Showing posts with label office. Show all posts
Showing posts with label office. Show all posts

09/01/2017

EoH: the new

beberapa waktu lalu, sesudah Toastmasters meeting, tanpa direncanakan gue berkesempatan makan siang bareng pak Anggoro. yes, THE pak Anggoro. have I mentioned him in this blog?

beliau ini tergolong senior leader di kantor. but he's completely different from the rest (of his kind). not only he's a PhD graduate, he's also inspiring dalam arti yang sebenar-benarnya (ini perlu penjelasan because at the office, the term is often used cynically).
he inspires us - the youngsters especially, yang memang haus akan sosok senior yang mengayomi dan menumbuhkan (bukan cuma mengeksploitasi), with his positive attitude, humility, and the way he leads by example.
has my explanation given enough preview of how "VVIP" he is?

nah, waktu maksi itu sebenernya kita berempat, tapi semesta mengatur dua orang lainnya beli makanan agak lama. jadi tinggallah gue menunggu di meja yang sama dengan beliau. tiba-tiba dia ngomong gini,
"what's new with you, Ris?"
agak kaget dengernya, rasanya kayak ditodong table topic session (a very toastmasters joke it is). saat mau jawab, pikiran blank... jadi gue cuma cengar-cengir. "ah gini-gini aja, pak."

tapi mungkin si bapak diam-diam punya skill sebagai curhat-magnet ya, karena ujung-ujungnya gue menemukan diri gue curhat soal dilema pekerjaan yang dihadapi. well, saat maksi itu kebetulan beberapa hari sebelumnya gue baru saja secara resmi menolak job offer di NGO yang gue sebut-sebut tempo hari. di tengah masa-masa 'sulit,' atau pas masih kebingungan mau nolak apa nggak, gue sempat kepikiran buat konsultasi sama pak Anggoro sebenernya. cuma yaah... karena satu dan lain hal, rencana itu nggak terwujud.
lucunya, kesempatan yang hadir justru buat curhat sama beliau setelah gue mengambil keputusan. I told him about what went through my mind... kekecewaan gue sama gimana talent management diimplementasikan di kantor, ketidakmampuan gue mengikuti 'arus' di kantor, pandangan gue terhadap masa depan gue di perusahaan ini (which is, unquestionably, surem), dan hal-hal sejenis.... he listened to me, attentively. dan nggak menyanggah apa-apa yang gue utarakan.
and I guess that was... sufficient. our conversation confirms my surmise, about what to expect if I had chosen to stay in the company.

sekarang ini masa kerja gue udah 6 tahun lebih. posisi masih gini-gini aja, seorang cengceremen. tapi to be honest, gue nggak punya secuil pun ambisi untuk meraih lebih dari itu, di sini. because I know what it takes to step up the ladder, and I don't have it.
kalau gue lihat keadaan sebagaimana adanya, sekarang ini di kantor gue seperti seorang veteran, yang nggak naik-naik kelas meski udah bertahun-tahun bersekolah. haha!
di kantor ya seperti itu keadaannya: gue kerap menjadi pihak yang ditinggalkan. entah ditinggalkan teman-teman di tangga karir, atau ditinggal rekan-rekan kerja (yang sekarang kebanyakan jauh lebih muda) mendulang rejeki di sumur lain.

I don't really mind. honestly.
kalau diingat niat awal kembali ngantor, selain ada income tetap yang jumlahnya lumayan, juga buat ngisi waktu sembari nunggu anak bersekolah. benefit lain ada yang disadari kemudian, kayak jadi nggak kesepian karena bisa bersama banyak orang di kantor (hal sepele tapi ternyata memberi suntikan energi buat gue yang outgoing-introvert ini). atau dapat temen-temen baru yang asik, yang bisa diajak makan siang bareng sambil ketawa-ketiwi. atau sesepele alasan untuk bangun dan mandi di pagi hari. gue mensyukuri semua itu.
mungkin rejeki gue di kantor ini diberikan Allah dalam wujud semua benefit tadi, alih-alih jabatan mentereng dan income yang lebih besar.

pilihan gue untuk melaju di jalur lambat di kantor memungkinkan gue untuk bisa melalui hari dengan santai, dan beban yang, sejauh ini, lumayan tertahankan. tapi perasaan jenuh dan bosen (dan muak dan hopeless) tetep aja kadang muncul, sih. waktu gue curhat ke seorang dedek di kantor, tak dinyana dia ngasih gue 'wejangan' yang lumayan bikin tersadar. dia bilang, magabut itu nggak sama dengan nganggur. hehe. jadi, nikmati aja keleluasaan waktu yang masih dimiliki. justru bisa jadi kesempatan juga untuk memperluas hidup sampai menembus dinding gedung kantor.
as cliché as it may sound, well.. sometimes I just need to look at the bright side.


source
untuk tahun yang baru ini, harapan gue nggak muluk-muluk. gue cuma pengen bisa menjawab kalau lain kali dapat kesempatan ketemu pak Anggoro dan diberikan pertanyaan yang sama,
"what's new with you, Ris?" jawabannya akan berupa either one or some of these statements
- I'm pursuing a masters degree in media and communication, pak,
- I'm thriving to run a half marathon AND a triathlon, pak (dream big, right?!),
- I'm half the way to obtain my DTM (Distinguished Toastmaster) level, pak,
- I'm busy juggling between the office and my volunteer work in children's education, pak,
- I'm taking a vocal course, pak, and preparing to enter my band to Fuji Rock Festival's lineup (bebaaasskan),
- I'm planning for my pilgrimage with the family, pak,
- I'm expecting my second child, pak (o really? haha!),
- I'm scheduling my early retirement while establishing my digital-based business, pak.
insya Allah.

kalau diliat lagi sih, nggak satupun harapan di atas menyangkut urusan di kantor. haha.
tapi yahhhh, kalau menyadari apa kebutuhan jiwa, sesungguhnya it doesn't really matter apapun jawaban gue. yang terpenting adalah gue bisa melalui hari-hari dengan nyaman di kantor, di rumah, atau di manapun, karena kebahagiaan di jiwa ini nggak "terampas" apapun yang jadi ketetapan Allah SWT.

