27/04/2013

always a relief

what else can i say but "alhamdulillah" and "subhanallah"....

- watched one of my most favorite bands, RADIO DEPT., here in Jakarta. oh God :'D
been loving this band since 2006, i guess. to watch them performing live is an honor, and a blessing. their music is so beautiful, with heart-wrenching melody, and you-just-can't-help-not-to-move-your-head-nor-tap-your-fingers-along rhythm. at first, it felt kinda strange to be in the stream of youngsters (who were there to see the kooks). but kiti and i were inevitably dragged into the high-spirited ambience as we heard blur songs being played loudly from a big sound fest ticket booth. found ourselves chanting "they're gonna be here omigodomigod can you believe it we're too old to be groupies but who cares or what?!?!?!"
aaand, there were backdrops of the Great Britain's union jack combined with very accurate words about how great britain is all about freat music and great bands. we kept ourselves busy while waiting for the entrance gate opened by taking pictures with those 'propaganda,' hehe.
the band's performance was undoubtedly great, of course. they were also uber-humble,  saying "oh we're not one of the big bands. shouldn't play too many songs." but oh how you fill my soul with happiness :')

- had a great long talk with kiti, during our togetherness before and after the gig. she even stayed at my house that night <3
we talked about books we read, her view upon living here and other countries, her adoration towards the Great Britain and mine towards France :P, etc. also 'bout the things we used to keep on our head but could say out loud to each other. meeting her, and watching radio dept of course, gave a whole new energy to me. i feel really grateful for it.

- so, adit (or should i say "we" the way adit always says it) finally made the decision. bismillah, we hope it's for the greater good. i'm scared yet excited as usual. but i think i'd just focus on how this might be the nod from above regarding our recent life change.

- attended @alifmagz's event about "introducing Allah to our children." it was really insightful. and i'm glad i came with adit. that way i wouldn't have to explain things all over again to him :P
this is (kind of) the excerpt. i took it from alifmagz's site.
acara diteruskan dengan ceramah oleh Dewan Pakar PSQ, DR. H. Ali Nurdin, MA, dengan tema “Mengenalkan Allah pada Anak”. Beliau menjelaskan bahwa dalam mendidik anak, termasuk mengenalkan Allah dan nilai-nilai agama, seharusnya digunakan pendekatan kasih sayang dan keteladanan.

Pendekatan kasih sayang mencakup tiga hal, yaitu: 1. Jangan marah – Kita bisa menunjukkan ketidaksukaan kita atau menasehati anak tanpa perlu marah-marah. Gunakan ekspresi dan pilihan kata yang tidak membuat anak takut; 2. Jangan mudah melarang – Karena larangan bisa menghentikan perkembangan dan pertumbuhan daya pikir, eksplorasi, serta kreativitas anak. 3. Jangan menyuruh – Lebih baik berbentuk pemberian informasi, ajakan, atau diskusi.
Sedangkan pendekatan keteladanan diperlukan, agar setiap apa yang kita ajarkan pada anak menancap kuat dalam kepribadiannya. Tanpa contoh, itu akan sulit dicapai. Apalagi, orang tua merupakan role model pertama bagi anak.

Khusus untuk bagian mengenalkan Allah pada anak, DR. H. Ali Nurdin, MA, membaginya menjadi tiga hal. Yaitu memperkenalkan Allah sebagai Maha Pencipta, yang dari-Nya asal segala sesuatu; Mengajarkan anak untuk pandai bersyukur, bahwa kita dan segala nikmat yang kita rasakan, ada semata karena anugerah Allah; Memperkenalkan kasih sayang Allah, bahwa Allah Maha Pengasih, bahkan ketika Dia memberi kita kesulitan. Karena, kadang Allah memberi kebaikan dibungkus oleh masalah atau kesulitan. Ketika bisa melewatinya dengan ikhlas, kita baru bisa melihat kebaikan itu dan memperoleh kemuliaan.

as in my own words, i'd like to report that there are some jlebful wisdom i got from the event.
1. mana yang lebih berpengaruh ke anak, didikan/tindakan orangtua atau lingkungan? dijawab dengan: orangtua. karena pengalaman dengan orangtua membentuk pondasi dsb. tapi lingkungan juga berpengaruh, jadi tetap usahakan untuk dijaga. kata si bapak, "saran aja yah, jangan sering-sering ajak anak ke sini (mol-red). nanti anak keseringan liat kelakuan yang begitu tuh (me-refer ke suara jedag-jedug event entah-apa yang melibatkan teriakan-teriakan "yeah!" "dance it yoo!"). lebih baik sering-sering ajak anak ke silaturahmi keluarga. jadi bisa belajar nilai-nilai yang baik."
this made me glance towards adit, and say "is he serious? me, no malls?"

2. larangan untuk tidak marah - melarang - menyuruh anak berusia di bawah 6 tahun (kalo di indo), atau 8 tahun (kalo di USA).
si bapak bilang, karena otak si anak belum tersambung sempurna. jadi tindakannya itu bukan kesalahan, tapi cara dia belajar dan membentuk karakter. contohin lewat keteladanan juga kalo mau anak jujur dan rajin ibadah. T___T

- my kid's own words.
  • sambil sentrap-sentrup, sehari sebelum pesta ultah tetangga sohibnya, "ke ultah naya gimana ni bumy mamaaa?" karena gue bilangin "ayo bumy makan sayur dan buah yang banyak, supaya bisa sehat jadi bisa dateng ke ultah naya besook." hihihi. sorry to make you worry yah baby.
  • "ma, kok matahari gak ada matanya sih?"
  • "kok difoto sih?!" ketika dia gak sengaja menemukan fotonya lagi jongkok dan serius baca buku di aksara.
  • "kalo malem-malem mama jangan kerja terus loh. kok malem-malem kerja siiiih. kerja apaan?" sambil menggelendoti kakitanganmuka gue yang sedang kejar setoran tulisan. -___-
  • bumy ngeliatin tahi lalat di telapak kaki kirinya.
B: "kok kaki bumy ada tahi lalatnya sih mamaa?"
G: "iya, itu Allah yang menciptakan."
B: "kok Allah gak ciptain tahi lalat di kaki dua-duanya sih mamaaa?"
G: .... "err... look, it's a bird! it's a plane!"

