30/01/2015

coffee, books, and beyond


di hari pertama bulan januari, gue dan adit memilih menghabiskan waktu di sebuah coffee shop di karawaci; gue dengan laptop, sementara dia berkutat di gadgetnya sendiri. saat awal kita masuk ke sini, gue ngerasa kurang nyaman. ruangannya terlalu dingin, dan gue ribet sendiri dengan kabel laptop.
tapi semakin lama, gue sadarin kalau latte di sini nggak buruk-buruk amat. lalu ada tiga orang perempuan muda, mungkin usianya baru akhir belasan atau awal dua puluhan, duduk bersama tapi masing-masing sibuk membuka buku di tangan masing-masing. this makes my heart suddenly feel light. gue ngerasa kayak dikasih kado di hari ulang tahun. hahaha.

pelan-pelan, gue mulai menyadari betapa nyamannya coffee shop yang berada di dalam toko buku ini. tenang, bersahabat, dan nggak ada anak-anak kecil berlarian dan stroller yang bikin sempit.
udah gitu pemandangannya pun membuat nyaman. not incredible, but... heartwarming. di luar mendung, dan kaca-kaca besar di dalam coffee shop slash toko buku ini memungkinkan kita menikmati suguhan sejuknya suasana di luar.

lalu tiba-tiba, terdengar gelak tawa dari meja sebelah kita.
gue baru menyadari kalau yang duduk di situ adalah sebuah keluarga berisi empat orang: ayah, ibu, anak laki-laki, dan anak perempuan. mereka bicara dalam bahasa korea, dan sedang tertawa-tawa sambil bermain suit - a la korea, tentunya. and suddenly i realized it. 
how 'rich' and lucky they are. karena mereka menghabiskan hari pertama di tahun yang baru ini bersama-sama. udah gitu bisa ketawa-tawa bersama pula.
seeing them reminded me that family is what matters the most. be with them, cherish them. karena apapun di dunia nggak ada yang bisa menggantikan kehangatan dan kenyamanan seperti saat bersama mereka. hanya dengan bersama merekalah mentari hari ini bisa terasa begitu hangat meski sedang berada di ruangan yang dingin dan cuaca sedang mendung.

(pasang lagu "keluarga cemara." terima kasih, emak! terima kasih, abah!)
in this case, terima kasih, keluarga korea yang tak kukenal.

27/01/2015

win, lose or draw

Anak Kompetitif, Bagus atau Jelek?



by: - Thursday, January 22nd, 2015 at 7:00 am


trophy 
*Gambar dari sini
Anak saya, Bumy, kini sudah berusia 5 tahun. Saya perhatikan, kepribadiannya semakin terbentuk; satu hal yang sangat kentara, dia supel banget, kayaknya ke manapun kami mampir, dia selalu dapat teman baru. Tapi, juga ada satu hal yang harus distabilo adalah begitu kentara pada dirinya, yaitu tabiatnya yang kompetitif.
Memang sih, yang dikompetisikan oleh anak-anak usia TK ini hal-hal yang nggak penting – buat kita orang dewasa setidaknya, hehe – seperti meributkan pilihan mainan yang paling bagus. Menyebutkan kata-kata yang paling sulit. Siapa yang melempar bola paling jauh. Atau siapa yang bisa bernyanyi paling kencang. *pasang ear plugs*
Saya baca dari artikel di Parents.com, anak-anak usia prasekolah dan TK (5-6 tahun) memang sedang “hobi” membanding-bandingkan. Atau dengan kata lain, lagi kompetitif-kompetitifnya. Jiwa kompetitif anak-anak usia ini sebenarnya terkait dengan naluri yang meningkat akan kompetensi diri mereka, yang mereka ukur dengan cara membandingkan dirinya dengan teman-temannya.
Anak seusia ini juga mulai memahami konsep menang. Karenanya, jangan heran kalau mereka akan berkompetisi tentang apa saja: punyaku yang lebih besar, lebih bagus, lebih merah warnanya. Mereka nggak selalu paham kompleksitas menang dan kalah, tapi mereka mengerti kalau menang itu bagus, jadi mereka mau menang dalam segala hal.
Sebenarnya nggak ada yang salah, sih, dengan sikap kompetitif. We are, after all, living in a competitive world. Masyarakat kita saat ini menganggap penting sekali untuk berhasil ke sekolah yang terkenal bagus, atau dipilih sebagai anggota tim tertentu, atau menonjol pada bidang ekskul tertentu, misalnya. Orangtua tentunya ingin agar anak memiliki kualitas diri yang memungkinkan mereka jadi sukses, dan karenanya nggak ingin mematahkan semangat anak dalam berkompetisi.


competitionMenurut Andrew Meyer, Ph.D., profesor psikologi di University of Memphis, kompetisi nggak sama sekali baik atau buruk, tapi bisa punya dampak positif dan negatif. Tugas orangtua adalah membantu anak-anaknya berkompetisi dalam cara yang sehat. Begitupun coaches atau pelatih, tugasnya menekankan sisi pembelajaran, usaha, dan keseruan dari berkompetisi.
Namun, penting untuk dicatat bahwa banyak ahli berpendapat bahwa yang terbaik adalah menghindarkan anak-anak usia ini dari situasi yang menambah parah ke-kompetitif-an mereka. Karena meskipun anak-anak suka bermain dengan aturan, tapi mereka belum cukup usia untuk menoleransi kekalahan. Mereka juga belum paham benar hubungan antara sikap mereka dan reaksi orang lain, jadi mungkin mereka bingung kalau ada temannya yang nggak mau main lagi sama mereka. Orangtua juga mungkin suka malu mendengar anaknya ngomong berlebih-lebihan dan khawatir anak dianggap arogan atau nggak sensitif.
Nah, saya jadi mau tunjuk tangan karena pengalaman saya sejalan dengan pernyataan tersebut. Ada celetukan anak saya yang bikin ‘alarm’ saya nyala. Di antara obrolannya dengan sahabatnya di sebelah rumah, terjadilah ‘kompetisi’ siapa yang berhasil mendorong mobil-mobilan paling jauh. Ketika temannya berseru, “Horee, aku menang!” anak saya spontan bilang, “Ah, kamu curang!”
Waktu itu, sih, saya tidak bereaksi apa-apa, sekadar nguping dari dalam rumah saja. Tapi, saya jadi lebih memerhatikan sikap anak saya terhadap “kompetisi,” terutama kalau dia kalah. Kok dia suka menuduh lawannya curang, ya, kalau dia kalah?
Mungkin itu hanya caranya mengungkapkan kekecewaan akibat ‘kalah,’ sih. Tapi, saya mencari tahu lebih lanjut, dan menemukan insight bahwa belajar bagaimana cara menang atau kalah dengan baik dan sopan perlu latihan. Dari situ, saya jadi suka ngiklanin ke Bumy boleh-boleh saja beradu ini-itu, asal mau terima kalau kalah. Nggak ada yang salah, kok, dengan kalah.


