27/10/2015

Orangtua: Pelatih atau Penyemangat?


Anak saya baru berusia 5 tahun, masih duduk di kelas nol besar. Tapi setiap weekend, dia sudah sibuk wara-wiri untuk mengikuti beberapa les.
Memang sih, mengingat usianya, lesnya belum ada yang berbau akademik seperti membaca atau berhitung, melainkan baru yang sifatnya fisikal (olahraga) dan juga musikal (main electone). Tapi, jujur, saja nih, Mommies, kadang saya suka sutris sendiri memikirkan progress anak saya dalam kedua les itu.

Contohnya untuk les berenang, sudah hampir setahun dia mengikuti les dengan rutin. Tapii, gaya yang dipelajari kok masih itu-itu saja, sih? *gemas* 
Di pikiran saya, seharusnya dia sudah bisa seperti anak lain, yang sudah jago menyelam, atau lincah renang dengan gaya kupu-kupu. (Uhm, meskipun saya sendiri hanya bisa gaya katak, sih...) 
Lalu untuk les electone-nya, sulit sekali rasanya mengajarkan dia di rumah. Padahal kami hanya mengulang materi yang diberikan oleh gurunya di kelas. Saya sampai perlu mengeluarkan 'jurus' andalan supaya anak semangat latihan di rumah... apalagi kalau bukan dengan iming-iming? 

Nah, pengalaman teman saya yang anaknya sudah lebih besar lain lagi. Anaknya suka bermain sepakbola, dan setiap kali anaknya bertanding, justru orang tuanya yang stres. Saya sendiri kerap menyaksikan banyak orangtua yang sibuk memberikan instruksi kepada anaknya di lapangan, lewat bangku penonton. Atau mendapati orangtua yang sibuk mengkritik anaknya sesudah pertandingan, sesudah performance, atau kegiatan lain yang dilakukan anak. Hmm, tak terkecuali saya, sih. 

Maksud orangtua (seperti saya) pastinya "baik," yaitu supaya anak belajar dari kesalahannya dan bisa tampil dengan lebih baik pada kesempatan berikutnya. Begitupun kalau orangtua (lagi-lagi seperti saya) sedikit 'memaksa' anak untuk menekuni suatu kursus atau kemampuan tertentu. Tujuannya supaya anak mengenali apa hal yang dia sukai sejak kecil. 'Kan katanya "If you live life doing what you love, then you don't have to work a day in your life."
Orangtua mana yang nggak ingin anaknya bisa menjalani hidup sesuai passion-nya?
Apalagi sekarang ini persaingan antar manusia sudah semakin tinggi. Ada pressure di diri orangtua untuk menjadikan anak punya spesialisasi skill sejak dini, mampu bekerja keras, dan pastinya, sukses.  

Kalau begitu, apakah sebenarnya kita, para orangtua, perlu mengambil peran sebagai pelatih atau coach juga bagi anak? Meskipun dijalani sambil sutris sendiri? Hehehe. 
Idealnya, orangtua memberikan apa yang anak benar-benar butuhkan yaitu dukungan dan kata-kata penyemangat. Menurut sebuah riset, sumber stres terbesar di diri anak datang dari ekspektasi orangtua. Sebuah studi di Amerika Serikat menyatakan bahwa kekhawatiran terbesar atlit anak-anak berusia 9-14 tahun sebelum bertanding terkait dengan bagaimana respon orangtua jika mereka tidak perform dengan bagus. 
Sementara itu, orangtua kerap kali terlalu tinggi menilai kemampuan anaknya sehingga muncul ambisi yang tidak pada tempatnya. Penyebabnya adalah karena ketidakpahaman orangtua mengenai seperti apa diri anak skill-wise.

