23/12/2015

red dot random

aah, please allow me to pour out remah-remah perjalanan kemarin. inginnya, sih, masih punya banyak bahan buat diceritain, hehehe... semoga next time bisa lebih panjang dan lama yah plesirnya (gini mulu doanya xD).

di post ini gue mau mengenang potongan perjalanan yang nggak ada di itinerary. ya itinerary-nya juga begitu doang, sih, hehe. but these parts of the trip feels nice to recall, because this is the part where we allowed ourselves to be impulsive. 

what are those random bits?

- walking down the cultural Arab Street





kita ke sini dua kali. pertama, pas Adit ngajak nyobain Zamzam Restaurant yang konon terkenal enak. sesudah makan kita jalan-jalan santai aja dari Arab Street sampai Haji Lane. berhubung sampai di situ udah maghrib, walhasil nggak ada dokumentasi foto warna-warni a la Haji Lane haha. btw, makanan di resto tadi kurang sesuai selera gue yang sudah membayangkan hidangan khas timur tengah kaya rasa. like I said, the food mostly tastes bland in Sing (or maybe I'm just missing my daily dose of MSG? fat chance it is!). 
kali kedua ke Arab Street adalah sesudah trip ke Singapore Zoo. sampai di situ masih jam 4 sore, jadi masih terang dan bikin semangat ngider-ngider (meskipun sejatinya kaki sudah lodoh habis muter-muter di zoo). 
pertama-tama, kita ngemil tjantik di 20 Grammes Cafe. ke sini karena gue penasaran pengen nyoba waffle itemnya. 


pretty convincing!


the charcoal waffle. verdict? hmm 7 out of 10 deh. lebih enak waffle original-nya
silakan zoom in untuk melihat operational hours-nya hakhkahak
20 Grammes is quite cozy. cocok bangetlah untuk duduk-duduk santai setelah menggempor seharian, sembari makan waffle dan flavoured tea panas. 
puas di 20 Grammes, kita pun muter-muter di seputar Arab Street. tanpa sengaja, kita menemukan semacam sebuah "gem" tempat makan: it's Kampong Glam Cafe!
gue liat di tripadvisor banyak banget review bagus tentang tempat ini. so let's give it try lah... (untungnya masih banyak space di perut buat makan berat tepat sesudah makan cantik. the perks of banyak jalan kaki...). 
our feast. perdana nyoba kopi halia (kopi tarik pakai jahe), and boy it's delish! 












how would I rate Kampong Glam Cafe? 9 out of 10! 
hidangan yang kita coba memuaskan rasanya, udah gitu nggak pricey samsek, dan suasana makan-di-pinggir-jalan-sore-hari juga menambah poin. 

dari Arab Street, kita jalan kaki sampai ke hotel. kondisi kaki yang gempor terlupakan sejenak berkat hawa easy breezy afternoon, trotoar yang nyaman buat pejalan kaki, dan pemandangan serupa di bawah ini:











sesampainya di hotel, kamipun menyegarkan diri di rooftop pool YMCA hahah

- strolling around the hip and eclectic Tiong Bahru 
kita ke sini di hari ke-5, which is our last day in Singapore. 
sejujurnya di pagi hari gue udah merasa tepar banget. literally had no power in my body. akhirnya gue berbaring di kamar aja sembari nungguin Bumy dan Adit berenang. 
sampai lalu sekitar jam 10an, terasa mulai ada kekuatan untuk jalan kaki dan menaiki bis. we decided we wanted to explore the hip Tiong Bahru area. 


































kita makan siang di Tiong Bahru Market - yang terasa very alive and appealing. makanannya juga enak-enak! no fast food, no bland dishes. sesudahnya, kita berkeliling, foto-foto, dan juga mampir ke beberapa toko. it's a nice experience I would love to repeat.

sekitar jam 3, kita pun balik ke hotel untuk ngangkut koper dan naik Uber ke Changi. 








kelar, deh, reportase liburannyaaa... haha. 
Alhamdulillah perjalanannya lancar, dan cita-cita Adit untuk "lebih banyak liat pemandangan" pun tercapai. 
kiranya boleh menyusun wishlist for our next trip, we would like to visit
- more parks
- more 'cute' bookstores 
- Holland Village
- Gardens by the Bay maybe? 
- and museums, I guess. 

see you again, Singapore!