20/11/2016

now my heart is...

hello, blog!

rasanya seneng banget bisa duduk manis sambil ngetak-ngetik di ranjang, dalam kondisi udah mandi di jam 8 Minggu malam. alih-alih sedang kelelahan setelah berjibaku dengan jalanan seperti biasanya. 
di luar abis ujan seharian pula. I can't even describe how "full" my heart feels right now. alhamdulillah.... 

weekend ini terlalu menggembirakan. honestly. 
kemarin kita 'sukses' menggelar acara syukuran super-sederhana dalam rangka ulang tahun Bumy. mungkin udah 3 tahun sejak gue mau berepot-repot bikin acara dalam rangka merayakan ultah Bumy, dan tahun ini pun awalnya nggak mau bikin apa-apa. apalagi di sekolah Bumy sekarang nggak boleh ada perayaan ultah dengan cara bagi-bagi goody bag - which I'm thankful for! - yang juga menjadikan semakin nggak ada 'motivasi' eksternal bagi gue untuk ngerayain, hehe. 

agak merasa bersalah sih sama Bumy.. karena waktu gue kecil dulu nyokap bikin perayaan ultah gue setiap tahun selama gue di SD. ya cuma pesta kecil-kecilan, tiup lilin sambil ngundang anak tetangga, but I remembered feeling very happy. 

tapiii.. beneran deh, secara gue ini emak pemalas, gue merasa kurang ada meaning-nya berepot-repot bikin party bertema ini-itu. untungnya di montessori ada tradisi commemorating ulang tahun yng disebut Birthday Walk (yang nggak ada hubungannya dengan selebrasi dan parti-parti), jadi at least setiap anak nggak akan merasa terlupakan di hari ultahnya. 

sampai sekitar sebulan lalu terlintas di pikiran, gimana kalo tahun ini kita ajak bumy berbagi kebahagiaan sama anak-anak di panti yatim? this idea is kinda new, and strange, for us, but maybe we needed to try it out. 

yaudah deh gue mulai pelan-pelan eksekusi (asli, pelaaan banget progressnya), mulai dari belanja goody bag, pesen bento (dua hal ini sangat sangatttt dibantu sama Bundo Rahma kesayangan), trus ngatur waktu sama pengurus yayasan. kue ultah Adit yang pesen ke Barska Cakes yang emang udah jadi 'langganan' tiap ada acara di kantornya. 

bersama bundo dan Azka setelah belanja printilan goody bag di Depok hehe

mendekati hari H, baru kepikiran buat bikin semacam stiker logo ultah kali ini, buat ditempel di bungkus bento, gitu. jadilah gue minta tolong sama temen kantor yang andal di bidang per-PPT-an (not gonna mention his name for I'm afraid it would ruin his "credibility" xD). alhamdulillaah banget, semuanya dimudahkan. 
it was indeed a new experience for us... and how did it feel?
ternyata 'beda' banget efek yang ditimbulkan, di hati. rasanya kayak... oh, this felt right, and should've been done more often. 
insya Allah, yaa <3






sebelum syukuran ultah, Sabtu paginya kita dateng ke event Science Fair yang rutin diadain setiap tahun di sekolah Bumy. karena Adit ada urusan, jadi kita ke sekolah sama Oma dan Opa. dari sekolah, barulah kita semua ngumpul. tim Mricans kumplit, Bun-Abah-Abhi pun hadir karena emang malamnya kita kudu dateng ke acara nikahan sodara dan juga mau nginep di Ciganjur. 



proud momma moment <3
setelah acara nikahan, sementara Oma-Opa balik ke Karawaci, kita nongkrong di Menteng buat makan, abis itu begadang bareng bayi-bayi di rumah. paginya, cuss ke Ragunan karena Bun dan Abah lagi mood berolahraga (a bit hard to believe, hahaha). 
di Ragunan cuma sampai 10 pagi karena udah mulai ramee dan semakin panas, abis itu kita ajak Bun-Abah-Abhi main ke Eleven Trees - tempat nongkrong favorit akhir-akhir ini karena tempatnya nyaman sekaligus memungkinkan tetap beraktivitas fisik. kayak yang pernah gue ceritain, di sini bisa main skateboard, sepeda, pingpong, basket, bilyar, bahkan numpang kerja karena ada coworking space-nya juga. we just lovvve this place, apalagi gue yang emang ngebet mau latihan pingpong hehe. 

setelah semua puas berkeringat di Eleven Trees (kecuali si Bun), kita pun balik lagi ke Ciganjur buat leyeh-leyeh, menikmati ujan, dan 'ngemil' soto mie plus tahu gejrot haha. this, too, should be done more often <3 

   




busted banget si bunda, sibuk ngemil anywhere haha
ah.. karena blogpost ini isinya rekapan hidup, perlukah gue ceritain hal-ikhwal di luar weekend? 
well, this past week I've

- declined that job offer I've been dreaming (as an editor in an NGO - should I keep repeating it? xD)
- had lunch with the marvelous/my idol Pak Anggoro (lucky me indeed) and somehow we got to talk about me declining the aforementioned offer. it's nice to know beliau sudi mendengar keluh-kesah gue, hehe. 
- jadi responden survey mengenai kebijakan terkait talent management di kantor, yang diadain sama konsultan ternama gitu dehhh. gue yakin mereka capcipcup milihnya, dan gue pribadi skeptis it would make any difference, but personally I'm just glad to be able to vent my frustration (or "the brutal facts" as they may call it). 
- jungkir-balik nyiapin dokumen buat tender... yang ujung-ujungnya nggak lolos kualifikasi. 
- main pingpooong. 

guess that's wrapped it all up. 
in short:

18/10/2016

tentang seorang teman belajar.

"sometimes you still love the person but you just have to let go."

itu headline salah satu artikel yang muncul di newsletter yang gue terima (don't ask what website it's from). it does sound cheesy. but I've always been a sucker for anything cheesy anyway. 

gue jadi bengong sejenak sesudah baca kalimat itu... kok semacam sinkron dengan apa yang lagi gue rasain akhir-akhir ini. 
entah kenapa gue semakin merasa hidup sedang mencoba mendewasakan gue dengan menyuguhkan sajian demi sajian rasa kehilangan. 
it's all beginning to feel familiar now: the loss, and the need to let go. 

setahun lalu, di bulan-bulan september dan oktober seperti sekarang, gue harus melepas Kiti (kembali) ke Inggris. kebetulan momen itu bersamaan dengan keharusan gue melepas comfort (really? maybe it's merely familiar) zone dari dunia yang berotasi di urusan domestik aja. 
it wasn't easy.
at. all. 
gue masih berjuang untuk bisa juggling antara rumah dan kantor. which is a STRUGGLE - hooh, pake "is" bukan "was" karena hidup memegang beberapa peran di saat yang bersamaan tetap c̶h̶a̶l̶l̶e̶n̶g̶i̶n̶g̶ SULIT buat gue jalani. sampai sekarang.  

