Showing posts with label rants. Show all posts
Showing posts with label rants. Show all posts

21/12/2015

why I work

pic from here

huapakah ini?? semacam klarifikasi??
hehehe.. nggak kok, emangnya gue abis bikin sensasi atau kontroversi :P 
kebetulan, gue baru baca artikel tentang kembalinya para ibu ke dunia bekerja yang berjudul "The Opt-Out Generation Wants Back In."
artikel itu jadi bikin gue melihat yang terjadi di diri sendiri. gue yang tadinya dengan gagah berani menanggalkan gelar sebagai "working mom" demi memenuhi cita-cita idealis menjadi stay-at-home-mom (SAHM), kini justru kembali ke ranah full-time job. 
memang awal mula pergantian peran ini digerakkan oleh takdir (sekelumit di sini). tapi apa yang membuat gue memutuskan untuk jalan terus di "jalur" ibu bekerja, setidaknya sampai saat ini, adalah... 

- I wanted to see what it's like to step out of my comfort zone, once again, after almost 3 years of becoming an SAHM.

dengan memakai istilah "comfort zone", bukan berarti hari-hari sebagai SAHM melulu diisi dengan kenyamanan semata. oh tentu tidaak, karena jadi SAHM pun ada problema, dilema, dan dramanya hahaha. 
tapi, dengan caranya sendiri, peran sebagai SAHM seolah membangunkan cangkang untuk gue; gue 'terlindungi' dalam ruang lingkup yang seputar urusan rumah dan keluarga saja. nggak ada kepusingan menghadapi macet atau politik kantor, ataupun ketergantungan pada support systems. 
to be honest, waktu tiba-tiba dipanggil untuk kerja lagi sama kantor, gue ya nggak siap, termasuk untuk menghadapi semua risiko akibat melangkah keluar dari comfort zone. but then, kapan sih kita bisa bener-bener siap menghadapi perubahan?

- I work because I like the idea of earning a bigger income

for now, this is something my full-time job could provide. 
during my SAHM days, I did stuff that could cater my passion and, fortunately, could gain a decent income from it. even though the money was in lesser amount than what I used to earn from my office work, but the fact that I could still earn money no matter what title I hold, had taught me something. I first read about the term "portable equity" from Rene Suhardono's book; it is something not attached to what or where we work, and includes the integrity, track record, network, and skills we have. 
knowing I've been having this portable equity all along gives me confidence to work as a freelancer, also to pursue my passion. 

however, when I was offered my old job back, it felt kinda wrong to pass it up. again, setidaknya untuk saat ini. 
gue tau pengorbanan yang dibutuhkan untuk jadi working mom lagi juga akan lebih besar. dari segi finansial, ini bisa diukur - pastinya bukan dari waktu dan kebersamaan dengan anak yang memang nggak bisa diukur nilainya, yah - tapi dengan menghitung berapa sisa gaji gue setelah dikurangi biaya support system. 
setelah menilik 'raport' kondisi keuangan keluarga, kesempatan untuk balik lagi memang terasa 'benar.' kita lagi butuh suntikan likuiditas, mengingat Adit lagi menjalani pendidikan S2 dengan biaya pribadi (bisa di"reimburse" sih ke kantor, asal lulus tepat waktu hehe), dan setoran dana darurat kita juga banyak bolongnya. 

di sisi lain, juga ada faedah secara finansial yang bisa dipetik dari pengalaman sebagai SAHM. remeh-temeh aja, sih, kalau di kasus gue, kayak jadi terbiasa nggak belanja-belanja nggak penting (derajat kepentingannya tentulah relatip), jadi lebih doyan makanan rumah, dan jadi kangen melulu sama rumah hahaha. secara nggak langsung, hal-hal ini semacam bisa mengerem hasrat spending gue saat menikmati bigger income lagi. 



