Showing posts with label school. Show all posts
Showing posts with label school. Show all posts
10/10/2016
term pertama di SD montessori: problems, excitements, etc
sebulan sesudah jadi anak SD, si anak terlihat.. well, baik-baik aja, sih.
di urusan akademis, dia nyambung-nyambung aja, nggak ada keluhan sama sekali. sekolahnya ini emang nggak ngasih PR, nggak ada ulangan maupun ujian (kecuali UN, yang if God's willing bakal udah dihapus pas Bumy mau lulus SD), tapi gue liat kemampuan kognitif dia terasah dengan baik, bahkan kalo dibandingin sama yang sekolah di tempat bermetode konvensional.
secara sosial, dia suka bilang kangen sama teman-temannya di TK (sekolahnya nerapin mixed-age classroom, jadi beberapa temennya ada yg masih TK). tapiii kayanya dia bisa move on sih, karena dia juga menyebut nama-nama baru yang nggak lama diakui sebagai BFFs-nya.
in short, he looks fine.
sampai suatu hari, ya sekitar sebulan sesudah Bumy di SD, gue dan Adit dipanggil ke sekolah.
kaget sih... kok tau-tau? tanpa ada agenda pertemuan ortu atau apapun. saking tegangnya (secara udah feeling bakal ngadepin urusan nggak enak), gue coba ngorek info dari si anak, "Bum, kamu ngerasa bikin yang aneh-aneh di sekolah, nggak?" tapi ya namanya bocah, gue nggak bisa dapet jawaban yang memuaskan.
besoknya ketika meeting, gue dan Adit ditemuin sama kepala sekolah SD dan guru kelas Bumy. pertama-tama mereka nyeritain gimana perkembangan bumy di sekolah. seperti yang gue rasain, doi bisa mengikuti dan beradaptasi dengan baik-baik aja. nggak ada masalah di urusan akademis whatsoever. tapiiii (here it goes) justru ada "concern" di urusan sosial.
glek....
concern pertamanya gini: Bumy suka menyebut nama seekor binatang di luar konteks. maksudnya buat lucu-lucuan, carper, ya intinya menarik reaksi dari temen-temennya. guru dan si kepsek bilang, kalau yang raising concern bukan karena Bumy ngomong begitu untuk memaki atau ngomong kasar, tapi karena udah ada beberapa temennya yang menyatakan terganggu dengan aksi penyebutan nama binatang itu, tapi Bumy tetep mengulangi.
waktu denger ini gue nggak kaget sih.. karena dia juga pernah ngelakuin hal yang sama di depan gue. konteksnya bercanda, sambil dia tiru-tiruin suara binatangnya. tapi yang gak gue sangka adalah di sekolah dia masih nyebut-nyebut itu binatang. padahal di rumah udah pernah gue jelasin kalo gue gak nyaman dengernya dan dia pun gak pernah mengulanginya lagi.
tapi ternyata... *pandangan mata mamah berkunang-kunang *bumi bak terbelah xD
kepseknya bilang, "mungkin ini menunjukkan Bumy udah acquire skills baru, bu. dia udah bisa memfilter mana yang bisa diceritain ke ibu, mana yang nggak."
doi nambahin lagi, di usia segini wajar ditemui isu anak 'bereksperimen' dengan penerapan aturan. dia lagi butuh assurance kalau aturan yang dia terima itu dijalankan dengan konsisten. makanya penting banget ada kesinkronan antara rumah dan sekolah... sehingga, untuk itulah gue dan Adit diajak 'ngobrol' soal ini. hoo... I see *manggut-manggut*
trus sekarang soal concern yang kedua.
isunya adalah anak ini lagi suka becanda yang "fisik" banget di sekolah sama temen-temen cowoknya. becandanya model pura-pura berantem gitu, yang alhamdulillah nggak sampai melukai anak orang atau gimana (jangan sampee).
in Bumy's defense, guru dan kepseknya bilang kalau concern ini emang lagi masanya buat anak-anak seumur Bumy. hampir semua anak cowok di kelasnya lagi 'hobi' becanda fisik seperti itu, yang mana mereka follow up juga ke orangtuanya.
Adit tiba-tiba berefleksi "apa gara-gara suka main berantem-beranteman sama saya ya?" *ih malah ngaku dia*
kepseknya sih bilang, becanda seperti itu sama orangtua sendiri malah diperlukan. gunanya supaya si bapak bisa jelasin batasan; ngasih tau kalau diginiin sakit lho, atau kalau kamu seperti itu bahaya lho.
*****
kalo dari lubuk hati yang terdalam, jujurnya gue kaget sampe dipanggil gini.
tapi semakin gue menyelami apa maksud dan tujuan pihak sekolah manggil, gue jadi makin ngerti kenapa komunikasi ini perlu banget diadain.
selain bikin gue jadi tau gimana perilaku Bumy di sekolah, pertemuan ini juga bikin gue melihat sisi lain dari sekolah yang udah gue pilih sebagai partner dalam mendidik Bumy ini.
hal-hal kayak
- sekolah ini lebih concerned kalo Bumy kelakuannya 'aneh-aneh' dibanding kalau misalnya dia belom bisa baca dan menulis dengan lancar.
just for the record, Bumy juga belajar baca tulis (maupun hitung)nya dalam 2 bahasa.. and he can do it all well. tanpa metode belajar yang terlalu demanding dan padat (gak ada PR, gak ada ulangan), kemampuan kognitif anak tetap terasah tanpa bikin anak stres.
gue pernah dengar ada orangtua yang dipanggil ke sekolah karena anaknya belum lancar calistung loh... dari pengalaman ini, gue jadi tau kalo sekolah ini fokusnya ada di urusan akhlak dan interpersonal anak, gimana bersosialisasi dengan baik, dan sejenisnya, alih-alih memusingkan anak gue udah se'pinter' apa.
isn't that relieving? buat gue sih iya.
- gurunya ADA. maksudnya bukan cuma hadir dan turut menyaksikan segala kejadian saat anak-anak bersosialisasi, tapi juga aware akan semua 'fenomena' sosial di kelasnya Bumy. dia tau Bumy love-and-hate-relationship sama siapa aja, tau tabiatnya Bumy, ya intinya bisa melihat Bumy secara menyeluruh.
again, I find it relieving.
- gue salut sama prinsip 'gerak cepat' mereka dalam menangani sebuah isu.. let me quote kata-kata dari sang kepsek, "dalam setiap mistake ada kesempatan belajar, tergantung kita bisa segera 'menangkap' kesempatan belajar itu atau nggak."
rasanya semakin lama meeting berjalan, semakin banyak juga ilmu yang gue dapet.
*****
sebelum meeting berakhir, sang kepsek ngomong sesuatu yang bikin gue ngerasa adem banget. beliau bilang, in case ke depannya ada konflik atau kejadian yang nggak diinginkan antara Bumy dan temannya di sekolah, mereka maunya sekolah yang turun tangan duluan. bukannya gue yang men-japri ortu lain atau ambil tindakan langsung untuk approach ortu lain; begitupun sebaliknya.
beliau bilang, "sebaiknya urusan di sekolah kami yang selesaikan bu, jangan langsung antar ortu. karena segala yang terjadi di ranah sekolah itu menjadi tanggung jawab kami."
ih!
mau nggak mau gue keingat sebuah sekolah yang dulu jadi tumpuan harapan gue.
kok ya beda bangetttt.
di sana mereka dikit-dikit nyuruh orangtua 'terlibat' - bahkan di ranah yang jelas-jelas jadi kewajiban mereka (misal: kebersihan sekolah sampai ada-nggaknya sabun cuci tangan di kelas!). waktu gue protes, eh malah dibilang lepas tangan, cuma mau tau beres, bahkan dicap "ambivalen." haha.
obrolan sama kepsek sekolah yang sekarang ini bikin kesadar, kalau beginilah yang namanya punya PARTNER. setiap pihak berfungsi sesuai ranahnya masing-masing, bukannya segala hal dikembaliin ke ortu. fungsi pendidik(an)nya mana kalo kaya gitu??
oke oke, ntar disangka belum move on kalo bahas-bahas yang itu lagi xD
intinya in the end gue justru 'seneng' dapet kesempatan belajar kaya gini.
ternyataaa gini toh rasanya jadi orangtua anak SD hehehe.. other than that, I think this current school has really set the bar high in terms of education standard. for me personally, to say the least.
anyways di akhir Agustus lalu, sekolah Bumy ngadain parents-teachers conference (PTC), seperti yang rutin dilakuin setiap awal semester.
gue pernah ceritain di blogspost ini, kalau PTC biasanya diisi presentasi dari para guru tentang topik dan metode pembelajaran yang diterapin di sekolah.
tapiii, ada yang berbeda nih begitu udah di SD. kemarin, selain ada sesi presentasi dari guru, juga ada sesi edukasi dari psikolog. sesi yang dikasih judul Parenting Sharing Session ini mengundang psikolog bu Alzena Masykouri.
materi yang diberikan ke kita para orangtua adalah tentang "Understanding Child Development aged 6-12 years old." sesuai banget pastinyaa sama audiens terutama yang kayak gue, yang baru pertama kali nyekolahin anak di SD.
selain itu, timingnya yang dipilih untuk memberikan materi ini juga pas, yaitu di awal tahun ajaran. paling nggak kegiatan ini bisa dinilai sebagai usaha supaya ortu dan sekolah bisa on the same page baik dari segi pemahaman tentang montessori maupun ekspektasi dalam mendidik anak. karena as we know, montessori emang menekankan pentingnya link atau keterhubungan antara keluarga dan sekolah.
cerita soal materinya gue lanjutin di blogpost selanjutnya aja, yah. setelah denger bu Alzena ceramah di event PTC ini, gue sempat konsultasi langsung juga sama beliau. tujuannya ya sebagai tinjut meeting kemarin. pertemuan-pertemuan dengan beliau ngasih banyak pencerahan ey, so I think it would be nice to share it here, supaya bisa jadi bahan referensi di masa depan.
just wait for it, okaay.
13/05/2016
membongkar mitos-mitos montessori
tempo hari gue nyetatus di Path seperti ini:
"New milestone unlocked: bayar uang pangkal SD."
lega rasanya udah menjatuhkan pilihan, meskipun seperti yang pernah gue ocehkan di sini, sampe batas waktu terakhir harus memilih tetep aja gue belum merasa 100% sreg.
dipikir-pikir sekarang, yang bikin kita nggak sreg adalah faktor-faktor di luar metode pendidikan yang diterapkan. contohnya lokasi, yang udah nggak bisa diapa-apain kecuali kita pindah rumah (#ihaveadream). trus juga uang pangkalnya yang bakal bikin kita mikir sekian kali kalau mau relokasi - ya sapa tauk adit dapet kerjaan di negeri tetangga atau pindah benua, gituh (#agirlcandream) - saking agak 'meleset'nya dari ancer-ancer uang pangkal SD di financial plan awal.
serta sederet hal-hal lainnya sih... yang udah pernah gue beberkan sebelumnya. intinya, it wasn't THE perfect choice.
but when the time came for us to make a choice, setelah ditimbang-timbang, satu hal yang bikin sreg sampai bisa melampaui faktor-faktor tadi ya metode pendidikan yang dipake. it's none other than the authentic montessori method, applied with Islamic values. yang udah paket combo bangetlah di mata gue!
kenapa montessori segitu memikatnya bagi gue secara pribadi, jawabannya ya karena pendidikan tsb oke banget. secara garis besarnya, karena montessori menyesuaikan dengan perkembangan (otak) anak, mendukung multiple intelligences dan active learning, melatih kemandirian anak (dalam berpikir dan berperilaku), PLUS... membentuk anak jadi lifelong learner.
biar afdol, kalau mau liat pembahasan lebih runut seputar kayak apa montessori dan manfaatnya kayaknya bisa ditemukan di sini.
well, mungkin ada yang mikir semua benefit tadi iming-iming 'dagang' semata.. of kors gue pun nggak menampik gimana output dari pendidikan montessori akan sangat tergantung pada penerapannya di lapangan.
tapi gue harus bilang kalau sejauh ini I feel quite optimistic, sih.
ada kejadian di mana bumy ikut 'tes' observasi di sekolah lain yang tadinya jadi kandidat calon SD. sekolah ini reputasinya terbilang cetar-lah. kurikulumnya lumayan didominasi nuansa akademik, nilai UN level SD-nya oke, dapat peringkat ke sekian di DKI. dari hasil riset, kunjungan, dan hearsay, bisa disimpulkan kalau sekolah ini punya threshold yang cukup tinggi untuk kemampuan kognitif calon siswanya.
gue sih nggak nyiapin apa-apa buat bumy untuk ngikutin tes di situ. bahkan yang nganterin bumy tes cuma embak ART (dan tukang kebon freelancer sebagai ojek dadakan).
setelah tes, tentunya hasilnya diobrolin oleh Kepsek sekolah tersebut dengan gue. as I said, gue nggak ngoyo untuk masukin anak ke sini, dengan berbagai pertimbangannya, jadi nggak ada debar-debar aneh juga ketika mau denger gimana hasil observasinya. but when I talked with the principal, this is what I heard: "aduh, kalo anak montessori nggak usah ditanya lagi deh, kemampuan calistungnya di atas rata-rata. (mereka) juga mandiri dan dewasa banget dibandingkan yang lain."
