinya adalah "mindful" yang tadi udah disebut di awal. be present, be khusyuk saat bersama anak.
khusyuk 'kan berarti melibatkan perhatian dan segenap jiwa raga, jadi cencunya ya disingkirkan dulu segala beban pikiran yang dibawa dari kantor dan segala layar yang tangtingtung minta perhatian. 
ajak anak ngobrol soal sekolah - bukan soal pelajaran sekolah atau soal dapet nilai berapa di sekolah - tapi soal apa yang terjadi di sekolah. siapa temen baiknya, apa yang bikin dia senang, apa hal baru yang dia pelajari.

- ajarin anak untuk ngasih nama untuk perasaannya. "oh kamu sedih ya?" "kamu merasa marah?" "kamu kangen sama mama?"

- bantu anak mengelola emosi dengan menunjukin cara penyaluran yang sehat dan aman untuk meluapkan emosi. emosi negatif bukan berarti harus dipendam atau dianggap nggak ada. acknowledge perasaannya, kasih nama untuk perasaannya itu, dan ajarin cara yang tepat untuk mengelola emosi itu.

gosh... kayanya justru gue yang perlu menguasai ilmu seputar emosi ini deh, sebelum bisa ngajarin Bumy xD

bahasan lebih lanjut tentang kawasan emosi ini terjadi lewat sesi tanya-jawab.

- Ada orangtua yang bertanya gimana kalau anak mencontoh perilaku teman yang nggak baik. saran bu Alzena, orangtua bisa langsung menyatakan tidak suka (sama perilaku tsb) tanpa menjelekkan temannya.

beliau juga ngingetin, "imun, bukannya steril." dalam artian, jadi orangtua itu bukannya berusaha bikin anak steril dari segala pengaruh buruk di dunia ini, karena kita nggak bisa menghilangkan keburukan atau menghindar selamanya. tapi bikin anak punya kekebalan alami. ya seperti ulasan soal peer pressure tadi, bikin anak strong enough untuk bisa menimbang sendiri mana yang buruk dan mana yang jelek buat dirinya.
balik ke soal menyatakan ketidaksukaan akan kelakuan teman anak, pesan bu Alzena cukup menyentil, "Kalo kita punya hubungan dekat dengan anak, pasti dia mengerti."

- Ada yang nanya cara menumbuhkan motivasi anak, karena dirasa anaknya nggak seperti anak lain yang berani bahkan nyaman berkompetisi.
bu Alzena bilang, jangan pernah membandingkan anak dengan anak lain. TAPIII kita bisa ajak anak acknowledge perasaannya dan perasaan yang bakal ditimbulkan kalau dia misalnya, ikut berkompetisi atau rajin belajar atau suka menolong, dan sebagainya. choose our words wisely. jangan memuji hasil atau keberhasilan (anak sendiri atau anak lain), tapi usahanya. ini akan bikin anak fokus sama the joy of learning or competing or helping supaya menumbuhkan motivasi intrinsik.

- Bangun sense of responsibility anak dengan ngasih tugas rumahtangga. 
menurut bu Alzena, anak bisa dikasih sesuai usianya. hitungannya gini, 1 tahun 1 tugas rumahtangga.
sekarang Bumy hampir 7 tahun, berarti bisa dapet 7 tugas.

kita udah sepakati tugasnya dia ini:
1. merapikan kamar
2. mandi sendiri
3. makan sendiri
4. siapkan tas sekolah: baju ganti, comm book, snack box dan botol air.
5. cuci piring sendok gelas sendiri habis makan
6. kasih makan snack kucing peliharaan
7. jaga kebersihan electone


bu Alzena ngajak beberapa ortu jadi volunteer 'percobaan' hehe
"kenyang" banget deh rasanya setelah dengerin materinya bu Alzena.
dari sesi PTC ini, gue jadi tau gimana pandangan beliau soal pendidikan anak, di mana beliau paham banget soal montessori. 
nah, sebagai tindaklanjut meeting sama Kepsek kemarin, akhirnya kita putuskan untuk mulai konsultasi sama beliau. apa aja masukan yang didapet akan gue share di blogpost berikutnyahh. 