23/04/2013

pawon

pardon my being random, but on this quiet afternoon, i feel like writing about the kitchen.

dulu, bagian menentukan desain dapur seperti apa memakan paling banyak resource waktu dan pikiran gue. desain lemari dan kamar bumy udah diserahin ke sodikin, tapi desain dapur tertundaaa terus.
setelah akhirnya bisa meneguhkan pilihan desain, beberapa keinginan spesifik gue mengenai si dapur saat itu, di antaranya sbb:

1. kabinetnya warna putih.
2. permukaannya dari kayu. dua poin ini terinspirasi gambar-gambar american kitchen di pinterest plek.
3. maunya ada ambalan di satu sisi atas, supaya dapur yang ukurannya mini ini gak keliatan 'sesak' oleh kabinet.
4. maunya di dinding di atas kompor ditaro rail + hook dari ikea. jadi gue bisa gantung-gantung sodet dan rak bumbu.
5. maunya dinding di atas kompor itu dipakein bata timbul. lagi ngetrend kan tuh! sekalian mempertegas kesan "country"-nya. tapi... gue pikir-pikir bersihinnya ribet. akhirnya pilihan diganti jadi pake fiber glass.
6. kabinet yang cuma sedikit itu bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk naro printilan dapur. baik consumable maupun non-consumable items.
7. maunya ada kabinet yang pakai kaca alias transparan. lagi-lagi, supaya gak terkesan 'sesak.'
8. permukaan dapur yang luasnya minim itu bisa dipakai untuk cooking, washing, dan food preparation (potong-potong, ngulek, dsb).

BANYAK MAUNYA 'kaaannnn xD

ketika berkonsultasi sama sodikin (bebas fee, ey! haha), doi ngasih beberapa input,
  • permukaan dapur yang bawaan dari developer sebenernya udah oke, karena terbuat dari keramik. keramik tuh awet, kuat, dan perawatannya gampang. tapiii, gue gak suka! liat sendiri 'kan poin nomer 2 di atas.
  • permukaan kalo dari kayu beneran kurang disarankan. pertama, perawatannya sulit. kedua, harganya juga mahal kalo dari kayu solid. hal ini disolusikan sodikin dengan memasangkan HPL yang dari segi biaya murah, dari segi estetis cukup memuaskan, dan dari segi perawatan gampang (dia bilang dia pakein lapisan apa gitu supaya si HPL gak gampang rusak kena air).
  • sodikin setuju sama ide pake ambalan supaya gak 'sesak' itu. dia juga nambahin pendapat yang menurut gue oke. "kalo kebanyakan kabinet, biasanya orang malah nyari-nyari barang supaya kabinetnya bisa keisi, bu. ngapain nambah-nambahin barang yang sebenernya enggak perlu?" iye juga sih. emang harus optimal dan gak berlebih-lebihan.
  • desain awal permukaan dapur tadinya kompor gue nempel sama tembok. tapi sodikin nyuruh pindahin, katanya masak jadi ribet kalo nempel tembok gitu. i have to agree with this.
  • corong pipa exhaust fan ditutup pakai drop ceiling. sodikin's idea. jadinya lumayan bagus, bikin dapur tambah terang dan cukup efektif nutupin pipa.

setelah sekarang si dapur udah jadi dan beroperasi, gimana pendapat gue?
  • well, dapur segini juga udah cukup sih. meski YES, it is MINI. permukaan yang lebih luas would be nice. tetangga sebelah rumah dengan briliannya meniadakan kamar mandi yang ada di sebelah dapur ini, sehingga ukuran dapurnya jadi lebih besar. kulkas juga jadi bisa ditaro di samping situ. oh well....
  • kadang kepikiran pengen ngubah sisi atas yang berbentuk ambalan jadi kabinet. barang-barang gue emang masih cukup sih di kabinet-kabinet yang ada. it's just... it would be nice, i thinkkkk. #labilo
  • rail & hook ala ikea belum juga kepasang. nyesel juga pake fiber glass gini. meskipun emang siih ngebersihinnya gampang, tapi, kalo mau dibobol sendiri untuk masang railing, kita gentar, takut ngerusak.

sekarang, wujud si pawon seperti ini. 

seiring dengan waktu, gue mulai menemukan aksesoris yang cocok untuk meramaikan si ambalan. tempat nasi dan panci yang seragam itu nemu di ace hardware. pohon plastik dari scoop. kanvas bertuliskan "chocolate doesn't ask silly questions. chocolate understands" (haha!) nemu di booth bagusbagus di citos. 
trus that love sign sebenernya dibeli karena meniru nisha, yang nitip letter signage di typo, hehe. awalnya gue bingung mau naro si love di mana... tapi lalu gue putuskan naro itu di dapur. tujuannya sok romantis sih, supaya selalu inget untuk memasak buat keluarga dengan penuh cinta. hakhakhak. jadi mau hasilnya enak gak enak, para anggauta keluarga bisa diingetin juga, kalo dibuatnya pake cinta looh. win-win, right? :P 
di ambalan pojok yang out of sight itu, gue naro buku-buku resep masakan, piring pyrex, dan tisu-tisu gulung.

kesimpulannya, it's not perfect, but it's okay. it's practical to clean, and it's running well. penataan letak washing - preparation - cooking juga fungsional. ide sodikin untuk gak naro kompor dekat dinding juga nambahin luas area preparation.
but yeah, i still want a railing stored with its hooks and tempat bumbu.
one at a time, kome. one. at. a. time.
:))

some girls just wanna be loved.


suatu hari di bulan ini, gue mendengar cerita tentang seorang perempuan yang dimanfaatkan oleh mereka yang telah berpuluh tahun menjadi "teman"nya. perempuan ini, sebutlah A, sedang dalam tahap mewujudkan perhelatan paling penting dalam hidupnya. entah untuk menghormati atau memuaskan gengsi, A menjanjikan akan memberi teman-teman lamanya itu kain bahan yang seragam. hal ini wajar ditemui sih di jaman sekarang. yang membikin gue heran sekaligus miris, teman-teman A lantas menodong A untuk membayar menjahitkan kain bahan itu, di tukang jahit ternama, tempat A menjahit baju istimewanya. baju yang A harapkan menjadi yang paling indah dan istimewa, setidaknya untuk dia, yang dia bawa ke tukang jahit ternama dengan biaya yang nggak murah.
A sebenarnya bukan orang berada. tapi dia seperti tidak punya kekuatan untuk menolak permintaan "teman-teman"nya yang keterlaluan itu. keterlaluan menurut gue sih. A kayaknya gak terlalu keberatan. karena meski berat hati, dia menyanggupi permintaan itu. 

gue merasa heran dan miris, karena kalo mereka emang teman yang baik bagi A, tidakkah mereka akan 'rela' tidak merepotkan dan menambah biaya pengeluaran A untuk hari istimewanya?

lantas suatu hari di bulan ini juga, gue berpapasan dengan kata-kata mbak Alissa Wahid di twitter yang bilang, 
"Ada orang-orang yang perlu didekati, ada yang perlu ditinggalkan. Bagaimana kita 5 tahun lagi, tergantung dari mereka yang kita gauli. Pagi!"

saking terpesonanya dengan kata-kata ini, gue hanya bisa mengutipnya dan menambahkan kata "Wow." 
well, karena keterbatasan karakter juga sih. 