21/12/2015

why I work

pic from here

huapakah ini?? semacam klarifikasi??
hehehe.. nggak kok, emangnya gue abis bikin sensasi atau kontroversi :P 
kebetulan, gue baru baca artikel tentang kembalinya para ibu ke dunia bekerja yang berjudul "The Opt-Out Generation Wants Back In."
artikel itu jadi bikin gue melihat yang terjadi di diri sendiri. gue yang tadinya dengan gagah berani menanggalkan gelar sebagai "working mom" demi memenuhi cita-cita idealis menjadi stay-at-home-mom (SAHM), kini justru kembali ke ranah full-time job. 
memang awal mula pergantian peran ini digerakkan oleh takdir (sekelumit di sini). tapi apa yang membuat gue memutuskan untuk jalan terus di "jalur" ibu bekerja, setidaknya sampai saat ini, adalah... 

- I wanted to see what it's like to step out of my comfort zone, once again, after almost 3 years of becoming an SAHM.

dengan memakai istilah "comfort zone", bukan berarti hari-hari sebagai SAHM melulu diisi dengan kenyamanan semata. oh tentu tidaak, karena jadi SAHM pun ada problema, dilema, dan dramanya hahaha. 
tapi, dengan caranya sendiri, peran sebagai SAHM seolah membangunkan cangkang untuk gue; gue 'terlindungi' dalam ruang lingkup yang seputar urusan rumah dan keluarga saja. nggak ada kepusingan menghadapi macet atau politik kantor, ataupun ketergantungan pada support systems. 
to be honest, waktu tiba-tiba dipanggil untuk kerja lagi sama kantor, gue ya nggak siap, termasuk untuk menghadapi semua risiko akibat melangkah keluar dari comfort zone. but then, kapan sih kita bisa bener-bener siap menghadapi perubahan?

- I work because I like the idea of earning a bigger income

for now, this is something my full-time job could provide. 
during my SAHM days, I did stuff that could cater my passion and, fortunately, could gain a decent income from it. even though the money was in lesser amount than what I used to earn from my office work, but the fact that I could still earn money no matter what title I hold, had taught me something. I first read about the term "portable equity" from Rene Suhardono's book; it is something not attached to what or where we work, and includes the integrity, track record, network, and skills we have. 
knowing I've been having this portable equity all along gives me confidence to work as a freelancer, also to pursue my passion. 

however, when I was offered my old job back, it felt kinda wrong to pass it up. again, setidaknya untuk saat ini. 
gue tau pengorbanan yang dibutuhkan untuk jadi working mom lagi juga akan lebih besar. dari segi finansial, ini bisa diukur - pastinya bukan dari waktu dan kebersamaan dengan anak yang memang nggak bisa diukur nilainya, yah - tapi dengan menghitung berapa sisa gaji gue setelah dikurangi biaya support system. 
setelah menilik 'raport' kondisi keuangan keluarga, kesempatan untuk balik lagi memang terasa 'benar.' kita lagi butuh suntikan likuiditas, mengingat Adit lagi menjalani pendidikan S2 dengan biaya pribadi (bisa di"reimburse" sih ke kantor, asal lulus tepat waktu hehe), dan setoran dana darurat kita juga banyak bolongnya. 

di sisi lain, juga ada faedah secara finansial yang bisa dipetik dari pengalaman sebagai SAHM. remeh-temeh aja, sih, kalau di kasus gue, kayak jadi terbiasa nggak belanja-belanja nggak penting (derajat kepentingannya tentulah relatip), jadi lebih doyan makanan rumah, dan jadi kangen melulu sama rumah hahaha. secara nggak langsung, hal-hal ini semacam bisa mengerem hasrat spending gue saat menikmati bigger income lagi. 



- lastly, I work because I choose to, even though i know it's not gonna be easy - just like what I have experienced for 8 years before I decided to quit. 
I realize that, as a woman, I am expected, demanded even, to "have it ALL." 
from what I have experienced personally, that outrageous demand made me feel like I needed to prove something. not to just myself, but to everybody in the world. I did what it took that I thought would PROVE my worth: I believe I could manage working, while raising a kid, while being a 'completely fulfilled' human being (the benchmark of being 'fulfilled?' well, only stuff seen from the outside: I seemed to secure an appropriate job, have a nice little family, could afford my life, etc). 
but what did that do to me? after 3 years of trying to prove, I was left broken and beaten down.
that's why I chose to quit. albeit temporarily. 