10/10/2016

term pertama di SD montessori: problems, excitements, etc


sebulan sesudah jadi anak SD, si anak terlihat.. well, baik-baik aja, sih.
di urusan akademis, dia nyambung-nyambung aja, nggak ada keluhan sama sekali. sekolahnya ini emang nggak ngasih PR, nggak ada ulangan maupun ujian (kecuali UN, yang if God's willing bakal udah dihapus pas Bumy mau lulus SD), tapi gue liat kemampuan kognitif dia terasah dengan baik, bahkan kalo dibandingin sama yang sekolah di tempat bermetode konvensional.

secara sosial, dia suka bilang kangen sama teman-temannya di TK (sekolahnya nerapin mixed-age classroom, jadi beberapa temennya ada yg masih TK). tapiii kayanya dia bisa move on sih, karena dia juga menyebut nama-nama baru yang nggak lama diakui sebagai BFFs-nya.
in short, he looks fine.

sampai suatu hari, ya sekitar sebulan sesudah Bumy di SD, gue dan Adit dipanggil ke sekolah.
kaget sih... kok tau-tau? tanpa ada agenda pertemuan ortu atau apapun. saking tegangnya (secara udah feeling bakal ngadepin urusan nggak enak), gue coba ngorek info dari si anak, "Bum, kamu ngerasa bikin yang aneh-aneh di sekolah, nggak?" tapi ya namanya bocah, gue nggak bisa dapet jawaban yang memuaskan.

besoknya ketika meeting, gue dan Adit ditemuin sama kepala sekolah SD dan guru kelas Bumy. pertama-tama mereka nyeritain gimana perkembangan bumy di sekolah. seperti yang gue rasain, doi bisa mengikuti dan beradaptasi dengan baik-baik aja. nggak ada masalah di urusan akademis whatsoever. tapiiii (here it goes) justru ada "concern" di urusan sosial.
glek....

concern pertamanya gini: Bumy suka menyebut nama seekor binatang di luar konteks. maksudnya buat lucu-lucuan, carper, ya intinya menarik reaksi dari temen-temennya. guru dan si kepsek bilang, kalau yang raising concern bukan karena Bumy ngomong begitu untuk memaki atau ngomong kasar, tapi karena udah ada beberapa temennya yang menyatakan terganggu dengan aksi penyebutan nama binatang itu, tapi Bumy tetep mengulangi.

waktu denger ini gue nggak kaget sih.. karena dia juga pernah ngelakuin hal yang sama di depan gue. konteksnya bercanda, sambil dia tiru-tiruin suara binatangnya. tapi yang gak gue sangka adalah di sekolah dia masih nyebut-nyebut itu binatang. padahal di rumah udah pernah gue jelasin kalo gue gak nyaman dengernya dan dia pun gak pernah mengulanginya lagi.
tapi ternyata... *pandangan mata mamah berkunang-kunang *bumi bak terbelah xD

kepseknya bilang, "mungkin ini menunjukkan Bumy udah acquire skills baru, bu. dia udah bisa memfilter mana yang bisa diceritain ke ibu, mana yang nggak."
doi nambahin lagi, di usia segini wajar ditemui isu anak 'bereksperimen' dengan penerapan aturan. dia lagi butuh assurance kalau aturan yang dia terima itu dijalankan dengan konsisten. makanya penting banget ada kesinkronan antara rumah dan sekolah... sehingga, untuk itulah gue dan Adit diajak 'ngobrol' soal ini. hoo... I see *manggut-manggut*


trus sekarang soal concern yang kedua.
isunya adalah anak ini lagi suka becanda yang "fisik" banget di sekolah sama temen-temen cowoknya. becandanya model pura-pura berantem gitu, yang alhamdulillah nggak sampai melukai anak orang atau gimana (jangan sampee).
in Bumy's defense, guru dan kepseknya bilang kalau concern ini emang lagi masanya buat anak-anak seumur Bumy. hampir semua anak cowok di kelasnya lagi 'hobi' becanda fisik seperti itu, yang mana mereka follow up juga ke orangtuanya.

Adit tiba-tiba berefleksi "apa gara-gara suka main berantem-beranteman sama saya ya?" *ih malah ngaku dia*
kepseknya sih bilang, becanda seperti itu sama orangtua sendiri malah diperlukan. gunanya supaya si bapak bisa jelasin batasan; ngasih tau kalau diginiin sakit lho, atau kalau kamu seperti itu bahaya lho.

*****

kalo dari lubuk hati yang terdalam, jujurnya gue kaget sampe dipanggil gini.
tapi semakin gue menyelami apa maksud dan tujuan pihak sekolah manggil, gue jadi makin ngerti kenapa komunikasi ini perlu banget diadain.
selain bikin gue jadi tau gimana perilaku Bumy di sekolah, pertemuan ini juga bikin gue melihat sisi lain dari sekolah yang udah gue pilih sebagai partner dalam mendidik Bumy ini.
hal-hal kayak

- sekolah ini lebih concerned kalo Bumy kelakuannya 'aneh-aneh' dibanding kalau misalnya dia belom bisa baca dan menulis dengan lancar.
just for the record, Bumy juga belajar baca tulis (maupun hitung)nya dalam 2 bahasa.. and he can do it all well. tanpa metode belajar yang terlalu demanding dan padat (gak ada PR, gak ada ulangan), kemampuan kognitif anak tetap terasah tanpa bikin anak stres.
gue pernah dengar ada orangtua yang dipanggil ke sekolah karena anaknya belum lancar calistung loh... dari pengalaman ini, gue jadi tau kalo sekolah ini fokusnya ada di urusan akhlak dan interpersonal anak, gimana bersosialisasi dengan baik, dan sejenisnya, alih-alih memusingkan anak gue udah se'pinter' apa.
isn't that relieving? buat gue sih iya.