di titik oktober tahun ini, gue sudah kehilangan beberapa orang lagi... 
some I can't get to see anymore - on this earth, at least. 
while some other I lost because they choose a different direction in life. seperti yang dilakukan one of my younger colleagues at work. 

even though I've (only) known her for exactly a year now, tapi kepergian dia ternyata ngasih dampak yang... well, cukup bikin gue tercenung dan merenung. 
segitunya, yak?

maybe I'm the kind of person who gets attached too easily at people.
or maybe because she reminds so much of myself. 
my younger self, to be precise. 
umurnya genap sepuluh tahun lebih muda dari gue. 
anak (cewek) pertama juga kayak gue. 
pinter. suka belajar hal-hal baru. sedang mencoba mandiri. 
gue banyak menemukan tindak-tanduk, kepribadian, dan cara berpikirnya yang bikin gue ngerasa "ih kaya gue banget.. dulu." 
seperti apa yah kalo bisa digambarkan? mungkin berupa a mixture of curiosity (cluelessness?), optimism (naivety?), and determination (stubbornness?). 


I remember exactly what it was like to be her.. baru lulus, bingung mau "ngapain" sehingga main lahap aja sajian pertama yang dihidangkan hidup. abis itu bingung sendiri... is this what I really want? why don't I feel satisfied? do I even know what it is that I really want??

ada begitu banyak pilihan rute hidup. ada begitu banyak persimpangan dan jalan memutar. if that is not overwhelming, then I don't know what is. 
karenanya tiap kali kita ngobrol, terutama seputar kerjaan, seringkali gue sibuk menasehati dia tanpa diminta. haha. entahlah.. gue cuma gak mau dia mengulang kesalahan yang sama kayak gue (gejala "sok tua") or maybe because she triggers the protective instinct in me. 
katanya sih...

tapi jika dipikir lagi sekarang, sesungguhnya dari interaksi-interaksi kita, gue sendiri belajar tentang banyak hal.
gue belajar kalo spontanitas ternyata barang mewah. karena tendensi diri untuk bersikap spontan semakin menipis seiring dengan pertambahan umur. dan sekarang ini - pas udah menua - baru kepikiran kalau menipisnya atau bahkan ketiadaan spontanitas ternyata membatasi kita dari banyak kesempatan... 

gue belajar kalo untuk bisa tau apa yang kita mau, apa yang kita suka, apa yang kita butuh, itu semua butuh proses. and there is NO competition. human race is a big fat lie. nggak semua hal yang menurut ukuran duniawi bagus-oke-atau-penting itu beneran baik buat kita. 

gue belajar, dan semakin yakin, kalo there is no finish line in self-discovery. somehow, quite in a strange way, gue nggak lagi mengutuk diri sendiri karena masih kerap bingung, nggak pede, atau nggak puas. karena perasaan-perasaan itu bukanlah indikasi kalau gue ini orang gagal, tapi justru nunjukin kalau gue masih 'bertumbuh.' 

some day

kadang gue khawatir juga sih, ocehan gue (dan geng tantes di kantor) yang seringnya bitter dan sinis ini 'merusak' kepolosan dia dalam melihat dunia. 
tapi dia malah pernah bilang kalo anak pertama kaya dia malah butuh sosok 'kakak'... 
perasaan ini juga akrab banget rasanya buat gue. 
gue inget banget dulu suka berharap punya sosok pelindung dan pembimbing yang bisa ngasih gue walkthrough dalam kehidupan. bukannya orangtua sama sekali lepas tangan, tapi buat mereka pun gue ini "first time"-nya mereka. 
pertama kali mereka nyekolahin anak. pertama kali mereka nguliahin anak. pertama kali mereka nikahin anak. dst.
they were as clueless as I was.  

waktu si dedek bilang mau resign demi mengikuti homestay di luar kota, gue langsung cedih karena membayangkan nggak ada lagi temen "senasib sepenanggungan" di unit gue. reaksi hati langsung kayak defensif gitu lho. "ngapain siihh dedek pake resign segala?" "mendingan kerja di sini dulu sembari nunggu kesempatan yang lebih baik." atau "do you know that it's a wild world out there, kiddo??"
tapi untungnya kalimat-kalimat itu nggak ada yang sampe terucap...

gue kesadar gimana dulu waktu masih jadi fresh graduate pengen banget nyobain kuliah lagi dulu, nyicipin tinggal di kota lain, atau simply dapet kesempatan mengenal jati diri dulu. 
meskipun semua impian-masa-muda itu nggak ada yang kewujud - dan gue juga nggak menyesali jalan idup yang udah (terlanjur) dipilih, but still, it would be nice if I had taken the chance... 


belum lagi kalo teringat gimana penyesalan kadang masih merundung kalo kepikiran tempat kerja terbaik buat gue "was" and "is" waktu di citi. bahkan sampai sekarang, masih ada aja yang berkomentar "you should've stayed. you'll get a good career if you had stayed in banking industry." 
tapi yaah.. how could you expect anak berusia 21 tahun bisa membuat keputusan yg bijaksana?


karena pemikiran-pemikiran itulah, sikap terbaik yang bisa gue tunjukin buat menanggapi hasrat si dedek bertualang melihat dunia hanyalah ngasih dukungan. the journey to self-discovery is personal... kalo si dedek mau membuat kesalahan, let it be her own mistake. bukannya karena disuruh atau dipengaruhi sama orang lain. 
begitupun kalau dia mau mereguk kebahagiaan... biarkan dia tentuin sendiri apa yang jadi tolak ukur kebahagiaannya, bukannya (standar) orang lain, bukannya social media. 

so here I am now, bidding an(other) adieu. 
it was a blessing for me to have meeting her. 
semoga dia pun merasa demikian, hehe.... 


I'm gonna miss you, dedek <3

big love from all the tantes (and om) <3  <3



16/09/2016

a little life in september

hello thursday.
I thought this was gonna be a long, dragging week. but so far, there's been some twists and glitches that make it bearable. well, kind of.
minggu lalu gue (akhirnya ikut) ke Jogja sama orang-orang kantor.
capek banget - karena pulang pergi naik kereta - tapi, surprisingly, it was fun. the experience really exceeded my expectation, hehe.