Penting untuk kita ketahui bahwa ada 3 tahap yg dilalui anak saat akan mengembangkan talent:
1. Romantic stage (usia 6 - 13)
Anak terpikat oleh keseruan di lapangan atau betapa kerennya bisa memainkan alat musik. Ini membuat anak tertarik untuk mengeksplorasi lebih jauh, apalagi jika mereka bisa menikmati serunya suatu kegiatan. 
2. Technical stage (usia 13 - 16)
Pada tahap ini, fokus belajar anak mulai bergerak ke arah teknik dan kedisiplinan. Transisi menuju ke sini bisa berisiko karena sesuatu yang tadinya enjoyable bagi anak mulai berubah menjadi sesuatu yang perlu dikerjakan sungguh-sungguh. Banyak anak yang 'tumbang' dalam prosesnya. 
3. Mature stage (usia 16 ke atas)
Anak beranjak menjadi ahli dalam bidangnya. Mereka bisa mengembangkan gaya dan interpretasinya sendiri. Mereka juga termotivasi dari dalam untuk terus berlatih.

Apa yang dapat kita simpulkan dari ketiga tahapan ini?
Jawabannya, mengenali bakat dan kemampuan anak itu butuh waktu.
Para pelatih sendiri tidak bisa menebak mana anak yang akan sukses dalam bidang kemampuannya kelak. Menurut para pelatih, anak yang paling berhasil bukan selalu yang paling berbakat. Yang membedakan seorang pencetak prestasi dengan yang bukan adalah faktor-faktor berikut: persistence (kegigihan), determination (kebulatan tekad), dan willingness (keinginan yang kuat). 

Tentunya kita sebagai orangtua juga ingin bisa menilai anak kita secara objektif seperti para pelatih atau coach. Bagaimana caranya? Menurut buku "The Secrets of Happy Families" karangan Bruce Feiler, ini yang perlu dilakukan orang tua:

1. Jangan memaksakan suatu olahraga atau kegiatan pada anak. 
Kita justru perlu menunggu anak menunjukkan ketertarikan. Ketika anak berinisiatif ingin mencoba, barulah orangtua terlibat. 
2. Definisikan lagi tujuan.  
Orangtua perlu mengenali apa tujuan yang ingin dicapai anak dalam berolahraga. Apakah supaya anak menjadi atlet hebat, atau untuk belajar teamwork, berteman, dan sebagainya. Jangan lupa untuk meminta anak untuk menjawab juga apa tujuannya. 
3. No verb
Ketika anak-anak ditanya apa yang paling mereka tidak sukai dari bertanding atau tampil, mereka menjawab tidak suka kalau orangtua sibuk memberi perintah ini-itu. 
Tugas orangtua hanya memberi semangat, bukannya arahan. 
4. Hindari merekonstruksi kesalahan anak sesudah pertandingan atau pertunjukkan. 
5. Ajak anak terlibat dalam percakapan konstruktif. 
Minta pendapat anak tentang penampilannya, namun jika ada hal negatif yang ia rasakan, responlah dengan positif. 

Lewat tampil dalam pertunjukkan, berlomba atau bertanding, anak memang jadi belajar banyak skill penting, di antaranya kepercayaan diri, sikap kompetitif, serta risiko. Tapi sebenarnya semua hal itu bisa diraih seiring dengan berjalannya waktu. Yang terpenting untuk saat ini adalah menjadikan saat-saat belajar dan berolahraga sebagai momen yang menyenangkan. Baik untuk anak maupun orangtua. Jadikan momen ini sumber keterhubungan dalam keluarga. 
Kesimpulannya, kita nggak perlu jadi coach untuk anak-anak kita, malah seharusnya jadi cheerleader yang baik bagi mereka.

So Mommies, have you prepared your pompoms? :D

26/10/2015

tentang keseimbangan

balancing work and home. 
ini isu yang tipikal dan familiar banget buat gue, deh. gue sebut begitu karena melulu gue temui sepanjang berstatus ibu bekerja. contohnya ya seperti sekarang ini. 
gue pernah membeberkan dalam sebuah blogpost, gimana saat gue masih bisa-di-rumah-aja (baca: jadi IRT), gue pernah iseng membayangkan WHAT IF gue balik ngantor lagi. apakah gue bisa berkomitmen penuh pada kerjaan di kantor gue yang workload dan budayanya "seperti itchu?" 
trus, gimana kalo anak gue sakit? kebayang rasa sungkan ketika harus minta ijinnya. atau kalau harus keluar kota, pulang malem karena lembur, dst... maka saat itu, hasrat untuk bekerja lagi yang sempat meninggi di sanubari, mendadak surut.