- gurunya ADA. maksudnya bukan cuma hadir dan turut menyaksikan segala kejadian saat anak-anak bersosialisasi, tapi juga aware akan semua 'fenomena' sosial di kelasnya Bumy. dia tau Bumy love-and-hate-relationship sama siapa aja, tau tabiatnya Bumy, ya intinya bisa melihat Bumy secara menyeluruh.
again, I find it relieving.

- gue salut sama prinsip 'gerak cepat' mereka dalam menangani sebuah isu.. let me quote kata-kata dari sang kepsek, "dalam setiap mistake ada kesempatan belajar, tergantung kita bisa segera 'menangkap' kesempatan belajar itu atau nggak."
rasanya semakin lama meeting berjalan, semakin banyak juga ilmu yang gue dapet.

*****

sebelum meeting berakhir, sang kepsek ngomong sesuatu yang bikin gue ngerasa adem banget. beliau bilang, in case ke depannya ada konflik atau kejadian yang nggak diinginkan antara Bumy dan temannya di sekolah, mereka maunya sekolah yang turun tangan duluan. bukannya gue yang men-japri ortu lain atau ambil tindakan langsung untuk approach ortu lain; begitupun sebaliknya.

beliau bilang, "sebaiknya urusan di sekolah kami yang selesaikan bu, jangan langsung antar ortu. karena segala yang terjadi di ranah sekolah itu menjadi tanggung jawab kami."

ih!
mau nggak mau gue keingat sebuah sekolah yang dulu jadi tumpuan harapan gue.
kok ya beda bangetttt.
di sana mereka dikit-dikit nyuruh orangtua 'terlibat' - bahkan di ranah yang jelas-jelas jadi kewajiban mereka (misal: kebersihan sekolah sampai ada-nggaknya sabun cuci tangan di kelas!). waktu gue protes, eh malah dibilang lepas tangan, cuma mau tau beres, bahkan dicap "ambivalen." haha.

obrolan sama kepsek sekolah yang sekarang ini bikin kesadar, kalau beginilah yang namanya punya PARTNER. setiap pihak berfungsi sesuai ranahnya masing-masing, bukannya segala hal dikembaliin ke ortu. fungsi pendidik(an)nya mana kalo kaya gitu??

oke oke, ntar disangka belum move on kalo bahas-bahas yang itu lagi xD
intinya in the end gue justru 'seneng' dapet kesempatan belajar kaya gini.
ternyataaa gini toh rasanya jadi orangtua anak SD hehehe.. other than that, I think this current school has really set the bar high in terms of education standard. for me personally, to say the least.

anyways di akhir Agustus lalu, sekolah Bumy ngadain parents-teachers conference (PTC), seperti yang rutin dilakuin setiap awal semester.
gue pernah ceritain di blogspost ini, kalau PTC biasanya diisi presentasi dari para guru tentang topik dan metode pembelajaran yang diterapin di sekolah.

tapiii, ada yang berbeda nih begitu udah di SD. kemarin, selain ada sesi presentasi dari guru, juga ada sesi edukasi dari psikolog. sesi yang dikasih judul Parenting Sharing Session ini mengundang psikolog bu Alzena Masykouri.
materi yang diberikan ke kita para orangtua adalah tentang "Understanding Child Development aged 6-12 years old." sesuai banget pastinyaa sama audiens terutama yang kayak gue, yang baru pertama kali nyekolahin anak di SD.
selain itu, timingnya yang dipilih untuk memberikan materi ini juga pas, yaitu di awal tahun ajaran. paling nggak kegiatan ini bisa dinilai sebagai usaha supaya ortu dan sekolah bisa on the same page baik dari segi pemahaman tentang montessori maupun ekspektasi dalam mendidik anak. karena as we know, montessori emang menekankan pentingnya link atau keterhubungan antara keluarga dan sekolah.

cerita soal materinya gue lanjutin di blogpost selanjutnya aja, yah. setelah denger bu Alzena ceramah di event PTC ini, gue sempat konsultasi langsung juga sama beliau. tujuannya ya sebagai tinjut meeting kemarin. pertemuan-pertemuan dengan beliau ngasih banyak pencerahan ey, so I think it would be nice to share it here, supaya bisa jadi bahan referensi di masa depan.
just wait for it, okaay.