jadi, apa moral ceritanya?
gak ada sih, karena bukan buku cerita anak-anak, hehe (terinsipirasi kalimat ini dari twitter juga :P). 
gue hanya bisa merenungi hal-hal yang melintas itu, dan mencatatnya diam-diam di sini. 
hmm, sebenernya membuat gue ingin menyusun doa juga, supaya didekatkan kepada orang-orang yang membawa pengaruh positif, membuka wawasan, dan peduli dengan TULUS kepada diri. 

amin.


monday, monday


nggak bisa tidur. padahal seharian badan loyo banget dan pengen adit cepet-cepet sampe rumah supaya gue bisa tidur. tapi ternyata... pikiran ribut banget, gak bisa diajak merem. 
gelisah.

today wasn't a pretty day. 
berkali-kali marah sama bumy. berkali-kali bikin dia nangis. bahkan bikin beberapa kesalahan pengasuhan yang udah gue ultimatum diri gue untuk gak lakukan lagi. hiks.

belum lagi, ketika ngecek status permohonan CLTP gue, ternyata belum ada respon apa-apa. sebelkeselgondokkkk jadinya.
terpaksa deh besok gue nelponin HR lagi... berbasa-basi, berurusan dengan birokrasi, dan siap-siap kecewa kalo menemui kenyataan tak sesuai ekspektasi.

hufffttttt.

on a more grateful light, i managed to slip some physical exercise meskipun bumy gelendotan/telentang di bawah/memanjati badan. 
and i ordered pizza which i had been craving for since i woke up in the morning.
also managed to have some time reading suze orman's book. which is utterly interesting. she really is something deh. bukunya udah mau selesai aja gue lahap, padahal belum juga sehari. entah karena gue emang doyan sama hal-ihwal financial planning, atau jeng suze emang jenius merangkai kata dan kasus. i think i'd read the book again after i finished my rambling here.

hal lain, atau mungkin sebenernya yang utama, membuat gundah hati adalah keputusan yang harus dibuat kita sebagai keluarga besok. daftar pro dan kontra udah dibuat. pengorbanan dan risiko udah disadari. tapi gue tetep aja belum tenang. :S

waktu adit tanya pendapat gue, dengan jujur gue jawab kalo pertimbangan gue yang paling utama ya sekitaran diri gue aja. God, this man really should be praised for bearing my self-centeredness. he didn't mind, as always.
gue jawab kalo gue malah seneng jadi ada faktor pendukung kalo mau sekolahin bumy di opsi B tempo hari. berhubung lokasi sekolah B nggak di 'udik', gue jadi bisa memanfaatkan waktu nungguin anak sekolah dengan beraktivitas di seputar wilayah situ. 
tapi yang sekarang jadi kepikiran... emang masih ada lowongan buat bumy di situ?? kita sendiri terlanjur membuat jejak kesan buruk karena formulir yang waktu itu diambil belum dibalikin, dan bahkan belum dibayar :|

when he first arrived at home, he rushed to tell me that he's been thinking about the reasons he had thought about to reject the offer.
but after we talked and talked for almost two hours, he said now he's thinking about why he should leave the first place. i'm just worried his mind-changing is because i talked him into it. not because he thought it would be best for him, and why it would be best for him. 



"i think too much
of things i want too much
it makes me hateful and i say stupid things.
only you can fill my blank heart
and i'm resigned to that." 

("resigned" by blur).



21/04/2013

the week with rain, sweat, and memoirs

whew it's sunday already. sudah hampir jam 9 malam pula. alhamdulillah i could get by another week sebagai IRT, hehehe.
minggu lalu, gue berkenalan dengan yang namanya "ibu profesional" karena artikel tentang foundernya ditulis sama Saski di MD. pertama kali baca, gue melongo. kagum, sekaligus sedikit curiga. ini mirip sama kiasu parents di Sg gak sih? gambaran yang gue dapatkan tentang kiasu parents tuh ya para ortu ambisius yang nyekokin banyak materi pelajaran dan keterampilan ke anaknya supaya anaknya do well academically and later on, profesionally.
untuk si kiasu ini, gue gak terlalu ngefans sih. emang ada positifnya, mereka tau kalo kehebatan anak gak bisa dicapai overnight. tapi harus melalui proses drilling yang tekun, dan mereka juga mau menimba ilmu supaya bisa nge-drill anak-anaknya. mirip tiger mom, kurang lebih.

tapi yang bikin gue gak sreg adalah orientasinya yang duniawi banget. tujuan akhirnya mencetak anak yang sukses secara lahiriah, tapi apa emang itu yang terbaik untuk anak?
proses drilling akademik bertahun-tahun bahkan sejak usia dini itu juga apa baik buat mental anak? kalo udah sukses, kaya, makmur, trus apa?
nah, kembali ke ibu profesional, awalnya gue kira ini mirip sama kiasu ituh. tapi, semakin banyak gue eksplorasi tentang 'gerakan' ini, kayaknya beda. emang sih, anak-anak foundernya unggul semua. tapi keunggulannya bukan cuma di segi akademik. mereka tau mau memanfaatkan hidupnya dengan berkontribusi ke masyarakat dengan cara apa. duar! kagum banget gue.

sebelumnya gue harus pasang disclaimer dulu nih. i said it before and i'ma say it again, kalo gue gak berambisi mau 'mencetak' bumy jadi yang ter-ini dan ter-itu. tujuan pengasuhan anak emang punya, tapi 'semata' ingin menjadikan anak sebagai manusia yang fungsional dan tau arah hidupnya. tanda mata penghargaan atau gelar kehormatan itu bonus aja sih menurut gue.

nah, yang membuat gue tertarik sama si ibu profesional ini, adalah visi misinya. ketika membaca kata-kata di bawah ini, semangat gue jadi berkobar. kalo inilah yang mau gue capai!
PERAN IBU DIMATA ANAK
Seberapa bersungguh-sungguhnya kita menjalankan peran kita sebagai ibu, anak dan suami kitalah yang akan melihat.
  • Apakah kita benar-benar merencanakan kegiatan dirumah dengan sangat terencana dan dahsyat.
  • Apakah kita benar-benar mengatur jadwal belajar dan mengasuh serta mendidik anak kita dengan sepenuh hati.
  • Apakah kita benar–benar mengambil peran ibu dan istri (bagi suami) yang sesungguhnya di dalam rumah.

PERKEMBANGAN PERAN
  • Dari kasir menjadi pengelola keuangan
  • Dari hanya menjadi Tukang Masak menjadi Perencana Menu Keluarga
  • Dari hanya menjadi Pengantar Sekolah Anak menjadi Pendidik Utama Anak

(sumber dari sini)
efek positifnya buat gue adalah gue jadi ngerasa punya peta tujuan yang jelas. gue pernah nulis begini duluuu banget di multiply gara-gara nonton acara mario teguh di kosan (hehe).