tapi atas kehendak Allah, gue kembali jadi karyawati. 
lalu apa yang terjadi?
well, kalau mau dicari nggak enaknya, ya pasti ada aja (*dalam hati menjerit "banyaaaak!"*). tapi, yang harus disyukuri ya juga nggak kalah banyak. misalnya lokasi kantor yang sesuai dengan doa gue dan Adit, unit kerja yang ngurusin segmen business (instead of retail) dan cakupannya di level regional (nggak terlalu luas, tapi juga nggak terlalu 'sempit'), juga keberadaan faktor-faktor pendukung lain seperti suasana pertemanan yang so far so good.  
tapi, seperti yang gue duga, masih muncul ketidaknyamanan ketika gue dihadapkan pada skenario-skenario yang sebelumnya sudah gue bayangkan. 
contohnya, benar gue merasa bete kalau harus pulang kantor malem-malem (atau lebih tepatnya, kalau nggak jam 5 TENG). 
benar gue merasa bersalah ketika diajak jalan-jalan dari kantor keluar kota dan menjadikan harus nginep selama beberapa hari. 
bahkan, untuk saat ini, gue agak mumet mikirin seandainya level posisi gue dinaikin. padahal temen-temen seangkatan gue hampir semuanya udah berada di level posisi tersebut. membayangkan tanggung jawab yang otomatis akan bertambah, komitmen waktu yang diperlukan, dst, bikin gue gentar. 

konsekuensinya, kinerja gue ya nggak jauh beda dengan yang gue tunjukkan 3 tahun lalu. gue masih kalang-kabut menghadapi tantangan waktu. trus terkait hati, gue merasa udah menemukan passion gue tapi kerjaan full-time gue nggak berhubungan sama sekali dengan passion gue itu. meskipun begitu, gue takut menghadapi apa yang akan terjadi "di luar sana" once I decided to step out of this 'safe zone.'
will it be different if I worked full-time doing something I'm passionate about? apakah gue nggak akan merasa bersalah sama anak lagi?

anyways, I remember a Saturday I had a few weeks ago. 
entah kenapa saat itu semua angan ambisius untuk menikmati weekend menguap begitu saja. 
gue kehilangan ambisi untuk quick getaway ke bandung (atau puncak atau anyer). 
I didn't even exercise. gue juga nggak kepengen nyalon atau pijet - like I normally would. gue nggak datang tafakur. gue nggak mengisi waktu dengan melakukan survey ke sekian banyak sekolah seperti yang sudah gue targetkan. 
alih-alih meng'optimal'kan weekend, saat itu gue malah sangaaaat menikmati duduk di sofa panjang gerai fast food bersama Bumy di sebelah gue. he's playing a game on my gadget. gue sendiri asik cetat-cetut di ipad. we ate loads of junkfood. I was listening to Belle and Sebastian's "Funny Little Frog" and had no plans whatsoever on my mind. 
yet I felt so in touch with my heart. there's an absence of restlessness. gue nggak bisa inget kapan terakhir kali gue merasa begini. mungkin perasaan seperti ini yang dimaksud dengan "contentment." 

karena, gue puas bisa berada di dekat Bumy right at that moment. meskipun kami nggak sedang melakukan high-quality bonding activity.
gue puas bisa mendengarkan lagu-lagu dari band-band kesukaan (#nowplaying Beirut's "Postcard to Italy". how is that not to love?).
gue puas bisa melanglang sendirian... berkelana di dalam labirin pikiran dan perasaan gue sendiri. 
I just hope I could feel it more often. 