18/02/2015

imunisasi (lagi) di Markas Sehat


akhirnyaa imunisasi Bumy dilanjutin lagih. jadi 'kan emang udah saatnya ngulang beberapa imunisasi/vaksinasi di usia 5 tahun. tapi, mohon dimaklumi ibu pemalas namun banyak agenda ini adaaa aja alasannya untuk menunda jadwal imunisasi anaknya. imunisasi batch pertama DTP + polio udah diambil desember lalu. selanjutnya ada typhoid, MMR, dan direkomendasiin untuk ambil PCV juga sama DSA langganan. entah dapet wangsit dari mana, Adit tau-tau beride, "Bumy imunisasinya di Markas Sehat aja." padahal udah lamaaaa banget kita nggak ke situ. 

sekitar hari selasa, gue tanya jadwal praktek dokter, dikasih tau kalo dr. Wati ada praktek hari minggu. hmm, terakhir gue sowan sama beliau itu pas Bumy  mau masuk PG dan perlu rekomendasi keterangan sehat dari DSA. udah kebayang sii bakal seperti apa kunjungannya kelak, hehehe. berasa banyak dosa, pemalas dan oon banget kalo abis ketemu beliau xD banyak dosa sama anak, lebih tepatnya!
lalu akhirnya hari yang dinanti-nanti (well, not really!) tiba jua. minggu pagi itu kita sempet ke ragunan, olahraga kecil-kecilan sambil menghirup udara segar. tapi tau-tau udah jam 9 aja, dan kok ya nanggung mau balik ke ciganjur dulu sementara jadwal visit dokternya jam 10:40. karena nggak ada persiapan, tentunya buku rumahsakit Bumy nggak dibawa. sempat dilema apa mau go show aja (dengan penampilan bak joggers ala-ala, lengkap dengan bau keringat dan wajah berminyak.. eww). tapi akhirnya kita mutusin balik dulu ke rumah, and it turned out to be a wise decision. 

begitu ada di dalam ruangan konsultasi, hal pertama yang 'dikritik' eyang dokter adalah "Kok imunisasinya nggak sekalian aja kemaren?" ek. strike one. 

percuma deh, gue mencoba mengelak dengan 'belain' dokter yang kemarin ngevaksin hahaha. akibatnya, kenyang diceramahin dan dikasih tau berulang-ulang "ibu gabung milis sehat deh, biar bisa belajar bareng-bareng!" (padahal akyu udah gabung milis sehat dari 2009, tapi sengaja nggak ngaku! soalnya udah lama nggak buka folder milis tsb dan buka situs milissehat.org kalo lagi perlu contekan doang xD) 
tappiii, meskipun jlab-jleb tertusuk dan tertunduk malu, ada beberapa wejangan dari beliau yang meskipun hit me (eh "us" ding!) in the gut, tapi berhargaaaaa banget.
gue mau share di blog ini dengan disclaimer pemaparan ini hasil interpretasi gue sendiri yaa, jadi kalo ada yang kurang tepat pasti itu dari gue jadi silakan dikoreksi.

1. vaksinasi itu sebaiknya simultan dan tepat waktu. simultan maksudnya beberapa vaksin bersamaan. misalnya di usia 4 bulan, berarti anak dikasih vaksin yang bertanda angka 2 kayak gambar jadwal imunisasi di bawah secara simultan (polio, DTP, Hib, PCV, rotavirus). simultan dan tepat waktu ini selain supaya vaksinasinya efektif, juga untuk meminimalisir kunjungan anak ke klinik atau RS. di tempat-tempat itu 'kan anak bisa terekspos sama penyakit yang bermacam-macam. udah gitu, perlu tepat waktu juga untuk mengurangi risiko anak terkena penyakit yang belum divaksinkan. selama anak belum dapat vaksin tertentu, berarti ada masa di mana tubuhnya belum terlindungi dari suatu penyakit. 

Gambar dari sini
terkait meminimalisir kunjungan, gue jadi inget adek gue yang TIAP BULAN bawa anaknya ke RS untuk vaksinasi. gue juga heran sih, kok tiap bulan sangat?? perasaan Bumy dulu DSA-nya meski gak RUM-RUM amat tapi mau ngegabungin beberapa vaksinasi. tapi kalo dipikir-pikir RS langganan adek gue itu emang RS baru, sih... swasta pula. :|

anway, the #jleb part is when dr. Wati said "kalo kaya gini yang rugi siapa? ya anak!" er, um... *senyum-senyum lugu*
nah, berkat bawa buku rumahsakit, jadi bisa keliatan history vaksinasi Bumy dan hasil  konsul sama DSA lain. dr. Wati jadi ngasih insight tentang vaksinasi mana aja yang sebenernya perlu, mana yang nggak efektif lagi buat anak seusia Bumy, dsb. 