2. see our job or mundane tasks as a part of something big and noble, instead of seeing it as a monotonous and insignificant thing that we have to do merely for the sake of money. example, X says "my job is to put a brick next to another", Y says, "my job is to build a wall," while Z says, "i'm gonna make a beautiful home where children and a family can stay and live a happy life." so in conclusion, we gotta try to behave like Z.

ternyata cara pikir seperti itu bisa gue terapkan juga di peran gue sekarang. semua tergantung bagaimana kita memaknai peran kita. kalo lo cuma ngerasa jadi tukang batu, ya ambisilo setinggi batu-batu terpasang dengan rapih aja. dan lo menilai kontribusilo dari terpasangnya si batu-batu itu. bukan dari makna bangunan yang lo bantu dirikan. kurleb gitu deh, gak pandai juga gue menyusun kata-kata berbau motivasi, hehe.

sekarang, gue lagi berusaha menyusun jadwal kegiatan yang jelas dan realistis untuk kegiatan di rumah. realistis itu faktor paling penting, karena jujur aja, untuk poin bangun pagi semata masih suka gak tercapai :P

oya, kembali ke kilasbalik minggu ini.
  • selasa lalu, gue dan bumy nimbrung adek gue foto prewed di kedai. haha.
  • gue sedang berusaha menyelesaikan 3 buah buku memoar yang kebetulan gue pilih semuanya di bulan ini.
  • gue mencoba membiasakan diri gerak badan di rumah. badan sakit-sakit gela tapi it's the price to pay deh, daripada sakit pinggang melulu kalo malem :((
  • kamisnya kita ke karawaci. hari jumat, awalnya dengan tujuan mulia menyajikan soto haji mamat untuk makan siang di mrican, kita pergi bertiga untuk beli sotonya di cabang pasar mutiara karawaci. ternyata, tutup bo! karena mikirnya cuma pergi jarak deket, kita minjem mobil tua bokap gue karena itu mobil posisinya kebetulan lagi di luar rumah, jadi gak ribet pindah-pindahin. berhubung gak mau mengecewakan mereka yang udah nungguin di rumah, kita putuskan mengejar soto mamat ke gading serpong. siang itu puanaass banget. ac si mobil tua juga ngos-ngosan berusaha mengejar hawa di luar. kita masih menghibur diri, gak apa-apalah, sebentar doang ke gading. ketika sampe di gading, kita beli deh sotonya sekian porsi, plus rujak buah dan es podeng :D~
baliknya, adit mutusin lewat tol aja supaya lebih cepet sampe karawaci. tak disangka, ternyata depan tifico situ muacet poolll. gue udah mulai deg-degan karena si mobil tua mesinnya gak bisa kepanasan alias dibawa bermacet-macet. di dalem mobil, bumy udah keringetan. gue menghibur diri lagi, aah bentar lagi juga masuk tol.
setelah macetnya terlewati, kita masuk tol deh. alhamdulillah. eeeeh, pas bayar tol, kok tiba-tiba... mesinnya mati.... gue dan adit liat-liatan.... bok... serius 'ni mobil mau mogok di tol?? setelah sekian menit adit nyoba menstarter, dan gue ngelapin keringet bumy yang segede-gede jagung... ALHAMDULILLAH itu mobil akhirnya mau nyala juga. mau nangis terharu kalo gak inget ketek gue udah basah (takut kekurangan cairan, ceritanya). tegang juga tapi 'kaannn.... meskipun abis ini kita jadi bertekad, enggak lagi-lagi deh minjem mobil bokap pas siang bolong dan bawa bumy.
  • sabtunya, kita nonton ke... mol terbaru di alam sutera, ihiy! penyebabnya bukan karena mau trendy sih, cuma karena the croods masih diputernya di situ doang, hehe. gue pengen banget nonton film ini sejak liat trailernya sebelum nonton film oz tempo bulan. filmnya bagus deeehh, mengedepankan nilai-nilai kekeluargaan banget. airmata sampe netes-netes pas (SPOILER ALERT) grug sang bapak ketinggalan di sisi lain daratan.
truuus, berhubung hari sabtu ini gue absen gerak badan, malemnya abis isya, gue dan adit iseng jalan kaki dari rumah bokap ke arah jalan utama. tujuannya ngajak bumy ke alfa aja sih, hahah, ngadem abis jalan kaki :P asik deh, kaya nostalgia jaman kecil, ngelewatin rute gue naik sepeda pas SD, mesjid tempat taraweh demi menuhin buku laporan puasa dan ngelirik gebetan haha.
  • hari minggunya, gue dan adit berenang. sengaja gak ngajak bumy biar gak rempong. kebetulan anaknya juga masih tidur. trus siangnya cusss deh ke jeketi. adit bawa bumy ke kantornya karena lagi ada DRP atau apalah, gue ke salihara untuk... ikut kelas menulis kreatif yang diajarin oleh... none other than AYU UTAMI HERSELF. hihihihihii. uber-excited!! seneng gela, takjub gela, bisa dapet elmu dari sang maestroo xD
trus setelah kelas selesai, kebetulan adit dan bumy juga udah meluncur dari thamrin. kita ketemuan di cilandak mol, beli donat setengah lusin, trus balik ke home sweet home. i feel soooo grateful. atas ciganjur sehabis hujan, donat hazelnut kesukaan, salihara, dan kebersamaan. alhamdulillah <3

comfort city

tadi saat iseng browsing timeline twitter, gue ketemu dengan kata-kata begini, "tapi habit turis itu beda-beda. orang indonesia senang cukup makan, belanja, foto2, dan upload. turis bule seneng get lost, ngobrol, dan santai2" by @absolutraia.

membaca itu bikin gue teringat pada trip ke singapur kemarin. di sana, gue males banget ngomong sama native. bukan cuma males bahkan, lebih ke takut. norak ya?!
gimana mau ngobrol, ngomong aja enggan.
di sinilah gue sadari letak keuntungan punya suami supel dan talkative, haha. adit ceria banget merespon kalo diajak ngobrol sama, misalnya, sopir taksi, atau waiter/waitress di tempat makan. emang berasa jadi banyak yang menegur/berbasa-basi sama kami sih, kayaknya karena bawa bumy.

penyebab keengganan yang gue rasakan itu terutama karena insecure, khawatir nggak paham sama yang mereka omongin, dan sebaliknya, mereka nggak paham sama apa yang gue omongin. padahal gue pribadi pengen banget sih mencicipi 'rasa' suatu negara dengan cara yang dilakukan para "turis bule" kayak twit di atas tadi.
pengalaman terdekat kami kemarin untuk berpetualang atau "get lost" itu adalah ketika 'mengejar' nasi hainam yang konon disebut terenak di singapur. padahal mah gak ada unsur nyasarnya sama sekali deh, huahua, soalnya kita udah siap banget dengan contekan rute dan pilihan moda transportasi. gue anggap masuk kategori "get lost" cuma karena lokasi yang dituju agak jauh dari hotel (haha!) dan terletak di pemukiman penduduk aseli.