Orangtua juga bisa mengarahkan anak untuk berkompetisi dengan diri sendiri, seperti mengajaknya memecahkan rekor yang dibuatnya sendiri. Hal yang disukai anak usia prasekolah adalah konsep waktu, maka orangtua bisa memberikan satu atau dua jenis tantangan seperti seberapa cepat dia bisa berlari dari sini ke sana, atau bisakah anak mengingat urutan alfabet lebih cepat dari kemarin. Ajarkan anak untuk berpikir bahwa kemenangan diukur dari usaha, bukan hasilnya. Berikan pujian terhadap cara mereka bermain bukannya menilai hasil akhirnya – sesuai dengan yang dipaparkan Lita di artikel ini, ternyata.
Kebetulan, beberapa saat kemudian ada kesempatan untuk mengajarkan Bumy cara berkompetisi dengan dirinya sendiri. Saya melihat iklan lomba lari Jakarta Kids Dash Run, dan spontan saja mendaftarkan Bumy (dan papanya). Niat awalnya, sih, hanya karena ingin tahu seperti apa lomba lari anak-anak didampingi para orangtua. Lagipula venue-nya juga seru, di pinggir pantai Ancol. Untuk anak seusia Bumy, panjang lintasan larinya hanya 800 meter. Tapi ternyata ketika menempuh lomba, suami saya cerita kalau jarak itu lumayan menantang untuk ditempuh anak-anak. Di tengah lintasan, Bumy mengeluh capek dan bilang mau nyerah aja. Tapi untungnya, suami saya berhasil menyemangati Bumy sampai bisa mencapai garis finish. Padahal saya belum tahu cerita di balik layar ini ketika ‘menyambut’ Bumy dan papanya di garis finish, tapi saya ingat jelas kesan lega, senang, dan bangga di wajah Bumy.

image(4)
Ketika lomba sudah berakhir dan Bumy sudah puas memandangi dan memegang medali finisher yang tersampir di dadanya, Bumy bertanya pada saya, “Ma, ini Bumy juara berapa, sih?”
image_7
Saya sempat diam sejenak sebelum menjawab. Agak khawatir juga, jangan-jangan kompetitifnya bakal kumat kalau saya bilang dia nggak jadi juara. Tapi, terus kenapa kalau dia kecewa nggak jadi juara? Jadi, saya jawab “Bumy nggak dapat juara 1, 2 atau 3. Bumy dapat medali karena bisa lari sampai ke garis finish.”
Lalu dia tanya lagi, “Yang dapat juara siapa, ma?”
“Yang larinya paling cepat dan sampai ke finish duluan.”
“Oh gitu, ya. Yang larinya paling kuat, ya, ma. Bumy mau latihan lari terus, ah, biar bisa menang kalo lomba lagi.”
Setelah dia ngomong begitu, rasanya saya mau bersorak-sorai dalam hati. Karena dia nggak lantas teriak-teriak “Curaang! Yang menang pasti curang!” Phew! xD
Selanjutnya: Hikmahnya apa?


image1
Wah, mungkin ini hikmah yang tidak saya sadari sebelumnya, ya. Dengan mengikuti kompetisi yang bersifat fisik, Bumy jadi bisa merasakan sendiri beratnya perjuangan untuk sampai ke garis finish. Mungkin dari situ, dia jadi sadar bahwa untuk menang diperlukan usaha, dan belajar tentang sportivitas.
Tentunya, semakin anak besar, akan semakin banyak juga mereka mengalami kemenangan dan kekalahan. Selain mengajarkan tentang cara menang atau kalah dengan baik dan sopan, orangtua juga perlu mengajarkan kepada anak bahwa untuk bisa menang, ia perlu berusaha sebaik yang ia bisa, dan ingatkan bahwa akan selalu ada ruang untuk improvement.
Tak cuma itu, yang terpenting untuk dipupuk adalah kemampuan untuk kembali bangkit setelah kalah, terlebih setelah anak masuk usia SD. Hal ini erat kaitannya dengan resiliensi, atau dengan kata lain, keuletan dan ketahanan. Dengan mengajarkan tentang resiliensi, anak disiapkan untuk sukses, karena mereka belajar bahwa kekalahan itu bukan akhir dunia melainkan kesempatan untuk mencoba lagi.
Orangtua juga bisa mengajak anak ikut bermain games yang bergaya kooperatif, yang mementingkan kerjasama untuk mencapai sebuah tujuan. Hal ini akan mengajarkan bahwa dalam berkompetisi juga kadang diperlukan usaha kolektif.

Kesimpulannya, ternyata banyak hal yang bisa saya pelajari dari sikap kompetitif anak saya ini. Tentunya Mommies juga punya pengalaman dalam menghadapi sikap kompetitif anak, ‘kan? Atau mungkin ingin bercerita sekocak apa “kompetisi” di dunia anak-anak yang pernah disaksikan sendiri? Silakan berbagi di sini.