2. dokter terbaik buat anak adalah... orangtuanya sendiri. this is another quotable sentence from her. "jangan alesan 'yah baru anak pertama, dok, belum ngerti.' makanya, gabung di milis sehat supaya gak ngulangin kesalahan yang sama." dia ingetin kalo diskusi di milis itu lebih dinamis dan juga lebih current, karena namanya ilmu 'kan selalu berkembang. making mistakes jangan jadi excuse #strike #jleb. padahal gue udah pernah ikut workshop PESAT lohhh x))) emang sih, jadi jauuh lebih berdaya (empowered) ketika udah dapet ilmu lewat workshop ini. cuma emang, akibat nggak ng-update ilmu, ya suka kebawa panik lagi begitu anak sakit. 

3. selama masa kanak-kanak, anak perlu medical check up sebanyak 3 kali. pas masih bayi (usia 1 tahun kalo nggak salah? eh lupa guee, CMIIW, pls!), usia 5 tahun, dan usia pre-teen. kita patut mewaspadai gaya hidup modern yang meskipun way more practical, tapi mengakibatkan manusia kurang beraktivitas outdoor dan lebih banyak exposure ke gadget. akibatnya ya macem-macem; masih anak-anak tapi matanya udah plus sebelah lah, atau kolesterolnya tinggi, dsb. perlu juga dicek fungsi organ-organ tubuh anak. beliau bilang, "nanti ngasih tau hasilnya nggak usah pake visit lagi! kirim aja ke email." God, salut banget deh, sama dokter satu ini. bener-bener 'pendobrak' pakem, terutama dalam urusan hubungan antara dokter-pasien. way too inspiring :)

No telpon Markas Sehat: 021-7128-4653 | 0812-8355-2332

Markas Sehat kini lebih berwarna

anak gueh... -__-

05/02/2015

so it goes

maigat udah februari aja. apa kabar resolusi?! 
eh lupa, i didn't have any this year. 
tapi ada, sih, semacem "niat" gitu, misalnya tekad nyelesaiin baca 2 buku dalam sebulan. 
(terlalu cetek, ya? realistis aja sih gue, abis nyari waktu buat bacanya aja susah - kalaupun ada, kalah mulu sama hasrat megang gadget.) 

udah lama rasanya nggak mengoceh ngalor-ngidul di blog. 

kemarin gue baca artikel di FD yang isinya wawancara sama blogger inspiratif. ketika diminta ngasih 'wejangan' buat sesama blogger (yang belum setenar dese) adalah to stay true to our passion in blogging. keep updating. dan, jangan asal-asalan. 
er... kayaknya yang paling belakang itu justru yang gue 'langgar', deh. gue tau sih, kalo gue asal-asalan banget dalam ngisi blog. apa yang lagi ada di pikiran dan (terutama) hatek yang ditulisin. palingan kalo abis ikutan acara tertentu gue dengan serius bikin reportasenya. 

tapi emang niat awalnya juga nggak mau nyari apa-apa sih dari blogging ini... even though that's not entirely true, heheheh. seneng kalo dibaca, seneng kalo ngasih insight buat orang lain (paling nggak orang jadi tau untuk nggak ngelakuin apa yang gue lakuin), seneng kalo dikomenin. standarlah. 

tujuan yang awalnya nggak disadari ya ternyata blog bermanfaat buat dokumentasi idup. oh tahun segini gue begini begitu. oh pas bumy umur segini, dia suka ngomong apa, dll. 

ok, back to curhat. 

hal pertama yang (sebenernya) kepikiran pas mau update blog adalah ngebahas soal les-les bumy yang gue pindahin tempat dan waktunya. so far, bumy ikut 2 macem kegiatan di luar sekolah. sebenernya gue udah pengen ikutin dia Gen Cerdik juga, sih, tapi sama adit dikasih warning, "udah deh, umurnya baru segini, nggak perlu banyak-banyak lesnya."
haha nampaknya beta silap nih, terlalu ambisius (buat anak!)...

les yang satu, yamaha di mol deket kantor bapaknya. sejak pindah sekolah - yang durasinya 4,5 jam - dia masih ikut les yamaha seminggu sekali. kebetulan, dari sekolah ke mol tersebut waktu tempuhnya bentar banget. cuma 20 menit, kali. biasanya bumy tidur dalam perjalanan pulang dari sekolah. tapi karena waktu tempuh yang sebentar ini, dia nggak sempet tidur. lagian kalo dia tidur, gue yang pusing harus bangunin doi dan ngadepin cranky-nya. kalo harus gendong sih gue udah nyerah. 