ketika berangkat pakai MRT jam 6an sore itu, kita lihat anak-anak sekolah yang kalau dari fisiknya sekitar level SMP, baru pada pulang. mereka masih pada pake seragam, mukanya pada lusuh dan kecapekan. eeh kebetulan banget yang satu MRT sama kita ada yang tiba-tiba mimisan :|
ketika akhirnya sampai di stasiun yang dituju, kita mulai menelusuri bangunan-bangunan ruko dan HDB di belakangnya di mana si kedai nasi hainam terenak ada.
kesan pertama gue, karena sampai di situ udah gelap, sekitar jam 7an, "serem amat tempatnya." sepi, remang-remang, meski gak sesangar kompleks ruko di fatmawati kalo malem sih.
trus kita masuk makin ke dalam, ternyata masih banyak toko yang buka. kayak toko-toko kelontong gitu. pas kita lewat, bau semerbak minyak angin tercium :| mengingatkan pada pasar-pasar tradisional di kampung halaman.
anyways, akhirnya kita menemukan juga kedai yang dicari. menurut gue sih, rasanya biasa aja kalo dibandingkan dengan nasi hainam di kopitiam2 pinggir kota. tapi emang lebih bercita rasa dibandingkan yang kita dapatin dari tempat-tempat lain selama di singapur. bener kata Laila di blognya, makanan di singapur kok rasanya hambar banget yahhh. gue bener-bener kurang napsu makan selama di sana. padahal laper sih iya, cuma ngebayangin rasa makanan yang udah ketebak bakal kayak gimana bikin nggak terlalu bersemangat.

pas di sana gue sempet ketemu sama tia yang udah bermukim 4 tahun di sana. she said she's thinking of going back to jakarta. gue heran, kok mau melepas kenyamanan idup di sana. dia bilang, dia ngerasa gak punya koneksi atau attached feeling sama orang-orang di situ. "gue kerja di sini 4 tahun, gak bisa dapetin sahabat dari kantor loh. urusannya sebatas kerjaan aja. beda sama kantor di indo, gue kerja cuma 2 tahun, tapi sampe sekarang masih ikrib meski cuma lewat bbm." trus, dia juga bilang she's getting bored sama lifestyle yang gitu-gitu aja, passionless kalo pake istilah dia.
kerja - ngemol - tidur - repeat. makanya sekarang dia mencoba get by the boredom dengan menggali kesukaannya melukis. lumayan buat obat hati kali ya.

setelah perjalanan usai, adit iseng-iseng nanya ke gue, "gimana menurut kamu tinggal di singapur beb?"
gue jelasin kalo gue terkesan banget sih sama kerapihan dan kemewahan fasilitas publiknya. pengen juga mencicipi kayak apa tinggal di tempat jalanannya gak gegap-gempita oleh kemacetan, haha. tapi... kalo dari segi kuliner, bisa-bisa berat badan gue yang udah naik 4 kg selama jadi IRT bisa-bisa menguap lagi.
lagian, gue jiper sama sistem persekolahan di sana. tia ngejelasin kalo sistem pendidikan di sg emang 'berat' dan kompetitif banget. tapi itu sekolah negrinya ya, gak tau yang sekolah internasional gimana. ketika gue ceritain ke tia kalo di indo sekarang yang lagi 'happening' malah kembali ke mother tongue, anak gak dipaksa belajar calistung sedini mungkin, dan metode belajar fun & active learning, doi kagum banget dengernya.

singkatnya sih, sejelek-jeleknya kondisi di indo, gue masih ngerasa nyaman. :|
that doesn't sound so good, huh.
yah... setidaknya gue jujur, kalo emang gue belom siap 'berpetualang.' *pukpuk myself* :P


12/04/2013

financial to-do list

berhubung kian hari, kian tertegaskan status sebagai ibu rumah tangga (naon yeuh), guepun semakin serius menekuni yang namanya rencana keuangan keluarga. target tahun ini nggak muluk-muluk, yang harus gue capai "cuma" sbb:

1. cashflow bulanan positif.
seperti pernah gue singgung di sini, gue ingin membuat cashflow dalam versi paling baru dan realistis. 
baru artinya sesuai dengan kondisi gue yang tidak lagi berpenghasilan (glek). realistis artinya gak pake bermanis-manis di depan tapi sepet di belakang, deh. jujur aja, butuh berapa duit untuk jajan harian, berapa untuk belanja bulanan, berapa untuk shopping personal goods (kok belanja doang yang kesebut). 
cashflow ini juga gue gunakan untuk menyusun ekspektasi gambaran kehidupan gue ketika telah menjadi SAHM kelak. misalnya, dari sini jadi sadar kalo biaya katering bulanan gue ternyata gede juga. kalau pakai jasa ART malah bisa menghemat, meski budget belanja bulanan harus ditambah. trus keinginan untuk ikut kursus atau kegiatan ini-itu juga harus disesuaikan dananya, supaya cashflow bulanan gak tekor. begitulah kurang-lebih gambarannya.

2. mengumpulkan dana darurat.
sebenernya, poin ini yang memberikan gue inspirasi menulis artikel ini. 
di perjalanan bersama suami tadi pagi, tiba-tiba gue teringat materi pembelajaran dari QMPC Syariah tahun lalu, yang menyebutkan bahwa di Al-Qur'an ada ayat yang mewajibkan suami menyiapkan dana darurat bagi keluarga.
ayatnya adalah QS Al-Baqarah, 240, berbunyi "Dan orang-orang yang (hampir) mati di antara kamu serta meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isteri mereka, yaitu diberi nafkah saguhati (makan, pakai dan tempat tinggal) hingga setahun lamanya, dengan tidak disuruh pindah dari tempat tinggal) hingga setahun lamanya...."
ayat ini menegaskan bahwa jika seorang laki-laki akan meninggalkan keluarganya, tidak disebutkan apakah untuk berperang, atau bekerja, dia harus menyiapkan dana yang cukup bagi keluarganya untuk jangka waktu satu tahun.
jika dikaitkan dengan 'kaidah' perencanaan keuangan, besaran dana darurat sesuai dengan status adalah
  • single = 4 kali pengeluaran bulanan
  • pasangan, belum ada anak = 6 kali
  • pasangan, 1 anak = 9 kali
  • pasangan, minimal 2 anak = 12 kali.

dana untuk pengeluaran selama satu tahun = dana darurat untuk keluarga sebesar 12 kali pengeluaran bulanan. amazing, isn't it?

hal ini membuat gue ngomong ke adit, "beb, fokus kita untuk tahun ini ngumpulin dana darurat, ya. inget gak ayat yang tentang dana darurat?"
needless to say he's okay with it.