--------


maybe life will never be balanced. 
dan gue mengatakan ini bukan dengan nada yang sinis atau pahit. dunia emang udah ditakdirkan bersifat fana, bukan? apa-apa yang ada di sini nggak kekal, berubah-ubah kondisinya. kerjaan kadang padat, kadang nyenengin. kebersamaan sama anak kadang mengalir dengan mudah dan menyenangkan, kadang banyak dramanya. 
you just have to seize the moment when it passes you by. tangkap kebahagiaan saat dia datang. hadapin bau busuknya saat ke-enggakenak-an harus dilewati. 
hmm.. sepertinya paragraf ini perlu ditandai dengan hashtag #bukankatabijak #sedangsadarsesaat, deh. 
karena sejujurnya, it's never easy. kembalinya gue ke pekerjaan full-time bukan cuma bikin gue perlu banyak adaptasi, tapi juga berdampak ke diri Bumy. gue perhatiin, dia jadi lebih sensitif, suka nangis lebay karena alasan sepele. dia harus nungguin gue dan Adit pulang ke rumah setiap malem, cuma sama si embak. not to mention perkembangan segala kegiatan les-nya yang agak terbengkalai sejak gue kembali bekerja. 
to me, leaving him feels harder now that I've experienced becoming a SAHM. mungkin, sulit juga bagi dia untuk membiasakan nggak bersama gue setiap saat di rumah. 

gue teringat suatu momen, Minggu malam di pom bensin. Bumy lagi mellow gara-gara baru say byebye ke oma. gue sendiri sedang merasa nggak nyaman; campuran dari perasaan hampa, bingung, dan resah. saat itu, kita berdua sama-sama sedang butuh "obat hati."
seperti apa harusnya obat itu?
should I stop working? 
should I take him to the mall and buy him stuff?
apakah ketidaknyamanan seperti ini akan berhenti terjadi begitu gue jadi IRT *lagi*? 
tapi, apa yang sedang gue ajarkan ke anak gue lewat pilihan-pilihan gue ini? am I being selfish? am I being materialistic? or am I teaching him about hardwork and a life earned from it? am I teaching him to be happy no matter what the situation is like? 

yang jelas, gue nggak bisa melarikan diri (lagi). 
kalau sekarang gue belum bisa "menghidupkan hidup" seperti semboyannya Ho, setidaknya gue bisa mencoba survive lah. 
gue udah pernah bikin survival guide untuk IRT, berdasar pengalaman selama jadi IRT, yang isinya the things that kept me sane. ndak ada salahnya gue coba bikin survival guide juga buat profesi sekarang, 'kan? meskipun mungkin sebagian besar cuma dikarang-karang, haha. 




but if I am to write one right now, what will be in that so-called survival guide?

let's say I'm trying to give myself "wise" but do-able advices here.. so please, spare me from being a smartass :) 
I think this is what the currently-working me should do: 

1. try to like where I am. try hard, lebih tepatnya :)))
in Leo Babauta's words, "get good at discomfort." 

2. keep doing things that I love.
gue merasa paling nyaman sama diri gue sendiri saat bisa berbagi ide, cerita, atau perasaan. kadang gue wujudkan lewat tulisan, kadang lewat ngobrol. jadi, nampaknya gue perlu cari cara untuk menyalurkan hasrat ini sembari bekerja. 
sekarang ini, gue nyambi bikin-bikin blog sama temen-temen (ada ini dan ini, hehe). kerjaan freelancing juga masih gue lakuin, meski untuk merampungkannya butuh effort dan waktu khusus. tapi yaa, demi menyalurkan hasrat, dan ujung-ujungnya, menjaga kewarasan. 

3. stop COMPARING. 
ini berlaku buat kondisi diri sendiri, maupun kondisi anak dan keluarga. 
we all have our own demons and battles to face. cuma masing-masing yang tahu hidupnya beneran bahagia atau nggak. 

4. mencoba disiplin.
poin yang ini kayanya wajib ada di daftar gue baik mau jadi WM maupun IRT. disiplin waktu selalu jadi yang paling penting buat gue; gue perlu membiasakan tidur di waktu yang sama setiap malam, bangun pagi supaya sempat olahraga, cuci muka sebelum tidur, tafakur setiap minggu. begitupun buat anak, merutinkan jadwal latihan electone, baca buku bareng setiap malam, dll. 