walhasil, selama les yamaha, dia lagi ngantuk-ngantuknya. susah konsentrasi, dan 'berulah.' kebayanglah bocah kalo lagi ngantuk kayak gimana x(
jadi gue ngerasa ini nggak efektif, dan mulai berniat mindahin bumy ke tempat yang deket dari sekolah dan waktunya juga enak. akhirnya dapetlah tempat les baru, yang kebetulan nggak bertempat di dalam mol dan di dekatnya ada outdoor playground. 

minggu ini, les perdana kita di tempat baru. sambil nunggu waktu les tiba, bumy main di playground yang letaknya satu kompleks sama si tempat les. 
trus yang nyenengin, karena nggak di dalam mol, biaya parkirnya jadi SUPER murah. signifikan banget, ada kali berkurang 90%. udah gitu juga nggak kudu keluyuran di mol dan berdampak pada pengen ini-itu. gue jadi inget tausiyah dari seorang ustadz yang nyaranin jangan sering-sering ngajak anak ke mol. to tell you the truth, guess i am a conservative at heart. makanya agak bete pas liat gerai underwear ternama buka di mol tempat les sebelumnya, menampangkan poster wece-wece berpakaian dalam nan hot dalam ukuran jumbo. i think there should be somekinda "rate" applied untuk iklan visual di tempat-tempat tertentu, deh. just like games atau tontonan. mol yang ada tempat main anak-anak ternama gitu loh, setiap harinya disambangi ratusan anak-anak gue rasa, tapi nampilin iklan yang cenderung R-rated. 

anyway, kesan yang didapatkan selain hal-hal teknis pendukung tadi tuh... guru lesnya beda tipe dari yang sebelumnya. yang dulu lebih senior, berpengalaman, dan terasa lebih 'stern' but in a good way. 
tapi yah namanya perubahan, i should give adaptation a time. 

oh ya, satu lagi les renang. tempatnya sih masih sama, di anak air. tapi gue ganti waktu, lagi-lagi karena sebelumnya waktu lesnya juga nanggung, di saat anak (dan emak) sama-sama udah tepar tapi harus keluar rumah lagi untuk ngeles, jadi gue mepetin waktu lesnya ke waktu keluar sekolah. gara-gara ganti jadwal, gurunya terpaksa ganti juga. lagi-lagi, semoga bumy cocok sama gurunya dan bisa makin skillful deh. 



trus, pernah gue sebut selintas kalo sekolah bumy udah pindah lokasi. waktu kita lagi trial 3 bulan lalu, sih, dijanjiin bakal pindah januari ini, dan emang kesampean. sekarang, dari segi fasilitas udah oke bangetlah. ada taman yang luas, playground, kolam renang, bahkan cooking class room, dan music & dance room segala. cuma emang pas kita dateng kemaren belum rampung semua. tapi di sisi lain, selain jadi agak khawatir soal biaya (pastinya!), kita juga perlu beradaptasi sama 'gaya' baru sekolah. 

sebelumnya 'kan lokasi sekolah tuh homey banget. satu kelas (kebetulan kelas bumy) ada di rumahnya kepsek, sementara kelas tk yang lain dan sd ada di lahan di sebelahnya. dulu sih, kalau anter-jemput biasa aja sistemnya. ortu bisa melepas anak sampe ke pintu kelas. tapi sekarang, diterapin sistem kayak di (yang gue tau dan pernah alami) cikal, atau sekolah-sekolah yang pakai jasa pihak ketiga buat jasa securitynya. ortu nganterin cuma sampai tempat drop off (tapi mulai ada penyesuaian sih, dalam hal ini. kalau kita kepagian nganter anak ke sekolah, anak-anak boleh nunggu di library sampai guru-guru dan kelasnya ready). 
begitupun pas ngejemput, anak-anak dibarisin dulu, ortu/penjemput ngasih liat kartu penjemput, baru anak bisa diserahkan. 
emang wajar dan seharusnya seperti itu, sih. tapi seperti dicurhatin ibu-ibu di grup watsap, jadi sedikit kangen suasana sekolah lama yang 'rumahan' dan akrab. hehe, dasar manusiah ya, suka menginginkan apa yang (udah) nggak dimiliki.

but then again, what is life without a little bit of change, right? to live means to keep moving... flowing... and adapting. 


15/01/2015

scribbles

beda banget sama bulan kemaren, januari ini gue rajin banget ngeblog, dah (tapi minim nulis artikel huhu). baru keinget kalau ada beberapa cerita yang 'tercecer' dari tahun lalu dan sayang kalau nggak didokumentasikan.