3. menghitung net worth dan rasio keuangan.
untuk tau berapa net worth atau kekayaan bersih keluarga, gue membuat daftar aset dan hutang.
aset mulai dari yang lancar or liquid (berupa kas dan investasi), sampai yang tidak lancar (berupa perhiasan, tempat tinggal, tanah, bisnis, kendaraan, dsb).
sementara hutang dibagi menurut jangka waktunya, pendek (kayak utang CC, KTA, loan mobil), dan panjang (KPR, KPA, dsb).
nanti bisa ketauan deh, berapa net worth kita dari total aset dikurangi total hutang.
perhitungan net worth ini berguna untuk tau rasio kesehatan keuangan kita.

nah rasio yang dihitung tuh antara lain:
  • rasio likuiditas, untuk tau, kalau kehilangan pendapatan, keluarga gue nih bisa bertahan berapa lama hidup tanpa income. serem yee. 
  • rasio hutang terhadap total aset.
  • rasio tabungan terhadap income bulanan. menurut 'kaidah' perencaan keuangan sih, yang sehat itu minimal 10%.
  • rasio cicilan utang dibandingkan penghasilan per bulan. udah pada familiar lah ya sama ini, untuk tergolong sehat, besarnya maksimal 30% dari penghasilan.
  • rasio aset lancar terhadap net worth. untuk tau komponen net worth kita terlalu liquid atau enggak.
kalo kurang liquid, kondisinya kurang sehat juga. karena kalo ada kondisi darurat, cara cepat untuk mendapat dana ya dari aset lancar ini. kalo kita pergunakan aset tidak lancar untuk kondisi darurat, yang mana dari segi waktu juga terburu-buru, nilai jual untuk aset tersebut bisa jadi tidak maksimal. apalagi kalo aset tidak lancar itu harganya mahal, kita perlu lebih banyak waktu untuk dapat pembeli yang afford aset tersebut.
sementara kalo terlalu liquid, jadinya aset kita tidak dimanfaatkan secara optimal untuk 'bekerja' demi kepentingan masa depan kita (dengan cara berinvestasi).
  • rasio aset investasi terhadap net worth. ini penting untuk diketahui, karena aset investasi adalah aset yang kadang tidak disadari nilai dan kegunaannya.
banyak orang yang suka gak sadar kalo dia punya aset aktif, macam bisnis, atau properti yang disewakan. padahal penghasilan yang dihasilkan aset aktif ini dapat ditambahkan ke net investment bulanan. aset investasi juga tool kita untuk keep up dengan inflasi. jadi, kegunaannya bukan cuma di saat sekarang, tapi juga di masa depan.

kalo udah tau berapa rasio kita, jadi lebih mudah menentukan 'sisa' uang kita mau ditaruh di keranjang investasi yang mana. kita juga jadi terbantu dalam merencanakan long-term goals.

oya ada kata-kata yang gue suka, yaitu "The total amounts of your assets do not guarantee whether your finance is healthy." makanya menghitung rasio kesehatan keuangan ini perlu banget, supaya bisa mengoptimalkan alokasi uang demi mencapai tujuan-tujuan finansial kita.

4. nyusun plan
this is the funnest part. for me. paham yang gue anut ketika bikin plan tuh, "dream big." hehe. bukan berarti gak realistis tapii, maksudnya optimis aja kita bisa mencapai target.
oiya asuransi gue masukin di dalam plan, soalnya penting banget punya proteksi.

5. bikin yang namanya surat keterangan daftar harta dan peruntukannya.
saat ikutan QMPC Syariah, kita dikenalkan sama hukum waris. dalam hukum waris islam, istri hanya punya 3 ahli waris (suami, anak, orangtua). tapi peer terbesar adalah menentukan harta istri yang mana, suami yang mana. 
menurut UU perkawinan tahun 74, harta suami dan istri itu nyampur. padahal dalam islam, suami dan istri harus punya harta masing-masing karena urusannya ke waris. karena itu, sebenernya pre-nuptial agreement itu perlu. karena tanpa pre-nup, harta dan anak-anak by default ikut pihak laki-laki.
nah, pas #FinClinic tanggal 8 april lalu, ligwina ngebahas nih soal waris ini. dia juga membahas soal wali anak-anak. wali, selain bertanggung jawab ngurus anak, bisa juga ditunjuk untuk mengurus surat-surat hutang dan harta untuk memudahkan urusan waris.
penunjukan wali sekaligus pemisahan mana harta istri dan mana harta suami bisa dilakukan dengan membuat surat pernyataan. di surat itu, kita list down deh daftar harta dan utang kita.
untuk harta, dijelasin kalau harta berbentuk X ini milik suami/istri. trus, RD Y untuk (misalnya) dana pendidikan anak level SD, dst. jadi, harta itu nggak bercampur-baur nggak jelas tujuannya untuk apa dan ke mana diwariskannya.

so far sih udah gue jalanin semua kecuali yang nomor 5. ini bagian dari 'kesepakatan' gue dan adit sebelum "seal the deal" sih. cuma masih belum fokus aja mau bikinnya :P

begitulah. semoga membantu bagi yang lagi nyari info seputar perencaan keuangan keluarga.

my favorite corner

at the house.
and surprise, surprise (NOT), it ain't the kitchen. heheheh.






a slipi episode

menyambangi kantor di slipi hari ini.

cengar-cengir ketemu rekan-rekan. setiap ketemu wajah yang familiar, hampir selalu ditanya, "emang mau ke mana?" kok cltp, gitu, maksudnya.
jadi gue bilang, "gak ke mana-mana." which is the truth.
tapi mereka malah mendengus dan senyum ngenyek karena apparently, someone had snooped around and told them gue mau ikut suami kerja di luar negri. "singapur," si ratu gosip berkata.
yawdahlah, males juga mendebat dan menjelaskan panjang-lebar ke orang-orang yang bertanya hanya karena kepo. gue amini saja, anggap sebagai doa, dan berharap suatu hari bisa beneran ikut adit kerja ke LONDON.

hal pertama yang gue lakukan adalah menyodorkan form permohonan cltp ke manager. dia cengar-cengir, memanggil gue ke ruangannya, dan, predictably, nanya "yakin?"
jadi gue ulangi deh 'prosedur' menjawab yang sudah gue drill di kepala.
in the end, dia cuma menghela napas dan bilang, "baiklah."