(the above paragraph was written exactly a week ago) 
(untung harinya sama, jadi anggap aja sahih buat dilanjutin)

so, let me continue.. bahas jogja aja dulu.
it was my first trip with the whole team. tapi sebelum berangkat gue udah membayangkan dan karenanya bener-bener menyiapkan diri kalau the whole trip bakalan...yagitudehhh. so I couldn't say I was enthusiastic.
terlebih mikirin harus jauh dari Bumy selama 3 hari 2 malam. pas dilepas Adit di Stasiun Gambir, rasanya awak melloowwwww banget..
tapi alhamdulillah, perjalanannya lancar, Bumy di rumah juga adem-ayem sama bapaknya.

selama di Jogja, kegiatannya begini
- hari pertama diisi dengan workshop sepanjang hari (my emotion ranged between ngantuk-bosen-ngantuk-bosen and so on)
- malemnya ketemuan sama Rio, kita (gue plus dua dedek-dedek) diajaknya nongkrong di Jakal. ternyata Il Tempo Gelato buka cabang yang gede banget di Jakal! tapi gue gak bisa nyobain karena lagi sakit tenggorokan, huhu. akhirnya gue mimik-mimik di kafe sebelahnya yang kebetulan punya specialty di chocolate drink.
- hari kedua kita diajak Merapi Lava Tour. gue udah sering denger soal ini, jadi kita akan dibawa naik jeep melintasi 'rute' tempat-tempat yang dilewati kawah saat merapi meletus. begitu dijalani, seru banget ternyata. kita naik jeep terbuka gitu, dengan kondisi jalan yang berbatu-batu dan super berguncang. titik tertinggi yang dicapai adalah lokasi Bunker Kaliadem. 
tapi sebelumnya ada beberapa titik di mana kita bisa mampir, seperti "museum" efek letusan merapi, dan the so-called Batu Alien spot.
- kelar dari situ, kita dibawa ke Pantai Sadranan di Wonosari. perjalanannya lamaaa dan jauh dari Kaliurang, sekitar 2 jam. but, the beach was worth it. asoy bangetlah sore-sore bisa nongkrong di pantai. yang lain sih ada yang snorkeling, tapi katanya pantainya terlalu dangkal dan berkarang, jadi pada lecet-lecet gitu sesudahnya.
- makanan 'baru' yang gue cobain di sana antara lain Soto Pak Marto (soto sapi tapi dagingnya lembut banget - which I'm thankful for), sama Sate Klathak (sapi lagi... tapi chewy dan berlemak, so it wasn't my favorite).
nothing fancy, tapi lumayan buat referensi kalau ke Jogja lagi (soon, I hope).




the jeep we rode on

 
tante-tante dipotoin gen Z, hasilnya langsung instagrammable.. ya gak??



finally arrived at sadranan

almost sunset
the train ride. looked comfy, ain't it? tapi tetep aja badan pegel-pegel
sebenernya trip masih berlanjut di hari ketiga, rangorang pada ke Kalibiru yang katanya spot foto terkenal. tapi gue nggak ikutan. pertama, karena udah ada janji ke psikolog (will ramble about it later); dua, karena yaa males aja xD
lebih cepet bisa ketemu anak selalu lebih baik buat gue.

****

minggu-minggu sesudah Jogja trip diisi dengan kesibukan, kegilaan, dan keriuhan yang biasa di Jakarta.
minggu lalu, selama 2 hari gue bisa ngantor di luar kantor, karena titah dari kantor, dan dengan biaya makan yang sepenuhnya ditanggung sama kantor. haha. 
tentunya ya karena ada tugas, jadi gue lagi disuruh semacam bikin makalah, bareng beberapa orang. nongkrongnya di kawasan sekitar kantor juga (untungnya), dan enak aja ganti suasana meski yang diliat muka orang-orang kantor juga.
wishlist: more of this, everyday.
also still from last week: I went through another interview session. posisinya buat jadi content specialist in yet another startup.
the founder, the one who interviewed me, seemed very passionate about what she's doing. I had a great time talking to her, regardless how the result would turn out. gajinya jelasssss di bawah yang gue dapetin sekarang, tapi kerjanya bisa telecommuting. cuma perlu ngumpul buat meeting 2 kali seminggu, dan itupun cuma 2-3 jam. menarik banget, yah?
well, I am intrigued. 
apakah gue bakal berjodoh kerja di situ apa nggak, itu urusan nanti, deh.

lalu ada long weekend berkat libur Idul Adha.
si embak dadakan minta pulkam. which is very wesbiyasak of her -___-
walhasil Jumat malamnya kita langsung cuss ke Karawaci. ngungsi, lebih tepatnya.


long weekend kita isi dengan kelayapan ke sana ke mari. 
Sabtunya, Opa kita ajak nonton film "Sully" (sama Bumy dan Adit), sementara Oma gue ajak pijet di Bersih Sehat. haha baru kepikiran aja tuh ngajak mereka "me time" setelah sekian lama. 
malemnya kita makan beramai-ramai sama Bun, Abah, dan Abhi. sayang gagal full team, karena si Rio baru sampe Karawaci besoknya. 

and then the next day, Minggu, gue emji sama Elmo.
we had a loooonng, heavy, substantial, and as always, pleasant chat. Elmo nih udah beberapa waktu belakangan tekun banget menjalani yang-katanya healthy lifestyle. mungkin nggak tepat sih untuk melabel-labeli idup orang, haha, tapi kenyataannya dia emang nge-gym teratur, dan menjaga asupan makannya - dengan serius. 

trus seolah menjaga kesehatan badan aja nggak cukup (why you have to set the standard so high, elms??), dia juga lagi getol menerapkan mindfulness. intinya gue belajar banyaaakkkkk dari dia hari itu. 
contohnya soal gimana biar punya motivasi yang awet buat berolahraga atau jaga makan, gitu - dia bilang, "jangan fokus sama hasilnya, tapi sama gimana PERASAAN elo kalau bisa berhasil melakukannya." 

contoh: pengen kurus adalah niat yang kurang tepat dan nggak bakal bikin lo bisa konsisten jaga makan atau olahraga. lebih tepat kalau lo ubah mindset dengan mengafirmasi diri, "martabak enak sih... tapi bakal lebih enak kalo gue bisa muat pake jeans ukuran 26 / kalau gue bisa menua dalam kondisi sehat jadi nggak nyusahin orang / kalau gue bisa ngerasa bugar seharian." semacam itulah. 

