15/08/2018

singapore trip with the baby

olala.. it's truly been a while. 
yesss gue SEGITU sibuknya handle 
1) kerjaan, 
2) bayi mungil, 
3) anak pra-abege 
(dll menyusul)
sampai nggak sempat ngeblog (atau ngoceh ngalor-ngidul membayangkan ada yang peduli).

ah emang sedari dulu gue bukan ibu yang rajin mendokumentasikan ina-inu anaknya. 
waktu bumy kecil dulu masih mending... bisalah rutin ngeblog sebulan sekali. pas sam sekarang, tangan rasanya nggak cukup "cuma" sepasang. dihimpit hectic aja rasanya.
begitu udah ada waktu luang yang memungkinkan hands-free, gue memilih molor. minimal leyeh-leyeh untuk menghela napas - sambil nonton netflix. 
but here we are! 

seminggu lalu, kita memberanikan diri plesir bawa bocah-bocah. 
dengan kondisi sam belum genap 8 bulan, plus gue dan adit belum berpengalaman bawa bayi naik pesawat, it's a bit risky, I know. 
menurut gue, plesiran kali ini sejatinya hanya mindahin lokasi ngangon anak. gue tau bakalan capek dan repot. tapiii a change of scenery wouldn't hurt lah. semacam sedikit bonus buat mamak yang sehari-harinya dikeroyok kerepotan belaka. harapannya di singapur meskipun repot, tapi paling nggak mamak hepi bisa menghirup hawa non-berpolusi dan berkesempatan blanja-blenjong. 

but first! izinkan gue memaparkan hal-ihwal yang mesti dihadapi menjelang keberangkatan... 


bayinya atitt huhu
- sehari sebelum bertolak ke singapur, sam demam 37,5 - 38,3 derajat celcius. sepertinya sih karena batuk pilek. 
gue bawalah dia ke dokter spesialis anak di KMC. karena dokter2 yang biasa ditemui lagi pada gak praktek, maka kemarin itu pertama kalinya gue konsul sama Dokter Made. ternyata beliau helpful banget. meriksanya bener-bener teliti dan menyeluruh. dijelasin kalo Sam kena common cold (aja alhamdulillah), nggak ada infeksi telinga, nafasnya juga grok-grok karena dahak yang terjebak di tenggorokan bukan di paru-paru. dokternya ngasih harapan kalau ini infeksi virus aja maka dalam 2-3 hari ke depan demamnya bakal reda. sungguh jelas, dan puas mamak jadinya. 

- on the other hand, gue belum sempat menyusun itinerary blasssss. adit nagih melulu yang cuma gue respon dengan dengusan. 

- sementara karena sam udah mamam, maka gue siapkan ransum berupa 4 set meal mamma kanin untuk dibawa ke sana (which is also his favorite). karena selama lagi demam ini dia males makan, gue berharap dengan ransum MK paling nggak dia bisa makan yang dia doyan. gue siapin dengan rapi jali di dalam cooler bag dan gue masukin ke freezer malamnya. 

- and then sekitar jam 11 malam, kita menemukan kalau obat batuk yang perlu diminumin ke sam tumpah. kebayang refotnya kudu nyari obat di sing, kita tilpunlah apotek KMC untuk janjian ambil obatnya jam 4 pagi keesokan hari.

- eh iya, flight kita tuh jam 5:20 pagi. 

- jam 3:30 pagi, taksi bluebird yang mau nganterin sudah tiba. kita grasak grusuk masukin barang ke taksi. 
pak supirnya komen, "ini perginya dadakan ya bu?" ehe.

- jam 4 pagi kita sampai di KMC, tebus obat 5 menit cus masuk tol jorr. 

- jam 4:10... gue berteriak di dalam taksi, "ya Allah ransum si sam ketinggalan!!" mao pingsaaaaannnn.
akibat dimasukin ke kulkas, cooler bag berisi ransum si sam nggak keangkut. 
adit segera nilpun supir gue yang alhamdulillah ngangkat telpon. gue segera nelpon ART (pulang pergi) yang alhamdulillah juga ngangkat telpon buat kasihin kunci rumah. setres nda kira-kira hahahha. supir gue pun segera melesaaaat ngebut nyusulin itu ransum ke bandara. 

- sampai di bandara jam 4:50, adit melenggang ke konter check-in, dikasih tau embaknya "oh sistemnya udah closed, pak." 
KETINGGALAN PESAWAT AJAH KAK. 

x)))))))))

saking lemesnya, gue sampe nggak bisa ngomel. padahal that's my automatic response in this kind of mess. hahaha. langsung gue telpon mamak buat minta maaf, minta ampun, minta ridho. uh... the power of restu orangtua tuh emang ya.. masya Allah. 

alhamdulillah, kita bisa dapat seat di flight berikutnya sekitar satu jam sesudahnya. 
and the flight with our infant? well, he screamed and cried almost the entire flight. 
aslilahhh, gue dari yang awalnya malu dan nggak enak sama penumpang lain sampe BODO AMAT gue nggak tau mau ngapain lagi huhuhu. kita udah siapin ear muffs tapi boro-boro deh nggak bisa dipakein karena anaknya meliuk-liuk saat ngamuk. 
kalau direview sekarang, kemungkinan karena kita terbang di jam sam lagi ngantuk-ngantuknya tapi doi nggak bisa tidur di tempat dan suasana yang nggak familiar buat dia. plus doi juga lagi nggak enak badan. 

selama di sing, kita cuma ke 
- sentosa karena bumy ngidam main luge. alhamdulillah kesampean dan si bocah menganggap that's the highlight of the trip, the rest of the days were just "membosankan!"
- ngider-ngider mooool
- national gallery 
- dinner at chijmes, which became the highlight for adit and me haha. udah lamaa banget berniat makan di sini, padahal beberapa kali nginap dekat-dekat situ tapi nggak terwujud untuk mampir. we ate at prive at night; makanannya enak-enaaak dan suasananya juga sangat okss. 
- haji lane, arab street, dan sekitarnya. 

sangat sangat tidak ambisius. dan membosankan sih emang hahaha. 
but I was too overwhelmed with kerempongan. 
sam nggak mau ditaro di stroller jadi ya dia digendong melulu. 
gue nggak berani pack lightly saat keliling-keliling, jadi tenaga lumayan kesedot buat angkut beban. 
tapi dari sini gue (dan adit) jadi belajar soal beberapa hal yang berguna, yang nggak berguna, dan what to note for our next trip(s). 