after he signed the form, i did what i need to do. mampir ke HR nanya-nanya lagi, bikin draft nodin, trus... ngobrol sama anak-anak kantor, ami dan dhila.
lagi asik ngobrol ngebahas rencana nikahan dhila, tiba-tiba pak GM nyamperin. inevitably, he shot the ever-so-in questions: "emang mau ke mana?" "yakin?"
so i answered, reciting words i knew by heart.
gak disangka respon beliau malah bercerita, kalau dulu istrinyapun banting setir ketika anaknya baru satu orang. "saya bilang, gak masalah deh uang gimana. cukup gak cukup, biar saya yang mikirin. yaa, efeknya sih baru terasa sekarang, puluhan tahun kemudian. ketika menyaksikan anak-anak udah pada besar dan tumbuh dengan baik. bukan berarti saya nyuruh kalian pada resign loh (dia ngomong ke ami dan dhila-red), tapi kalau memang kondisinya mengharuskan, ya manfaatnya seperti itu."
i kinda "wow"-ed on him.
meskipun setelah ngomong begitu, dia cerita tentang eks anak buahnya yang juga ngajuin cltp, tapi setahun kemudian minta masuk kerja lagi. sayangnya, lagi gak ada posisi di divisi dia, jadi dia serahin deh ke tempat lain. "gak tau deh akhirnya gimana."

i hung around until lunch time. abis itu jalan ke TA sama pak lilik dan ami. jam 3 balik ke kebayoran, jemput bumy dari daycare, trus cuss headed home.
oh well. that was a kind of "support" i never thought i'd get.

temu kangen




11/04/2013

a tribute to Pak B (sort of)

Di kantor, saya bekerja bersama seorang rekan yang senior bukan hanya dari segi jabatan, tapi juga usia. Sebut saja namanya Pak B. Pak B sudah menjadi rekan saya selama 3 tahun. Meskipun dia tergolong atasan di unit kami, tapi sikapnya yang friendly dan sangat peduli terhadap rekan-rekannya menciptakan hubungan pertemanan yang akrab dan tidak kaku. Kalau kehidupan kami di kantor dijadikan serial televisi, Pak B adalah tokoh “mentor” yang akan didatangi rekan-rekannya saat sedang gundah atau butuh nasehat.

Sebagian besar anggota unit kerja kami seringkali makan siang bersama-sama, termasuk Pak B, dan saya. Saya perhatikan, setiap kali jam makan siang tiba, istri Pak B akan menelpon. Maka kalau handphone Pak B sudah berdering, saya dan rekan-rekan sibuk meledeknya, “Ayo yang diabsen, yang diabsen!”
Suatu kali, Pak B bertanya kepada saya, “Memangnya kamu nggak pernah ngingetin suami kamu makan, ya?” yang saya jawab sambil tertawa, lalu berkata, “Buat apa diingetin, Pak? Sudah gede kok bisa lupa makan.”

Pak B cuma tersenyum dan bilang, “Bukan perlu diingetin atau nggak. Tapi nunjukin perhatiannya itu, lho.”

Kali lain, suami saya menelpon ketika Pak B sedang membuka laptop di dekat saya. Percakapan kami, seperti biasa, singkat dan seperlunya saja. “O, ya, nanti kamu yang duluan, ya. Aku tunggu di X. Oke, bye.”
Pak B lantas melihat ke arah saya dengan tampang heran, dan berkata, “Ngomong sama suami, kok, nggak ada mesra-mesranya?”
Saya menjawab, “Plis deh, pak, nikah udah segini tahun masih mesra-mesraan. Kaya abege aja!”

Pada suatu waktu, saya berdiskusi (atau lebih tepatnya curhat) pada Pak B tentang pandangan saya seputar parenting. Seperti yang saya katakan tadi, Pak B sudah dianggap mentor oleh kami rekan-rekannya. Bukan cuma dalam urusan pekerjaan, tapi juga urusan pribadi. Percakapan kami kurang lebih seperti ini,

Saya (S): “Saya suka heran, deh, Pak, sama mereka yang nambah anak dengan alasan ‘Nanti sepi di rumah kalau nggak ada lagi yang diurusin.’ Kenapa nggak dilihat justru sebagai kesempatan, ya.”
Pak B (PB): “Kesempatan ngapain?”
S: “Kesempatan untuk berduaan lagi sama suami, pacaran lagi! ‘Kan udah bertahun-tahun disibukkan ngurus anak. Justru ketika anak sudah gede, saatnya fokus ke hubungan suami-istri lagi, dong. Prioritasin pasangan, mendewasakan hubungan, dan lain sebagainya.”
PB: “Nah, makanya dimulai dari sekarang, dong, maintenance hubungannya. Jangan cuek-cuek sama suami. Tetap mesra kaya masih pacaran. Suatu hari nanti, kan, tinggal berduaan doang.”

Jleb! Saya terdiam mendengar kata-kata Pak B. Ternyata itu ‘pesan’ yang dia coba berikan selama ini lewat pertanyaan-pertanyaannya kepada saya. Hubungan suami-istri memang perlu dijaga ke-sok mesra-annya (hehehe), dan dihindarkan sebisa mungkin dari nuansa “sudah terbiasa” dan “sudah seharusnya.”

Ah, I think we need to catch up where we left it. Sebelum terlambat.

Akhirnya saya berkata pada Pak B, “Bener juga, ya, Pak.” Dan Pak B cuma terkekeh geli.

10/04/2013

please, please, please let me get what i want

boy, these past couple of weeks have been quite energy-draining.
not that i'm complaining or anything. masalahnya, 'sisa' capeknya masih terasa di badan sampai sekarang. kondisi beta saat menulis ini sih udah jauuh mendingan, dibandingkan 24 jam lalu. kemarin tuh muka bagian kanan rasanya nyut-nyutan, i popped painkillers as if they had been chocolate candies.
jadii, what have i been up to?

selasa dua minggu lalu, bumy dirawat di KMC. i totally had no idea he was gonna be admitted. per hari itu, bumy udah 4 hari demam. udah lewat 72-hour rule dong ya. gue tadinya biasa-biasa aja, menganggap common cold, karena anaknya emang udah batpil. tapi, gue perhatiin hari itu kok dia lemessss bawaannya. awalnya bikin janji ke dokter jam 4 sore, tapi jam 12 siang gue nekat bawa bumy konsul, karena kondisinya semakin lemes. mulai worry gue jadinya.
pas ketemu dokter, langsung disuruh cek darah. hasilnya, trombosit bumy 150 ribuan, di bawah batas normal RS yang 223 ribu. berhubung PRT depan rumah sempat dirawat karena DBD bulan lalu, dokternya juga ada kecurigaan ke arah situ dan merekomendasikan bumy dirawat. gue sih setuju aja, soalnya doi udah mulai males minum. jadilah gue untuk pertama kalinya ngurusin administrasi rawat inap seorang diri. sambil gendongin bocah ke mana-mana pula. dianya sih nggak minta (huhu emang selalu pengertian dia), cuma gue nggak mungkin aja bolak-balik ninggalin dia duduk sendirian di ruang tunggu. ketika gue lagi ngurus-ngurus, gue perhatiin dia kayak udah capek nahan badannya sakit. kebayang sih rasanya. gue juga pernah diare sampe trombosit turun, trus rasanya badan kayak diulek. huhu my poor baby.