22/01/2015

the parachute

sudah menulis curhat panjang lebar lalu keapus itu rasanya... *ngunyah rawit*
hish, padahal satu jam di gerai mcd kemang kemarin khusus gue dedikasikan untuk reportase hari-hari liburan. ya emang nggak berfaedah sih buat siapa-siapa selain gue sendiri, tapi 'kan lumayan buat nambahin post dan menarik perhatian khalayak (baca: angka stat nambah. dikit)! -____-
oh well. emang 2015 ini gue perlu menjadi pribadi dewasa yang bisa mengatur emosi dengan lebih baik (nggak mau nyebut "sabar" soalnya itu mah tuntutan bagi mereka di level solehah). jadi mari dirajut kembali saja kata-kata yang udah dimuntahkan kemarin.
*gemeretekin jemari*

jadii, weekend kemarin ini gue berhasil meraih yang namanya "me time." berhubung bumy liburan sekolahnya kemarin lama banget - asli lama, orang-orang udah pada masuk di awal januari, bumy baru di minggu ketiga - walhasil gue juga melepas rutinitas gue bisa 'ngantor' di FD tiap hari. sebenernya gue kepengen ngikutin bumy kelas-kelas aktivitas selama liburan, kayak waktu libur panjang juni-juli kemaren. tapi, gue perhatikan pilihan aktivitasnya nggak sebanyak dan nggak seintens (bisa 1-2 minggu full ada kelas) waktu juni-juli itu.

apa liburan akhir tahun ini emang waktunya orang-orang liburan ke luar kota atau ke luar negri yaaa *nunduk sedih* kapan lagi liat salju, ya 'kan?

bukan cuma minim program liburan, semua lesnya bumy juga liburburbur. udah gitu, ujan mulu pula tiap hari! gue jadi enggan ke mana-mana karena khawatir kejebak macet atau banjir (amit-amit).
emang sih bumy udah lumayan gede, nggak dikit-dikit butuh asistensi. tapi berhubung gue full time ngepos di rumah, jadi ada aja yang "harus" dikerjain. beberes. masak. meng-cater aktivitas yang seru dan kreatif buat bumy. nemenin bumy tidur siang. main game di ipad. heheheh. 
tapi faktor yang menyulitkan ya nggak ke mana-mananya ituu. gue jadi merasa seolah gue yang anak sekolah dan bosen nggak ke mana-mana. mau nulis aja rasanya mandek. 
akibatnya, makin sulitlah bagiku 'tuk meraih me time. yang berkualitas, gituh...

akhirnya ada juga sih beberapa aktivitas yang bisa bumy ikutin (dan gue bisa keluar rumah. horee!), satu, Family Fun Day-nya Mommies Daily, dan dua, kegiatan di tempat favorit, Rimba Baca. kemarin di sini diadain banyak aktivitas seru, kayak storytelling, mengenal binatang, dan yang bumy ikutin, fun science experiment bersama Gen Cerdik. yang ikutan fun science lumayan rame. gue bahkan bisa dibilang beruntung bisa mendaftarkan bumy on the very last minute, karena cuma tersisa 1 spot. kirain banyak yang lagi liburan....

nah, pas di rimba ternyata bumy ketemu sama temennya di ex-sekolah TK. nostalgialah mereka, begitupun gue dengan mamahnya temen bumy, hehe.
nggak cuma itu 'kejutan'nya. seorang fasilitator Gen Cerdik ini ternyata gue kenal! namanya Rakhmi, dan kita kenal karena ikutan QMPC Syariah bareng. wah nggak nyangka banget bisa ketemu lagi. ternyataaa Rakhmi udah banting setir dari pekerjaan sebagai kepsek TK dan sekarang dia mendirikan Gen Cerdik bersama beberapa temennya! keren banget ngedenger cerita dia dan visinya buat Gen Cerdik. gue merasa bak sedang mewawancarai seorang yang hidup dengan ngikutin passion-nya, hihihi.
a lovely view. Rakhmi is the one holding the map for the kids :D
btw, Gen Cerdik yang dia bikin ini merupakan wadah yang menyediakan aktivitas buat anak-anak, nggak sekadar aktivitas, tapi yang "kreatif dan inovatif." liat deh jenis-jenis aktivitasnya di sini. ada storytelling, science experiment, pengenalan spasial dengan cara unik, bahkan ngajak anak main permainan tradisional! wah wih wohh, makin kagum gue sama idenya, juga keberaniannya mewujudkan passion.

nah, kembali ke soal me time, minggu lalu bumy diajak nginep di rumah omanya. oma opa njemput bumy dari ciganjur jam 12 siang, abis itu i was left all alone at the house. bukannya girang karena bisa bebas nonton tv, beberes atau ngapain kek, gue malah linglung. sepi rasanya nggak bersama anak :'( akhirnya gue memilih untuk bobok sore... dari jam 4 sampe 7 aja. xD


pas adit pulang, kita mutusin untuk menikmati child-free night dengan kelayapan. begitu keluar rumah, ujan malah jadi deras. kita ngider-ngider tanpa tujuan, sampai lalu nyangkut di Toodz House. udah lama mau nyoba tempat ini tapi nggak jadi-jadi karena tempat nongkrong "anak muda" banget (baca: nggak kid-friendly karena di semua area boleh ngerokok). tapi pas kita masuk, ternyata penuh, bok. 

akhirnya kita ngider lagi, dan mampir ke Tokyo Skipjack di Blok M. nggak ada niat untuk makan berat malem-malem, sih... tadinya. but we ended up with a steak (for him) and two desserts (for me). 
my comfort food
besoknya, kita ke gedung baru sekolah bumy. liburnya kemaren lama banget karena sekolahnya lagi proses pindahan dan gedung barunya juga masih on progress. kita maklum, sih. lha wong demi kemajuan pendidikan juga. jadilah kita menengok ruang kelasnya bumy kelak, dan malah gue yang jadi excited sendiri, membayangkan serunya jadi anak montessori. :))


ini bukunya
kelar dari sekolah, adit kuliah, dan gue dengan agenda gue sendiri. sekitar seminggu sebelumnya, gue main ke toko buku aksara di PP sama bumy. bumy main di kid's corner, dan gue iseng buka-buka buku secara random. tetiba gue dipertemukan dengan buku tentang stamping, atau cetak-mencetak, menggunakan teknik bikin cukilan baik di rubber block, linoleum, dan lainnya. gue langsung tertarik banget pengen nyoba! eehhh ternyata alam semesta memberikan jawaban atas keingintahuan gue ini. i came across a workshop announcement from Club Kembang. dan workshopnya kali ini adalah tentang membuat rubber stamp! jodoh banget! 