- stroller pockit pinjaman dari ibu peri Ika Loekita comes really handy karena ringan dan easy to assemble. semoga ke depannya sam udah mau ditaro di stroller. 

- sayota electric lunch box ini jugaaa... pinjaman dari bun-Ka dan sangat sangat membantu. bubur bisa dibikin langsung di situ, untuk manasin makanan juga oke karena fungsinya mengukus, jadi panasnya awet (nggak kayak kalo dipanasin pakai microwave). ukurannya juga kecil dan nggak makan tempat. 

- buat mandiin sam kita pakai bak mandi tiup gitu. ini enak juga untuk dipakai. permukaannya empuk, dan nggak licin. 

- packing suggestions that we did and found to be useful: bawa buku rumah sakit anak. bagi-bagi baju anak dalam sealed plastic bag harian (1 day 1 bag). oh dan aplikasi Pack yang enak dijadiin checklist (--> screenshot on the right)

- what we need (to improve):  PLAN AN ITINERARY. siapin gendongan yang bahannya nggak gerah. siapin perlak yang ringan buat dibawa-bawa. obat-obatan jangan cuma 1 botol jadi ada cadangan kalau tumpah. siapin wadah untuk snack kering yang gampang dirogoh tapi nggak gampang tumpah. siapin sippy cup because we didn't bring any in sing dan gue jadi harus kasih fresh ASI kalau si bocah haus hahaha. 

sejauh ini sih itu aja yang kepikiran...
mungkin untuk akomodasi keinginan si anak gede untuk berpetualang, baiknya sih kita bagi dua tim. adit sama bumy untuk kelayapan, gue ngendon ngadem sama bayi. 
yaay we made it (foto bertiga. difotoin ibu-ibu yang lewat haha)

night at chijmes

our stay at oasia. ini di lantai 12, enak buat leyeh-leyeh.

city tour bertiga saja (bumy not pictured), mamak felt successful bisa gondol dan suapin bayi "sendirian"
  
si kakak yang direpotin bawa-bawa ransum adeknya.. 



of course this is by request. "wooy gantian fotoin mamakk" kalo nggak mah boro-boro bisa berpose

14/08/2018

the daring adventure

gue nggak inget pernah baca di mana tapi kata-kata ini terpatri,
dikatakan kalau hal-hal yang "benar" nggak akan membuat suara hatilo bertanya-tanya, "is it the right thing?"
pun nggak akan mendatangkan bisikan-bisikan tentang apa yang seharusnya yang lo lakukan.

time for reality check.

I think I haven't done a proper kind of parenting towards my son. 
I should've done better. he deserves better. 
I think I should've managed my emotions better.. that way all the conflicts I have been facing would come to resolutions instead of anger and pain. semua ada solusinya, gue sebagai orangtua dan manusia dewasa bisa mencari cara, alih-alih larut dalam arus emosi tak berarah. 

sekitar dua minggu lalu gue mencari bantuan lagi, untuk urusan mental. 
udah gila-gilaan deh gue merasa dihajar sama kerepotan dan kelelahan. 
menghandle kerjaan yang menguras pikiran, mengurus bayi kecil, plus mencoba doing parenting ke anak pertama yang menjelang remaja. 
semua mua terbawa jadi drama. 
and that's wrong, ada yang salah pasti. 

gue jadi gampang ngomel terutama sama si sulung. sangaaat gampang ke-triggered.. padahal kenakalan dia ya masih "wajar" apalagi dalam koridor tafakur. nggak ada yang gimana banget sampe kudu diomelin MELULU. (oh gosh jangan sampai malah jadi behaviour problems).

the expert said, I am putting too much into my plate. 
gue seperti itu mostly ya karena overwhelmed... capek fisik dan mental (haloh kurang tidur)... kerjaan meskipun fleksibel dari segi waktu tapi pressure-nya justru lebih besar dibandingkan jadi karyawan biasa.  

the doctor said, harus ada yang dikalahkan. gue harus ngurangin jumlah stressor.
mungkin nggak mundur dari urusan startup? not for now, I said. at least keputusan mundurnya jangan dari gue, tapi kalau memang disuruh mundur barulah... 
buat urusan anak pertama yg sering jadi objek pelampiasan kekesalan (perih loh nulisnya), gue disarankan mengutilisasi partnership. how? urusan bumy dihandle bapaknya SEMUA. misalnya ketika ada behavior problem, ya bapaknya yang negor, atau semata-mata urusan ina inu sekolah... ya bapaknya juga. kenapa ya harus sampe gitu amat? menurut beliau, saat ini gue sedang berada di masa lagi ada bayi yang usianya less than 1 year PLUS sedang ngasih asi ekslusif. it👏🏼is👏🏼so👏🏼damn👏🏼tiring👏🏼physically👏🏼
hormon mamak awur-awuran (still). 
lagian untuk memberikan asi diperlukan kondisi emosional yang “tenang”- menurut sang dokter, it's not asi ekslusif kalo “cuma” susunya yang diberikan tapi bonding dan emotional support dll buat anaknya nggak ter-deliver.

sambil bercerita, somehow gue agak ngerasa “lebay yaaa keluhan gue...”
padahal gue udah hire pembantu pulang-pergi. padahal sam sudah ditaro di daycare. 
tapi ketika mendengar ini dari orang yang bisa dibilang “ahli”, gue baru ngerasa tervalidasi.. selama ini gue masih mempertanyakan jangan-jangan guenya aja yang nggak bener atur waktu, atur tenaga, drama, dll.
si dokter mengatakan kalau indikasi perlu ada "intervensi" adalah ketika hubungan sama orang lain mulai ada yang terganggu. in my case, jelasssss, hubungan gue sama suami dan anak diisi ngomel-ngomel melulu. 

and she said more, punya bayi ya memang melelahkan. tidur malam nggak tenang, anak rungsing. dan itu “saja” tervalidasi kalau bisa bikin stres. moreover with another kid and a stressful job, there’s so much on the plate to make me merasa terhimpit dan mau gilakk. 