- ultah bumy yang kelima. 
yaay, alhamdulillah anakku udah 5 tahun, hehehe. udah bisa apa aja, bundaaa? :))) 
hmm, yang paling terasa dari semakin besarnya dia tuh antara lain pertanyaan-pertanyaan dan celotehnya yang semakin 'menarik.' nanyanya bukan lagi "itu apa? ini apa?" melainkan "KENAPA?" 
segala hal, deh, ditanya. dari yang challenging sampe yang bikin kesel. 

kalau gue mencoba menebak personality bumy dari sejauh yang gue perhatiin dan rasain, gue anggap dia pribadi yang penuh perhatian. he cares about how he makes other people feel. he's also a bit sensitive. bukannya mudah uring-uringan nggak jelas, sih (thank God), tapi dia bisa nunjukin apresiasi ke hal-hal kayak musik atau attitude orang lain, atau ngeliat anak kucing terlantar di mayestik bisa bikin dia murung dan matanya berkaca-kaca... :}
dia juga semakin "social"; main sama siapa aja, kalo ke tempat baru pasti dapet teman baru. ke playparq sejam, udah dapet temen akrab kayak udah kenal 3 bulan. di sekolahnya yang baru, syukurnya hal ini memudahkan proses adaptasi doi. he's friends with everybody - meski suka jaim kalo disapa temen-temen cewek. di lingkungan rumah, dia masih akrab sama his dearest Naya, hehe. trus juga masih suka temu kangen sama temen-temen dari eks-sekolahnya. 

btw, ultahnya kemarin semacam dirayain kecil-kecilan di sekolah. kecil-kecilan karena emang cuma dirayain secara montessori, tanpa kue ultah dan bagi-bagi bento aja. 


pakai mahkota, selempang, lantas bawa globe keliling lingkaran 5 kali.

sebelumnya, di rumah, tepat pas tanggal lahirnya kita makan bareng mricans di CJ tom yum. abis itu, beli kue ultah buat dipasangin lilin angka 5 dan ditiup di depan oma-opa, haha. oh ya, kayak tahun lalu, ditiupnya bareng Naya. :D




buat urusan di sekolah, alhamdulillah meskipun udah berada di belahan dunia yang berbeda, bunda Nisha teteeppp mau direpotin. huhu, makasih yahh bundoo. gue minta tolong didesainin stiker buat ditempel di kotak bentonya nanti. bentonya sendiri gue pesen sama Puan - rasanya enak, loh. 
udah, gitu aja, nggak pake goody bag-goody bag-an, haha. tambahannya cuma pesen kue bolu ketan item buat guru-guru dan staf sekolah. 


thanks again, bundo :*



potongan kue pertama


kedua. mamaknya? bagian moto doang...


so proud of himself karena disuntik nggak nangis haha
lainnya dari usia 5 tahun ini adalah waktunya mengulang beberapa imunisasi. ini sebenernya diingetin dokter pas Bumy dirawat gara-gara DBD kemarin. yang kemarin udah baru polio sama DPT. selanjutnya ada MMR, Hib, dan tifoid juga kalo nggak salah. trus karena Bumy belum pernah vaksin PCV, disaranin buat ambil vaksinnya juga on the next visit.


- berkunjung ke tempat-tempat "hip" di kalangan kelas menengah ng*hek, yaitu Ikea dan PIK. 
hkahkakhahkk. sayangnya belum ke pasar santa xD

pas ke Ikea, gue sama adit berduaan aja karena kebetulan Bumy bisa dititipin ke oma. kita dateng hari Sabtu jam 2an gitu. ternyata salah timing, deh, karena rame buanget. padahal waktu itu bukan tanggal muda, hehehe... gue pikir macem di Hyperm*rt gituh, yang ramenya pas abis gajian aja. 
begitu masuk ke parkiran, kagum karena parkirannya gratis! tapi pas masuk ke dalem sih nggak gitu heran, karena ya sama kayak di singapur. cuma animo masyarakat endonesa ini bener-bener tinggi, yah. mulai dari orok sampai tua renta ada semua di situ, nggak ada satu pojokan pun di sini yang nggak rame. bahkan di toilet pun antre. 
tadinya gue sama adit udah antre beli makanan di restonya, tapi mengular banget dan kayaknya kita nggak bakal kebagian duduk juga. akhirnya nyerah dan beli hotdog plus es grim 4 rebuan aja. xD