- lastly, I work because I choose to, even though i know it's not gonna be easy - just like what I have experienced for 8 years before I decided to quit. 
I realize that, as a woman, I am expected, demanded even, to "have it ALL." 
from what I have experienced personally, that outrageous demand made me feel like I needed to prove something. not to just myself, but to everybody in the world. I did what it took that I thought would PROVE my worth: I believe I could manage working, while raising a kid, while being a 'completely fulfilled' human being (the benchmark of being 'fulfilled?' well, only stuff seen from the outside: I seemed to secure an appropriate job, have a nice little family, could afford my life, etc). 
but what did that do to me? after 3 years of trying to prove, I was left broken and beaten down.
that's why I chose to quit. albeit temporarily. 


if this doesn't ensure how mythical the concept of "having it all" is, then I don't know what will

fast forward to 3 years later, here I am, reentering the workforce. only, there's a huge difference this time.
first, now I am 'equipped' with dependable support-systems (even though it comes with risks, like everything else in this world does).

second, now I bear down-to-earth and, hopefully, manageable expectations: I realize I would need to be better at juggling, also to get good at discomfort. because no matter what I choose, I will be tested. it's just how this world works. 

third, I think this is what I need to do at this stage of my life. I no longer feel the need to prove anything to anyone. and neither should any mother... you shouldn't work because you need to prove that you matter, or that you are "productive," or that you are WORTH the praise, the gold medal, or a mug branded with "to the BEST mother in the world." we deserve it all already, whatever choice we make. because as I said, every choice we make comes with risks, and here we are, facing those risks.


pic from here
di sini, I don't speak for everyone. I write what I know, armed with my condition, background, experiences, hopes, expectations, and fears. cukup tau dirilah untuk nggak merasa apapun yang gue pilih sudah benar hahaha... because I am merely a human who is constantly trying to figure life out. 

how about you, fellow mothers out there? 
why choose to work (full-time, or part-time)? or why choose not to? 


pic from here

05/09/2013

how to be a woman.

(warning: long rants, no pic).

akhir-akhir ini gue nemuin ramainya (lagi) perdebatan soal whether women should be working or jadi IRT. kali ini perdebatannya agak lebih seru, soalnya digawangi oleh orang-orang yang punya puluhan ribu follower di twitter, hehe. 

satu orang/tokoh, awalnya bikin panas suasana dengan memaparkan argumentasinya soal kenapa perempuan sebaiknya jadi IRT aja. gak kerja. mencurahkan segenap waktu, tenaga, dedikasi, dan seterusnya untuk keluarga. menurut dia sih, aturan agama seperti itu. kebetulan agama dia sama dengan gue ya, tapi kok baru kali ini gue nemuin orang yang menginterpretasikan ajaran agama kami seperti itu. dengan saklek, gak liat kondisi jaman. lagian apa doi lupa kalo Siti Khadijah juga dulu wanita bekerja? (garuk-garuk)
personally, apa-apa yang dia twitkan itu secara garis besar mirip dengan apa yang ada di pikiran gue saat gue memutuskan mau resign. but dare i say i agree with him? i don't think so deh. 

gue memilih untuk resign dulu, karena first and foremost, kondisi gue memungkinkan untuk begitu. emang sih, gue gak nunggu sampe suami gue jadi CEO dulu, tapi gue emang punya batasan. 
pertama, batasan keuangan. yang meskipun dana darurat belum ketutup semua, tapi at least gue taulah rasio keuangan yang aman supaya gue bisa resign dengan tentrem. 
kenapa perlu itung-itungan dulu? lha karena dari awal rumah tangga gue ini berdiri dengan dua tiang (pendapatan). semua keputusan, baik cashflow bulanan dan tahunan, investasi, sampe ngutang, dibuat berdasarkan dua tiang tadi. kalo satu tiang patah, bakalan pincang dong kondisi keuangan RT gue? itu yang mau gue dan adit hindari. 
masa gak tawakal sih? 'kan rejeki bakal ada aja. well, sebagai orang yang (maunya sih ngaku) beriman, gue juga percaya itu. percaya buanget. tapi, apa iya mentang-mentang beriman trus mau loncat aja dari gedung tanpa pake parasut? 
kalo RT ini isinya cuma gue dan adit sih yuk cus terjun pake parasut (terjemahan: narik semua dana darurat terus ambil cuti 3 bulan buat keliling dunia, sounds like fun!). tapi 'kan udah ada tanggung jawab dunia akherat: si buah hati. urusan pendidikan dan kesejahteraan hidup doi pastinya jadi prioritas utama. 
lagian inget 'kan, kalau Allah tidak akan membantu suatu kaum sampai mereka membantu dirinya sendiri? dari situ menurut gue, umat islam dididik supaya gak ngegampangin masalah duniawi. prepare dulu, usaha keras dulu, nah fungsi doa ya biar kita tawakal sama hasilnya. (*not* putting any ustadzah meme on).