I need to be better, for my sake and everyone's sake. 


Did We not expand for you, [O Muhammad], your breast? And We removed from you your burden Which had weighed upon your back. And raised high for you your repute. For indeed, with hardship [will be] ease. Indeed, with hardship [will be] ease. - QS Al-Inshirah



01/05/2018

Pengalaman Bikin Paspor untuk Bayi

huloh.. judulnya aja udah menjelaskan banget yak apa yang mau dicelotehin.
no suspense, nggak bikin penasaran samsek haha.

tau nggak gue bawa Sam ke mana untuk bikin paspor? 
ke Kanim Kelapa Gading :)))

jangan heran kenapa kita bikinnya JAUH AJE ke kelapa gading padahal rumah di belantara jagakarsa. sekitar sebulan lalu di suatu hari jumat, kita udah dandan rapi jalan dari rumah jam 5:30 pagi 'tuk menyambangi kantor imigrasi di Mampang. sampai di lokasi jam 6, dengan pede jasa Adit masuk ke dalam dengan sudah membawa berkas lengkap untuk ngambil nomor antrian.
eh nggak lama kemudian dia balik lagi ke mobil. kirain ada yang ketinggalan, eh tau-taunya dia bilang sekarang sistem bikin paspor udah berubah.

jadiii sekarang kita nggak bisa go-show aja buat bikin paspor, melainkan harus booking antrian dulu secara online.
booking antriannya bisa lewat web address ini: https://antrian.imigrasi.go.id/ atau lewat aplikasi "antrian paspor" di playstore.

nah yang kemarin input antrian online ini Adit, dan menurut dese, jadwal terdekat yang bisa didapat cuma di Kanim Kelapa Gading.
kenapa gitu harus buru-buru macem udah pegang tiket? ya gak kenapa-kenapa sih.. tapi kalau bisa cepet ya kita prefer gitu dibandingkan nunggu lama.
nah, kalau udah pilih jadwal booking yang cocok, nanti kita dapet QR code yang kudu diprint.

jadwal buat Sam kemarin dapetnya di hari Jumat jam 10 pagi. berangkat dari rumah jam 9:10, lewat tol JORR, kita sampai di lokasi jam 10 lewat dikiiit.
gue sempat celingak-celinguk nyari kantor imigrasi yang ternyata ada di kompleks ruko.
begitu masuk, gue jelasin mau bikin paspor buat anak ke petugas yang duduk di depan pintu.
bapak petugasnya helpful banget. dia langsung sodorin formulir untuk dilengkapi. beruntung gue juga udah menyiapkan fotokopi berkas, pulpen sendiri dan materai 6 ribu, karena kalau ada dokumen yang perlu difotokopi, gue harus naik tangga ke lantai 3. kebayang 'kan sambil gendong nak dendut sendirian xD
setelah form keisi lengkap, bapaknya langsung ngajak gue ke desk tempat checking dokumen. didampingi bapak petugas yang sama untuk naro dokumen dan verifikasi, alhamdulillah tanpa perlu antri. sesudahnya, baru gue dapat nomor antrian untuk wawancara dan foto.

di bagian inilah gue harus menunggu lama. sebenarnya gue mungkin cuma perlu menunggu 30 menit - 1 jam maksimal untuk dipanggil wawancara dan foto. tapi ndilalah hari itu Jumat. petugas istirahat mulai dari jam 11:30 sampai 13:00... huhuhu... rada nyesek karena padahal nomor antrian gue tinggal 6 lagi.
yasutralah, daripada harus bolak-balik dan mengulang proses dari awal, gue nunggu dan killing time di... Mall Artha Gading. haha, off topic dikit, mungkin udah 1 dekade sejak gue terakhir menginjak mol ini. dulu waktu ngantor di Jakut, hampir tiap minggu maksi di mol ini sama Ika. itung-itung reminiscing masa lalu deh.

oya, lokasi Kanim sama mol deket banget sebenernya. cukup jalan kaki 5 menit. cuma karena saat itu siang bolong, panas banget dan gue gendong bayi, yaudah jadi minta dianter pak supir masuk mol. setelah makan dan nunggu, jam 13:00 gue sudah duduk manis mengantri lagi di Kanim.
nggak ada 10 menit, nomor gue dipanggil. kelar menunggu difoto dan diwawancara, gue harus naik ke lantai 2 untuk bayar (siapin uang cash) dan ambil resi bikin paspor.

paspor selesai diproses sekitar 7 hari kerja. sebenernya bisa sihh dikirim via PT Pos hanya dengan bayar 25 ribu, tapi ada dokumen yang harus diisi dan difotokopi, which means gue harus manjat lagi ke lantai 3.. ugh, no thanks deh. biarlah ku balik lagi ke kelapa gading 10 hari dari saat itu, daripada pinggang tambah encok (saat itu udah jam 14:00, yang berarti udah 4 jam gue gendong Sam ke sana ke mari).

gue baru ambil paspornya 10 hari kemudian. lagi-lagi sampai di Kanim jam 10 pagi, dan gue udah deg-degan harus nunggu lama lagi. gue juga udah siapin semua dokumen asli juga in case diminta.
ternyata gue hanya perlu datang ke loket pengambilan paspor, lalu taro resi di dalam tray berisi tumpukan resi pengambilan paspor. nggak ada 10 menit, nama Sam udah dipanggil. gue hanya perlu nunjukin KTP gue, lalu tandatanganin form pengambilan. 
ALHAMDULILLAH jadi juga paspor anak bayik.

03/04/2018

hustle baby

assalammualaikum, cyber world...

begini amat yak tau-tau setelah puluhan purnama gak nengok blog. 
sesungguhnya gue bener-bener nggak punya topik khusus di kepala buat diceritain... everything has been so riweuh, rungsing, rusuh. albeit in a good, cathartic way. 
jadi entah apakah blogpost ini isinya bakal keluhan melulu, atau ngoceh ngalor-ngidul aja seperti biasa. 