*insert gif hidung kembang-kempis*
singkatnya, bumy diterima masuk ke situ. tapiii setelah mikir bolak-balik, alih-alih masukin bumy ke sekolah tsb, gue dan adit tetep milih sekolah bumy yang sekarang dengan segala risikonya. sekolah bermetode montessori otentik yang memang belum bisa menyelenggarakan UN di sekolah sendiri (karena belum punya lulusan), yang belum dapet akreditasi, lahannya terbatas, dan manajemennya juga masih 'hijau.'
tapi jika dilihat lewat perspektif yang berbeda, sekolah bumy sekarang ini udah cukup lumayanlah dalam menerapkan metode yang diusung - karena ya keliatan hasilnya di bumy.
kalau gue liat-liat sekeliling, cukup banyak orangtua yang milih nyekolahin anaknya di sekolah bermetode montessori. karena nama montessori sendiri nggak dipatenkan, makanya banyak sekolah yang bisa mengadopt maupun mengklaim menerapkan metode tersebut - meski mungkin cuma sebagian, dengan dicampur metode pendidikan lainnya. montessori juga lebih banyak diterapkan buat pendidikan anak usia dini aja alih-alih dilanjutin sampai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
ketika diulik-ulik (meski tanpa sengaja hehe), ternyata banyak stigma yang beredar seputar montessori, bahkan di kalangan orangtua yang juga udah menyekolahkan anaknya di TK montessori. salah satu yang suka gue denger adalah "aduh montessori kayaknya terlalu santai/kurang nampol kalo buat SD."
gue paham banget sih maksudnya. sekolah montessori (anak gue) emang nggak ngasih nilai, rewards, hukuman, bahkan juga nggak ada PR.
sementara di mata (banyak) orangtua, masa bersekolah di SD itu seharusnya dipergunakan untuk 'menggempur' anak dengan pelajaran, rupa-rupa skills, dan disiplin dalam belajar. I used to think that way jugak.
tapi... kala ku menyadari kalo diri ini nggak bisa sabar ngajarin anak, gue bersyukur sekolah bumy ngajarin calistung tanpa harus gue drill sama sekali di rumah (tau-tau anaknya bisaa aja).
menyadari diri ini pemalas, begitu mendarat di rumah maunya main-main sama anak sekadarnya, gue bersyukur sekolah bumy nggak ngasih PEER dan project yang sulit-sulit.
menyadari diri ini mudah stres, hati gue adem pas baca status temen yang anaknya bersekolah di SD montessori kayak begini: "di saat ibu-ibu lain lagi sutris ngajarin anaknya buat UTS, kami bisa leyeh-leyeh, ketawa-ketawa, main-main bareng." ya secara sekolah bumy nggak ngasih ujian, ulangan, atau sejenisnya tiap sekian bulan.
guilty as charged, gue mikirin yang enak di gue doang hahaha.
but in a more serious light, I believe in montessori education. efeknya keliatan banget di diri bumy. mungkin ini mamak semacam pamer bin riya' yah, tapi jika memang yang dijadikan tolak ukur cuma kemampuan kognitif semacam calistung, 'rapot' bumy udah bisa dapet nilai A semua.
meskipun begitu, gue prefer menilai anak secara lebih luas. seperti yang pernah gue tulis di sini, scope penilaian setiap kemampuan anak yang diterapkan di pendidikan montessori nggak sesempit yang gue kira. anak bukan cuma dibentuk untuk lulus dari TK dengan kemampuan akademik yang kuat; tapi yang lebih penting, dengan ATTITUDE bahwa belajar itu menyenangkan, seru, dan tanpa batas.
karena itulah gue terkagum-kagum melihat gimana ada semacam eagerness di diri bumy untuk belajar dan menguasai suatu hal. terasa kalau ada working ethics yang ditumbuhkan di dirinya. ini hal yang nggak kasat mata, karena nggak bisa diukur cuma dengan menanyakan "1+1 berapa?" atau "ini huruf apa? dibacanya gimana?"
kalau mau bicara faktor penguat secara scientific, ternyata ada studi yang diterbitkan di jurnal "Science" di tahun 2006 yang menyatakan bahwa murid-murid montessori cenderung menunjukkan skill sosial dan kreativitas yang lebih advanced, dan bisa perform lebih baik dalam ujian baca dan matematika dibandingkan anak-anak lain di program tradisional.
that being said, asumsi kalo montessori itu nggak memberikan efek 'nampol' buat anak sejatinya bisa disebut mitos.. ya ndak?
dari situ, gue pun mulai lebih kepo sama asumsi-asumsi semacam ini.
tujuannya apa? bukaan, bukan supaya bisa bales nyinyir ke orang lain hahaha. justru supaya gue bisa lebih sreg sama pilihan yang udah dibuat. lalu kalaupun ada asumsi negatif yang ternyata emang valid, ya supaya gue udah siap aja, gitu *pasrah*
kebetulan, suatu hari seorang ibu yang punya concern besar sama pendidikan (dan kebetulan nyekolahin anak-anaknya di sd montessori hehe) nge-share artikel di sini. judulnya "Montessori Myths Busted", dan ini yang mau gue share ulang di blogpost ini. kurang lebih gue bakal nerjemahin apa isi artikelnya aja sih, tapi mungkin bakal ditambahin juga sama pendapat gue pribadi.
Mitos #1: Montessori cuma buat anak-anak yang berbakat.
apa iya anak harus berbakat buat bisa disekolahin di montessori?
jelaslah sebenernya montessori itu buat semua anak, tanpa memandang level kemampuannya. tapi asumsi ini muncul mungkin karena di mata orang awam, murid-murid montessori kerap terlihat lebih advanced dibandingkan anak-anak lain seusianya, yang menimbulkan asumsi kalo sekolah tsb cuma bisa memenuhi pendidikan untuk anak-anak yang berbakat. (personal note: ini kok berasa humblebrag banget yak? hahaha).
padahal yang sesungguhnya terjadi adalah, pendidikan Montessori memanfaatkan dorongan alami di diri setiap anak, yaitu dorongan kuat untuk belajar, dan memberi stimulasi sesuai kecerdasan majemuk anak. ketertarikan anaklah yang menjadi pedoman bagi guru untuk mengatur pembelajaran yang bisa menstimulasi anak.
Mitos #2 – ruang kelas Montessori itu kacaww alias chaos.
kalo ada yang nyoba merhatiin seperti apa kegiatan dalam ruang kelas montessori sehari-seharinya, selama dua jam gitu misalnya, maka yang akan diliat sesungguhnya bakalan jauh banget dari ribut dan kisruh. penerapan sistem pembelajaran dalam montessori mengizikan anak melakukan banyak hal sendiri. kemerdekaan pembelajaran sangat ditekankan, dan sebaliknya intervensi dari orang dewasa dalam lingkungan belajar sangat tidak dianjurkan. anak-anak didorong untuk melatih self-discipline-nya sendiri, dan ini berlaku juga bahkan untuk anak-anak yang masih sangat kecil.
guru lebih bertindak sebagai pemandu dan memfasilitasi anak untuk belajar sendiri, dengan menggunakan material yang sudah dirancang khusus untuk tujuan belajar tsb.
berbeda dengan di sekolah tradisional, dalam pendidikan montessori anak-anak nggak diajak berpindah-pindah tempat dalam kelas secara berkelompok atau disuruh melakukan aktivitas yang sama di saat bersamaan. anak-anak justru akan dipaparkan pada berbagai jenis material yang bersifat self-correcting.
prosesnya gini, pertama-tama guru akan mendemonstrasikan sebuah material, atau bahkan terkadang bisa ditemukan anak yang lebih tua yang melakukan demonstrasi itu. lalu anak-anak bebas memilih aktivitas mana yang menarik bagi mereka. mereka ditinggalkan sendiri untuk bereksperimen dan berlatih dengan material tadi, yang sebenernya suatu hal yang membantu anak-anak ini mengajarkan diri sendiri berkonsentrasi, membangun skill koordinasi, dan juga kemandirian dalam suatu keteraturan yang tidak membutuhkan pengawasan orang dewasa.
montessori percaya kalau setiap anak harus merasa santai, tenang, dan tenggelam dalam aktivitas. saat terjadi argumentasi antara anak-anak, mereka dibiarkan berusaha menyelesaikannya sendiri. meskipun begitu, mereka juga memperoleh keterampilan manajemen konflik dari para guru, yang membantu mereka menyelesaikan masalah.
Mitos #3 – Montessori tidak memfasilitasi perkembangan sosial.
respek yang ditunjukkan guru kepada setiap anak menjadi teladan bagi anak-anak untuk saling menghargai. anak-anak kecil berinteraksi dengan anak-anak lain dan juga dengan orang dewasa, sehingga secara bertahap mereka menjadi lebih peduli dan sensitif terhadap sekelilingnya. rentang usia 2-3 tahun dalam kelas menyebabkan pembelajaran terjadi dari anak-anak yang lebih besar ke yang lebih kecil, dan ini terjadi secara alamiah.
namun montessori juga menghargai anak dan kebutuhannya akan privasi. selain memenuhi kebutuhan anak untuk beraktivitas sendiri(an), area dan aktivitas dalam kelas juga memungkinkan anak-anak saling berinteraksi. anak-anak yang lebih besar sering menjadi guru bagi yang lebih kecil, serta anak bisa bekerja sama ataupun sendiri-sendiri sesuai pilihan mereka.
Mitos #4 – Montessori tidak ketat secara akademis.
banyak orangtua khawatir menyekolahkan anak di pendidikan Montessori karena berpikir metode ini tidak akan mempersiapkan anak-anak mereka untuk tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Sekali lagi, ini bisa dibilang sangat tidak benar.
Sistem Montessori tahu bahwa anak-anak yang masih sangat kecil dapat memahami konsep-konsep yang rumit jika mereka diperkenalkan secara konkret. Sebagai contoh, jika mereka telah belajar tentang tabel perkalian menggunakan material '100's Board' maka mereka akan memiliki pemahaman yang jauh lebih besar tentang perkalian ketika pembelajaran berkembang menjadi simbol abstrak.
Seiring anak tumbuh dewasa, mereka mempelajari keterampilan seperti membaca, menulis dan juga meneliti dengan mengeksplorasi mata pelajaran lain dalam kurikulum, seperti kajian budaya dan ilmu pengetahuan. Keterampilan tidak hanya diajarkan untuk kepentingan itu, tapi juga untuk mendorong peserta didik maju lebih cepat karena mereka sering mempelajari area yang menarik bagi mereka.
Seperti dikutip dalam studi Angeline Lillard yang diterbitkan dalam jurnal, Science, pada tahun 2006, "Siswa Montessori terbukti secara signifikan lebih siap untuk sekolah dasar dalam keterampilan membaca dan matematika daripada anak-anak non-Montessori.
"Mereka juga teruji lebih baik pada 'fungsi eksekutif,' yaitu kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan dan masalah yang lebih kompleks, suatu indikator kesuksesan dalam bersekolah dan hidup di masa depan."
Menurut neuroscientist, Dr Steven Hughes, "Jika kami memutuskan bahwa tujuan pendidikan seharusnya adalah membantu otak setiap anak mencapai potensi tertinggi perkembangan ... pendidikan Montessori menyajikan pendekatan pendidikan yang secara radikal berbeda - dan juga secara radikal efektif - yang mungkin menjadi metode terbaik untuk memastikan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional yang optimal dari setiap anak."
Mitos #5 – Anak-anak yang lebih besar akan mengintimidasi yang lebih kecil.
anak-anak Montessori disusun dalam kelas dengan rentang usia 2 sampai 3 tahun. ini bikin banyak orang tua khawatir nantinya anak-anak yang lebih tua akan mengintimidasi anak-anak yang lebih kecil.
padahal kondisi mixed-age (campur-usia) ini memberikan kesempatan bagi siswa yang lebih berpengalaman untuk menjadi role model dan membantu anak lain. hal ini menaikkan harga diri anak.
dengan adanya rentang usia di kelas, kompetisi diminimalisir sebagai motivator. Para siswa dapat dengan nyaman berbagi pengetahuan dengan satu sama lain. Mereka belajar untuk bekerja sebagai tim dan menghargai kontribusi masing-masing anggota dalam situasi apapun. Kemampuan ini bisa menjadi "alat" bagi anak dalam memecahkan konflik, yang akan membangun toleransi untuk sudut pandang yang berbeda dan mempersiapkan anak-anak menjadi orang dewasa yang penuh kasih.
Mitos #6 – Montessori Terlalu Terstruktur
Beberapa orang meyakini kalau Montessori kacau dan tidak terstruktur, seperti yang sudah dibahas sebelumnya, sementara yang lain percaya kalau montessori terlalu terstruktur. di mata mereka, anak-anak duduk dan bekerja sepanjang hari dan tidak diizinkan untuk bergerak.
Dalam kelas Montessori, anak-anak benar-benar memiliki kebebasan untuk berjalan-jalan di sekitar kelas, menyelesaikan pekerjaan dalam urutan yang mereka pilih. Tidak ada batasan waktu di dalam kelas, yang berarti selama 3 jam siklus kerja, anak-anak dapat mengunjungi meja suara, atau material sensorik, practical life, kemudian pindah ke Matematika. Satu hal yang penting adalah ketika mereka berinteraksi dengan material, 'bekerja' terasa lebih seperti 'bermain' yang semakin membuat mereka terlarut dalam aktivitasnya.