if this doesn't ensure how mythical the concept of "having it all" is, then I don't know what will

fast forward to 3 years later, here I am, reentering the workforce. only, there's a huge difference this time.
first, now I am 'equipped' with dependable support-systems (even though it comes with risks, like everything else in this world does).

second, now I bear down-to-earth and, hopefully, manageable expectations: I realize I would need to be better at juggling, also to get good at discomfort. because no matter what I choose, I will be tested. it's just how this world works. 

third, I think this is what I need to do at this stage of my life. I no longer feel the need to prove anything to anyone. and neither should any mother... you shouldn't work because you need to prove that you matter, or that you are "productive," or that you are WORTH the praise, the gold medal, or a mug branded with "to the BEST mother in the world." we deserve it all already, whatever choice we make. because as I said, every choice we make comes with risks, and here we are, facing those risks.


pic from here
di sini, I don't speak for everyone. I write what I know, armed with my condition, background, experiences, hopes, expectations, and fears. cukup tau dirilah untuk nggak merasa apapun yang gue pilih sudah benar hahaha... because I am merely a human who is constantly trying to figure life out. 

how about you, fellow mothers out there? 
why choose to work (full-time, or part-time)? or why choose not to? 


pic from here

16/12/2015

ke mana kaki melangkah: Singapore Zoo & River Safari


kedua destinasi ini ada di tempat yang sama, dan masuk ke agenda hari keempat kita (Selasa). 
we chose the place because... well of course because it's famous! hehehe.. 
selain itu, tempat ini juga 'kan cocok sama tema melancong kali ini yaitu "ramah anak." 

perjalanan dari Orchard Road ke sini lumayan lama dan jauh. karena lagi-lagi kita memilih naik bis dari depan hotel, total waktu tempuhnya sekitar 1,5 jam. rute kita cuma perlu 2 macam bis, sih, dan bisa langsung nyambung tanpa harus jalan jauh ganti halte. just make sure you don't miss the stop. 


baru aja duduk manis dan lalalili dalam perjalanan di bis pertama, tiba-tiba Bumy mual. waduh...

dia emang keliatan ogah-ogahan waktu sarapan, padahal biasanya mau makan dengan lahap. gue tebak mungkin badannya nggak enak dan kecapean abis muter-muter dan keujanan di USS sehari sebelumnya. 
walhasil sepanjang perjalanan gue sibuk ngeluarin minyak aromaterapi dan ngajak ngobrol supaya dia nggak makin mual. tapi waktu turun di halte buat ganti bis, akhirnya Bumy muntah juga. 

tanpa perlu menunggu lama di halte, bis sambungan ke zoo datang. berhubung nggak tau kapan bis yang sama akan lewat lagi if we missed this bus, kita angkut deh Bumy yang masih mual. di perjalanan lagi-lagi dia mual... untungnya waktu tempuh ke zoo cuma sekitar 10 menit. begitu turun di halte zoo, blaar... Bumy muntah lagi.


sesampainya di kawasan Singapore Zoo, kita ajak Bumy makan dulu di KFC yang ada di dekat entrance. niat hati hendak mencari nasi, apa daya nggak ada menu nasi di KFC. tapi syukurlah Bumy tetap makan dengan lahap, dan menyedot habis teh manis anget. setelah badannya enakan, barulah kita melaju ke gerbang masuk.

btw kita sampe sini on time waktu buka banget. tapi nggak ada antrian kok, meski ada beberapa sekolah yang lagi field trip.

thank God for teh manis anget




syukurlah udah segeran




dan nggak mau duduk di strollernya lagi -___-
how was our trip here?
seru, seneng :D
kalau dipikir-pikir emang "cuma" ngeliatin binatang, yah. beti-lah sama ragunan (yang cuma perlu dua kali koprol dari rumah). but strangely enough, kita pengen loh balik lagi dan mengulang plesir di sini! kelebihan tempat ini sepertinya sbb
- pengaturan kebun binatang yang tanpa "kandang" berjeruji; dikeliling hijau royo-royo pepohonan pula. zoo ini dibagi jadi beberapa banyak kawasan, di antaranya Frozen Tundra (where we can see polar bear, penguins, dkk), Wild Africa, Fragile Forest, Australian Zone (koala mana koalaa), Primate Kingdom, Reptile Garden (yang dinanti-nanti Bumy), dan lain-lain. 
- ada kids waterplay!
- atraksi-atraksi binantangnya menarik; animal show-nya memang macam di taman safari, tapi selain itu juga ada feeding session nan informatif.
- untuk tau waktu-waktu yang tepat supaya bisa 'menikmati' suguhan animal show dan feeding session, sebaiknya kita tengok terlebih dahulu itinerary yang direkomendasikan oleh pengelola zoo; sila cek di sini. kemarin kita nyoba itinerary untuk pagi, dan ternyata emang pas banget to get a full, high-quality experience at the zoo. 
- disediain jasa "trem" alias alat angkut selama di dalam zoo. mirip sama yang di bonbin Jogja. sepanjang jalan kita bisa mendengar satu demi satu informasi mengenai hewan di setiap kawasan. ada biaya tambahan untuk bisa pakai jasa trem ini; bisa dibeli sekalian sama entrance ticket atau terpisah. 
- last but not least, there's River Safari