5. batasin waktu megang gadget.
poin ini juga rasanya udah terlalu sering diulang, yah hehehe. 

6. spend less, and less. I just realized that possession is an illusion. because things we buy, they come with responsibilities. kalau kita nggak sanggup memenuhi responsibilities itu, the things we own can only end up owning us. 
 
tapi gimana dengan cicilan ini dan itu yang udah terlanjur ada? hahaha. 
ya nggak boleh skip juga buat diperhitungkan, pastinya... tapi setidaknya coba ngerem diri, deh, kalau mau belanja impulsif. 
another note to self: usahain "kebutuhan" skincare dan belenjong tersier lainnya udah dibudgetin sejak jauh-jauh hari, kekeke. 

7. never underestimate the power of prayer.
say no more. 

that's all I could come up with for now.. setelah 3 bulan kembali ngantor full-time. rasa bersalah, ketidaknyamanan, drama - they are always a part of this role I've chosen. I just need to be good at dealing with them. *bookmark halaman ini for future reference* :))

14/10/2015

school-hunting season

di sinilah gue, duduk manis sendirian sambil ngetak-ngetik di ipad. this could be enjoyable, this could be a luxury. tapi nggak demikian yang gue rasakan. kenyataannya adalah gue lagi nungguin Adit kuliah sepulang kerja. sementara Bumy menanti gue di rumah cuma sama si embak. he has said many times that he misses me. but... let's just deal with it.

sekarang ini, gue kembali berjibaku dengan urusan memilih SD buat buat Bumy.



yak, sedang terjadi dilema milah-milih sekolah pada diri beta, all over again. 'kan gue cerita di blogpost ini, kalo gue udah memutuskan Bumy dimasukin SD tahun depan ajah (insya Allah), tapi melihat kondisi hidup sekarang - di mana gue tiba-tiba kerja full-time lagi - gue jadi mempertimbangkan lagi untuk masukin dese ke SD bulan Januari ini.
anaknya sih kemaren bilang, "Bumy gak mau buru-buru masuk SD, ah. abis pulangnya jam 3." nah lo, udah paham dia. tapi mau dimasukin bulan januari atau juli, yang pasti 'kan gue harus nyari sekolahnya dulu. mana nih yang paling tepat?? sd loh ini.. esdeee *zoom in zoom out* bayar uang pangkalnya buat 6 tahun sekaligus buuuu!

awalnya gue udah mantep mau nyekolahin bumy sd di sekolah yang enih. karena berasa udah cocok dari segi metode, biaya, sampe gaya hidup. tapi namanya juga emak-emak, ada yang 'ngomporin' dikit soal sekolah x, y, atau z, seketika membara hasrat keponya.

tapi kembali ke soal kriteria, seharusnya emang kita sendiri yang menentukan, rite? bukannya asupan/rekomendasi/kabar angin dari pihak-pihak luar. mungkin bagi si A, sekolah dengan kurikulum nasional cocok, sementara buat si B, sekolah alam lebih efektif.

soal kurikulum buat gue penting banget, nih. dari browsing sana-sini, gue menemukan kalau kurikulum yang terasa cocok baik dengan harapan gue buat Bumy, maupun dengan kepribadian dan gaya belajar Bumy, adalah kurikulum IB.
IB menekankan pada kemampuan analitis, jadi anak akan banyak diminta membuat laporan, essay dan riset. diskusi dan creative thinking selalu diasah karena nggak ada textbook wajib. trus minat non-akademis anak (kayak musik, seni, dan olahraga) dikembangkan dan diarahkan; karena 'kan nggak semua anak 'berbakat' untuk sukses secara akademik.
cuma kekurangannya juga ada, karena punya standar khusus, makanya sekolah IB biayanya mahal. selain itu, sekalinya 'nyemplung' ke IB, ya harus lanjut, karena akan sulit pindah ke kurikulum lain yang terstruktur lebih ketat.
sementara sekolah Bumy sekarang ini, diklaim menerapkan kurikulum montessori. nah, selama ini gue cuma kenal sama kurikulum nasional, nasional plus, internasional (IB, cambridge, IPC).