Mitos #7 – Anak-anak bebas melakukan apa saja di dalam kelas montessori
Sebenarnya lingkungan montessori disiapkan dengan sangat hati-hati dan kaya dengan material yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak.
anak dapat mengeksplorasi apa yang menjadi ketertarikan mereka. Jika anak-anak diajarkan kemerdekaan memilih sejak dini, mereka dapat jauh lebih termotivasi untuk belajar.
Guru bergerak di dalam kelas, membimbing dan mendorong anak-anak untuk menantang diri mereka sendiri di area pembelajaran yang sedang mereka jelajahi dan di area-area baru. Guru menjadi pengamat terlatih danmembantu anak-anak untuk bertumbuh secara intelektual selagi mereka menguasai keterampilan baru. Bahkan, di tingkat yang lebih rendah, anak-anak belajar untuk membuat rencana kerja mereka sendiri untuk satu hari yang mencakup area dasar seperti matematika, membaca, budaya, ilmu pengetahuan dan banyak lagi. Manajemen diri ini menjadi fondasi penting seiring tingkat pemahamana anak bergerak ke tingkat lebih tinggi.
Mitos #8 – program Montessori tidak akan bisa mengimbangi kurikulum di sekolah non-Montessori.
Mitos ini sering diangkat dan pastinya tidak terjadi. Faktanya anak-anak Montessori seringkali maju jauh melampaui tingkat yang dicapai di sekolah umum. Ini telah dibuktikan oleh hasilnya. Sering ada komentar bahwa anak-anak Montessori sangat cemerlang dan lebih unggul secara akademis ketika dimasukkan ke sekolah umum. Ini juga terbukti saat mereka berada di jenjang SMA.
Mitos #9 – Montessori hanya berhasil untuk anak-anak tertentu.
lagi-lagi ini hanyalah mitos. montessori bisa diterapkan pada setiap anak. pendidikan ini menerapkan ketiga model pembelajaran, yaitu visual, pendengaran dan kinetik, sehingga setiap peserta didik bisa mencapai kesuksesan. Guru juga bertindak sebagai pengamat yang terampil seperti telah disebutkan tadi, sehingga bisa tahu kekuatan dan tantangan yang dihadapi setiap murid dalam kelasnya. setiap guru menghandle kelompok kecil murid sehingga bisa memastikan anak-anak memahami konsep sebelum bergerak ke pekerjaan independen yang terkait.
Mitos #10 – Montessori tidak memberi peluang untuk bermain bebas atau
pengembangan kreativitas.
Ada banyak waktu untuk anak bermain bebas di waktu istirahat. juga banyak kegiatan tambahan yang ditawarkan seperti seni, musik, drama, bahasa tambahan dan pendidikan jasmani. Kelas-kelas ini dianggap sangat penting untuk pengembangan anak secara keseluruhan. Kreativitas juga dipelihara dan didorong dalam lingkungan kelas dengan mendukung rasa ingin tahu dan minat anak. kita mungkin akan kaget kalau tahu berapa banyak inovator dalam teknologi tinggi dan seni yang punya landasan pendidikan di sekolah Montessori.
demikianlah. panjang yak... karena emang ternyata banyak mitos seputar pendidikan montessori. apalagi buat level pendidikan yang lebih tinggi dari PAUD; wajarlah banyak asumsi karena di Indo kita kenalnya kurikulum nasional yang akademik banget.
kesimpulannya, mitos-mitos ini timbul jika kita hanya melihat Montessori secara selintas. padahal dalam kenyataannya, pendidikan ini sangat memperkaya perkembangan diri anak.
Article source: https://www.spielgaben.com/montessori-myths-busted/
"New milestone unlocked: bayar uang pangkal SD."
lega rasanya udah menjatuhkan pilihan, meskipun seperti yang pernah gue ocehkan di sini, sampe batas waktu terakhir harus memilih tetep aja gue belum merasa 100% sreg.
dipikir-pikir sekarang, yang bikin kita nggak sreg adalah faktor-faktor di luar metode pendidikan yang diterapkan. contohnya lokasi, yang udah nggak bisa diapa-apain kecuali kita pindah rumah (#ihaveadream). trus juga uang pangkalnya yang bakal bikin kita mikir sekian kali kalau mau relokasi - ya sapa tauk adit dapet kerjaan di negeri tetangga atau pindah benua, gituh (#agirlcandream) - saking agak 'meleset'nya dari ancer-ancer uang pangkal SD di financial plan awal.
serta sederet hal-hal lainnya sih... yang udah pernah gue beberkan sebelumnya. intinya, it wasn't THE perfect choice.
but when the time came for us to make a choice, setelah ditimbang-timbang, satu hal yang bikin sreg sampai bisa melampaui faktor-faktor tadi ya metode pendidikan yang dipake. it's none other than the authentic montessori method, applied with Islamic values. yang udah paket combo bangetlah di mata gue!
kenapa montessori segitu memikatnya bagi gue secara pribadi, jawabannya ya karena pendidikan tsb oke banget. secara garis besarnya, karena montessori menyesuaikan dengan perkembangan (otak) anak, mendukung multiple intelligences dan active learning, melatih kemandirian anak (dalam berpikir dan berperilaku), PLUS... membentuk anak jadi lifelong learner.
biar afdol, kalau mau liat pembahasan lebih runut seputar kayak apa montessori dan manfaatnya kayaknya bisa ditemukan di sini.
well, mungkin ada yang mikir semua benefit tadi iming-iming 'dagang' semata.. of kors gue pun nggak menampik gimana output dari pendidikan montessori akan sangat tergantung pada penerapannya di lapangan.
tapi gue harus bilang kalau sejauh ini I feel quite optimistic, sih.
ada kejadian di mana bumy ikut 'tes' observasi di sekolah lain yang tadinya jadi kandidat calon SD. sekolah ini reputasinya terbilang cetar-lah. kurikulumnya lumayan didominasi nuansa akademik, nilai UN level SD-nya oke, dapat peringkat ke sekian di DKI. dari hasil riset, kunjungan, dan hearsay, bisa disimpulkan kalau sekolah ini punya threshold yang cukup tinggi untuk kemampuan kognitif calon siswanya.
gue sih nggak nyiapin apa-apa buat bumy untuk ngikutin tes di situ. bahkan yang nganterin bumy tes cuma embak ART (dan tukang kebon freelancer sebagai ojek dadakan).
setelah tes, tentunya hasilnya diobrolin oleh Kepsek sekolah tersebut dengan gue. as I said, gue nggak ngoyo untuk masukin anak ke sini, dengan berbagai pertimbangannya, jadi nggak ada debar-debar aneh juga ketika mau denger gimana hasil observasinya. but when I talked with the principal, this is what I heard: "aduh, kalo anak montessori nggak usah ditanya lagi deh, kemampuan calistungnya di atas rata-rata. (mereka) juga mandiri dan dewasa banget dibandingkan yang lain."
*insert gif hidung kembang-kempis*
singkatnya, bumy diterima masuk ke situ. tapiii setelah mikir bolak-balik, alih-alih masukin bumy ke sekolah tsb, gue dan adit tetep milih sekolah bumy yang sekarang dengan segala risikonya. sekolah bermetode montessori otentik yang memang belum bisa menyelenggarakan UN di sekolah sendiri (karena belum punya lulusan), yang belum dapet akreditasi, lahannya terbatas, dan manajemennya juga masih 'hijau.'
tapi jika dilihat lewat perspektif yang berbeda, sekolah bumy sekarang ini udah cukup lumayanlah dalam menerapkan metode yang diusung - karena ya keliatan hasilnya di bumy.
kalau gue liat-liat sekeliling, cukup banyak orangtua yang milih nyekolahin anaknya di sekolah bermetode montessori. karena nama montessori sendiri nggak dipatenkan, makanya banyak sekolah yang bisa mengadopt maupun mengklaim menerapkan metode tersebut - meski mungkin cuma sebagian, dengan dicampur metode pendidikan lainnya. montessori juga lebih banyak diterapkan buat pendidikan anak usia dini aja alih-alih dilanjutin sampai ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
ketika diulik-ulik (meski tanpa sengaja hehe), ternyata banyak stigma yang beredar seputar montessori, bahkan di kalangan orangtua yang juga udah menyekolahkan anaknya di TK montessori. salah satu yang suka gue denger adalah "aduh montessori kayaknya terlalu santai/kurang nampol kalo buat SD."
gue paham banget sih maksudnya. sekolah montessori (anak gue) emang nggak ngasih nilai, rewards, hukuman, bahkan juga nggak ada PR.
sementara di mata (banyak) orangtua, masa bersekolah di SD itu seharusnya dipergunakan untuk 'menggempur' anak dengan pelajaran, rupa-rupa skills, dan disiplin dalam belajar. I used to think that way jugak.
tapi... kala ku menyadari kalo diri ini nggak bisa sabar ngajarin anak, gue bersyukur sekolah bumy ngajarin calistung tanpa harus gue drill sama sekali di rumah (tau-tau anaknya bisaa aja).
menyadari diri ini pemalas, begitu mendarat di rumah maunya main-main sama anak sekadarnya, gue bersyukur sekolah bumy nggak ngasih PEER dan project yang sulit-sulit.
menyadari diri ini mudah stres, hati gue adem pas baca status temen yang anaknya bersekolah di SD montessori kayak begini: "di saat ibu-ibu lain lagi sutris ngajarin anaknya buat UTS, kami bisa leyeh-leyeh, ketawa-ketawa, main-main bareng." ya secara sekolah bumy nggak ngasih ujian, ulangan, atau sejenisnya tiap sekian bulan.
guilty as charged, gue mikirin yang enak di gue doang hahaha.
but in a more serious light, I believe in montessori education. efeknya keliatan banget di diri bumy. mungkin ini mamak semacam pamer bin riya' yah, tapi jika memang yang dijadikan tolak ukur cuma kemampuan kognitif semacam calistung, 'rapot' bumy udah bisa dapet nilai A semua.
meskipun begitu, gue prefer menilai anak secara lebih luas. seperti yang pernah gue tulis di sini, scope penilaian setiap kemampuan anak yang diterapkan di pendidikan montessori nggak sesempit yang gue kira. anak bukan cuma dibentuk untuk lulus dari TK dengan kemampuan akademik yang kuat; tapi yang lebih penting, dengan ATTITUDE bahwa belajar itu menyenangkan, seru, dan tanpa batas.
karena itulah gue terkagum-kagum melihat gimana ada semacam eagerness di diri bumy untuk belajar dan menguasai suatu hal. terasa kalau ada working ethics yang ditumbuhkan di dirinya. ini hal yang nggak kasat mata, karena nggak bisa diukur cuma dengan menanyakan "1+1 berapa?" atau "ini huruf apa? dibacanya gimana?"
kalau mau bicara faktor penguat secara scientific, ternyata ada studi yang diterbitkan di jurnal "Science" di tahun 2006 yang menyatakan bahwa murid-murid montessori cenderung menunjukkan skill sosial dan kreativitas yang lebih advanced, dan bisa perform lebih baik dalam ujian baca dan matematika dibandingkan anak-anak lain di program tradisional.
that being said, asumsi kalo montessori itu nggak memberikan efek 'nampol' buat anak sejatinya bisa disebut mitos.. ya ndak?
dari situ, gue pun mulai lebih kepo sama asumsi-asumsi semacam ini.
tujuannya apa? bukaan, bukan supaya bisa bales nyinyir ke orang lain hahaha. justru supaya gue bisa lebih sreg sama pilihan yang udah dibuat. lalu kalaupun ada asumsi negatif yang ternyata emang valid, ya supaya gue udah siap aja, gitu *pasrah*
kebetulan, suatu hari seorang ibu yang punya concern besar sama pendidikan (dan kebetulan nyekolahin anak-anaknya di sd montessori hehe) nge-share artikel di sini. judulnya "Montessori Myths Busted", dan ini yang mau gue share ulang di blogpost ini. kurang lebih gue bakal nerjemahin apa isi artikelnya aja sih, tapi mungkin bakal ditambahin juga sama pendapat gue pribadi.
Mitos #1: Montessori cuma buat anak-anak yang berbakat.
apa iya anak harus berbakat buat bisa disekolahin di montessori?
jelaslah sebenernya montessori itu buat semua anak, tanpa memandang level kemampuannya. tapi asumsi ini muncul mungkin karena di mata orang awam, murid-murid montessori kerap terlihat lebih advanced dibandingkan anak-anak lain seusianya, yang menimbulkan asumsi kalo sekolah tsb cuma bisa memenuhi pendidikan untuk anak-anak yang berbakat. (personal note: ini kok berasa humblebrag banget yak? hahaha).
padahal yang sesungguhnya terjadi adalah, pendidikan Montessori memanfaatkan dorongan alami di diri setiap anak, yaitu dorongan kuat untuk belajar, dan memberi stimulasi sesuai kecerdasan majemuk anak. ketertarikan anaklah yang menjadi pedoman bagi guru untuk mengatur pembelajaran yang bisa menstimulasi anak.