*****

Sam hampir berusia 4 bulan. YAY!!
plis kumohon jangan ada tanggapan "whoa time flies!" because time does NOT fly (when you're raising a tiny human being), it CREEPS. 
etapi nggak tau juga ya kalau pakai jasa babysitter, gue belum pernah soalnya. 

quick updates on him:
- sudah vaksin 3 kali (urutannya sama dr. Apin, dr. Endah, dr. Apin).
- beratnya 7 kg
- sudah 5 kali dititip di daycare. and my heart SHATTERS everytime. 
- is such a manja baby (ini komen nyokap), karena bisa aja digendong semua orang tetep nangis-nangis, tapi begitu dikekep di ketek gue, langsung diem. gimana hati mamak gak kebat-kebit nitip dia di daycare?!?!? T____T
- sumeh, dan suka ngoceh.

- jam tidurnya alhamdulillah much MUCH better than Bumy. gue dan Adit bisa menikmati bobok malam dengan tenang like 90% of the time. easy baby dia nih, kecuali during the day yang maunya nemplok mulu sama mamake. 

- dan apa yang dia mau ketika nemplok? emaknya harus gendong sambil jalan-jalan. gendong sambil duduk? doi teriak-teriak. 
udah berdiri tapi gak gerak? jangan coba-coba. 
move your ass, girl! - gitu seolah titah doi... 
ya gini deh, lutut mulai senat-senut sekarang. 

- gendongan is my saviour. 
gendongan perdana Sam adalah hibah dari mamak @liactk berupa Sleepy Wrap (sekarang udah ganti nama jadi Boba Wrap). dan gendongan ini sungguh cucok meong karena bikin bayi di-snuggle dengan nyamannya dalam posisi kangguru. 
cumaaa emang 1) bahannya tebel dan jadi gerah kalau dipake outdoor tanpa AC, 
2) makenya rada ribet dan gak bisa buru-buru. 
jadi gue cobain beli gendongan kaos gitu, murah cuma 200 ribuan. 
mayanlah, bisa dipake dengan cepet, ringkes, dan bahannya adem. tapi kekurangannya: punggung cepet pegel. 
baru-baru ini gue nyobain pake ergo lungsuran adek gue. mayan... enak... tapi lebih cocok buat kalau anak sudah lebih besar, sudah lebih stabil lehernya.  
demikian review singkat dan asal-asalan mamah. 

- udah diajak jalan-jalan ke bandung. 
trip singkat 3 hari doang, tapi di hari pertama Bumy sakit (demam, radang tenggorokan). hari kedua, gue dan Adit juga ikutan sakit (demam tinggi, meler, puyeng dst). Sam alhamdulillah gak demam tapi ikutan batpil. jadilah di hari kedua itu kita berempat umpel-umpelan di kasur dalam keadaan ingusan, meriang dan demam. oh SUCH FUN x)))) 
tapi sepanjang perjalanan dia gak rewel, cukup kooperatif. yah, selama nenen dan ketek mamak available, dia adem-ayem. 

trus trus, gimana... apakah semua ketakutan nambah anak selama 8 tahun berhasil terbantahkan?? atau justru sebaliknya, terbukti semua? 
hahaha. 

takut kecapean dan tepar selama bunting... iya terbukti, emang capek dan tepar hahaha. meskipun alhamdulillah, gue bisa work from home/kosan most of the time. 
takut melahirkannya... well, ternyata lahiran emang tetep aja nakutin. #tidakmenolong. 
takut kerepotan ngegedein newborn... terbukti bingiiit. 
bulan-bulan pertama diisi begadang dan tetek kesakitan. 
menjelang bulan ketiga di saat gue mulai harus "ngantor," mulai deh diisi dengan kerepotan dan kegalauan. 
repot karena: saat mau nitip Sam di daycare ampun-ampunan deh yang disiapin. baju, botol susu, asi perah (eh kok dikit ya kalau dilist down? perasaan nyiapinnya remfong tiada terkira). 
galau karena: SEDIH AJA NINGGAL DIA DI DAYCARE. apalagi kalau abis dari daycare dia harus ikutan pulang sore/malem. trus karena gue ambil jasa daycarenya harian (pas harus meeting atau ada acara seharian), kadang ada kalanya acara mendadak jadi Sam gak dapet slot di daycare. jadi telah beberapa kali terjadi, Sam ngikut mamaknya 'ngantor' atau ke event. asli yah gue pun sesungguhnya gak nyaman banget kaya gitu. gue kan tipe gak suka menarik perhatian dan gak suka nampak "incapable." serba salah sudah; ninggalin anak gak mungkin, jadi ya dijalanin aja dengan segala risikonya. 

gue pernah tergugu sih mikirin ini saat lagi riweuh-riweuhnya, harus nenteng Sam ke kantor dan otak juga lagi mumet banyak banget kerjaan. 
apakah setiap anak ada moment of desperation-nya sendiri?
pas Bumy dulu, gue dan Adit sampe sedih mikirin siapa yang bisa dimintain tolong jagain Bumy sementara emak gue dulu suka ngambek. gue mau resign gak mungkin karena udah terbelit cicilan haha.. tapi asli dulu tuh ada banget momen gue merasa terbenam sedalam-dalamnya di rasa putus asa. 
pas Sam sekarang... ternyata ya sama, muncul lagi rasa lelah dan putus asa. startup gue sedang mau melaju dengan kencang... tapi gue maunya tetep bisa ngasuh Sam dengan berkualitas. sedih bayangin dia yang udah enak-enak di rumah bisa tatap-tatapan sama emaknya harus direndeng-rendeng ke daycare. geu pun udah sempet message Adit pagi-pagi "apa gue resign aja yah" yang diketik sambil bersimbah air mata hahaha. there you go, another moment of desperation. 