jam 3:30 sore, bumy masuk ke ruangan rawat inap. begitu sampai di lantai 3, susternya masih pada inget gitu -___- 

masih bisa manyun-manyun dia, liat dong muka ane.


bagian paling bikin... apa ya, gak tau harus kagum atau miris, adalah bumy nggak pernah nangis tangannya ditusuk jarum selama di RS. ambil darah, pasang-copot infus. padahal harus dicolok tiap pagi karena jadi suspect DB, 'kan. mungkin karena gue suka ceritain barney ke dokter trus ditusuk rasanya cuma kayak digigit semut ya. or maybe he's just a big boy already, huhu.

di hari ke-3, dokternya udah nyuruh pulang karena alhamdulillah sakitnya viral infection aja.
satu hal yang bikin gue worry adalah rencana kita melancong ke singapur just 4 days away from the hospital check-out day. takutnya bumy masih ringkih gitu imunitasnya :S
jadi gue putuskan senin konsul lagi ke KMC (emang udah seharusnya konsul pasca-rawat juga sih).
ketika ketemu dokter (saat itu dr. Anita), ditegaskan kalo bumy udah fine-fine aja. alhamdulillah. emang sih doi udah lincah banget, makannya juga banyak seolah making up for his sick days. yaudah, gue juga tenang ngajak doi melala.

but i had another problem myself. sejak bumy dirawat, gue mulai kena flu berat. berhubung gue doang yang nungguin bumy di RS, jadi gue menghindari minum obat flu yang bikin ngantuk dong. pas bumy check out dari RS, flu gue malah memburuk. gue mulai minum neozep untuk 'ngejar' keberangkatan ke singapur.
ternyata, pas hari keberangkatan, gue masih tetep flu -___- yeah, what do you expect laa, istirahat kurang, trus udah mau melala lagi. jadilah kemarin gue merasakan yang namanya kuping sakit selama berada di pesawat. sebelum berangkat, gue udah rewel curhat ke Sasa dan Nisha, hehehe. makasih ya mau menampung keluh-kesahku :*

meanwhile, days in singapore are... as i said many times, unambitious. bumy and i spent most of our days napping and watching tv. adit sendiri ke sana dalam rangka training. jadi dia berangkat pagi, maksi bareng kita, balik ke kantor lagi, trus baru melala sorenya.
gue sama bumy ngabisin waktu (kalo lagi keluar kamar) dengan ngiterin raffles city mall yang ada tepat di bawah hotel. mayanlah, melenturkan lidah buat ngomong singlish sama para kasir dan SPG (yeah right). but overall, i was just too lazy and sick to venture the city just by myself (while bringing bumy along of course). sorenya sih, kita sempat berkunjung (baca: belanja) ke ikea, orchard, vivo, bahkan clementi. i didn't even want to visit non-shopping-related places.
karena selama di sana, flu gue memburuk. awalnya meler doang, jadi ke sakit menelan, dan gejala sinus, yaitu muka sebelah kanan cenat-cenut.

in case anyone wants to see merlion from the back


sungkem dulu sama sponsor

well, enough about that. i had paid a visit to ENT specialist the other day, and now i'm on antibiotics. yay! :P

balik dari bandara, kita dijemput sama mertua gue. baliknya bukan ke jagakarsa, tapi ke rumah nyokap di karawaci. jadinya malah ngumpul deh di rumah nyokap, bahkan ada pacar adek gue segala. rameee sampe malem.
jujur, gue jadi keenakan tinggal di karawaci/rumah nyokap. soalnya lagi sakit gini, berasa banget ada yang ngurusin. mau makan ada, gak usah nyuci piring, bisa molor terus-terusan ('kan pengaruh obat, heuheu).
kalo dipikir-pikir, dua minggu rumah jagakarsa gak ditempatin.
hari ini, gue merasa agak rikuh kembali harus cuci piring sendiri setelah keenakan diservis di RS, hotel, lantas rumah nyokap, hehe.

oya, di sisi kehidupan sosial, i'm sooo glad i got to meet my old best buddies.
di sing, ketemu tia. sohib gue di binus. it was only a few hours but we talked/shared/rambled like mad. rasanya kayak baru kemaren ketemu trus curhat panjang-lebar. padahal mah... the last time we saw each other pas bumy usianya 1 tahun.
adit juga seneng tuh bisa ketemu tia, bisa dapet insight karier dan kehidupan di sing.

trus pas di karawaci, gue bisa ketemu kiti dan elmo. huahhh, kangen gila sama dua orang ini. seharusnya ada satu orang lagi sih 'anggauta' kita (the ultimate crazy one justru.) but she couldn't make it. berhubung kehadiran gue awalnya didasari jebe semata, jadi gue gak tau apa yang kiti dan elmo mau omongin eh rapatin. ternyata mereka mau adain social works gitu. ih hebat bangett temen-temenku. aseli, ini orang berdua kayak gak ada hedon-hedonnya... yang dibahas masalah proposal, sumber dana, dst dsb. trus mereka dengan manisnya ngomong ke gue, "chom, kalo ada waktu, ikutan ajaa." uhuk! malu ati aye. so i told them, harusnya sih gue bisa-bisa aja, secara udah jadi IRT 'kan, hehe. semoga aja beneran bisa gue bergumul dalam urusan sosial-kemasyarakatan gini... karena udah setahun ini cuma WACANA judulnya *menatap nanar formulir keanggotaan volunteering*. 

the medical doctors and me, the mental. we fit like puzzle pieces, eh?
other than that, of course we had a curhat session. and it's funny how we barely talked about other people.... instead, we discussed our opinions about life, marriage, jobs, and philantropy. uh wow, them girls gave a whole new, refreshed point of view, really.
after meeting them, i got a funny feeling inside of me, and i felt like i just had to tweet it. i said, "to meet old, close pals again after awhile is like a journey to who you were and why you're the person you are now."

seeing them, talking to them, it just reminded me of the girl i used to be. the foolish girl that hung out with them. they knew my battle, they knew my struggle. and they've always known the much crazier version of me that existed before i met adit, hehehe. it's like looking at an old photo album. it's nostalgic, but also feels great, even now as i'm remembering it.

anyway... random stuff in my head that i just need to get out of the systems:
- tiba-tiba keinget soal form CLTP yang baru mau diajukan minggu ini. trus perut jadi mules aja gitu. jadi khawatir prosesnya panjang dan memakan waktu lama.
- should i get a full-time maid or a part-timer like i used to?
- i haven't written anything for MD this month. (.__.)
- OH! the seminar! how can i not mention that? a whole other post, i guess.
- loving this book. it made me laugh like a maniac, EVEN at the doctor's waiting lounge with a cenut-cenut face.
 
worth every-leftover-pennies! (ket: beli di airport pas mau balik).
- bumy's done the assessment at his future school.
- how come the cough syrup hasn't done its magic? which is to make me feel sleepy on a snap? have i grown immune of it??