Mitos #2 – ruang kelas Montessori itu kacaww alias chaos.
kalo ada yang nyoba merhatiin seperti apa kegiatan dalam ruang kelas montessori sehari-seharinya, selama dua jam gitu misalnya, maka yang akan diliat sesungguhnya bakalan jauh banget dari ribut dan kisruh. penerapan sistem pembelajaran dalam montessori mengizikan anak melakukan banyak hal sendiri. kemerdekaan pembelajaran sangat ditekankan, dan sebaliknya intervensi dari orang dewasa dalam lingkungan belajar sangat tidak dianjurkan. anak-anak didorong untuk melatih self-discipline-nya sendiri, dan ini berlaku juga bahkan untuk anak-anak yang masih sangat kecil.
guru lebih bertindak sebagai pemandu dan memfasilitasi anak untuk belajar sendiri, dengan menggunakan material yang sudah dirancang khusus untuk tujuan belajar tsb.
berbeda dengan di sekolah tradisional, dalam pendidikan montessori anak-anak nggak diajak berpindah-pindah tempat dalam kelas secara berkelompok atau disuruh melakukan aktivitas yang sama di saat bersamaan. anak-anak justru akan dipaparkan pada berbagai jenis material yang bersifat self-correcting.
prosesnya gini, pertama-tama guru akan mendemonstrasikan sebuah material, atau bahkan terkadang bisa ditemukan anak yang lebih tua yang melakukan demonstrasi itu. lalu anak-anak bebas memilih aktivitas mana yang menarik bagi mereka. mereka ditinggalkan sendiri untuk bereksperimen dan berlatih dengan material tadi, yang sebenernya suatu hal yang membantu anak-anak ini mengajarkan diri sendiri berkonsentrasi, membangun skill koordinasi, dan juga kemandirian dalam suatu keteraturan yang tidak membutuhkan pengawasan orang dewasa.
montessori percaya kalau setiap anak harus merasa santai, tenang, dan tenggelam dalam aktivitas. saat terjadi argumentasi antara anak-anak, mereka dibiarkan berusaha menyelesaikannya sendiri. meskipun begitu, mereka juga memperoleh keterampilan manajemen konflik dari para guru, yang membantu mereka menyelesaikan masalah.
Mitos #3 – Montessori tidak memfasilitasi perkembangan sosial.
respek yang ditunjukkan guru kepada setiap anak menjadi teladan bagi anak-anak untuk saling menghargai. anak-anak kecil berinteraksi dengan anak-anak lain dan juga dengan orang dewasa, sehingga secara bertahap mereka menjadi lebih peduli dan sensitif terhadap sekelilingnya. rentang usia 2-3 tahun dalam kelas menyebabkan pembelajaran terjadi dari anak-anak yang lebih besar ke yang lebih kecil, dan ini terjadi secara alamiah.
namun montessori juga menghargai anak dan kebutuhannya akan privasi. selain memenuhi kebutuhan anak untuk beraktivitas sendiri(an), area dan aktivitas dalam kelas juga memungkinkan anak-anak saling berinteraksi. anak-anak yang lebih besar sering menjadi guru bagi yang lebih kecil, serta anak bisa bekerja sama ataupun sendiri-sendiri sesuai pilihan mereka.
Mitos #4 – Montessori tidak ketat secara akademis.
banyak orangtua khawatir menyekolahkan anak di pendidikan Montessori karena berpikir metode ini tidak akan mempersiapkan anak-anak mereka untuk tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Sekali lagi, ini bisa dibilang sangat tidak benar.
Sistem Montessori tahu bahwa anak-anak yang masih sangat kecil dapat memahami konsep-konsep yang rumit jika mereka diperkenalkan secara konkret. Sebagai contoh, jika mereka telah belajar tentang tabel perkalian menggunakan material '100's Board' maka mereka akan memiliki pemahaman yang jauh lebih besar tentang perkalian ketika pembelajaran berkembang menjadi simbol abstrak.
Seiring anak tumbuh dewasa, mereka mempelajari keterampilan seperti membaca, menulis dan juga meneliti dengan mengeksplorasi mata pelajaran lain dalam kurikulum, seperti kajian budaya dan ilmu pengetahuan. Keterampilan tidak hanya diajarkan untuk kepentingan itu, tapi juga untuk mendorong peserta didik maju lebih cepat karena mereka sering mempelajari area yang menarik bagi mereka.
Seperti dikutip dalam studi Angeline Lillard yang diterbitkan dalam jurnal, Science, pada tahun 2006, "Siswa Montessori terbukti secara signifikan lebih siap untuk sekolah dasar dalam keterampilan membaca dan matematika daripada anak-anak non-Montessori.
"Mereka juga teruji lebih baik pada 'fungsi eksekutif,' yaitu kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan dan masalah yang lebih kompleks, suatu indikator kesuksesan dalam bersekolah dan hidup di masa depan."
Menurut neuroscientist, Dr Steven Hughes, "Jika kami memutuskan bahwa tujuan pendidikan seharusnya adalah membantu otak setiap anak mencapai potensi tertinggi perkembangan ... pendidikan Montessori menyajikan pendekatan pendidikan yang secara radikal berbeda - dan juga secara radikal efektif - yang mungkin menjadi metode terbaik untuk memastikan perkembangan kognitif, sosial, dan emosional yang optimal dari setiap anak."
Mitos #5 – Anak-anak yang lebih besar akan mengintimidasi yang lebih kecil.
anak-anak Montessori disusun dalam kelas dengan rentang usia 2 sampai 3 tahun. ini bikin banyak orang tua khawatir nantinya anak-anak yang lebih tua akan mengintimidasi anak-anak yang lebih kecil.
padahal kondisi mixed-age (campur-usia) ini memberikan kesempatan bagi siswa yang lebih berpengalaman untuk menjadi role model dan membantu anak lain. hal ini menaikkan harga diri anak.
dengan adanya rentang usia di kelas, kompetisi diminimalisir sebagai motivator. Para siswa dapat dengan nyaman berbagi pengetahuan dengan satu sama lain. Mereka belajar untuk bekerja sebagai tim dan menghargai kontribusi masing-masing anggota dalam situasi apapun. Kemampuan ini bisa menjadi "alat" bagi anak dalam memecahkan konflik, yang akan membangun toleransi untuk sudut pandang yang berbeda dan mempersiapkan anak-anak menjadi orang dewasa yang penuh kasih.
Mitos #6 – Montessori Terlalu Terstruktur
Beberapa orang meyakini kalau Montessori kacau dan tidak terstruktur, seperti yang sudah dibahas sebelumnya, sementara yang lain percaya kalau montessori terlalu terstruktur. di mata mereka, anak-anak duduk dan bekerja sepanjang hari dan tidak diizinkan untuk bergerak.
Dalam kelas Montessori, anak-anak benar-benar memiliki kebebasan untuk berjalan-jalan di sekitar kelas, menyelesaikan pekerjaan dalam urutan yang mereka pilih. Tidak ada batasan waktu di dalam kelas, yang berarti selama 3 jam siklus kerja, anak-anak dapat mengunjungi meja suara, atau material sensorik, practical life, kemudian pindah ke Matematika. Satu hal yang penting adalah ketika mereka berinteraksi dengan material, 'bekerja' terasa lebih seperti 'bermain' yang semakin membuat mereka terlarut dalam aktivitasnya.
Mitos #7 – Anak-anak bebas melakukan apa saja di dalam kelas montessori
Sebenarnya lingkungan montessori disiapkan dengan sangat hati-hati dan kaya dengan material yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak.
anak dapat mengeksplorasi apa yang menjadi ketertarikan mereka. Jika anak-anak diajarkan kemerdekaan memilih sejak dini, mereka dapat jauh lebih termotivasi untuk belajar.
Guru bergerak di dalam kelas, membimbing dan mendorong anak-anak untuk menantang diri mereka sendiri di area pembelajaran yang sedang mereka jelajahi dan di area-area baru. Guru menjadi pengamat terlatih danmembantu anak-anak untuk bertumbuh secara intelektual selagi mereka menguasai keterampilan baru. Bahkan, di tingkat yang lebih rendah, anak-anak belajar untuk membuat rencana kerja mereka sendiri untuk satu hari yang mencakup area dasar seperti matematika, membaca, budaya, ilmu pengetahuan dan banyak lagi. Manajemen diri ini menjadi fondasi penting seiring tingkat pemahamana anak bergerak ke tingkat lebih tinggi.
Mitos #8 – program Montessori tidak akan bisa mengimbangi kurikulum di sekolah non-Montessori.
Mitos ini sering diangkat dan pastinya tidak terjadi. Faktanya anak-anak Montessori seringkali maju jauh melampaui tingkat yang dicapai di sekolah umum. Ini telah dibuktikan oleh hasilnya. Sering ada komentar bahwa anak-anak Montessori sangat cemerlang dan lebih unggul secara akademis ketika dimasukkan ke sekolah umum. Ini juga terbukti saat mereka berada di jenjang SMA.
Mitos #9 – Montessori hanya berhasil untuk anak-anak tertentu.
lagi-lagi ini hanyalah mitos. montessori bisa diterapkan pada setiap anak. pendidikan ini menerapkan ketiga model pembelajaran, yaitu visual, pendengaran dan kinetik, sehingga setiap peserta didik bisa mencapai kesuksesan. Guru juga bertindak sebagai pengamat yang terampil seperti telah disebutkan tadi, sehingga bisa tahu kekuatan dan tantangan yang dihadapi setiap murid dalam kelasnya. setiap guru menghandle kelompok kecil murid sehingga bisa memastikan anak-anak memahami konsep sebelum bergerak ke pekerjaan independen yang terkait.
Mitos #10 – Montessori tidak memberi peluang untuk bermain bebas atau
pengembangan kreativitas.
Ada banyak waktu untuk anak bermain bebas di waktu istirahat. juga banyak kegiatan tambahan yang ditawarkan seperti seni, musik, drama, bahasa tambahan dan pendidikan jasmani. Kelas-kelas ini dianggap sangat penting untuk pengembangan anak secara keseluruhan. Kreativitas juga dipelihara dan didorong dalam lingkungan kelas dengan mendukung rasa ingin tahu dan minat anak. kita mungkin akan kaget kalau tahu berapa banyak inovator dalam teknologi tinggi dan seni yang punya landasan pendidikan di sekolah Montessori.
demikianlah. panjang yak... karena emang ternyata banyak mitos seputar pendidikan montessori. apalagi buat level pendidikan yang lebih tinggi dari PAUD; wajarlah banyak asumsi karena di Indo kita kenalnya kurikulum nasional yang akademik banget.
kesimpulannya, mitos-mitos ini timbul jika kita hanya melihat Montessori secara selintas. padahal dalam kenyataannya, pendidikan ini sangat memperkaya perkembangan diri anak.
![]() |
| click to enlarge |
04/01/2016
what's in a year?
di kasur aja, cyiin, sementara bumy dan bapake sudah terlelap. tumben yah kita 'disiplin' banget di malam libur, udah kayak malam hari kerja aja. maklumlah, 'kan lagi long weekend. oh yes, libur natal ini empat hari aja gituu... dari kemarin kita udah jalan-jalan random seharian, begadang, dan bangun siang. bisa dibilang udah cukup kenyang bergaya hidup 'hedon' selama beberapa hari ini, hihihi. tapi hari ini, kayaknya badan mulai tepar, jadi dari jam 8 udah mulai merapat ke kasur. bumy dan bapaknya sih yang begitu. gue masih anteng di ruang tamu, sembari blogwalking, buka socmed, dan sejenak nonton "Annie Hall" yang kebetulan diputar di AMC.
karena nyebut socmed, gue jadi keinget kalau banyak orang yang lagi menghabiskan long weekend ini dengan berlibur entah ke luar kota atau luar negri. kita mah di sini-sini aja. menikmati jakarta yang lengang, hahaha dalih standar ini. to be honest kalau 'amunisi'nya ada, ya tentunya pengen liburan jugalah. tapi, lagi-lagi diliat dari postingan socmed orang-orang, tempat wisata malah justru penuh. iya, mulai dari yang di bandung sampai di los angeles, keluhannya sama: tempat wisata penuh sesak, dan jalanan dari-menuju tempat wisata macet. jadi kayaknya kalaupun next time punya amunisi, mending dipake buat plesir saat low season, deh. lagian, suasana kantor di mana banyak yang lagi cuti gini justru enak buat dinikmati *kedip-kedip licik* hehehe.
saat ini sebenernya gue lagi nggak punya topik khusus buat 'dibahas' di blog. well, I guess you could tell blog gue ini memang tempat ngelantur yang cenderung tidak informatif - no sarcasm or irony intended, really. this blog is just a place where I could feel connected with myself.
what should I talk about? since we're getting closer to new year, how about making somekinda review of how this year has been?
it doesn't have to be on chronological order, but at least I could have something to reflect upon. let's start it with..