tapi, emang setiap kunjungan ke ikea tuh membuahkan inspirasi, ya. at least buat gue sih gitu. 
adit yang mantan barista pernah nyeritain soal konsep "starbak experience." ini maksudnya setiap kostumer sbux disuguhi 'dunia' a la sbux dengan dekorasi interiornya yang nyaman bin modern, dengan istilah-istilah dan penamaan khas sbux untuk sajian beverages-nya, things like that. 
nah, kunjungan ke ikea ini membuat gue ngerasain hal semacam itu, yang gue sebut sebagai "an ikea experience." suguhan contoh dekor dengan bermacam-macam gaya, alur penempatan barang-barang dagangan dan rute 'perjalanan' kita dalam toko superbesar yang udah dirancang sedemikian rupa sehingga nggak ada yang kelewat untuk kita nikmati (walhasil pegelnya sama banget kayak pas di ikea singapur; cuma untungnya di sini nggak harus gempor jalan kaki menuju MRT), arcade hotdog murah - es krim 4 ribu - kopi/teh/soda yang diambil sendiri, trolley untuk memuat makanan di resto yang unik imut-imut itu, bahkan sampai font dan warna signage yang simpel-namun-jelas-dan-tentunya-stylish; semuanya "khas" ikea. ikea banget. cuma bisa dialami di 'dunia' ikea, kurang-lebih begitu. 

meskipun nggak gitu menikmati kunjungan perdana karena manusianya buanyak banget, tapi gue keluar dengan perasaan yang segar. refreshed. contoh-contoh dekorasi untuk segala macam ruangan berhasil bikin excited untuk dikit-dikit mempercantik rumah lagi. penggunaan item-item sederhana macam ambalan atau rak buku simpel atau frame foto atau apalah itu yang bersatu-padu dengan cantiknya ketika ditempatkan dengan tepat bikin berseru, "waah, ternyata bagus, ya, kalo digituin!" 

begitu juga ketika mendengar seruan antuasias seorang oma-oma ke suaminya - sang opa-opa, "kita bisa taro kayak gini di kamar, nih!" dan melihat pasangan muda dengan dandanan a la kustomer go*ds dept yang bersikap aloof dan awkward di tengah lautan keluarga-keluarga suburban, namun dengan suara pelan berkata ke satu sama lain, "aku pengen karpet ini... eh, sofa kayak gini cocok, deh, buat di ruang tamu kita, eh yang itu juga...." hihihi. 
terasa banget antuasiasme positip orang-orang di situ buat bikin 'sarang'nya lebih keren dan nyaman ditempatin. 

but ofkorrsss, gue inget 'sabda' penyeimbang dari "the fight club" yang bilang,
"Like so many others, I had become a slave to the Ikea nesting instinct."
meskipun itu baru gue sebut-sebut di pikiran ketika mencoba menahan diri supaya nggak kalap beli ini-itu, sih... kekekek. tapi gue pastinya mau berkunjung lagi, on a much comfortable time, buat menyegarkan mata dan nyobain duduk-duduk ketje di restorannya, seenggaknya.  

oh ya, kalau ke PIK, waktu itu kita nyoba dateng pertama kali siang-siang, hari kerja pula. berhubung panas banget, gue agak males motoin tampilan luar rupa-rupa toko yang cantik dan lucu-lucu. kita cuma berkeliling trus capcipcup milih tempat desserts. yang kita pilih lumayan juga, namanya Honey Bean. maunya sih nyoba makan berat kalau ke situ lagi.




- happy news from the singletons.
fresh from sydney! ujug-ujug ngasih undangan

some of them tied the knot recently. Ika, my dearest pal from tlkm, akhirnya menemukan belahan hatinya yang ternyata seorang binusian hahaha. Dyah, akhirnya mengalahkan segala rintangan dan nikah sama sang kekasih hati, ihikhik. kabar-kabar ini bikin bahagia. bukan soal berganti statusnya yang bikin begitu, tapi karena gue tau banget mereka tuh pribadi-pribadi keren tak ternilai bak berlian, yang bertransformasi dari gadis-gadis muda jadi perempuan-perempuan dewasa yang mau berbagi hidup sama orang lain. yes, they went through that process of growing up first before they got married, nggak kayak gue yang nikah pas masih 'bocah' banget, hehehe, dan itu keren. so, i'm happy for their courage and the decision they chose to make. saya bersulang dengan segelas es krim buat kalian; langgeng selalu, yah.

berhubung post ini sudah terlanjur poanjang, gue bubuhi dengan foto-foto sekalian, deh.



menemukan tempat ini di belantara cilandak. tried it. dan, kok ya, jadi enggan balik lagi haha.
pada suatu hari, gue dikabarkan menang 'lomba' kirim foto yang diadain sama Rimba Baca. a few days later we picked up the present dan ternyata isinya ini! seneng banget Bumy dapet buku-buku bagus inih. thanks, Rimba!
my birthday feast. ekonomis! :)))


wedding gift DIY, dibikin di dalam pojok crafting toko paper clip SMS berdua adit. berbekal gunting pinjaman dari toko frame dan double tip, jadilah ini. semoga sudi dipasang di "love nest" mereka hahaha...


just... love it :)