batasan yang kedua, adalah kesiapan mental. dikira perempuan gak punya pertimbangan logis dan perasaan kali ye? disuruh nyemplung ke kehidupan IRT tanpa babibu trus harus langsung mau aja? well, kalo itu perempuan dibesarkan dan dididik seperti itu, mungkin bisa sih. 
tapi perempuan kelas menengah jaman sekarang, we were raised to be professionals. kami dididik untuk jadi mandiri, untuk jadi "kuat" secara finansial, untuk menguasai berbagai kebisaan supaya gak jadi beban buat orang lain. don't i hear an "amen!"? 
generasi bokap-nyokap kita yang secara historis 'lulus' dari cengkraman gonjang-ganjing revolusi, pemberontakan dalam negri, lantas diikuti dengan kenyamanan lahir batin era orba (istilahnya baby boomer generation), mewariskan kita pemahaman dan harapan yang, menurut gue pribadi nih, feminis, tapi juga materialistis. 
kenapa feminis, dan kenapa materialistis?
karena mereka gak mau kita ngalamin susah kaya mereka. mereka gak mau kita jadi kaya nenek dan ibu mereka dulu, yang harus nadahin uang ke suami, jadinya terkekang secara fisik maupun mental. 

sementara faktor materialistisnya gak bisa dipukul rata sebenernya. tapi, karena harapan orangtua kita agar kita mandiri tadi, kadang meluas ke arah "the more the better." kalo bisa kumpulin uang sebanyak-banyaknya, ya lebih bagus dong. jadinya lebih sejahtera. 
udah naluri orangtua kalo ingin kehidupan anaknya lebih baik dari dia. well, for some people, lebih baiknya itu diukur dari materi semata. tanpa mempertimbangkan kerjaan si anak bikin dia happy atau gak, berkontribusi ke masyarakat atau gak, dst. 
but again, gak semua orangtua generasi kita kaya gitu. tapi kebanyakan gitu sih, hihihi.  

i have to be honest, kalo naluri (sok) idealis gue tadinya berargumen, "pengorbanan jadi IRT gak bisa dibandingkan lurus dengan nilai materi dong! pengorbanan itu urusannya sama jiwa! balasannya akherat, cuy!" hehehe. 
tapiiii... lucky for me, a wise man once spoke to me dan memberi gue pencerahan
awalnya gue berdebat sama doi (si wise man) soal "kenapa ya generasi bokap-nyokap gue dulu tujuan pengasuhannya lebih difokuskan untuk menjadikan anak profesional? gue merasa ortu gue 'skip' bagian menjadikan gue calon istri yang baik, calon ibu yang baik, bahkan muslim yang baik!"
doi dengan kalemnya menjawab, "gini ya ris, menurut gue itu gak salah (menempatkan tujuan menjadikan anak sebagai profesional di atas yang lain-lain). emang sih, akan jauh lebih baik kalo ortu juga menjadikan tujuan yang lain-lain itu prioritas. tapi, coba deh lo pikirin, seandainya lo sekarang ini belom kawin, dan boro-boro punya anak, sedangkan ortu lo gak nyiapin lo untuk jadi profesional yang, well, kompeten, bakal kaya apa iduplo?
itulah gunanya ortu lo nyekolahin lo tinggi-tinggi, dan encourage elo supaya punya pencapaian dan prestasi pribadi. supaya hiduplo mandiri, dan lo tau gimana caranya menghidupi dirilo sendiri."

setelah itu doi nyeritain ponakannya, cewek usia 26 tahun, belum nikah, yang pendidikannya gak begitu tinggi. kerja jadi CS di sebuah operator telekomunikasi. ditempatin di daerah yang jauh dari jakarta. karena gak betah, setahun kemudian berhenti kerja. sekarang? doi numpang tinggal di rumah si wise man sembari nyari-nyari kerjaan. 6 bulan berlalu, dan doi belum juga dapet kerjaan. 
wise man ngajak gue ngebandingin kondisi gue dengan si ponakan. berkat punya kerjaan, gue jadi punya posisi dalam hidup. gue jadi punya pilihan. gue jadi punya pengetahuan, yang membantu gue membuat pilihan. 
dan itu semua bisa dibilang berkat orangtua yang udah nyekolahin gue sampe S1, di tempat yang bagus, dan mendorong gue untuk dapet kerjaan yang bagus juga. 