- about school choice
ini salah satu sumber dilema/kepusingan terbesar gue dan adit tahun ini. meskipun pilihannya hanya antara 2: a "new" school or the incumbent - tapi kita maju-mundur terus dalam proses membuat keputusan.
sejujurnya sih, kita nggak merasa 100% sreg saat membuat pilihan, karena we sort of waited for something to happen. a 'sign' yang bisa melonjakkan rasa sreg kita hingga full 100%. well, that 'sign' never did come. sampai lalu deadline memilih akhirnya hadir dan kita terpaksa membuat pilihan. kalau dipikir ulang sekarang, rasanya sombong banget deh pemikiran kita itu. kenapa merasa berhak diberikan pertanda, dorongan, atau apalah sebutannya. bukankah kita justru seharusnya melakukan 'porsi' tindakan kita sebaik-baiknya, yaitu mencari tahu, menghitung risiko, menemukan solusi, dan lain-lain yang kendalinya memang kita miliki? bukannya dengan songong meminta keajaiban supaya tau-tau bisa mampu beli apartemen deket calon SD bumy kelak.. hahaha.
jadi berarti keputusan diambil dengan agak gambling, dong? yaa bisa dibilang begitu xD
kalau dibilang mencari yang terbaik, bisa dibilang "terbaik" itu ya yang paling sesuai dengan kebutuhan kita. kita butuh bumy diberi asupan ilmu bukan cuma duniawi tapi juga bekal buat ke akhirat. kita butuh bumy bisa nentuin cara belajar, apa yang mau dia pelajari, dengan "kecepatan"nya sendiri, sehingga dia bisa 'mandiri' dalam berpikir. by choosing this one school, bismillah semoga jalan kita dimudahkan untuk memenuhi (kebutuhan) pendidikan bumy ini.
- tahun ini, gue juga dapat wake up call dalam hal kesehatan. ternyata, gaya hidup yang selama ini dijalani berdampak merugikan buat tubuh sendiri - terbukti, kadar kolesterol (jahat) gue dan adit tinggi, kak! kita emang naif (dan terlalu pede) sih kalo dipikir-pikir, hihihi... makan berlemak-berminyak-penuh gula semaunya, di rumah hobinya jadi couch potato, udah gitu keturunan darah tinggi+diabetes pula dari kedua sisi. jadi ya kita mulai bebenah soal ini. umur emang di tangan Allah, tapi ikhtiar itu wajib, dan merusak diri juga 'kan berdosa. kecuekan kita sama badan sendiri selama ini bisa dibilang 'usaha' merusak diri pelan-pelan in a way. sebelumnya, gue udah lumayan bertekad kuat merombak gaya hidup. menu makan sehari-hari disusun sehingga banyak sayur dan buahnya, goreng-gorengan dikurangi sampe beli phillips airfryer segala, trus olahraga jadi menu wajib sehari-hari. tapi tau-tau... gue dipanggil kerja full-time lagi! valid banget kata-kata yang bilang "setiap perubahan pasti akan dihadapkan pada tantangan." tekad yang udah bulat tadi langsung terhadang kendala waktu dan rutinitas baru. pelan tapi pasti, kita berusaha get around it, sih... road block bukan berarti bikin kita langsung berhenti sama sekali, 'kan. the only problem is, as always, consistency. concern sama kesehatan ini ya harusnya dijadiin habit, gaya hidup. semogaaa kalo bisa konsisten, kita bisa dapet bonus lingkar perut bisa mengecil, bisa crow pose, dan tuntas lari 5 km. aheey.
- tahun ini juga jadi momen perubahan status gue: from SAHM, back to a WM once again.
even though I've been missing bisa jemput bumy tiap hari, bisa bobok siang bareng, les yamaha di hari kerja, dst dsb, but I am thankful for the opportunity to work again. I said it then and I'll say it again: to have a choice is a privilege! so hopefully I can be a better person by having this 'new' role.
- a new skincare routine here. nggak banyak wishlist dulu, deh, mau rajin dan rutin aja dalam nerapin rutin ini.
- new "projects" with fellow blogger/inspiring moms here, and project kalbu with Kiti here. kedua "project" ini bener-bener sarana katarsis sekaligus penyemangat dalam mewujudkan passion gue. alhamdulillah :)
- and 2015 is also very special karena di tahun inilah gue mengenal majelis tafakur.
gue merasa, hal-hal yang disampaikan di majelis bener-bener apa yang selama ini gue butuhkan. gue diajarkan mengenai tauhid from stratch. setelah dijalani hampir 10 bulan ini, makin terasa kalau ilmu agama yang gue terima sebelum kenal tafakur tuh normatif banget, dan nggak menanamkan motivasi intrinsik untuk menjadi insan/muslimah yang lebih baik. di sini gue dikenalkan tentang konsep 'baru' tentang iman, tentang keyakinan ilahiyah. berhubung sepanjang hidup gue belajar tentang agama islam lewat cara pandang dan pemaparan yang melibatkan otak aja, jadi tantangan terbesar setelah bertafakur (di mana kalbu yang diisi dan diasah) adalah bagaimana mencabut keyakinan yang sudah ada di diri sejak kecil.
intinya, kalau gue bisa meringkas kalimat untuk mereview kesan gue terhadap majelis ini, yang bisa gue bilang hanyalah: thank you for the disillusionment.
kesimpulannya, there's a lot to be thankful for this year. meskipun sempat rada depresi, alhamdulillah bisa jalan-jalan, alhamdulillah kita semua sehat-sehat, alhamdulillah bisa menikmati banyak momen kebersamaan dengan keluarga.
oh ya terkait parenting, gue sempat ikut beberapa seminar di tahun 2015. seru, membuka mata, dan ngasih banyak ilmu. tapi kalaupun bisa membuat resolusi, sepertinya gini:
- terkait parenting, I want to apply more verbs instead of putting on adjectives, to-do lists, atau nambah ilmu. not that it's bad. tapi gue pengen bisa mewujudkan hal-hal yang selama ini cuma gue pelajari, baca, atau angan-angankan doang. pengen bisa bacain buku cerita buat bumy tiap malem. pengen bisa SABAR (wishlist semua orangtua nih kayaknya - dan sebenernya ini udah dikabulkan loh, karena 'kan dikasih Allah media latihannya setiap hari hehe). pengen disiplin menjauhkan gadget kalau lagi bersama anak. pengen bener-bener dilakuin, deeehh pokonya.
- buat hal-hal duniawi, antara lain seperti yang dicantumkan di bawah ini
hehe.. but the bottomline is, I hope this will be a great year; meaning I will be "great" in everything I come across.
happy new year, y'all!
22/11/2015
masih soal memilih sekolah
minggu ini bagi gue 'berkualitas' banget. alhamdulillah...
jadi, sekarang ini yang membebani pikiran gue adalah soal memilih sekolah Bhumy. iya, belum kelar-kelar ey proses memikir dan menimbang-nimbangnya! pilihan emang sudah mengerucut sih, jadi tinggal 2 opsi. tapi hasil assessment pro-cons terhadap 2 opsi ini sama-sama memberatkan untuk dipilih.
sekolah #1 ya sekolahnya Bhumy sekarang.
pro-nya:
- metode dan kurikulum montessori; sesuai banget sama perkembangan (otak) anak, mendukung multiple intelligences, active learning, melatih kemandirian, dst dsb yang rasanya udah sering gue bahas di blog. oh ya, karena nantinya anak-anak di sini tetap harus ikut UN, maka akan ada semacam pengayaan untuk persiapan UN mulai kelas 5.
- learning with Islamic values; iya, sekolah ini bukan sekolah Islam, jadi nggak menuntut anak hafal Al-Qur'an sekian juz, hafal hadits dsb. tapi selain mengajarkan tentang sejarah, konsep tauhid, fiqih, syariah, dst, juga menekankan pada penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari dan juga bermasyarakat.
- guru-gurunya "oke" dalam artian kualifikasi pendidikannya bagus, paham agama, modest, santun, dan komunikatif.
- ekskulnya kok ya seru-seru, ada pramuka (intra curricular), mandarin, sama memanah!
tapiiii:
- uang pangkal untuk SD angkatan Bhumy naik 20% dari biaya tahun laluuuu T______T
- jauh dari rumah dan dari segi transportasi rada ribet, apalagi pas nggak ada supir kayak sekarang uhuhuhuhu.
- lahan sekolahnya terbatas. bangunan emang masih baru dan fasilitasnya cukup memadai. tapi ya gitu, nggak ada yang namanya lapangan basket (apalagi lapangan bola), kolam renang juga seadanya alih-alih olympic size haha.
- usia sekolahnya relatif baru, murid masih sedikit, lulusan bahkan belum ada. dengan demikian, sekolah ini belum dapat akreditasi, dan untuk UN sementara menumpang dulu di sekolah lain.
untuk uang pangkal, yaahh meskipun mencekik, tapi bisalah diusahain.. insya Allah. jarak nih dilema terbesarnya. agak ketar-ketir membayangkan harus hire supir baru lagi dari awal, dan menghadapi potensi drama.. hhh.
sementara untuk keterbatasan lahan, kalau kita udah memilih menyekolahkan Bhumy di situ, ya pastinya harus tutup matalah soal itu.
sementara sekolah #2,
pro-nya:
- cuma 1 km dari rumah! dan ada jemputannya! OMAGAAHH, faktor ini doang aja udah menggiurkan banget!
- uang pangkal untuk SD bisa 'dicicil' per tahun!
- sudah eksis selama 20 tahun... berarti lebih berpengalaman, bukaan. akreditasinya juga A, rata-rata nilai UN-nya tinggi. (but do I really care about that-numbers and grades and all that is 'visible' to the eyes?)
- kurikulumnya IPC. well, ini bisa jadi faktor pemberat maupun pengurang kecondongan hati, sih, tergantung dari cara pandang dan visi-misi ortu. IPC ini semacam jalan tengah antara kurikulum IB yang 'praktek' banget dengan kurikulum nasional yang teoritis/akademis banget. maafkan yah kalau pemahaman dan pemaparan gue ini banyak ngaconya, soalnya berdasarkan riset abal-abal via internet dan ingatan sekadarnya.
terus karena kurnas sudah di-blend in dengan penerapan kurikulum IPC, jadi anak sepertinya bakal lebih terbiasa dengan kurnas alih-alih baru mulai dibiasakan dengan kurnas pada 2 tahun terakhir level primary aja.
dari hasil survey kemarin, contoh yang paling nyata adalah sekolah ini hampir nggak ada field trip (adanya outing, yang mana ya untuk refreshing aja setelah tahun ajaran selesai). sementara di sekolah #1 ada field trip paling nggak 1 kali setiap term (3 bulan) untuk menunjang proses belajar. bahkan bisa lebih, untuk memfasilitasi ketertarikan dan curiosity anak.
trus soal PR, di montessori, nggak ada PR samsek. tapi untuk kurikulum IPC ini ada worksheet untuk dikerjakan anak setiap harinya. am I against PR? nggak, kok. gue justru berpikir pengulangan itu perlu. tapi, ini semacam menjadi 'pertanda' kalau faktor akademis menjadi 'warna' utama dalam pendidikan di sini kelak.
- sekolahnya luaaaas. yah, bisa dimengerti. lokasi sekolah #2 ini terbilang pinggiran jakarta, sementara sekolah #1 ada di tengah kota. jadi, sekolah #2 ini fasilitasnya mumpuni; ada lapangan bola 2 bijik(!), lapangan basket, dll. makanya, pilihan ekskul untuk siswa juga jauh lebih beragam.
lalu cons-nya:
- pendidikan agama cuma 2 jam per minggu. emang, setiap harinya anak-anak beragama Islam akan diajak sholat dzuhur berjamaah. trus ada ekskul Iqra juga. tapi.. porsinya jelas berbeda jauh dengan sekolah #1.
- school fee bulanannya lebih mahal hampir 40% dari sekolah #1. hmm... diitung-itung, bisa tergantikan sama uang bensin dan gaji supir, sih. tapi, ini berkaitan dengan poin selanjutnya, yaitu...
- waktu kita visit ke situ saat jam pulang sekolah, kita lihat deretan mobil yang akan menjemput. hmm.. kok ada jaguar aja? haha.. alphard dan sekelasnya juga bererot, semacam mobil 'standar' di situ xD jadi agak gentar juga, membayangkan gimana kalo anak kita jadi semacam Sanchai di antara para anak konglomerat, kekekek...
- ini mungkin preferensi pribadi semata, tapi kegiatan pramuka baru ada di level middle school. berkat melihat sang teman hidup yang "boy scout" banget sanubari dan adab perilakunya (hahaha), gue jadi sadar kalau kepanduan itu ilmu yang penting dan berguna banget untuk diajarkan ke anak.
untuk menambahkan ketegangan, kita sudah harus memutuskan Bhumy mau bersekolah di mana per Desember ini. sementara sampe sekarang gue dan Adit masih bingung sejadi-jadinya.
hati kita sih sepakat, condong ke sekolah #1. tapi perjuangannya nampak akan lebih berat... terutama terkait faktor jarak dan transportasi.
gue sempat curhat sedikit sama dokter Yuniar seputar memilih sekolah ini, eh jawaban beliau tak dinyana sekonyong-konyong menghujam hatik: "itu jihad kita sebagai orangtua, Ris." glek...
gue jadi berpikir, ajang Bhumy masuk SD kelak ini akan jadi milestone juga buat kita sekeluarga. gue inginnya tetap bisa memberikan waktu, perhatian, dan pendampingan yang berkualitas buat Bhumy, sambil tetap bekerja. gue emang berdoa (Adit juga - getok kalo nggak), semoga jalan kita dimudahkan dan dimuluskan kalau memang sekolah #1 yang terbaik untuk Bhumy.
karena kalau di-crosscheck sama "kriteria" memilih sekolah yang gue tulis tempo hari, begini hasilnya:
- kurikulum IB -> gue menganggap kurikulum montessori banyak kemiripan dengan IB. di montessori, anak-anak bisa memberikan input tentang bagaimana mereka mau diajar, dan mereka bisa mengontrol cara belajar mereka dibandingkan anak-anak di sekolah berkonsep "tradisional." montessori juga 'lahan' yang tepat untuk menggarap anak sesuai kecerdasan majemuknya, karena gaya belajar alami dan preferensi anak dihargai dan didukung. kemampuan analitis anak juga didukung lewat gaya belajar yang nggak fokus ke textbook semata. btw info ini gue dapat selain lewat browsing, juga lewat hasil diskusi sama Kepsek sekolah Bumy sekarang.
kurikulum IPC sendiri juga mendukung active learning dan juga konsep kecerdasan majemuk dalam prakteknya. gue kutip dari situs ini, dijelaskan sbb "Kurikulum IPC ini sebenernya seperti kurikulum IB yang disempurnakan. Jadi disini tidak hanya sekedar framework, tapi sudah jelas topik-topik dan panduan apa yang akan dipelajari. Kurikulum ini menekankan field study dan penerapan aplikasi teori."
lalu dalam hal "teknis,"
- fasilitas - yakin nih, gue nggak mupeng dengan sekolah yang fasilitasnya "lengkap bin mumpuni sampai ada lapangan hoki dan ice skating segala?" fufufufu...