ohya kita juga main ke kawasan Jakbar.. to have a #jakbarmoment kalo kata si Ika. 
kebetulan baru buka (yet another) mall gitu di sebelah Central Park, namanya Neo Soho. jadi ada jembatan antara kedua mall itu, yang mayan heits buat dipoto-poto hahaha... di situ kita nyobain nongkrong di Hog's Breath, resto di Tribecca Park. btw taman(-tamanan) ini hal favorit gue di CP. sangat sangat singapur suasananya hehe. 
the bridge will be iconic
****

another highlight of the week/last week berhubungan sama toastmasters. 
Gatsu Club ngadain evaluation contest untuk pertama kalinya. kontesnya macam apa? 
jadiii, yang dilombain adalah hasil evaluasi kita terhadap sebuah speech yang dibawain sama seorang yang ditunjuk jadi test speaker; di kontes kemarin test speaker kita Pak Anggoro (of course. who else. nothing better.). 


the orange is in our hands?
beberapa hari kemudian, Bonsir Club ngadain evaluation contest juga. tau-tau gue yang ditunjuk jadi test speakernya.. -___- jauh bangetttt kalibernya dari Pak Anggoro, jelasss. 
mana hari itu gue lagi ribet banget, yang ujungnya nggak nyiapin bahas speech SAMA SEKALI. 
mungkin baru 5 detik sebelum ngomong gue baru tau mau ngomongin apa - which is so typically me xD 
but! what matters most is the experience. bisa dapet evaluasi yang keren-keren tentang gimana gue ngoceh, plus nggak disangka ocehan gue itu bisa jadi lesson learned buat orang lain. 


Bonsir crowd was da bomb :))))
in a more acceptable pose this time
****


last but not least, the two books I'd finished reading these past two weeks: 
- Gone Girl by Gillian Flynn 
- The Girl on the Train by Paula Hawkins

I like the first one better than the other. tapi penasaran liat film buat buku yang kedua jadinya gimana. okelah segitu dulu reportasenya (setelah 1000++ kata). 

19/08/2016

#backtowork review: agustus dulu dan kini


hey, it's august already!
bukaaan, bukan mau ngereview resolusi entah-apa-itu kok haha. gue justru mau memeringati sebuah tonggak sejarah dalam idup, sesuatu yang sifatnya sangat esensyal. yaitu tepat setahunnya gue kembali bekerja. #backtowork beibih! kekekek...
semangat banget ya kayanya? apa iya secara riil gue (masih) segitu bersemangatnya?

ngejawabnya nggak bisa plek-plekan "iya dong!" atau "puhleeez i can't wait to be back to gabut SAHM life" doang, tentunya. lagian nggak bisa ngoceh panjang-lebar dong awak kalau nggak pake bumbu-bumbu drama kehidupan dulu 'tuk menjawabnya. 
gue memilih untuk memakai "alat ukur" berupa career triangle seperti yang pernah dibahas di blogpost ini beberapa waktu lalu. kilas balik dikit, career triangle alias segitiga karir adalah pengelompokan pilihan dan konsekuensi karir menjadi 3 hal besar, antara lain money - fulfillment - time. 
jadi mari kita telaah! 

>duit
ya tentunya enak ada pemasukan (lagi), bisa berkontribusi lagi buat keluarga. ya secara kita mahzab keuangannya satu pintu, semua plek jadi satu. ya gaji, ya bonus, ya utang, hahaha. eh kecuali duit dari freelancing sih biasanya masuk ke kantong gue sendiri xP 

tapiii as we all know, buat kelas menengah nan mandiri kayak kami ini (aamiin ya Allah), bekerjanya gue juga berarti memunculkan pos-pos pengeluaran baru juga. 
di bulan pertama gue ngantor, kita ngekos dan titipin bumy di daycare. sekarang, beralih jadi pakai jasa ART dan supir. belum lagi hidden cost of being a working mom (tadinya gak mau nulis 'working mom' tapi 'worker' aja for the sake of the feminist inside me, tapi dipikir-pikir lagi, Adit kok gak punya hidden cost macem-macem buat jadi worker, haha). 

sehubungan status pekerjaan gue yang sebagai karyawati BUMN, makna "duit" di career triangle bisa meluas jadi kompensasi dalam bentuk yang lain, sih. misalnya benefit asuransi kesehatan sesudah pensiun, daan kesempatan ambil pensiun dini. juga manfaat intrinsik berupa sifat pekerjaan yang terbilang 'safe' - dalam artian lebih 'stabil' dibandingkan industri tempat Adit kerja. 

kesimpulan sementara yang didapat: it *does* fel good to earn my own money. terlepas dari seberapa besar kontribusi yang diberikan, tapi perasaan berdaya alias empowered itu yang tak ternilai. 

>waktu
kalau waktu dimaknai sebagai kesempatan untuk masih punya waktu atau "me time" di luar kantor, ya alhamdulillah sejauh ini gue masih sempat punya me time, hehe. 
seandainya gue tetap mau beraktivitas freelancing nulis atau blogging pun bisa dicari waktu ngerjainnya. tapiii lagi-lagi seperti biasa, seperti yang sudah-sudah, BALIK LAGI ke pinter-pinternya sang diri nerapin time management. and i still suck at that.. hkahkahkahkk. makanya makin minim aja kontribusi yang gue buat ke blog manapun. jelek sih efeknya, gue jadi kerap kelu dan gugup untuk bertutur. skill nulis juga rasanya nggak nambah-nambah. 

kalau dipikir-pikir lagi, bukannya porsi waktu tuh segitu-gitu aja buat semua orang di muka bumi? we can only make the best of what we're given. jatah waktu idup barulah berbeda-beda... 
the concept of time even says that it's relative. setahun bisa terasa lama when we're stuck at a job we hate. tapi juga bisa terasa terlalu cepat ketika kita mengenang tahun-tahun yang udah terlewatkan.  
gue jadi inget perkataan tentang bagaimana pada hakikatnya setiap peristiwa itu netral. kitalah yang punya pilihan mau gimana memaknainya dan mau seperti apa kita bertindak (free will, remember?). jadi, kayanya bagi GUE untuk bisa megang banyak peran dengan baik (bukan sempurna loh), gue bukan cuma perlu nerapin time management yang baik, tapi lebih bermanfaat kalau punya MOOD MANAGEMENT. hahaha.. mood memegang kendali banget sik di gue. gimana cara ngerebut setirnya yak?? aslik ini mah derajat kesulitannya di awang-awang buat gue. 