sampai kemarin, kebetulan gue harus bawa Sam ke kantor lagi. kali ini sih bisa bawa embak di rumah karena cuma sebentar. 
saat gue lagi nenenin Sam di ruang laktasi, ada dedek yang lagi pumping (kayanya kelahiran 94 gitu). biasalah, kita bertegur sapa. dari situ gue jadi tau kalau anaknya tinggal di jawa timur, dan dia nengokin seminggu sekali. T___T
dia bolak-balik naik kereta... abis kena tipes pula... no wonder gue pikir, karena pastilah kecapean banget.
pagi itu dia cerita kalau agak telat pumping, karena "baru sampe di jakarta jam 2 pagi tadi, trus aku ketiduran, hehe" dan sesampainya di kantor, kerjaan udah menggunung berjejal. 
masya Allah... T____T gue kehilangan kata. 
eh akhirnya gue komen, sih, meski cuma bilang "duh kamu hebat banget." and I truly meant it...

denger perjuangannya seperti itu bikin gue tergugah banget, tapi bagian yang paling mengiris hati adalah saat dia ngasih liat foto-foto anaknya T______T 
a mother must know THAT feeling. 
perasaan lo jadi kangen anak sendiri karena ngeliat bayi orang lain. 
perasaan pengen liatin fotonya setiap saat, nggak cuma buat diri sendiri tapi juga ke orang lain because you just LOVE looking at your baby and talking about him nonstop. 
ya Allah.... gue cuma ninggalin Sam beberapa jam aja hati bak dicabik-cabik. 

tapi yah, mungkin semakin berumur gini gue semakin paham untuk gak gampang menilai kondisi (idup) orang lain (thanks God ngurang-ngurangin nyinyir). 

setiap orang punya pilihan dan pertimbangan sendiri. 
kalau gue nggak bisa ngebantu mending DIEM, gak usah komentar.  

pertemuan singkat gue dengan si dedek (yang selalu TERSENYUM selama bercerita, omagah) kemarin, juga ngingetin gue untuk menyukuri kemudahan-kemudahan yang ada... 
siapa sih manusia yang nggak pernah merasa lemah, bahkan putus asa? ya mungkin justru dengan begitu Allah bisa masuk ke hati.
dan apakah kondisi ideal itu?
apa berarti kita harus dapetin semua yang kita mau? 
kita baru bisa hepi kalau everything goes the way we want them to be? 
apa iya? emang bisa? 

apa mungkin kondisi "ideal" justru adalah saat kita bisa berdamai dengan apa yang udah di depan mata..? 

ugh... you taught me a lot that day, dek. 
setiap mamak mungkin punya strugglenya sendiri-sendiri. semoga perjalanan kita jadi ibu ini bisa jadi satu "channel" untuk menambah ketaatan. 
hiks.






26/02/2018

the kids are alright

are they? 
are they really?

menurut gue, salah satu ciri khas menjadi orangtua adalah the neverending surprises. be it good or bad. if you do love a thrill seperti dinyanyikan di lagu pembuka glee (#lawas), then be a parent. lagi nggak angin nggak ada hujan, tau-tau tau-tau bocah panas tinggi aja gitu. atau waktu pulang kantor setelah commuting berjam-jam, baruuu ingin merebahkan punggung di kursi, tiba-tiba si anak eeknya berdarah, dan harus berlari lintang-pukanglah elo ke UGD. contoh-contoh yang gue sebut ini berdasarkan kisah nyata. pastinya para orangtua lain punya contohnya masing-masing. dari satu titik netral, kondisi kita bisa seketika dibawa ke titik nadir karena apa yang terjadi sama anak. it's a rollercoaster ride! 
makanya kalau bisa disebut hikmah, yang bisa gue petik dari sekian tahun jadi orangtua (newbie) adalah: jangan takabur. iya, jangan dehhh nyombong baru liat anaknya pinter makan sebentar, karena bisa jadi sekian hari kemudian si anak GTM ora kelar-kelar x))) atau kaya sekarang nih waktu punya newborn, baru merasa jumawa punya bayi yang nggak ngajak begadang, eeeh tau-tau besoknya doi kena ruam popok dan jadi riwiiil banget. tahan-tahan deh ini mulut dan jari dari bersikap "sombong." because you might not know what'll happen next. 

tapiii tadi 'kan gue bilang kalo ngegedein anak itu bagaikan naik rollercoaster, yang berarti ada saat-saat cihuynya juga. jadi orangtua kadang terasa kayak lo dapet kejutan-kejutan manis dari hidup di saat yang nggak diduga. kado-kado kecil yang bikin semuanya terasa berarti. 
kayak waktu si sulung nyeletuk "mama tuh the best mom," entah kenapa dan bagaimana padahal kerjaan gue ngomeeeeel melulu sama dia :(((
atau kayak waktu si bayi ketawa (saat lagi sadar bukan lagi ngelindur) untuk pertama kalinya waktu lo ajak bercanda. it's always the littlest things. mungkin cuma 0,01% dari keseluruhan hahaha... tapi ajaibnya itu yang bikin lo bisa jalanin hari demi hari. 

selama jadi orangtua anak tunggal tempo hari, kondisi kehidupan kayaknya udah mendingan banget. udah jarang bolak-balik rumah sakit (alhamdulillah for that), bumy udah makin nyambung diajak ngobrol (which means dia juga makin jago ngeles dan bales omongan kalau lagi diomelin), gue pun merasa kondisi mental gue dan adit sebagai orangtua udah lumayan santai. occassional worrying atau kekhawatiran sesekali ada, tapi di isu-isu tertentu aja. 
ketika punya newborn lagiii, jreng, ternyata kita nggak jadi lebih berpengalaman dalam urusan menata hati. welcome back my old friend, the constant worrying. 
meskipun secara umum gue dan adit udah lebih "berpengetahuan" dalam artian we know what to expect most of the time, tapi ada hal dan kondisi yang emang berbeda. yang sedang gue alami sekarang adalah khawatir karena mau menitipkan sam di daycare. 