- pergaulan - sebelumnya, hal ini nggak gue jadiin pertimbangan banget. tapi, gimana kalo abis liburan nanti temen-temen sekelas Bumy pada seru bilang abis liburan ke Mount Titlis atau Raja Ampat, sementara Bumy... ngider-ngider BSD-Karawaci aja? x))))
- lokasi - kemarin gue tulis dengan sombongnya kalau jarak bukan masyalah buat kita.. eeh abis itu langsung diuji dong, dengan supir resign dadakan! baru deh, terasa... kasian banget Bumy harus menempuh jarak segitu jauh naik motor. berjibaku sama macet pula.
wishlist terbesar kita (yang mungkin agak nggak tau diri sekaligus rada gila) adalah bisa tinggal deket sekolah #1. gue membayangkan Bhumy nggak perlu commuting jauh-jauh membelah macet setiap paginya, serta gue dan Adit bisa balik dari kantor dan ketemu Bhumy dengan lebih cepat karena nggak perlu berjibaku dengan kemacetan jam pulang kerja.
berlebihan-kah?
yah... it's up for you to judge.
tapi kita juga sadar banget kalau bisa tinggal di landed house di tengah Ciganjur begini merupakan sebuah privilege yang tak ternilai buat kita. Bhumy bisa lelarian sama Naya tiap sore, jauh dari polusi dan keriweuhan tengah kota.
BRB istikhoroh dulu, deh... :)))
- masuk kerja cuma satu hari, jumat doang! hahaha.
- bisa begitu karena gue ambil cutii - yaiyalah xD we spent it on a mini vacation to the little red dot <3
- pas weekend, sabtunya kita ke sekolah Bhumy untuk liat doi beraksi di ajang science fair. abis itu langsung tafakuran, trus cuss ke Mrican untuk balikin mobil dan quality time sama oma opa hehe... hari minggunya, oma opa nganterin kita ke Ciganjur, makan soto mie bareng-bareng di rumah, trus sorenya grocery shopping. subhanallah komplit.
![]() |
| gambar dari sini |
sekolah #1 ya sekolahnya Bhumy sekarang.
pro-nya:
- metode dan kurikulum montessori; sesuai banget sama perkembangan (otak) anak, mendukung multiple intelligences, active learning, melatih kemandirian, dst dsb yang rasanya udah sering gue bahas di blog. oh ya, karena nantinya anak-anak di sini tetap harus ikut UN, maka akan ada semacam pengayaan untuk persiapan UN mulai kelas 5.
- learning with Islamic values; iya, sekolah ini bukan sekolah Islam, jadi nggak menuntut anak hafal Al-Qur'an sekian juz, hafal hadits dsb. tapi selain mengajarkan tentang sejarah, konsep tauhid, fiqih, syariah, dst, juga menekankan pada penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari dan juga bermasyarakat.
- guru-gurunya "oke" dalam artian kualifikasi pendidikannya bagus, paham agama, modest, santun, dan komunikatif.
- ekskulnya kok ya seru-seru, ada pramuka (intra curricular), mandarin, sama memanah!
tapiiii:
- uang pangkal untuk SD angkatan Bhumy naik 20% dari biaya tahun laluuuu T______T
- jauh dari rumah dan dari segi transportasi rada ribet, apalagi pas nggak ada supir kayak sekarang uhuhuhuhu.
- lahan sekolahnya terbatas. bangunan emang masih baru dan fasilitasnya cukup memadai. tapi ya gitu, nggak ada yang namanya lapangan basket (apalagi lapangan bola), kolam renang juga seadanya alih-alih olympic size haha.
- usia sekolahnya relatif baru, murid masih sedikit, lulusan bahkan belum ada. dengan demikian, sekolah ini belum dapat akreditasi, dan untuk UN sementara menumpang dulu di sekolah lain.
![]() |
| dari science fair kemarin |
untuk uang pangkal, yaahh meskipun mencekik, tapi bisalah diusahain.. insya Allah. jarak nih dilema terbesarnya. agak ketar-ketir membayangkan harus hire supir baru lagi dari awal, dan menghadapi potensi drama.. hhh.
sementara untuk keterbatasan lahan, kalau kita udah memilih menyekolahkan Bhumy di situ, ya pastinya harus tutup matalah soal itu.
sementara sekolah #2,
pro-nya:
- cuma 1 km dari rumah! dan ada jemputannya! OMAGAAHH, faktor ini doang aja udah menggiurkan banget!
- uang pangkal untuk SD bisa 'dicicil' per tahun!
- sudah eksis selama 20 tahun... berarti lebih berpengalaman, bukaan. akreditasinya juga A, rata-rata nilai UN-nya tinggi. (but do I really care about that-numbers and grades and all that is 'visible' to the eyes?)
- kurikulumnya IPC. well, ini bisa jadi faktor pemberat maupun pengurang kecondongan hati, sih, tergantung dari cara pandang dan visi-misi ortu. IPC ini semacam jalan tengah antara kurikulum IB yang 'praktek' banget dengan kurikulum nasional yang teoritis/akademis banget. maafkan yah kalau pemahaman dan pemaparan gue ini banyak ngaconya, soalnya berdasarkan riset abal-abal via internet dan ingatan sekadarnya.
terus karena kurnas sudah di-blend in dengan penerapan kurikulum IPC, jadi anak sepertinya bakal lebih terbiasa dengan kurnas alih-alih baru mulai dibiasakan dengan kurnas pada 2 tahun terakhir level primary aja.
dari hasil survey kemarin, contoh yang paling nyata adalah sekolah ini hampir nggak ada field trip (adanya outing, yang mana ya untuk refreshing aja setelah tahun ajaran selesai). sementara di sekolah #1 ada field trip paling nggak 1 kali setiap term (3 bulan) untuk menunjang proses belajar. bahkan bisa lebih, untuk memfasilitasi ketertarikan dan curiosity anak.
trus soal PR, di montessori, nggak ada PR samsek. tapi untuk kurikulum IPC ini ada worksheet untuk dikerjakan anak setiap harinya. am I against PR? nggak, kok. gue justru berpikir pengulangan itu perlu. tapi, ini semacam menjadi 'pertanda' kalau faktor akademis menjadi 'warna' utama dalam pendidikan di sini kelak.
- sekolahnya luaaaas. yah, bisa dimengerti. lokasi sekolah #2 ini terbilang pinggiran jakarta, sementara sekolah #1 ada di tengah kota. jadi, sekolah #2 ini fasilitasnya mumpuni; ada lapangan bola 2 bijik(!), lapangan basket, dll. makanya, pilihan ekskul untuk siswa juga jauh lebih beragam.
lalu cons-nya:
- pendidikan agama cuma 2 jam per minggu. emang, setiap harinya anak-anak beragama Islam akan diajak sholat dzuhur berjamaah. trus ada ekskul Iqra juga. tapi.. porsinya jelas berbeda jauh dengan sekolah #1.
- school fee bulanannya lebih mahal hampir 40% dari sekolah #1. hmm... diitung-itung, bisa tergantikan sama uang bensin dan gaji supir, sih. tapi, ini berkaitan dengan poin selanjutnya, yaitu...
- waktu kita visit ke situ saat jam pulang sekolah, kita lihat deretan mobil yang akan menjemput. hmm.. kok ada jaguar aja? haha.. alphard dan sekelasnya juga bererot, semacam mobil 'standar' di situ xD jadi agak gentar juga, membayangkan gimana kalo anak kita jadi semacam Sanchai di antara para anak konglomerat, kekekek...
- ini mungkin preferensi pribadi semata, tapi kegiatan pramuka baru ada di level middle school. berkat melihat sang teman hidup yang "boy scout" banget sanubari dan adab perilakunya (hahaha), gue jadi sadar kalau kepanduan itu ilmu yang penting dan berguna banget untuk diajarkan ke anak.
untuk menambahkan ketegangan, kita sudah harus memutuskan Bhumy mau bersekolah di mana per Desember ini. sementara sampe sekarang gue dan Adit masih bingung sejadi-jadinya.
hati kita sih sepakat, condong ke sekolah #1. tapi perjuangannya nampak akan lebih berat... terutama terkait faktor jarak dan transportasi.
gue sempat curhat sedikit sama dokter Yuniar seputar memilih sekolah ini, eh jawaban beliau tak dinyana sekonyong-konyong menghujam hatik: "itu jihad kita sebagai orangtua, Ris." glek...
gue jadi berpikir, ajang Bhumy masuk SD kelak ini akan jadi milestone juga buat kita sekeluarga. gue inginnya tetap bisa memberikan waktu, perhatian, dan pendampingan yang berkualitas buat Bhumy, sambil tetap bekerja. gue emang berdoa (Adit juga - getok kalo nggak), semoga jalan kita dimudahkan dan dimuluskan kalau memang sekolah #1 yang terbaik untuk Bhumy.
karena kalau di-crosscheck sama "kriteria" memilih sekolah yang gue tulis tempo hari, begini hasilnya:
- kurikulum IB -> gue menganggap kurikulum montessori banyak kemiripan dengan IB. di montessori, anak-anak bisa memberikan input tentang bagaimana mereka mau diajar, dan mereka bisa mengontrol cara belajar mereka dibandingkan anak-anak di sekolah berkonsep "tradisional." montessori juga 'lahan' yang tepat untuk menggarap anak sesuai kecerdasan majemuknya, karena gaya belajar alami dan preferensi anak dihargai dan didukung. kemampuan analitis anak juga didukung lewat gaya belajar yang nggak fokus ke textbook semata. btw info ini gue dapat selain lewat browsing, juga lewat hasil diskusi sama Kepsek sekolah Bumy sekarang.
kurikulum IPC sendiri juga mendukung active learning dan juga konsep kecerdasan majemuk dalam prakteknya. gue kutip dari situs ini, dijelaskan sbb "Kurikulum IPC ini sebenernya seperti kurikulum IB yang disempurnakan. Jadi disini tidak hanya sekedar framework, tapi sudah jelas topik-topik dan panduan apa yang akan dipelajari. Kurikulum ini menekankan field study dan penerapan aplikasi teori."
lalu dalam hal "teknis,"
- fasilitas - yakin nih, gue nggak mupeng dengan sekolah yang fasilitasnya "lengkap bin mumpuni sampai ada lapangan hoki dan ice skating segala?" fufufufu...
- pergaulan - sebelumnya, hal ini nggak gue jadiin pertimbangan banget. tapi, gimana kalo abis liburan nanti temen-temen sekelas Bumy pada seru bilang abis liburan ke Mount Titlis atau Raja Ampat, sementara Bumy... ngider-ngider BSD-Karawaci aja? x))))
- lokasi - kemarin gue tulis dengan sombongnya kalau jarak bukan masyalah buat kita.. eeh abis itu langsung diuji dong, dengan supir resign dadakan! baru deh, terasa... kasian banget Bumy harus menempuh jarak segitu jauh naik motor. berjibaku sama macet pula.
wishlist terbesar kita (yang mungkin agak nggak tau diri sekaligus rada gila) adalah bisa tinggal deket sekolah #1. gue membayangkan Bhumy nggak perlu commuting jauh-jauh membelah macet setiap paginya, serta gue dan Adit bisa balik dari kantor dan ketemu Bhumy dengan lebih cepat karena nggak perlu berjibaku dengan kemacetan jam pulang kerja.
berlebihan-kah?
yah... it's up for you to judge.
tapi kita juga sadar banget kalau bisa tinggal di landed house di tengah Ciganjur begini merupakan sebuah privilege yang tak ternilai buat kita. Bhumy bisa lelarian sama Naya tiap sore, jauh dari polusi dan keriweuhan tengah kota.