but! never say never, sister. 
(so, where should I start? *berbisik* *clueless*)

kesimpulan sementara: kerja atau jadi IRT nggak ngaruh; gabut bisa di mana aja kapan aja x)))

>eksistensi/fulfillment
okeh ini dia yang seksi menggigit.. perempuan bekerja dan eksistensi. 
jujur aja yak, i do feel a lot better sejak bekerja lagi. as i wrote, i think i value myself more karena bisa berkontribusi buat (keuangan) keluarga. 
gue juga seneng bisa keluar rumah untuk suatu tujuan - yaitu ngantor - setiap harinya. ini mungkin tepat buat orang seperti gue, yang kontrol dirinya eksternal, alias perlu hal-hal di luar diri sebagai motivasi. 
meskipun begitu, di sisi lain, gue merasa kantor gue nggak bisa memfasilitasi personal growth gue. ada yang bilang you can't have it all, dan itulah yang terjadi. kalau di bisnis dibilang dari 3 kata sifat faster, better, cheaper, lo cuma bisa dapet 2 dari 3. nah gue jadi mau ngarang teori. mungkin in terms of kerjaan, kata-katanya bisa diganti dengan: bikin kaya, bikin pinter, bikin bahagia. the same rule applies, cuma 2 dari 3 yang bisa didapet. hahahha... pure ngarang sik. 

kalo gue balik lagi liat ke kondisi diri, apakah kerjaan gue bikin kaya dan bahagia? well, in a way, it is. gue jadi punya income sendiri yang nominalnya CUKUP buat gue. gue juga somewhat "bahagia" karena bisa sesekali sering gabut xD tapi kayak yang tadi gue tulis, I got zero personal growth a.k.a. pekerjaan ini nggak bikin gue pinter. 

MUNGKIN... penyebabnya adalah gue emang nggak mau ambil kesempatan untuk jadi lebih "pinter." karena gue masih mau bermain di ranah yang gue kenali aja or in other words: gue nggak mau melakukan lebih dari apa yang ada di job desc gue. belajar bisa di mana dan kapan aja, 'kan, kalo kata kakek bijak di anggur cap orangtua. 
it's all in my hands. 

kesimpulan: BELUM merasa fulfilled karena belum mau belajar. 

ya gitu deh... 
sekarang, gue nggak bisa membayangkan gimana setahun kemarin gue bisa 'bertahan' hidup di ranah domestik thok. dan masih teringat gimana setahun kemarin gue sedang dengan beratnya menjalani tahapan transisi peran ini... ketika gue tengok foto-foto dari periode setahun lalu, gue ingat itulah masa-masa di mana gue dan juga Bumy masih 'kaget' karena gue udah harus ngantor lagi. 
muncul rasa mellow sih... liat Bumy kepalanya diplester karena dinakalin temennya di daycare T__T 
keinget kita suka makan malem bebek goreng bertiga di dalem kamar kosan karena ibu kosannya jual bebek goreng haha... 
ahamdulillah waktu itu kita DIMUDAHKAN banget nyari kosan maupun tenaga antar-jemput bumy dari sekolah.. huhuhu. jadi berasa kalau yang suka disampaikan di majelis tafakur itu bener, "ketika Allah sedang menguji kita, jangan MERONTA... justru kita harus larut dan berserah diri padaNya" karena Dia memang memberikan ketidaknyamanan, tapi tidak pernah memberikan keburukan. 


we were on a dinner after I worked. I remembered he told me he was missing me soooo much T___T

di kamar kos

dinakalin anak daycare!!! T____T

a coincidence? I guess not..
for now, I could say that I don't like or even love my job, but I believe me being back to work dan semua 'drama' yang menyertainya terjadi untuk kebaikan kami sekeluarga. I believe life is happening for me. just like I wrote a year ago, again, I just have to trust the process and focus on the big picture. 

*bookmark blogpost ini sebagai referensi kalau lagi kumat "meronta"nya hehehe..
*the title is copied from an article's title on the Magdalene

21/12/2015

why I work

pic from here

huapakah ini?? semacam klarifikasi??
hehehe.. nggak kok, emangnya gue abis bikin sensasi atau kontroversi :P 
kebetulan, gue baru baca artikel tentang kembalinya para ibu ke dunia bekerja yang berjudul "The Opt-Out Generation Wants Back In."
artikel itu jadi bikin gue melihat yang terjadi di diri sendiri. gue yang tadinya dengan gagah berani menanggalkan gelar sebagai "working mom" demi memenuhi cita-cita idealis menjadi stay-at-home-mom (SAHM), kini justru kembali ke ranah full-time job. 
memang awal mula pergantian peran ini digerakkan oleh takdir (sekelumit di sini). tapi apa yang membuat gue memutuskan untuk jalan terus di "jalur" ibu bekerja, setidaknya sampai saat ini, adalah... 

- I wanted to see what it's like to step out of my comfort zone, once again, after almost 3 years of becoming an SAHM.

dengan memakai istilah "comfort zone", bukan berarti hari-hari sebagai SAHM melulu diisi dengan kenyamanan semata. oh tentu tidaak, karena jadi SAHM pun ada problema, dilema, dan dramanya hahaha. 
tapi, dengan caranya sendiri, peran sebagai SAHM seolah membangunkan cangkang untuk gue; gue 'terlindungi' dalam ruang lingkup yang seputar urusan rumah dan keluarga saja. nggak ada kepusingan menghadapi macet atau politik kantor, ataupun ketergantungan pada support systems. 
to be honest, waktu tiba-tiba dipanggil untuk kerja lagi sama kantor, gue ya nggak siap, termasuk untuk menghadapi semua risiko akibat melangkah keluar dari comfort zone. but then, kapan sih kita bisa bener-bener siap menghadapi perubahan?