dulu bumy emang sempat di daycare, tapi 'kan umurnya udah 3 tahun. 
sekarang sam belum genap 3 bulan... huhuhu. bisa dibilang bumy dulu beruntung karena 3 tahun pertama hidupnya diasuh sama nyokap gue atau omanya. dan gue juga beruntung karena bebas dari kekhawatiran, bisa menitipkan bumy di tangan orang yang paling gue percaya. 
untuk sam sekarang, gue dan adit udah pertimbangkan kayaknya untuk saat ini daycare yang sesuai. bukan paling sesuai, no no, karena 'kan kayak tadi gue bilang, jangan jumawa duluu. pertimbangannya adalah karena gue nggak harus ngantor full time, selain itu rumah kita juga nggak pantes buat diisi 2 orang asisten nginep (let's say yang satu khusus ngurus bayi). 

kontranya? ada banget. dan ini yang bikin gue kebat-kebit khawatir. 
ada yang bilang kondisi dititipin di daycare secara nggak rutin bisa mengganggu kondisi psikologis anak. gue sendiri pernah baca sih kalau anak emang sebaiknya mendapatkan pengasuhan dari orang yang sama di 2 tahun pertama hidupnya. 
gue juga khawatir nanti sam "menderita" di daycare.. karena di rumah dia bisa nenen anytime dan dengan pose apapun yang dia pengen. sementara di daycare... ya pakai botol. gue takut inilah itulah aduuuh banyaak banget. 
nggak tega, ya jelas. abisan kok masih kicil banget ini anak, tapi udah harus dititipin di luar rumah.. huhuhu. 

apapun pilihan pasti ada risikonya, sih. 
kondisi kayak gini pun bikin gue "mentok", bukan berarti jadi nggak ambil opsi manapun, tapi jadi mentok untuk serahin semuanya ke Allah aja. 
there's only so much I can do!!
udah usaha nyari daycare yang cocok... udah survey sekian kali... hhh... nggak ada jaminan apapun untuk fisik dan mentalnya sam, tapi ya emang idup di dunia kaya gitu ya kan ;(

sampai lalu gue nemuin kata-kata yang diposting sama bu Inca Restu salah seorang fasilitator tafakuran di akun IGnya. duh kok pas banget sama kebat-kebit di hati ini. 


Hati membaca kebenaran yang tersirat; bahwa anak adalah "titipan"-Nya.
Apa yang dititipkan-Nya? Jiwa anak!
Karena anak adalah "titipan"-Nya, terserah DIA mau menitipkan anak yang seperti apa.
Pernahkah bertanya untuk apa Allah menitipkan jiwa anak?
DIA menitipkan jiwa anak untuk DIBINA bukan DIBINASAKAN.
Anak memang lemah, tapi backing-Nya Maha Kuat.
DIA menitipkan jiwa anak untuk di"isi" dengan persepsi2 Qur'ani.
DIA MENITIPKAN JIWA ANAK UNTUK DIBINA, TAPI KITA TIDAK DISURUH SAMPAI BERHASIL!
Karena sampai kiamat, Al-Qur'an tidak akan berubah; ANAK ADALAH COBAAN.
Al-Qur'an menginformasikan bahwa kemampuan kita hanya menyampaikan, kita tidak diberi kemampuan mencerahkan anak. JANGANLAH PUNYA KEINGINAN MELEBIHI KEMAMPUAN. 

hiks... menusuk ke relung sanubari. 
semoga kesadaran ini meresap dan bisa gue praktekin. 
indeed, hasil itu bukan wilayah kita, sama sekaliiii. hasil itu urusan Allah. gue mah cuma bisa berusaha... ikhtiar maksimal bukanlah supaya hasil sesuai sama keinginan gue, tapi ikhtiar maksimal adalah jalanin apapun hasil yang dikasih Allah.... T___T   

jadi, apakah pertanyaan gue di atas masih perlu dijawab? atau emang itu sebuah pernyataan seperti judul yang gue taro? 
the kids are alright. "backing-Nya Maha Kuat." serahkan mereka sama yang menciptakan, and they will be, alright. 


21/02/2018

one day at a time

these are the thoughts 
that go through my head
in my dining room on a wednesday afternoon
when I'm alone with the baby (and the maid) 
and I have nowhere else to be, but here.
hidup bersama newborn memang membuat dunia jungkir balik.
dunia gue, setidaknya. gak tau orang lain.

satu waktu, rasanya seperti diisi total chaos.
kurang tidur. mood berantakan. badan pegel-pegel kaya abis lari maraton. hating the sight of yourself on the mirror. kesepian dan merasa terisolasi. meratap diam-diam minta dianugrahi kesabaran oleh Allah. and the worrying, oh God, the constant worrying.
at one point, you'd even dare ask, why would anyone nambah anak?

hamil, beranak, dan ngurus anak is sure as hell melelahkan dan merepotkan.
bahkan bumy berkomentar "I never want to have kids." I won't say an amen to that, but that proves how even a kid gets how tiring it is.
but somehow, I'm still thriving, trying not to screw up in raising this second kid.
(or have I started my way on screwing things up?)

lalu di lain waktu, things just feel... right. no not perfect, because it's never perfect.
entah bagaimana, seperti ada harmoni yang menenangkan di tengah semua hal yang "tidak pada tempatnya."
you can just sense it, like the wind on your skin.
just like right now. just like today.

hari dimulai dengan terburu-buru, karena gue harus meeting sama tim startup di tengah jakarta. bayi diangkut tanpa mandi. dengan kalut mengangkut pompa asi, blue ice, kantong asi, diaper bag, dan berdoa sebisa mungkin sudah mengangkut semua yang diperlukan. baru masuk mobil aja rasanya udah capek. tapi, sepanjang perjalanan sam mau anteng digendong adit. gue jadi bisa dandan, makan, ngobrol sama bumy, dan nelpon adinda debsterbun yang lagi ultah untuk dinyanyiin hepi bersdey tu yu oleh bumy sambil teriak-teriak.
menjelang sampai di tempat meeting, perut krucuk-krucuk. eh ternyata bisa sarapan buffet di situ cuma seharga 50 ribu. jadilah gue bisa menikmati toast, buah-buahan, nasi goreng, mie ayam (yes another carbo), sampai bubur ketan hitam hahaha.
tadi adalah meeting pertama dengan tim setelah hampir 3 bulan gue menghilang dari radar, we've got so so so much to be done. banyak banget PR dan beban di pundak!
tapi entahlah, it feels like there's a lightness in my heart. mungkin karena interaksi sama temen-temen satu tim yang emang bawaannya riang dan optimis. it's just a little thing, but such a blessing.