so, that saturday, gue ke Sekolah Kembang, tempat workshop (dan kegiatan Club Kembang) diadakan. baru pertama kali mampir ke sini, dan ternyata sekolahnya ucu aneett. liat aja nih, foto-fotonya! *jerit-jerit gemes*














kegiatan workshopnya sendiri seru (karena belajar hal baru) namun intim. difasilitasi oleh Ozs Handmade Stamp, pesertanya cuma 4 orang, dan yang ngajar, Luci, orangnya atentif banget. jadi ingiiin membuat stamp dan semangat berkreasi lagi :))


nah, sebenernya agenda gue dan adit untuk malam minggu udah ada. kita diundang ke 'perayaan' ulang tahun jack, kiti's soulmate, hehehe. waktu kiti ngasih tau kita venuenya, gue dan adit ngerasa familiar sama nama itu, tapi di mana tepatnya kita nggak bisa recall. it's Largo Bistrot, yang ternyata sebelahan sama sekolah Bintang M*ntessori. 
nggak kerasa udah setahun berlalu sejak gue dan adit terakhir ketemu jack, loh. waktu itu dia dateng ke 'perayaan' sederhana ultah gue di rumah ciganjur, kekekek. and for this event, kiti totally organized the whole thing by herself. she invited her friends - gue, adit, elmo - and made us all enjoy this wonderful night. seneng, bisa seru ngobrol dan ketawa-ketawa <3 
guess i had a very berry nice "me time" that weekend.
yang ulang tahun siapa, yang sibuk foto-foto siapa...
always a relief with them girls
(besoknya, of korsss, the first thing we wanted to do adalah ngejemput bumy dari rumah oma. udah kangen membuncah tak terkira sejadi-jadinya, hahaha) 
ku rindu berat!
lastly, these are some pictures from Mommies Daily's Family Fun Day at Ice Palace, Lotte Avenue. 
indoor camping! look at the pretty decor: carpets, bean bags, teepees, and 'trees.' agendanya hari itu nobar film anak-anak dan crafting sekeluarga. seru!

when the lights are off...










19/01/2015

superstar

tepat seminggu lalu, kita dateng ke acara konser Tribute to the Carpenters. i was so excited when i first knew about this event. kebayang bisa dateng sama Adit dan Bumy juga. we are, after all, sort of enthusiastic Carpenters fans (meskipun ini pernyataan yang agak-agak self-proclaimed sih, hehehe).
image from here

sesampainya di Pacific Place sore itu, kita masih berpikir suasana konsernya akan mini dan intim. jarang, kali, ABG yang suka the Carpenters... gitu gue pikir.

tapii, ketika kita makan malam di Ky*chon, kebetulan meja di seberang kita diisi oleh segerombolan anak-anak kuliahan yang hip dan "G*ods Dept" banget. lalu tanpa diniatkan untuk nguping, kita jadi tau kalo mereka mau dateng ke konser yang sama. tepatnya dari celetukan seorang di rombongan itu, "'Just like me... they long to be... close to youu' pasti lagu ini nanti dimainin, deh!" wew, kuno amat pemikiran gue yang mengira selera musik nggak bisa lintas generasi segitu jauhnya. hahaha... mungkin gue terlalu underestimate selera anak-anak kuliahan jakarta masa kini xD

berhubung acaranya dijadwalin mulai jam 7 sementara Bumy belum kelar makan, gue memutuskan jalan duluan ke venue untuk liat-liat situasi. ternyata begitu sampai di depan Atamerica, antrian udah panjang sampai ke bagian pintu terluar Atamerica. mak! begitu akhirnya bisa masuk, gue intip tempat konser akan diadain dan menemukan semua tempat duduk udah keisi. telat pisan ternyataa T__T

gue nungguin Adit dan Bumy bisa masuk di bagian luar tempat konser. sambil duduk-duduk di salah sofa di situ, gue denger seorang staf Atamerica ngomong kalo ini pertama kalinya pengunjung acara di situ serame ini! ternyata bukan gue doang yang salah perhitungan, hahah.
pas udah jam 7, gue telpon Adit lagi, dan dia bilang dia masih stuck di antrian yang sekarang udah mengular sampe ke luar Atamerica. yaudah deh, gue putusin masuk ke bagian konsernya duluan aja. masih kebagian duduk, sih... tapi di ubin tepat di depan panggung. glek. well, at least i can get that 'intimate' vibe i was imagining about.

sebenernya, selain pengen denger rendition lagu-lagu Carpenters, gue punya motif lain yang bikin gue ngotot dan excited dateng ke acara ini. tak lain tak bukan seorang penampil yang gue kagumi dan sukai sejak lama, tapi culunnya, nggak pernah gue liat perform secara langsung. it's Imel! atau lengkapnya Imelda Simangunsong, kakaknya THE Dewi Lestari, hehe.
image from here
gue sukaaaaaaa banget album dia produksi tahun 2002 silam, yang judulnya "Di Ladang Stroberi." sebenernya sih tau soal Imel ini dari sohib gue si Level 7. dia merekomendasikan album tersebut dibumbui dengan kata-kata "ris, you HAVE to listen to this. she's ah-mazing!"
ternyata setelah mendengarnya sendiri, it turned out that i fell in love with each and every song on that album. bahkan saking lagu-lagu di situ 'dapet' banget nuansa dari pesan dan tema yang mau disampein, tiap kali gue 'jatuh cinta,' gue menganalogikannya dengan "berada di ladang stroberi." x)))


well, back to the concert, jam 7 lewat, akhirnya masuk juga para performers malam ini: the Simangunsong sisters, hehe. sebutan ini sendiri baru 'dibuat' ketika Dewi Lestari 'ngobrol' dengan para penonton dan bertanya-tanya nama apa yang cocok buat 'grup' mereka ini. dari obrolan tersebut, gue juga jadi tahu kalo the sisters ini biasanya cuma 'manggung' di acara-acara keluarga, macam natalan, gitu. gue jadi ngerasa beruntung banget bisa dateng ke acara ini karena seolah-olah bisa sekejap mencicipi kerennya acara keluarga mereka itu hehehe.

jujur, gue nggak nyatetin song list mereka malam itu. tapi yang jelas, sebagian lagunya gue kenal dan sangat sangattt nikmati. kayak "Rainy Days and Mondays," "Superstar," "For All We Know," "We've Only Just Begun," "I Need to be in Love(!!)," "Sing," daaaan masih banyak lagi. gilakkk membuncah banget dada ini oleh kegembiraan hahahaha.

cerita dan kesan-kesan yang gue dapat dari konser ini dirangkum dalam titik-titik peluru berikut:

- the sisters bilang kalau dalam memilih lagu-lagu untuk dimainkan di konser ini, mereka pilih lagu yang cocok dengan warna suara mereka semua. hasilnya, menurut gue, lagu-lagu the Carpenters dibawakan dengan nuansa yang fresh dan 'baru' karena Dewi, Imel, dan Arina nyanyi dengan gaya khas atau signature style mereka masing-masing.


pada satu titik, rasanya kayak mendengar Mocca bawain the Carpenters dan nuansanya jadi "indie" banget. di titik lain, lagu the Carpenters jadi bernuansa jazz dengan suara Imel dan dentingan piano yang dia improvisasikan sedemikan rupa. dan ada saat-saat di mana Carpenters terasa 'paling' Carpenters ketika Dewi yang nyanyi, karena emang suaranya yang paling 'dekat' dengan Karen Carpenter. tapi most of the time, karena hampir sepanjang konser mereka bertiga nyanyi bersama-sama dalam satu lagu, lagu-lagu Carpenters yang dibawakan jadi terasa begitu kaya berkat banyak "warna" suara yang dicipratkan.

- gue dan Adit beberapa kali karaokean berdua aja dan milih untuk nyanyiin lagu-lagu Carpenters. i have to admit kalau kesederhanaan struktur lagu yang terdiri dari bait awal - chorus - bait kedua - chorus - bridge - lalu chorus diulang-ulang, bisa terasa membosankan. emang sih, kekuatan lagu-lagu Carpenters justru terletak pada kesederhanaannya itu - yang diracik dengan legitnya suara "chocolate-and-cream alto"-nya Karen Carpenter. tapi, gue bayangkan on a concert, hal ini bisa menjebak mood drifting along menuju hal yang monoton dan predictable, apalagi kalo yang bawain suaranya standar-standar aja. tapi yang terjadi pas konser mini ini, nggak ada tuh rasa 'bosen' - meskipun kita udah pada tau struktur lagu-lagu Carpenters bakal sesimpel apa. gue rasa ini berkat 'olahan' improvisasi Imel, baik dalam permainan pianonya yang jazzy maupun dalam menyanyikan lagu-lagunya. Arina juga bawa her iconic flute ke panggung. hal lain yang jadi faktor gue rasa adalah karisma ketiga perempuan ini, yang memang udah dikenal dan membawa citra musik yang berkualitas. 
Dewi Lestari juga berhasil mengisi jeda antar lagu, jadi suasanya makin akrab hehe. mulai dari berbagi panggilan sayang antara kakak-beradik itu, juga nyeritain kesan personalnya terhadap lagu-lagu Carpenters. that way, we got to have another peek at their childhood and family life.
Imel juga beberapa kali ngasih insight tentang the Carpenters dan gimana mereka milih lagu untuk dibawakan.   
oh iya, pada beberapa lagu di penghujung konser, Reza Gunawan didaulat untuk naik ke stage dan mengiringi dengan piano. it really felt like a family gathering! i guess these factors gave 3 points score for that "intimacy" i craved, hehe.

- Imel is an awesome musician. hahaha this is the groupie in me yang butuh membuat penekanan. 

well, satu setengah jam di malam itu rasanya cepet banget. padahal lumayan pegel juga sih, karena gue duduk bersila sambil memangku Bumy di sekitar 3 lagu terakhir. :D tapi rasanya seneng banget bisa menikmati suguhan keren dari Simangunsong sisters ini. 
btw, do i need to reveal how i cried on several songs? it's *that* beautiful. :')


15/01/2015

scribbles

beda banget sama bulan kemaren, januari ini gue rajin banget ngeblog, dah (tapi minim nulis artikel huhu). baru keinget kalau ada beberapa cerita yang 'tercecer' dari tahun lalu dan sayang kalau nggak didokumentasikan.

- ultah bumy yang kelima. 
yaay, alhamdulillah anakku udah 5 tahun, hehehe. udah bisa apa aja, bundaaa? :))) 
hmm, yang paling terasa dari semakin besarnya dia tuh antara lain pertanyaan-pertanyaan dan celotehnya yang semakin 'menarik.' nanyanya bukan lagi "itu apa? ini apa?" melainkan "KENAPA?" 
segala hal, deh, ditanya. dari yang challenging sampe yang bikin kesel. 

kalau gue mencoba menebak personality bumy dari sejauh yang gue perhatiin dan rasain, gue anggap dia pribadi yang penuh perhatian. he cares about how he makes other people feel. he's also a bit sensitive. bukannya mudah uring-uringan nggak jelas, sih (thank God), tapi dia bisa nunjukin apresiasi ke hal-hal kayak musik atau attitude orang lain, atau ngeliat anak kucing terlantar di mayestik bisa bikin dia murung dan matanya berkaca-kaca... :}
dia juga semakin "social"; main sama siapa aja, kalo ke tempat baru pasti dapet teman baru. ke playparq sejam, udah dapet temen akrab kayak udah kenal 3 bulan. di sekolahnya yang baru, syukurnya hal ini memudahkan proses adaptasi doi. he's friends with everybody - meski suka jaim kalo disapa temen-temen cewek. di lingkungan rumah, dia masih akrab sama his dearest Naya, hehe. trus juga masih suka temu kangen sama temen-temen dari eks-sekolahnya. 

btw, ultahnya kemarin semacam dirayain kecil-kecilan di sekolah. kecil-kecilan karena emang cuma dirayain secara montessori, tanpa kue ultah dan bagi-bagi bento aja. 


pakai mahkota, selempang, lantas bawa globe keliling lingkaran 5 kali.

sebelumnya, di rumah, tepat pas tanggal lahirnya kita makan bareng mricans di CJ tom yum. abis itu, beli kue ultah buat dipasangin lilin angka 5 dan ditiup di depan oma-opa, haha. oh ya, kayak tahun lalu, ditiupnya bareng Naya. :D




buat urusan di sekolah, alhamdulillah meskipun udah berada di belahan dunia yang berbeda, bunda Nisha teteeppp mau direpotin. huhu, makasih yahh bundoo. gue minta tolong didesainin stiker buat ditempel di kotak bentonya nanti. bentonya sendiri gue pesen sama Puan - rasanya enak, loh. 
udah, gitu aja, nggak pake goody bag-goody bag-an, haha. tambahannya cuma pesen kue bolu ketan item buat guru-guru dan staf sekolah. 


thanks again, bundo :*



potongan kue pertama


kedua. mamaknya? bagian moto doang...


so proud of himself karena disuntik nggak nangis haha
lainnya dari usia 5 tahun ini adalah waktunya mengulang beberapa imunisasi. ini sebenernya diingetin dokter pas Bumy dirawat gara-gara DBD kemarin. yang kemarin udah baru polio sama DPT. selanjutnya ada MMR, Hib, dan tifoid juga kalo nggak salah. trus karena Bumy belum pernah vaksin PCV, disaranin buat ambil vaksinnya juga on the next visit.