- I work because I like the idea of earning a bigger income

for now, this is something my full-time job could provide. 
during my SAHM days, I did stuff that could cater my passion and, fortunately, could gain a decent income from it. even though the money was in lesser amount than what I used to earn from my office work, but the fact that I could still earn money no matter what title I hold, had taught me something. I first read about the term "portable equity" from Rene Suhardono's book; it is something not attached to what or where we work, and includes the integrity, track record, network, and skills we have. 
knowing I've been having this portable equity all along gives me confidence to work as a freelancer, also to pursue my passion. 

however, when I was offered my old job back, it felt kinda wrong to pass it up. again, setidaknya untuk saat ini. 
gue tau pengorbanan yang dibutuhkan untuk jadi working mom lagi juga akan lebih besar. dari segi finansial, ini bisa diukur - pastinya bukan dari waktu dan kebersamaan dengan anak yang memang nggak bisa diukur nilainya, yah - tapi dengan menghitung berapa sisa gaji gue setelah dikurangi biaya support system. 
setelah menilik 'raport' kondisi keuangan keluarga, kesempatan untuk balik lagi memang terasa 'benar.' kita lagi butuh suntikan likuiditas, mengingat Adit lagi menjalani pendidikan S2 dengan biaya pribadi (bisa di"reimburse" sih ke kantor, asal lulus tepat waktu hehe), dan setoran dana darurat kita juga banyak bolongnya. 

di sisi lain, juga ada faedah secara finansial yang bisa dipetik dari pengalaman sebagai SAHM. remeh-temeh aja, sih, kalau di kasus gue, kayak jadi terbiasa nggak belanja-belanja nggak penting (derajat kepentingannya tentulah relatip), jadi lebih doyan makanan rumah, dan jadi kangen melulu sama rumah hahaha. secara nggak langsung, hal-hal ini semacam bisa mengerem hasrat spending gue saat menikmati bigger income lagi. 



- lastly, I work because I choose to, even though i know it's not gonna be easy - just like what I have experienced for 8 years before I decided to quit. 
I realize that, as a woman, I am expected, demanded even, to "have it ALL." 
from what I have experienced personally, that outrageous demand made me feel like I needed to prove something. not to just myself, but to everybody in the world. I did what it took that I thought would PROVE my worth: I believe I could manage working, while raising a kid, while being a 'completely fulfilled' human being (the benchmark of being 'fulfilled?' well, only stuff seen from the outside: I seemed to secure an appropriate job, have a nice little family, could afford my life, etc). 
but what did that do to me? after 3 years of trying to prove, I was left broken and beaten down.
that's why I chose to quit. albeit temporarily. 


if this doesn't ensure how mythical the concept of "having it all" is, then I don't know what will

fast forward to 3 years later, here I am, reentering the workforce. only, there's a huge difference this time.
first, now I am 'equipped' with dependable support-systems (even though it comes with risks, like everything else in this world does).

second, now I bear down-to-earth and, hopefully, manageable expectations: I realize I would need to be better at juggling, also to get good at discomfort. because no matter what I choose, I will be tested. it's just how this world works. 

third, I think this is what I need to do at this stage of my life. I no longer feel the need to prove anything to anyone. and neither should any mother... you shouldn't work because you need to prove that you matter, or that you are "productive," or that you are WORTH the praise, the gold medal, or a mug branded with "to the BEST mother in the world." we deserve it all already, whatever choice we make. because as I said, every choice we make comes with risks, and here we are, facing those risks.


pic from here
di sini, I don't speak for everyone. I write what I know, armed with my condition, background, experiences, hopes, expectations, and fears. cukup tau dirilah untuk nggak merasa apapun yang gue pilih sudah benar hahaha... because I am merely a human who is constantly trying to figure life out. 

how about you, fellow mothers out there? 
why choose to work (full-time, or part-time)? or why choose not to? 


pic from here

26/10/2015

tentang keseimbangan

balancing work and home. 
ini isu yang tipikal dan familiar banget buat gue, deh. gue sebut begitu karena melulu gue temui sepanjang berstatus ibu bekerja. contohnya ya seperti sekarang ini. 
gue pernah membeberkan dalam sebuah blogpost, gimana saat gue masih bisa-di-rumah-aja (baca: jadi IRT), gue pernah iseng membayangkan WHAT IF gue balik ngantor lagi. apakah gue bisa berkomitmen penuh pada kerjaan di kantor gue yang workload dan budayanya "seperti itchu?" 
trus, gimana kalo anak gue sakit? kebayang rasa sungkan ketika harus minta ijinnya. atau kalau harus keluar kota, pulang malem karena lembur, dst... maka saat itu, hasrat untuk bekerja lagi yang sempat meninggi di sanubari, mendadak surut.

tapi atas kehendak Allah, gue kembali jadi karyawati. 
lalu apa yang terjadi?
well, kalau mau dicari nggak enaknya, ya pasti ada aja (*dalam hati menjerit "banyaaaak!"*). tapi, yang harus disyukuri ya juga nggak kalah banyak. misalnya lokasi kantor yang sesuai dengan doa gue dan Adit, unit kerja yang ngurusin segmen business (instead of retail) dan cakupannya di level regional (nggak terlalu luas, tapi juga nggak terlalu 'sempit'), juga keberadaan faktor-faktor pendukung lain seperti suasana pertemanan yang so far so good.  
tapi, seperti yang gue duga, masih muncul ketidaknyamanan ketika gue dihadapkan pada skenario-skenario yang sebelumnya sudah gue bayangkan. 
contohnya, benar gue merasa bete kalau harus pulang kantor malem-malem (atau lebih tepatnya, kalau nggak jam 5 TENG). 
benar gue merasa bersalah ketika diajak jalan-jalan dari kantor keluar kota dan menjadikan harus nginep selama beberapa hari. 
bahkan, untuk saat ini, gue agak mumet mikirin seandainya level posisi gue dinaikin. padahal temen-temen seangkatan gue hampir semuanya udah berada di level posisi tersebut. membayangkan tanggung jawab yang otomatis akan bertambah, komitmen waktu yang diperlukan, dst, bikin gue gentar. 

konsekuensinya, kinerja gue ya nggak jauh beda dengan yang gue tunjukkan 3 tahun lalu. gue masih kalang-kabut menghadapi tantangan waktu. trus terkait hati, gue merasa udah menemukan passion gue tapi kerjaan full-time gue nggak berhubungan sama sekali dengan passion gue itu. meskipun begitu, gue takut menghadapi apa yang akan terjadi "di luar sana" once I decided to step out of this 'safe zone.'
will it be different if I worked full-time doing something I'm passionate about? apakah gue nggak akan merasa bersalah sama anak lagi?