the sea lion show








naik trem



yang dicari-cari Bumy: komodo dragon


the famous Ah Meng

kelar berpetualang di dalam zoo - yang mana sekitar 3 jam(!) berikutnya, kitapun melangkah ke spot selanjutnya: River Safari. tiket untuk ke sini udah dibeli paketan sama Adit. selain entrance ticket untuk ke River Safari, kita juga dapat bonus tiket River Cruise. jadi, di sini isinya museum air tawar. mirip-mirip SEA Aquarium, tapi kalau yang kemarin kita eksplor alam bawah laut, sekarang alam bawah sungai hehe. pemerintah Singapur emang serius banget kalau menggarap apa-apa yah, jadi kunjungan kita ke sini juga ngasih pengalaman aka customer experience yang berkesan. River Safari ini menyuguhkan diorama dan sejarah peradaban di tepi sungai, selain tentunya memampangkan kehidupan mahluk-mahluk di sungai. but there's also a plot twist - nggak nyangka tau-tau ada kesempatan buat ngeliat panda! 





dalam episode mencari panda. btw ini ruangannya dingiiin loh, biar sesuai sama suhu alam hidupnya panda, kali ya
panda aslinya ngumpet jadi susah difoto. yaudah berfoto sama patungnya aja xD


kalau red panda bisa difoto dengan jelas (pake hp), tapi gayanya seadanya banget gini! xD















sekelumit kesan dari kunjungan ke sini...

- ketika mau berkunjung, pastikan area main air di Kids Waterplay-nya nggak sedang maintenance! bisa dicek kok di situsnya. inilah penyesalan kita kemarin huhuhu, pas banget dateng saat lagi maintenance. kasian anakku si koala, jadi nggak bisa mencicipi serunya waterplay di marih. but then, it means there's a reason to visit again, right? AAMIIN :D
- gunakan trem untuk berkeliling; karena bisa dipastikan kaki akan gempor. 
- lagi-lagi, belilah tiket sebelum kedatangan. selain untuk menghindari antrian, bisa lebih murah juga kalau digabung sama paket ke anjungan lain macam River Cruise dan Amazon River Quest, juga bisa sekalian untuk bayar trem.
- nyebut-nyebut River, sedih sangat deeehhh kemarin nggak nyoba Amazon River Quest. karena seperti gue sebut tadi, dapetnya tiket gratisan untuk River Cruise uhuhuh. insya Allah kita ketemu lagih yaa, zoo *kecup lengket pager zoo*
- bring lots of snacks. enak deh, disediakan gazebo untuk duduk-duduk santai dan menggelar rantang, haha. kemarin kita 'nongkrong' di gazebo dengan pemandangan sungai, diiringi angin sepoi-sepoi, sambil makan KFC. heaven!
- again, i strongly recommend untuk ikutin itinerary yang direkomendasikan di situs Sing Zoo. ada jadwal animal show, feeding time, kumplit deh. 
- go check updates on what's "happening" at the zoo here. bisa liat hewan apa yang sedang eksis - karena contohnya koala, cuma ada di zoo selama waktu tertentu aja. 


see you again, zoo!


cuus ngebis lagih
how would we rate the experience?
8.5 out of 10 rasanya tepat. ini aja belum pakai njajal waterplay sama Amazon River Quest yaa *masih pedih kalau diingat, tap terus seneng ada alasan balik lagi. dramah!* 
seru deh, pokoknya. nuansa 'kealaman'nya dapet, edukasinya dapet, seneng-seneng (nuris)nya juga dapet.