- berkunjung ke tempat-tempat "hip" di kalangan kelas menengah ng*hek, yaitu Ikea dan PIK. 
hkahkakhahkk. sayangnya belum ke pasar santa xD

pas ke Ikea, gue sama adit berduaan aja karena kebetulan Bumy bisa dititipin ke oma. kita dateng hari Sabtu jam 2an gitu. ternyata salah timing, deh, karena rame buanget. padahal waktu itu bukan tanggal muda, hehehe... gue pikir macem di Hyperm*rt gituh, yang ramenya pas abis gajian aja. 
begitu masuk ke parkiran, kagum karena parkirannya gratis! tapi pas masuk ke dalem sih nggak gitu heran, karena ya sama kayak di singapur. cuma animo masyarakat endonesa ini bener-bener tinggi, yah. mulai dari orok sampai tua renta ada semua di situ, nggak ada satu pojokan pun di sini yang nggak rame. bahkan di toilet pun antre. 
tadinya gue sama adit udah antre beli makanan di restonya, tapi mengular banget dan kayaknya kita nggak bakal kebagian duduk juga. akhirnya nyerah dan beli hotdog plus es grim 4 rebuan aja. xD


tapi, emang setiap kunjungan ke ikea tuh membuahkan inspirasi, ya. at least buat gue sih gitu. 
adit yang mantan barista pernah nyeritain soal konsep "starbak experience." ini maksudnya setiap kostumer sbux disuguhi 'dunia' a la sbux dengan dekorasi interiornya yang nyaman bin modern, dengan istilah-istilah dan penamaan khas sbux untuk sajian beverages-nya, things like that. 
nah, kunjungan ke ikea ini membuat gue ngerasain hal semacam itu, yang gue sebut sebagai "an ikea experience." suguhan contoh dekor dengan bermacam-macam gaya, alur penempatan barang-barang dagangan dan rute 'perjalanan' kita dalam toko superbesar yang udah dirancang sedemikian rupa sehingga nggak ada yang kelewat untuk kita nikmati (walhasil pegelnya sama banget kayak pas di ikea singapur; cuma untungnya di sini nggak harus gempor jalan kaki menuju MRT), arcade hotdog murah - es krim 4 ribu - kopi/teh/soda yang diambil sendiri, trolley untuk memuat makanan di resto yang unik imut-imut itu, bahkan sampai font dan warna signage yang simpel-namun-jelas-dan-tentunya-stylish; semuanya "khas" ikea. ikea banget. cuma bisa dialami di 'dunia' ikea, kurang-lebih begitu. 

meskipun nggak gitu menikmati kunjungan perdana karena manusianya buanyak banget, tapi gue keluar dengan perasaan yang segar. refreshed. contoh-contoh dekorasi untuk segala macam ruangan berhasil bikin excited untuk dikit-dikit mempercantik rumah lagi. penggunaan item-item sederhana macam ambalan atau rak buku simpel atau frame foto atau apalah itu yang bersatu-padu dengan cantiknya ketika ditempatkan dengan tepat bikin berseru, "waah, ternyata bagus, ya, kalo digituin!" 

begitu juga ketika mendengar seruan antuasias seorang oma-oma ke suaminya - sang opa-opa, "kita bisa taro kayak gini di kamar, nih!" dan melihat pasangan muda dengan dandanan a la kustomer go*ds dept yang bersikap aloof dan awkward di tengah lautan keluarga-keluarga suburban, namun dengan suara pelan berkata ke satu sama lain, "aku pengen karpet ini... eh, sofa kayak gini cocok, deh, buat di ruang tamu kita, eh yang itu juga...." hihihi. 
terasa banget antuasiasme positip orang-orang di situ buat bikin 'sarang'nya lebih keren dan nyaman ditempatin. 

but ofkorrsss, gue inget 'sabda' penyeimbang dari "the fight club" yang bilang,
"Like so many others, I had become a slave to the Ikea nesting instinct."
meskipun itu baru gue sebut-sebut di pikiran ketika mencoba menahan diri supaya nggak kalap beli ini-itu, sih... kekekek. tapi gue pastinya mau berkunjung lagi, on a much comfortable time, buat menyegarkan mata dan nyobain duduk-duduk ketje di restorannya, seenggaknya.  

oh ya, kalau ke PIK, waktu itu kita nyoba dateng pertama kali siang-siang, hari kerja pula. berhubung panas banget, gue agak males motoin tampilan luar rupa-rupa toko yang cantik dan lucu-lucu. kita cuma berkeliling trus capcipcup milih tempat desserts. yang kita pilih lumayan juga, namanya Honey Bean. maunya sih nyoba makan berat kalau ke situ lagi.




- happy news from the singletons.
fresh from sydney! ujug-ujug ngasih undangan

some of them tied the knot recently. Ika, my dearest pal from tlkm, akhirnya menemukan belahan hatinya yang ternyata seorang binusian hahaha. Dyah, akhirnya mengalahkan segala rintangan dan nikah sama sang kekasih hati, ihikhik. kabar-kabar ini bikin bahagia. bukan soal berganti statusnya yang bikin begitu, tapi karena gue tau banget mereka tuh pribadi-pribadi keren tak ternilai bak berlian, yang bertransformasi dari gadis-gadis muda jadi perempuan-perempuan dewasa yang mau berbagi hidup sama orang lain. yes, they went through that process of growing up first before they got married, nggak kayak gue yang nikah pas masih 'bocah' banget, hehehe, dan itu keren. so, i'm happy for their courage and the decision they chose to make. saya bersulang dengan segelas es krim buat kalian; langgeng selalu, yah.