anyways, I remember a Saturday I had a few weeks ago. 
entah kenapa saat itu semua angan ambisius untuk menikmati weekend menguap begitu saja. 
gue kehilangan ambisi untuk quick getaway ke bandung (atau puncak atau anyer). 
I didn't even exercise. gue juga nggak kepengen nyalon atau pijet - like I normally would. gue nggak datang tafakur. gue nggak mengisi waktu dengan melakukan survey ke sekian banyak sekolah seperti yang sudah gue targetkan. 
alih-alih meng'optimal'kan weekend, saat itu gue malah sangaaaat menikmati duduk di sofa panjang gerai fast food bersama Bumy di sebelah gue. he's playing a game on my gadget. gue sendiri asik cetat-cetut di ipad. we ate loads of junkfood. I was listening to Belle and Sebastian's "Funny Little Frog" and had no plans whatsoever on my mind. 
yet I felt so in touch with my heart. there's an absence of restlessness. gue nggak bisa inget kapan terakhir kali gue merasa begini. mungkin perasaan seperti ini yang dimaksud dengan "contentment." 

karena, gue puas bisa berada di dekat Bumy right at that moment. meskipun kami nggak sedang melakukan high-quality bonding activity.
gue puas bisa mendengarkan lagu-lagu dari band-band kesukaan (#nowplaying Beirut's "Postcard to Italy". how is that not to love?).
gue puas bisa melanglang sendirian... berkelana di dalam labirin pikiran dan perasaan gue sendiri. 
I just hope I could feel it more often. 

--------


maybe life will never be balanced. 
dan gue mengatakan ini bukan dengan nada yang sinis atau pahit. dunia emang udah ditakdirkan bersifat fana, bukan? apa-apa yang ada di sini nggak kekal, berubah-ubah kondisinya. kerjaan kadang padat, kadang nyenengin. kebersamaan sama anak kadang mengalir dengan mudah dan menyenangkan, kadang banyak dramanya. 
you just have to seize the moment when it passes you by. tangkap kebahagiaan saat dia datang. hadapin bau busuknya saat ke-enggakenak-an harus dilewati. 
hmm.. sepertinya paragraf ini perlu ditandai dengan hashtag #bukankatabijak #sedangsadarsesaat, deh. 
karena sejujurnya, it's never easy. kembalinya gue ke pekerjaan full-time bukan cuma bikin gue perlu banyak adaptasi, tapi juga berdampak ke diri Bumy. gue perhatiin, dia jadi lebih sensitif, suka nangis lebay karena alasan sepele. dia harus nungguin gue dan Adit pulang ke rumah setiap malem, cuma sama si embak. not to mention perkembangan segala kegiatan les-nya yang agak terbengkalai sejak gue kembali bekerja. 
to me, leaving him feels harder now that I've experienced becoming a SAHM. mungkin, sulit juga bagi dia untuk membiasakan nggak bersama gue setiap saat di rumah. 

gue teringat suatu momen, Minggu malam di pom bensin. Bumy lagi mellow gara-gara baru say byebye ke oma. gue sendiri sedang merasa nggak nyaman; campuran dari perasaan hampa, bingung, dan resah. saat itu, kita berdua sama-sama sedang butuh "obat hati."
seperti apa harusnya obat itu?
should I stop working? 
should I take him to the mall and buy him stuff?
apakah ketidaknyamanan seperti ini akan berhenti terjadi begitu gue jadi IRT *lagi*? 
tapi, apa yang sedang gue ajarkan ke anak gue lewat pilihan-pilihan gue ini? am I being selfish? am I being materialistic? or am I teaching him about hardwork and a life earned from it? am I teaching him to be happy no matter what the situation is like? 

yang jelas, gue nggak bisa melarikan diri (lagi). 
kalau sekarang gue belum bisa "menghidupkan hidup" seperti semboyannya Ho, setidaknya gue bisa mencoba survive lah. 
gue udah pernah bikin survival guide untuk IRT, berdasar pengalaman selama jadi IRT, yang isinya the things that kept me sane. ndak ada salahnya gue coba bikin survival guide juga buat profesi sekarang, 'kan? meskipun mungkin sebagian besar cuma dikarang-karang, haha. 




but if I am to write one right now, what will be in that so-called survival guide?

let's say I'm trying to give myself "wise" but do-able advices here.. so please, spare me from being a smartass :) 
I think this is what the currently-working me should do: 

1. try to like where I am. try hard, lebih tepatnya :)))
in Leo Babauta's words, "get good at discomfort." 

2. keep doing things that I love.
gue merasa paling nyaman sama diri gue sendiri saat bisa berbagi ide, cerita, atau perasaan. kadang gue wujudkan lewat tulisan, kadang lewat ngobrol. jadi, nampaknya gue perlu cari cara untuk menyalurkan hasrat ini sembari bekerja. 
sekarang ini, gue nyambi bikin-bikin blog sama temen-temen (ada ini dan ini, hehe). kerjaan freelancing juga masih gue lakuin, meski untuk merampungkannya butuh effort dan waktu khusus. tapi yaa, demi menyalurkan hasrat, dan ujung-ujungnya, menjaga kewarasan. 

3. stop COMPARING. 
ini berlaku buat kondisi diri sendiri, maupun kondisi anak dan keluarga. 
we all have our own demons and battles to face. cuma masing-masing yang tahu hidupnya beneran bahagia atau nggak. 

4. mencoba disiplin.
poin yang ini kayanya wajib ada di daftar gue baik mau jadi WM maupun IRT. disiplin waktu selalu jadi yang paling penting buat gue; gue perlu membiasakan tidur di waktu yang sama setiap malam, bangun pagi supaya sempat olahraga, cuci muka sebelum tidur, tafakur setiap minggu. begitupun buat anak, merutinkan jadwal latihan electone, baca buku bareng setiap malam, dll. 

5. batasin waktu megang gadget.
poin ini juga rasanya udah terlalu sering diulang, yah hehehe. 

6. spend less, and less. I just realized that possession is an illusion. because things we buy, they come with responsibilities. kalau kita nggak sanggup memenuhi responsibilities itu, the things we own can only end up owning us. 
 
tapi gimana dengan cicilan ini dan itu yang udah terlanjur ada? hahaha. 
ya nggak boleh skip juga buat diperhitungkan, pastinya... tapi setidaknya coba ngerem diri, deh, kalau mau belanja impulsif. 
another note to self: usahain "kebutuhan" skincare dan belenjong tersier lainnya udah dibudgetin sejak jauh-jauh hari, kekeke. 

7. never underestimate the power of prayer.
say no more. 

that's all I could come up with for now.. setelah 3 bulan kembali ngantor full-time. rasa bersalah, ketidaknyamanan, drama - they are always a part of this role I've chosen. I just need to be good at dealing with them. *bookmark halaman ini for future reference* :))