BRB istikhoroh dulu, deh... :)))
14/10/2015
school-hunting season
di sinilah gue, duduk manis sendirian sambil ngetak-ngetik di ipad. this could be enjoyable, this could be a luxury. tapi nggak demikian yang gue rasakan. kenyataannya adalah gue lagi nungguin Adit kuliah sepulang kerja. sementara Bumy menanti gue di rumah cuma sama si embak. he has said many times that he misses me. but... let's just deal with it.
sekarang ini, gue kembali berjibaku dengan urusan memilih SD buat buat Bumy.
yak, sedang terjadi dilema milah-milih sekolah pada diri beta, all over again. 'kan gue cerita di blogpost ini, kalo gue udah memutuskan Bumy dimasukin SD tahun depan ajah (insya Allah), tapi melihat kondisi hidup sekarang - di mana gue tiba-tiba kerja full-time lagi - gue jadi mempertimbangkan lagi untuk masukin dese ke SD bulan Januari ini.
anaknya sih kemaren bilang, "Bumy gak mau buru-buru masuk SD, ah. abis pulangnya jam 3." nah lo, udah paham dia. tapi mau dimasukin bulan januari atau juli, yang pasti 'kan gue harus nyari sekolahnya dulu. mana nih yang paling tepat?? sd loh ini.. esdeee *zoom in zoom out* bayar uang pangkalnya buat 6 tahun sekaligus buuuu!
awalnya gue udah mantep mau nyekolahin bumy sd di sekolah yang enih. karena berasa udah cocok dari segi metode, biaya, sampe gaya hidup. tapi namanya juga emak-emak, ada yang 'ngomporin' dikit soal sekolah x, y, atau z, seketika membara hasrat keponya.
tapi kembali ke soal kriteria, seharusnya emang kita sendiri yang menentukan, rite? bukannya asupan/rekomendasi/kabar angin dari pihak-pihak luar. mungkin bagi si A, sekolah dengan kurikulum nasional cocok, sementara buat si B, sekolah alam lebih efektif.
soal kurikulum buat gue penting banget, nih. dari browsing sana-sini, gue menemukan kalau kurikulum yang terasa cocok baik dengan harapan gue buat Bumy, maupun dengan kepribadian dan gaya belajar Bumy, adalah kurikulum IB.
IB menekankan pada kemampuan analitis, jadi anak akan banyak diminta membuat laporan, essay dan riset. diskusi dan creative thinking selalu diasah karena nggak ada textbook wajib. trus minat non-akademis anak (kayak musik, seni, dan olahraga) dikembangkan dan diarahkan; karena 'kan nggak semua anak 'berbakat' untuk sukses secara akademik.
cuma kekurangannya juga ada, karena punya standar khusus, makanya sekolah IB biayanya mahal. selain itu, sekalinya 'nyemplung' ke IB, ya harus lanjut, karena akan sulit pindah ke kurikulum lain yang terstruktur lebih ketat.
sementara sekolah Bumy sekarang ini, diklaim menerapkan kurikulum montessori. nah, selama ini gue cuma kenal sama kurikulum nasional, nasional plus, internasional (IB, cambridge, IPC).
jadi gue rasa, sekarang ini waktu yang tepat buat memantapkan/merevisi kriteria sekolah. so far, kriteria gue untuk SD Bumy kelak sbb:
- menyediakan pendidikan yang holistik, yang meng-cover pendidikan hati, akal, dan fisik.
untuk hati, ya meliputi budi pekerti, perkembangan secara emosional, dan juga pemahaman agama.
trus untuk akal, pendidikan yang diberikan sesuai dengan perkembangan otak. ini bukan berarti mengharamkan calistung sama sekali, ya. tapi anak dibikin tertarik untuk bisa baca-tulis-hitung dengan bikin anak tertarik, serta bisa menanamkan pemahaman konsep calistung yang kuat.
kebeneran montessori ini titik berat konsep pendidikannya di pengembangan emosional anak. kaya gue ceritain di entry inilah, jadi selama usia kritikal (0-12 tahun), montessori fokus di pendidikan untuk hati, bukannya akademik.
mengutip ucapan seorang mamah di grup WA, "kalo perkembangan emosional anak baik, cukup mengenal diri sendiri, tau bersikap, maka mau ke SMP dengan kurikulum apapun gak masalah." noted!
- biayanya kita afford... baik uang pangkal dan biaya bulanannya, bisa kita bayar tanpa harus ngutang hehe. udah gitu gaya hidupnya juga nggak nggilani; jujur gue gentar menghadapi sekolah yang setiap ngadain event harus nyewa tempat di luar sekolah, suka ngadain studi banding ke luar negri, intinya banyak biaya tambahannya, gitu. belum lagi hidden cost untuk pergaulan... yang meskipun itu semua seharusnya nggak mengikis ke-DBAS-an asal kita bisa pake kacamata kuda, tapi yaa gue maunya anak terbiasa bergaya hidup sesuai kemampuan emak-bapaknyalah.
- gimana dengan Location Location Location? haha kode pos sekolah kayanya udah nggak terlalu berpengaruh buat kita - secara udah setahun ini nyekolahin Bumy ke kawasan macet yang jaraknya 9 km dari rumah. tapi yang jadi pertimbangan adalah kondisi lingkungan sekolahnya, maunya sih yang bersih, terawat, dan terjaga.
- hal-hal lain yang penting-nggakpenting juga jadi pertimbangan, sih, semacam
hihihi penting-nggakpenting tapi segitu detil yah ceu penjabarannya xD
okelah, semoga kita bisa menjatuhkan pilihan dengan mudah yaa - maksudnya karena udah yakin banget, gitu, hehe. how 'bout you mommas out there? udah mulai school hunting jugakah?
sekarang ini, gue kembali berjibaku dengan urusan memilih SD buat buat Bumy.
yak, sedang terjadi dilema milah-milih sekolah pada diri beta, all over again. 'kan gue cerita di blogpost ini, kalo gue udah memutuskan Bumy dimasukin SD tahun depan ajah (insya Allah), tapi melihat kondisi hidup sekarang - di mana gue tiba-tiba kerja full-time lagi - gue jadi mempertimbangkan lagi untuk masukin dese ke SD bulan Januari ini.
anaknya sih kemaren bilang, "Bumy gak mau buru-buru masuk SD, ah. abis pulangnya jam 3." nah lo, udah paham dia. tapi mau dimasukin bulan januari atau juli, yang pasti 'kan gue harus nyari sekolahnya dulu. mana nih yang paling tepat?? sd loh ini.. esdeee *zoom in zoom out* bayar uang pangkalnya buat 6 tahun sekaligus buuuu!
awalnya gue udah mantep mau nyekolahin bumy sd di sekolah yang enih. karena berasa udah cocok dari segi metode, biaya, sampe gaya hidup. tapi namanya juga emak-emak, ada yang 'ngomporin' dikit soal sekolah x, y, atau z, seketika membara hasrat keponya.
tapi kembali ke soal kriteria, seharusnya emang kita sendiri yang menentukan, rite? bukannya asupan/rekomendasi/kabar angin dari pihak-pihak luar. mungkin bagi si A, sekolah dengan kurikulum nasional cocok, sementara buat si B, sekolah alam lebih efektif.
soal kurikulum buat gue penting banget, nih. dari browsing sana-sini, gue menemukan kalau kurikulum yang terasa cocok baik dengan harapan gue buat Bumy, maupun dengan kepribadian dan gaya belajar Bumy, adalah kurikulum IB.
IB menekankan pada kemampuan analitis, jadi anak akan banyak diminta membuat laporan, essay dan riset. diskusi dan creative thinking selalu diasah karena nggak ada textbook wajib. trus minat non-akademis anak (kayak musik, seni, dan olahraga) dikembangkan dan diarahkan; karena 'kan nggak semua anak 'berbakat' untuk sukses secara akademik.
cuma kekurangannya juga ada, karena punya standar khusus, makanya sekolah IB biayanya mahal. selain itu, sekalinya 'nyemplung' ke IB, ya harus lanjut, karena akan sulit pindah ke kurikulum lain yang terstruktur lebih ketat.
sementara sekolah Bumy sekarang ini, diklaim menerapkan kurikulum montessori. nah, selama ini gue cuma kenal sama kurikulum nasional, nasional plus, internasional (IB, cambridge, IPC).
jadi gue rasa, sekarang ini waktu yang tepat buat memantapkan/merevisi kriteria sekolah. so far, kriteria gue untuk SD Bumy kelak sbb:
- menyediakan pendidikan yang holistik, yang meng-cover pendidikan hati, akal, dan fisik.
untuk hati, ya meliputi budi pekerti, perkembangan secara emosional, dan juga pemahaman agama.
trus untuk akal, pendidikan yang diberikan sesuai dengan perkembangan otak. ini bukan berarti mengharamkan calistung sama sekali, ya. tapi anak dibikin tertarik untuk bisa baca-tulis-hitung dengan bikin anak tertarik, serta bisa menanamkan pemahaman konsep calistung yang kuat.
kebeneran montessori ini titik berat konsep pendidikannya di pengembangan emosional anak. kaya gue ceritain di entry inilah, jadi selama usia kritikal (0-12 tahun), montessori fokus di pendidikan untuk hati, bukannya akademik.
mengutip ucapan seorang mamah di grup WA, "kalo perkembangan emosional anak baik, cukup mengenal diri sendiri, tau bersikap, maka mau ke SMP dengan kurikulum apapun gak masalah." noted!
- biayanya kita afford... baik uang pangkal dan biaya bulanannya, bisa kita bayar tanpa harus ngutang hehe. udah gitu gaya hidupnya juga nggak nggilani; jujur gue gentar menghadapi sekolah yang setiap ngadain event harus nyewa tempat di luar sekolah, suka ngadain studi banding ke luar negri, intinya banyak biaya tambahannya, gitu. belum lagi hidden cost untuk pergaulan... yang meskipun itu semua seharusnya nggak mengikis ke-DBAS-an asal kita bisa pake kacamata kuda, tapi yaa gue maunya anak terbiasa bergaya hidup sesuai kemampuan emak-bapaknyalah.
- gimana dengan Location Location Location? haha kode pos sekolah kayanya udah nggak terlalu berpengaruh buat kita - secara udah setahun ini nyekolahin Bumy ke kawasan macet yang jaraknya 9 km dari rumah. tapi yang jadi pertimbangan adalah kondisi lingkungan sekolahnya, maunya sih yang bersih, terawat, dan terjaga.
- hal-hal lain yang penting-nggakpenting juga jadi pertimbangan, sih, semacam
- classroom setting - maunya yang nggak duduk berjejer ke arah papan tulis. karena ini menggambarkan metode pengajaran yang dipake; bisa keliatan dong kalo menghadap satu arah kaya gue di SD negri dulu, metodenya akan berupa guru monolog di depan. gue maunya anak diajak banyak diskusi (bukan banyak dikasih hafalan dan PR), disuruh bikin essay dan conduct research alih-alih menyalin doang.
- rasio guru dibanding anak - nggak terlalu sedikit tapi juga nggak kebanyakan. 1:30 justru kondisi 'ideal' kalo dari mbaca buku Malcolm Gladwell.
- fasilitas - nggak harus lengkap bin mumpuni sampai ada lapangan hoki dan ice skating segala, yang penting bersih dan terurus.
- kompetensi pengajar - menilik pengalaman yang tlah lalu, level edukasi guru ternyata ngaruh banget sama kualitas pendidikan yang dideliver.
- komunikasi antara sekolah dengan ortu - kalo bisa sih ada PTA, dan kepseknya juga komunikatif (tidak arogan adalah syarat utama!).
- penerapan disiplin secara konkret - disiplinnya tentang apa: baju, absen, attitude? pembentukan perilakunya lewat apa?
hihihi penting-nggakpenting tapi segitu detil yah ceu penjabarannya xD
okelah, semoga kita bisa menjatuhkan pilihan dengan mudah yaa - maksudnya karena udah yakin banget, gitu, hehe. how 'bout you mommas out there? udah mulai school hunting jugakah?
28/05/2015
is faster always better?
![]() |
| gambar dari sini |
- Bumy lahir di bulan "nanggung" kalau dilihat dari kalender akademik, yaitu di bulan November. Tahun ajaran ini usianya 5,5 tahun, cuma kurang sedikit dari syarat umur minimum untuk masuk SD (6 tahun). Berhubung di sekolah montessori kelasnya pakai sistem mixed-age, jadi Bumy sekelas sama teman-teman yang rentang usianya mulai dari 3 sampai 6 tahun. Nah, kebetulan sohib-sohibnya kebanyakan udah berusia 6 tahun dan bakalan masuk SD tahun ini. Karena itulah dia jadi kepengen masuk SD juga; precisely he said, "Bumy mau (masuk) SD juga, ma, biar bareng sama X, Y, Z!"
Kok seolah gue mendukung anak supaya ikut-ikutan, yaah. To be honest, gue dan Adit belum mengiyakan atau membantah keinginannya itu, sih, tapi ini jadi hal yang kita pertimbangkan. Apalagi ada semacam kekhawatiran kalau... (lanjut ke poin berikutnya)
- Seandainya dia 'dibiarkan' tetap di TK, gue khawatir dia nggak terstimulasi secara optimal. Gue pribadi beranggapan kemampuan dia udah cukup untuk masuk SD. Kemampuan apa sajakah? Yang terlihat secara 'kasat mata' aja, sih, yaitu kemampuan kognitif dan perkembangan sosial-emosionalnya. Kemampuan calistungnya di mata gue udah cukup - terlebih karena sebelum masuk sekolah ini dia nggak bisa baca-tulis sama sekali, tapi hanya dalam satu term, dia bisa keep up.