berhubung post ini sudah terlanjur poanjang, gue bubuhi dengan foto-foto sekalian, deh.



menemukan tempat ini di belantara cilandak. tried it. dan, kok ya, jadi enggan balik lagi haha.
pada suatu hari, gue dikabarkan menang 'lomba' kirim foto yang diadain sama Rimba Baca. a few days later we picked up the present dan ternyata isinya ini! seneng banget Bumy dapet buku-buku bagus inih. thanks, Rimba!
my birthday feast. ekonomis! :)))


wedding gift DIY, dibikin di dalam pojok crafting toko paper clip SMS berdua adit. berbekal gunting pinjaman dari toko frame dan double tip, jadilah ini. semoga sudi dipasang di "love nest" mereka hahaha...


just... love it :)


07/01/2015

the regimen

menyadari usia udah kepala 3, gue jadi agak lebih concerned untuk ngurusin kondisi kulit, wajah terutama. sebelumnya sih, gue udah pernah secara khusus belanja skincare untuk anti aging dan juga untuk ngatasin permasalahan wajah. tapi, jujur ajah, masih lebih sering males untuk melakukannya secara teratur. tapi, makin ke sini, rasa males itu semakin bisa teratasi. begitu rutinitas udah kebangun, rasanya sayang aja kalau kelewat. selain itu, sepertinya kerjaan sampingan gue nge-proofread artikel-artikel Female Daily selama setahun belakangan ini juga otomatis menambah pengetahuan gue seputar skincare, hehehe. kebangetanlah kalo nggak! jadi makin tau soal kandungan-kandungan tertentu, kegunaannya, produk-produk alternatif (kayak opsi untuk save instead of splurge), dan juga bermacam-macam tips and tricks.

udah beberapa bulan ini gue membangun "skincare regimen" yang ternyata memberikan hasil yang lumayan, untuk standar gue pribadi loh ya, haha. emang hasilnya belum bikin pangling seketika karena gue emang ogah ke dokter muka atau melakukan perawatan di klinik tertentu, tapi pelan-pelan kerasa. misalnya saat mengapply makeup, jatohnya jadi lebih 'menyatu' atau blending, karena kondisi muka sekarang nggak kering dan nggak kusam(-kusam amat, haha).


image from here

tanpa banyak prakata lagi, beginilah "regimen" yang gue terapkan sekarang.

> buat malam hari (sengaja gue mulai dari malam hari karena lebih panjang):

- gue mencoba menerapkan metode double cleansing secara tekun. meskipun lebih 'ribet,' tapi melihat hasilnya, wah jadi ogah untuk skip langkah satu ini.
gue sebutin di sini kalau tadinya gue pakai cleasing oil Hada Labo. well, hasilnya emang memuaskan. tapi, gara-gara ikutan workshop Sulwhasoo di FD tempo hari, gue berkesempatan nyobain cleasing oilnya, trus jadi jatuh cinta! muka cemong karena makeup ataupun kotor semata, bisa jadi bersih sih sih dan halus lembap setelah pakai cleansing oil Sulwhasoo ini.
cara pakainya, gue biasanya pakai 2 pump untuk muka yang habis ber-makeup. dipijit-pijit lembut aja sampai cairannya berubah jadi putih (awalnya bening), abis itu gue cuci pakai spons yang direndam air hangat, seperti yang diajarkan ketika workshop hehe.

- kelar pakai cleansing oil, namanya juga double cleasing, jadi masih ada satu tahap lagi untuk ngebersihin wajah. sekarang giliran pakai face wash atau cleanser. gue pakai Sulwhasoo Snowise EX Cleansing Foam. ini lagi-lagi karena keracunan pas workshop. gue cuma pakai 1 totol kecil trus dikasihkan air secukupnya supaya berbusa. abis itu apply ke muka, pijit-pijit, dan bilas pakai spons lagi. di langkah akhir pemakaian spons, airnya gue ganti jadi air dingin. meskipun double cleansing pakai Sulwhasoo ini jatohnya agak splurge (sigh) tapi hasil yang diberikannya itu, loh - muka jadi halus, resik, cerah, tapi nggak kering - efektif buat jadi pembenaran kekeke.

- begitu kelar bersih-bersih, waktunya menerapkan metode double toning. hahaha apalagi inihh. baca di sini deh untuk lengkapnya. atau artikel ini yang ngasih tau kalau exfoliate with acid bisa "mengusir sel kulit mati sekaligus mendorong proses regenerasi kulit."
soal double toning, singkatnya memakai 2 jenis toner, dikutip dari artikel pertama, "di mana yang satu berguna sebagai eksfoliator dan yang lainnya untuk hidrasi."

exfoliating toner dipakai duluan, in my case sebelum pre-essence dan hydrating toner.
gue pakai 2 macem produk untuk ini, dipakainya selang-seling tiap malam. satu Paula's Choice Skin Perfecting 2% BHA Liquid Exfoliant, satu lagi Alpha-H Liquid Gold.
sebenernya untuk kulit berminyak itu lebih cocok BHA karena mengandung salicylic acid yang bisa meresap lebih baik ke pori-pori, ngilangin blackheads, dan ngurangin kadar minyak di permukaan kulit. makanya BHA dianggap bisa ngatasin masalah-masalah 'khas' kulit berminyak kayak pori-pori besar atau kondisi wajah yang blemish-prone.

tapi, ya nggak ada salahnya pakai AHA juga yang mengadung glycolic acid karena bisa ngangkat sel kulit mati, dus berkhasiat buat anti-aging. (maap-maap kalau sotoy). well, more on AHA dan BHA bisa dibaca di artikelnya dr. Oz (versi amrik kok) ini, hehehe.

oh ya, sebenarnya pemakaian Alpha-H ini ada jangka waktunya, cuma boleh selama 3 bulan kalo nggak salah. selain itu, kadar exfoliating toner yang dipakai juga disarankan nggak langsung yang persentasenya tinggi, gradually di-build up dulu, gitu. dan gue memakai exfoliating toner ini dengan kapas. cukup 3-5 tetes untuk seluruh muka.

btw, terkait "acid-acidan" ini dan anti-aging, gue jadi pengen nyoba produknya Peter Thomas Roth gara-gara buka situs Sephora. beberapa produk PTR jadi masuk ke wishlist, kayak Un-Wrinkle Peel Pads dan 40% Triple Acid Peel(!). sayang harganya kurang ramah di kantong, nabung dulu dah.