hore meeting cuma sejam! gue dan sam pun dibawa pak supir balik ke rumah. sempat kepikiran mau ina-inu jajan dulu, tapi ah... kangen kasur.
and then when we're already at home, the rain fell.
ngobrol sama bayi di kasur. (I made up this song which lyrics go like, "sayang-sayangan / tatap-tatapan / gendong-gendongan / itulah mama dan sam / sepanjang hariiii" gue ngakak dan merasa bodoh tiap abis nyanyiin but hey a mother can do whatever to get thru the day!)
dia sempat rungsing nangis-nangis, tapi kita bisa nap sambil berpelukan hampir 2 jam. which is heavenly!
trus kayanya adit diem-diem mau ngasi kejutan: dia pulcep tanpa bilang-bilang. tapi dibocorin sama supir gue, hahaha, pas gue nelpon pak nun dengan riang bilang "saya udah di cilandak nih bu, sama bapak juga." yaaaayyyy.

tapiiii ternyata pulang-pulang bumy sakit. badan anget, sakit kepala, ngeluh pegal-pegal. so it's time to babysit the big kid. fiuh.
jam 6, si sulung udah mandi makan dan diolesin vicks sebadan. diselimutin di kamar sambil diuapin peppermint. sam dibobokin bapaknya. dan gue akhirnya bisa me time: mandi keramassss tanpa interupsi hahaha.

and then the clock hits 8 pm.
gue ngeteh sambil makan roti gambang dan nonton hyori's bed and breakfast di netflix. bumy adit sam tidur pelukan bertiga.
like i said, it's not perfect, but it's ok.
a woman's work is never done anyway, so i'll just chew it one bite at a time.

why is it so hard to be objective about myself?
why do I feel cellularly alone?
am I supposed to live in this crazy city?

oh why am I encouraged to shut my mouth when it gets too close to home? 
why cannot I live in the moment? 
~~ ("These are the Thoughts" by Alanis Morissette)

12/02/2018

the long overdue: financial checkup keluarga

udah lama banget sejak gue terakhir ngebahas hal-ihwal berbau finansial di blog ini. bukan berarti udah jadi hutawan yang financially-free sih.. tapi emang karena tahun 2017 lalu kita terjun bebas.

tanpa disepakati, kita menghadapi awal 2017 dengan kondisi mental yang... campuran antara nggak ngoyo, tanpa target, dan semacam terbuka terhadap segala macam kemungkinan. gue rasa itu disebabkan oleh musibah kehilangan yang menimpa gue (kehilangan Weich) dan Adit (kehilangan bapaknya) yang semuanya terjadi secara tiba-tiba.
waktu ulang tahun Bumy yang ke-7 kita impulsif jalan-jalan ke Surabaya-Malang. bulan Maret, kita plesir ke Belitung sama Debby, Venda, dan Abhi. Aprilnya, kita jalan-jalan sama Kiti (she didn't make it to the journey though) ke KL-Penang. sempat juga staycation di hotel-hotel berkasur empuk di Jakarta dan Bandung.
we also changed our lifestyle to accomodate our activities, dengan tinggal di apartemen jadi nggak perlu capek-capek commuting.
gue rutin pijet di Bersih Sehat dan Kerastase ritual tiap 2 minggu - ceritanya biar nggak stres, haha.
Adit sibuk nyiapin Eurotrip sama sohib-sohibnya.
it was all about enjoying life. savoring its each and every minute.

kurang-lebih seperti itu, until suddenly there's a plot twist where we found out I got pregnant... hahaha.

kita pun mutusin nggak mau perpanjang tinggal di apartemen dan pengen tinggal di rumah Ciganjur aja. we thought we needed a bigger space and an additional room, so we decided to renovate the house.
yang udah pernah renov mungkin tau ya betapa boncosnya kantong dibuat x))))
plus, with a baby on the way, otomatis kita juga perlu nyiapin budget untuk belanja kebutuhan bayi dan urusan melahirkan. singkat cerita, tabungan pun ludes tak bersisa.

memasuki 2018, kondisi hidup yang telah berubah tentunya berefek ke cashflow.
muncul pos pengeluaran baru, seperti untuk beli pospak, baju bayi, breastpad dan semacamnya. dan karena kita mempekerjakan lagi asisten rumah tangga setelah setahun lebih nggak, maka muncul lagi pos ART dan grocery shopping rutin.

gue tersadar kalau financial check up urjen banget untuk dilakukan.
why? because we've made several sins selama tahun 2017! 
what are they exactly?

dosa 1: seperti tadi dibilang, kita menguras tabungan untuk renovasi rumah. belum lagi untuk mengisinya! kondisi euforia mempercantik rumah sering bikin gue lupa menahan diri untuk belanja macem-macem. beberapa barang yang udah telanjur dibeli bahkan overbudget.. yang menjadikan kita melakukan dosa kedua, yaitu

dosa 2: punya hutang kartu kredit berbentuk cicilan. gara-gara godaan kasur Sealy nan empuk dan iming-iming cicilan 0% selama 12 bulan, we spent more than we budgeted sampai 2 kali lipat.

dosa 3: seharusnya kita belajar dari pengalaman ngegedein Bumy, betapa di tahun pertama kelahiran anak, akan ada aja pengeluaran yang kadang tak terduga.. hal-hal seperti imunisasi yang nggak ditanggung full (di mana biaya untuk sekali visit dokter bisa seharga satu tas Coach), biaya gadget per-bayi-an (carseat, sterilizer, bouncer, inilah itulah yang untungnya sekarang banyak disewakan), bayar uang pangkal daycare, dan lain-lain. seharusnya kita punya dana cadangan untuk membiayai itu supaya nggak mengganggu cashflow.