jadi gue rasa, sekarang ini waktu yang tepat buat memantapkan/merevisi kriteria sekolah. so far, kriteria gue untuk SD Bumy kelak sbb:

- menyediakan pendidikan yang holistik, yang meng-cover pendidikan hati, akal, dan fisik.
untuk hati, ya meliputi budi pekerti, perkembangan secara emosional, dan juga pemahaman agama.
trus untuk akal, pendidikan yang diberikan sesuai dengan perkembangan otak. ini bukan berarti mengharamkan calistung sama sekali, ya. tapi anak dibikin tertarik untuk bisa baca-tulis-hitung dengan bikin anak tertarik, serta bisa menanamkan pemahaman konsep calistung yang kuat.
kebeneran montessori ini titik berat konsep pendidikannya di pengembangan emosional anak. kaya gue ceritain di entry inilah, jadi selama usia kritikal (0-12 tahun), montessori fokus di pendidikan untuk hati, bukannya akademik.
mengutip ucapan seorang mamah di grup WA, "kalo perkembangan emosional anak baik, cukup mengenal diri sendiri, tau bersikap, maka mau ke SMP dengan kurikulum apapun gak masalah." noted!


- biayanya kita afford... baik uang pangkal dan biaya bulanannya, bisa kita bayar tanpa harus ngutang hehe. udah gitu gaya hidupnya juga nggak nggilani; jujur gue gentar menghadapi sekolah yang setiap ngadain event harus nyewa tempat di luar sekolah, suka ngadain studi banding ke luar negri, intinya banyak biaya tambahannya, gitu. belum lagi hidden cost untuk pergaulan... yang meskipun itu semua seharusnya nggak mengikis ke-DBAS-an asal kita bisa pake kacamata kuda, tapi yaa gue maunya anak terbiasa bergaya hidup sesuai kemampuan emak-bapaknyalah.

- gimana dengan Location Location Location? haha kode pos sekolah kayanya udah nggak terlalu berpengaruh buat kita - secara udah setahun ini nyekolahin Bumy ke kawasan macet yang jaraknya 9 km dari rumah. tapi yang jadi pertimbangan adalah kondisi lingkungan sekolahnya, maunya sih yang bersih, terawat, dan terjaga.

- hal-hal lain yang penting-nggakpenting juga jadi pertimbangan, sih, semacam
  • classroom setting - maunya yang nggak duduk berjejer ke arah papan tulis. karena ini menggambarkan metode pengajaran yang dipake; bisa keliatan dong kalo menghadap satu arah kaya gue di SD negri dulu, metodenya akan berupa guru monolog di depan. gue maunya anak diajak banyak diskusi (bukan banyak dikasih hafalan dan PR), disuruh bikin essay dan conduct research alih-alih menyalin doang.
  • rasio guru dibanding anak - nggak terlalu sedikit tapi juga nggak kebanyakan. 1:30 justru kondisi 'ideal' kalo dari mbaca buku Malcolm Gladwell.
  • fasilitas - nggak harus lengkap bin mumpuni sampai ada lapangan hoki dan ice skating segala, yang penting bersih dan terurus.
  • kompetensi pengajar - menilik pengalaman yang tlah lalu, level edukasi guru ternyata ngaruh banget sama kualitas pendidikan yang dideliver.
  • komunikasi antara sekolah dengan ortu - kalo bisa sih ada PTA, dan kepseknya juga komunikatif (tidak arogan adalah syarat utama!).
  • penerapan disiplin secara konkret - disiplinnya tentang apa: baju, absen, attitude? pembentukan perilakunya lewat apa?

hihihi penting-nggakpenting tapi segitu detil yah ceu penjabarannya xD

okelah, semoga kita bisa menjatuhkan pilihan dengan mudah yaa - maksudnya karena udah yakin banget, gitu, hehe. how 'bout you mommas out there? udah mulai school hunting jugakah?
first-world school problem :D