so i get it then. penting bagi perempuan untuk sekolah tinggi, untuk dapetin kerjaan bagus, untuk earn money--sebanyak-banyaknya kalo dia bisa. jadi saat dia udah berumah tangga, dia bisa punya, 1) tabungan pribadi, 2) knowledge, 3) networking, dan 4) pilihan.

kembali ke soal tokoh yang nyuruh semua perempuan jadi IRT itu (ok gue agak nuduh nih), bagian yang paling bikin gue gak setuju adalah he made it sound like women can't think for themselves, dan bahwa seolah-olah pencapaian perempuan hanya satu dimensi, yaitu whether dia bisa ngurus anak dan rumah dengan bener atau gak (what are we, di abad medieval??).
seolah-olah garis hidup perempuan udah digariskan, yaitu jadi IBU RUMAH TANGGA. 
gimana dengan perempuan yang gak nikah? yang gak punya anak? atau yang tadinya nikah tapi lantas menjanda? 
kalo para perempuan itu melarat karena gak tau gimana caranya making money, what then?
of course of course, mungkin argumentasi gue ini bisa dianggap "ah sudut pandang yang lo pake duniawi doang, sih." 
kembali ke tameng "pengorbanan jadi IRT itu pahalanya surga cuy!", gue hanya bisa mengamini kata-kata itu (kurang objektif, secara sekarang gue IRT :P), tapi gue rasa, jalan masuk surga buat masing-masing orang pasti gak cuma satu. karena Allah Maha Sempurna, yang tahu bahwa hidup hambaNya gak homogen, gak diukur dari satu parameter aja--in this case, kalo ngikutin kata si tokoh twitter itu, cuma dari whether dia milih jadi a "full time" mother atau gak.  

kembali ke soal batasan mental tadi, knowing that i did have the privilege to choose, memberikan kepercayaan diri dan some kind of strength. 
gue jadi bisa memberi syarat, bahwa gue mau resign when i'm ready. gue gak menunda-nundanya sampai "liat gimana entar, deh," karena jadi IRT itu emang cita-cita gue, tapi gue mau menunggu sampai secara mental gue bener-bener siap sama resikonya. 
resiko dikhawatirin sama bokap-nyokap.
resiko dianggap gak produktif. dianggap males. dibilang, "hari gene gak bantuin suami?!"
resiko bosen di rumah, bete, dsb dsb. 
that's why i made preparations. 

(jadi kepikiran, apa 'fenomena' desperate housewives berakar dari perempuan yang gak ngerasa punya pilihan?) 

beberapa minggu kemudian, masih di twitter, tokoh lain, kebetulan perempuan, membuat argumentasi terhadap twit-twit si tokoh yang nyuruh perempuan jadi IRT itu. 
dia mewakili sudut pandang perempuan yang pernah merasakan jadi IRT selama beberapa tahun, lantas sekarang menjadi ibu bekerja. meskipun gue gak setuju dengan semua pendapat dia, tapi menurut gue emang ada beberapa poin yang bener banget. kaya visi doi supaya para perempuan itu "merdeka." bahkan jika lo seorang IRT. dia ajarin gimana caranya, yaitu dengan membuat dan jalanin financial plan keluarga, memiliki akses ke dana darurat, punya fasilitas asuransi kesehatan. dia juga menghimbau supaya IRT gak jadi IRT tok, yang gak punya kegiatan produktif. untuk jadi "merdeka," kita perlu buat kontribusi ke society. 
gue merasa terdukung banget ketika dia menyebut gak harus pekerjaan yang menghasilkan uang, tapi bisa lewat pekerjaan volunteering. karena, well, salah satu cita-cita gue ketika udah resign sebagai pegawai adalah mau ikutan volunteer works. 

she also twitted, "Coba jujur deh. Happy atau dibuat2 happy? Sehingga jd IRT atau ibu bekerja betul2 hasil lo memilih. Yg mana pun pilihan lo" 
meskipun in my (zen-wannabe) opinion, happiness itu should be for no external reason. tapi i totally agree dengan bagian jadi apapun asal benar-benar hasil kita memilih. guess it all boils down to what really matters to each person, i replied (eh trus di-RT dong sama si ibuk, hehehe) (mental fangirl). apapun role yang kita pilih pasti ada resikonya, ada naik-turunnya. 
in the end, yang penting kita sesama perempuan saling dukung dan less judgmental aja terhadap satu sama lain. easier said than done, sih :P