numbers don't lie, that's why tahun 2018 ini kita jadikan momentum untuk tobat finansial.

gue jadi keinget analoginya Marie Kondo di buku The Life-Changing Magic of Tidying Up. dia bilang, kondisi rumah yang acak-acakan seringkali melambangkan adanya kekacauan di dalam diri kita secara mental. kadang kita nggak mau menghadapi apa yang jadi root cause atau momok terbesar bagi kita, sehingga milih melakukan hal-hal lain untuk mengalihkan perhatian kita dari masalah. this is how I had been feeling in terms of personal finance.
setelah tahu kalau hamil, gue malah mengacuhkan urusan finansial. merasa udah dipusingin sama urusan renov dan belanja perlengkapan bayi, gue justru merasa terbebani secara mental kala berhitung dan lantas menyadari kalau udah bikin dosa, seperti overspending, misalnya.
padahal dengan bertindak begitu gue malah menumpuk masalah jadi semakin besar. just like a mess in a house, it gets bigger and worse if we keep piling it up.
konsekuensinya, kita jadi nggak punya "ruang" - or in this case, the budget - buat hal-hal yang sesungguhnya lebih penting. 


image from here
alhamdulillah akhirnya momen "kejedot kenyataan" terjadi juga. dimulai dengan menyadari dosa-dosa finansial, gue pun tergerak untuk menyusun langkah-langkah berikutnya buat memperbaiki kondisi keuangan rumah tangga.
to-do list gue seperti ini:

1. menyesuaikan cashflow dengan kondisi hidup saat ini, dengan memetakan pengeluaran bulanan dan tahunan.
2. menjadikan pelunasan hutang kartu kredit sebagai prioritas utama saat ini.
3. mulai ngumpulin dana darurat!! target di tahun pertama ini cukup 5 x pengeluaran bulanan biar nggak memberatkan. itupun rasanya udah cukup ambisius.
4. berkaca dari pengalaman, dalam membahas keuangan kita bukan cuma perlu blak-blakan soal dosa, tapi juga perlu jujur mengakui apa aja khayalan-khayalan babu kita. karena kalo nggak gitu, nanti di tengah perjalanan bisa-bisa kita malah menyabotase financial goals yang lebih penting!
makanya penting banget buat menyusun target finansial sesuai urjensinya, supaya kita eling dan waspada dalam berbelanja.
5. hmm sesungguhnya belum ada langkah kelima, hehe. maybe we need to try frugal living? entahlah.

untuk langkah pertama, gue dan adit merasa perlu pakai bantuan aplikasi di gadget buat memudahkan kita memantau cashflow. akhirnya kita pakai app Money Lover, yang ternyata sejauh ini bisa memenuhi ekspektasi. kita bisa melihat berapa uang yang sudah dihabiskan di satu pos pengeluaran, dan berapa sisanya. kita juga bisa menentukan budget untuk sebuah event, contohnya untuk akekahan Sam tempo hari.

kita juga mulai menyusun daftar pengeluaran tahunan, karena berpotensi membocorkan kantong kalau nggak diantisipasi. sejauh ini, pengeluaran tahunan yang tercatat antara lain
  • premi tahunan asuransi jiwa
  • bayar pajak mobil dan motor
  • pengeluaran hari raya, di dalamnya termasuk bayar zakat maal, belanja, dsb. 
  • bayar kurban
  • bayar uang semesteran sekolah
  • premi tahunan asuransi mobil
  • bayar PBB rumah
langkah kedua dan ketiga kayanya sih udah cukup jelas caranya gimana.
untuk langkah keempat, gue mulai dengan menuliskan apa adanya financial goals yang mau dicapai, antara lain
- the big four: dana darurat, dana pendidikan, dana pensiun, dan dana kesehatan setelah pensiun.
- untuk mengcover urusan rumah sakit, kita butuh either asuransi kesehatan tambahan ATAU tabungan kesehatan.
- biaya sunatan - karena Bumy udah minta disunat tahun ini
- bayar uang pangkal daycare - jika memang jadi pakai jasa daycare
- dana naik haji
- dana kuliah S2
- passive income, entah berupa properti, bisnis atau saham
- last but not least: YALAN-YALAN because posting apa di instagram kalau nggak ke mana-mana?!?!?! hahahah.

langkah berikutnya adalah mengurutkan prioritas target finansial yang sifatnya wajib. iyalah perlu diurutkan, karena kita ngumpulin duitnya 'kan bertahap, jadi nggak bisa menggolkan semua yang wajib tadi secara bersamaan. 
jadi gue coba memisahkan target-target itu berdasarkan urjensinya menjadi kategori Wajib (mau nggak mau harus dibayar), Sunnah (poin lebih kalau bisa dicapai), dan Good to Have (semacam tersier, kalau nggak dicapai juga yaaa nggak apa-apa, at least for now). 

biar nggak pusing, gue bikin tabelnya sebagai berikut:



terpampang jelas dan nyata kaaannn... uhuk, tapi road trip ke Jogja doang bisa kali yaaa *timang-timang celengan*

mungkin untuk target yang di kolom Wajib sih udah jelas ya, pasti harus dicapai semua haha, tapi kalau untuk membedakan mana Wajib-Sunnah-dan Good-to-have agak sulit, mungkin bisa dibantu sama tool "The Prioritizer"nya CNN Money seperti yang gue gunakan sejak dulu. hasil pengurutan target finansial gue seperti ini:


fiuhhh.. meskipun perjalanan/perjuangan mencapai financial goals itu baru akan dimulai, tapi rasanya kok LEGA, ya. setidaknya sudah jelas arah mana yang perlu ditempuh. 


mungkin rasa lega itu muncul karena sudah mengahadapi momok finansial?

langkah berikutnya yang nggak akan gue tuangkan di sini adalah crunching the numbers di Excel, hehe. dari situ baru akan ketauan berapa yang bisa kita sisihkan setiap bulan atau saat dapat income tahunan untuk mencapai target.

bismillah bismillah bismillah.