Yang bikin kagum, cara mengajarkan calistung di sini nggak pakai drilling atau metode yang bikin anak setres, melainkan sambil bermain dan dengan bantuan apparatus montessori. Jadi gue pikir ke depannya insya Allah dia nggak menemui kesulitan.
Kalau dari segi perkembangan sosial-emosional, one thing for sure, making friends is an easy-peasy business for him (baca: anaknya sok akrab beneuur). Dia udah bisa mengungkapkan perasaan dan pikirannya secara jelas, trus juga bisa mengikuti proses belajar dan berinteraksi dengan positif di lingkungan sekolah. Simply by knowing this membuat gue yakin dia sanggup-sanggup aja masuk SD.
Namun, kembali ke soal under-stimulated yang gue sebut tadi, takutnya dia jadi nggak termotivasi kalau masih di TK tahun ini karena a) materi anak TK jadinya udah terlalu 'gampang' buat dia, atau b) dia merasa seolah 'ditinggal' teman-temannya di TK.
Karena itulah, gue yang tadinya yakin dan nyaman aja terhadap gagasan menyekolahkan Bumy ke SD saat usianya udah cukup, sekarang jadi agak goyah. Gue tanya Adit, dia sih mendukung aja kalo Bumy mau dimasukin SD sekarang. Gue tanya bokap-nyokap, jawaban mereka saling mengontradiksi (as always, kapan sih mereka seiya-sekata selain kalau lagi nyalah-nyalahin gue? #tercurcol). Bokap bilang, "Jangan! Biarin Bumy puas main dulu di TK! Lagian nanti kayak kamu, lagi. Dimasukin SD umur 5,5 tahun jadinya nggak dewasa." And whose fault was that, yah??! Zzzz. -___-
Kalo nyokap komentarnya, "Nggak apa-apa! Bagus Bumy masuk SD, biar nanti pas lulus SMA juga nggak ketuaan." And just like that, I know I had made a mistake just by asking for their no-it-can-never-be-objective opinion.
Meskipun begitu, dengan berproses seperti ini gue jadi bisa melihat dengan lebih jelas, sih. Setidaknya jadi tau apa yang gue butuhkan: pendapat yang objektif. Gue nggak ngerasa perlu "jauh-jauh" mengontak pihak ketiga seperti psikolog untuk mendapat masukan, karena menurut gue yang tau banget gimana performansi Bumy di sekolah tidak lain ya pihak sekolah. Jadilah gue bikin janji sama Kepsek sekolah untuk membahas ini.
Sebagai bahan pertimbangan lain, sekolah Bumy ini punya program yang disebut "early elementary." Anak yang usianya sudah cukup masuk TK tapi nanggung (kayak Bumy), bisa berkesempatan 'menyicipi' pendidikan SD tanpa harus menunggu tahun ajaran baru. Pada bulan Januari 2016 nanti atau di tengah tahun akademik, jika anak dinilai sudah siap, maka dia bisa mulai ngikutin pelajaran SD.
The thing is, jam belajar SD itu lebih panjang 2 jam dibanding di TK. Dan karena SD-nya juga pakai metode dan kurikulum montessori, maka kelasnya mixed-age juga, di mana rentang usianya akan berkisar 6-9 tahun (CMIIW). Gue yang tadinya pede memandang kapabilitas anak, jadi mulai 'ciut' memikirkan efek yang timbul dari faktor-faktor ini. Kekhawatiran yang muncul antara lain khawatir Bumy overwhelmed sama materi pelajaran SD dan panjangnya durasi sekolah; juga khawatir Bumy stres karena tantangannya sekarang lebih besar, yaitu untuk bisa keep up sama anak-anak usia kelas 2 dan 3 SD - bukan cuma yang sebaya.
Jadi, jadi, ik mesti gimana??
Trus, apa aja, sih, sebenarnya tolak ukur kesiapan anak untuk masuk SD? Googling doang sih gampang ya, tapi 'kan gue juga butuh penilaian objektif terhadap Bumy.
Alhamdulillah, kesempatan yang dinanti-nanti tiba jua, gue bisa meeting dengan sang Kepsek. Hal yang pertama dibahas waktu itu soal bagaimana pandangan sekolah tentang kesiapan anak masuk SD. Dijelasin dulu kenapa Pemerintah Indonesia menjadikan syarat usia minimal anak untuk masuk SD itu 7 tahun, kalau gue nggak salah ingat, sebenarnya supaya anak sudah punya kesiapan secara emosional untuk duduk tenang mengikuti pembelajaran di sekolah. Bukan karena sudah 'matang' kemampuan kognitifnya (baca: lancar calistung). Abis itu beliau menjelaskan soal perkembangan otak anak, di mana di bawah 12 tahun itu baru area pre-frontal cortex yang berkembang. Bagian otak itu adalah yang mengolah nilai-nilai - mana yang benar yang salah, bukan yang mengolah kemampuan kognitif. Jadi sebenarnya tujuan pendidikan selama di TK adalah memperkenalkan anak pada nilai-nilai itu.
![]() |
| gambar dari sini |
Dari diskusi ini, gue jadi tahu hal penting tentang bagaimana proses pendidikan anak usia dini dalam montessori. Di montessori, selama di TK anak dikenalkan pada bunyi-bunyian dan simbol-simbol yang akan menjadi dasar kesiapan baca dan tulis. Anak dikenalkan pada angka dan sistem desimal melalui material konkret untuk menunjukkan cara dan konsep berhitung. Anak juga belajar tentang bentuk tanah dan air, bentuk-bentuk geometris, negara-negara di dunia; bagian-bagian dari tumbuhan dan binatang, pun tentang musik dan seni, sesuai kecepatan masing-masing anak, sehingga anak akan menguasai suatu materi pada waktunya masing-masing.
Jadi, selama di TK inilah anak-anak disiapkan untuk "panen" saat SD kelak. Kemampuan baca, tulis, dan pemahaman matematika berkembang dari bibit-bibit yang ditanam selama di TK. Anak akan lulus dari TK dengan kemampuan akademik yang kuat; tapi yang lebih penting, dengan ATTITUDE bahwa belajar itu menyenangkan, seru, dan tanpa batas. (quoted from here)
Kata yang gue tulis dengan huruf kapital semua itu yang jadi kunci.
Kepsek kemudian menjelaskan bahwa challenge yang akan dihadapi anak saat usia SD kelak adalah kondisi fisiknya, di mana anak akan bergerak menuju pubertas. Dari segi fisik, Bumy dinilai udah nyaman sama fisiknya; kemampuan motorik, balance, fleksibilitas, spatial awareness dan koordinasinya berkembang dengan baik sehingga dia bisa leluasa bereksplorasi. Tapi yang perlu disiapkan untuk masuk SD bukan cuma itu.
Pada saat SD, anak diharapkan sudah menguasai kemampuan problem solving dan menyelesaikan konflik. Tentunya ini kemampuan yang levelnya di atas anak di TK; yang baru sampai pada bisa mengatur emosi ketika berinteraksi dengan teman-teman di kelasnya.
Kemampuan lain yang juga penting bagi anak SD adalah organizational skills. Anak SD nantinya perlu bisa membagi waktu sesuai prioritasnya. Anak juga perlu bisa membagi perhatian dan tenaganya untuk mengerjakan hal-hal di luar sekolah, seperti bikin tugas sekolah, ikut kegiatan olahraga, dan mengerjakan tugas (chores) di rumah.
Kalau anak digegas masuk SD sementara kemampuannya di area yang lain belum matang, dikhawatirkan anak akan menghadapi semua tantangan itu all at once.
Bergerak dari situ, Kepsek mengajak gue untuk sama-sama melihat Bumy sudah 'sampai di mana' dari segi kognitif maupun sosial-emosional, melalui laporan perkembangan anak yang diupdate setiap 3 bulan. Laporan ini sebenarnya bukan cuma tentang improvement anak, tapi menggambarkan scope penilaian setiap kemampuan, yang ternyata nggak sesempit yang gue kira.
Contohnya dalam kemampuan berbahasa, ternyata yang dinilai bukan cuma apakah anak sudah bisa casciscus berbahasa englais. Tolak ukur kemampuan ini dilihat dari
- perkembangan active listening skills anak
- apakah anak sudah bisa menggunakan bahasa untuk membagi ide dan pemikiran secara tepat dan sistematis
- menggunakan body language (eye contact, gesture) secara tepat
- clear pronounciation, hingga
- menggunakan nada suara dan kecepatan yang tepat saat berbicara.
Trus untuk kemampuan menulis, ternyata perkembangan anak dinilai bukan dari sebagus apa hasil tulisannya, tapi salah satunya apakah anak sudah bisa mengonstruksi kalimat sederhana secara grammatikal.
Kemampuan matematika dinilai bukan cuma dari bisa berhitung atau mengerti penambahan pengurangan perkalian pembagian, tapi juga apakah anak bisa memahami konsep volume, konsep waktu, dan konsep jam. Pun konsep uang, serta pengukuran.
Berkat menyimak laporan perkembangan dari sekolah ini, gue tersadarkan bahwa tolak ukur kemampuan anak itu ternyata nggak sesempit yang gue kira. Suatu kemampuan dinilai bukan cuma dari hasilnya, tapi juga dari aspek-aspek lain secara keseluruhan.
Lalu, dari laporan perkembangan anak yang disusun sekolah, gue jadi tahu bahwa ada satu kemampuan yang suka "dilupakan" karena emang nggak kasat mata, tapi ternyata penting banget. Kemampuan ini terkait bagaimana anak menyikapi tugas dan tantangan, yang gue tulis dengan huruf kapital semua tadi, yaitu WORKING ATTITUDE. Gue sebut tadi kalau inilah yang bisa jadi kunci atau penentu keberhasilan anak di SD - bahkan ke depannya kelak.
Apa saja yang diukur dalam kemampuan ini? Jadi, dilihat apakah anak...
- Menunjukkan kepercayaan diri
- Menunjukkan kemandirian
- Menunjukkan inisiatif
- Termotivasi dari dalam
- Becomes a self-directed learner
- Mencoba benda-benda baru atau tugas yang lebih menantang
- Berkonsentrasi saat bekerja
- Memerhatikan arahan dan presentasi guru
- Membuat keputusan
- Bisa mengeksplorasi berbagai material secara mandiri
- Bekerja tanpa mengganggu yang lain
- Mengerjakan tugas sampai selesai
- Hanya meminta tolong ketika benar-benar butuh
- Mampu menggunakan waktu dengan baik
- Mempraktikkan skills yang dipelajari
- Menghargai hasil pekerjaan orang lain
- Mampu mengikuti ground rules
Hasil observasi Bumy di kelas menunjukkan kalau dia sudah bisa memilih his own work alih-alih ngikutin temen. Tapi, dia masih suka enggan mengerjakan tugas yang lebih menantang. Fakta ini membuka mata gue banget, loh. Gue jadi sadar kalau mungkin selama ini Bumy termotivasi dari luar - entah itu supaya dapat pujian, hadiah, atau kekaguman dari teman atau guru - bukannya dari dalam. Mungkin selama ini gue juga yang secara langsung atau nggak langsung bikin dia terbiasa berfokus pada hasil, bukannya pada proses. Padahal, bagaimana dia bisa jadi self-directed learner tanpa motivasi intrinsik?
Bumy juga masih perlu belajar untuk mematuhi ground rules, dan mengatur waktunya dengan baik. Kadang dia nggak sempat melakukan kegiatan yang lain karena masih berkutat di satu aktivitas. Kebayang, sih, ini anak suka keasikan ngobrol atau main. -__-
Karenanya sekarang ini di TK, gurunya mengasah self-discipline-nya dengan membiasakan Bumy membuat rencana aktivitas harian. Bumy juga di-encourage untuk jadi contoh/role model yang baik untuk teman-temannya yang lebih kecil, dengan diberikan role tertentu di kelas, seperti jadi teacher's helper atau jadi imam saat sholat.
Menyadari masih banyak working attitude yang perlu diimprove, walhasil keraguan gue seketika hilang. Gue jadi sreg Bumy lebih lama di TK.
Tentunya gue bersyukur sekolah Bumy melakukan observasi terhadap kemampuan satu ini; karena in a way, tolak ukur dalam working attitude ini bisa memberikan arahan buat gue dalam mengasuh anak. Gue sadar kalau perlu belajar menumbuhkan motivasi anak, bukan cuma bikin dia jadi pengejar prestasi. Gue juga perlu lebih mendukung usaha anak untuk mandiri, mengatur waktu (!!!! tanda seru tiga biji karena gue sendiri manajemen waktunya masih ngaco, huhuhu), menghargai orang lain dan seterusnya. Simply because these are the things that really matter! Hal-hal inilah yang bikin diri anak 'lengkap'; sehingga anak bukannya jadi jago matematika/lukis/nulis/apalah tapi nggak punya life skills untuk bisa mandiri. Bukannya kaya-raya tapi merasa hampa karena nggak punya tujuan hidup.
Ini bukan tugas yang mudah pastinya, tapi tetap perlu dijalani.
"Pokoknya pendidikan harus terletak di dalam pangkuan ibu bapa, karena hanya dua orang inilah yang dapat berhamba pada sang anak dengan semurni-murninya dan se-ikhlas-ikhlasnya, sebab cinta kasihnya kepada anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih tak terbatas." - Ki Hadjar Dewantara
Subscribe to:
Posts (Atom)
