- abis exfoliating toner, gue pakai Sulwhasoo First Care Activating Serum. yap, masih bertahan dan suka sama pre-essence satu ini. gue baca di FD, produk ini disebut pre essence karena memang fungsinya mengoptimalkan pemakaian essence/serum. jadi ya dipakainya sebelum pakai essence/serum dan sebelum (hydrating) toner.
cara pakainya ditotolkan di 5 titik wajah, trus dipijat dengan lembut aja.

- kelar ini, saatnya buat hydrating toner. gue pakai Hada Labo Shirojyun Ultimate Whitening (kemasan biru). gue masih pakai ini setelah sekian lama dan cocok-cocok aja. sempat nyoba pakai Sulwhasoo Balancing Water tapi malah bruntusan. cara pakainya dikiit aja karena encer banget, trus ditepuk-tepukin ke wajah.

- selanjutnya, waktunya pakai serum, gue masih pakai Paula's Choice Skin Balancing Super Antioxidant Mattifying Concentrate Serum yang belum abis-abis hahaha... semoga belum expired deh :| gue pilih ini karena khusus buat anti-aging berkat kandungan peptide-nya. gue suka efek abis pengaplikasian produk ini karena muka jadi haluuus, and yes, matte.

- untuk eye serum, gue pakai Ole Henriksen Ultimate Lift Eye Gel Roll On. begitu diolesin, eye cream ini langsung ngasih tingling sensation. sebelumnya gue tulis kalau semakin gue rajin pakai produk ini, kok rasanya malah jadi menjurus ke perih. meskipun begitu, kulit gue nggak teriritasi sama sekali, sih, jadi gue lanjutin saja. lagian, review yang gue baca emang so far valid, karena kantung mata emang membaik dan moga-moga beneran mengurangi kerutan halus di area mata.
nah, belakangan ini gue coba mengoleskan produk ini cuma satu kali di sekeliling mata - sebelumnya bisa 2-3 kali - eeh, ternyata ini efektif ngilangin rasa perih yang gue sebut tadi. jadii, nampaknya penyebab rasa perih tadi karena overdosis produk... xD

- kalau lagi rajin banget (baca: belom ketiduran), biasanya gue lanjutin dengan pakai Hada Labo Gokujyun Alpha Ultimate Antiaging Cream (kemasan merah). meskipun harganya tergolong bersahabat, tapi kandungannya oks punya; ada retinolnya, collagen, sama cencunya hyaluronic acid.

err kok udah panjang banget ya, padahal baru buat malam hari...

> anyways, kalau untuk pagi hari:
- cuci muka pakai Hada Labo Tamagohada yang AHA/BHA
- Sulwhasoo First Care Activating Serum
- hydrating toner kadang pakai kadang nggak...
- essence: Secret Key Dragon Blood Essence, atau kadang-kadang Hada Labo Shirojyun Ultimate Whitening Essence.
- Alpha-H Daily Essential Moisturizer SPF30, ini cepat meresap di muka, formulanya ringan, dan cocok buat muka berminyak gue karena bikin halus seketika. udah gitu ada SPFnya juga!
- dan akhirnyaa, sunscreen: Skinaqua UV Whitening Moisture Gel SPF 30 PA++(kemasan putih). lovve this sunscreen so much; cepat menyerap, ringan, dan nggak nimbulin white grease.


image from here
setelah ngejalanin ini semua, tetep aja sih kadang muncul jerawat gede di muka pas periode PMS atau sedang mens.
emang ngerawat kulit wajah tuh ternyata nggak cukup dengan mengoles krim ini-itu semata, tapi juga pola makan yang sehat dan bersih, rajin olahraga, sama... rajin sholat kali ya, hahaha. nah, justru tindakan-tindakan 'pelengkap' ini yang gue masih belum bisa jalanin dengan rutin dan rajin *melirik satu baskom es grim baskin robbins di kulkas* xD

oiya, selain yang di atas, sebenernya ada beberapa produk yang gue suka tapi nggak rutin dipake. 
misalnya Paula's Choice Resist Pure Radiance Skin Brightening Treatment. ini serum untuk mencerahkan wajah, gue pakai udah agak lama tapi ngasih hasil yang biasa-biasa aja.  

trus Secret Key Deep Moisture Energy Facial Oil yang ada kandungan argan oilnya. suka gue pakai kalau jerawat lagi bermunculan di malam hari sebagai pelembap. 

masih buat jerawat, atas rekomendasi Nuri, gue pakai Nu Skin Clear Action Acne Medication Night Treatment. ini ampuh menjinakkan jerawat yang lagi 'mateng.'

satu lagi, Vichy Purete Thermale yang merupakan micellar water. kalau dari artikel ini, micellar water fungsinya membersihkan wajah dari makeup. gue kutip dari artikel yang sama,
"Micellar water mengandung micelles yaitu butiran minyak mikroskopik di mana pada saat dituangkan di kapas, bersama dengan kapas, ia akan berfungsi seperti magnet dalam menyedot semua kotoran dan minyak-minyak berlebih pada wajah sehingga wajah bersih. Dua kali ulasan Micellar water saja – satu usapan untuk membersihkan makeup dan satu usapan lagi untuk membersihkan wajah secara menyeluruh, maka hasilnya mirip dengan double cleansing tapi dengan langkah lebih mudah. Penyelamat di saat sedang capai sekali."
that is so valid. kalo udah ngantuk dan capek tak tertahankan, gue pakai ini aja.

so, that's it, my so-called skincare "regimen" hehe. tapi namanya manusia serakah, masih adaa aja barang yang nongkrong di wishlist. contohnya clarisonic mia yang bikin penasaran tapi gue masih maju-mundur untuk beli karena mihil. trus juga pengen nyobain Sulwhasoo Snowise EX Set yang sepertinya serumnya oke punya. yastralah nggak abis-abis bahan ginian. skincare terbaik mah tetep deh, air wudhu hkhahkahkak - kata si muka kusam. xD  

eehh tambahan dikit, gue nemu artikel yang berguna tentang gimana 'membentuk' rutinitas skincare dari Paula's Choice. jelas dan mudah dimengerti banget. ini dia artikelnya.
moga-moga berfaedah hehe.